Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Belakangan ini tak sedikit paham atau gerakan anti pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara. Mereka justru mempunyai misi untuk mendirikan Negara Islam atau sistem khilafah di bumi Indonesia ini, baik secara sembunyi-sembunyi atau dilakukan dengan terang-terangan.

Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Pihak Berwenang Tak Tegas Tindak Kelompok Anti-Pancasila

Gerakan-gerakan tersebut terkadang diremehkan oleh banyak kalangan tatkala mereka tidak muncul ke permukaan yang sebenarnya tetap menjadi ancaman, khususunya bagi warga nahdliyin. Pada saat kondisi demikian, pihak berwenang juga tidak bertindak tegas terhadap gerakan tersebut.

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Anor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto mengimbau agar warga nahdliyin berkomitmen bahwa Pancasila dan Negara Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati dan harus diimplementasikan oleh bangsa Indonesia.

“Langsung buat komitmen bersama soal Pancasila dan NKRI harga mati itu dan benar-benar diimplementasikan, soalnya banyak gerakan yg mulai berani anti pancasila tapi tidak ada tindakan dari pihak berwenang,” tegasnya, Ahad (28/2) lalu di Jombang.

Ia mengaku tak jarang pengikut gerakan tersebut mengelak tatkala ditegur dan diingatkan, mereka beralasan tidak ada aturan atau larangan memperluas misi dan gerakan mereka. “ketika diingatkan jawabnya gak ada aturan. Nah, komitmen tadi bisa buat referensi untuk membuat dan mempertegas aturan itu, yg lantas dibutuhkan untuk mengambil tindakan,” imbuhnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara sosialisasi pemerintah tentang Pancasila dan empat pilar republik Indonesia sebagai salah satu solusi dinilai tidak begitu berpengaruh tanpa adanya tindakan tegas untuk menghadang gerakan mereka yang sudah menjamur. “Jangan hanya kampanye bolak balik soal pancasila atau empat pilar tapi tidak ndang (cepat) ditindak siapa yang sudah mulai berani melawan 4 pilar itu,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lebih lanjut Wakil Sekretaris PCNU Jombang, Ahamad Samsul Rijal mengatakan bahwa warga nahdliyin memiliki tugas penting untuk menindak lanjuti maraknya gerakan tersebut, saat ini mereka sudah melakukan berbagai cara untuk mempengaruhi masyarakat kecil khususnya.

“Sebuah penyadaran sekaligus gerakan dengan semangat nahdliyyah agar seluruh tatanan bangsa dikembalikan, disemangati dan berpedoman kepada Pancasila sebagai azas tunggal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. No khilafah, No Negara Islam, No sosialis dan No liberal,” ucapnya.

Saat ini, lanjut Rijal sapaan akrabnya Pancasila tidak seperti yang kita kenal selama bersekolah. lima sila dalam Pancasila yang kita kenal telah berubah yaitu kemanusiaan yang maha esa (humanisme yang liberal), ketuhanan yang adil dan beradab (ideologi agama yang liberal), pluralisme universal (kesatuan sebagai pasar besar yang bebas), demokrasi langsung, bebas dan terbuka (liberalisme dalam politik) dan keadilan untuk semua bangsa (liberalisme dalam berbangsa-bernegara).

Ia menambahkan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga akan membahas terkait gerakan anti pancasila pada tanggal 1 Maret 2016 di Hotel Mirama Surabaya dengan bentuk seminar.?

“Alhamdulillah, kemarin di PWNU Jawa Timur bertemu dengan ketua PWNU, beliau matur untuk disampaikan kepada PCNU Jombang bahwa pada tanggal 1 Maret 2016 PWNU mengundang PCNU empat orang dan Pesantren dua orang dalam Seminar Nasional "kembali ke pancasila" di Hotel Mirama Surabaya. Ada empat narasumber yang akan menyampaikan,” katanya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Hadits Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) melalui Bidang Kemandirian Pondok Pesantren dan Masyarakat mempertemukan para perwakilan dari 35 pondok pesantren se-Jawa Tengah dalam lokakarya kewirausahaan di Pondok Pesantren al-Itqon, Semarang, Jateng, Ahad (25/10).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan RMINU dalam menciptakan Pusat Grosir Pesantren (PGP) Nusantara, sebuah program yang memfasilitasi pesantren untuk mendapatkan barang dengan harga langsung dari produsen. Dengan memperpendek rantai distribusi barang, pesantren diharapkan menjadi pemain pasar, setidaknya sebagai distributor.

RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren

Sekretaris Pengurus Pusat RMINU Miftah Faqih mengatakan, sejak 2011 pihaknya sudah menggulirkan pelatihan kewirausahaan. Hal ini terkait dengan pentingnya pesantren kuat dan mandiri secara ekonomi. “Ini kita ketemu dalam rangka untuk menyubjekkan diri, mem-fa‘il-kan diri. Sadar kalau lahir merdeka maka hidup harus merdeka,” tuturnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hal sedana disampaikan Abdul Jalil, Koordinator Bidang Kemandirian Pondok Pesantren dan Masyarakat PP RMINU. Menurutnya, di setiap bisnis, pesantren sering hanya menjadi objek, mulai dari penanaman modal, produksi, hingga distribusi barang.

“Pendek kata, karena kita objek dan kesalahannya kita tidak mau menjadi subjek. Jalan satu-satunya yang bisa kita tempuh, kita harus menjadi subjek. Pesantren tidak boleh dimainkan pihak lain dalam bidang apapun,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peserta dalam forum ini adalah para pemangku kebijakan pondok pesantren. Hari ini mereka diminta menyerahkan nama-nama calon pengelola distribusi barang. Pengelola distribusi terdiri dari manajer, kepala gudang, dan admin atau kepala toko. Selanjutnya RMINU akan mengadakan pelatihan manajemen untuk mereka agar siap dengan program tersebut.

PGP Nusantara menggunakan sistem berbasis online yang teritegrasi. PGP di bawah RMINU akan memiliki dua kartu keanggotaan, kartu sebagai agen (memperoleh harga distributor untuk keperluan dijual kembali) dan kartu keanggotaan umum (harga retail). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Kyai, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Sumpah Pemuda Momen Menjaga dan Merawat Keindonesiaan

Bandar Lampung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Mustasyar PWNU yang juga Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof Mukri menilai Peringatan Sumpah pemuda merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk mengingatkan kembali pentingnya kedamaian dan kesejukan yang sudah dirasakan selama ini ditengah keragaman yang ada.

"Sumpah pemuda diperingati setiap tahun setidaknya untuk mengingatkan kembali warga bangsa agar bisa menjaga dan merawat arti penting keindonesiaan kita. Kita bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu yaitu bangsa Indonesia yang beragam dan plural sejak awal kejadiannya," ujarnya, Sabtu (28/10).

Sumpah Pemuda Momen Menjaga dan Merawat Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumpah Pemuda Momen Menjaga dan Merawat Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumpah Pemuda Momen Menjaga dan Merawat Keindonesiaan

Selanjutnya ia mengajak para pemuda generasi penerus bangsa untuk senantiasa mengingat dan menghidupi semangat yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda  untuk membangun bangsa Indonesia kearah yang lebih baik.

"Mari bergandengan tangan membangun Indonesia, menjaga berdiri tegaknya NKRI dengan keberagaman yang merupakan kekayaan Bangsa kita. Kita harus menyadari bahwa kebinekaan adalah sunatullah bagi kita semua," lanjutnya.

Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda Ia juga mengingatkan seluruh bangsa Indonesia khususnya para pemuda agar tidak hanya sebatas seremonial tanpa ada penjiwaan nilai-nilai kesemangatan yang diwariskan dari momen bersejarah ini.

Ia mengibaratkan nilai kesemangatan Sumpah Pemuda seperti bara api yang bergelora memancarkan sinar terang bagi sekitarnya. "Tangkap apinya jangan hanya diwarisi abu sumpah pemuda," tegasnya melalui pesan singkatnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara Sekretaris Umum MUI Provinsi Lampung KH. Basyaruddin Maisir mengingatkan kepada para pemuda generasi bangsa untuk semakin mencintai tanah air Indonesia sebagaimana tertuang dalam ikrar sumpah pemuda yang diperingati pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya.

Bentuk kecintaan terhadap tanah air ini menurutnya dapat dilakukan dengan tekun menuntut ilmu serta memanfaatkan dan merawat sumber kekayaan alam  untuk kesejahteraan bangsa Indonesia.

Selain itu Ketua Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Lampung ini mengingatkan kepada para pemuda untuk tetap berpegang teguh pada Agama dan tidak melupakan kultur budaya luhur yang diwariskan para leluhur bangsa Indonesia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Ditengah derasnya arus globalisasi ini pemuda jangan melupakan kultur budaya dan agamanya," tegasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Habib Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka

? ? ? ? ? ? ? ?

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, sedangkan ibu-ibu mereka melahirkan mereka sebagai orang-orang merdeka.”

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka

[Umar ibn Khatthab]

Dari kitab al-Wilâyah ‘alal Buldân fî ‘Ashril Khulafâ’ ar-Râsyidîn

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, RMI NU, Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an

Berbicara soal ulama tahfidz Qur’an, salah satu yang menjadi rujukan adalah KH Arwani Amin Said oleh lebih dikenal dengan panggilan Mbah Arwani. Para santri yang ingin menghafal Qur’an memiliki cita-cita untuk bisa belajar di pesantren Yanbu’ul Qur’an. Banyak pula yang sudah hafal tetap ingin ngalap berkah dan nyantri di pesantren ini.?

Cikal bakal pesantren dimulai pada 1942 setelah Mbah Arwani boyong dari Pesantren Krapyak Yogyakarta tempat ia belajar di bawah asuhan KH Munawir. Ketika pulang ke Kudus, ia mengajar di masjid Menara Kudus tetapi belum memiliki pesantren sendiri. Para santrinya masih bermukim di rumah warga. Baru pada 1970 berdirilah Pesantren Yanbu’ul Qur’an di dukuh Kelurahan desa Kajeksan Kudus dengan 45 santri lalu diikuti dengan pembangunan pesantren putri pada 1973 dengan jumlah santri 33 orang.

Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an

Dengan pijakan kuat dan pengelolaan yang baik, meskipun KH Arwani telah meninggal, para penerusnya, yaitu tiga serangkai yang terdiri dari dua orang putranya KH Ulinnuha dan KH Ulil Albab dan didampingi seorang putra angkat, yakni KH Manshur MA mampu mempertahankan dan mengembangkan pesantren yang dirintisnya. Meskipun tetap fokus sebagai pesantren tahfidz Qur’an, tetapi kini ada 11 lembaga pendidikan dibawah yayasan Arwaniyah yang membekali para santri bukan hanya ilmu Qur’an, tetapi juga ilmu-ilmu lainnya yang sangat dibutuhkan saat bermasyarakat.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Gus Naim panggilan akrab dari Ahmad Ainun Naim, salah satu anggota keluarga Arwaniyah menjelaskan, perkembangan sejumlah lembaga pendidikan tersebut merupakan respon pesantren terhadap permintaan masyarakat, termasuk diantaranya pesantren tahfidz untuk anak-anak setingkat SD.?

Untuk bisa menghafal Qur’an lebih dari 6000 ayat bukanlah hal yang mudah. Karena itu, perlu sejumlah metode khusus untuk memudahkan hafalan. Di pesantren ini, metode yang diterapkan diantaranya adalah pertama musyafabah, yaitu ? metode tatap muka. Santri atau guru membaca yang kemudian disimak. Kedua adalah metode resitasi, yaitu guru menugaskan santri untuk menghafalkan ayat tertentu kemudian setelah hafal, dibacakan dihadapan guru. Ketiga, metode takrir, yaitu mengulang-ulang, kemudian membacakannya dihadapan guru. Selanjutnya ada metode mudarasah, yaitu para santri menghafal secara bergantian dan berurutan. Masing-masing membaca tugas hafalannya yang kemudian didengarkan oleh santri yang lain. Mudarasah bisa dilakukan per ayat, per halaman (mushaf yang digunakan adalah ‘mushaf pojok’, setiap pojok halaman adalah akhir ayat) dan (per seperempatan juz).

Metode-metode itu terbukti efektif untuk menghafal Qur’an. Gus Naim menerangkan, tahun lalu ada siswa kelas 2 SD yang sudah diwisuda karena sudah hafal 30 juz.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Gus Ainun Naim menambahkan pengelolaan pesantren tahfidz anak merupakan hal paling sulit dibandingkan dengan pesantren dewasa. Dunia anak merupakan dunia bermain dan mereka belum bisa berpikir secara matang sehingga perlu pendampingan yang penuh. Dalam hal ini, pesantren memberikan waktu bermain yang cukup buat anak-anak. Dalam waktu tertentu mereka juga diajak rekreasi ke luar. Pada kelas empat atau lima SD, sudah banyak santri yang mampu menghafal 30 juz secara baik. ?

“Ada target tertentu tetapi kita tidak memaksakan mereka, takut melukai emosinya,” paparnya.?

Pendirian pesantren tahfidz anak ini dilakukan pada tahun 1986 untuk memenuhi permintaan para wali santri yang sebelumnya mengirimkan anaknya di sebuah pesantren al-Qur’an untuk anak di Sedayu Gresik. Selain mengaji Qur’an, mereka juga bersekolah mengikuti kurikulum Kementerian Agama.

Tak mudah untuk bisa masuk karena tingginya jumlah peminat bisa sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan kapasitas yang tersedia. Untuk itu pesantren melakukan test terlebih dulu, diantaranya calon santri sudah bisa baca Qur’an atau belum serta tingkat kecepatannya dalam menghafal. Dalam hal ini calon santri ditunjukkan surat tertentu kemudian diminta mengulang-ulang berapa lama ia mampu menghafal surat tersebut.?

Setelah pengembangan pesantren tahfidz anak, yayasan Arwaniyah juga mengembangkan Pesantren Tahfidz Remaja Yanbu’ul Qur’an (PTRYQ) pada 1997 yang diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin melanjutkan belajar Qur’annya. Para wali santri menginginkan pesantren remaja agar hafalan Qur’an putra-putrinya tetap terpelihara.

Untuk pesantren dewasa yang pertama kali didirikan oleh Kiai Arwani, fokus kegiatan adalah hafalan Qur’an. Ada kajian kitab kuning, tetapi sifatnya hanya tambahan. Di pesantren dewasa juga dikaji Qira’ah Sab’ah (bacaan Al-Qur’an menurut 7 imam). Salah satu rujukannya adalah kitab Faidl al-Barakat fi Sabil al-Qira’at, karangan kiai Arwani sendiri.?

Gus Zaim menjelaskan, santri di Arwaniyah umumnya sudah memiliki ikatan emosional. Banyak orang tua yang mengirimkan anaknya karena sebelumnya merupakan alumni pesantren ini.?

Para alumni Arwaniyah kini sudah berkembang dan menyebar dimana-mana. Kalau dulu, mereka biasanya menjadi kiai, tetapi kini dengan berkembangnya zaman. Beragam profesi ditekuni sesuai dengan minat dan kesempatan yang ada. Para alumni juga menjadi ujung tombak penyebaran metode pembelajaran Qur’an Yambu’a.?

Para alumni juga masih aktif menjalin komunikasi dan silaturrahmi dengan pesantren melalui Mudarasah Selapanan (36 hari sekali). Untuk mudrasah selapanan tiap Jum’at pon digilir per kecamatan di Kudus bekerjasama dengan PCNU Kudus. Pertemuan rutin tahunan digelar tiap tanggal 24-25 Rabiul Akhir sekaligus memperingati haul KH M Arwani Amin. (Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nusantara, RMI NU, Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Tatiek Maliyati Berkiprah di Film Sepanjang Hayat

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Perempuan berusia 79 tahun turun dari sedan hitam bernomor polisi B 610 TA di halaman kampus Institut Kesenian Jakarta, IKJ, Jumat akhir pekan lalu. Perempuan itu kemudian dikerubuti anak-anak muda berambut gondrong, berkaos oblong. Mereka mencium tangannya, sebagaimana santri kepada kiai di pesantren.

Perempuan bernama Tatiek maliyati itu lahir di Surabaya, 10 November 1934. Di usia senjanya, meski ia harus bertongkat, masih tetap mengajar seni peran dan penulisan naskah drama di Institut Kesenian Jakarta sejak tahun 1970 sampai dengan sekarang. “Saya dosen paling tua di sini,” katanya.

Tatiek Maliyati Berkiprah di Film Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tatiek Maliyati Berkiprah di Film Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tatiek Maliyati Berkiprah di Film Sepanjang Hayat

Selain mengajar ia memberikan kursus-kursus seni peran, antara lain di Yayasan Artis Film Indonesia sejak tahun 1970-1980. Ia mengisi acara Bina Drama di TVRI tahun 1979 sampai dengan tahun 1990. Tahun 1995 sampai dengan 1999 ia menjadi anggota Lembaga Sensor Film (LSF). Kemudian tahun 1999-2002 ia menjadi ketua merangkap anggota lembaga tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Aktif di dunia perfilam ia tekuni hampir di sepanjang usianya. Tak heran, ia memperolah banyak penghargaan di bidang itu. Beberapa penghargaan telah diterimanya, yaitu Festival Film Indonesia, 1982 sebagai unggulan Penulis Skenario Terbaik dalam film Jangan Ambil Nyawaku. Piagam Penghagaan Direktorat Televisi, 19990 sebagai Penulis Skenario atas karya serial Dokter Sartika yang ditayangkan TVRI siaran tahun 1989-1990.

“Karena NU mempunya niat baik, maka saya berniat baik pula untuk menerimanya,” katanya ketika dia diberi tahu mendapat anugerah Hadiah Asrul Sani 2014 pada kategori Sineas Berbakti.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lagi pula, kata dia, selain Asrul Sani itu orang NU (pernah menjadi salah seorang Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia, anggota DPR dari Partai NU) juga sebagai gurunya dalam dunia perfilman. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Hadits, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan

Jakarta, NU online?



Penurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU menggelar Madrasah Ramadhan di Masjid KH Hasyim Asy’ari, Jakarta (9-13/6). Kegiatan bertajuk “Indahnya Ramadhan, Doa untuk Bangsa” itu menargetkan1000 peserta dari anak yatim piatu, kaum duafa, dan anak jalanan.?

Pada Madrasah Ramadhan hari pertama, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU H. Arifin Junaidi mengatakan, program Madrasah Ramadhan akan di lakukan setiap tahun sebagai wujud pemguatan komitmen kemanusian dan kebangsaan LP Maarif NU. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan

“Dan ramadhan menjadi bulan berbagi terhadap saudara-saudara kita yang kurang beruntung,” katanya, sembari mengatakan bahwa kegiatan tersebut akan diadakan santunan untuk peserta. ? ?

Sekretaris LP Ma’arif NU Harianto Oghie mengatakan, dengan Madrasah Ramadhan ia berharap bulan ini menjadi semangat bulan-bulan lain untuk menjauhi kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Menyadarkan semua kalangan bahwa anak adalah generasi penerus yang harus diselamatkan dari berbagai macam bahaya yang dapat merusak masa depannya serta Membangun anak Indonesia yang tangguh dan berwawasan ke-Islam-an yang Berhaluan Aswaja An-nahdliyah yang pluralis dan bermartabat,” jelasnya. ?

Lebih lanjut ia mengatakan, kegiatan tersebut juga ingin menunjukan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).?

Madrasah Ramadhan menghadirkan pemateri dari LP Ma’arif, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Kementerian Agama, dan Kementerian Sosial.?

Kegiatan yang berlangsung selepas ashar dan kemudian dilanjutkan pada malam hari itu rencananyakan ditutup Menteri Sosial RI Hj. Khofifah Indar Parawansa. (Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Kiai, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

RMI Jateng Gerakkan Pesantren Aktif Menulis di Dunia Maya

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Departemen Media dan Informasi Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Jurnalisme Pesantren dan Upgrading Website-Networking, Jumat-Ahad (21/9). Hadir sebagai peserta dua orang perwakilan dari masing-masing karesidenan se-Jawa Tengah.

RMI Jateng Gerakkan Pesantren Aktif Menulis di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Jateng Gerakkan Pesantren Aktif Menulis di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Jateng Gerakkan Pesantren Aktif Menulis di Dunia Maya

Pelatihan yang digelar di kantor RMI NU Jateng sebagai bagian dan upaya untuk memperkuat budaya tulis-menulis yang ada di kalangan pesantren. Mohammad Farid Fad selaku sekretaris RMI NU Jateng menyatakan, budaya tulis menulis merupakan tradisi yang diwariskan Nabi, sahabat, hingga ulama dengan bukti penulisan Al-Qur’an dan Hadits hingga karangan kitab-kitab. "Komunitas pesantren bagaimanapun juga harus tahu dan melek terhadap dunia jurnalistik," tambah Farid.

Pesantren dinilai masih minim sumbangsih dalam persaingan di dunia maya. "Nah, positioning santri berada dimana? Apakah hanya diam saja, adh’aful iman (selemah-lemahanya iman), apakah hal inilah yang dikatakan rasulullah?" tutur Farid.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Salah satu pemateri, Munawir Aziz, pada forum itu menjelaskan tentang topik jurnalisme pesantren. "Intinya adalah jurnalisme yang menggunakan perspektif ala santri. Apa isu pesantren yang bisa kita angkat. Dalam bahasa publik tentunya," ungkap Munawir. Menurtnya, selama ini santri belum banyak mengisi ruang kosong di dunia maya dalam menyampaikan gagasan-gagasan yang diusung oleh pesantren.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai tindak lanjut, RMI menyediakan website www.rmi-jateng.org yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan hasil pelatihan tersebut. Peserta dapat menjadi kontributor dari masing-masing karesidenan.

Pelatihan ini juga menghadirkan Bayu Widyasanyata dari Ametis Institut Jakarta sebagai pemateri. Peserta diperkenalkan dengan materi wordpress dan pengelolaan website www.rmi-jateng.org. Harapannya, peserta bisa menguasai dengan baik media management. Bekal inilah yang dimiliki oleh peserta ke depan untuk menyuarakan jurnalisme pesantren dimulai dengan dunia maya. (M Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, AlaSantri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Wapres RI Buka Silaturahmi Akbar dan Kongres GP Ansor

Sleman, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Wakil Presiden Republik Indonesia HM Jusuf Kalla memukul gong besar di panggung utama Kongres XV GP Ansor di pesantren Sunan Pandanaran jalan Kaliurang kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta,Kamis (26/11) pagi. Jussuf Kalla mengajak peserta kongres dan tamu undangan membaca bismillah sebagai tanda pembukaan Kongres XV GP Ansor.

Alhamdulillah GP Ansor telah menjaga khittah agama Islam dengan paham kebangsaan dan bela negara sehingga membawa manfaat bagi umat dan Indonesia,” kata HM Jusuf Kalla yang sebelumnya mengucapkan sambutan pembukaan di hadapan sedikitnya 6000 hadirin.

Wapres RI Buka Silaturahmi Akbar dan Kongres GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres RI Buka Silaturahmi Akbar dan Kongres GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres RI Buka Silaturahmi Akbar dan Kongres GP Ansor

Sebelumnya Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengapresiasi gerakan GP Ansor selama ini. Menurutnya, tema Kongres XV GP Ansor ini memiliki relevansi yang kuat dalam konteks peluang dan tantangan kekinian.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Tema yang diambil sangat sesuai. Pasalnya, globalisasi ini mengubah banyak hal termasuk cara pandang berbangsa dan bernegara,” kata Sri Sultan merujuk tema Kongres XV GP Ansor “Menjaga Keutuhan Bangsa, Memperuat Kedaulatan Negara, Meluhurkan Nilai Kemanusiaan”.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pembukaan kongres tampak semarak oleh iringan rebana santri pesantren setempat. Para hadirin menyanyikan Mars Ansor, Mars Banser, Mars NU, dan lagu Hubbul Wathon yang diiringi grup orkestra mahasiswa Atmajaya dan UII. Pembukaan kongres ini diselingi dengan penandatanganan kerja sama GP Ansor, OJK, dan sejumlah asosiasi asuransi di Indonesia.

Pada pembukaan ini, para hadirin juga menyaksikan cuplikan film Rahmat Islam Nusantara yang digarap KH A Musthofa Bisri dan sejumlah budayawan NU. Tampak hadir pengasuh pesantren Pandanaran KH Mutashim Billah Mufid, sesepuh GP Ansor KH Cholid Mawardi, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU H Helmi Faisal Zaini, Sekretaris PP LKKNU Hj Alissa Wahid, Ketum PKB H A Muhaimin Iskandar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nusantara, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Belajar dari Cara Nabi Mengatasi Kesulitan

Khotbah II





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ?:

Belajar dari Cara Nabi Mengatasi Kesulitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Cara Nabi Mengatasi Kesulitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Cara Nabi Mengatasi Kesulitan

? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah,

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua, sehingga kita dapat beribadah mengabdi kepada-Nya setiap waktu demi menggapai ridla-Nya.

Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita terus menerus berusaha meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT; takwa dalam arti yang sebenar-benarnya. Semoga Allah SWT menempatkan kita semua pada derajat yang Dia ridhai, di dunia dan di akhirat. Amin ya rabbal alamin.

Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah,

Dalam hidup, kelahiran dan kematian adalah sunnatullah. Sebuah proses alam yang terjadi secara berulang-ulang. Karena sunnatullah, tidak lantas kita sebagai manusia tidak berhak untuk berbahagia dan bersedih. Lumrahnya manusia, menghadapi kelahiran akan merasa bahagia. Demikian pula dengan kematian, wajarnya manusia akan merasa kehilangan dan sedih.

Panutan kita, Baginda nabi Muhammad SAW adalah manusia, sebagaimana kita semua, mempunyai rasa takut, sedih, serta kehilangan.

Allah SWT sendiri telah menjelaskan dalam QS Al Kahfi ayat 110

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? : 110)

Artinya :

Katakanlah “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa’. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Dan disebutkan pula dalam QS Fushshilat ayat 6:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?: 6)

Artinya :

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.

Oleh sebab itu, dalam aqidah As’ariyah Maturidiyah dikenal sifat jaiz nabi dan rasul :

? ?

Nabi dan rasul memiliki sifat sebagaimana manusia sebagaimana umumnya.

Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah,

Pada tahun 10 kenabian, Rasulullah Muhammad SAW mengalami sebuah keadaan yang sangat berat. Hal ini disebabkan oleh wafatnya dua orang yang sangat dicintai yaitu Abu Thalib (paman belaiu) dan Khadijah (istri beliau). Sehingga dalam sejarah dikenal dengan sebutan ‘amul huzni (tahun kesedihan).

Hadirin Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Penderitaan beliau tidak berhenti hanya di situ, setelah ditinggalkan dua orang tercinta, beliau hijrah ke Thaif. Yang salah satu tujuannya adalah menghilangkan kesedihan. Tapi malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Selama 10 hari di Thaif tak ada satu pun orang yang berkenan masuk Islam. Bahkan Nabi diusir dan dilempari batu oleh penduduk Thaif.

Hadirin Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Saat Nabi Muhammad berada dalam titik nadir semangat perjuangan menegakkan Islam. Allah membuka jalan, memberikan dorongan dan spirit nabi Muhammad. Allah mengutus malaikat Jibril, untuk mengajak Nabi Muhammad recharging (mengisi ulang) semangat dengan “jalan-jalan” menelusuri jejak perjuangan nabi terdahulu, menelusuri taman-taman surga, dan jurang-jurang neraka. Diperlihatkan kepada Nabi Muhammad akibat dari kemalasan, keserakahan, dan ketamakan manusia. Diperlihatkan kepada Nabi Muhammad buah dari berbagi, mawas diri, dan rendah hati. Peristiwa ini kemudian hari dikenang dan diperingati setiap tahunnya oleh umat Islam sebagai isra’ mi’raj.

Hadirin Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Bagaimana dengan kita? Sebagai manusia, mungkin kemarin, saat ini, atau bahkan besok mengalami kesedihan, yang menguras air mata, dan menghabiskan energi. Belajar dari Habibuna Muhammad, saat kita mengalami keadaan terpuruk, sedih, maka keluarlah, pergilah, dan lihatlah! Temuilah orang-orang shalih, saksikanlah keindahan dan keberhasilan orang lain melewati tahapan kehidupannya. Lihatlah kegagalan-kegagalan orang yang terpuruk, terjerumus dalam keputusasaan.

Hadirin Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Setelah semuanya kita lakukan, hal yang terakhir adalah shalat, menghadap sang khaliq (Allah SWT). Serahkan semuanya kembali kepada Allah SWT. Dan tak lupa berdoa sebagaimana doa nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Anas r.a:

? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ?.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat? gelisah (pesimis), sedih, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang, dan keganasan orang lain.

Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua, dan semoga kita semua yang hadir di sini diberi kekuatan oleh Allah untuk melewati setiap tahapan kehidupan dengan selamat dan berhasil menjadi umat Muhammad SAW yang sukses dunia maupun akhirat.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?+? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muh. Afifuddin, Pengurus LP Ma’arif Kabupate Sleman

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Warta, RMI NU, Kyai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Pelajar NU Yogyakarta Berdoa Untuk Indonesia di Puncak Dieng

Yogyakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sebanyak 35 kader IPNU-IPPNU Yogyakarta yang tergabung dalam Korp Tapak Lintang Songo mendaki gunung Dieng, Wonosobo, Sabtu-Ahad (1-2/11). Tiba di puncak Si Kunir Dieng, mereka mengadakan diskusi keaswajaan dan berdoa untuk kemaslahatan Indonesia mendatang.

Pelajar NU Yogyakarta Berdoa Untuk Indonesia di Puncak Dieng (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Yogyakarta Berdoa Untuk Indonesia di Puncak Dieng (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Yogyakarta Berdoa Untuk Indonesia di Puncak Dieng

Memulai agenda jalan santai pendakian ini, mereka bertolak dari Multipurpose UIN Sunan Kalijaga. Tiba di Dieng, mereka disambut IPNU desa setempat.

Menurut salah satu anggota rombongan Nawawi, diskusi ini menjadi hangat. Suasana puncak gunung dan alam yang hijau menambah kesegaran pikiran mereka dalam berpendapat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Biasanya di puncak gunung itu banyak berfoto dengan alam tapi kita beda dari mereka,” ujar Nawawi.

Doa untuk Indonesia mengakhiri diskusi mereka. Mereka berharap, Indonesia terlepas dari mara bahaya. Mereka juga mengharapkan pemimpin yang jujur dan mengutamakan kepentingan rakyat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Turun dari puncak gunung, mereka memunguti sampah untuk dibawa ke bawah.

Ketua panitia Rifa’i berharap semoga kegiatan ini menjadi awal kebangkitan Korp Tapak Lintang Songo. “Semoga IPNU-IPPNU benar-benar menjadi wadah pencetak generasi bangsa yang nantinya menjadi pemimpin ke depan.” (Nailul Falah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Berita, Aswaja Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 24 November 2017

Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara

Pekalongan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela Negara yang berlangsung, Rabu-Jumat (27-29/7) di Pekalongan dan ditutup, Jumat (29/7) di Gedung Kanzus Sholawat menghasilkan 15 konsensus (kesepakatan) ulama terkait bela negara dan berbagai problem dunia Islam. Kegiatan yang digelar JATMAN dan Kemenhan ini diikuti oleh sejumlah ulama, intelektual, dan akademisi dari 40 negara di dunia serta ratusan ulama dari Indonesia.

15 Konsensus tersebut dibacakan oleh ulama asal Syiria Syekh Muhammad Adnan Al-Afyuni. Dalam prakatanya, Syekh Afyuni menyampaikan bahwa konferensi telah berlangsung dengan sejumlah sidang pembahasan secara ilmiah dan dialog, di mana telah dibahas pentingnya bela negara, melindungi negara dan mengembangkan negara serta menjaga stabilitas dan pertumbuhannya.?

Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 15 Konsensus Hasil Konferensi Ulama Internasional Bela Negara

“Juga penting hidup rukun di seluruh negara-negara peserta serta pentingnya menyebarluaskan rasa cinta perdamaian, kerja sama, saling bahu-membahu atas dasar fiqih dan legalitas agama kita yang berlandasakan kepada teks-teks agama Islam yang hanif dan ajaran-ajarannya dari para ulama salafus sholeh,” urai ulama yang menjabat Mufti Damaskus ini.

Berikut 15 konsensus hasil Konferensi Ulama Internasional di Pekalongan yang disusun oleh sekitar 69 ulama dan intelektual dari 40 negara:

1. Ajaran Islam yang lurus dengan nilai-nilai keimanan dan moral merupakan jaminan satu-satunya dan merupakan tameng yang kokoh untuk keselamatan negara dan kebahagian manusia dimana di dalamnya terdapat pendidikan yang berlandaskan kepada ketuhanan yang mengajarkan ? keadilan menuju kepada kebenaran dan membawa kita kepada jalan yang lurus yang diridhoi Allah SWT.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

2. Seluruh warga negara di seluruh dunia apapun latar belakang mereka itu, wajib ikut serta memuliakan negerinya ? dan mereka ikut serta di dalam memikul tanggung jawab dan mendapatkan hak dan kewajiban yang sama apapun latar belakang keyakinan dan ras mereka ? tanpa membedakan satu sama lain. Mereka semua adalah saudara di dalam negara, bangsa dan kemanusiaan dalam memikul tangung jawab tanah airnya.

3. Perbedaan warna kulit ras dan suku merupakan sunnah dari Allah SWT pada manusia merupakan keanekaragaman yang memperkaya dan saling menyempurnakan satu sama lain tanpa ada yang dibeda-bedakan dan semuanya hidup satu tanah air dan di tengah kebhinekaan dengan semangat persaudaraan, kerja sama dan saling hormat-menghormati.

4. Pendidikan Islam yang agung serta syariat dan risalah yang ada di muka bumi mengajak beribadah dan menyembah Allah dan berbuat baik kepada sesama makhluk Allah SWT dan mengajak untuk menyebarkan kecintaan, saling kasih sayang dan keadilan kepada seluruh manusia serta mengajak kepada pemerintahan di dunia untuk merealisasikan keadilan sosial dan melindungi hak-hak manusia secara utuh.?

5. Tanggung jawab bela negara adalah kewajiban seluruh warga negara secara individu tanpa ada pengecualian. Siapa pun yang tidak membela negaranya, dia tidak berhak hidup di negaranya. ? ?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

6. Pengertian jihad yang biasa dikenal dengan berperang untuk mempertahankan negara dan tanah airnya mempunyai syarat-syarat yang sangat ketat terutama syarat syariah yang tidak boleh dilanggar sehingga pengertian jihad tidak disalahgunakan untuk merusak dan berbuat keonaran yang merugikan orang lain dan harus diyakini bahwa jihad harus dilaksanakan di bawah bendera negara dimana kita berada.

7. Bela negara memiliki dimensi yang beragam melebihi dari sekadar mempertahankan negara dalam suatu pertempuran. Bela negara termasuk merealisasikan semua program-program yang terkait dengan keamanan, ekonomi, pendidikan dan lain-lain ? yang harus dilaksanakan oleh setiap individu ? sesuai posisinya masing-masing.

8. Konferensi bela negara menyatakan, setetes darah haram dikucurkan dan haram membunuh manusia yang tidak bersalah termasuk melakukan perusakan fasilitas umum, infrastruktur dan institusi dengan alasan apapun.

9. Pentingnya bekerja sama antar institusi dan ormas untuk merealisasi tujuan positif yang berkaitan dengan pembelaan kesejahteraan masyarakat.

10. Pentingnya menjaga persatuan Islam untuk mencapai integritas dan kesempurnaan yang dapat direalisasikan oleh seluruh negara muslim yang saling menguntungkan dan menukar pengalaman yang kemanfaatannya dapat dirasakan oleh warga negara.

11. Pentingnya menyelesaikan problem yang dihadapi oleh kaum muda dan mencari penyelesaiannya dalam bentuk dialog yang konstruktif untuk menjamin tidak terjadi penyimpangan pola pikir dengan cara mencegah dan membina mereka ke jalan yang benar dengan melibatkan para ulama, lembaga dakwah ? dan akademisi.

12. Pentingnya melibatkan dan menjalin kerja sama dengan media masa nasional yang konstruktif untuk melakukan penyuluhan dan pembinaan dalam rangka memerangi pemikiran-pemikiran yang dapat merusak pemuda dan umat manusia.

13. Dibentuk badan thariqah tingkat dunia untuk menjadi tempat mencari penyelesaian dan solusi masalah umat secara damai sekaligus tempat pertemuan secara periodik.

14. Pentingnya membentuk komite tindak lanjut dari hasil hasil konferensi disamping pemikiran-pemikiran penting melalui para ulama yang hadir dituangkan dalam satu majalah secara periodik agar dapat dimanfaatkan dan dibaca oleh masyarakat.

15. Bahwa seluruh peserta konferensi memohon kepada Allah SWT kiranya kegiatan yang telah dilangsungkan diberkahi dan seluruh penyelenggara serta rakyat Indonesia dilindugi oleh-Nya, kemudian dapat memberikan stabilitas keamanan di Negara-negara yang sedang dilanda konflik khususnya di Timur Tengah.?

Kegiatan penutupan konferensi ini ditutup oleh pidato Syekh Muhammad bin Muhammad Rajab Deeb (Syiria). Dalam pidatonya, Syekh Rajab mengusulkan penambahan satu poin konsensus, yaitu memberdayakan peran perempuan di segala lini kehidupan. Karena dia memandang perempuan juga unsur penting dalam upaya bela negara. Lagi pula menurutnya, Islam tidak pernah mendiskriminasi perempuan di atas laki-laki. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Kyai, IMNU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 23 November 2017

NU Maroko Bincang Dakwah Moderat Islam Indonesia

Rabat, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko menggelar kajian seputar  “Moderasi Islam di Indonesia” di café Chellah, Rabat Ville. Acara yang dikemas dalam bincang santai Kopi Darat, Ahad (19/10), ini menghadirkan Ketua Yayasan Muta’allimat Lombok, NTB, Tuan Guru H Hazmi Hamzar dan dosen Studi Islam di UNJ, Andy Hardiyanto.

Menurut Hazmi, konsep Al-Qur’an terhadap manusia sudah jelas, yakni membentuk generasi khaira ummah (umat terbaik). Ajaran Al-Qur’an yang dibawa Rasulullah adalah ajaran yang bersifat universal, yaitu kompatibel dengan berbagai kondisi geografis, sosiologis dan kultur di mana masyarakat tinggal. Nabi Muhammad, sebagai pembawa wahyu adalah tolok ukur seorang pendakwah dalam mengenalkan ajaran-ajaran Islam ke semua sendi-sendi kehidupan masyarakat.

NU Maroko Bincang Dakwah Moderat Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Maroko Bincang Dakwah Moderat Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Maroko Bincang Dakwah Moderat Islam Indonesia

Melihat keislaman di Indonesia, katanya, yang coraknya beragam, konsep moderatisme menjadi sangat urgen dalam rangka menjadi peredam terlebih di antara konflik berkepanjangan kaum fundamentalis dan kaum liberalis yang seringkali membingungkan masyarakat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara Andy mengklasisfikasikan, dalam menyikapi problematika tentang moderasi ini, ia menawarkan solusi di antaranya pendekatan dialogis secara dini dalam pengajaran pendidikan Islam, terlebih di pesantren yaitu dengan mengajarkan berbagai perspektif ajaran Islam yang kaya warna sejak kecil hingga perguruan tinggi agar tidak terjadi pemahaman satu arah dalam berislam.

Pria yang pernah mengajar bahasa Indonesia kepada para mahasiswa Maroko ini mengatakan, agar teks benar-benar mampu fleksibel terhadap dinamika problematika kontemporer, perlu ditawarkan metode hermeneutika dengan formulasi segitiga dengan memosisikan teks sebagai puncak segitiga itu, kemudian Nabi dan umat pada sisi-sisinya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Hermeneutika ini dimaksudkan agar interpretasi teks dalam menawarkan solusi problematika umat tetap relevan dengan kondisi sosial masyarakat tanpa meninggalkan teks itu sendiri juga Nabi sebagai pembawa wahyu,” ujarnya.

Melihat permasalahan itu, menurut analisa H Nasrulloh Afandi, kandidat Doktor Maqasid Syariah di Universitas Al-Qurawiyin, Maroko, kedatangan Wali Songo di Indonesia sebenarnya membawa prinsip-prinsip maqashid syariah. Di antaranya untuk liriayati masholihul ibad (menjaga kemasalahatan umat). Dalam dakwahnya Wali Songo tidak memberangus kebudaya lokal. Ia menaungi semua suku, adat, ras, budaya dan tradisi.

Kemudian, lanjut Nasrul, pada perkembangannya prinsip itu dijalankan oleh Gus Dur. Presiden ke-4 RI ini menerapkan prinsip-prinsip itu di tengah masyarakat yang majemuk. Di era moderat ini kita harus bisa menerapkan prinsip-prinsip itu. Selanjutnya, dalam berdakwah juga harus betul-betul memperhatikan situasi, kondisi dan corak  masyarakat setempat, sehingga apa yang disampaikan bisa diterima seperti halnya Wali Songo.

Turut hadir pula, dosen pengajar bahasa Indonesia di Universutas Mohammed V Rabat, Dr. Sri Marmuah, Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko Kusandi El Ghezwa, Wakil Rais Syuriah PCINU Ali Syahbana, serta Wakil Ketua PPI Maroko, H. Abdul Hamid. (Fairuz Ainun Naim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sholawat, Hikmah, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 22 November 2017

Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi

Rembang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Kaliori, Rembang, Jateng.

Penghargaan tersebut diterima atas dasar tiga prestasi, yakni PAC GP Ansor paling aktif di cabang Rembang, PAC yang mampu mengaktifkan 23 Ranting dari total jumlah Desa yang ada sebagaimana terlihat pada kepengurusan periode 2011-2015, dan merupakan satu-satunya PAC yang menggelar upacara bendera tiap 17 Agustus dan konsisten dari tahun 2011 hingga saat ini.

Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi

"Tentu dengan ini saya harus mengatakan bangga dengan Abdul Rosyid (Ketua PAC GP Ansor Kaliori) dan kawan-kawan yang sudah memperjuangkan Ansor. Tentu hal ini tidak mudah bagi sahabat semua dalam mengibarkan bendera Ansor di Kaliori,” kata Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Jawa Tengah H Sumarsono Sugeng pada Konferensi Anak Cabang GP Ansor Kaliori, Ahad (23/8).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sumarsono berharap hal itu masih bisa terjadi pada periode kepengurusan periode 2015-2018.Jika tidak mampu berbuat lebih, katanya, kepengurusan mendatang setidaknya sanggup menjaga konsistensi prestasi kepengurusan sebelumnya.

"Saya sangat berharap pengurus yang akan datang melebihi kepengurusan yang kemarin. Karena PAC Kaliori sangat solid dan bersama dengan Banser di setiap event Ansor, dan giat dalam mengadakan proses pengkaderan mulai dari PKD hingga PKL,” tuturnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam kesempatan itu, Sumarsono juga didaulat untuk membuka Konferancab ke-18 GP Ansor Kaliori. Ia berpesan, agar GP Ansor Kaliori mempersipakan kader terbaiknya untuk memimpin lima tahun ke depan. Jika gagal maka tidak ada toleransi untuk melakukan perbaikan. Sumarsono juga menyinggung, Ansor Kaliori merupakan PAC yang mempunyai tim sepak bola yang solid. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Anti Hoax, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Apakah Uang Pendaftaran Haji Terkena Wajib Zakat?

---

Assalamualaikum. Kepada Yth Pengasuh Bahtsul Masail. Saya ingin bertanya, saya telah mendaftar haji dengan menyetor dana BPIH sebanyak 25 juta untuk mendapatkan nomor porsi, dan insyaAllah porsi saya tahun 2028 nanti. Yang ingin saya tanyakan apakah uang pendaftaran sebanyak 25 juta tersebut harus diikutkan dalam penghitungan zakat mal setiap tahunnya ? Mengingat keberangkatan hajinya masih 14 tahun lagi. Mohon jawabannya.

Wassalamualaikum.(Sriutami, Punduh kidul-Sidoagung Tempuran-Magelang)

---

Apakah Uang Pendaftaran Haji Terkena Wajib Zakat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Uang Pendaftaran Haji Terkena Wajib Zakat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Uang Pendaftaran Haji Terkena Wajib Zakat?

?

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang kelima yang diwajibkan bagi orang yang sudah mampu. Namun pada saat seorang muslim yang dirasa sudah memenuhi persyaratannya ternyata terkendala oleh antrean yang begitu panjang untuk bisa berangkat haji. Bahkan antrean itu bisa sampai berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk mendapatkan nomer antrean atau porsi maka seseorang yang berniat melaksanakan ibadah haji harus menyetor dulu sebesar dua puluh lima juta rupiah. Dan ketika akan berangkat haji maka tinggal menambah kekurangannya. Setoran tersebut tidak bisa diambil sewaktu-waktu atau ditarik kembali kecuali yang bersangkutan meninggal dunia atau tidak bisa berangkat karena alasan kesehatan atau alasan lainnya yang sah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Penjelasan di atas mengandaikan bahwa dana setoran haji menjadi tidak dimiliki oleh pemiliknya dengan kepemilikan yang sempurna. Sebab, dana tersebut tidak bisa ditarik atau diambil sewaktu-waktu kecuali meninggalkan dunia atau orang yang bersangkutan tidak jadi menunaikan ibadah haji karena alasan kesehatan. Padahal salah satu persyaratan harta yang wajib dizakati adalah harta yang dimiliki dengan kepemilikan yang sempurna.

Disamping itu adalah yang terkait soal nishabnya. Nishab uang disamanakan dengan nishabnya emas yaitu delapan puluh lima gram. Dengan kata lain, jika harga emas sekarang harganya 550.000 rupiah pergram, maka nishab uang itu sekitar 46.750.000 rupiah. Jumlah nishab ini dihitung dari 550.000 X 85 hasilnya adalah 46.750.000.? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Zakat adalah wajib atas orang merdeka yang muslim, baligh dan berakal ketika ia memiliki harta dengan kepemilikan yang sempurna yang sudah sampai nishabnya dan telah mencapai haul” (Abdul Ghani al-Ghunaimi ad-Dimasqi, al-Lubab fi Syarh al-Kitab, Bairut-Dar al-Kitab al-‘Arabi, tt, juz, 1, h. 98).

Berangkat dari penjelasan ini maka jawaban atas pertanyaan di atas adalah bahwa dana setoran awal BPIH sejumlah dua puluh lima juta tidak wajib dizakati karena ternyata dana tersebut begitu disetorkan tidak bisa lagi dimiliki secara sempurna.Sehingga dana sebesar dua puluh lima juta tersebut tidak bisa diikutkan dalam perhitungan zakat mal setiap tahun.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Bagi orang-orang yang berniat menjalankan ibadah haji dan sudah menyetor dua puluh lima juta hendaknya memperbanyak sedekah agar bisa dimudahkan dalam segala urusannya, dan jangan lupa membayar kewajiban zakat mal yang lain jika memang telah terpenuhi semua ketentuannya. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

?

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nusantara, Berita, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 16 November 2017

Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) melalui Bank Sampah Nusantara (BSN) memulai upaya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan berbasis komunitas dan pesantren. Pengurus LPBI NU membuka BSN Cabang Desa Kertabesuki Kecamatan Wanasari dan BSN Desa Bulusari Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes, Ahad (12/2).

Tim BSN LPBI NU berharap dua cabang ini menjadi embrio BSN lain untuk selalu menyuarakan pelestarian lingkungan di Kabupaten Brebes.

Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, LPBI NU Buka Dua Cabang Baru Bank Sampah Nusantara

BSN sudah mempunyai 15 cabang di seluruh di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh bulan. Bulan lalu BSN membuka cabang di Bogor. Sebelum mendirikan cabang baru, Tim BSN melakukan kajian tentang potensi perhitungan sampah per orang, potensi bisnis yang dihasilkan dari pengelolaan sampah dan potensi sumberdaya manusia yang ada di sebuah wilayah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebelum pembukaan dua cabang baru di Brebes Tim BSN LPBI NU melakukan sosialisasi materi penyelamatan dan pelestarian lingkungan untuk masa depan. Mereka juga menjelaskan manajemen BSN mulai dari manajemen operasional, manajemen produksi, dan manajemen pemasaran.

Sosialisasi pertama diadakan di Desa Kertabesuki Kecamatan Wanasari yang dihadiri 30 orang warga yang mayoritas pengurus ranting Muslimat NU. Pendirian BSN ini ditandai dengan dokumentasi hasil karya kerajinan tangan dari koran bekas dan terpilihnya Rodhia sebagai Kepala BSN Cabang Desa Kertabesuki.

"Acara ini merupakan rangkaian roadshow dalam rangka merayakan Hari Peduli Sampah Nasional 2017. Setelah ini, pembentukan BSN akan terus dilakukan, karena di tahun 2017 ini? kita mempunyai target pembentukan 40 cabang BSN di seluruh Indonesia", kata Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI NU Fitria Ariyani.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sosialisasi BSN dilanjutkan ke Desa Bulusari Kecamatan Bulakamba. Kegiatan yang dihadiri dihadiri 90 orang ibu-ibu PKK bertempat di balai desa. Sambutan dukungan diberikan oleh kepala desa, Saifuddin Trirosanto yang akan menganggarkan dana untuk kegiatan BSN di Desa Bulusari.

"Bank Sampah Nusantara kita ini baru berjalan, kami sangat butuh bantuan untuk ke depannya supaya BSN di desa kita ini berjalan terus tanpa hambatan," kata Kepala BSN Cabang Desa Bulusari Endang Supri Lestari. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 12 November 2017

Angkat Tema KH Ali Maksum, Majalah Bangkit Laku Keras

Yogyakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Mengenang haul ke-25 Rais Aam keempat PBNU KH Ali Maksum, Majalah Bangkit menerbitkan edisi khusus. Pada edisi majalah terbitan PWNU DI Yogyakarta ini para santri Kiai Ali memberikan testimoni mengenang jasa sang guru.

Para santri itu antara lain KH A. Mustofa Bisri (Pejabat Rais Aam PBNU), KH A Malik Madany (Katib Aam PBNU), KH Masdar F Masudi (PBNU), KH. Asyhari Abta (Rais Syuriah PWNU DIY), Dr. Phil. Sahiron Syamsudin (Dosen UIN Suka dan Wakil Rais Syuriah PWNU DIY), dan masih banyak lagi.

Angkat Tema KH Ali Maksum, Majalah Bangkit Laku Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Angkat Tema KH Ali Maksum, Majalah Bangkit Laku Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Angkat Tema KH Ali Maksum, Majalah Bangkit Laku Keras

"Ketika lapak majalah Bangkit sudah dipajang di dua tempat arena haul, santri dan masyarakat langsung berebut," demikian kesaksian Syaefudin, marketing Bangkit yang sibuk melayani pelanggan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Para alumni yang datang sangat senang hadirnya edisi KH Ali Maksum. Setidaknya, pulang ke rumah masing-masing membawa bingkisan majalah yang mengulas sang guru tercinta," ujar Mukhtar Salim, Sekretaris PWNU DIY yang juga alumni Pesantren Krapyak.

Sedangkan KH Asyhari Abta menyambut baik hadirnya edisi khusus ini. Ia mengharapkan majalah kebanggaan warga NU DIY ini mampu mengulas berbagai tokoh NU yang selama ini belum banyak dikupas. Dengan begitu, majalah Bangkit akan menemukan pembaca setia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Ayo kita angkat tokoh-tokoh yang lain. Semoga Bangkit semakin maju dan lancar," ujar Kiai Asyhari yang hadir dalam acara haul bersama Prof Maksum, Ketua PBNU. (Muyas/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sejarah, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 09 November 2017

Kemiskinan dan Ketidakadilan, Persemaian Ideologi Komunisme

Jember, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Kemiskinan dan ketidakadilan menjadi tempat persemaian yang subur bagi tumbuhnya ideologi berbahaya seperti komunisme, gerakan radikal, dan sebagainya. 

Kemiskinan dan Ketidakadilan, Persemaian Ideologi Komunisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemiskinan dan Ketidakadilan, Persemaian Ideologi Komunisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemiskinan dan Ketidakadilan, Persemaian Ideologi Komunisme

Sebab, masyarakat yang miskin dan merasa diperlakukan tidak adil secara ekonmi, akan mudah menerima ajaran baru bersamaan dengan terpenuhinya kebutuhan hidup mereka. 

Demikian diungkapkan Dosen Fakultas Hukum Uiniversias Jember (Unej), Adam Muhsi saat menjadi pembicara dalam Simposium Kebangsaan dan Refleksi Perjuangan Ulama Korban PKI di aula Fakultas Hukum Unej, Sabtu (30/9).

Menurut Adam, secara umum masyarakat yang hak-hak ekonominya merasa tidak dipenuhi oleh pemerintah, merupakan sasaran empuk para propagandis. Ideologi apapun bisa masuk dan berkembang dalam kondisi masyarakat yang seperti itu, apakah marxisme, leninisme, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), dan sebagainya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Karena mereka tahu kebutuhan masyarakat. Butuh beras dikasih beras. Butuh pelayanan kesehatan, diberi pelayanan kesehatan gratis. Jadi muara sesungguhnya adalah ketidakadilan, terutama ketidakadilan ekonomi. Namun ketika hak-hak ekonomi masyarakat sudah terpenuhi, maka peluang masuknya ideologi baru semakin sempit, bahkan tertutup sama sekali," lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Aswaja Center NU Jember, KH Abdul Haris menegaskan bahwa apapun bentuknya, komunisme tetap bertentangan dengan Islam dan Pancasila. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Penegasan tersebut disampaikan menjawab munculnya  isu bahwa komunisme adalah sekadar wadah untuk memperjuangkan keadilan, bukan ideologi. 

Sehingga anggotanya bisa dari berbagai penganut agama, termasuk Muslim. Menurutnya, hal itu adalah upaya pengaburan arti untuk mengelabui masyarakat. 

"Itu tidak benar, komunisme bukan sekadar wadah, tapi ideologi. Jangan sekali-kali dikasih pintu, nanti bisa bekembang," urainya. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Membaca Nalar Politik Pesantren

Tahun 2014 menjadi tahun paling ‘panas’ dan menegangkan dalam iklim demokrasi di Indonesia. Setelah sebelumnya sukses memilih para wakil rakyat (legislatif), pada 9 Juli 2014 mendatang, masyarakat Indonesia akan melaksanakan pilpres, menunaikan hak pilihnya untuk masa depan Indonesia 5 (lima) tahun ke depan. Sebuah kenyataan yang mendebarkan, sebab nasib Indonesia ke depan, begitu bergantung pada pelaksanaan pilpres ini. 

Tentu saja kita tidak mau nasib bangsa begitu saja tergadaikan dan tercederai oleh praktik politik praktis. Praktik politik yang tak bersendikan etika, penuh manipulasi, dan politik transaksional. Karena itu menurut ulama Syafiiyah, politik harus sesuai dengan prinsip syariat Islam, yaitu setiap upaya, sikap dan kebijakan harus diarahkan untuk mencapai tujuan umum prinsip syariat (maqashidus syari’at). Tujuan tersebut di antaranya: Pertama, menjunjung tinggi kebebasan beragama sebagaimana Islam yang memiliki spirit membebaskan. Kedua, mengembangkan nalar sehat untuk kemaslahatan umat. Ketiga, melindungi jiwa raga setiap manusia dari segala bahaya dan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang primer, sekunder, maupun tersier. Keempat, menjaga harta kekayaan dengan pengembangan usaha komoditasnya dan menggunakannya tanpa eksploitasi. Kelima, memelihara keturunan dengan memenuhi kebutuhan fisik mau pun rohani.

Membaca Nalar Politik Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Nalar Politik Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Nalar Politik Pesantren

Prinsip demikian yang terekam dari sejarah panjang dan nalar politik pesantren sebagaimana dipotret secara jelas dalam buku Rethinking Pesantren. Buku ini terdiri dari beberapa bagian; Bagian pertama, memotret asal-usul pesantren dari waktu ke waktu. Bagian kedua, tentang kiai dan perannya dalam kehidupan sosial politik. Bagian ketiga, mempertegas peran santri dalam dinamika sosial politik Islam Indonesia. Dan bagian kelima, bagian penutup, seputar pesantren dan politik kultural. 

Demikian kita bisa membaca nalar politik pesantren yang selalu menarik banyak perhatian banyak pihak. Pesantren selalu menjadi magnet para politikus (pejabat) yang menghasilkan. Tak pelak, mereka tak segan melakukan berbagai safari politik ‘dadakan’ dengan melakukan ziarah ke para wali dan kiai, silaturahmi ke kiai-kiai pesantren, dan aktivitas yang dianggap religius lainnya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Realitas politik semacam itu juga diamini oleh Prof Nasar, bahwa dalam persoalan politik, karisma kiai merupakan sesuatu yang menggoda bagi siapapun yang berkuasa. Akibatnya, sering kali kiai didekati oleh para pejabat untuk meraih simpati masyarakat. Dari kedekatan-kedekatan tersebut mengalir segala macam bantuan dari pemerintah kepadanya. Lagi-lagi masyarakat bawah mendapat untung karenanya. (Hlm, 47). 

Namun patut dipahami, bahwa politik hanya salah satu dari sekian banyak peran pesantren dalam memainkan peran sosialnya. Bahwa pesantren, sebagai lembaga asli yang lahir dari rahim Indonesia, mampu menangkap persoalan-persoalan masyarakat secara komprehensip. Kesadaran akan peran ini tak lain adalah sebagai wujud dari orientasi pesantren dalam upaya dakwah bil hal, yakni dakwah sosial yang betul-betul nyata dan mendesak dibutuhkan masyarakat. 

Yang unik dari pesantren adalah mereka mempunyai tradisi tersendiri. Salah satu tradisi dalam memainkan peran sosialnya, pesantren selalu menjaga erat hubungannya dengan masyarakat. Tradisi-tradisi itu di antaranya tahlil, marhabanan, manaqiban, dan lain sejenisnya. Bagi sebagian pihak yang tak tahu kultur pesantren, tradisi semacam ini dianggap sebagai tradisi yang kuno dan tak relevan dengan zaman. Tetapi bagi pesantren, tradisi semacam ini justru menjadi wadah efektif untuk memperat tali silaturahmi secara kontinyu. Disadari atau tidak di sinilah pesantren melakukan kontrol sosial. 

Lebih dari pada itu, pesantren juga mengilhami tradisi tirakat. Merujuk pada pandangan Prof Nasar dalam buku ini, bahwa para ulama sangat yakin, bahwa dengan dijadikannya diri mereka sebagai pemimpin dalam masyarakat, maka semakin bertambah pula amanat yang mereka pikul. (Hlm, 51). Para kiai sadar bahwa dalam menghadapi segala problem sosial masyarakat, termasuk problem politik, tak hanya cukup mengandalkan logika rasional, melainkan harus melibatkan kekuatan spiritual yang dijalankan dengan ikhtiar tirakat; puasa sunah, zikir, shalat sunah, dan berbagai riyadloh lainnya. 

Karena itulah nalar politik pesantren melalui kiai dan para santrinya, sering kali sulit dibaca dan ditebak. Para pengamat politik pun berpandangan beragam, sering kali menyulut peredebatan sengit. Inilah kekuatan nalar dan fitrah politik pesantren, karena pesantren tahu betul bahwa politik bukanlah tujuan, melainkan hanya wasilah (sarana) untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan untuk melakukan manipulasi dan merampas kemanusiaan. Pesantren bersikukuh pada perwujudan baldatun thayyibun warabbun ghafuur (negeri yang indah dan mendapatkan pengampunan dari Allah). 

Walhasil, membaca nalar politik pesantren tak ubahnya membaca politik Islam Indonesia, dan itu artinya membahas nasib bangsa jauh ke depan. Meminjam istilah Prof Nasar, bahwa apa yang tengah ditempuh oleh pesantren oleh para kiai adalah langkah back to basic, kembali ke pesantren dan menjadi kiai kultural. Jalan kultural inilah yang begitu efektif untuk terus melakukan kritisasi secara objektik dan independen, tanpa memedulikan figur pemegang kekuasaan, tetap menjadi pengayom sejati masyarakat dan bangsa. Dan buku ini betul menuntun pikiran dan nurani kita untuk kembali memikirkan dan mempertimbangkan kontribusi dan peran pesantren untuk bangsa ini. Apalagi buku ini ditulis oleh seorang yang kapasitasnya sebagai pimpinan pesantren, mustasyar PBNU, dan cendekiawan Muslim. Wallahua’lam bis shawab. 

Judul : Rethinking Pesantren

Penulis : Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA

Editor : Nailunni’am, Lc

Penerbit : Quanta, Elex Media Komputindo, Kompas-Gramedia, Jakarta, 2014

Tebal : viv, 141 hlm.

Peresensi: Mamang M. Haerudin, khadimul ma’had di pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin-Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Hikmah, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 03 November 2017

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal?



Terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama telah mengalami penyempurnaan sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1967. Pgs Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Muchlis M Hanafi mengatakan, Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama mengalami penyempurnaan pertama kali pada tahun 1989.

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Terus Lakukan Penyempurnaan Terjemah Al-Qur’an

Sedangkan penyempurnaan terakhir dilakukan pada tahun 2002 dan sampai sekarang masih dipergunakan. “Penyempurnaan terjemah Al-Qur’an merupakan sebuah kebutuhan, untuk merespon perkembangan masyarakat, terutama terkait dengan pemahaman masyarakat,” ujar Muchlis M Hanafi pada Seminar Hasil Penelitian Penggunaan Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama di Masyarakat, Jakarta, Selasa (8/8) sebagaimana dilansir kemenag.go.id.

Alasan perlunya penyempurnaan terjemah Al-Qur’an, lanjut Muchlis, yaitu untuk merespon perkembangan dinamika di masyarakat dan berkembangnya Bahasa. “Jadi kita perlu menyesuaikan dari perkembangan tersebut. Maka dari itu, kita mengundang Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk ikut serta mencermati terjemahan Al-Qur’an dari sisi tata bahasa,” katanya.

“Sejak tahun anggaran 2016, LPMQ telah memulai kegiatan penyempurnaan terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama,” sambungnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Muchlis M Hanafi memperkirakan penyempurnaan terjemah ini akan selesai pada tahun 2019. Sebab, proses saat ini belum sampai setengah jalan. Di samping itu, masih ada satu mekanisme lagi yang ? tidak hanya selesai di tingkat tim penyempurna karena harus dilakukan ? uji publik. ? Proses itu akan dilakukan pada Forum Musyawarah Ulama Al-Qur’an yang mengundang ulama dan pakar Al-Qur’an.

“Dummi yang sudah disusun oleh tim akan diserahkan kepada para ulama pakar Al-Qur’an dan bila selesai baru disebarkan ke masyarakat. Hal ini perlu hati-hati dalam penerjemah Al-Qur’an,” ucap Muchlis M Hanafi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Seminar ini dibuka Kepala Badan Litbang dan Diklat Keagamaan Abd Rahman Mas’ud. Seminar ini dihadiri 75 peserta yang berasal dari berbagai unsur baik peneliti LPMQ, unsur masyarakat, perguruan tinggi, serta dari unit-unit Eselon 1 di Kementerian Agama.

Sebagai narasumber pada acara tersebut yaitu ? Prof Muljani A Nurhadi, M.Ed, M.S dan Dr. Moch. Syarif Hidayatullah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr.H. Muchlis M. Hanafi dan H. Abdul Aziz Sidqi,M.Ag (LPMQ), ? serta H. Jamaluddin M Marki,Lc, M.Si dari Bimas Islam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock