Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sesuai sebutannya, perpustakaan ini hanya menyediakan beberapa buku, biasanya hanya dalam hitungan puluhan, di tempatkan di kotak kecil dengan aneka bentuk di depan rumah-rumah warga.

Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpustakaan Mini Kini Jadi Trend di Dunia

Orang bisa membaca, meminjam, atau menyumbangkan buku.

"Pekan lalu, kami mendapatkan 11 buku baru," kata Kevin Sullivan, salah seorang pengelola perpustakaan mini di Bethesda, di pinggiran Washington DC, kepada kantor berita AFP dan dilansir oleh BBC Indonesia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Perpustakaan ini sebagai hadiah untuk istri saya. Ia kutu buku," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sullivan punya koleksi 30 buku di kotak yang ia tempatkan di depan garasi rumahnya, sebagian adalah buku-buku anak.

Mendunia

Ia dan istrinya tinggal tidak jauh dari sekolah dan mereka berharap orang tua dan murid menyempatkan waktu membaca buku-buku tersebut.

Konsep perpustakaan mini diperkirakan lahir di satu kota kecil di negara bagian Wisconsin pada 2009 ketika Todd Bol membangun rumah buku untuk menghormati ibunya yang baru saja meninggal.

Di rumah buku itu ia tempatkan koleksi buku-buku milik orang tuanya dan di atasnya ditulis papan pengumuman berbunyi "buku-buku gartis".

Tak lama kemudian tetangga-tetangga Bol mengikuti jejaknya dengan membuat kotak dengan aneka ukuran dan bentuk dan mengisinya dengan buku.

Kotak buku ini biasanya ditaruh di depan garasi atau di pagar rumah.

Kini perpustakaan mini menyebar hingga Ukraina dan Pakistan.

Pada Oktober lalu Bol mengirim tak kurang dari 20 perpustakaan mini ke Ghana.

"Sekarang ada 15.000 perpustakaan mini di 55 negara, di 50 negara bagian. Rata-rata ada 700-1.000 perpustakaan mini muncul setiap bulannya," kata Bol. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

PBNU Minta Masyarakat Dilibatkan dalam Perencanaan Pembangunan

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj meminta agar pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Selama ini, masyarakat tidak tahu apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap mereka.

Akibatnya, banyak program pemerintah yang gagal di masyarakat. Ia mencontohkan program penataran P4, yang tak berbekas di masyarakat karena mereka hanya ikut dengan alasan untuk mendapatkan sertifikat saja.

PBNU Minta Masyarakat Dilibatkan dalam Perencanaan Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Masyarakat Dilibatkan dalam Perencanaan Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Masyarakat Dilibatkan dalam Perencanaan Pembangunan

Demikian pula, NU saat ini sama sekali tidak ikut dan diajak bicara oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) soal mau diapakan Indonesia ini ke depan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Jika masyarakat tidak memahami, pasti akan ada akibatnya,” katanya dalam peluncuran buku “Jalan Terbaik Masyarakat dalam Menghadapi Perubahan Iklim” yang merupakan kerjasama antara WWF-Indonesia dengan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklin (LPBI-NU).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada kesempatan tersebut, Kang Said juga menjelaskan tentang salah kaprah istilah ulama. Al Qur’an menyebut kata ulama selama dua kali, pertama yaitu orang yang faham tentang alam semesta, atau bisa dikatakan sebagai teknokrat. Selanjutnya Qur’an menyebut kata ulama terkait dengan ilmuwannya bani Israel.

“Termasuk ahli lingkungan bisa dikatakan sebagai ulama,” paparnya.

Kerusakan yang terjadi di dunia, juga telah disebutkan dalam Al Qur’an karena terjadinya keserakahan manusia sehingga bumi rusak dan hancur. “Pengelolaan terhadap alam membutuhkan keseimbangan, seperti disimbolkan oleh angka 11,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar menegaskan, situasi perubahan iklim saat ini ada pada point of no return atau tak bisa kembali ke titik sebelumnya.

Untuk mengatasi ini, dibutuhkan kerjasama seluruh umat manusia untuk merubah gaya hidupnya agar ramah lingkungan, apalagi jumlah penduduk di muka bumi sudah mencapai 7-8 milyar manusia.

“Perlu melibatkan organisasi-organisasi yang peduli terhadap lingkungan untuk menumbuhkan kesadaran untuk berlaku ramah pada lingkungan,” paparnya.

Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Efransjah menyatakan kerjasama dengan NU dilakukan mengingat NU memiliki jejaring sosial yang luas. “Akan ada kerja nyata di pesantren,” tandasnya.

Penandatanganan Kesepakatan bersama antara WWF-Indonesia dengan PBNU terkait dengan penanganan isu lingkungan hidup dengan menumbuhkan kesadaran dalam perspektif religius. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah, Nahdlatul Ulama, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Mewujudkan Satu kalender Hijriyah Nasional

Praktek penanggalan Hijriyah di Arab Saudi yang telah ada sejak zaman Sahabat Umar bin Khatab sebenarnya dapat dilihat sebagai sebuah pilihan untuk penyusunan Kalender Hijriyah Nasional, bahkan mungkin Kalender Hijriyah Internasional. Memposisikan kalender Hijriyah sebagai kalender adminsitratif merupakan sebuah pilihan logis untuk terbentuknya kalender Hijriyah tunggal, minimal di Indonesia.

Dengan adanya kalender Hijriyah Nasional tersebut diharapkan tidak ada lagi kalender versi ormas ataupun lembaga. Karena sebagai sebuah kalender adminsitratif, hal tersebut merupakan hak Pemerintah untuk menyusunnya. Adapun untuk pelaksanaan ibadahnya masih dapat dilaksanakan sesuai keyakinan masing-masing terlebih dahulu. Adanya penanggalan Hijriyah Tunggal tersebut telah dirasakan keperluannya, terlebih dengan berkembangnya perekonomian syariah yang seharusnyalah didasarkan pada penanggalan Hijriyah.

Disamping itu, dengan menggunakan Penanggalan Hijriyah Tunggal diharapkan masyarakat Islam lebih mengenal dan memahami penanggalannya. Jika kita perhatikan, adanya penanggalan Hijriyah di Indonesia masih kita kenali karena adanya hari libur Nasional yang terkait dengan peristiwa keagamaan. Jika libur karena maulid Nabi, maka saat tersebut adalah tanggal 12 bulan Rabiul Awal yang disebut sebagai bulan Mulud oleh masyarakat Jawa. Jika libur karena memperingati Isra Miroj maka pada saat terbut kita tahu itu adalah tanggal 27 Rajab.

Pada dasarnya menyatukan kalender Hijriyah untuk keperluan administratif bersama lebih mudah dibandingan untuk menyamakan pelaksanaan ibadah. Tentu saja, pada awalnya hal tersebut terasa aneh bagi kita yang telah terbiasa beribadah karena masuk tanggal. Akan tetapi lambat laun hal tersebut akan menjadi hal yang biasa. Paling tidak dengan adanya kesepakatan kalender Hijriyah tunggal tersebut merupakan satu langkah maju. Dengan adanya kalender Hijriyah tunggal diharapkan kedepan dapat diseragamkan untuk pelaksanaan Ibadah, khususnya di wilayah Indonesia yang menganut akan faham matla wilayatul hukmi. Yang menjadi pertanyaan adalah, perlukah kita akan adanya kalender Hijriyah adminsitratif tersebut? Ataukah kita sudah mencukupkan diri dengan penanggalan Masehi yang ada.

Mewujudkan Satu kalender Hijriyah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Mewujudkan Satu kalender Hijriyah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Mewujudkan Satu kalender Hijriyah Nasional

Jika kita mau jujur, saat ini penanggalan Hijriyah seakan tidak bisa lepas keberadaannya dari penanggalan masehi. Sehingga kita perlu menyusun penanggalan Hijriyah yang Mandiri yang tidak bergantung terhadap penanggalan Masehi. Mandiri disini tidak semata menulis angka kalender Hijriyah lebih besar dari angka kalender Masehi. Kerancuan pemakaian kedua-duanya dapat berimplikasi pada pelaksanaan Ibadah.

Misal, kenapa kita melaksanakan rukyat hilal pada saat hilal diyakini tidak ada? Hal ini dikarenakan kita menghitung hari didasarkan pada hitungan dan pemahaman penanggalan Masehi sehingga muncul istilah "Hilal dibawah ufuk" yang berati hilal terbenam terlebih dahulu dibandingkan matahari. Hal tersebut pada mulanya penulis anggap sebagai hal yang umum. Akan tetapi dalam perspektif Hijriyah seharusnya tidak ada istilah Hisal dibawa ufuk karena kita dapat menghitung dan menempatkan hilal selalu berada pada tanggal 29. Sehingga sebuah kriteria penanggalan Hjriyyah yang menjadikan posisi hilal dibawah ufuk pada tanggal 29, secara pribadi, adalah kurang tepat. Pada zaman Nabi, Rukyat hilal dilaksanakan untuk mencari kemunculan hilal bukan untuk memastikan hilal tidak ada. Jika hilal sudah dibawah ufuk maka dapat dipastikan hilal tidak akan dapt diamati.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk itulah perlu dirumuskan bersama, sistem penanggalan seperti apa yang paling tepat untuk diterapkan sebagai sistem penanggalan Hijriyah Nasional ataupun penanggalan Hijriyah International. Merubah kriteria penanggalan Hijriyah bukan merupakan hal yang tabu melainkan sesuatu yang harus dilakukan demi kepentingan bersama karena kalender dibuat memang untuk digunakan secara bersama.

?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

* Hendro Setyanto

Pengurus Lajnah Falakiyyah PBNU, anggota Tim Hisab-Rukyat Nasional

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah

Jember, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Nuris Student Exchange Programme (NSEP) atau pertukaran pelajar Nuris dengan lembaga di luar negeri tahun ini terus berlanjut. Setelah memberangkatkan 19 santri ke Malaysia, Thailand, dan Singapura akhir bulan lalu, kini 5 santri Nuris bersiap-siap untuk belajar dan mengajar di negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir.

Kelima orang tersebut berasal dari MA Unggulan Nuris. Mereka adalah Ahmad Fauzan, M. Kavin Robbani (kelas XI PK A)? Abdul Aziz (kelas XI PK B),? Ihza Wahyu F. (kelas XI IPA)? dan M. Hasan Ulil Absor (kelas X PK A). Mereka terpilih sebagai peserta NSEP melalui seleksi internal yang sangat ketat.? Selain cerdas dan cakap, mereka juga harus mengikuti seleksi khusus.

Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah

“Yang pasti, mereka harus fasih berbahasa Arab dan Inggris. Itu wajib. Bahkan calon peserta masih harus mengikuti pembinaan? bahasa Arab logat Mesir atau yang dikenal dengan istilah bahasa ‘amiyah,” ucap Kepala Humas Yayasan Nurul Islam (Nuris) Jember, Gus Abdurrahman Fathoni di Nuris kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Kamis (9/2).

Pembinaan bahasa Arab khas Mesir dilakukan 3 kali dalam seminggu di bawah bimbingan Kiai Ahmad Fauzan, seorang kiai yang cukup lama bermukim di Mesir. Menurut Gus Abdurrahman, sebelum berangkat ke Arab Saudi dan Mesir, kelima sanrri tersebut terus diberi pembekalan, khusunya di sisi logat bahasa dan adat? istiadat Meser.

Dikatakannya, cukup sulit belajar bahasa Arab ‘amiyah. Sebab, bahasa tersebut tak seperti bahasa Arab yang standar. Banyak huruf yang berubah seperti kata ‘tsalatsa’ dalam bahasa Arab standar menjadi ‘talata’ dalam bahasa Mesir. ”Akhirnya mereka didorong untuk terus mencari tahu dan mendengarkan logat bahasa Arab? khas Mesir,” lanjutnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Abdul Aziz, mengaku gembira terpilih sebagai peserta NSEP. Menurutnya, hal terebut sangat berguna tidak saja bagi peningkaran wawasan keilmuan yang langsung dari pusat peradaban Islam, tapi juga berguna untuk memahami tipologi politik rakyat kedua negara tersebut.

“Kalau Arab Saudi relatif aman. Tapi Mesir dan negara sekitarnya, sangat rawan terjadi konflik horisontal, itu kenapa? Padahal muslimnya mayoritas. Syukurlah Indonesia aman meskipun terdapat beragam agama, suku dan budaya,” ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Ulama, Khutbah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail

Brebes, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sebanyak 105 anggota IPNU-IPPNU se-Pimpinan Anak Cabang Jatibarang Brebes melakukan sholat malam guna mengharap datangnya lailatul qodar. Mereka melakukan sholatul lail merupakan bagian dari kegiatn kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan dan Masa Kesetiaan Anggota (Mekesta).

IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail

“Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari anggota pelajar NU yang masih duduk di bangku SMP/MTs, SMA/SMK/MA serta para remaja masjid  perwakilan dari 10 desa di Kecamatan Jatibarang,” ujar Ketua PAC IPNU Jatibarang Kholilurohman, di sela kegiatan di Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Jatibarang Brebes, Selasa malam (14/7).

Selain sholat malam, kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu diisi dengan materi keagamaan, keorganisasian, ke-aswaja-an dan materi tentang Islam Nusantara. “Kami sengaja kegiatan ini diadakan pada akhir bulan ramadhan agar tambah berkah,” terangnya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam sambutannya, ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Ferial Farkhan menyampaikan apresiasinya, karena Sanlat dan Makesta bisa meningkatkan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah pada generasi remaja. Juga memberikan pemahaman tentang arti Islam Nusantara sesungguhnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Darussalam Jatibarang KH Soleh Muhammad Basalamah yang juga sebagai Mustasyar PCNU Brebes mengaku bangga ketika generasi muda yang tergabung dalam IPNU-IPPNU mengadakan acara pengkaderan semacam ini. 

“Hal ini menandakan bahwa NU di masa datang akan semakin baik. Terbukti para penerusnya memiliki semangat dalam belajar dan melanjutkan ajaran-ajaran pendahulunya,” ucapnya. (Wasdiun/Fathoni)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Total Pengungsi Rohingya di Bangladesh Kini Capai 700 Ribu Jiwa

New York, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Stephane Dujarric mengatakan, jumlah pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh kini mencapai 480.000 orang, sejak eskalasi kekerasan memuncak pada 25 Agustus lalu.

"Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan bahwa jumlah pengungsi Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar ke Bangladesh sejak akhir Agustus sekarang mencapai 480.000," katanya, Selasa (26/9), sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.

Total Pengungsi Rohingya di Bangladesh Kini Capai 700 Ribu Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Total Pengungsi Rohingya di Bangladesh Kini Capai 700 Ribu Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Total Pengungsi Rohingya di Bangladesh Kini Capai 700 Ribu Jiwa

Dengan demikian, menurut Stephane, total pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh saat ini mencapai lebih dari 700.000 orang. Seperti diketahui, Bangladesh telah menerima banyak pengungsi jauh sebelum tragedi akhir Agustus itu.

Rohingya ditolak kewarganegaraannya berdasarkan undang-undang kewarganegaraan Myanmar tahun 1982. Pemerintah Myanmar menganggap minoritas etnis Muslim ini sebagai imigran ilegal yang datang dari negara tetangganya, Bangladesh.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kini PBB bersama aktivis dari berbagai negara sedang berusaha membantu para pengungsi yang berjubel di Bangladesh. Mereka, terutama anak-anak, dalam kondisi memprihatinkan di tengah berbagai kendala makanan, air bersih, tempat tinggal, sanitasi, dan tentu saja trauma.

Nahdlatul Ulama sendiri telah mengirimkan delegasi sejak 23 September kemarin. Setelah melakukan kajian mendalam terhadap kebutuhan dan kondisi, tim memutuskan untuk fokus pada bantuan makanan, terutama untuk ibu dan anak-anak. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 29 Januari 2018

LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (Ma’arif NU) HZ Arifin Junaidi menyesalkan carut-marutnya pelaksanaan ujian nasional (UN), sampai ada pengunduran jadwal UN di sebelas Provinsi.

LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Sesalkan Carut-Marut UN

“Peristiwa yang baru pertama kali terjadi sepanjang penyelenggaraan UN ini tak semestinya terjadi, dan tak boleh terulang lagi,” kata Arifin dalam rilisnya yang disampaikan kepada Duta Masyarakat, Senin (15/4).

Dikatakan Arifin, carut-marut UN ini jangan sampai mengorbankan para siswa peserta UN dengan isu-isu yang meresahkan. Ia juga berharap hal ini tidak kemudian dipolitisasi dan memperkeruh masalah. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kami intruksikan kepada para pengurus Ma’arif, khususnya di seluruh cabang di sebelas Provinsi terkait, untuk ikut mengawasi dan menghindari politisasi kasus ini. Kami juga intruksikan kepada seluruh pengurus Ma’arif di Indonesia untuk ikut mengawasi berlangsungnya UN agar tak terjadi kebocoran atau kecurangan yang menodai pelaksanaan UN,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kepada para pengurus Ma’arif di sebelas Provinsi yang jadwal UN nya diundur, Arifin juga mengintruksikan agar bisa menenangkan suasana sehingga para siswa tak terganggu dalam mempersiapkan diri mengikuti UN. 

“Pengurus wilayah maupun cabang di sebelas Provinsi terkait diharapkan segera memberikan penjelasan kepada para siswanya, dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan di daerah masing-masing, juga lembaga terkait lainnya,” paparnya.

Arifin juga meminta para siswa di Sekolah Ma’arif seluruh Indonesia untuk tak tergoda oleh isu kebocoran UN, agar tetap fokus mengikuti UN. 

“Kami juga mendorong pihak yang terkait dengan masalah keterlambatan pencetakan soal UN sehingga menimbulkan pengunduran UN di sebelas Provinsi agar segera ditindak,” tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ulama, Nasional, Khutbah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock