Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan

Subang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Subang menggelar pertemuan Halal Bihalal di pesantren At-Tawazun, Kalijati, Subang, Rabu (13/8). Pertemuan yang dihadiri ratusan warga ini, melibatkan sejumlah komponen warga mulai dari jajaran perangkat kabupaten, Kemenag Jabar, jajaran Muspida, dan elemen pemuda di kabupaten Subang.

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Rekatkan Persatuan Kebangsaan

Tampak hadir dalam pertemuan ini Bupati Subang Ojang Sohandi, Wakil Bupati Imas Aryumningsih, Kepala Kankemenag Jabar Ahmad Bukhori.

Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah mengatakan, Halal Bihalal cukup mengakar bagi masyarakat Indonesia, terlebih lagi Nahdliyin. Halal Bihalal menjadi sebuah mmomentum penting untuk meneguhkan simpul-simpul masyarakat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kendati hari ini ada isu-isu yang bertentangan dengan kaidah agama dan ideologi kebangsaan, NU tetap konsisten mengawal cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi kami, siapapun yang merongrong keutuhan NKRI, secara otomatis layak dijadikan musuh bersama,” kata Kiai Musyfiq.

Sementara Ojang menyatakan apresiasinya atas pertemuan kebangsaan yang digagas PCNU Subang. Menurut dia, solidaritas dan persaudaraan kebangsaan yang dimiliki NU merupakan bagian dari implementasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Karenanya, semua elemen masyarakat dari kalangan ulama, umaro, orang kaya, dan orang miskin, merupakan satu kesatuan di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk ini,” kata Ojang.

Tampil sebagai penyampai taushiyah dalam pertemuan ini ialah Ketua Asosiasi Bina Haji dan Umroh Nahdlatul Ulama KH Manarul Hidayat. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Hikmah, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Salamun Rabu Wekasan

Oleh Abdullah Zuma

Gelar sarjana telah di pundakku beberapa bulan lalu dari perguruan tinggi di ibu kota. Ijazahku nilainya bagus-bagus. Aku sudah ditawari bekerja di beberapa perusahaan. Namun aku menundanya untuk istirahat dulu di rumah beberapa bulan untuk membicarakannya dengan ibu. Meski demikian, ternyata gelar sarjana itu tak berguna untuk sekadar masuk ke ruang depan di rumah orang tuaku sendiri. Aku sudah berkali-kali membukakan pintunya, tapi selalu urung. Seolah ada kekuatan yang menolakku, mendorong untuk mengatupkan daun pintunya kembali, perasaan bersalah yang besar.

Salamun Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Salamun Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Salamun Rabu Wekasan

Suatu sore, aku menatap pintu ruangan itu sambil duduk di kursi sembari menikmati kopi dan singkong rebus yang disuguhkan ibu. Tapi rasanya tawar. Pikiranku melayang-layang pada pintu itu, ruangan itu, isinya, dan pada almarhum ayahku yang meninggal setahun lalu.

Belum sempurna lamunan, pintu rumah ada yang mengetuk, uluk salam, dan langsung mendorong pintu. Di ambang telah berdiri tetangga dengan tangan menggenggam piring putih kosong. Piring itu menambah mumet pikiran. Bahkan aku merasa piring itu langsung dilemparkan ke kepalaku.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Aku tak menjawab salam orang itu. Malah pergi ke kamarku kemudian mengunci pintunya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ini pasti Rabu wekasan,” jeritku dalam hati. Aku menangis sesunggukan di dalam kamar. Pikiranku kembali melayang-layang kepada ayah. Wajahnya, ubannya, pecinya, tasbihnya. Perkataan-perkataannya, saat-saat bersamanya bermunculan satu per satu. Begitu jelas.     

***

Ayah mengambil sebuah kitab lusuh agak tebal dari lemari jati yang tampak masih kokoh. Di lemari itu berderet kitab-kitab lain. Kitab yang tebal menyatu dengan yang tebal. Begitu pula yang kecil. Ada juga yang kelihatannya masih baru. Rata-rata kitab yang jilidnya tipis dilapisi dengan sampul. Ada yang dengan koran, bekas almanak dan ada yang memang benar-benar sampul.

Ayah menyebut benda-benda itu dengan kitab kuning. Padahal menurutku, tidak kuning. Bahkan kitab yang baru diambilnya sudah berwarna coklat muda. Pinggir-pinggir halamannya sudah keriting seperti milikku ketika setahun dibawa pulang pergi ke madrasah tanpa tas. Mungkin tokonya sudah lupa menjual kitab itu karena pembelinya saja, ayahnya ayah, telah almarhum.

Kemudian ia membuka jilidnya dengan perlahan seolah tidak ingin ada suara mengikutinya. Di jilid bagian dalam itu tampak tinta hitam tulisan tangan berbahasa Arab, berbaris rapi. Setiap baris tulisan diakhiri angka dengan huruf Arab juga. Ia meraba tulisan-tulisan itu sampai berakhir di satu barisan. Lalu membuka halaman-halaman dengan perlahan. Dan berhenti di angka sesuai akhir baris tulisan di jilid tadi. Ternyata ia tidak memulai dari daftar isi, melainkan dari catatan itu. Entah ayah yang membuatnya atau kakek karena konon ketika ayah nyantri, menggunakan kitab-kitab kakek.    

Di halaman itu, tampaklah rimba semut hitam kaku. Semut-semut itu kadang terjalin dalam satu susunan kalimat, ada juga yang sendirian. Di pengajian malam Jumat bersama bapak-bapak dan Jumat pagi bersama ibu-ibu, berdasarkan semut-semut itu, ayah bisa bercerita tentang para nabi atau sahabat dan para sufi, hukum-hukum yang rumit, perkataan-perkataan ulama, atau kisah-kisah orang alim. Ia bisa membacanya dengan lancar seperti orang kota membaca koran karena di saat senggangnya, ia sering sendirian terpekur di hadapan benda itu di ruangan paling depan rumahku.

Tapi bagiku, jangankan bercerita, melihatnya saja bikin mata kunang-kunang.

"Suatu saat, semut-semut ini harus bicara kepadamu," kata ayah. Dia memberi tekanan pada kata “harus”.

"Bicara? Bagaimana caranya, Ayah?"

"Kau harus belajar nahwu dan sharaf.  Untuk bisa seperti itu, kamu harus nyantri. Ayah nyantri. Kakekmu nyantri. Ayahnya kakekmu juga.”

Aku diam.

“Sore ini Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah,” lanjut ayah sambil mengeluarkan pena bertinta jafaron  yang warnanya kemerahan. Kemudian memanggil ibu di dapur untuk membawakan piring.

Ibu dan kedua adikku datang. Ia menyerahkan piring putih berukuran besar. Kami mengerubungi ayah. Fokusnya kepada pena di atas piring.

“Buat apa Ayah nulis di piring? Apa Ayah sudah tidak punya buku? Aku masih punya,” kata adikku yang pertama, berusia 6 tahun. Ayah tidak menanggapi. Adikku langsung ngeloyor pergi ke kamarnya. Ketika kembali, ia sudah menyodorkan bukunya. Tapi diambil ibu yang langsung membisikkan sesuatu di telinganya. Adik kemudian diam dan memerhatikan ayah. Kami tak ada yang bicara. Termasuk si bungsu.

Tatapan kami tetap seperti semula, ke tangan ayah yang mulai bekerja, mencipta huruf dan rangkaian huruf Arab di atas piring dengan rapi sebagaimana aku lihat di halaman-halaman Al-Qur’an. Ukurannya menurutku seimbang. Selintas, sebagaimana di kitab kuning itu, huruf-huruf itu nyaris seperti barisan semut-semut, cuma bedanya yang ini berwarna merah. Juga barisannya tidak lurus, melainkan berputar ke dalam seperti lingkaran obat antinyamuk bakar.

Ayah terus menulis dengan khusuk. Kami khusuk juga memerhatikannya. Semakin lama, semut-semut yang berbaris melingkar itu semakin berdesakkan. Kemudian tangan ayah berhenti persis di tengah-tengah piring. Dia meletakkan pena itu. Dan semut itu pun berhenti seolah jalan yang akan dilewatinya tercegat.

"Kamu tahu Al-Qur’an berapa juz?” tanya ayah kepadaku.

“Tiga puluh juz, Ayah.”

“Berapa surat dan berapa ayat?”

"Seratus empat belas ayat, dan enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat.”

"Nah, dalam ayat sebanyak itu, perlu kamu ketahui, dalam Al-Qur’an ada 7 ayat yang dimulai kata salamun. Salah satunya ada dalam surat Ya-Siin yang sering kita baca tiap malam Jumat. Kamu ingat?”

“Ingat, Ayah.”

“Coba bacakan!”

“Salamun qaulam mirrabi rahim”.

“Coba apa artinya?”

Aku menggeleng kepala. Aku merasa ayah berlebihan meminta arti ayat kepada anak seusiaku. Ayah-ayah temanku sedesa, mungkin juga sekecamatan, sore itu dan sore-sore yang lain, tak mungkin ada yang bertanya arti ayat kepada anak kecilnya. Sementara ayah menatapku lekat-lekat. Inilah ayahku. Kalau pertanyannya tak terjawab, biasanya marah-marah, setidaknya melotot. Konon kakek dan buyutku juga seperti itu. Pertanyaannya selalu harus berjawab. Jika tidak bisa, membentaklah ia. Apalagi jika pertanyaan itu sudah biasa, ayah sering menghadiahi sapu lidi. Mau berlindung sama ibu adalah sia-sia. Karena ibu selalu berada di pihak ayah. Sedari ingat, aku diajari membaca dan menghafal tiap malam diakhiri dengan tangisan. Ayah dan ibu seolah tak puas kalau aku belum menangis. Beberapa bulan lalu, aku dimintannya mentashrif sebuah fi’il mudlari.  Aku lupa, makanya dimarahi habis-habisan sampai mencucurkan air mata.

Kemudian ayah mengguyurkan sedikit air putih dari ceret ke piring itu. Lalu menghapus-hapus dengan telunjuknya. Sekarang airnya kemerahan. Adikku yang pertama, tanpa komando, hendak turut menghapus dengan telunjuknya juga. Tapi tangan ibu keburu menahannya. Adik bungsu meronta-ronta di pangkuan ibu, sepertinya ingin turut berpartisipasi menghapus juga.  

Kemudian air itu dimasukkan kembali ke dalam ceret. Dan di piring itu tak ada satu pun semut yang tertinggal.  

“Ini adalah Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar,” kata ayah, “kalian harus meminum air ini. Guyurkan juga ke dalam bak mandi dan sumur, juga ke kolam di depan kobong. ”

“Kenapa begitu, Ayah?”

“Kamu akan tahu penjelasannya kalau kamu sudah bisa membaca kitab ini,” katanya.

Tak lama setelah itu, beberapa orang tetangga uluk salam dan mengetuk pintu. Mereka membawa piring sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Kemudian ayah menulis di piring itu seperti tadi. Ketika ada yang datang lagi, ayah berbuat serupa. Namun, ketika menjelang maghrib, tetangga yang datang disuruhnya mengambil air dari sumur di dapur untuk dibawa pulang kemudian disatukan dengan air sumur dan minum walaupun setetes.

“Dulu mah para santri juga ikut meminta salamun ,” kata ayah seolah berbicara kepada dirinya sendiri. Sekitar lima tahun lalu, di kobong masih ramai dengan santri. Bahkan sejak zaman buyutku. Tak pernah kurang dari 30 santri yang tinggal. Sedikit memang, tapi tak pernah kering. Mereka berasal dari desa dan kecamatan tetangga. Bahkan pada generasi awal, banyak yang dari luar kabupaten. Namun sekarang tinggal beberapa santri kalong.  Santri tua telah pulang dan menikah, sementara anak-anak generasi baru, tak kerasan tinggal. Alasannya macam-macam.

“Dulu, menurut kakekmu, salamun ini disimpan di saku para santri ketika menghadapi tentara Belanda datang ke desa sini. Buyutmu yang membuatnya, dituliskan dalam selembar kertas,” lanjut ayah bercerita. “Begitu juga ketika datang tentara Jepang, giliran kakekmu yang membuatnya. Tidak hanya para santri yang membawanya, tapi gerilyawan. Sekarang ayah. Kelak seharusnya kamu. Salamun itu tolak bala. Menurut kitab ini, Allah menurunkan berbagai macam penyakit di akhir bulan Safar. Nah, salamun itu tolak balanya, ” jelasnya.

Kami tak ada yang berbicara. Adikku yang pertama pergi setelah meneguk segelas air. Kemudian berlari. Lamat-lamat terdengar suaranya agar meminum salamun entah kepada siapa. Sementara si bungsu menelusup ke dada ibu.   

“Zaman kakekmu, kobong itu dibakar Jepang karena mereka mengetahui tempat itu jadi persembunyian gerilyawan. Rumah kakekmu juga dibakar. Termasuk seluruh kitab kuningnya. Tapi santri selamat semua. Seluruh penduduk kampung mengungsi ke hutan. Sekembali dari pengungsian, kakek tak henti-hentinya menangisi kitab-kitab itu. Ketika zaman telah merdeka, santri berdatangan lagi. Tapi berbulan-bulan dia tak mengajari mereka. Ia masih sedih dengan kitab-kitab itu. Ia mau mengajar lagi ketika datang surat dari gurunya. Sedikit demi sedikit, ia membeli kitab. Semuanya masih terjaga di lemari jati itu. Sementara yang baru-baru, ayah yang beli. Kelak setelah tiada, kaulah dan adik-adikmu pemiliknya.”         

Enam bulan setelah ayah menulis salamun itu, selepas lulus SD, aku dikirimnya ke sebuah pesantren di kota kabupaten. Ayah menyuruhnya nyantri sambil sekolah, dan jangan dibalik. Tapi kenyatannya memang terbalik. Aku sekolah sambil nyantri. Pelajaran di sekolah lebih aku geluti daripada kitab-kitab kuning itu. Aku malas ngalogat  apalagi mutholaah.  Dan tak pernah bertanya apabila ada yang tidak mengerti kepada santri senior, apalagi langsung ke ajengan.  Karena itulah aku sering kena ta’jir.  

Pelajaran di pesantren aku rasa tidak menarik sama sekali dan suasananya juga tidak asyik. Dari hari ke hari aku makin tidak kerasan dan sering menginap di rumah teman sekelas di sekolah. Semakin bertambahlah ta’jir untukku. Makin berlipat-lipat juga ketidakbetahanku.

Ketika ayah mengetahui hal itu, aku pasrah mau dimarahi dengan cara apa pun. Aku kaget karena ternyata ayah tidak marah, melainkan diam. Namun pandangannya ke arah lain. Ada sesuatu di muka ayah yang coklat dan mulai keriput itu, entah apa namanya. Karena tidak ada reaksi, hal itu malah membangkitkan keberanianku untuk meminta sekolah saja. Ayah lagi-lagi diam. Di muka itu aku makin melihat ada bahasa yang panjang tapi tak diungkapkannya. Tapi herannya itu tak menjadi perhatianku karena keinginan hengkang dari pesantren terbuka. Ayah lalu bangkit tanpa sepatah kata pun.

Kelak, aku mengingatnya sejak itu, ia jadi pendiam.

Meski tak mendapatkan izin secara lisan, aku menafsirkan ayah mengabulkan keinginanku. Aku tinggal di kosan bersama teman lain yang berasal dari desa. Kesempatan itu aku manfaatkan sebaik-baiknya dengan belajar giat. Biaya sekolah aku ambil sebulan sekali melalui pintu dapur. Ketika aku mau berpamitan, ayah selalu tiada, seolah menghindariku.

Selepas lulus, perjuanganku tidak sia-sia, aku mendapatkan beasiswa di perguruan negeri di ibu kota. Jurusan kupilih sendiri tanpa bermusyawarah dengan ayah. Dan kini aku jadi sarjana, tapi melihat piring kosong saja pergi, apalagi membuka perpustakaan kitab-kitab kuning ayah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Sunnah, Tegal, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Keadilan dan Pemimpin yang Adil

Rasulullah Pernah bersabda "Satu waktu nanti akan tiba atas umatku penguasa seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?"

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Yang Maha Adil dengan menhindarkan diri dari kedhaliman dan berusaha mendekatkan segala keputusan kita pada keadilan. Walaupun itu bukanlah perkara yang sulit. Sesungguhnya demikianlah perintah Allah dan Rasul-Nya.

Keadilan dan Pemimpin yang Adil (Sumber Gambar : Nu Online)
Keadilan dan Pemimpin yang Adil (Sumber Gambar : Nu Online)

Keadilan dan Pemimpin yang Adil

Adil adalah kata sifat yang dapat dimaknai dengan bertindak sebagaimana mestinya, tidak berat sebelah dan tanpa keberpihakan. Adil adalah memberikan hak kepada pemiliknya, baik hak itu bersifat ganjaran bagi yang berjasa maupun hukuman bagi yang bersalah.

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kata adil dalam bahasa Indonesia seolah tinggal kenangan. Bagi bangsa ini sekarang, adil terkesan mewah dalam realita kehidupan. Popularitas kata adil pada saat ini masih jauh berada di bawah kata android, Iphone, caleg, partai dan lain sebagainya. Begitu pula adanya berbagai lembaga yang berkutat dalam hal putusan dan keadilan sama sekali tidak dapat memposisikan kata adil pada tempatnya, bahkan terkesan membelokkan makna adil itu sendiri.

Padahal adil adalah barang murah, adil tidak perlu dibayar mahal seperti halnya short curse atau studi S1, S2 atau S3. Karena potensi adil selalu terkandung dalam diri tiap insan sebagai pengejawantahan sifat Allah swt ‘al-‘adilu. Adil adalah kekayaan alami yang terkandung dalam diri setiap individu yang hanya memerlukan modal kemauan saja untuk menghadirkannya. Adil bagaikan barang tambang dalam bumi Indonesia yang telah lama tersedia, bahkan semenjak bumi pertiwi ini belum dinamai Indonesia. Kemauan adalah kunci membuka gudang keadilan.

Oleh karena itu, dalam usahan merealisasikan potensi adil yang terkandung dalam diri individu inilah perlu latihan dan pembiasaan. Adil harus diterapkan dalam lingkup kehidupan paling kecil, dari individu, keluarga, dan dari pemerintahan tingkat RT hingga tingkat pusat. Sehingga para bapak bangsa ini menjadikan konsep “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagai salah satu dari Pancasila sebagai Dasar Negara.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jam’ah jum’ah yang berbahagia

Dengan demikian keadilan menjadi salah satu basicstruktur yang harus ada di Indonesia. Dengan bahasa lain Keadilan merupakan masalah ushuliyah yang keberadaannya sudah merupakan barang pasti yang tidak bisa diganti dengan yang lain, apabila bangsa ini ingin lestari. Bukankah demikian peringatan Allah kepada Nabi Daud yang tergambar dalam surat as-shad ayat 26:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.?

Sudah jelas kiranya janji Allah dalam ayat tersebut. Bahwa keadilan adalah syarat mutlaq seorang pemimpin, karena keadilanlah yang akan menentukan arah keberlanjutan sebuah bahngsa. Demikian pentingnya keadilan hingga ada sebuah cerita tentang seorang darwis? yang dimintai pendapat tentang pemimpin yang dhazilim.

?

Sadi bercerita; Alkisah, Seorang raja yang zalim berkenan memanggil seorang darwis ke istananya untuk memberi nasihat. Ketika sufi itu datang, Raja Zalim berkata, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti?"

?

Sang darwis menjawab, "Amal terbaik untuk baginda adalah tidur." Raja itu kehairanan, "Mengapa?" "Karena ketika tidur," jawab sufi itu, "baginda berhenti menzalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kezaliman."

?

Namun manusia adalah insan yang sering lalai dan mudah tergoda dengan berbgai bujuk rayu setan yang menyesatkan. Karenanya hampir dalam setiap jangkah kehidupan ini kedhaliman hadir menggantikan posisi keadilan. Begitulah hingga Rasulullah saw pernah bersabda:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Akan tiba satu waktu kepada umatku penguasanya seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?

Apakah maksud penguasa seperti singa dalam konteks hadits ini? tidak, singa ditamsilkan dalam hadits ini bukan dalam hal keberanian, tapi dalam hal kerakusannya. Singa selalu saja memburu makanan dan demi kepentinga pribadi dan golongannya. Sementara serigala terkenal dengan sifat culas, gesit, dan licik. Ia bisa menggunakan berbagai cara demi menghasilkan buruan walaupun dengan jalan tidak ksatria. Adapun anjing yang suka menjilat pandai sekali menyembunyikan kebuasannya dibalik kejinakan yang dimilikinya. Begitulah Rasulullah saw menerang keberadaan umatnya. Apakah massa yang dimaksud dengan hadits tersebut telah tiba? Wallahu a’lam bis shawab.

Hadirin Rahimakumullah

Hanya saja sebagai garis petunjuk adalah? surat An-Nisa’ ayat 135 haruslah dipegang seorang pemimpin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia[361] kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Demikianlah khotbah singkat kali ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Ya Allah kami sungguh bersyukur atas potensi keadilan yang kau berikan kepada kami, tetapi kami sadar keadilah bukanlah hal yang mudah kami realisasikan. Namun dengan kebesaran-Mu apa susahnya Kau mudahkan keadilan itu hadir pada kehidupan kami ya Allah..

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Oleh Nur Rohman Suwardi

Filantropi atau kedermawanan sudah menjadi roh dari kebangkitan ulama yang lahir sejak 1926, dengan nama Nahdlatul Ulama. Perjalanan ormas Islam terbesar di dunia ini dibiayai oleh kedermawanan dari para anggota atau simpatisan Nahdliyin. Kedermawanan yang dalam istilah Islam disebut dengan zakat, infak, atau sedekah, menjadi kekuatan penunjang prinsip pokok dalam perjuangan Nahdlatul Ulama.

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Zakat sebagai rukun Islam dan tiang dalam agama Islam mempunyai peran yang sangat vital. Islam dan perjuangan para pengggerak Islam akan kuat jika kedermawanan masih dijalankan oleh para pemeluknya. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an tentang sinergi antara rukun shalat dan zakat dalam mengatasi persoalan hidup. Zakat dan shalat menjadi tawaran solusi dahsyat? yang Allah berikan kepada hambanya. Zakat sebagai penjaga hubungan dengan manusia dan shalat sebagai penjaga hubungan dengan Allah secara vertikal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perjalanan filantropi Islam di Nahdlatul Ulama secara konsisten didakwahkan dan disosialisasikan dan ini menjadi komitmen semua warga Nahdliyin dalam memeluk ajaran Islam sampai sekarang. Kebangkitan zakat dan gairah perzakatan di Indonesia pun tumbuh. Atas dasar Undang-Undang Zakat nomor 38 tahun 1999, lembaga amil zakat, infak dan sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Donoyudan Solo tahun 2005. Dari situ perkembangan filantropi Islam di tubuh Nahdlatul Ulama juga mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Perjalanan lembaga filantropi di Nahdlatul Ulama yang dinamakan LembagaAmil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) mengalami perkembangan dari waktu ke waktu semenjak didirikan secara resmi di Muktamar Donoyudan Solo, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Fathurrahman Rouf. Sebagai lembaga baru di tubuh Nahdlatul Ulama, LAZISNU sudah mengumpulkan rata-rata Rp800 juta per tahun, dari tahun 2004 sampai dengan 2010.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perkembangan mulai dirasakan ketika fase kedua setelah Muktamar di Makassar, LAZISNU dipimpin oleh KH. Masyhuri Malik, pada perkembangan di era ini LAZISNU berkembang dengan performa manajemen yang lebih modern. Potret yang bisa kita lihat dari perolehan LAZISNU setiap tahunnya di rata-rata Rp6 miliar dimulai dari 2010 sampai dengan 2015.

Kemudian selepas Muktamar ke-33 NU di Jombang, LAZISNU dipimpin oleh Syamsul Huda SH Harus berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena beban yang harus ditanggung sebagai Lembaga Zakat Nasional. Lembaga Zakat Nasional seperti LAZISNU harus mampu mengumpulkan perolehan fundraising minimal Rp50 miliar. Tapi alhamdulillah pada awal 2016, beban yang diwajibkan kepada LAZISNU dalam perolehan minimal satu tahun Rp50 miliar sudah terpenuhi. Sekarang, saatnya LAZISNU yang melakukan rebranding NU CARE-LAZISNU harus mengerakkan spirit NU dalam kesadaran “berbagi bagi sesama.”

Sosialisasi tentang pentingnya filantropi selalu digalakkan sampai sekarang. Filantropi berbeda dari charity. Filantropi lebih terlihat sebagai gagasan yang terstruktur dan teratur ketimbang hanya memberi kepada yang lain dan terlebih kepengen mendapatkan dampak secara langsung bagi para donatur (direct impact).

Secara umum, konsep zakat itu harus diatur supaya teratur. Nidham (manajemen) menjadi hal yang sangat penting di warga Nahdliyin. “Kalau sudah ngasih ya sudah yang lillahita’ala,” sering ada ucapan begitu. Ini seolah-olah melegitimasi tentang tidak penting melaporkan akan kinerja yang dilakukan oleh para amilin. Padahal, pelaporan tersebut sama sekali bukan hendak menghilangkan aspek keikhlasan, melainkan sebagai konsekuensi logis nidham itu.

Kini LAZISNU diuji dan ditantang dengan harus menunjukkan keberanian untuk menjadi Lembaga Zakat Nasional, berdasar Undang-Undang 23 tahun 2011. Sesungguhnya, Undang-Undang 23 tahun 2011 ada plus dan minus dalam era kebangkitan gerakan filantropi NU. Tuntutan untuk eksis menjadi lembaga yang trusted, kredibel, dan tranparan menjadi tuntutan tidak hanyaUndang-Undang, tapi juga para donatur dan masyarakat. Pimpinan organisasi para ulama ini, Rais ‘Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin menggelorakan “Gerakan NU Berzakat Menuju Kemandirian Umat”. Ini bukan tidak ada sebab, tapi gerakan ini justru yang menjadi embrio dan spirit bagi gerakan zakat di warga Nahdliyin.



Tiga Titik Tolak


Ada tiga hal yang harus menjadi titik tolak bangkitnya filatropi NU, pertama adalah memberikan pengertian kepada masyarakat Nahdliyin tentang pentingnya berjamaah, tidak hanya berjamaah shalat, tahlilan, zikiran saja tapi harus diperluas dan diperlebar jamaah terlebih berjamaah untuk aksi berbagi kepada sesama. Masyarakat modern ini lebih suka kalau ada kegiatan aksi, bukan hanya kegiatan seremoni. Membangkitkan jamaah dengan aksi kepada sesama ini harus menjadi spirit yang digelorakan di? warga Nahdliyin. Berjamaah atau sinergi ini akan mejadi lebih sempurna jika ulama, umara (pemerintah), aghniya (kalangan berpunya) dan umat menjadi satu kesatuan dalam menyelesaikan masalah bersama terlebih isu yang menjadi pesan utama Muktamar Jombang, yaitu ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Kedua, adalah pentingnya manajemen yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pentingnya manajemen ini yang kemudian Lazisnu Pusat berinisiatif untuk menstandarkan manajemen dengan menggunakan ISO 9001-2015 dengan nomor sertifikat izin 49224. Ini membuktikan komitmen yang tinggi terhadap kebangkitan filantropi di NU untuk menjadi yang lebih baik dalam rangka mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Betapa pentingnya motto “kerjakan apa yang ditulis, dan tulis apa yang akan dikerjakan,” itulah manajemen. Semua harus berbasis data, bukan hanya katanya atau ucapan mulut.

Ketiga, pergerakannya harus dibangkitkan lagi, harakah an-nahdliyyah lizzakah, itulah gerakan yang dimotori Rais ‘Aam PBNU, supaya komitmen membangun NU lewat jalur filantropi menjadi lebih hidup dan berkembang sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri NU. Pelopor sekaligus model percontohan yang di gerakkan almarhum Abuya KH. Abdul Basit Sukabumi menjadi contoh yang patut di tiru dan diteladani. Abuya mampu membuat konsep Allah yang termaktub didalam Al Qur’an dan Hadist Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi membumi dan gampang di kerjakan dan diaplikasina umat dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan sedekah mampu memberikan manfaat kepada umat dengan pola yang sangat sederhana dan bisa di aplikasikan di mana saja kita berapa. Konsep membumikan sedekah merupakan konsep lama yang dalam Bahasa sederhana kita sehari-hari kita sebut denga? konsep gotong royong. Sedekah atau gotong royong menjadi mahluk mulia yang mampu memberikan manfaat bagi umat jika dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong (sedekah berjamaah).

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan NU Care-LAZISNU dalam memegang amanat yang mulia untuk memberikan manfaat kepada umat. Amiin.

Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Doa, Santri, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf

Shalat berjamaah merupakan ibadah yang sangat penting. Bukan hanya dimensi ketuhanan, ibadah ini juga memiliki dimensi kemanusiaan. Melaksanakan shalat berjamaah berarti kita menuruti perintah Allah, dan berarti kita sedang menggalang persatuan dengan saudara-saudara kita sesama Muslim, karena dengan menghadiri shalat berjamaah baik di masjid maupun mushala, kita memiliki kesempatan untuk bersilaturahim dengan mereka.

Begitu besar perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap shalat berjamaah, sampai-sampai beliau menjanjikan pahala lipat 27 kali sebagaimana hadits riwayat Imam Bukhari nomor 618:

Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Makmum yang Sedang Meluruskan Shaf

? ? ? ? ? ? ? ?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dengan 27 kali lipat derajat”

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam shalat berjamaah ialah meluruskan shaf. Bagi imam, ia hendaknya mengingatkan jamaah agar meluruskan shaf karena hal tersebut merupakan bentuk kesempurnaan berjamaah.

Syekh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, dalam kitab Al-Adzkâr al-Muntakhabah min Kalâmi Sayyid al-Abrâr (Surabaya: Kharisma, 1998), hal. 54, menyebutkan bahwa bagi makmum yang sedang meluruskan shaf, disunnahkan untuk membaca doa di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma âtinî afdlala mâ tu’tî ‘ibâdakash shâlihîn

“Ya Allah, berilah padaku apa-apa yang Engkau berikan pada hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Dengan membaca doa ini, kita berharap agar Allah memberikan anugerah kepada kita sebagaimana anugerah-anugerah yang Allah berikan kepada orang-orang saleh, di antaranya ialah anugerah keistiqomahan dalam melaksanakan ibadah shalat berjamaah. Semoga kita semua bisa mengamalkan doa ini dan memperoleh manfaat darinya. ?Amin. Wallahu a’lam bi shawab. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Karya-karya Hadratusy Syaikh

Sebagai seorang ulama panutan, Hadratusy Syaikh KH M. Hasyim Asyari tidak hanya pandai berbicara di dalam mushola, kelas, atau mimbar-mimbar pengajian umum, tapi juga memiliki tradisi kepenulisan yang kuat. Sejumlah disiplin keislaman di bidang akidah, akhlah, hingga ilmu fiqih ia tulis dengan serius.

Berikut ini sejumlah karya Kiai Hasyim Asy’ari yang masih menjadi kitab  wajib untuk dipelajari di pesantren-pesantren Nusantara. Catatan karya Mbah Hasyim diambil dari website Pesantren Tebuireng (tebuireng.net):

Karya-karya Hadratusy Syaikh (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya-karya Hadratusy Syaikh (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya-karya Hadratusy Syaikh

1. Adabul Alim Wal Mutaallim adalah sebuah kitab yang mengupas tentang pentingnya menuntut dan menghormati ilmu serta guru. Dalam kitab ini KH. M. Hasyim Asyari menjelaskan kepada kita tentang cara bagaimana agar ilmu itu mudah dan cepat dipahami dengan baik. Kitab yang terdiri dari beberapa bab ini, memberikan pula kepada kita pencerahan tentang mencari dan menjadikan ilmu benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat. Salah satu contoh yang diberikan oleh KH. M. Hasyim Asyari kepada kita adalah bahwa ilmu akan lebih mudah diserap dan diterima apabila kita dalam keadaan suci atau berwudhu terlebih dahulu sebelum mencari ilmu. Banyak hal yang bisa kita petik dalam rangka mencari ilmu ketika kita membaca kitab ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

2. Risalah Ahlis Sunnah Wal Jamaah merupakan pedoman bagi warga NU dalam mempelajari tentang apa yang disebut ahlus sunnah wal jamaah atau sering disingkat dengan ASWAJA. Dalam kitab ini, Hadratus Syaikh juga mengulas tentang beberapa persoalan yang berkembangan dimasyarakat semisal, apa yang disebut dengan bidah? Menerangkan pula tentang tanda-tanda kiamat yang terjadi pada masa sekarang ini. Banyak golongan yang mengaku bahwa mereka juga merupakan golongan ahlus sunnah wal jamaah. Akan tetapi dalam ibadah, amal perbuatannya banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW. Dalam kitab ini diuraikan dengan jelas tentang bagaimana sebenarnya ahlus sunnah wal jamaah tersebut.

3. At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqothoatil Arham Wal Aqorib Wal Ikhwan merupakan kumpulan beberapa pikiran khususnya yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Dalam kitab ini, ditekankan pentingnya menjalin silaturrohim dengan sesama serta bahayanya memutus tali sillaturohim. Didalam kitab ini pula, termuat Qunun Asas atau udang-undang dasar berdirinya Nadhatul Ulama (NU) serta 40 hadits nabi yang berhubungan dengan pendirian Nahdlatul Ulama. Dalam kitab ini, dikisahkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asyari pernah mendatangi seorang kyai yang ahli ibadah karena kyai tersebut tidak mau menyambung silaturrohim dengan masyarakat sekitar sehingga sempat terjadi perdebatan antara keduanya.

4. An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin merupakan karya KH. Muhammad Hasyim Asyari yang menjelaskan tentang rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW. Dalam kitab tersebut, dijelaskan pula tentang sifat-sifat terpuji nabi Muhammad SAW yang bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua. Dijelaskan pula tentang kewajiban kita taat, menghormati kepada perintah Allah SWT yang telah disampaikan melalui nabi Muhammad SAW baik melalui al-qur an atau hadits. Silsilah keluarga nabi Muhammad SAW, tidak luput dari pembahasan. Singkat kata, dalam kitab ini, kita mendapatkan sejarah yang relatif lengkap dan menarik untuk dikaji serta dijadikan tauladan menuju insan kamil.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

5. Ziyadatut Taliqot merupakan kitab yang berisi tentang polemik beliau dengan KH. Abdullah Bin Yasin Pasuruan tentang beberapa hal yang berkembang pada masa itu. Perdebatan terjadi pada beberapa masalah yang tidak sesuai antara pandangan Nahdlatul Ulama dengan KH. Abdullah Bin Yasin Pasuruan. Banyak sekali permasalahan yang diperdebatkan sehingga kitab ini begitu tebal dan permasalahan yang diperdebatkan masih terjadi dimasyarakat.

6. At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna Al-Maulid Bil Munkaroti adalah sebuah kitab tentang pandangan KH. Muhammad Hasyim Asyari tantang peringatan maulid nabi Muhammad SAW yang disertai dengan perbuatan maksiat atau munkar. Dalam kitab tersebut, diceritakan bahwa pada jaman dulu, disekitar Madiun, setelah pembacaan shalawat nabi, para pemuda segera menuju arena untuk mengadu keahlian dalam hal bela diri silat atau pencak. Acara itu, masih dalam rangkaian peringatan maulid serta dihadiri oleh gadis-gadis yang saling berdesakan dengan para pemuda. Mereka saling berteriak kegirangan hingga lupa bahwa saat itu, mereka sedang memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Hal tersebut menimbulkan keprihatinan KH. Muhammad Hasyim Asyari sehingga beliau mengarang kitab ini.

7. Dhouul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah berisi pikiran ataupun pandangan KH. Muhammad Hasyim Asyari tentang lembaga perkawinan. Dalam kitab tersebut, beliau menangkap betapa pada saat itu, banyak pemuda yang ingin menikah, akan tetapi tidak mengtahui syarat dan rukunnya nikah. Tidak tahu pula tentang tata cara / sopan santun dalam pernikahan sehingga dalam mereka menjadi bingung karenanya. Dalam kitab tersebut, terkandung beberapa nasehat yang penting agar lembaga perkawinan betul-betul bisa menjadi sebuah keluarga yang Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah sesuai tuntunan agama.

Selain menulis kitab, Kiai Hasyim juga rajin menyebarkan ilmu dan penapatnya di sejumlah media yang beredar secara nasional pada waktu itu, di antaranya, majalah Soeara Moeslimin Indonesia (majalah milik Masyumi), Berita NO, Soeloeh NO, Swara NO, dan sebagainya. 

Tema yang beliau tulis tidak sebatas bidang ilmu keagamaan, tapi juga meliputi pertanahan dan pertanian, politik internasional, kolonialisme, dan macam-macam lagi. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Tegal, Nahdlatul Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

PMII: Kembalikan Kedaulatan di Tangan Rakyat!

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Tema besar Harlah ke-52 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah Kembalikan Kedaulatan di Tangan Rakyat.?

Hal itu ditegaskan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Addin Jauharudin selepas acara bertajuk ? Pengajian Maulid Nabi SAW dan Tasyakuran Harlah PMII ke 52 di Graha Mahbub Djunaidi, Jakarta, Senin, (16/4).?

PMII: Kembalikan Kedaulatan di Tangan Rakyat! (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Kembalikan Kedaulatan di Tangan Rakyat! (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Kembalikan Kedaulatan di Tangan Rakyat!

“Tujuan menggunakan tema itu, selain posisinya di kampus, PMII harus terjun langsung ke masyarakat. Terlibat langsung dalam melakukan pengorganisiran. Jika di suatu daerah ada konflik agama, pertanahan, pertambangan, PMII harus jadi garda terdepan dalam membela mereka dengan mengadvokasi di daerah itu,” tegas Addin. ?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Addin mencontohkan masyarakat yang bermasalah dengan tambang misalnya, kader PMII mengadvokasi pajak progresif pertambangan, advokasi perusakan lingkungan, ketidakadilan ekonomi, juga memberikan pendidikan masyarakat soal tambang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Sehingga betul-betul masyarakat tidak dijadikan alat legitimasi perusahaan-perusahaan setempat,” terangnya.?

Hal senada diungkapkan Ketua Panitia Harlah ke-52 tahun PMII Zaini Mustakim. Menurutnya, fakta dari peristiwa-peristiwa yang muncul, kedulatan di tangan rakyat itu hanya gembor-gembor saja.?

“Tata kelola petambangan di Indonesia, di Bima misalnya, belum berpihak kepada rakyat. Padahal bumi, air, dan yang terkandung di dalamnya, dikuasia negara dan digunakan sebesarnya untuk rakyat. Nah, seharusnya ada keterlibatan rakyat di situ,” ujarnya.?

“Dengan demikian hari ini, kedaulatan harus dikembalikan ke tangan rakyat,” tegasnya.?

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis ? ? : ? Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Cerita, Makam, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebanyak 160 pesantren yang memiliki sekolah menengah kejuruan (SMK) dilibatkan dalam program penanaman padi dengan metode modern berpola agrobisnis yang dicanangkan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan? (IKIP) Veteran atau biasa disingkat Ivet Semarang.

Menurut Rektor Ivet Semarang Dr Bambang Triono, program penanaman padi yang dikerjakan bersama para santri tersebut merupakan perwujudan identitas Ivet Semarang sebagai Teacerpreneur Campus.

160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang

"Pesantren itu pasti membekali santrinya dengan jiwa wirausaha. Ini kami jodohkan dengan tagline kami sebagai Teacerpreneur Campus. Maka kami gandeng SMK berbasis pesantren dalam program agrobisnis ini," terangnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Bambang mengungkapkan hal itu dalam acara Seminar Entrepreneur dan Soft? Launching Dies Natalis Ivet Semarang di auditorium? kampus setempat di Jalan Pawiyatan Luhur Semarang, Jawa Tengah, Selasa (23/2/2016).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Entrepreneur College Jakarta Drs A Khairussalim lkhs selaku pemimpin program agrobisnis tersebut melanjutkan, saat ini telah dilakukan penanaman padi metode modern agrobisnis di lahan seluas 7 hektare. Semua tanah itu dipinjam atau disewa dari pesantren atau pengasuhnya.

Ia menyebutkan, bagus sekali respon para kiai maupun lembaga pondok pesantren atas programnya tersebut. Kesamaan tekad membangun kemandirian dan mendidik mental wirausaha, membuat pihaknya banyak ditawari lahan pertanian untuk diikutkan dalam program penanaman modern tersebut.

"Program agrobisnis kami ini, menanam dengan pola modern, nantinya hasil panennya bisa lima kali lipat daripada model lama, dan kami ingin menguasai bisnis beras organik setidaknya di Jawa Tengah. Prospeknya sangat bagus," bebernya. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Tegal, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat

Malang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Malang berkomitmen mencanangkan gerakan masyarakat sadar zakat dengan menerbitkan Buku Panduan Zakat yang akan didistribusikan kepada para masyarakat, utamanya mereka yang tergolong ekonomi mampu.

Dalam buku itu akan dijelaskan tentang segala yang berkaitan dengan zakat, seperti cara perhitungan, nishab dan ketentuan lain dalam ibadah zakat. 

LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat

Program semacam ini merupakan langkah awal yang akan dilaksanakan LAZISNU Kabupaten Malang untuk memberikan pemahaman pada masyarakat kabupaten malang mengenai zakat dan yang sejenisnya. Ini adalah bentuk komitmen LAZISNU Kabupaten Malang, karena ditengarai bahwa pemahaman masyarakat akan masalah zakat masih sangat rendah. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kami sadar masyarakat kita masih kurang paham masalah zakat. Mereka masih bingung dan kurang mengerti apa itu zakat maal, dan apa perbedaannya dengan Infaq dan Shadaqah,” tutur Rohmat Daroini ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Malang, Selasa (21/5) kemarin.

Rencana ini awal mulanya berasal dari usulan Rahmat sendiri dengan kedudukannya sebagai bendahara LAZISNU, kemudian mendapatkan sambutan positif dari ketua LAZISNU Gus Syamsul.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam rangka untuk memuluskan jalan bagi program itu, juga sebagai bentuk pembinaan kepada masyarakat, LAZISNU Kabupaten Malang dalam waktu dekat berencana untuk menyelenggrakan Pendidikan dan Pelatihan (diklat) bagi petugas yang akan diterjunkan sebagai penarik zakat, infaq dan shadaqah.

Langkah ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan jumlah pengurus sendiri, dibandingkan dengan tugas untuk menangani daerah Kabupaten Malang yang sangat luas.

“Kami juga menyadari Kabupaten Malang sangat luas, sedangkan petugas LAZISNU hanya sekitar 11 orang, adalah hal yang mustahil mampu menangani 33 kecamatan di kabupaten Malang,” kata ustadz Unisma ini.

Selain itu, para pengurus menyadari bahwa pandangan masyarakat terhadap hal yang berbau penarikan dana masih sangat rendah.

“Tantangan pertama yang besar kemungkinan akan dihadapi kita adalah pandangan masyarakat yang selama ini sangat rendah melihat orang yang menarik dana keliling dari rumah ke rumah. Akan tetapi tidak apa-apa, karena secara pelan mereka memang akan kami sadarkan bahwa semua ini adalah keharusan,” kata Rohmat.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Ahmad Nur Kholis

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Budaya, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama

Tasikmalaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pelantikan Pimpinan Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (29/6) kemarin diisi dengan Deklarasi Kebangsaan. Pagar Nusa akan menindak tegas segala bentuk rongrongan dan kekerasan atas nama agama.

“Jika kita menemukan kekerasan atas nama agama di Kabupaten Tasikmalaya seperti beberapa hari yang lalu, kita langsung akan bertindak tanpa melakukan koordinasi dulu dengan aparat,” kata Ajengan Mimih Haeruman, yang berkesempatan memimpin deklarasi yang diikuti oleh Banom-banom NU, OKP-OKP dan partai politik se Kabupaten Tasikmalaya ini. 

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama

Hal ini dilakukan, sambung pimpinan Padepokan Santri Manuk Heulang ini, karena dia menilai selama ini aparat dan pemerintahan di Kabupaten Tasikmalaya selalu kurang responsif terhadap aksi-aksi mereka yang selalu mengatasnamakan agama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Naskah Deklarasi Kebangsaa ini berbunyi: Kami Anak Bangsa Indonesia Menyatakan: 1. Mengajak seluruh komponen bangsa untuk memperkuat persatuan dan kesatuan demi kokohnya NKRI dalam bingkai Kebhineka Tunggal Ika-an. 2. Menolak dan melawan segala bentuk radikalisme yang mengatasnamakan suku bangsa, agama dan golongan. 

Deklarasi ini ditandatangani , Ketua PC PS NU Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Ketua PC NU Kabupaten Tasikmalaya, Asda II Kabupaten Tasikmalaya mewakili Bupati yang berhalangan hadir, Kapolres Tasikmalaya, perwakilan Dandin 0612 Tasikmalaya, Kemenag Kabupaten Tasikmalaya, seluruh Banom NU Kabupaten Tasikmalaya, DPD JAI Kabupaten Tasikmalaya serta PD IJABI Tasikmalaya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari partai politik perwakilan dari DPC Partai Kebangkitan Bangsa, DPD Partai Gerindra dan DPD Partai Demokrat. Sementara dari unsur OKP, turut membubuhkan tandangannya antara lain, Banser, Gibas, KMRT, Pemuda JAI dan lain-lain. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Asep Sufian Sya’roni

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal PonPes, Meme Islam, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Gus, maaf saya lancang menulis surat untuk Anda, saya tahu anda pasti geli membaca surat saya ini, tapi biarlah. Gus, saya tulis surat ini karena sudah gerah dengan hiruk pikuk orang-orang saat ini. Gus, hari-hari ini rakyatmu sedang gundah gulana. Saking galaunya, semua hampir bicara tetang topik yang sama, dan entah kenapa kok saya sudah merasa fokus bahasannya semakin melebar.?

Gus, sebenarnya semua berawal dari dialog seorang, saya enggan membahas apakah ada yang sesuai atau tidak sesuai dengan ucapan beliau, tapi yang pasti, sebagian umat merasa tersinggung, dan mulailah cerita ini berkembang.?

Gus, kalau saja anda masih hidup, tolong ajarkan kami secara langsung bagaimana cara hidup rukun berdampingan, ajarkan kami bagaimana minoritas menghargai mayoritas, dan bagaimana pula mayoritas menghargai minortas. Gus, Anda memang bukan tanpa kekurangan, tapi gaya nyeleneh anda yang kadang membuat suasana lebih cair.?

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Saya yakin anda pasti bilang, “Kalau ada yang menistakan agama, hukumlah dia, berilah sanksi yang setimpal dan menjadi pelajaran agar bisa lebih baik, tapi yang bikin kita tergeleng-geleng, mereka yang melakukan korupsi, mereka yang mengambil uang rakyat, menebar bom, menyakiti sesama, dan yang memakan bukan hak-nya adalah yang benar-benar menistakan agama”.?

Saya setuju Gus, kemarin sore saya melihat orang-orang marginal, duduk diantaranya seorang ibu dan anaknya yang sedang berbagi sepotong roti. Lalu apa kabar dengan para koruptor itu Gus, mereka yang membuat kemiskinan di negeri ini semakin mengakar, mereka yang mungkin taat sembahyang, berangkat ke gereja, mendekatkan dahi ke tanah, bersujud di mesjid, dan berangkat ke tempat ibadah, tapi mereka membiarkan korupsi merajalela, dan berbuat seolah tak ada apa-apa.

Gus, semua orang menurut saya sekarang terlalu berani menghujat penguasa, saya tahu kritik itu perlu, tapi bukan kemudian menghina, menjelek-jelekan, atau pun menghujat. Ke mana mereka pada saat zaman Orba. Hanya Anda dan segelintir orang yang berani berhadapan dengan penguasa.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saya dengar cerita pedih Anda saat di depak oleh Pasukan Penguasa dan harus duduk di kursi belakang, padahal itu jelas-jelas acara anda dan NU. Tapi itulah anda Gus, ditakuti penguasa saat banyak orang takut dengan penguasa dan memilih tidak berhadapan dengan penguasa.

Gus, coba ceritakan bagaimana situasi saat anda dilengserkan. Apa jadinya jika anda juga melawan orang yang melengserkan anda. Saat itu anda dipaksa turun tahta, tapi anda tidak kemudian membalasnya dengan parlemen jalanan, atau bahkan pasukan berani mati anda yang sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Bukankah itu yang kita sebut Negarawan, lebih merendah untuk kemenangan bangsa dan negara. Tanpa ingin membuat semuanya menjadi gaduh dan berkembang pada hal-hal negatif yang justru berpotensi memecah belah bangsa.

Gus, saya dengar sekarang hampir tiap hari, ratusan bahkan ribuan orang datang ke tempat peristirahatan Anda, untuk sekedar ziarah dan memanjatkan doa. Tapi saya yakin di hati kecil anda bukan itu saja yang anda ingin. Anda ingin mereka semua bisa hidup damai, mereka semua bisa saling menghargai, saling menghormati, saling membantu selayaknya anak bangsa yang telah ditakdirkan menjadi Seorang Indonesia.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mereka tetap berpegang teguh pada akidah dan tuntunan agama, tapi juga menjaga adab, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pada dasarnya kita semua telah sepakat dengan dasar negara Pancasila dan tata aturan kebangsaan yang lain.

Gus, Anda mungkin tak akan membalas surat ini, tapi izinkan saya agar seluruh Rakyat Indonesia bisa membaca surat ini. Surat yang dibuat tanpa ada tendensi pada pihak manapun. Surat yang ditulis sebagai bentuk perhatian dan kecintaan dari warga negara terhadap bangsanya. Surat yang ingin menggugah bahwa, berjalan berdampingan, tepo seliro, tenggang rasa adalah bukan sekadar retorika, tapi sungguh sebuah falsafah hidup dan identitas bahwa kita adalah INDONESIA.

(Andi Pamungkas Rahayu)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Budaya Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Ansor Expo dan Seminar Wirausaha Meriahkan Pelantikan GP Ansor Pekalongan

Pekalongan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah masa khidmah 2016-2020 resmi dilantik oleh Pimpinan Pusat GP Ansor, Ahad (25/9) di Aula PCNU Pekalongan. Pelantikan ditandai dengan pengambilan sumpah janji pengurus oleh Gus Mujibur Rohman, Ketua PP GP Ansor sekaligus Korwil Jateng-DIY mewakili Ketua Umum. Pada kesempatan yang sama juga dilakukan pengukuhan Satkorcab Banser, Rijalul Ansor dan Departemen-departemen oleh PW GP Ansor Jawa Tengah.

Hadir dalam pelantikan tersebut jajaran Pimpinan Pusat GP Ansor, PW GP Ansor Jawatengah, PC GP Ansor se-eks Karesidenan Pekalongan, PCNU Kab. Pekalongan beserta segenap pengurus Badan Otonomnya (Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU dan PMII). Hadir pula anggota DPR RI FPKB H. Bisri Romly, beberapa Organisasi Kepemudaan, Dinporapar, Kadin Kabupaten Pekalongan serta ratusan kader GP Ansor dari PAC se-Kabupaten Pekalongan.

Ansor Expo dan Seminar Wirausaha Meriahkan Pelantikan GP Ansor Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Expo dan Seminar Wirausaha Meriahkan Pelantikan GP Ansor Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Expo dan Seminar Wirausaha Meriahkan Pelantikan GP Ansor Pekalongan

Menurut Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, M. Azmi Fahmi, Kepengurusan periode ini mengusung visi "Pemberdayaan Potensi Ekonomi Menuju Kemandirian Kader dan Organisasi". Untuk itu sebagai langkah awal, pada momen pelantikan ini juga digelar Ansor Expo dan Seminar Kewirausahaan.?

“Hal ini sebagai wujud komitmen dan kesiapan PC GP Ansor Pekalongan menyambut Gerakan dan Program Kemandirian Kader dan Organisasi yang dicanangkan PP GP Ansor,” ujarnya.

Sementara itu, dalam sambutan pengarahannya, Mujiburrohman dari PP GP Ansor mengatakan bahwa PC GP Ansor Pekalongan sebagai wilayah basis Ansor masuk kategori Cluster 1A yang merupakan daerah percontohan, karena itu tantangan yang dihadapi semakin berat dan pelik. Salah satunya adalah masalah kemiskinan dan ekonomi kader. Ia menambahkan bahwa dari 70 juta penduduk miskin mayoritas adalah orang pedesaan dimana sebagian besar kader Ansor berada.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Untuk itu pengurus Ansor bertanggung jawab bagaimana mengangkat taraf hidup kader sehingga bisa menghidupi organisasi secara mandiri,” jelasnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sedangkan dari arena Ansor Expo yang berlangsung di halaman PCNU Kab. Pekalongan tampak meriah diikuti 19 stand PAC GP Ansor se-Kab. Pekalongan yang menampilkan berbagai potensi ekonomi kader GP Ansor se-Kab. Pekalongan antara lain, Koperasi, ? usaha konveksi, perbatikan, percetakan, aneka produk makanan dan minuman, berbagai produk kerajinan tangan, berbagai produk jasa serta beragam industri kreatif lainnya. Direncanakan kegiatan ini akan ditindaklanjuti dengan pelatihan pemasaran secara online bagi peserta serta menjadi cikal bakal dibentuknya pusat bisnis Ansor.

Selesai momen pelantikan panitia juga menggelar Seminar kewirausahaan dengan menghadirkan 2 orang pembicara yaitu, Sumantri Suwarno, Ketua Bidang Ekonomi PP GP Ansor dan Aminudin Aziz dari Kadin Kabupaten Pekalongan. Peserta seminar mendapatkan pencerahan dari diskusi dengan narasumber antara lain pentingnya mengenali potensi ekonomi dan bagaimana belajar bisnis dari orang yang sudah sukses. Hal lain yang penting untuk memulai usaha adalah jangan terlalu lama berfikir dan cenderung bertele-tele dalam berwacana tetapi segera mengeksekusi setiap gagasan/ ide bisnis dengan aksi nyata dengan prinsip learning by doing. (Alim Mustofa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Sejarah, Aswaja Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Santri Zaman Now

Oleh A. Khoirul Anam

Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober tahun ini lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. Dari mana kita tahu lebih meriah? Dari media sosial. Setidaknya bisa disimpulkan dari foto-foto dan video yang beredar dari berbagai daerah. Ada juga peristiwa kecil yang tidak diinginkan di satu daerah yang justru membuat peringatan hari santri lebih semarak.

Santri Zaman Now (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Zaman Now (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Zaman Now

Bentuk peringatan hari santri tahun ini biasa-biasa saja: Baris-berbaris dengan kain sarung, paduan suara santri putri, upacara bendera di kantor kementerian agama, dzikir akbar oleh pengurus NU yang dihadiri oleh masyarakat ramai dan para pejabat serta politisi setempat.

Bunyi-bunyiannya juga sama seperti tahun kemarin: Seputar resolusi jihad dan peran kaum santri dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Namun ada yang baru dan sangat menarik dalam peringatan hari santri tahun ini, yaitu munculnya istilah "santri zaman now", yang secara otomatis berbalikan dengan "santri zaman old". 

Menariknya adalah istilah ini bisa jadi alternatif pengganti istilah modern dan tradisional yang seringkali memojokkan kaum santri. Klaim tradisional yang melekat pada diri santri itu sering bernada peyoratif, meskipun maknanya mestinya tidak begitu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Istilah "santri zaman now" ini sebenarnya hanyalah main-main. Namun di dunia medsos sekarang ini justru yang main-main itu malah menjadi serius, dan yang serius hanya menjadi bahan bercandaan. Santri zaman now adalah santri tidak gagap dengan perkembangan zaman dan siap menyongsong zaman baru yang lebih keren.

Santri zaman now ditandai dengan tersebarnya para santri di banyak sekali bidang dan dunia peran, tidak seragam dan juga tidak monoton. Di zaman now ini, ada santri yang jago main bola, kartunis, komikus, tukang bikin aplikasi ini itu, ahli wireless, youtuber, dan sutradara film. 

Ada yang ahli di bidang astronomi, nuklir, energi alternatif, ada yang memunculkan banyak penemuan baru mencengangkan yang dipatenkan, ada ahli statistik, pebisnis online dan silakan dirinci sendiri masih banyak lagi bidang keahlian yang mungkin tidak terpikirkan pada tanggal 22 Oktober 1945 silam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menariknya lagi, semua santri bisa masuk kategori santri zaman now, termasuk yang berpenampilan biasa-biasa saja atau yang berwajah tradisional. "Zaman now" ini berkaitan dengan karekter dan respon terhadap perkembangan zaman dan kesiapan menyongsong zaman baru.

Karena sifatnya hanya bercandaan, istilah "zaman now" ini juga tidak berarti menyudutkan santri yang masih berada di zaman old. Kadang-kadang santri zaman now juga perlu kembali ke zaman old sambil tersenyum-senyum dan sebaliknya santri zaman old juga bolem masuk ke zaman now, semampunya.

Hari santri adalah janji kampaye capres Jokowi 2014. Menariknya, para pendukung capres Prabowo juga dua tahun ini ikut meramaikan hari santri dan tidak ada masalah dengan itu.

Kata seorang senior santri yang misterius, Gus Iim pernah mengatakan, ketika santri diberi kesempatan sedikit saja untuk melakukan mobilitas sosial, maka dengan sekejap santri akan mudah beradaptasi dan tiba-tiba sudah berada di depan. 

Mengapa? Karena para santri tidak pernah didoktrin hanya menguasai satu bidang saja dan melupakan bidang kehidupan yang lain. Satu lagi, para santi sudah diajarkan hidup mandiri dan mengatasi tantangannya sendiri.

Penulis adalah Wakil Pemimpin Redaksi Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Dosen UNU Indonesia (Unusia) dan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Ini Empat Kitab yang Dibaca Gus Mus selama Ramadhan

Rembang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri yang akrab? disapa Gus Mus selalu menyempatkan banyak waktunya untuk mengisi pengajian kitab selama bulan suci. Tahun ini ada empat kitab yang dbaca Gus Mus.

Ini Empat Kitab yang Dibaca Gus Mus selama Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Empat Kitab yang Dibaca Gus Mus selama Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Empat Kitab yang Dibaca Gus Mus selama Ramadhan

Pada bulan Ramadhan tahun 1435 Hijiriyah ini, Gus Mus dijadwalkan mengampu empat judul kitab. Rais Am PBNU ini membacakan kitab Riyadhus Sholihin seusai shalat tarawih, Burdah Al-Bushiry setelah shalat Subuh, Idhatun Nasyiin sehabis shalat Dhuhur, dan Kimiyaus Sa’adah menjelang berbuka puasa.

Gus Mus mengaku bahwa dirinya agak berbeda dengan kiai-kiai lain yang membacakan kitab pasanan dengan cepat dan mengejar khatam. Tetapi menyesuaikan kondisi-kondisi santri yang mengaji.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Dadi, ngaji rampung nek santri-santri wes kudu muleh (Jadi, ngaji selesai ketika santri-santri kelihatannya sudah ingin pulang),” tuturnya disambut ketawa para santri pasanan saat sowan ke kediamannya, Ahad (29/6 )sore kemarin.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mengawali pengajian pasanan pada malam tanggal 2 Ramadhan, Gus Mus membacakan kitab Riyadhus Sholihin yang disusun oleh Imam Nawawi. Pengajian kitab dilaksanakan di aula utama Pesantren Roudlotut Tholibin ini dihadiri oleh santri asli dari pesantren ini sendiri, santri pasanan, dan masyarakat sekitar.

Menurut keterangan dari Solihin, ketua ngaji pasanan, pendaftaran ngaji pasanan dibuka bagi siapa saja yang ingin mengikuti pasanan di pesantren yang terletak di kelurahan Leteh ini. “Tidak ada ketentuan khusus, siapa saja boleh ikut ngaji pasanan,” terangnya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal. (Muhammad Zidni Nafi’)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Diklatama, IPNU Kraksaan Tanamkan Kepedulian Sesama

Probolinggo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo menggelar Pendidikan dan Pelatihan Pertama (Diklatama) Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP) di SMK Ma’arif NU Gending, Jumat hingga Ahad (12-14/5).

Dalam kegiatan bertema Cinta Indonesia, Jiwa Sosialis ini, IPNU Kota Kraksaan mengajak para pelajar NU sebagai warga Indonesia untuk menumbuhkan jiwa cinta terhadap Indonesia. Selain itu kader ini dibentuk untuk mempunyai jiwa kepedulian baik untuk masyarakat maupun lingkungan.

Diklatama, IPNU Kraksaan Tanamkan Kepedulian Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatama, IPNU Kraksaan Tanamkan Kepedulian Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatama, IPNU Kraksaan Tanamkan Kepedulian Sesama

Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta yang berasal dari pimpinan komisariat (PK), pimpinan anak cabang (PAC), dan ranting IPNU-IPPNU se-Kota Kraksaan. Selain Aswaja dan ke-NUan, mereka juga diajari untuk membantu masyarakat seperti penanggulangan bencana, PMI, dan ke-Indonesiaan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran para pelajar akan tugas beratnya dalam meneruskan tongkat estafet perjuangan ulama NU.

“Saya berharap kegiatan ini nantinya dapat menelurkan kader-kader yang punya kredibilitas dan loyalitas tinggi terhadap organisasi,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Imam, kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kepanduan, kedisiplinan, kemanusiaan, pengabdian alam, dan lingkungan hidup serta menciptakan generasi militan serta mampu mengemban amanah NU sesuai aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Dalam kesempatan tersebut IPNU Kota Kraksaan bekerja sama dengan instansi tersebut terlebih GP Ansor dan Satkorcab Banser. Selain PBB, Banser juga mengajari bela diri.

“Harapannya agar bisa menjadi pengawal dari IPNU,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Kyai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

NU Diminta Kian Aktif Berkontribusi untuk Indonesia

Bandung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Wakil Ketua Pengurus Wilayah Jawa Barat, Kiagus Zaenal Mubarok berpandangan, organisasi Nahdlatul Ulama saat ini menghadapi banyak tantangan. Kiprah organisasi Islam dengan jumlah massa terbesar di dunia ini harus mampu menunjukkan taji untuk berkontribusi secara sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan kontribusi pada tercapainya percepatan pembangunan negara Republik Indonesia.

"NU tidak boleh hanya sebatas besar dari jumlah massa. NU tidak boleh hanya punya kantor dan struktur kepengurusan, melainkan harus lebih aktif mengambil peranan-peranan strategis dalam ruang publik kehidupan sosial kemasyarakatan," paparnya, Sabtu (22/8).

NU Diminta Kian Aktif Berkontribusi untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Diminta Kian Aktif Berkontribusi untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Diminta Kian Aktif Berkontribusi untuk Indonesia

Ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal seusai mengisi acara bedah buku Membela Kebabasan Beragama karya Budhi Munawar Rahman di Aula SMP ST Ursula, Jalan Anggrek Bandung, pria yang juga dosen di Universitas Padjajaran Bandung itu menilai bahwa Muktamar NU awal Agustus lalu merupakan momentum agar NU berbenah dari sisi organisasi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Saya yakin Pak Kiai Said Aqil Siroj akan lebih serius dan tajam dalam menguatkan organisasi karena memang NU ini mengalami banyak problem dalam organisasi. Salah satu problemnya ialah kemampuan konsolidasi dan keaktifan para pengurus di tingkat Pusat, Wilayah dan juga Pengurus Cabang," terangnya.

Menurut Kiagus, untuk pembenahan pengurus wilayah misalnya, harus menjadi barometer utama jika NU hendak mengalami kemajuan. Pengurus Wilayah merupakan jembatan untuk kemajuan NU di tingkat Cabang, karena itu para pengurusnya harus aktif dan kreatif. "Bukan sekadar memasang namanya setelah konferwil, sesudah itu tak pernah aktif. Itu yang saya anggap problem utama," kritiknya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perbaikan PWNU Jawa Barat

Tahun depan, menurut Kiagus, PWNU Jabar akan mengadakan konferensi wilayah dengan memilih pengurus baru. Pada konferwil itulah secara alamiah akan terjadi perbaikan. Banyak sumber daya manusia di luar struktur NU yang bagus-bagus dan diharapkan aktif mendorong pengurus formal.

"Selama ini para pengurus wilayah NU Jabar berjalan agak timpang. Untung saja ketua PWNU Jabar (Dr. H Eman Suryaman) mobilisasinya tinggi melesat melakukan kegiatan-kegiatan secara konkret. Ini sesuatu yang bagus secara personal, tetapi dalam organisasi urusannya bukan personal, melainkan harus menukik ke wilayah kolektif kerja," terangnya.

Kiagus juga sedang serius memikirkan beragam kegiatan untuk NU Jawa Barat karena selama ini nyaris tidak aktif mengkomunikasikan gerakan dakwah dan kegiatan sosial melalui ruang publik. Akibatnya banyak warga NU yang merasa tidak mendapatkan informasi dan tidak bisa berpartisipasi.

"Ke depan para pengurus harus sinkron dalam bekerja. Tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan semua wakil ketua harus berada di garis depan mobilisasi. Jika tidak demikian kasihan masyarakat, kasihan anak-anak muda NU yang tidak bisa menyalurkan kreativitasnya melalui NU karena pengurus teras di PW tidak menjadi penggerak," terangnya. (Yus Makmun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api

Magetan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Warga NU Magetan, Jawa Timur, memperingati hari lahir (harlah) NU ke-93 dengan mengadakan kompetisi sepakbola api antarpondok pesantren. Kompetisi tersebut digawangi Rabhitah Maahid Islamiyah (RMI) NU bersama Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Kompetisi tersebut berlangsung sejak tanggal 4 sampai dengan 9 April. Meski tanpa dipungut biaya, panitia memberikan hadiah berupa piala bergilir serta uang pembinaan bagi juara.

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api

Sebelum memulai pertandingan, para pemain melakukan wirid khusus di bawah bimbingan Pengasuh Pondok Pesantren Subulus Safi’in KH Suprianto Ubaidillah. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Dengan wasilah (perantara) wirid ini agar memperoleh keselamatan dan diberi kelancaran oleh Allah SWT,” ujar kiai asal Pojok Kawedanan ini.

Menurut ketua panitia kegiatan tersebut Ahmad Choiruddin, pondok pesantren sangat luar biasa menyambut kegiatan tersebut. Target panitia, semula hanya 16 pesantren yang turut serta. Kuota langsung penuh hanya dalam waktu 2 minggu. “Bahkan ada beberapa pesantren terpaksa tidak panitia akomodir,” katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kegiatan tersebut diharapkan jadi pengikat silaturahim antarpesantren. “Kompetisi ini khas santri-santri salaf atau kaum sarungan. Semoga ini juga menjadi media silaturahim santri se-Kabupaten Magetan,” imbuh Ahmad.

Panitia, lanjut dia, bertekad akan jadikan kompetisi sepakbola api jadi program khas tahunan bagi para santri se-Magetan dalam naungan NU.

Pada kesemptan pembukaan, Selasa malam 4 April 2016 di halaman kantor NU Magetan dipimpin langsung Ketua PCNU Magetan KH Mansur didampingi sekretaris Ahmad Sudarto. Turut hadir pula, Rais Suriah KH Supriyanto, Ketua RMINU Ubaidillah dan jajaran pimpinan banom. (Dewi/Ali Makhrus/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat

Sepuluh tahun sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) secara nyata bughot (memberontak) terhadap pemerintah RI, mereka ikut menjadi kontestan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955 yang melibatkan 13 partai lain termasuk Partai Nahdlatul Ulama (NU).

Pemilu pertama dalam sejarah Indonesia ini disebut-sebut berjalan demokratis. Namun demikian, PKI memunculkan kegaduhan dengan menyalahi ketetapatan Menteri Dalam Negeri Mr. R. Sunaryo perihal lambang partai. Semua partai menyepakati ketetapan Mendagri, kecuali PKI.

Tanda gambar PKI berupa palu arit dibubuhi tulisan “PKI dan orang-orang tak berpartai” diprotes oleh NU namun PKI tetap bertahan. Terjadi silang pendapat di antara NU dan PKI yang berujung pada Mr. R. Sunaryo untuk memanggil perwakilan dari kedua partai.

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat

Dilakukanlah musyawarah yang menghadirkan wakil-wakil NU dan PKI disaksikan Mendagri dan Ketua Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) S. Hadikusumo. Partai NU mengutus Idham Chalid dan Munir Abisudjak, sedangkan PKI mengirim DN. Aidit dan Sudisman. Terjadilah perdebatan sengit di antara mereka seperti yang diungkap KH Saifuddin Zuhri dalam memoarnya Berangkat dari Pesantren sebagai berikut:

Mr. R. Sunaryo: Saya persilakan wakil NU untuk mengemukakan keberatan-keberatannya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Idham Chalid: Menurut NU, tanda gambar atau simbol PKI selama ini cuma palu arit, tak ada embel-embel kalimat, ‘dan orang-orang tak berpartai’.

DN. Aidit: PKI berpendapat bahwa banyak sekali orang-orang tak berpartai tetapi memercayakan perjuangan politiknya kepada PKI.  Karena hasrat yang mulia itu kami tampung.

Idham Chalid: Tetapi tidak semua orang tak berpartai simpati kepada PKI. Dengan menyamaratakan semua orang tak berpartai seolah-olah simpati PKI jelas bahwa ada niat PKI mencatut nama rakyat bahkan hendak mengelabui mata rakyat.

DN. Aidit: Saya protes saudara menuduh PKI mencatut nama rakyat bahkan mengelabui mata rakyat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Idham Chalid: Protes saudara saya tolak. Saya sekadar menyatakan kenyataan yang saya rasakan.

Sudisman: Dari mana saudara merasakan PKI mengelabui mata rakyat?

Idham Chalid: Dari kenyataan yang ada dalam masyarakat. Di sana banyak orang-orang tak berpartai yang bersimpati kepada NU, kepada Masyumi, kepada PNI dan sebagainya. Kalau terhadap mereka yang pandangan hatinya berbeda-beda lalu dituntut seolah-olah mereka juga ikut PKI semua, apakah ini bukan mencatut nama rakyat dan mengelabui mereka?

Karena situasi musyawarah semakin panas, Mendagri Sunaryo mengambil alih dan menyela perdebatan.

Mr. R. Sunaryo: Saya harap saudara Aidit mengindahkan keberatan pihak lain!

S. Hadikusumo: Saya kira PKI tidak boleh mengikuti kehendak sendiri. Semua tanda gambar dalam pemilu harus diputuskan melalui kebulatan bersama.

DN. Aidit: Kalau begitu saya usulkan agar NU juga menambah kalimat, ‘NU dan semua orang Islam’ di bawah tanda gambarnya.

Idham Chalid: Tidak bisa! Bagaimana saya harus melakukan hal-hal yang saya sendiri memprotesnya? Orang-orang Islam yang tidak berpartai itu hati kecilnya mempunyai simpati kepada partai tertentu. Ada yang bersimpati pada Masyumi, PSII, Perti, dan ada yang kepada PNI maupun IPKI dan sebagainya. Saya tidak ingin NU mencatut nama orang-orang tak berpartai seolah-olah pro NU semua.

DN. Aidit dan Sudisman akhirnya tidak mempunyai argumen-argumen lain untuk membantah Idham Chalid. Pada kesempatan ini, akhirnya Mendagri Mr. R. Sunaryo dan Ketua PPI S. Hadikusumo memutuskan bahwa PKI dilarang menyematkan kalimat ‘orang-orang tak berpartai’, kecuali tanda gambar palu arit. 

Setelah pertarungan dalam pemilu usai, berikut perolehan suara partai-partai dalam pemilu 1955 tersebut: PNI (57 suara), Masyumi (57 suara), NU (45 suara), PKI (39 suara), PSII (8 suara), Parkindo (8 suara), Partai Katolik (6 suara), PSI (5 suara), Perti (4 suara), IPKI (4 suara), Murba (2 suara), Partai Buruh (2 suara), dan Gerakan Pembela Pancasila (2 suara). (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Santri, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Kualat karena Berbohong kepada Sang Ayah

Kisah nyata ini aku tulis dari pengalaman pribadiku sendiri. Dulu sebelum aku mendapat pelajaran berharga dari kejadian yang aku alami ini, aku sangat membenci ayahku. Yang paling menyedihkan adalah ayahku seorang yang kurang taat dalam beribadah. Super galak. Jahat kepada ibuku. Sering bertengkar dan main tangan mukul, terutama saat-saat kondisi terhimpit ekonomi.

Oleh karena itu hampir seluruh keluarga membenci ayah. Padahal kalau dipikir lebih dalam dialah yang dengan gaya galaknya dan gaya kerasnya telah menghidupi lima orang anak dan satu istri selama ini.

Kualat karena Berbohong kepada Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kualat karena Berbohong kepada Sang Ayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kualat karena Berbohong kepada Sang Ayah

Hatiku mulai terbuka bahwa ayah juga wajib dihormati adalah ketika aku sudah bisa bekerja. Pada mulanya ayah tidak pernah aku kasih jatah uang. Semua uang gajianku aku serahkan pada ibu karena menurutku selama ini ibu adalah satu-satunya orang yang harus aku bahagiakan, sedangkan ayah tidak. Karena menurutku ayah terlalu jahat dan tidak wajib aku hormati.

Suatu hari di tanggal-tanggal tua, waktu uang tinggal tipis-tipisnya, tersisalah di dompetku 27 ribu rupiah. Seperti biasa, saat akan bekerja aku tidak pernah lupa mencium tangan ibu dan ayah. Walaupun aku benci ke ayah tetapi aku menyembunyikannya dengan tetap juga menyalami dan mencium tangannya—kendatipun kadar hormat dalam hati tak seperti saat aku mencium tangan ibuku.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selesai aku mncium tangannya, ayahku berbicara, “Nak, njaluk duwike gawe tuku rokok aku gak duwe rokok blas (Nak, minta uangnya buat beli rokok, aku tiak punya uang sama sekali).”

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam hati, aku berbicara kalu uang sisa Rp27.000 aku kasihkan ayah maka tujuh ribu kiranya pas buat beli rokok. Artinya, aku berangkat kerja hanya dengan membawa uang Rp20.000—menurutku uang segnini kurang untuk pegangan. Dan ahirnya aku jawab dengan berbohong, "Nggak ada Pak, uangku cuma sisa tujuh ribu” (sambil aku pura-pura bolak-balik dompetku yang padahal isinya ada Rp27.000.

Dan akhirnya ayah berkata lagi, "Oh ya sudah, wis buat kamu aja, Nak. Takut nanti di jalan ada apa-apa, ada ban bocor atau gimana. Nggak apa-apa wis Bapak nggak jadi minta, nanti gampang bapak nyari utangan aja buat beli rokok."

Lalu saya pun berangkat naik sepeda motor. Dah kualatnya, belum sampai 200 meter naik motor aku menabrak bebek tetangga hingga mati. Kebetulan orang yang punya bebek itu ada di situ dan langsung menghampiriku minta ganti rugi sebesar Rp20.000. Subkhanallah, uang Rp27.000 yang tadi aku akui ke ayahku cuma tujuh ribu selang 3 menit sudah benar-benar menjadi Rp7.000.

Perasaanku campur aduk selama perjalanan berangkat kerja. Dan tak terasa air mata tiba-tiba bercucuran sambil aku mengendarai motorku. Teringat wajah ayah yang baru saja aku bohongi, teringat jelas raut wajah-wajah kesedihannya, teringat jelas kata-katanya saat mencoba minta uang padaku. Dan tidak aku beri.

Sejak saat itu aku berjanji akan selalu berbakti kedua orang tuaku yakni ibu dan bapakku. Dan juga berjanji tidak akan pernah lagi membohongi ayahku.

Maafkan saya, Ayah.Selama ini aku keliru menilaimu. Aku kira hanya ibu satu-satunya orang tempat aku wajib berbakti.



Pengirim: Shohibul Imam.





======

Kedung Sukun Adiwerna Tegal mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.idDari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Lomba, Tegal, Sejarah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 29 November 2017

Ketua PWNU Jatim: Stadion Sidoarjolah yang di Dalam Warga NU

Sidoarjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Acara Istighotsah Kubro yang dihelat PWNU Jawa Timur dalam rangka memperingati hari lahir ke-94 Nahdlatul Ulama akhirnya bisa terealisasi dan diikuti oleh ratusan ribu umat. Hal ini, diakui oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH Hasan Mutawakkil Alallah.

Menurutnya, bukan lagi warga NU di dalam stadion Gelora Delta Sidoarjo, tetapi stadion Gelora Delta Sidoarjolah di dalam tengah-tengah warga NU.

Ketua PWNU Jatim: Stadion Sidoarjolah yang di Dalam Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim: Stadion Sidoarjolah yang di Dalam Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim: Stadion Sidoarjolah yang di Dalam Warga NU

"Tentunya ini di samping doa para kiai, serta semangat dan ghirah ubudiyah umat, kegiatan ini tidak lepas bantuan awak media baik, cetak, elektronik dan medsos yang sangat positif. Atas nama PWNU, kami mengucapkan terima kasih banyak," kata Kiai Mutawakil kepada awak media, Ahad (9/4).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Mutawakil berharap, mudah-mudahan di balik doa para kiai tadi, harapan akan keselamatan, kesejahteraan, kemakmuran, kedaulatan dan kehormatan bangsa Indonesia di hadapan bangsa-bangsa lain dikabulkan Allah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Dan semoga doa kiai tadi, segala bencana yang menimpa bangsa ini segera mendapatkan pintu keluar. Selain itu, semoga para pemimpin bangsa ini bisa mengambil kebijaksanaan yang pro rakyat yang mengarah kepada kesejahteraan," harapnya. (Moh Kholidun/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock