Senin, 12 Maret 2018

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Depok, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sejak pagi, ribuan warga Nahdliyin Kota Depok tampak gembira. Dengan berseragam batik hijau, anggota Fatayat-Muslimat memenuhi aula Masjid Dian Al-Mahri Jl Meruyung Raya Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (15/5).

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pilih Negara Kebangsaan, Tapi Berakhlak Mulia

Mereka bersiap sejak kemarin untuk menyambut kedatangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang dijadwalkan melantik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Depok periode 2013-2018.

Dalam pantauan Kedung Sukun Adiwerna Tegal, di sepanjang jalan menuju masjid yang kerap disebut Masjid Kubah Mas ini tampak bendera NU yang melambai-lambai dari pepohonan rindang. Beberapa jamaah Nahdliyat tampak berjalan santai menuju aula masjid tempat pelantikan digelar. Bus-bus dan kendaraan pribadi berdatangan sejak pagi hingga menjelang siang. Aparat keamanan baik negeri (Polisi) maupun swasta (Banser) tampak berjaga-jaga di beberapa titik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam pidato pengarahannya selaku Ketum PBNU, Kiai Said menyatakan pentingnya Nahdliyin Depok memahami garis perjuangan NU. Selain mengamalkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), NU Depok juga harus mendakwahkannya. Hal ini dilakukan agar bangsa ini tidak pecah, tidak tercabik-cabik, dan tererai-berai. Agama Islam harus dipahami dan dikaji, bukan dilembagakan.

“NU tidak butuh negara Islam. Sayang kalau namanya sudah kadung jadi negara Islam tetapi pejabatnya banyak yang korupsi, banyak yang dipanggil KPK. Malu nggak Islam? Makanya, NU lebih memilih negara kebangsaan, negara nasionalis, tetapi berakhlak mulia,” kata Kang Said.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hal ini, lanjutnya, seperti Nabi Muhammad SAW ketika dari kota Mekah ke kota Yatsrib. Pada waktu itu, Rasulullah mendapati masyarakat yang plural. Ada orang orang Islam: Auz dan Khazraj, ada pula non muslim, Yahudi: Bani Quraidhah, Bani Qainuqa’, Bani Nadlir. Makanya di Quran banyak ayat yang mengajak bicara orang Yahudi. Artinya penduduk Yatsrib itu multikultural.

“Lalu, Rasulullah membuat perjanjian yang disepakati bersama antara kaum muslimin dan non muslim. Perjanjian tersebut terkenal dengan sebutan Mitsaq al-Madinah. Rasulullah menegaskan, Ini ketetapan Muhammad untuk semua warga, asal satu cita-cita, satu visi-misi, satu garis perjuangannya sesungguhnya mereka itu umat yang satu,” papar Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah Saudi Arabia ini menambahkan, Nabi Muhammad berhasil membangun sebuah negara yang diikat dengan satu cita-cita dan visi-misi. Tidak diikat dengan dasar agama atau kesukuan. Nabi tidak mendeklarasikan negara berbasis agama dan suku karena di dalamnya ada Muslim dan non-Muslim, ada Arab dan non-Arab.

“Anehnya, dalam perjanjian Madinah itu sebagaimana tertulis dalam Sirah Nabawiyah juz II halaman 61, 2 setengah halaman tidak ditemukan kata-kata Islam sama sekali. Artinya Nabi membangun masyarakat berbasis budaya dan peradaban,” tegas Kiai Said.

Oleh karena itu, lanjut Kiai Said, yang asalnya bernama Yatsrib berubah nama menjadi Madinah yang berarti peradaban (berasal dari kata tamaddun, madaniyyah, masyarakatnya disebut mutamaddin). Warganya yang benar dilindungi, yang salah dihukum. Negara seperti ini disebut Negara Madinah.

“Contohnya, ada sahabat membunuh orang Yahudi. Nabi marah besar. Barangsiapa membunuh nonmuslim berhadapan dengan saya, saya advokatnya nanti. Dan barangsiapa yang berhadapan dengan saya, maka tidak akan masuk surga,” ujar Kiai Said. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nusantara, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 10 Maret 2018

Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sesuai sebutannya, perpustakaan ini hanya menyediakan beberapa buku, biasanya hanya dalam hitungan puluhan, di tempatkan di kotak kecil dengan aneka bentuk di depan rumah-rumah warga.

Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia

Orang bisa membaca, meminjam, atau menyumbangkan buku.

"Pekan lalu, kami mendapatkan 11 buku baru," kata Kevin Sullivan, salah seorang pengelola perpustakaan mini di Bethesda, di pinggiran Washington DC, kepada kantor berita AFP dan dilansir oleh BBC Indonesia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Perpustakaan ini sebagai hadiah untuk istri saya. Ia kutu buku," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sullivan punya koleksi 30 buku di kotak yang ia tempatkan di depan garasi rumahnya, sebagian adalah buku-buku anak.

Mendunia

Ia dan istrinya tinggal tidak jauh dari sekolah dan mereka berharap orang tua dan murid menyempatkan waktu membaca buku-buku tersebut.

Konsep perpustakaan mini diperkirakan lahir di satu kota kecil di negara bagian Wisconsin pada 2009 ketika Todd Bol membangun rumah buku untuk menghormati ibunya yang baru saja meninggal.

Di rumah buku itu ia tempatkan koleksi buku-buku milik orang tuanya dan di atasnya ditulis papan pengumuman berbunyi "buku-buku gartis".

Tak lama kemudian tetangga-tetangga Bol mengikuti jejaknya dengan membuat kotak dengan aneka ukuran dan bentuk dan mengisinya dengan buku.

Kotak buku ini biasanya ditaruh di depan garasi atau di pagar rumah.

Kini perpustakaan mini menyebar hingga Ukraina dan Pakistan.

Pada Oktober lalu Bol mengirim tak kurang dari 20 perpustakaan mini ke Ghana.

"Sekarang ada 15.000 perpustakaan mini di 55 negara, di 50 negara bagian. Rata-rata ada 700-1.000 perpustakaan mini muncul setiap bulannya," kata Bol. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 09 Maret 2018

PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. "Segenap keluarga besar PBNU mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Raja Abdullah bin Abdulaziz, yang merupakan seorang muslim moderat," kata Sekretaris Jenderal PB NU, Marsudi Syuhud, di Jakarta, Jumat.  

PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah

Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz, berpulang selamanya pada Jumat dini hari.

Syuhud juga berpesan agar semua yang ditinggalkan dapat melaksanakan apa yang telah digariskan raja.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut dia, raja Arab Saudi yang berkuasa sejak 2006 ini sosok moderat yang giat dalam usaha membina kerukunan umat beragama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Dia pernah membentuk lembaga untuk kerukunan beragama. Selain itu raja juga membuat kebijakan-kebijakan baru di dunia pendidikan," ujar Syuhud.

Raja Abdullah bin Abdulaziz sendiri, menurut Reuters, telah berkuasa di Arab Saudi sejak 2006. Setelah mangkat, dia akan digantikan putra mahkota, Pangeran Salman bin Abdulaziz.

Selama kepemimpinannya, dia pernah membuat kebijakan sosial senilai 110 milyar dolar AS untuk membangun perumahan dan menciptakan lapangan kerja dan subsidi sosial besar-besaran dari uang minyak.

Hal inilah yang membuat dia populer di kalangan anak muda Arab Saudi, yang populasinya mencapai 60 persen dari total penduduk.

Raja Abdullah juga diketahui hidup sederhana dan melarang keluarga raja berfoya-foya dengan uang negara. Dia juga menunjukkan kepedulian terhadap kemiskinan di negaranya dengan mengunjungi perkampungan kumuh.

Abdullah bin Abdulaziz merupakan raja pertama di Arab Saudi yang peduli nasib dan hak perempuan.

Dia menawarkan pendidikan yang lebih baik, kesempatan kerja, serta menjanjikan hak partisipasi kepada perempuan dalam pemilihan umum kota pada 2015 ini. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 08 Maret 2018

STAI Imam Syafii Cianjur Susul Wisuda Perdana dengan Lomba Hafalan Al-Quran

Cianjur, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dalam rangka menggali dan mengasah semangat para mahasiswa dalam menghafal dan menjaga hafalan Al-Quran, STAI Imam Syaii Cianjur kembali mengadakan Musabaqoh Hifdzul Quran (MHQ) untuk yang kedua kalinya, Rabu (2/11), di Masjid Jami STAI Imam Syafii.

"Kali ini yang dilombakan cuma 10 juz pertama aja, sebelumnya 3 juz, insya Allah seterusnya akan nambah secara bertahap jumlah juz yang akan dilombakan hingga 30 juz," ujar Muhammad Iqbal, satu dari 16 peserta yang ikut lomba.

STAI Imam Syafii Cianjur Susul Wisuda Perdana dengan Lomba Hafalan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
STAI Imam Syafii Cianjur Susul Wisuda Perdana dengan Lomba Hafalan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

STAI Imam Syafii Cianjur Susul Wisuda Perdana dengan Lomba Hafalan Al-Quran

MHQ yang dilangsungkan usai shalat maghrib berjamaah ini juga turut dihadiri oleh para mahasiswa serta Rektor STAI Imam Syafii, Muhammad Hasan Hito dan para tamu dari Kuwait, Abdusyafi dan Muhalhil al-Mudif. Mereka adalah guru besar Universitas Kuwait yang ikut menghadiri wisuda perdana dihari sebelumnya.

Syekh Mahir Al-Munajjed, salah seorang dosen di STAI yang juga pakar Qiroat dan pakar Ilmu Ushul Fiqih menyampaikan mengungkapkan, kita sebagai umat Islam sudah selayaknya selalu menjaga hubungan kita dengan Al-Quran secara terus menerus, terutama bagi mereka yang sudah dan sedang menghafal Al-Quran.?

"Sebagaimana seseorang tidak akan memberikan rahasianya kepada orang yang baru dikenal, begitu juga Al-Quran, ia tidak akan memperlihatkan rahasianya kecuali kepada mereka yang sudah bersahabat lama dengannya, rahasia Al-Quran tidak akan terputus dan keajaibannya tidak akan sirna" tegasnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain kuliah formal yang dilakukan di dalam kelas, para mahasiswa STAI Imam Syafii juga dianjurkan bertalaqqi Al-Quran dengan Syekh Mahir dan para masyaikh lainnya disela-sela waktu kosong seperti bada maghrib dan bada subuh. Tidak kurang dari 20 mahasiswa telah mengkhatamkan Al-Quran bersanad dengan qiroah hafs an Ashim maupun Qiroah Asyroh. (Jafar Muttaqin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Selasa (23/1) malam, Kedung Sukun Adiwerna Tegal berkesempatan menyaksikan gala premier film Syirik di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. 

Syirik adalah sebuah film horor religi produksi Anak Bangsa Pictures bekerjasama dengan NU Care-LAZISNU. Film ini disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Faridsyah Zikri. 

Pengamatan Kedung Sukun Adiwerna Tegal, pengunjung tampak menikmati dan terbawa ke dalam cerita yang disajikan selama pemutaran film.

Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan

Meskipun jadwal penayangan masih sepekan lagi, banyak masyarakat yang telah memesan tiket film tersebut.

“Saat ini sudah ada 6.220 tiket yang dipesan,” kata Farid kepada wartawan usai pemutaran.

Farid yang turut berperan dalam film tersebut yakni sebagai Ustadz Marwan menambahkan masyarakat yang telah memesan tiket tersebut diantaranya di daerah Lampung, Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Syirik menceritakan tentang Lady (Nadhira Hill) dan Romy (Guntur Triyoga), sepasang keluarga muda yang pindah ke sebuah rumah tua di kawasan Subang, Jawa Barat. Kebahagiaan mereka menempati rumah itu dan kehamilan Lady setelah tiga tahun pernikahan mendadak berubah karena Romy mengalami pemutusan hubungan kerja.

Akibat depresi, Romy berubah temperamen menjadi pemarah dan pemurung. Iblis merasuki Romy dan mengubahanya menjadi orang yang berperilaku tidak seperti manusia sewajarnya. Romy digambarkan memakan piring, memakan daging tikus, dan sering memasuki sebuah ruangan aneh di rumah mereka. 

Di ruangan itu perilaku Romy tampak lebih aneh karena terlihat Romy seperti melakukan sembah kepada makhluk gaib.

(Baca: Terlibat Film Syirik, Mita The Virgin Ingin Keberkahan)Berhasilkah Romy dan Lady mendapatkan kebahagiaan mereka kembali?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Film yang 10 persen keuntungannya disumbangkan bagi masyarakat melalui NU Care-LAZISNU akan ditayangkan serentak di bioskop mulai 1 Februari 2018. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 06 Maret 2018

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan

Subang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Subang menggelar pertemuan Halal Bihalal di pesantren At-Tawazun, Kalijati, Subang, Rabu (13/8). Pertemuan yang dihadiri ratusan warga ini, melibatkan sejumlah komponen warga mulai dari jajaran perangkat kabupaten, Kemenag Jabar, jajaran Muspida, dan elemen pemuda di kabupaten Subang.

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan

Tampak hadir dalam pertemuan ini Bupati Subang Ojang Sohandi, Wakil Bupati Imas Aryumningsih, Kepala Kankemenag Jabar Ahmad Bukhori.

Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah mengatakan, Halal Bihalal cukup mengakar bagi masyarakat Indonesia, terlebih lagi Nahdliyin. Halal Bihalal menjadi sebuah mmomentum penting untuk meneguhkan simpul-simpul masyarakat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kendati hari ini ada isu-isu yang bertentangan dengan kaidah agama dan ideologi kebangsaan, NU tetap konsisten mengawal cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi kami, siapapun yang merongrong keutuhan NKRI, secara otomatis layak dijadikan musuh bersama,” kata Kiai Musyfiq.

Sementara Ojang menyatakan apresiasinya atas pertemuan kebangsaan yang digagas PCNU Subang. Menurut dia, solidaritas dan persaudaraan kebangsaan yang dimiliki NU merupakan bagian dari implementasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Karenanya, semua elemen masyarakat dari kalangan ulama, umaro, orang kaya, dan orang miskin, merupakan satu kesatuan di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk ini,” kata Ojang.

Tampil sebagai penyampai taushiyah dalam pertemuan ini ialah Ketua Asosiasi Bina Haji dan Umroh Nahdlatul Ulama KH Manarul Hidayat. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Hikmah, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 05 Maret 2018

Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menjelang pagelaran Muktamar ke-33 NU di Jombang awal Agustus 2015 mendatang, Radio NU menyiarkan secara langsung (Live Streaming) program Bintang NU (Bincang-bincang Tentang NU).?

Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU

“Program ini kami rencanakan setiap minggu sekali, tepatnya setiap hari kamis,” ujar Manajer Program Radio NU, Muhammad Yunus saat siaran perdana, Kamis (12/3).

Yunus menambahkan, program siaran langsung ini akan memberikan tema-tema berbeda setiap minggunya. “Pun demikian dengan narasumbernya, kami akan menghadirkan narasumber kompeten untuk setiap tema yang akan kita angkat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk siaran perdana ini, lanjut Yunus, kami mengangkat tema ‘Pengaruh Muktamar NU terhadap Kehidupan Sosial-Politik’ dengan menghadirkan H Khatibul Umam Wiranu, MHum, Ketua LTN PBNU yang juga anggota DPR RI dengan moderator H Ulil Abshar Hadhrawy.

Dalam perbincangannya, Mas Umam, sapaan akrabnya menerangkan, bahwa perhelatan Muktamar bukan sekadar pemilihan Ketua dan pengurus, tetapi lebih dari itu.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Saya kira Muktamar harus dijadikan sebuah gerakan ide dan gagasan, utamanya untuk keadilan, kesejahteraan atau kemaslahatan umat,” ujarnya.

Umam juga menjelaskan, saat ini, NU harus berupaya menyejahterakan umatnya melalui gerakan-gerakan ekonomi. Oleh karena itu, tambahnya, Muaktamar 2015 ini harus memfokuskan diri ke arah itu.

“Kapitalisme global sudah deras mengalir, saat ini warga NU yang sebagian besar adalah rakyat pedesaan kurang bisa menghadapi, sehingga selalu dirugikan oleh para pemilik modal besar,” ucapnya.

Secara organisasi, dia juga menekankan, bahwa NU perlu memperkuat lembaga syuriah. Menurutnya, syuriah harus menjadi pengambil keputusan atas kebijakan-kebijakan strategis, sedangkan tanfidziyah sebagai pelaksananya.

“Itu jika ingin NU tetap pada roh keulamaan,” tandasnya yang berbicara mengenai pengaruh muktamar secara sosial-politik selama tak kurang dari satu jam. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tokoh, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 03 Maret 2018

Hijrah: Sebuah Renungan

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Imam al-Ghazali (1058-1111 M) dalam pendahuluan Tahâfut al-Falâsifah(Inkoherensi Para Filosof) mengutip perkataan Aristoteles (384-322 SM): “Aflathon shadîq wa al-haq shadîq, wa lakin al-haq ashdaqu minhu—Plato sangat berharga, kebenaran pun sangat berharga, tapi kebenaran jauh lebih berharga dari Plato.” (Abû Hâmid al-Ghazali, Tahâful al-Falâsifah, Kairo: Darul Ma’arif, 1972, hlm 76).

Sepanjang tahun pernahkan kita mengingat dosa-dosa kita, menyesalinya dan bersungguh-sungguh memohon ampunanNya? Sepanjang tahun pernahkan kita menyadari kenikmatan hidup kita, mensyukurinya dan berserah diri kepadaNya? Kita perlu melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kehadiran Sang Nabi yang membawa cahaya—min al-dhulumât ilâ al-nûr—benar-benar telah merubah diri kita yang dipenuhi kegelapan menjadi bercahaya. Jika belum, inilah saatnya, hijrah.

Hijrah: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hijrah: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hijrah: Sebuah Renungan

Dalam Islam, ada dua jenis hijrah: pertama, hijrah zahir (fisik), yaitu berpindah tempat tinggal, dan kedua, hijrah jiwa (spiritual), yaitu berpindahnya keadaan jiwa ke arah yang lebih baik. Mengenai hijrah jiwa (spiritual) yang menuju pada perbaikan diri, Rasulullah bersabda (H.R. Imam Bukhari): “Al-Muhâjir man hajara mâ naha Allahu ‘anhu—muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala laranganNya.”

Dari sudut pandang fisik, hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw adalah sebuah transisi di antara dua situasi, dari keadaan yang tidak aman dan lemah (Mekkah) menuju keadaan yang aman dan kuat (Madinah). Sedangkan dari sudut pandang spiritual, hijrah dipahami sebagai transisi dari keadaan lemah manusia atas dosa menjadi keadaan yang kuat dan terus berjuang untuk menghindarinya. Keadaan yang penuh dengan kelalaian menuju kesadaran spiritual yang sehat.

Proses pengembangan jiwa pun terus berlangsung, tidak berhenti sampai di situ. Sebagaimana kata Aristoteles di atas, meski Plato sangat berharga baginya, Ia tidak berhenti dan terus melakukan pencarian kebenaran. Katanya:“Kebenaran jauh lebih berharga dari Plato.” Bukan berarti Aristoteles tidak menghormati Plato, tapi baginya kebenaran masih terlampau luas untuk digali, dan Plato belum menggali semua kebenaran itu, sekedar buih dalam lautan jika dibandingkan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tidak berbeda dengan keadaan jiwa (state of soul). Dalam literatur tasawuf, ada istilah yang disebut dzunûb al-ahwâl (dosa keadaan jiwa). Menurut Syeikh Musthafa al-‘Arûsi (1798-1876 M) penyebab dosa keadaan jiwa adalah sifat-sifat buruk (madzmûm al-shifât) yang menyamarkan manusia dalam kebaikan, yaitu al-wuqûf ma’a istihsânihâ—berpuas diri dengan anggapan bahwa dirinya berada dalam kebaikan (Musthafa al-‘Arusi, Natâ’ij al-Afkar, Beirut: Darul Kutub, al-Ilmiyyah, 1971, juz 2, hlm 169). 

Dengan kata lain, mencukupkan diri dengan tidak melakukan observasi terhadap jiwanya, karena telah meyakini bahwa dirinya berada dalam kebenaran. Anggapan baik inilah yang membuat manusia berhenti untuk memperbaiki kualitas ibadahnya.

Maka dari itu,setiap hari atau minimal satu tahun sekali, kita harus memeriksa diri kita, melakukan observasi dan analisis diri, ‘Apakah kita masih sering lalai? Seberapa banyak dosa kecil yang kita perbuat? Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Tuhan? Seberapa banyak amal ibadah kita? Kenapa kita berhenti pada pencitraan baik ibadah kita? Kenapa kita tidak meningkatkan kualitasnya? Kenapa kita merasa cukup dengan kebaikan kita? Padahal, kebaikan tidak akan pernah habis diamalkan dan direnungkan.’

Benar, kita harus terus berproses menuju pada kebaikan, kapanpun waktunya dan dimanapun tempatnya. Kita tidak boleh puas dengan ibadah kita. Kita harus selalu meningkatkannya; dari menyembah karena takut siksaNya berubah menjadi cinta akan ridlaNya; dari menyembah karena mengharapkan pahalaNya berubah menjadi cinta akan diriNya.Wajar saja, apabila para ulama kita terdahulu karena keinginannya untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya, berdoa dengan cara yang unik. Imam Hârits bin Asad al-Muhâsibi (781-857 M) berkata:

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ?, ? ? ? ?, ? ?: ? ? ?

“Tidak pernah aku mengatakan: “Ya Allah aku memohon taubat kepada-Mu,” sebaliknya aku mengatakan: “(Ya Allah) aku memohon syahwat taubat kepada-Mu.” (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risâlah al-Qusyairiyyah, hlm 183).

Dengan memohon syahwat dalam doanya, Ia tidak akan berhenti mengaktualisasikan dirinya. Taubatnya adalah perjalanan panjang laiknya hijrah yang dilakukan Nabi Saw dan para sahabatnya. Perjalanan menuju ke arah yang lebih baik setiap waktunya. Syahwat itulah yang membuat Imam Hârits al-Muhâsibi terus bernafsu mencintaiNya dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Shalatnya sekarang, berbeda pengalaman spiritualnya dengan shalatnya kemarin. Zikirnya besok, berbeda rasa spiritualnya dengan zikirnya sekarang.

Bagaimana dengan kita? Telah berapa kali kita mendengar adzan? Telah berapa kali kita bertemu dengan tahun baru Hijriah? Apakah kita pernah merenungkannya sejenak? Mengambil maknanya yang luhur? Dan, memperbaiki diri setiap kali melaluinya?

Ibadah kita masih sekedar takut akan siksaNya dan menginginkan surgaNya. Karenanya, kita disibukkan dengan meningkatkan kuantitasnya, bukan kualitasnya. Shalat yang seharusnya tanhâ ‘an al-fakhsya’ wa al-munkar (mencegah perbuatan keji dan munkar) tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Banyak orang shalat, tapi masih berbuat jahat; korupsi, menggunjing, menghina, memfitnah dan seterusnya. Ibadah kita seakan pakaian baru di hari raya, tapi tidak membarukan jiwa kita.

Ketika melaksanakan shalat, kita tidak merasa bahwa kita sedang menyembahNya. Kita terjebak pada lingkaran rutinitas, aktifitas sehari-hari. Shalat telah menjadi kebiasaan hidup yang kering spiritualitas.Kita lalai untuk siapa shalat kita, hidup kita, mati kita dan ibadah kita.Kita perlu melihat kepada diri kita dan berhijrah dari kekeringan spiritual menuju kesuburan spiritual. Bukan berarti ibadah kita tidak ada nilai pahalanya, tidak. Namun, alangkah baiknya jika pahala itu bersanding lurus dengan perubahan diri yang baik.

Kita selalu menuntut Tuhan ketika semuanya tidak berjalan dengan baik. Kita merasa telah melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Lalu, ‘kenapa Tuhan tidak menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan kita?’ Kita, dengan tanpa sadar, menggunakan persepsi bahwa ibadah seperti tabungan di bank, bisa diambil ketika kita membutuhkan. Karena itu, setiap kali ada masalah, kita akan menuntut Tuhan: “aku telah menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu, kenapa Kau mengujiku dengan masalah seperti ini?”

Kita menggunakan teori kausalitas (sebab-akibat) dalam hubungan kita dengan Tuhan, take and give, harus saling menguntungkan. Kita tidak sadar bahwa Tuhan tidak butuh keuntungan dari kita. Segala perintah dan laranganNya adalah untuk kebaikan kita sendiri, bukan kebaikan Tuhan. Tuhan tidak akan rugi jika semua manusia tidak menyembahNya.

Karena itu, dalam momen penuh berkah ini, tahun baru Hijriah 1439, kita harus merenung dalam diam, menerawang ke dalam diri, membiaskan hikmah agungnya, kemudian melakukan intropeksi diri (muhâsabah). Kita pun harus melakukan penataan ulang kualitas-substantif ibadah-ibadah kita. Soren Kierkegaard (1813-1855 M) mengatakan: “Prayer does not change God, but it changes him who prays—ibadah tidak merubah Tuhan, tapi merubah manusia yang melakukannya.”

? ? ? ? ? * ? ? ? ?

“Tujuanku bukan surga yang dipenuhi kenikmatan.Sungguh, aku menginginkannya, bukan karena nikmat surgawinya, tetapi karena aku ingin berjumpa denganMu”

(Sa’id Harun ‘Asyur, Jawâhir al-Tashawwuf li al-‘Arif bi Allah al-Zâbid al-Wâ’idh Yahya bin Mu’âdz al-Razi, Iskandariyyah: Maktabah al-Adab, 2002, hlm 31)

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 02 Maret 2018

Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar

Sragen, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Program “Gerakan Koin NU Nusantara Menuju Mandiri” kini telah mencapai angka Rp 2 miliar. Meski telah mendapatkan dana cukup besar, Pengurus NU Sragen akan terus meningkatkan perolehannya dengan target mencapai Rp 5 miliar.

“Tahun ini, target dapat menembus angka Rp 5 milyar,” kata Ketua LAZISNU Sragen, Suranto, saat dihubungi Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Senin (17/4).

Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)
Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)

Koin NU Sragen Tahun Ini Ditargetkan 5 Miliar

Menurutnya, angka tersebut diharapkan dapat tercapai, mengingat potensi warga NU yang tersebar di 20 kecamatan wilayah Kabupaten Sragen.

Dipaparkan Suranto, program ini telah berjalan hampir satu tahun. “Berjalan bertahap dari 20 kecamatan. Paling awal MWCNU Karang Malang, yakni setahun lalu. Kemudian yang terbaru MWCNU Kalijambe baru mengawali,” ungkap dia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk saat ini, lanjut Ranto, pemanfaatan dana baru digunakan untuk menambah jumlah kotak koin, yang kemudian akan dibagikan ke jamaah secara cuma-cuma. “Ada 38.591 kotak koin yang sudah kita bagikan ke warga dan akan terus bertambah,” terangnya.

Sebelumnya program “Gerakan Nasional Koin NU” di wilayah NU Sragen juga telah mendapatkan apresiasi langsung dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj.

Apresiasi Kiai Said disampaikan langsung saat membuka peresmian“Gerakan Nasional Koin NU” di Sragen, belum lama ini (14/4). (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawii)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Bahtsul Masail, Cerita Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 01 Maret 2018

Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami

Hingga kini perkara bid’ah masih saja diperselisihkan. Baik dalam teori maupun praktiknya. Sebagian orang menganggap bid’ah sebagai sesuatu yang salah dan harus diluruskan. Dan sebagian yang lain memposisikan bid’ah sebagai suatu kreatifitas yang dibolehkan selama tidak menerjang rambu-rambu al-Quran dan as-sunnah.

Mengenai perkara bid’ah ini Muallim Syafi’i Hadzami ulama Betawi menerangkan dengan cukup panjang dalam bukunya Taudhihul Adillah juz tiga. Muallim Syafi’i memulai tulisannya dengan menukil perkataan As-Syatibi dalam kitabnya al-I’tisham begini kalimatnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami

Kata bada’a pada mulanya menunjukkan arti mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Seperti dalam firman Allah ‘? ? ?’ (Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi) maksudnya Dialah Allah yang mengadakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya. Begitu pula firman-Nya dalam ayat ‘? ? ? ? ? ?’(katakanlah Muhammad “bukanlah aku ini Rasul yang diutus mula-mula/pertama kali) maksudnya bahkan sebelumku (Muhammad) telah banyak Rasul yang diutus Allah swt.Ddalam bahasa Arab kata bid’ah juga sering digunakan seperti kalimat ‘ ? ? ?’ (si fulan telah merintis satu jalan yang belum pernah didahului orang lain). Atau juga dalam kalimat ‘? ? ?’ (ini adalah perkara yang indah) yaitu perkara yang indah dan belum pernah ada tandingannya.

Demikian Muallim Syafi’i Hadzami memulai keterangan tentang arti bid’ah dari sisi kebahasaan. Karena kata bid’ah itu berasal dari bahasa Arab maka yang menjadi rujukan juga penggunaan kata tersebut dalam keseharian masyarakat Arab. Selanjutnya dijabarkan bahwa kata bid’ah digunakan untuk menunjuk suatu hasil atu karya.  Sedangkan proses pekerjaannya (berkreasi) dikatkan ibda’.

Dengan demikian bid’ah merupakan hasil pekerjaan yang bisa terkena hukum, bukan hukum itu sendiri. Karena pada hakikatnya hukum syar’i itu cuma lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Tidak ada bid’ah di dalamnya. Jadi sangat tidak tepat jika dikatakan “yang begini atau begitu hukumnya bid’ah”. Intinya keterangan ini menegaskan bahwa bid’ah bukanlah termasuk hukum syar’i.

 Adapun secara istilah Muallim Syafi’i Hadzami memberi pemahaman bid’ah sebagaimana dipergunakan dan difahami kebanyakan orang Indonesia sebagai suatu amalan yang tidak ada dalil syara’nya. Bid’ah biasa dijadikan pembanding dengan sunnah yaitu sesuatu yang ada dalil syar’inya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selanjutnya Muallim Syafi’i Hadzami menjelaskan rincian macam bid’ah dengan diawali pendapat Imam Syafi’i katanya

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bida’ah itu ada dua macam. Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Maka mana-mana yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji, dan mana-mana yang menyalahinya itulah yang tercela

Ini merupakan dalil pertama yang digunakan oleh Muallim Syafi’i Hadzami menunjukkan adanya dua macam bid’ah. Penunjukan dalil ini tidaklah sembarangan, mengingat otoritas Imam Syafi’i sebagai salah satu peletak dasar madzhab syafi’i yang telah diakui secara mufakat hasil ijtihadnya.

Guna menguatkan dan menjelaskan rincian bid’ah ini, Muallim Syafi’i Hadzami mengambil satu pendapat lagi dari Al-Baihaqi sebagaimana tersebut dalam manakibnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Segala yang diadakan itu ada dua macam. Sesuatu yang diadakan padahal menyalahi kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Sedangkan apa-apa yang baik yang  diadakan yang tidak bertentangan dengan tersebut (kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’) maka itulah bid’ah yang tidak tercela.

Sampai di sini semakin jelas bahwa pemahaman tentang bid’ah sebagai sesuatu kreasi baru tidaklah sesederhana pemahaman hitam dan putih. Karena tidak semua yang baru itu dapat dianggap sesat. Mengingat banyak hal-hal baru yang tidak ada di zaman Rasulullah saw juga baik.

Dalam rangka menklasifikasikan bid’ah Muallim Syafi’i Hadzami memperjelas dengan pendapat Al-Hadidi dalam Syarah Nahjul Balaghah menyatakan yang artinya demikian “lafald bid’ah dipakai untuk dua pengertian. Salah satunya yang untuk menunjukkan sesuatu yang melanggar al-Qur’an dan as-sunnah semisal puasa di hari idul adha ataupu pada hari-hari tasyriq. Karena puasa pada hari-hari tersebut dilarang. Pengertian kedua, kata bid’ah digunakan untuk menunjuk sesuatu pekerjaan yang dilakukan tanpa dasar nash, namun syara’ membiakannya. Dan kemudian biasa dilakukan oang-orang Islam setelah wafatnya Rasulullah saw. Adapun hadits yang berbunyi “ ? ? ? ? ? ? ? “ setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan masuk neraka dapat diperuntukkan terhadap makna bid’ah yang pertama. Sedangkan perkataan sayyidina Umar as. Sehubungan dengan shalat tarawih berjama’ah yang berbunyi “ ? ? ? ? ?  “ sesungguhnya yang demikian ini bid’ah dan inilah sebaik-baik bid’ah. Dapat diaterapkan pada pemahaman makna bid’ah yang kedua.

Demikianlah pendapat Muallim Syafi’i Hadzami mengenai arti bid’ah sebagaimana diterbitkan dalam bukunya Taudhihul Adillah jilid ke III. Sesungguhnya pengambilan berbagai rujukan ini merupakan bukti betapa luasnya pengetahuan agama Muallim Syafi’i di satu sisi. Dan pada sisi lain menunjukkan ketawadhu’annya sebagai seorang alim yang tidak mau menunjukkan pendapat sendiri selagi masih ada rujukan para ulama.

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Bu Sinta dan Alissa Wahid Bersilaturahim dengan Muslimat dan PCINU Jepang

Tokyo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pada pekan lalu, Sinta Nuriyah Wahid dan putrinya, Alissa Qotrunada berkunjung ke Jepang. Selain mengisi kuliah umum di Soka Gakkai Tokyo, keduanya menyempatkan diri bersilaturahim dengan Muslimat NU dan PCINU Jepang di Hotel New Otani Chiyoda-ku Tokyo, Kamis 26 Oktober lalu. 

Bu Sinta dan Alissa Wahid Bersilaturahim dengan Muslimat dan PCINU Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Bu Sinta dan Alissa Wahid Bersilaturahim dengan Muslimat dan PCINU Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Bu Sinta dan Alissa Wahid Bersilaturahim dengan Muslimat dan PCINU Jepang

Pada kesempatan tersebut hadir pengurus Muslimat NU Jepang yaitu Anggita Aninditya (Ketua I) dan Erika Herliana (Sekretaris). Turut hadir juga Rais Syuriah PCINU Jepang Ali Amin dan Ketua Tanfidziah PCINU Jepang Miftakhul Huda.

Alissa menyampaikan kepada yang hadir bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat nonpolitik dan tidak boleh terlibat dalam politik praktis. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Alissa, posisi PCINU Jepang sebaiknya difokuskan untuk melawan dan mengikis radikalisme yang kian marak berkembang akhir-akhir ini dengan menggalakkan konsep keluarga dalam NU yaitu Keluarga maslahah sebagai kunci ketahanan keluarga.

“Ciri dalam keluarga maslahah adalah bapak dan ibu yang saleh, anak-anak yang abror (baik), rezeki yang cukup, dan pergaulan yang baik di mana para anggotanya memiliki akhlak NU yaitu mabadi khaira ummah," jelasnya melalui siaran pers Muslimat NU Jepang yang diterima Senin (30/10). 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Alissa, mabadi khaira ummah adalah sebuah prinsip moral yang bertumpu pada lima pilar yaitu ash-shidq (kejujuran), al amarar wal wafa bilahdi (menunaikan semua kewajiban yang sudah dijanjikan), aladalah (obyektif, proporsional, dan taat asas), at-taawun (tolong menolong), dan istiqomah (berpendirian teguh),” 

Dengan begitu, lanjut Alissa, dapat menjelma menjadi sikap kemasyarakatan NU yaitu tawasuth (di tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), i’tidal (lurus), ukhuwah (islamiyah, watoniyah, basariyah), dan amar ma’ruf nahi munkar. 

“Para aktivis NU di mana pun berada harus mampu menampilkan diri dengan bertumpu pada nilai-nilai tersebut,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Jadwal Kajian Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Kasus penyalahgunaan narkoba sering kali menimpa kaum remaja juga kalangan pemerintahan. Hingga kini berbagai media menyajikan berita terkait kasus narkoba yang lebih dominan dengan menyorot dua objek tersebut.

Sesuai data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2014 yang diungkap dosen Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang Dr H Kuswanto saat mengisi orasi kebangsaan Upaya Pemberdayaan Perempuan Dalam Mencegah Peredaran Narkoba di pembukaan seminar melawan teror narkoba, Kamis (10/11).

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah

"Jumlah pengedar narkoba selama ini kita temui mayoritas dari kalangan remaja, tapi penikmat narkoba di luar kebutuhan paling banyak dari kalangan pekerja swasta, wirausaha, dan instansi pemerintahan, sesuai data BNN tahun 2014 pemakai dari kalangan ini hingga mencapai 50.34%," ujarnya.

Namun demikian itu, menurutnya bukan tanpa alasan logis. Pengedar yang mayoritas dari kalangan remaja selama ini memang dijadikan objek utama oleh mafia-mafia narkoba, selain itu para mafia juga memanfaatkan pola pikir dan rasa keingintahuan remaja terhadap segala sesuatu masih kuat, termasuk narkoba.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Pola pikir remaja itu sangat kuat, begitu juga dengan rasa keingintahuannya, hal ini yang menyebabkan para remaja tersandung kasus narkoba. Kebanyakan juga pola pikir remaja yang penting happy," ungkapnya.

Soal pemakai dari kalangan pekerja swasta, wirausaha, dan instansi pemerintahan, akademisi itu menilai diakibatkan kepemilikan uang yang lebih dari cukup. "Kenapa mereka yang paling banyak? Karena mereka punya banyak uang," kata Kuswanto.

Di waktu yang sama, Kepala BNN Kota Mojokerto Suharsi, salah satu narasumber seminar mengatakan, pemakai narkoba menyesuaikan karakter masing-masing individu.

"Kalau orang itu sukanya memakai jenis sabu-sabu, maka orang itu cenderung kuat, contohnya para supir, akhirnya supir kuat nyetir," kata Suharsi.

Seminar ini diselenggarakan Korps Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri Jombang. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Kajian Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 28 Februari 2018

Ribuan Warga Semarakkan Pasar Rakyat Purbalingga

Purbalingga, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sekitar sepuluh ribu warga menyemarakkan Pasar Rakyat Indonesia yang diselenggarakan oleh PBNU bersama PCNU Purbalingga di lapangan Karangganyar, Sabtu (20/4) malam. Selain mengunjungi stand-stand pasar rakyat, ? warga juga menikmati panggung hiburan yang disediakan panitia.

“Acara hiburan kami hintikan sampai sekitar pukul sepuluh malam. Kalau tidak ya sampai larut malam,” kata Ketua PCNU Purbalingga Muhammad Khotib kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Ribuan Warga Semarakkan Pasar Rakyat Purbalingga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Semarakkan Pasar Rakyat Purbalingga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Semarakkan Pasar Rakyat Purbalingga

Warga menikmati hiburan musik reggae dan dangdut. “Kami mendapatkan masukan dari kiai-kiai sepuh, mestinya hiburannya yang lebih Islami. Makanya untuk nanti malam (Ahad malam: red) lagu-lagu dangdutnya kami pilih, tidak bisa sembarangan,” tambahnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pembukaan pasar rakyat berlangsung Sabtu kemarin yang dihadiri oleh Ketua PBNU KH Abbas Mu’in. Kegiatan yang berlangsung hingga Ahad malam ini juga didukung oleh dinas UKM setempat. Berbagai produk lokal juga menghiasi stand-stand Pasar Rakyat.

“Kami juga didukung oleh Dinas Pariwisata. Ada berbagai permainan dan hiburan yang akan menambah semarak pasar rakyat. Kalau persiapan kita tidak mendadak pasar rakyat akan lebih ramai lagi,” kata Khotib.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rangkaian kegiatan pasar rakyat juga diisi dengan workshop kewirausahaan yang diikuti sekitar 190 peserta yang terdiri dari santri dan siswa, perwakilan lembaga dan badan otonom NU serta masyarakat setempat. “Insyaallah pelatihan ini banyak memberikan manfaat,” pungkasnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Masrufin

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal IMNU, Sejarah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 27 Februari 2018

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sujud juga tidak baik jika asal dikerjakan. Karena dalam sujud itu terdapat nilai-nilai kerohanian yang sangat dalam. Dengan meletakkan kepala di bawah dan menempelkan kening dan hidung di atas tanah, dua lutut, dan telapak tangan serta ujung-ujung jarinya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah saw:

 

 ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Aku disuruh bersujud pada tujuh tulang pada kening seraya menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung kaku.

 

Keterangan tentang posisi fisik di atas hendaknya tidak haya dilaksanakan tetapi juga diresapi. Karena sesungguhnya rambu-rambu itu mengandung hikmah yang bila dilaksanakan dapat membantu seorang lebih khusyu’ dan ihlash dalam shalat. Jika demikian, wajar kalau Rasulullah saw kana menemani sahabatnya yang banyak bersujud

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ?. ? : ? ? . ? : ? ? . ? ? ? . ? : ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Rabiah bin Ka’ab r.a, ia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah SAW kemudian aku membawa kepadanya air untuk beliau berwudhu dan buang hajat, lalu beliau bersabda: “Mintalah dariku”, aku berkata: “Aku meminta menjadi pendampingmu di syurga”, ia bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Aku hanya meminta menjadi pendampingmu di syurga”, Rasulullah SAW bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Itu permintaanku”, ia bersabda: “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu dengan banyak engkau bersujud (shalat)”. HR. Muslim 1

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Secara fisik kondisi sujud memang menunjukkan sebuah penghambaan total. Bagaimana posisi itu begitu sangat rendahnya. Namun dibalik kepasrahan dan kerendahan itu sesungguhnya Allah swt akan meninggikan derajatnya. Sebagaimana diterangkan

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Tsauban r.a ia berkata: “Aku mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah bersujud sesungguhnya engkau tidak melakukan satu sujudpun karena Allah, melainkan Allah mengangkatkan engkau dengan sujud tersebut satu derajat dan Allah menghapuskan darimu satu kesalahan”. HR. Muslim

 

Dan yang paling hakiki dari sujud adalah merasakan kedekatan antara seorang hamba dan tuhannya. Pada saat sujud itu bisa dengan mudah seorang hamba menitikkan air mata, atau merasa intim dengan Allah swt. Begitu yang diajarkan Rasulullah saw dalam haditsnya.

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?“? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?”

 

Hadits riwayat Abi Hurairah Radhiyallahu’anhu, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dengan tuhannya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyaklah berdo’a”

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Santri, Lomba Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 26 Februari 2018

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Festival Tongtek yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor-Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah. Kegiatan yang baru dihelat kali pertama ini diikuti 33 kontingen dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Kudus.

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Di sepanjang jalan dari start Lapangan Kongsi Desa Loram hingga Masjid Wali, mereka Sabtu (25/6) malam itu memainkan musik kentongan yang dipadukan alat-alat seadanya lainya seperti galon, kaleng biskuit, tong, dan lainnya. Dengan berjalan kaki, tetabuhan musik kentongan ini mengiringi lagu-lagu religi yang mereka nyanyikan.

Festival yang dimulai selepas tarawih ini mendapat sambutan warga dan tokoh masyarakat desa setempat. Ratusan masyarakat berjajar di pinggir jalan menanti kontingen tongtek melewati jalan raya Desa Loram.

Ketua panitia Syaifuddin Najib mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya melestarikan musik kentongan yang belakangan ini hampir punah. Musik kentongan, katanya, memiliki manfaat sebagai perangkat untuk kepentingan patroli (ronda) malam menjaga keamanan desa.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

"Ansor ingin mencoba menumbuhkan kembali melalui lomba tongtek sehingga musik tradisional tetap lestari. Apalagi selama Ramadhan seringkali dimanfaatkan untuk membangunkan orang sahur puasa," katanya.

?

Melihat antusiasme warga dan peserta, kata dia, kegiatan festival tongtek menunjukkan adanya respon positif. Karenanya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan budaya yang diagendakan rutin setiap tahun.? "Kita akan melanjutkan festival tongtek ini sebagai kegiatan rutin setiap tahun di Kecamatan Jati," tutur Najib.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

Pembina Banser Kudus H.Akhwan Sukandar mengapresiasi kegiatan bernuansa seni tradisional ini. Menurutnya, kesenian tongtek sudah berlangsung lama muncul di lingkungan masyarakat pedesaan sebagai musik ronda. Namun belakangan musik seperti ini hampir hilang.

?

"Kegiatan festival tongktek patut didukung sehingga musik tradisional ini tetap lestari," ujar Akhwan yang juga mantan Komandan Satkorcab Banser Kudus ini.

?

Pernyataan senada juga disampaikan Kapolsek Jati yang hadir mulai awal hingga selesainya acara pukul 24.00 WIB. Dikatakan, sejarah musik tongtek berawal dari cerita adanya orang bermain judi gaple. Karena judi mengganggu masyarakat, akhirnya para pemainnya diusir oleh para pemain tongtek.

"Oleh karena itu saya sangat berharap kegiatan tongtek tetap dilaksanakan dengan kemeriahan," katanya seraya meminta masyarakat menjaga lingkungan sekitarnya.

Festival tongtek ini diikuti 33 kontingen yang berasal dari 6 kecamatan yakni Gebog, Jati, Bae, Kaliwungu, Mejobo dan Undaan. Dari hasil penilaian juri terpilih kontingen terbaik masing-masing juara 1 grup dari Kaliwungu, Juara 2 (Jepang Pakis, Jati), Juara 3 (Payaman, Mejobo), Juara harapan 1 dan 2 adalah Loram Wetan dan Undaan Lor. Masing-masing juara mendapat penghargaan piala dan uang pembinaan yang nilainya beragam. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Quote Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Peringatan haul cikal-bakal desa Kaliwungu, Mbah Rogo Moyo kembali diadakan selama lima hari 1 – 5 Nofember mendatang. Pembukaan seluruh rangkaian kegiatan haul ditandai dengan selametan bubur syuro dan dan santunan anak yatim di Masjid jami Al Aziz Prokowinong Kaliwungu Kudus, Ahad malam (2/11)

Dalam acara yang dibuka Camat Kaliwungu Budi Utomo, sebanyak 67 yatim yang berasal dari desa itu menerima santunan masing-masing berupa uang tunai Rp 80.000 per anak dan bingkisan jajan.

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim

Ketua panitia Noor Yadi menjelaskan sosok Mbah Rogo Moyo merupakan tokoh yang menyebarkan dan mengembangkan dakwah agama Islam di dukuh Prokowinong Kaliwungu. Selain itu, Mbah Rogo Moyo adalah seorang ahli pertukangan yang dikenal sebagai penemu rumah adat Kudus.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Beliau juga dikenal sebagai salah satu tukang berpengaruh dalam pendopo-pendopo kabupaten pada era Bupati Kudus ketiga Raden Condronegoro," tuturnya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Yadi menjelaskan peringatan haul mbah Rogo Moyo diadakan berdasarkan tahun Hijriyah tepatnya 13 Muharram. Pada tahun ini, ragam kegiatan telah dipersiapkan diantaranya bersih-bersih makam (1/11), Festival Rebana Klasik (2/11), lomba rebana modern (3/11), khotmul Quran Bin-Nadlor dan bil ghoib (5/11), kirab budaya dan buka luwur dilanjutkan pengajian bersama KH Adnan Kasogi (Kudus).

"Disamping mengenang, meneladai, melestarikan nilai ketokohonya yang sederhana, mendorong dan memupuk semangat gotong-royong dan persatuan kesatuan masyarakat," terangnya.

Hadir dalam acara pembukaan, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kudus Sunardi, Kabid Pariwisata Dwi Sancaka, Camat Kaliwungu Budi Utomo, pengurus NU dan badan otonomnya, tokoh masyarakat setempat dan tamu undangan serta ratusan warga desa Kaliwungu.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 25 Februari 2018

Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Khataman Al-Quran 30 juz mengawali rangkaian peringatan Haul ke-6 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berpusat di rumah keluarga di Jalan Warung Sila 10 Ciganjur Jakarta Selatan sejak Sabtu (26/12) pagi. Khataman bil ghoib (hafalan) diadakan di lima titik.

Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur

Grup pertama mengkhatamkan Al-Quran di Masjid Al-Munawwarah depan rumah keluarga. Mereka adalah para hafidz dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta dan Jamiyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) NU Depok dan santri Pesantren Ciganjur.

Dua grup penghafal putri dari Institul Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta mengkhatamkan Al-Quran di rumah keluarga Gus Dur. Dua grup lainnya di gedung SDIT Abdul Wahid Hasyim dan asrama Pesantren Ciganjur.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Khataman Al-Quran berlangsung sampai Sabtu malam menjelang acara puncak peringatan Haul ke-6 Gus Dur.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Ketua Tamir Masjid Al-Munawarah H Syaifullah Amin, khataman A-Quran ini rutin diadakan sejak haul pertama Gus Dur.

"Setiap bulan atau tepatnya di malam Rabu Pahing atau hari kelahiran Gus Dur juga diselenggarakan khataman Al-Quran bil ghoib 30 juz," kata Amin.

Ditambahkan, tradisi khataman Al-Quran ini dirintis oleh murid Gus Dur sekaligus pemangku pertama Pesantren Ciganjur KH Muhammad Musthofa dan istrinya Lilik Ummi Kaltsum, dua-duanya penghafal Al-Quran, sejak Gus Dur masih ada dan berlanjut sampai sekarang.

Sementara itu puncak acara Haul ke-6 Gus Dur Sabtu malam akan dihadiri KH Maruf Amin, KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, Habib Luthfi, serta sejumlah kiai dan habaib, pejabat pemerintahan dan tokoh lintas agama. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Humor Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Pesantren untuk Bangsa

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan MAtaram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.

Pondasi Keutamaan Perilaku Manusia

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondasi Keutamaan Perilaku Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pondasi Keutamaan Perilaku Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pondasi Keutamaan Perilaku Manusia

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Apa yang prioritas dalam kehidupan dunia ini? Sebagian orang menganggap bahwa mencari harta seanyak-banyaknya adalah jawabannya. Melalui kekayaan manusia dinilai bisa memperoleh ketenangan, kebahagiaan, bahkan kesempatan berbuat baik lebih banyak. Dengan harta yang melimpah, seseorang tidak hanya bisa membahagiakan diri sendiri, tapi juga membahagiakan orang lain. Maka, bersibuk-sibuklah mereka mencari nafkah, memperkaya diri. Meskipun, penumpukkan kekayaan itu tak akan pernah berujung, dan bagi sebagian orang proses tersebut justru membuatnya lalai dan semakin jauh dari idealime “membahagiakan diri sendiri sekaligus orang lain.”

Pendapat lain mengatakan, bukan harta yang prioritas, melainkan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu seseorang bisa menjadi lebih terhormat. Orang kaya tidak lebih baik dari orang berilmu. Maka jargon bahwa “harta meniscayakan kita untuk menjaganya, sedangkan ilmu justru menjaga kita”. Bahkan, dengan ilmu, harta bisa diraih, tapi belum tentu demikian sebaliknya. Berangkat dari keyakinan ini, seseorang kemudian berlomba-lomba mengejar pendidikan tinggi, menumpuk pengetahuan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Orang kaya dan orang pintar sudah sangat banyak kita dapati. Namun, betapa banyak juga masalah yang juga ditimbulkan oleh dua kelompok itu? Tak sedikit orang yang karena dibutakan oleh kekayaan menjadi lupa akan nilai-nilai sosial dan kelestarian lingkungan. Punya perusahaan besar tapi mengeksploitasi alam; punya pabrik tapi mencemari udara dan mengganggu masyarakat; meraup keuntungan luar biasa per hari tapi kikir, dan seterusnya. Dengan demikian, kekayaan tidak membuatnya bersyukur. Kekayaan telah menumbuhkan sifat tamak yang dalam level tertentu memicu tindakan-tindakan yang merugikan orang lain.

Demikian pula orang pintar. Mereka kini hadir di mana-mana, mengisi berbagai lini strategis kehidupan kita: di pemerintahan, lembaga pendidikan, rumah sakit, pabrik senjata, hingga masjid dan mushala. Di saat yang sama kita juga menyaksikan bahwa sebagian problem di sekitar kita juga muncul dari orang-orang pintar ini. Kasus korupsi banyak kita saksikan dari para oknum pejabat publik yang menyalahgunakan wewenang. Kita juga pernah mendengar kasus pelecehan seksual oleh oknum guru di sekolah. Kita juga kadang menemui beberapa tempat ibadah yang menjadi ajang kampanye kebencian dan memupuk permusuhan kepada kelompok lain yang berbeda paham.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Kenapa hal demikian bisa terjadi? Benarkah yang paling krusial dalam kehidupan ini adalah harta dan ilmu pengetahuan?

Parameter paling sempurna untuk melihat segala persoalan adalah Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Bila kembali kepada tujuan dari diutusnya (bi’tsah) beliau, maka kita akan menemukan kata kunci yang sangat penting, yakni akhlak. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ?

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhari)

Dalam redaksi lain:

? ? ? ? ?

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Rasulullah diutus bukan untuk membuat orang menjadi kaya atau semata-mata agar orang menjadi pintar, melainkan agar manusia memiliki akhlak sempurna. Ketika Nabi berdakwah, bangsa Arab secara umum bukan bangsa yang sangat miskin secara ekonomi ataupun sangat bodoh di bidang pengetahuan. Banyak situs Arab kuno yang menunjukkan bahwa masyarakat kala itu tergolong canggih, misalnya dalam membangun bendungan, saluran irigasi, atau teknik dan persenjataan perang. Hanya saja, secara moral masyarakat Arab waktu itu secara umum ditimpa kemerosotan yang luar biasa. Kita kerap mengistilahkannya "jahiliyyah". Perbudakan, pelecehan terhadap perempuan, fanatisme kelompok, penindasan kaum lemah, riba adalah sederet perilaku negatif yang menjangkiti bangsa Arab. Dengan demikian, kata “jahiliyah” yang sering kita dengar lebih merujuk pada pengertian “jahiliyyah fil akhlaq” (kebodohan dari segi moral).

Jauh sebelumnya, bangsa Arab sejatinya memiliki moral yang baik karena pengaruh ajaran-ajaran Nabi Ibrahim. Namun, dalam perkembangan waktu keadaban mereka kian menyusut, dan terus merosot, hingga sampai di luar batas kemanusiaan (misalnya mengubur hidup-hidup bayi perempuan). Rasulullah hadir untuk mengembalikan sekaligus menyempurnakan akhlak sebagaimana yang diajarkan nabi-nabi terdahulu. Melalui keteladanan, beliau menegakkan prinsip tauhid, mengusung kesetaraan manusia, dan menyerluaskan spirit kasih sayang di antara sesama. Rasulullah berjasa besar dalam merombak kondisi waktu itu, dari kebiadaban menuju peradaban. Bukan hanya di Arab tapi juga segala penjuru dunia. Sebagaimana ungkapan Al-Qur’an:

? ? ? ? ?

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Akhlaklah yang seharusnya menjadi prioritas dalam kehidupan ini, karena ia menjiwai seluruh perilaku-perilaku utama. Jika kita mendapati orang kaya ataupun orang pintar yang menjadi biang kerok masalah, maka itu semata-mata karena hilangnya akhlak pada diri mereka. Begitu juga, banyak orang kaya dan orang pintar yang hidup penuh manfaat bagi orang lain karena pribadinya berhias akhlak yang luhur. Ada belas kasih di hati mereka. Ada rasa empati kepada orang lain, ada kedermawanan, ketawadukan, semangat membantu yang lain, dan lain sebagainya.

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama sufi abad pertengahan, sebagaimana dikutip dalam Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, pernah menyatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.”

Harta tentu perlu, karena manusia hidup meniscayakan kebutuhan-kebutuhan primer bendawi seperti makan, pakaian, juga tempat tinggal. Dan, yang lebih penting dari harta adalah ilmu. Ilmu dan akal membedakan manusia dari karakter binatang. Namun, yang lebih penting dari keduanya adalah akhlak. Sebab tanpa akhlak, manusia bukan hanya bisa seperti binatang, tapi bahkan bisa lebih rendah lagi. Karena itu, sebelum menjadi orang kaya atau orang pintar, jadilah terlebih dahulu orang yang berakhlak, orang yang beradab.

Semoga khatib yang banyak kekurangan ini, juga jamaah sekalian, mampu menjadikan akhlak sebagai pondasi utama bagi segenap gerak-gerik kita untuk meraih kebahagiaan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Amin.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur
Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ubudiyah, Makam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba

Tulungagung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Batangsareng Kecamatan Kauman mengadakan pelatihan relawan antinarkoba pada Ahad, 3 Desember 2017 pukul 08.00 WIB sampai 13.00 WIB. Kegiatan itu dikerjasamakan dengan Badan Narkotika Nasional atau BNN Kabupaten Tulungagung,

Kegiatan berlangsung di balai desa setempat tersebut diikuti 50 peserta dari kalangan pelajar. Bahkan sejumlah tokoh berkenan hadir dan mendampingi peserta hingga kegiatan selesai.

Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba

Pelatihan yang difasilitasi Pemuda Mandiri Membangun Desa binaan Kementerian Pemuda dan Olahraga ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah desa setempat. 

"Kegiatan yang diadakan IPNU IPPNU seperti ini sangat penting untuk mengembangkan desa," tutur Ir. Ripangi. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kepala Desa Batangsaren tersebut juga berterimakasih kepada sejumlah peserta yang dengan antusias mengikuti kegiatan. 

Usai pembukaan, dilanjutkan penyampaian materi oleh Tri Arief. Kasi P2M BNN Kabupaten Tulungagung menyampaikan tentang jenis dan dampak penyalahgunaan narkoba, serta kasus narkoba di kawasan tersebut. 

Salah satu kasus yang diceritakan adalah penangkapan pengedar narkoba di kecamatan Ngunut. Melalui cerita tersebut, diharapakan seluruh peserta pelatihan bisa waspada terhadap gerak mencurigakan di lingkungan sekitar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Saya sangat senang karena materi yang saya dapat di pelatihan ini menyadarkan untuk berperan aktif dalam mencegah penyalahgunaan narkoba," ujar Nimah, salah satu Pengurus Ranting IPPNU Batangsaren yang mengikuti pelatihan.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta dikukuhkan sebagai relawan anti-narkoba. Mereka memiliki tugas menjaga diri dari penyalahgunaan narkoba dan kampanye menolak peredaran bahan berbahaya tersebut di desa dan sekolah. (Puspita Hanum/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Habib Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock