Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Dari Pesantren untuk Bangsa

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan MAtaram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.

Kamis, 01 Februari 2018

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU

Pringsewu, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Radio Suara Aswaja yang digagas oleh Lajnah Talif wan Nasyr Kabupaten Pringsewu, Lampung, dapat menjadi sarana transformasi informasi warga Pringsewu khususnya warga nahdliyyin.

Mantan Ketua PWNU Lampung KH DR Khairuddin Tahmid mengatakan, kegiatan yang dilakukan NU sebenarnya sangatlah banyak dan besar namun dikarenakan kurangnya publikasi maka masyarakat umum tidak mengetahuinya. 

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU

"Sementara yang lain kegiatan kecil dan cuma beberapa orang karena diekspos di media secara terus-menerus maka terlihat besar dan terkenal," katanya dalam diskusi ke-NU-an yang digelar di Kantor LTN NU Pringsewu, Senin (4/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

KH Khaeruddin Tahmid yang juga dosen di IAIN raden Intan Lampung mengharapkan Radio Suara Aswaja nantinya dapat mengemas acara acara yang informatif dan edukatif. 

Ditambahkan, kemasan program siar Radio Suara Aswaja haruslah memberi penyejukan dan pencerahan kepada masyarakat dan bukan untuk mengkounter ajaran lain apalagi menyalahkan dan memojokkan pemahaman lain seperti yang sudah mulai muncul akhir-akhir ini. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Redaktur     : A. Koirul Anam 

Kontributor : Fara Fatiha

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Pendidikan, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) diminta berhati-hati mengeluarkan pernyataan politik. Hal ini untuk menjaga kondusivitas dan menghindari perpecahan di kalangan warga.

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Pernyataan ini disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh saat dihubungi Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Rabu (14/5). Dikatakan, tokoh NU harus selalu menekankan seruan moral tanpa dilatarbelakangi kepentingan partai politik maupun calon presiden tertentu.

"Jangan terlalu berlebihan larut dalam persoalan politik. Kembalilah pada isu kesejahteraan dan moral umat," tegas kiai yang sering disapa Gus Ubaid ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mengingatkan terjadinya perpecahan (firqah) dalam agama berbarengan dengan peristiwa politik. "Makanya kiai-kiai NU harus hati-hati. Termasuk santri juga jangan mengompori dan memanipulasi pernyataan dan sikap kiai," tandasnya.

Kepada pendukung capres, Gus Ubaid mengharapkan supaya menarik simpati sesuai etika politik tanpa menjelek-jelekkan lawannya. Begitu pula, para wartawan harus berimbang dalam menyampaikan informasi. "Tidaklah elok bila harus menjelek-jelekkan lawan politik," tegasnya lagi singkat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ditanya tentang sikap politik PWNU Jateng, Gus Ubaid menyatakan secara lembaga tetap bersikap netral dan tidak memberi dukungan kepada salah satu kandidat capres. "Meskipun begitu, NU tetap membimbing," ujarnya tanpa merinci penjelasannya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Pesantren, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir menyatakan haji diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu mengadakan perjalanan ke tanah suci. Perintah itu ditemukan di dalam Al-Quran.

Perihal kemampuan menurut keterangan ulama, sambung KH Saifuddin Amsir, meliputi kemampuan keuangan dan keamanan. Meskipun kondisi fisik yang terbatas dan terkendala usia, mereka yang mampu tetap wajib melaksanakan haji.

Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur (Sumber Gambar : Nu Online)
Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur (Sumber Gambar : Nu Online)

Badal Haji Dibutuhkan Calon Jemaah Uzur

“Mereka yang uzur secara usia bisa menggunakan badal haji,” kata KH Saifuddin Amsir kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal di kediamannya di bilangan Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, Rabu (11/9) malam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mereka yang memiliki kemampuan finansial tetapi telah memasuki usia senja dengan keterbatasan fisik, dapat menggunakan badal haji. Selain mereka, badal haji juga bisa digunakan oleh mereka yang memiliki uzur syar‘i seperti sakit, lumpuh, atau uzur lainnya, tambah KH Saifuddin Amsir.

Badal haji, lanjut KH Saifuddin, merujuk pada praktik pengupahan tenaga seseorang untuk melaksanakan rukun dan wajib haji seseorang yang mempunyai uzur.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk mereka yang uzur, agama memberikan keringanan melalui badal. Seandainya  memaksakan diri, mudharat yang tidak dikehendaki akan terjadi, tutup KH Saifuddin saat ditemui di rumahnya seusai pulang mengajar di salah satu majelis taklim.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Syariah, News, Pendidikan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu

Rembang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Selama perayaan Natal 2017 dan persiapan tahun baru 2018, Satkorcab Banser Rembang menerjunkan sedikitnya 30 anggota yang diminta secara resmi oleh pihak kepolisian dan pemerintah setempat untuk ikut menciptakan iklim yang dondusif di wilayah Kabupaten Rembang menjelang pergantian tahun.

Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Zaenal Arifin mengatakan, partisipasi yang dilakukan oleh pihak Banser muncul karena ada permintaan secara resmi untuk membantu aparat kepolisian dan pemerintah.

Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu

"Kami berpartisipasi diundang secara resmi. Spirit Banser memenuhi permintaan membantu polisi dalam mengamankan Natal adalah ingin mengamankan sesama anak bangsa saat beribadah," kata Satkorcab Banser Rembang kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Kapolres Rembang AKBP Pungky Bhuana Santoso menyatakan, aparat yang bertugas dalam mengamankan Natal dan tahun baru sangat terbantu dengan kehadiran para kader GP Ansor.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kami bersama aparat terkait lainnya saat menjaga perayaan Natal dan persiapan tahun baru 2018 sangat terbantu dengan kehadiran Banser Satkorcab Rembang," kata Pungky.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saat apel gelar pasukan operasi lilin candi 2017 di Mapolres Rembang pada 22 Desember 2017, Banser diundang secara resmi untuk mengikuti apel bersama aparat TNI-Polri, dan pihak terkait di Kabupaten Rembang.

Banser Rembang berlangsung sejak tanggal 23 Desember 2017 hingga 1 Januari 2018, dengan mengedepankan kegiatan preventif, dan intelijen sebagai bagian penegakan hukum. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Mendiknas Kunjungi Pesantren Balekambang

Jepara, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menteri Pendidikan Nasional H Mohammad Nuh, mengunjungi pesantren Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari, Ahad siang (3/2). Kunjungan M Nuh beserta rombongan dilaksanakan usai menyampaikan Sosialisasi Kurikulum 2013 di Yaptinu Jepara, Jawa Tengah.

Rombongan yang dikawal dari Yaptinu disambut ribuan santri yang berjajar memadati area pondok. Saat di pondok rombongan di terima lurah pondok KH Mustamir Wildan beserta keluarga besar Balekambang. 

Mendiknas Kunjungi Pesantren Balekambang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendiknas Kunjungi Pesantren Balekambang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendiknas Kunjungi Pesantren Balekambang

Oleh shohibul ma’had rombongan diajak menuju gedung SMK yang meliputi gedung baru, Lab Tata Busana dan Lab Otomotif. Disamping itu ia menyapa santri yang berasal dari Jawa dan Luar Jawa. Nuh bertanya kepada santri tentang biaya mondok perbulan. Saat mengetahui per bulan santri membayar Rp.300.000, ia pun kaget karena uang itu dalam sehari santri makan tiga kali. 

Kepada santri ia mengajak untuk tetap semangat. “Tetap semangat ya. Semangat ngajinya. Semangat belajarnya,” kata Nuh kepada sejumlah santri.

KH Mustamir Wildan mengungkapkan Mendiknas memberi kabar bahwa rombongan akan menyambangi Balekambang 2 hari sebelum kedatangannya ke Jepara. “Kebetulan simbah KH Makmun Abdullah sedang menunaikan ibadah umrah bersama keluarga. Namun hal itu tidak membuat kekecewaan Pak Nuh beserta rombongan,” terangnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Meski rombongan disambut dengan sederhana, lanjut kiai Mustamir kunjungan Mendiknas berjalan khidmad. Siang itu merupakan kunjungan M Nuh kedua kalinya ke pesantren Balekambang. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Syaiful Mustaqim

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Sholawat, Nusantara Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mentradisikan Teknologi

Judul Buku: Teknologi Sebagai Tradisi; Refleksi Pengalaman 4 Tahun Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengantar: KH Hasyim Muzadi

Penulis: Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Jakarta

Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentradisikan Teknologi

Cetakan: I, Agustus 2007

Tebal: 56 Halaman

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peresensi: Ach Syaiful A’la*


Nahdlatul Ulama—biasa disingkat NU—artinya adalah ”Kebangkitan Ulama”. Sebuah organisasi keagamaan kemasyarakatan (jamiyah diniyah ijtimaiyah) yang didirikan para ulama, 31 Januari 1926 M/16 Rajab H di Surabaya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Latar belakang berdirinya, berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran kaum modernitas Islam atas situasi politik dunia Islam. Berawal dari pemikiran Syeikh Muhammad Abduh di Mesir, dan gerakan Wahabi yang dipelopori Abdul Wahab di Arab Saudi, dengan tujuan untuk memurnikan ajaran Islam.

Gerakan ini ingin memacu perkembangan Islam menghadapi perubahan zaman, dengan tetap berdasarkan Al-Quran dan Hadits (konservatif) yang tidak menghendaki ajaran bermazhab. Sementara, kalangan pesantren dan ulama salaf Indonesia, yang tetap berpegang pada ajaran bermadzhab dalam menjalankan syariat Islam, membentuk sebuah komite yang dipimpin KH Wahab Chasbullah atas restu KH Hasyim Asyari.

Komite kemudian mengalih perhatian ke kongres Islam yang diprakarsai Ibnu Suud, penguasa Hijaz baru di Arab. Gagasan Ibnu Suud akan menghapus tradisi keagamaan dan ajaran bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, Maulid Nabi, dibicarakan dalam dua kongres umat Islam berturut-turut. Di Yogyakarta tahun 1925 dan di Bandung tahun 1926. Walaupun kongres Bandung sebenarnya hanya mengesahkan kesepakatan sebelumnya, karena nama, KH Abdul Wahab Chasbullah (delegasi pesantren) dicoret di konferensi khilafah umat Islam se-dunia, dengan alasan bukan organisasi. Peristiwa itu menyadarkan ulama pengasuh pesantren, betapa pentingnya sebuah organisasi. Akhirnya, para ulama pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan Ibnu Suud. Bahkan santer terdengar berita, rencana akan menggusur makam Nabi Muhammad Saw. Maka melalui proses panjang lahirlah “NU”.

Perkembangan NU ternyata semakin pesat. Mungkin di luar dugaan para pendirinya. Kebesaran ini tak lepas dari adanya kreatifitas para aktor sebagai pengendali dan uswah bagi umatnya. Dan sistem manajemen kepengurusan NU secara struktural sangat jelas, mulai tugas, fungsi, wewenang, kebijakan dari tingkat pusat hingga ranting.

NU, sebagai jamiyah diniyah ijtimaiyah, sangat menghargai nilai-nilai tradisi dan budaya. Karena kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan tradisi dan budaya. Salah satu karakter budaya adalah berubahan yang terus menerus, hal ini diciptakan oleh manusia. Maka, budaya bersifat beragam sebagaimana keberagaman manusia. Menghadapi hal semacam itu, NU mengacu pada salah satu kaidah fiqh “al-muhafazhah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidil al-ashlah” (mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik).

Di tengah arus informasi dan komunikasi yang tak lagi terbendung, ternyata internet menjadi sebuah sarana alternatif yang harus digalakkkan. Maka apresiasi terhadap teknologi terasa perlu dilakukan karena pengetahuan warga “Nahdliyin” masih terbatas tentang teknologi. Dengan harapkan akan memunculkan masyarakat terpelajar dan melek informasi. Masyarakat tidak hanya tahu informasi keagamaan dari para mubalig, tetapi juga bisa banyak mengakses informasi mengenai perkembangan politik, ekonomi, sosial serta gerak lajunya kebudayaan.

Membuka mata dengan informasi nantinya akan menjadi manusia yang kritis dan mandiri. Orang yang kritis dan mandiri bisa mengambil keputusan atau sikap atas dasar keyakinan dan pertimbangan menurut rasionalnya sendiri. Juga menambah wawasan para kiai, pengasuh pesantren, dan santri agar pemikiran mereka relevan bagi perkembangan zaman, shalih fi kulli zaman wa makan. Oleh karena itu, dirasa perlu “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” lahir untuk masyarakat NU.

Kenapa harus ada “Kedung Sukun Adiwerna Tegal”? Padahal sudah banyak media NU lainnya yang menfokuskan berbagai kajian tentang NU dan Ahlussunnah Wal Jamaah, Aswaja. Di antaranya: Bintang Sembilan (Sumatera Barat), Aula dan Duta Masyarakat (Jawa Timur), Khittah (Sulawisi Selatan), Forum Warga (Jawa Tengah) dan beberapa media lainnya tingkat cabang.

Setelah membuka website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” pembaca akan menemukan jawabannya. Melalui proses panjang, yang pada tanggal 11 Juli 2003 secara resmi “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” diluncurkan di hall Hotel Borobudur, Jakarta. Bahkan tahun 2004-2005 website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” mendapat penghargaan situs terbaik kategori “Sosial & Kemasyarakatan”. Ini menandakan bahwa NU tidak hanya berjuang dalam bentuk tindakan nyata di masyarakat. Tapi juga NU memberikan pencerahan-pencerahan dalam dunia maya.

Terlepas adanya beberapa kelemahan website itu, adalah hal yang tetap patut disyukuri. Karena dengan adanya media seperti ini, berarti NU telah memperkenalkan ajarannya, yaitu, Islam Indonesia yang moderat, rahmatan lil alamin. Karena kini, NU telah go international dikenal kurang lebih 21 negara belahan dunia.

Buku ini, tidak bermaksud dijadikan sebagai rujukan (reference) bacaan yang mempunyai dasar pemikiran, rumusan masalah, metode, dan lain-lain. Tapi hanya sebatas memperkenalkan kepada warga “Nahdliyin” khususnya, pembaca pada umumnya tentang adanya website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal”.

Website ini menyediakan berbagai “menu”? all about NU: sejarah berdirinya, tokoh, forum diskusi, beberapa istilah organisasi, dan lain-lain. Menariknya lagi, di website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” tersedia dalam tiga bahasa. Pembaca bisa ber-cas-cis-cus dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris sesuai dengan selera. Selanjutnya, selamat berkunjung di website: http://www.nu.or.id.



*Kader muda Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Aktif di Lesehan Komunitas Baca Surabaya (Kombas).
Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock