Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. "Segenap keluarga besar PBNU mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Raja Abdullah bin Abdulaziz, yang merupakan seorang muslim moderat," kata Sekretaris Jenderal PB NU, Marsudi Syuhud, di Jakarta, Jumat.  

PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Turut Berbelasungkawa Atas Meninggalnya Raja Abdullah

Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz, berpulang selamanya pada Jumat dini hari.

Syuhud juga berpesan agar semua yang ditinggalkan dapat melaksanakan apa yang telah digariskan raja.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut dia, raja Arab Saudi yang berkuasa sejak 2006 ini sosok moderat yang giat dalam usaha membina kerukunan umat beragama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Dia pernah membentuk lembaga untuk kerukunan beragama. Selain itu raja juga membuat kebijakan-kebijakan baru di dunia pendidikan," ujar Syuhud.

Raja Abdullah bin Abdulaziz sendiri, menurut Reuters, telah berkuasa di Arab Saudi sejak 2006. Setelah mangkat, dia akan digantikan putra mahkota, Pangeran Salman bin Abdulaziz.

Selama kepemimpinannya, dia pernah membuat kebijakan sosial senilai 110 milyar dolar AS untuk membangun perumahan dan menciptakan lapangan kerja dan subsidi sosial besar-besaran dari uang minyak.

Hal inilah yang membuat dia populer di kalangan anak muda Arab Saudi, yang populasinya mencapai 60 persen dari total penduduk.

Raja Abdullah juga diketahui hidup sederhana dan melarang keluarga raja berfoya-foya dengan uang negara. Dia juga menunjukkan kepedulian terhadap kemiskinan di negaranya dengan mengunjungi perkampungan kumuh.

Abdullah bin Abdulaziz merupakan raja pertama di Arab Saudi yang peduli nasib dan hak perempuan.

Dia menawarkan pendidikan yang lebih baik, kesempatan kerja, serta menjanjikan hak partisipasi kepada perempuan dalam pemilihan umum kota pada 2015 ini. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 01 Maret 2018

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Kasus penyalahgunaan narkoba sering kali menimpa kaum remaja juga kalangan pemerintahan. Hingga kini berbagai media menyajikan berita terkait kasus narkoba yang lebih dominan dengan menyorot dua objek tersebut.

Sesuai data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2014 yang diungkap dosen Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang Dr H Kuswanto saat mengisi orasi kebangsaan Upaya Pemberdayaan Perempuan Dalam Mencegah Peredaran Narkoba di pembukaan seminar melawan teror narkoba, Kamis (10/11).

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah

"Jumlah pengedar narkoba selama ini kita temui mayoritas dari kalangan remaja, tapi penikmat narkoba di luar kebutuhan paling banyak dari kalangan pekerja swasta, wirausaha, dan instansi pemerintahan, sesuai data BNN tahun 2014 pemakai dari kalangan ini hingga mencapai 50.34%," ujarnya.

Namun demikian itu, menurutnya bukan tanpa alasan logis. Pengedar yang mayoritas dari kalangan remaja selama ini memang dijadikan objek utama oleh mafia-mafia narkoba, selain itu para mafia juga memanfaatkan pola pikir dan rasa keingintahuan remaja terhadap segala sesuatu masih kuat, termasuk narkoba.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Pola pikir remaja itu sangat kuat, begitu juga dengan rasa keingintahuannya, hal ini yang menyebabkan para remaja tersandung kasus narkoba. Kebanyakan juga pola pikir remaja yang penting happy," ungkapnya.

Soal pemakai dari kalangan pekerja swasta, wirausaha, dan instansi pemerintahan, akademisi itu menilai diakibatkan kepemilikan uang yang lebih dari cukup. "Kenapa mereka yang paling banyak? Karena mereka punya banyak uang," kata Kuswanto.

Di waktu yang sama, Kepala BNN Kota Mojokerto Suharsi, salah satu narasumber seminar mengatakan, pemakai narkoba menyesuaikan karakter masing-masing individu.

"Kalau orang itu sukanya memakai jenis sabu-sabu, maka orang itu cenderung kuat, contohnya para supir, akhirnya supir kuat nyetir," kata Suharsi.

Seminar ini diselenggarakan Korps Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri Jombang. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Kajian Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Tutup Kongres, JK Bangga dengan Kiprah Muslimat NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla (JK) resmi menutup perhelatan Kongres Ke-17 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Sabtu (26/11) di Asrama haji Pondok Gede Jakarta. Memberikan sambutan setelah Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, JK memberikan ucapan selamat kepada Khofifah sekaligus bangga dengan kiprah Muslimat NU selama.

Tutup Kongres, JK Bangga dengan Kiprah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Kongres, JK Bangga dengan Kiprah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Kongres, JK Bangga dengan Kiprah Muslimat NU

JK menilai, problem bangsa ini bukan hanya dalam hal kesejahteraan, tetapi juga keadilan sosial. Upaya ini menurutnya telah dilakukan oleh Muslimat NU sehingga peran organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini mempunyai peran strategis.

“Sesuai dengan semangat Islam Nusantara, kesejahteraan dan keadilan sosial harus dibangun seiring sehingga mewujudkan kedamaian,” ujar JK kepada sekitar 2200 kader Muslimat NU yang mengikuti sesi penutupan.

Pria asal Makassar ini menjabarkan, kedamaian hidup berbangsa dan bernegara akan damai jika kesejahteraan dan keadilan sosial terwujud. Menurutnya, Muslimat NU telah melakukan segala upaya untuk mewujudkan tujuan itu melalui berbagai bidang yang telah didirikan dan bekerja nyata.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

JK juga memberikan harapan menjelang seabad Muslimat NU. Dia menginginkan kepada Muslimat agar mewujudkan berbagai capaian dan hasil untuk terus mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial umat.

“Selamat kepada Ibu Khofifah Indar Parawansa. Dipilih secara aklamasi, berarti dia dicintai anggota dan kadernya,” tutur JK sebelum menutup sambutannya.

JK bersama KH Ma’ruf Amin, dan Khofifah resmi menutup kegiatan Kongres yang berlangsung sejak 23 November 2016 itu dengan menabuh rebana diiringi shalawat Nabi.

Dalam Kongres Ke-17 Muslimat NU ini, Khofifah dipilih secara aklamasi oleh 34 pengurus wilayah, 525 pengurus cabang, dan 4 pengurus cabang istimewa (Hongkong, Arab Saudi, Malaysia, dan Sudan) yang memiliki hak suara dalam kongres.?

Dengan demikian, perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini memegang pucuk pimpinan Muslimat NU selama 4 periode (2000-2021).?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hadir dalam penutupan Kongres Muslimat NU ini Wantimpres KH Hasyim Muzadi, Founder Mustika Ratu Moeryati Soodibyo, KH Ahmad Bagja, dan para pejabat eselon 1 kementerian. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Anti Hoax Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Lebih dari 2.600 Rumah di Kawasan Mayoritas Rohingya Dibakar

Coxs Bazar, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Pemerintah Myanmar melaporkan, lebih dari 2.600 rumah dibakar oleh tentara di wilayah mayoritas Rohingya di barat laut Myanmar pada pekan lalu, kata Reuters, Sabtu (2/9).

Sementara itu, sekitar 58.600 penduduk Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh, menurut badan pengungsi milik PBB, UNHCR. Para relawan UNHCR tengah mengerahkan bantuan bagi mereka.

Lebih dari 2.600 Rumah di Kawasan Mayoritas Rohingya Dibakar (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebih dari 2.600 Rumah di Kawasan Mayoritas Rohingya Dibakar (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebih dari 2.600 Rumah di Kawasan Mayoritas Rohingya Dibakar

Pejabat Myanmar menyalahkan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) atas pembakaran rumah-rumah tersebut. Kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi terhadap pos keamanan pekan lalu yang memicu bentrokan dan serangan balik militer secara besar-besaran.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Seperti diberitakan sejumlah media, serangan mematikan yang dilancarkan gerilyawan Rohingya pada pos-pos keamanan di perbatasan di Rakhine, Myanmar utara, pekan lalu telah memakan puluhan korban jiwa, termasuk aparat milter.

Namun warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh mengatakan, sebuah kampanye pembakaran dan pembunuhan sengaja dilakukan oleh tentara Myanmar untuk memaksa mereka keluar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tragedi kemanusiaan yang menimpa 1,1 juta etnis Rohingya menjadi tantangan terbesar bagi pemimpin tertinggi Myanmar, Aung San Suu Kyi. Para kritikus Barat mengecam peraih nobel perdamiana itu karena terkesan membiarkan penindasan terhadap etnis beragama mayoritas Muslim itu.

"Aung San Suu Kyi benar-benar dianggap sebagai salah satu tokoh paling menginspirasi di zaman ini, namun perlakuan terhadap Rohingya, sayangnya, mengotori reputasi Burma," kata Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dalam sebuah pernyataan.

Bentrokan dan aksi militer telah menewaskan hampir 400 orang dan lebih dari 11.700 warga non-Muslim dievakuasi dari daerah tersebut. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Lomba, News Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)
Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Di antara kalimat yang paling mencolok dan berkumandang di mana-mana begitu Ramadhan berakhir adalah takbir. Takbir secara bahasa berasal dari kata kabbara-yukabbiru yang berarti membesarkan atau mengagungkan. Siapa yang diagungkan? Tentu saja Dzat Yang Mahabesar, Allah subhanallah wataala.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Takbir betul-betul mewarnai peralihan masa dari Ramadhan menuju Syawal. Umat Islam di berbagai tempat menghidupkan malam hari raya dengan takbir. Ruas jalan di banyak daerah juga dipenuhi pawai takbir. Dalam shalat id pun kita dianjurkan menambah takbir tujuh kali usai takbiratul ihram dan lima kali saat memasuki rakaat kedua. Para khatib idul fitri disunnahkan memulai khutbah pertama dengan takbir sembilan kali dan tujuh kali pada khutbah kedua. Sementara dzikir yang paling dianjurkan bagi jamaah dalam momen-momen tersebut adalah melafalkan takbir.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir tentu lebih dari sekadar ucapan dan kata-kata. Di balik anjuran menggemakan takbir ada perintah untuk menganggap setara, kecil, rendah apa pun yang ada di alam fana ini karena yang Mahabesar hanya Allah. Dialah penguasa jagat raya ini. Tak ada satu urusan atau keberadaan pun yang luput dari genggaman-Nya. Ini pula makna dari rabbul alamin. Allah bukan saja Tuhan bagi manusia melainkan Tuhan bagi seluruh eksistensi selain diri-Nya, termasuk hewan, tumbuhan, jin, malaikat, planet-planet, atmosfer, bumi, langit, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Konsekuensi dari keyakinan semacam itu adalah timbulnya sikap rendah hati. Mengecilkan segalanya, tak terkecuali kekayaan dan jabatan, untuk semata-mata mengagungkan-Nya. Sikap ini sangat sulit dilakukan karena musuh terberatnya bukan saja setan, melainkan juga nafsu diri sendiri. Orang mungkin saja terbebas dari keraguan mengimani keberadaan Allah seyakin-yakinnya tapi belum tentu ia berhasil membesarkan-Nya seagung-agungnya. Orang bisa saja sangat alim, rajin ibadah, mengklaim membela agama, namun apakah ia sudah benar-benar bersih dari menganggap lebih rendah orang lain--menganggap diri sendiri lebih selamat dari yang lain?

Kita tahu, Iblis terjerumus bukan karena ia ingkar atas keberadaan Allah. Iblis tidak ateis. Mungkin soal ini keimanan Iblis melebihi manusia biasa. Iblis terhempas ke neraka dan menjadi makhluk terkutuk selamanya sebab menolak menghormati Nabi Adam lantaran takabur. Sebagaimana terekam dalam Surat al-Baqarah ayat 34:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur/sombong dan adalah ia termasuk golongan makhluk yang kafir".

Takabur atau kesombongan telah menggelapkan Iblis untuk mengakui Adam sebagai makhluk Allah yang juga harus dihormati. Ketika Allah mengeluarkan perintah sujud penghormatan tersebut lalu Iblis menyambutnya dengan penolakan, maka saat itulah Iblis sedang mengingkari Kebesaran Allah. Iblis membesarkan diri di hadapan Dzat Yang Mahabesar. Ia hanya melihat kepada siapa ia hormat tapi tidak mempertimbangkan dari siapa perintah hormat itu keluar. Di ayat lain, Allah berfirman, "walaqad karramnâ banî âdam (dan sungguh telah kami muliakan Bani Adam [manusia])."

Dalam hadits Qudsi Rasulullah pernah menyampaikan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? . ? ? ? .

"Kemahabesaran adalah selendang-Ku dan Kemahagungan adalah Sarung-Ku. Siapa saja yang menandingi-Ku Aku masukkan dia ke dalam neraka".

Jamaah shalat jumat hadakumullah,

Apa yang diperbuat Iblis bisa juga menimpa kita meski dalam skala dan konteks yang berbeda. Allah, misalnya, telah memerintahkan kita memuliakan manusia (QS al-Isra: 70) dan tidak merusak lingkungan (QS al-Araf: 56). Saat kita berlaku sebaliknya maka sejatinya kita sedang meneladani jejak Iblis yang durhaka. Kita hanya percaya akan keberadaan Allah tapi "tidak percaya" akan kebesaran dan kekuasan-Nya. Atau mungkin percaya namun berhenti di mulut atau dalam kadar angan-angan belaka.

Buah dari takbir adalah mengecilkan diri sendiri untuk semata membesarkan Allah. Dampak lazim dari suasana batin ini adalah tidak menganggap remeh hal-hal di luar dirinya karena menyadari bahwa semua ini tak lain adalah hamba Allah rabbul alamin. Rasulullah pernah menegur sahabat yang mempermainkan anak burung hingga induknya merasa terganggu. Sikap mengasihi binatang seperti ini hanya bisa dilakukan ketika seseorang tak lagi sibuk membandingkan dirinya dengan binatang tapi memandang lebih dalam: siapa yang menciptakan binatang. Itu pula yang menjadi alasan mengapa Nabi begitu pemaaf dan murah hati terhadap orang-orang kafir yang pernah memusuhi, bahkan berupaya membunuh beliau; dan kisah-kisah teladan lainnya.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir Idul Fitri seyogianya mengantarkan kita pada introspeksi diri tentang sejauh mana kita membesarkan Allah, sejauh mana pula kita mengenal-Nya. Sebuah takbir yang melunakkan hati kita untuk senanriasa berbuat baik kepada siapa saja atau apa saja. Memandang orang lain dengan kacamata kasih sayang. Berhenti menghinakan pihak lain. Dan menolak perbuatan merusak di lingkungan kita.

Di Indonesia kita beruntung memiliki tradisi halal bihalal yang menjadi momen penguatan hubungan baik sesama manusia. Setelah tak hanya digembleng untuk memenuhi hak-hak Allah selama Ramadhan tapi juga menuntaskan berbagai persoalan hak-hak manusia (haq adami) dengan saling bermaaf-maafan. Dengan demikian semoga takbir kita tidak hanya menggaung ke angkasa tapi juga membumi dalam wujud cinta kepada sesama. Wallahu alam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, News Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal 



Saya kurang suka mengajukan berkas proposal kepada pihak mana pun. Sebaliknya, tak layak juga diserahi proposal dalam bentuk apa pun, resmi maupun sembarang. Kecuali proposal untuk ngopi bareng. Tak masalah itu. Sukanya bukan main, bahkan oleh pihak sembarang sekalipun. 

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Memfasilitasi Buku untuk Anak-anak Nahdliyin

Kantor redaksi Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Sabtu siang, (9/12), didatangi sekelompok anak muda. Mereka santri-santri yang terhubung melalui medsos. Apa pun latar belakang mereka, ketika mengajukan proposal, saya jadi malas menemui. Namun, tak ada lagi jalan menghindar, kecuali menghadapinya. Paling tidak sekadar mempersilakan ngopi yang selalu tersedia di kantor redaksi sepanjang tahun.  

Saya pun membaca proposal itu. Tidak selesai memang. Mana ada yang selesai membaca sebuah proposal, bukan? Dari judul proposal itu, saya kaget bukan main. Ternyata mereka mengajukan permintaan buku untuk perpustakaan di daerah-daerah.  

Buku! 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saya lalu mengubah mimik muka, lebih bersahabat dari sebelumnya. Orang yang berkaitan dengan buku harus disahabati dalam segala musim dan tempat. Kecuali yang berbakat mencoleng buku.  

Saya tak menerruskan membaca proposal. Lebih baik ngobrol saja, apa dan bagaimana. Dari A sampai Z saya kuliti perihal maksudnya itu.   

Rupanya mereka hendak memfasilitasi anak-anak di kampung untuk membaca. Tak hanya di satu tempat, tapi mulai Banyuwangi, Gresik, Semarang, Brebes, hingga Tulang Bawang (Lampung), dan Cileungsi. Permintaan dari tempat-tempat itu setelah mendapat kabar tentang perpustakaan Pojok Baca Nahdliyin melalui halaman Facebook. Di situ   

Saat ini di Brebes saja telah ada empat tempat. Biasanya perpustakaan itu  di rumah atau di mushala. Bahkan di Brebes, salah seorang Rais Syuriyah tingkat Ranting akan membangunkan saung untuk perpustakaan. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ini adalah upaya supaya warga NU membaca,” kata Arif Budiman Mahdi, inisiator perpustakaan itu. 

Pria kelahiran Banyuwangi yang tinggal di Jembrana (Bali) ini berharap, jika anak-anak NU membaca, terutama amaliyah yang selama ini dilakukan warga NU, mereka akan mampu menjawab kaum yang membid’ahsesatkan.      

Tiba-tiba saya ingat KH Ali Yafie, anregurutta sepuh kita yang alim. Dikenal faqih dalam bidang agama. Tahun ini tiba di usia 90 tahun dia. Lipat tiga dari usia saya. 

Tidak penting sebetulnya soal usia berapa pun jumlahnya. Namun, menjadi penting ketika dikaitkan dengan membaca buku. Ya, kiai asal Sulawesi Selatan itu tiap hari masih membaca selama satu jam dua. Dia selalu mendapat bacaan baru dari anak-anaknya yang gemar membaca juga.  

Mengingat dia pernah Ketua Umum MUI Pusat dan Rais ‘Aam PBNU, apakah bacaannya hanya kitab kuning dan Al-Qur’an? Itu jelas masih dibaca rutin. 

Tidak, kawan. Dia membaca buku apa saja. Termasuk novel dan cerita silat Kho Ping Hoo. (Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ulama, News Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Kisah Tabayun Rasulullah kepada Yahudi

Tabayun artinya meminta penjelasan atau mengklarifikasi sebuah informasi sebelum bertindak terhadap informasi yang diterima. QS al-Hujurat ayat 6 meminta kita melakukan tabayun jika seorang fasiq membawa berita: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Tapi bagaimana kalau kejadiannya menimpa orang non-Muslim? Apakah kita harus tabayun juga? Mari simak kisah di bawah ini, yang saya ringkaskan dari riwayat yang tercantum dalam Kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan lainnya.

Dalam masa perdamaian antara Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi, Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah pergi ke perkampungan Khaybar. Keduanya berpisah sesuai keperluan masing-masing, dan kemudian Muhayyishah menemukan Abdullah bin Sahl bersimbah darah, sudah meninggal dunia di sumur. Muhayyishah menuduh kaum Yahudi yang membunuh Abdullah bin Sahl karena mereka berada di perkampungan Yahudi. Kaum Yahudi membantahnya.

Kisah Tabayun Rasulullah kepada Yahudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Tabayun Rasulullah kepada Yahudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Tabayun Rasulullah kepada Yahudi

Singkat cerita Muhayyishah pulang dan menemui saudaranya Huwayshah yang lebih tua dan Abdurrahman bin Sahl (saudara almarhum). Mereka menemui Nabi Muhammad. Muhayyishah hendak bebricara, namun Nabi meminta yang lebih tua yang lebih dahulu berbicara. Huwayshah memulai pembicaraan disambung dengan Muhayyishah. Intinya mereka menuntut keadilan.

Mendengar kisah ini, apakah Nabi langsung menggerakkan pasukan ke perkampungan Yahudi? Tidak. Nabi melakukan proses tabayun atas tuduhan serius ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nabi mengirim surat. Kaum Yahudi menjawab dengan mengatakan bahwa mereka tidak membunuh Abdullah bin Sahl. Atas bantahan itu, Nabi meminta Muhayyishah bersumpah. Namun Muhayyishah menolak karena memang dia tidak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Abdullah bin Sahl dibunuh Yahudi. Bisa saja kan, dia terjatuh dari untanya saat mau meminum dari sumur. Masalah menjadi pelik karena kabar hanya dari satu orang yaitu Muhayyishah, yang bukan saja hanya berjumlah satu orang (tidak mencukupi syarat dua saksi) dan juga tidak mengetahui persis kejadiannya. Satu-satunya indikasi untuk menuduh Yahudi adalah peristiwanya terjadi di perkampungan Yahudi. Namun ini tidak cukup kuat, apalagi sudah dbantah oleh kaum Yahudi.

Opsinya adalah mengambil diyat (denda atas pembunuhan) atau memerangi Yahudi untuk menuntut balas. Yang mana yang Rasul akan ambil? Kalau diyat, tentu yang membunuh yang harus membayar. Tapi siapa pembunuhnya? Kalau Yahudi yang membunuh dan mereka menolak membayar diyat, maka bisa diperangi, tapi benarkah Yahudi yang membunuh Abdullah bin Sahl?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nabi kemudian bertanya, "Jikalau 50 orang Yahudi bersumpah tidak membunuh, apakah kalian akan menerimanya?" Muhayyishah mengatakan, "Bagaimana kami bisa menerima sumpah dari non-Muslim? Kalau mereka berbohong bagaimana?"

Deadlock. Jalan buntu.

Pihak Muhayyishah menuntut keadilan. Yahudi membantah. Bayang-bayang peperangan di depan mata. Rasulullah mengambil keputusan yang luar biasa: beliau SAW memutuskan, beliau sendiri yang membayar diyat (denda) 100 ekor unta kepada keluarga Abdullah bin Sahl. Nabi rugi karena membayar dengan untanya sendiri. Tapi peperangan bisa dihindarkan. Begitulah sosok Nabi agung yang rela berkorban demi perdamaian.

Pelajaran penting dari kisah di atas:

1. Zaman dahulu proses pembuktian itu sederhana: lewat saksi dan sumpah. Tidak seperti sekarang yang bisa diinvestigasi oleh polisi, tes DNA, dan menyimak rekaman CCTV. Pada masa Rasul modalnya adalah kepercayaan yang dibuktikan lewat sumpah dan kesaksian. Namun kalau proses pembuktian ini gagal, bagaimana? Nabi menyerahkannya kepada Allah.

2. Nabi mengajarkan etika untuk mendahulukan yang lebih tua untuk berbicara. Meskipun Muhayyishah yang lebih tahu, tapi biarkan yang lebih tua bicara dahulu. Ini adab kesantunan. Setelah itu baru Muhayyishah yang lebih paham kejadiannya yang berbicara.

3. Nabi menjalankan proses tabayun kepada pihak Yahudi. Tidak gegabah mengambil keputusan berdasarkan emosi atau kebencian. Nabi yang agung ini berhati-hati mengambil keputusan sebelum mendengar dari semua pihak yang terlibat.

4. Ketika semua jalan telah buntu (saksi, sumpah, tabayun), Nabi memilih mengalah dengan tekor alias rugi membayar 100 unta sebagai diyat. Padahal jelas Nabi bukan pelaku tindak pidana. Nabi hanya hendak menjaga perdamaian dan menghormati perjanjian keamanan dengan pihak Yahudi saat itu. Biarlah pemimpin tekor, rugi, dan mengalah, demi perdamaian.

Demikianlah kisah sederhana yang terjadi di masa Rasulullah SAW, sebagaimana tercantum dalam Sahih Bukhari, Hadis nomor 2503, 2937, 3823, 5677 dan 6655; Sahih Muslim, Hadis nomor 2285, 3157, 3158, 3159; Sunan Abi Dawud, Hadis nomor 3917, 3918; Sunan Ibn majah, Hadis nomor 2667, 2668; Sunan al-Nasai, Hadis nomor 4631, 4632, 4633, 4634, 4635, 4637, 4638, 4639; al-Muwatha Imam Malik, Hadis nomor 1372, 1373; Sunan al-Darimi, Hadis nomor 2247; dan Musnad Ahmad, Hadis nomor 16639.

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama dan Dosen Senior Monash Law School

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Anti Hoax Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock