Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Selasa (23/1) malam, Kedung Sukun Adiwerna Tegal berkesempatan menyaksikan gala premier film Syirik di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. 

Syirik adalah sebuah film horor religi produksi Anak Bangsa Pictures bekerjasama dengan NU Care-LAZISNU. Film ini disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Faridsyah Zikri. 

Pengamatan Kedung Sukun Adiwerna Tegal, pengunjung tampak menikmati dan terbawa ke dalam cerita yang disajikan selama pemutaran film.

Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepekan Jelang Penayangan, Ribuan Tiket Film Syirik Sudah Dipesan

Meskipun jadwal penayangan masih sepekan lagi, banyak masyarakat yang telah memesan tiket film tersebut.

“Saat ini sudah ada 6.220 tiket yang dipesan,” kata Farid kepada wartawan usai pemutaran.

Farid yang turut berperan dalam film tersebut yakni sebagai Ustadz Marwan menambahkan masyarakat yang telah memesan tiket tersebut diantaranya di daerah Lampung, Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Syirik menceritakan tentang Lady (Nadhira Hill) dan Romy (Guntur Triyoga), sepasang keluarga muda yang pindah ke sebuah rumah tua di kawasan Subang, Jawa Barat. Kebahagiaan mereka menempati rumah itu dan kehamilan Lady setelah tiga tahun pernikahan mendadak berubah karena Romy mengalami pemutusan hubungan kerja.

Akibat depresi, Romy berubah temperamen menjadi pemarah dan pemurung. Iblis merasuki Romy dan mengubahanya menjadi orang yang berperilaku tidak seperti manusia sewajarnya. Romy digambarkan memakan piring, memakan daging tikus, dan sering memasuki sebuah ruangan aneh di rumah mereka. 

Di ruangan itu perilaku Romy tampak lebih aneh karena terlihat Romy seperti melakukan sembah kepada makhluk gaib.

(Baca: Terlibat Film Syirik, Mita The Virgin Ingin Keberkahan)Berhasilkah Romy dan Lady mendapatkan kebahagiaan mereka kembali?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Film yang 10 persen keuntungannya disumbangkan bagi masyarakat melalui NU Care-LAZISNU akan ditayangkan serentak di bioskop mulai 1 Februari 2018. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 25 Februari 2018

Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Khataman Al-Quran 30 juz mengawali rangkaian peringatan Haul ke-6 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berpusat di rumah keluarga di Jalan Warung Sila 10 Ciganjur Jakarta Selatan sejak Sabtu (26/12) pagi. Khataman bil ghoib (hafalan) diadakan di lima titik.

Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Khataman Al-Quran Awali Haul Gus Dur di Ciganjur

Grup pertama mengkhatamkan Al-Quran di Masjid Al-Munawwarah depan rumah keluarga. Mereka adalah para hafidz dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta dan Jamiyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) NU Depok dan santri Pesantren Ciganjur.

Dua grup penghafal putri dari Institul Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta mengkhatamkan Al-Quran di rumah keluarga Gus Dur. Dua grup lainnya di gedung SDIT Abdul Wahid Hasyim dan asrama Pesantren Ciganjur.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Khataman Al-Quran berlangsung sampai Sabtu malam menjelang acara puncak peringatan Haul ke-6 Gus Dur.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Ketua Tamir Masjid Al-Munawarah H Syaifullah Amin, khataman A-Quran ini rutin diadakan sejak haul pertama Gus Dur.

"Setiap bulan atau tepatnya di malam Rabu Pahing atau hari kelahiran Gus Dur juga diselenggarakan khataman Al-Quran bil ghoib 30 juz," kata Amin.

Ditambahkan, tradisi khataman Al-Quran ini dirintis oleh murid Gus Dur sekaligus pemangku pertama Pesantren Ciganjur KH Muhammad Musthofa dan istrinya Lilik Ummi Kaltsum, dua-duanya penghafal Al-Quran, sejak Gus Dur masih ada dan berlanjut sampai sekarang.

Sementara itu puncak acara Haul ke-6 Gus Dur Sabtu malam akan dihadiri KH Maruf Amin, KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, Habib Luthfi, serta sejumlah kiai dan habaib, pejabat pemerintahan dan tokoh lintas agama. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Humor Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)
Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Di antara kalimat yang paling mencolok dan berkumandang di mana-mana begitu Ramadhan berakhir adalah takbir. Takbir secara bahasa berasal dari kata kabbara-yukabbiru yang berarti membesarkan atau mengagungkan. Siapa yang diagungkan? Tentu saja Dzat Yang Mahabesar, Allah subhanallah wataala.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Takbir betul-betul mewarnai peralihan masa dari Ramadhan menuju Syawal. Umat Islam di berbagai tempat menghidupkan malam hari raya dengan takbir. Ruas jalan di banyak daerah juga dipenuhi pawai takbir. Dalam shalat id pun kita dianjurkan menambah takbir tujuh kali usai takbiratul ihram dan lima kali saat memasuki rakaat kedua. Para khatib idul fitri disunnahkan memulai khutbah pertama dengan takbir sembilan kali dan tujuh kali pada khutbah kedua. Sementara dzikir yang paling dianjurkan bagi jamaah dalam momen-momen tersebut adalah melafalkan takbir.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir tentu lebih dari sekadar ucapan dan kata-kata. Di balik anjuran menggemakan takbir ada perintah untuk menganggap setara, kecil, rendah apa pun yang ada di alam fana ini karena yang Mahabesar hanya Allah. Dialah penguasa jagat raya ini. Tak ada satu urusan atau keberadaan pun yang luput dari genggaman-Nya. Ini pula makna dari rabbul alamin. Allah bukan saja Tuhan bagi manusia melainkan Tuhan bagi seluruh eksistensi selain diri-Nya, termasuk hewan, tumbuhan, jin, malaikat, planet-planet, atmosfer, bumi, langit, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Konsekuensi dari keyakinan semacam itu adalah timbulnya sikap rendah hati. Mengecilkan segalanya, tak terkecuali kekayaan dan jabatan, untuk semata-mata mengagungkan-Nya. Sikap ini sangat sulit dilakukan karena musuh terberatnya bukan saja setan, melainkan juga nafsu diri sendiri. Orang mungkin saja terbebas dari keraguan mengimani keberadaan Allah seyakin-yakinnya tapi belum tentu ia berhasil membesarkan-Nya seagung-agungnya. Orang bisa saja sangat alim, rajin ibadah, mengklaim membela agama, namun apakah ia sudah benar-benar bersih dari menganggap lebih rendah orang lain--menganggap diri sendiri lebih selamat dari yang lain?

Kita tahu, Iblis terjerumus bukan karena ia ingkar atas keberadaan Allah. Iblis tidak ateis. Mungkin soal ini keimanan Iblis melebihi manusia biasa. Iblis terhempas ke neraka dan menjadi makhluk terkutuk selamanya sebab menolak menghormati Nabi Adam lantaran takabur. Sebagaimana terekam dalam Surat al-Baqarah ayat 34:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur/sombong dan adalah ia termasuk golongan makhluk yang kafir".

Takabur atau kesombongan telah menggelapkan Iblis untuk mengakui Adam sebagai makhluk Allah yang juga harus dihormati. Ketika Allah mengeluarkan perintah sujud penghormatan tersebut lalu Iblis menyambutnya dengan penolakan, maka saat itulah Iblis sedang mengingkari Kebesaran Allah. Iblis membesarkan diri di hadapan Dzat Yang Mahabesar. Ia hanya melihat kepada siapa ia hormat tapi tidak mempertimbangkan dari siapa perintah hormat itu keluar. Di ayat lain, Allah berfirman, "walaqad karramnâ banî âdam (dan sungguh telah kami muliakan Bani Adam [manusia])."

Dalam hadits Qudsi Rasulullah pernah menyampaikan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? . ? ? ? .

"Kemahabesaran adalah selendang-Ku dan Kemahagungan adalah Sarung-Ku. Siapa saja yang menandingi-Ku Aku masukkan dia ke dalam neraka".

Jamaah shalat jumat hadakumullah,

Apa yang diperbuat Iblis bisa juga menimpa kita meski dalam skala dan konteks yang berbeda. Allah, misalnya, telah memerintahkan kita memuliakan manusia (QS al-Isra: 70) dan tidak merusak lingkungan (QS al-Araf: 56). Saat kita berlaku sebaliknya maka sejatinya kita sedang meneladani jejak Iblis yang durhaka. Kita hanya percaya akan keberadaan Allah tapi "tidak percaya" akan kebesaran dan kekuasan-Nya. Atau mungkin percaya namun berhenti di mulut atau dalam kadar angan-angan belaka.

Buah dari takbir adalah mengecilkan diri sendiri untuk semata membesarkan Allah. Dampak lazim dari suasana batin ini adalah tidak menganggap remeh hal-hal di luar dirinya karena menyadari bahwa semua ini tak lain adalah hamba Allah rabbul alamin. Rasulullah pernah menegur sahabat yang mempermainkan anak burung hingga induknya merasa terganggu. Sikap mengasihi binatang seperti ini hanya bisa dilakukan ketika seseorang tak lagi sibuk membandingkan dirinya dengan binatang tapi memandang lebih dalam: siapa yang menciptakan binatang. Itu pula yang menjadi alasan mengapa Nabi begitu pemaaf dan murah hati terhadap orang-orang kafir yang pernah memusuhi, bahkan berupaya membunuh beliau; dan kisah-kisah teladan lainnya.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir Idul Fitri seyogianya mengantarkan kita pada introspeksi diri tentang sejauh mana kita membesarkan Allah, sejauh mana pula kita mengenal-Nya. Sebuah takbir yang melunakkan hati kita untuk senanriasa berbuat baik kepada siapa saja atau apa saja. Memandang orang lain dengan kacamata kasih sayang. Berhenti menghinakan pihak lain. Dan menolak perbuatan merusak di lingkungan kita.

Di Indonesia kita beruntung memiliki tradisi halal bihalal yang menjadi momen penguatan hubungan baik sesama manusia. Setelah tak hanya digembleng untuk memenuhi hak-hak Allah selama Ramadhan tapi juga menuntaskan berbagai persoalan hak-hak manusia (haq adami) dengan saling bermaaf-maafan. Dengan demikian semoga takbir kita tidak hanya menggaung ke angkasa tapi juga membumi dalam wujud cinta kepada sesama. Wallahu alam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, News Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) melalui Bidang Kemandirian Pondok Pesantren dan Masyarakat mempertemukan para perwakilan dari 35 pondok pesantren se-Jawa Tengah dalam lokakarya kewirausahaan di Pondok Pesantren al-Itqon, Semarang, Jateng, Ahad (25/10).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan RMINU dalam menciptakan Pusat Grosir Pesantren (PGP) Nusantara, sebuah program yang memfasilitasi pesantren untuk mendapatkan barang dengan harga langsung dari produsen. Dengan memperpendek rantai distribusi barang, pesantren diharapkan menjadi pemain pasar, setidaknya sebagai distributor.

RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMINU Ciptakan Pusat Grosir di Pesantren-pesantren

Sekretaris Pengurus Pusat RMINU Miftah Faqih mengatakan, sejak 2011 pihaknya sudah menggulirkan pelatihan kewirausahaan. Hal ini terkait dengan pentingnya pesantren kuat dan mandiri secara ekonomi. “Ini kita ketemu dalam rangka untuk menyubjekkan diri, mem-fa‘il-kan diri. Sadar kalau lahir merdeka maka hidup harus merdeka,” tuturnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hal sedana disampaikan Abdul Jalil, Koordinator Bidang Kemandirian Pondok Pesantren dan Masyarakat PP RMINU. Menurutnya, di setiap bisnis, pesantren sering hanya menjadi objek, mulai dari penanaman modal, produksi, hingga distribusi barang.

“Pendek kata, karena kita objek dan kesalahannya kita tidak mau menjadi subjek. Jalan satu-satunya yang bisa kita tempuh, kita harus menjadi subjek. Pesantren tidak boleh dimainkan pihak lain dalam bidang apapun,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peserta dalam forum ini adalah para pemangku kebijakan pondok pesantren. Hari ini mereka diminta menyerahkan nama-nama calon pengelola distribusi barang. Pengelola distribusi terdiri dari manajer, kepala gudang, dan admin atau kepala toko. Selanjutnya RMINU akan mengadakan pelatihan manajemen untuk mereka agar siap dengan program tersebut.

PGP Nusantara menggunakan sistem berbasis online yang teritegrasi. PGP di bawah RMINU akan memiliki dua kartu keanggotaan, kartu sebagai agen (memperoleh harga distributor untuk keperluan dijual kembali) dan kartu keanggotaan umum (harga retail). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Kyai, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 12 Februari 2018

MA An-Nawawi Terapkan Sistem Penilaian Berbasis TIK

Purworejo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Madrasah Aliyah (MA) Ann-Nawawi Berjan Purworejo terus mengembangkan metode pembelajaran dan pengajarannya. Madrasah yang dalam beberapa tahun terakhir persentase kelulusannya mencapai 100 persen ini mulai menerapkan perangkat pembelajaran dan sistem penilaian siswa berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

MA An-Nawawi Terapkan Sistem Penilaian Berbasis TIK (Sumber Gambar : Nu Online)
MA An-Nawawi Terapkan Sistem Penilaian Berbasis TIK (Sumber Gambar : Nu Online)

MA An-Nawawi Terapkan Sistem Penilaian Berbasis TIK

Untuk menunjang program tersebut, Ahad (13/1) kemarin dilakukan workshop bagi para guru. Workshop tersebut untuk memberikan pemahaman bagi para guru dalam memanfaatkan kemajuan TIK untuk menunjang metode pengajaran dan pendidikan.

“Kami dipercaya Kementerian Agama (Kemenag) untuk melaksanakan program kontrak prestasi,” kata Kepala MA An-Nawawi H. Muslikhin Madiani di sela acara tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Muslikin, program  tersebut sekaligus menepis anggapan masyarakat bahwa sekolah di lingkungan pondok pesantren (PP) selalu terkesan kotor dan tidak tertata. “Namun untuk An-Nawawi program sekolah hijau sudah berjalan dengan memanfaatkan lingkungan sekolah dengan berbagai tanaman,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan Muslikin, dengan memanfaatkan TI nantinya penilaian akademik terhadap siswa akan didesain online. Para siswa bisa langsung mengakses nilainya setelah guru mengentri dari hasil ujian.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kami yakin pemanfaatan TI ini akan jauh lebih efektif dan efisien. Sekaligus akan meningkatkan SDM, baik guru maupun siswa karena kemajuan TI sekarang ini sudah sedemikian pesatnya," katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Purworejo H. Bambang Aryawan menyambut baik serta memberikan apresiasi terhadap program yang dilaksanakan MA An-Nawawi tersebut.

Menurut Bambang, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menuntut penyelenggaraan berbagai kegiatan termasuk dalam dunia pendidikan berbasis elektronik.

“Dengan memanfaatkan teknologi informatika secara bertahap diharapkan bisa membangun sistem informasi pendidikan yang terintegrasi, yang akan menghasilkan output yang cepat, akurat, efisien dan transparan,” tandasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Irwan Sahidin

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Humor Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidup dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ?. ? ? ? ? ? ?..? ?

?

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)
Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu? menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Abdul Wahhab As-Sya’roni menjabarkan berbagai tingkatan taubat. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan bertobat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini aalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Dan puncak taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya waluapun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Demikianlah tiga tingkatan taubat yang dijabarkan oleh As-Sya’roni. Selanjutnya tinggal kita meraba diri masing-masing dimanakan posisi kita berada dalam tiga tingkatan taubat tersebut. Andaikata kita masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah kita pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila kita telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 112

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.

? ? ? ? ? ?

Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. ?

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah

Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia

Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.

Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Jama’ah Jum’ah yang Mulia

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

(Pen/Red Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Pondok Pesantren, Hadits Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kader Ansor Soloraya Ikuti Pelatihan Analisa Konflik Sosial

Solo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Perwakilan kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo bersama sejumlah elemen kepemudaan lainnya, mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam penyelesaian konflik sosial yang diadakan Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Provinsi Jawa Tengah, Rabu-Kamis (16-17/3), di Hotel Sahid Solo, Jawa Tengah.

Kegiatan yang mengambil tema “Melalui Koordinasi dan Konsultasi Kita Tingkatkan Peran Serta Masyarakat dalam Penanganan Konflik di Daerah” tersebut menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya adalah Wakil Rais Syuriyah PWNU Jateng, KH. M. Dian Nafi dan Dosen FISIP Universitas Wahid Hasyim Semarang, Joko J. Prihatmoko.

Kader Ansor Soloraya Ikuti Pelatihan Analisa Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Soloraya Ikuti Pelatihan Analisa Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Soloraya Ikuti Pelatihan Analisa Konflik Sosial

Salah satu peserta dari Ansor, Choirudin Ahmad, menuturkan pelatihan ini penting bagi kader, kaitannya dalam mengelola manajemen konflik organisasi dan masyarakat.

“Bagaimana pun di sebuah organisasi, termasuk Ansor pasti terdapat konflik baik antar kader maupun dengan masyarakat, tinggal bagaimana kita mengelola konflik tersebut agar bernilai positif bagi semua,” terang Choirudin, yang juga Ketua PC GP Ansor Boyolali itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, panitia pelaksana kegiatan pelatihan, Budiyanto menjelaskan pihaknya menyelenggarakan kegiatan ini sebanyak dua kali. “Angkatan pertama dilaksanakan sekarang, kemudian angkatan berikutnya rencana akan kembali diselenggarakan di Solo, 30-31 Maret mendatang,” paparnya.

Pihaknya berharap melalui penyelenggaraan pelatihan ini, dapat menberikan bekal kepada masyarakat dalam penyelesaian konflik sosial. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Ahlussunnah, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) tengah beristirahat di kediamannya. Ia dikabarkan sedang kurang sehat. Kendati demikian, Kang Said tetap menjalankan aktivitasnya mengasuh santrinya di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan.

“Bapak kurang enak badan. Besok bapak menjalani general check up di rumah sakit,” kata Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, istri Kang Said kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal via telepon, Selasa (9/2) malam.

Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurang Sehat, Kang Said Tetap Ngajar Al-Barzanji

Aktivis PP Muslimat NU ini mengharapkan doa agar suaminya cepat pulih dan dapat beraktivitas kembali di tengah warga NU.

“Bapak hanya kurang enak badan biasa. Sekarang bapak lagi nonton Aswaja TV. Saya mohon doanya agar bapak cepat pulih,” tandas Hj Nurhayati.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara salah seorang pengajar di Pesantren Ats-Tsaqafah Ulinnuha menerangkan bahwa Kang Said masih menjalani aktivitasnya membimbing para santri di Pesantren Ats-Tsaqafah.

“Kemarin bapak masih ngajar di pesantren. Bapak ngajar kitab Al-Barzanji. Ia menerangkan isi Al-Barzanji kepada para santri mulai dari kosakata hingga sejarahnya,” kata Ulinnuha. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Humor Islam, Pondok Pesantren, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Harlah Ke-4, RSNU Jombang Target Raih Akreditasi Tahun Ini

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-4 Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, para karyawan atau petugas RSNU diimbau bekerja secara maksimal. Peningkatan kinerja juga dimaksudkan untuk memperoleh akreditasi dengan mudah pada tahun 2016 ini.

Harlah Ke-4, RSNU Jombang Target Raih Akreditasi Tahun Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-4, RSNU Jombang Target Raih Akreditasi Tahun Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-4, RSNU Jombang Target Raih Akreditasi Tahun Ini

“Harlah yang keempat ini memng berbeda dengan momentum harlah sebelum-sebelumnya, di samping empat tahun RSNU melayani, juga peneguhan komitmen untuk akreditasi pada tahun 2016 ini. Ini adalah harga mati bagi keluarga besar RSNU untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam rangka mengikuti akreditasi kas RSNU,” kata ketua penyelenggra harlah ke-4 RSNU Jombang, Minanurrahman saat ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Rabu (9/3).

Untuk itu, kata Minan, harlah ini juga sebagai salah satu usaha RSNU untuk menyemangati para karyawan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum dengan serius. Termasuk membuat standarisasi-standarisasi pelayanan yang maksimal terhadap mereka.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain itu, ia menyebutkan terkait rangkaian kegiatan yang disiapkan penyelenggara untuk menyemarakkan harlah tersebut, sekaligus untuk menyokong upaya-upaya RSNU dalam membangun rumah sakit yang berkualitas terutama dari aspek pelayanan.

“Ada beberapa rangkaian acara dalam harlah ini di antaranya jalan-jalan sehat bersama warga sekitar, khususnya pasien yang diberikan fasilitas RSNU. Sore hari kita ngaji bersama dan pada malam hari kita doa bersama ditujukan kepada pendiri-pendiri NU, pada saat itu kita undang PCNU Jombang, komisaris karyawan dan keluarganya untuk menyambung silaturahim,” tuturnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis (10/3), RSNU juga membuka donor darah yang bekerja sama dengan SERNU, PWNU Jawa Timur dan dr Soetomo. Tak hanya itu, rumah sakit ini juga telah menyiapkan seminar nasional tentang kulit. Hal ini untuk memberikan pengetahuan mendalam kepada seluruh dokter sepesialis kulit di RSNU setempat dan rumah sakit yang sudah menjadi target peserta.

“Tanggal 16 April kita gelar seminar nasional terkait dengan kulit, untuk pesertanya kita mengundang dari rumah sakit-rumah sakit baik di Jombang atau di luar Jombang, dan untuk pemateri kita mnghadirkan dari Perdoski (Pesatuan Dokter Ahli Kulit Indonesia),” tutupnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Pelawak Cak Lontong menguraikan pengalamannya bersinggungsn dengan tradisi, tokoh, dan warga NU. Menurut dia, orang NU itu santai, tidak ribet, dan bisa mengurusi dirinya sendiri. Dan tentu saja sangat kental dengan nuansa budaya.

Hal itu dikemukakannya beberapa saat sebelum tampil di peringatan Hari Lahir NU ke-91 di halaman gedung PBNU, Jakarta, 31 Januari lalu, sembari memilih batik NU yang cocok untuk dikenakannya.

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Berikut wawancara lengkap Cak Lontong dengan Abdullah Alawi dari Kedung Sukun Adiwerna Tegal:

Sejak kapan Anda mengenal NU?Saya dari dulu suporter NU memang, mulai zaman kuliah.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Maksudnya suporter itu bagaimana?

Oh iya, saya kan Gusdurian. Zaman Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU 1984-1999) lawan siapa dulu, Abu Hasan, zaman Orde Baru itu, zaman itu kan lagi rame-ramenya Gus Dur sama Orde Baru, penggemar Gus Dur, mulai itu. Tahun berapa itu?

Tahun 1994, Muktamar Cipasung

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Iya, betul, saya manut sampeyan. Sampeyan lebih tahu.?

Pada 1994 Anda berpihak ke Gus Dur, cara pandang Anda waktu itu bagaimana?

Sebenarnya kan tahun 1994 itu saya mahasiswa. Pada tahun 1994 itu tidak ada mahasiswa yang berpihak pada pemerintah. Kalau berpihak, berarti bukan mahasiswa, itu cari gelar. Kalau mahasiswa, tidak ada tahun segitu yang senang Orde Baru, tak ada. Nah, Abu Hasan kan produknya Orde Baru. Dulu kan melihatnya begitu.?

Yang menarik dari Gus Dur itu apa?

Secara kulturnya adalah orang Jawa, Jawa Timur, kulturnya tidak jauh-jauh. Terus humornya juga, selera humornya luar biasa. Gus Dur itu lawaknya universal sebenarnya.?

Sebelumnya 1994 sama sekali tidak mengenal NU?

Bukan sama sekali, saya kan kenal Gus Ipul (H Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur), sudah lama, rektor saya Pak Nuh, orang NU, dulu kuliah.

Oh ya, tadi Anda bilang sebagai supporter NU. Akan sampai kapan menjadi supporter NU?

Ya terus dong. Masa mau pindah ke MU.

Supporter dalam bentuk apa?

Apa ya, kalau orang merasa cocok, karena saya juga, satu, saya kan orang Jawa.

Masa kecil tidak pernah dengar NU?

Udah. Dulu saya punya topi banyak tak bordir, topiku dulu tak bordir NU kalau zaman SMA, kuliah topiku masih bordiran NU. Kecil di kampung tahlilan ikut, dzikir wida. Tetangga saya dulu modin.

Kesan bersinggungan dengan orang-orang NU bagaimana?

Nyantai, nyantai tidak ribet. Terus budayanya itu kental. Misalnya acara gini kan harlah NU, ulang tahun, nyantai aja peringatannya, walaupun Nahdliyin pada datang rame, tidak perlu nyari gedung harus penuh. Enak, ya nyantai. Menurut saya, orang NU itu bisa mengurus dirinya sendiri, tidak ngerepoti. Kalau ada acara, yang datang tak mau ngerepoti tuan rumahnya.?

Ada kritik untuk NU?

Wah, kalau itu saya tidak perlu.





Ke anak-anak Cak Lontong pernah memperkenalkan NU?

Oh anak saya tahu NU. Anak saya yang SMA dan SMP tahu NU. NU tahu. Walaupun tak jadi pengurus, tapi follower, tahu.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pemurnian Aqidah, Pondok Pesantren, Nasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania

Mafraq, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Fenomena pernikahan dini yang dilakukan para pengungsi Suriah di Yordania marak terjadi. Para perempuan usia belasan tahun dinikahkan orang tua mereka karena alasan ketidakpastian ekonomi dan ‘kehormatan’ anak-anak mereka yang rentan.

Keputusan mereka bukan tak berdampak negatif kepada para pengantin remaja ini. Kasus menjadi janda karena perceraian di usia yang muda dan kemiskinan tetap menyelmuti karena ketidaksiapan kedua mempelai, khususnya secara ekonomi.

Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania

Data sensus Yordania menunjukkan, kasus tersebut mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2015, perempuan yang menikah pada usia 13-17 tahun sebesar 44 persen dari total perempuan Suriah di Yordania. Jumlah ini naik dibanding tahun 2010 yang berkisar 33 persen.

PBB dan pemerintah Yordania menyebut perkembangan ini sebagai tren berbahaya, baik bagi pengungsi sendiri maupun negara yang ditempati.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pernikahan dini menyebabkan angka putus sekolah meningkat. Apalagi para gadis remaja itu umumnya menikahi pria yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya dan tanpa pekerjaan tetap. Selain melanggengkan kemiskinan, pernikahan usia dini juga potensial meningkatkan populasi penduduk. Pernikahan dengan sesama anak muda cenderung produktif menghasilkan keturunan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Ini berarti kita akan memiliki lebih banyak? penduduk, lebih banyak daripada yang dimiliki pemerintah Yordania," kata Maysoon Al-Zoubi, sekretaris jenderal Dewan Penduduk Tinggi Yordania, seperti dilansir AP, Selasa.

Data sensus November 2015 yang dikompilasi dengan studi terbaru memperlihatkan bahwa ada 9,5 juta jiwa yang tinggal di Yordania, termasuk 2,9 juta orang non-Yordania. Orang Suriah yang tinggal di sana mencapai 1.265.000 jiwa, jumlahnya berlipat ganda sejak konflik Suriah pada tahun 2011. Termasuk dalam jumlah orang Suriah ini adalah para buruh migran yang datang sebelum perang dan tak tercatat sebagai pengungsi. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Syariah, Humor Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an

Berbicara soal ulama tahfidz Qur’an, salah satu yang menjadi rujukan adalah KH Arwani Amin Said oleh lebih dikenal dengan panggilan Mbah Arwani. Para santri yang ingin menghafal Qur’an memiliki cita-cita untuk bisa belajar di pesantren Yanbu’ul Qur’an. Banyak pula yang sudah hafal tetap ingin ngalap berkah dan nyantri di pesantren ini.?

Cikal bakal pesantren dimulai pada 1942 setelah Mbah Arwani boyong dari Pesantren Krapyak Yogyakarta tempat ia belajar di bawah asuhan KH Munawir. Ketika pulang ke Kudus, ia mengajar di masjid Menara Kudus tetapi belum memiliki pesantren sendiri. Para santrinya masih bermukim di rumah warga. Baru pada 1970 berdirilah Pesantren Yanbu’ul Qur’an di dukuh Kelurahan desa Kajeksan Kudus dengan 45 santri lalu diikuti dengan pembangunan pesantren putri pada 1973 dengan jumlah santri 33 orang.

Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Fokus Menjadi Pesantren Tahfidz Al-Qur’an

Dengan pijakan kuat dan pengelolaan yang baik, meskipun KH Arwani telah meninggal, para penerusnya, yaitu tiga serangkai yang terdiri dari dua orang putranya KH Ulinnuha dan KH Ulil Albab dan didampingi seorang putra angkat, yakni KH Manshur MA mampu mempertahankan dan mengembangkan pesantren yang dirintisnya. Meskipun tetap fokus sebagai pesantren tahfidz Qur’an, tetapi kini ada 11 lembaga pendidikan dibawah yayasan Arwaniyah yang membekali para santri bukan hanya ilmu Qur’an, tetapi juga ilmu-ilmu lainnya yang sangat dibutuhkan saat bermasyarakat.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Gus Naim panggilan akrab dari Ahmad Ainun Naim, salah satu anggota keluarga Arwaniyah menjelaskan, perkembangan sejumlah lembaga pendidikan tersebut merupakan respon pesantren terhadap permintaan masyarakat, termasuk diantaranya pesantren tahfidz untuk anak-anak setingkat SD.?

Untuk bisa menghafal Qur’an lebih dari 6000 ayat bukanlah hal yang mudah. Karena itu, perlu sejumlah metode khusus untuk memudahkan hafalan. Di pesantren ini, metode yang diterapkan diantaranya adalah pertama musyafabah, yaitu ? metode tatap muka. Santri atau guru membaca yang kemudian disimak. Kedua adalah metode resitasi, yaitu guru menugaskan santri untuk menghafalkan ayat tertentu kemudian setelah hafal, dibacakan dihadapan guru. Ketiga, metode takrir, yaitu mengulang-ulang, kemudian membacakannya dihadapan guru. Selanjutnya ada metode mudarasah, yaitu para santri menghafal secara bergantian dan berurutan. Masing-masing membaca tugas hafalannya yang kemudian didengarkan oleh santri yang lain. Mudarasah bisa dilakukan per ayat, per halaman (mushaf yang digunakan adalah ‘mushaf pojok’, setiap pojok halaman adalah akhir ayat) dan (per seperempatan juz).

Metode-metode itu terbukti efektif untuk menghafal Qur’an. Gus Naim menerangkan, tahun lalu ada siswa kelas 2 SD yang sudah diwisuda karena sudah hafal 30 juz.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Gus Ainun Naim menambahkan pengelolaan pesantren tahfidz anak merupakan hal paling sulit dibandingkan dengan pesantren dewasa. Dunia anak merupakan dunia bermain dan mereka belum bisa berpikir secara matang sehingga perlu pendampingan yang penuh. Dalam hal ini, pesantren memberikan waktu bermain yang cukup buat anak-anak. Dalam waktu tertentu mereka juga diajak rekreasi ke luar. Pada kelas empat atau lima SD, sudah banyak santri yang mampu menghafal 30 juz secara baik. ?

“Ada target tertentu tetapi kita tidak memaksakan mereka, takut melukai emosinya,” paparnya.?

Pendirian pesantren tahfidz anak ini dilakukan pada tahun 1986 untuk memenuhi permintaan para wali santri yang sebelumnya mengirimkan anaknya di sebuah pesantren al-Qur’an untuk anak di Sedayu Gresik. Selain mengaji Qur’an, mereka juga bersekolah mengikuti kurikulum Kementerian Agama.

Tak mudah untuk bisa masuk karena tingginya jumlah peminat bisa sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan kapasitas yang tersedia. Untuk itu pesantren melakukan test terlebih dulu, diantaranya calon santri sudah bisa baca Qur’an atau belum serta tingkat kecepatannya dalam menghafal. Dalam hal ini calon santri ditunjukkan surat tertentu kemudian diminta mengulang-ulang berapa lama ia mampu menghafal surat tersebut.?

Setelah pengembangan pesantren tahfidz anak, yayasan Arwaniyah juga mengembangkan Pesantren Tahfidz Remaja Yanbu’ul Qur’an (PTRYQ) pada 1997 yang diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin melanjutkan belajar Qur’annya. Para wali santri menginginkan pesantren remaja agar hafalan Qur’an putra-putrinya tetap terpelihara.

Untuk pesantren dewasa yang pertama kali didirikan oleh Kiai Arwani, fokus kegiatan adalah hafalan Qur’an. Ada kajian kitab kuning, tetapi sifatnya hanya tambahan. Di pesantren dewasa juga dikaji Qira’ah Sab’ah (bacaan Al-Qur’an menurut 7 imam). Salah satu rujukannya adalah kitab Faidl al-Barakat fi Sabil al-Qira’at, karangan kiai Arwani sendiri.?

Gus Zaim menjelaskan, santri di Arwaniyah umumnya sudah memiliki ikatan emosional. Banyak orang tua yang mengirimkan anaknya karena sebelumnya merupakan alumni pesantren ini.?

Para alumni Arwaniyah kini sudah berkembang dan menyebar dimana-mana. Kalau dulu, mereka biasanya menjadi kiai, tetapi kini dengan berkembangnya zaman. Beragam profesi ditekuni sesuai dengan minat dan kesempatan yang ada. Para alumni juga menjadi ujung tombak penyebaran metode pembelajaran Qur’an Yambu’a.?

Para alumni juga masih aktif menjalin komunikasi dan silaturrahmi dengan pesantren melalui Mudarasah Selapanan (36 hari sekali). Untuk mudrasah selapanan tiap Jum’at pon digilir per kecamatan di Kudus bekerjasama dengan PCNU Kudus. Pertemuan rutin tahunan digelar tiap tanggal 24-25 Rabiul Akhir sekaligus memperingati haul KH M Arwani Amin. (Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nusantara, RMI NU, Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengingatkan kepada para pengurus di lingkungan Nahdlatul Ulama tentang dua aspek organisasi, yakni pemikiran (fikrah nahdliyah) dan gerakan (harakah nahdliyah). Menurutnya, keduanya menjadi garis atau pegangan yang harus dipedomani warga NU.

Pada aspek pemikiran, menurut Kiai Ma’ruf, NU memegang apa yang ia sebut dengan tawassuthiyah (moderasi), tathawwuriyah (dinamisasi), dan manhajiyah (metodologi). “Moderat artinya tidak terlalu tekstual, juga tidak terlalu liberal,” katanya saat membuka Rapat Kerja Nasional II yang diikuti seluruh pengurus harian lembaga dan badan otonom NU di auditorium gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (19/11).

Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU

Ia mencontohkan pemikiran para pengusung khilafah sebagai cara pandang tekstual yang menganggap seolah tak ada perubahan dalam sejarah kehidupan ini. Sebaliknya, orang-orang liberal menganggap semua berubah sehingga terkesan menggampangkan agama. “NU tak sepakat dengan pandangan ini. NU meyakini ada yang tsabitat (tetap), ada juga yang mutaghayyirat (berubah),”jelasnya.

Karena itu, NU adalah organisasi yang berpikir dinamis sebagaimana jargon al-muhafadhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Dalam proses dinamisasi tersebut, menurut Kiai Ma’ruf, NU harus berpedoman dengan metodologi atau manhaj.

Gerakan NU

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari sisi gerakan, jelas Kiai Ma’ruf yang juga ketua MUI pusat ini, NU mengedepankan himayah (perlindungan) dan ishlahiyyah (perbaikan). NU harus menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengedepankan sikap-sikap toleran, moderat, dan adil.

Ia juga mendorong NU untuk melakukan perbaikan-perbaikan. “Al-muhafadhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Menurut saya ini kurang inovatif, hanya menjaga dan mengambil,” katanya. Moto ini baginya mesti ditambah dengan al-ishlah ila ma ghairil ashlah (memperbaiki apa yang belum menjadi lebih baik).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Tapi yang lebih baik juga enggak seterusnya baik. Baik hari ini belum tentu baik nanti. Jadi harus ditambahi lagi ‘tsummal ashlah fal ashlah (perbaikan terus menerus),” katanya yang juga mengutip Imam Izzuddin Abdus Salam yang mengatakan bahwa orang yang mengabaikan inovasi berarti tak paham soal keutamaan perbaikan.

Kiai Ma’ruf menyebut garis-garis tersebut dengan sebutan mabadi nadhliyat (dasar-dasar ke-NU-an). Secara teknis dasar-dasar itu juga bisa dilakukan dengan merujuk Qanun Asasi, Khiththah Nahdliyah, dan produk-produk kesepakatan yang dihasilkan forum resmi NU seperti Muktamar dan Munas atau Konbes.?

La yunkaru fi mujma’ ‘alaih, tidak ada pengingkaran pada hal-hal yang sudah disepakati,” tegasnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sholawat, Sunnah, Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi

Kota Tangerang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Potensi radikalisme di Kota Tangerang cukup tinggi. Survei yang dilakukan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Tangerang, Banten, menyebutkan, 50 persen pelajar di Kota Tangerang setuju dengan negara Islam.

Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Potensi Radikalisme di Tangerang Dinilai Tinggi

Demikian disampaikan Muhammad Sarbini dalam Seminar Kebangsaan bertema “Nilai-nilai Kebangsaan dalam Menangkal Ideologi Radikalisme” di Aula STISNU Tangerang, Kamis (16/6) sore.

“Kami juga menemukan hasil yang mencengangkan. Tujuh puluh empat persen dari hasil survei pelajar di Kota Tangerang berpotensi pada radikalisme,” paparnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di samping itu Kombes Pol Ir H Hamli mengatakan, tindakan radikal dan terorisme sebanyak 45 persen itu dimotori ideologi agama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Sebagai warga NU harus berperan aktif dalam penyelamatan negara. Nilai-nilai kebangsaan sudah ada dalam beberap prinsip NU,” jelas Alumni PMII ITS.

Acara ini disertai dengan deklarasi angkatan muda Nahdlatul Ulama pengawal Pancasila dan NKRI. Wakil Ketua Bidang Akademik Muhammad Qustulani menjelaskan, STISNU berkomitmen untuk mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja dan Islam Nusantara dalam mendidik kader-kadernya.

“Kami berkomitmen untuk menyiapkan kader NU yang siap mengawal NKRI. Kami juga memberikan beasiswa kepada kader-kader NU yang kuliah di sini,” tegas alumni UIN Syarif Hidayatullah tersebut. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Hikmah, IMNU, Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB

Mataram, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat menyambut baik seminar LPBHNU NTB yang dihadiri Kepala BPN NTB, Kepolisian, dan pengadilan tinggi agama NTB ini. Pihak PWNU NTB berharap instansi terkait seperti BPN NTB dan pihak aparat untuk melakukan aksi nyata dalam menyelesaikan masalah pertanahan di Lombok dan sekitarnya.

Ketua PWNU NTB TGH Achmad Taqiuddin Mansur menyatakan terima kasih kepada para hadirin atas perhatiannya pada isu pertanahan di kawasan NTB. Taqiuddin Mansur menilai isu pertanahan merupakan persoalan masyarakat yang sangat krusial dan agak rumit.

PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB

“Kami berharap khususnya narasumber dan instansi terkait tidak berhenti sampai pada seminar, tetapi perlu ada tindak lanjutnya,” kata Taqiuddin Mansur di akhir seminar di aula kantor PWNU NTB jalan Pendidikan nomor 6 Mataram, Senin (16/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia juga mendukung inisiatif awal dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) NTB untuk mengangkat wacana pertanahan di NTB. Langkah konkret ke depan, kata Mansur, LPBHNU NTB perlu melakukan pendampingan di masyarakat soal pertanahan.

Sementara Ketua BPN NTB Budi Suryanto menyatakan siap menjalankan tugas sesuai undang-undang. Saat ini, menurutnya, ia baru menjajaki masalah pertanahan di NTB. “Saya baru 5 bulan tugas di sini.”

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia berjanji akan segera menyelesaikan persolan tanah dan melakukan pendekatan berbasis spiritual, secara kekeluargaan, dan sejenisnya. Kalau dengan cara ini juga buntu, penyelesaian secara hukum merupakan jalan terakhir.

“Karena BPN tidak berwewnang untuk memutuskan perkara hukum melainkan menerbitkan sertifikat jika sudah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Saya menekankan kepada jajarannya untuk manata ketertiban administrasi agar tidak ada sertifikat ganda,” tandas Budi. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Santri, AlaSantri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Seorang aktivis sastra pesantren asal Sumenep, Madura, Jatim mengemukakan bahwa pengembangan sastra di komunitas santri akan maksimal jika ada figur sentral yang memberikan teladan dalam dunia kepenulisan.

"Pengalaman saya selama bertahun-tahun membina santri menunjukkan seperti itu. Figur sentral itu yang bisa menggerakkan dan memotivasi santri untuk terus menulis," kata penggerak sastra dari Pesantren An Nuqoyah, Guluk-guluk, Sumenep, M Faizi Kaelan dalam temu sanggar sastra se Jatim di Surabaya, Senin.

Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral

Pada diskusi dan peluncuran buku antologi puisi penyair muda Jatim yang diselenggarakan oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) itu juga menghadirkan pembicara, dosen Unair Dr Putera Maunaba, Helmy Prasetya dari Bangkalan dan Alang Khoirudin dari Lamongan.

Menurut Faizi, pola pengembangan sastra di pesantren dengan mengedepankan figur sentral itu tergolong khas karena kemungkinan di komunitas lain tidak terjadi hal seperti itu. Figur sentral bisa befungsi sebagai pemancing ide yang bisa dikembangkan oleh santri asuhannya.

"Misalnya suatu ketika saya memberikan tantangan kepada siswa MTs atau setingkat SMP untuk menulis buku. Mereka tidak ada yang berani. Setelah saya sodorkan kerangkanya baru mereka mau tapi dikerjakan dua orang. Maka jadilah sebuah buku," kata pengajar bahasa di pesantren tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia bercerita, suatu ketika, dirinya juga memberikan tantangan kepada siswa MA atau setingkat SMA untuk menulis novel dan ternyata tantangan itu dijawab oleh siswa dengan menghasilkan dua novel.

"Konsekuensinya, figur sentral itu harus juga menulis sehingga kata-katanya ditiru oleh santri. Kalau figur sentral itu menyuruh santri menulis, tapi dia sendiri tidak pernah menulis, maka tidak akan diikuti," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut dia, kegiatan sastra di Pesantren An Nuqoyah temasuk semarak bahkan di lingkungan pendidikan tradisional dengan jumlah santri hingga 6.000 orang itu sudah memiliki banyak sanggar yang satu dengan lainnya saling berkompetisi secara positif.

"Antara sanggar satu dengan lainnya juga berlomba menerbitkan antologi sastra yang kemudian dibahas atau ada semacam pengadilan sastra setiap minggunya. Pengadilan sastra itu juga memacu para santri untuk terus menulis," katanya.

Dikatakannya, saat ini di pesantren itu juga sering menerbitkan karya-karya sastra yang kadang diketik secara manual kemudian diberi sampul yang disablon dengan biaya sendiri. Karena saat ini sudah ada komputer, maka proses pencetakannya sudah lebih baik dari sebelumnya.

"Untuk merangsang santri lain berkarya, kami sekarang menerbtkan indeks yang berisi profil para santri senior dan alumni yang menjadi penulis sastra. Dengan membaca indeks ini diharapkan santri-santri muda juga terpancing untuk berkarya," ujarnya.

Namun demikian, bukan berarti, perkembangan sastra di An Nuqoyah tidak mengalami hambatan. Libur panjang selama satu bulan lebih saat bulan Ramadlan menjadi kendala tersendiri, karena biasanya kekosongan selama libur itu juga ikut memacetkan karya mereka. "Setelah masuk kembali ke pesantren, kami harus memacu mereka kembali," katanya.

Sementara Putera Manuaba mengaku terkejut dengan potensi sastra di lingkungan pesantren maupun sanggar-sangar sastra di Jatim. Menurutnya, kekayaan sanggar itu adalah potensi yang membuat Jatim tidak akan kalah dengan daerah lainnya. (ant/san)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Aswaja Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kesan Para Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur di Ciganjur

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) angkatan kedua yang diselenggarakan Jaringan Gusdurian Jakarta pada 1-2 April 2017 lalu, berjalan lancar dan terbilang sukses. Para peserta mengikuti keseluruhan kegiatan dengan antusias. 

Leona Wirawan, gadis Bali mahasiswi di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera mengungkapkan rasa senangnya dapat mengikuti KPG 2.

Kesan Para Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Para Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Para Peserta Kelas Pemikiran Gus Dur di Ciganjur

“Ini pertama kali aku mengikuti Kelas Pemikiran Gus Dur. Jadi lebih memahami pemikiran Gus Dur tentang pluralisme, ke-Islam-an, dan lainnya. Apalagi  ke-Islam-an Gus Dur terkait dengan mata kuliah Hukum Islam di kampus,” tutur Leona. 

Gadis penganut agama Hindu itu pun menilai pemikiran Gus Dur tentang Islam, sangat relevan dengan ajaran agama yang diyakininya, karena pemikiran ke-Islam-an Gus Dur bukan mengutamakan salah satu agama tertentu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Gus Dur melihat esensi semua agama, jadinya ada nilai-nila yang dikedepankan yang itu semua juga dianut bersama dalam ajaran semua agama,” tambahnya.

Leona pun merencanakan akan lebih banyak membaca buku-buku tentang Gus Dur. “Memperdalam melalui literasi, supaya lebih memahami lewat buku dalam kehidupan sehari-hari bisa lebih toleran dengan teman-teman dari suku atau agama yang berbeda,” harapnya.

Senada, Teo Cosner Tambunan, pemuda Medan yang kini bekerja di sebuah kantor hukum mengungkapkan dirinya sangat mengagumi sosok Gus Dur.

“Beliau (Gus Dur) mempunyai nila-nilai utama yang sudah dikristalkan (Sembilan Nilai Utama Gus Dur), dan itu ada di semua ajaran agama. Saya sangat mengagumi beliau, melihat pola pikir beliau, tentang kebangsaan ke-Indoensia-an. Itu saya rasa levelnya lebih tinggi dibandingkan orang atau tokoh lainnya,” kata Teo.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia pun menilai nilai ke-Islam-an Gus Dur sangat relevan bagi semua agama.

“Islamnya Gus Dur menghargai kemanusiaan. Ini harus ditularkan kepada semua agama. Gus Dur juga mengajarkan nila-nilai ke-Indonesia-an yang mencintai budaya. Bahwa walaupun beragama jangan meniru kebudayaan bangsa lain, karena kebudayaan Indonesia sudah sangat kaya, jadilah Indoensia sejati,” papar Teo.

Teo yang menganut keyakinan Kristen Protestan, berencana akan menularkan hasil dari KPG 2 kepada teman-temannya melalui dialog. Ia pun berharap KPG bisa diadakan di Bandung, tempat tinggalnya saat ini.

Cahyu, gadis Depok alumni Universitas Gunadarma menilai KPG sangat baik. Ia berharap ada lebih banyak forum seperti KPG.

“Kalau anak-anak muda mengikuti kajian seperti di KPG ini mereka akan punya bekal tidak saja senjata, tetapi juga peluru. Misalnya ketika kita menghadapi orang-orang yang punya kecenderungan intoleransi atau punya pemikiran keras, kita bisa berdialog dengan mereka. Kita tegaskan bahwa yang harus kita lakukan adalah untuk Indonesia, dan bahwa Islam sangat menganjurkan rahmatan lil alamin,” urai Cahyu.

Cahyu mengatakan hasil dari KPG akan didiskusikan dengan teman-temannya. “Diskusi dengan orang per orang, agar minimal mereka tidak resisten terhadap keyakinan orang lain. Supaya mereka lebih toleran dan meningkatkan solidaritas kepada sesama,” kata Cahyu. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Kajian, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin

Banda Aceh, Kedung Sukun Adiwerna Tegal 

Sebelum keberangkatan untuk menjelajah Islam di Aceh, tim Ekspedisi Islam Nusantara melakukan doa bersama dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu dini hari (30/4). 

Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Ekspedisi Islam Nusantara Minta Doa Nahdliyin

Kemudian secara khusus, ia mewakili rombongan berjumlah 25 orang tersebut, meminta doa kepada warga NU agar ekspedisi ini lancar dan selamat di perjalanan. Serta membuahkan hasil yang bermanfaat tidak hanya untuk warga NU tapi untuk Islam Indonesia. 

Menurut dia, selama perjalanan di pulau Jawa, tim Ekspedisi Islam Nusantara selalu meminta doa kepada kiai, santri-santri, pengurus NU untuk kesuksesan ekspedisi ini karena doa merupakan senjata orang mukmin.

Saat ini Senin (2/5), Ekspedisi Islam Nusantara telah melakukan penjelajahan selama 32 hari. Dua hari di antaranya berada di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tim ini dilepas dan didoakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon Jawa Barat pada (31/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ini baru separuh perjalanan,” kata Imam Pituduh, “sehingga penjelajahan ini masih sangat panjang. Jadi, mohon doanya kepada segenap nahdliyin akan kesuksesan ekspedisi ini,” tambahnya.

Ekspedisi Islam Nusantara setelah selesai di pulau Jawa, akan menjelajah 5 provinsi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Kyai, Tokoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

PBNU Berharap Rakyat Mesir Tekankan Dialog

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berharap agar berbagai kelompok masyarakat di Mesir yang sedang bersengketa melakukan dialog dalam penyelesaian masalah, tidak dengan menggunakan cara-cara kekerasan dan pemaksaan kehendak.

“Untuk menghindari kehancuran Mesir, semua pihak harus mau berdialog. Kami berharap lembaga-lembaga internasional seperti OKI, PBB, termasuk pemerintah Indonesia dapat memfasilitasi dialog ini,” katanya, di gedung PBNU, Senin (19/8).

PBNU Berharap Rakyat Mesir Tekankan Dialog (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Berharap Rakyat Mesir Tekankan Dialog (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Berharap Rakyat Mesir Tekankan Dialog

Ia sangat menyesalkan penggunaan kekerasan oleh pihak militer Mesir dalam konflik politik tersebut. “Dalam perang pun, ada aturannya bagaimana berhadapan dengan musuh. Ini rakyat sendiri dan sama-sama Muslim kok saling bunuh-bunuhan,” tandasnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kejadian tersebut menurutnya sangat memalukan. “Wajah Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi peradaban tercoreng dengan kejadian seperti itu,” imbuhnya. 

Apalagi, mengingat Mesir merupakan pusat kebudayaan Islam yang paling maju diantara negara-negara Muslim lainnya. Di situ terdapat Al Azhar yang selama beberapa abad telah mendidik dan melahirkan para ulama di seluruh dunia. Namun, faktanya, mereka sendiri tidak dapat menyelesaikan persoalan internal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di sisi lain, ia juga tidak setuju dengan cara-cara Ikhwanul Muslimin ketika memerintah yang ingin menguasai seluruh sektor kehidupan masyarakat. Dalam hidup berbangsa dan bernegara, harus mempertimbangkan aspirasi semua pihak. Hal ini menjadi bagian dari timbulnya konflik besar ini. 

Ia juga menegaskan, dirinya tidak mendukung Mursi, sebagaimana dipelintir oleh sebuah website para pendukung salah satu kelompok yang bertikai di Mesir yang ada di Indonesia. 

“Saya tidak mendukung salah satu kekuatan politik, tetapi lebih pada mendorong bagaimana penyelesaian masalah secara beradab, tidak dengan menonjolkan kekerasan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya. 

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Sunnah, Pondok Pesantren, AlaSantri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Kapolri Akan Hadiri Dialog Kebangsaan Ulama Se-Banten

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Kapolri Jenderal Tito Karnavian direncanakan menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Kebangsaan Ulama se-Banten, Rabu (8/2) besok di Pondok Pesantren Annawawi, Tanara, Kabupaten Serang. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Halaqoh Ulama se-Banten.

Menurut penanggung jawab acara, Ngasiman Djoyonegoro, selain Kapolri, narasumber lainnya adalah Dewan Pakar Incepedia Prof Muhammad Baharun dan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Staquf.?

"Rais Aam PBNU KH Maruf Amin keynote speaker. Peserta adalah para ulama se-Banten, pengasuh pondok pesantren," kata Ngasiman yang akrab dipanggil Simon, Selasa (7/2). ?

Kapolri Akan Hadiri Dialog Kebangsaan Ulama Se-Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri Akan Hadiri Dialog Kebangsaan Ulama Se-Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri Akan Hadiri Dialog Kebangsaan Ulama Se-Banten

Menurut Simon, dialog kebangsaan ini berangkat dari respon terhadap euforia kebebasan informasi dan berpendapat yang kini muncul di tengah-tengah masyarakat. Euforia tersebut menurutnya seringkali berubah menjadi wahana dekonstruksi sosial, politik, ekonomi yang jika dibiarkan bisa saja mengarah pada dekonstruksi ideologi negara.

Pancasila sebagai ideologi benar-benar dihadapkan dengan ideologi global-transnasional, yang menurut Simon secara sedang mengalami booming akibat situasi terkini yang penuh dengan gejolak.

Ia menuturkan, di sisi lain, ada yang mulai terpengaruh dengan gerakan relijius neo-konservatif, kemudian banyak yang terjebak dengan pragmatisme hedonis sehingga tidak ada waktu untuk berfikir tentang tantangan kebudayaan dan kebangsaan ke depan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Dialog kebangsaan ini akan mencoba meramu gagasan atas respon kebudayaan dan kebangsaan ke depan tadi," tegasnya.

Sebagai organisasi Islam terbesar, NU merupakan bagian yang turut serta membidani lahirnya NKRI, dituntut perannya untuk memberikan solusi pemikiran atas situasi kebangsaan terkini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hadir dalam kegiatan Dialog Kebangsaan, Kapolda Banten Brigjen Polisi Listyo Sigit Prabowo, dan Ketua PWNU Banten, Profesor Sholeh Hidayat, yang juga Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang. (Aras Prabowo/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock