Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sujud juga tidak baik jika asal dikerjakan. Karena dalam sujud itu terdapat nilai-nilai kerohanian yang sangat dalam. Dengan meletakkan kepala di bawah dan menempelkan kening dan hidung di atas tanah, dua lutut, dan telapak tangan serta ujung-ujung jarinya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah saw:

 

 ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Aku disuruh bersujud pada tujuh tulang pada kening seraya menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung kaku.

 

Keterangan tentang posisi fisik di atas hendaknya tidak haya dilaksanakan tetapi juga diresapi. Karena sesungguhnya rambu-rambu itu mengandung hikmah yang bila dilaksanakan dapat membantu seorang lebih khusyu’ dan ihlash dalam shalat. Jika demikian, wajar kalau Rasulullah saw kana menemani sahabatnya yang banyak bersujud

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ?. ? : ? ? . ? : ? ? . ? ? ? . ? : ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Rabiah bin Ka’ab r.a, ia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah SAW kemudian aku membawa kepadanya air untuk beliau berwudhu dan buang hajat, lalu beliau bersabda: “Mintalah dariku”, aku berkata: “Aku meminta menjadi pendampingmu di syurga”, ia bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Aku hanya meminta menjadi pendampingmu di syurga”, Rasulullah SAW bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Itu permintaanku”, ia bersabda: “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu dengan banyak engkau bersujud (shalat)”. HR. Muslim 1

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Secara fisik kondisi sujud memang menunjukkan sebuah penghambaan total. Bagaimana posisi itu begitu sangat rendahnya. Namun dibalik kepasrahan dan kerendahan itu sesungguhnya Allah swt akan meninggikan derajatnya. Sebagaimana diterangkan

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Tsauban r.a ia berkata: “Aku mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah bersujud sesungguhnya engkau tidak melakukan satu sujudpun karena Allah, melainkan Allah mengangkatkan engkau dengan sujud tersebut satu derajat dan Allah menghapuskan darimu satu kesalahan”. HR. Muslim

 

Dan yang paling hakiki dari sujud adalah merasakan kedekatan antara seorang hamba dan tuhannya. Pada saat sujud itu bisa dengan mudah seorang hamba menitikkan air mata, atau merasa intim dengan Allah swt. Begitu yang diajarkan Rasulullah saw dalam haditsnya.

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?“? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?”

 

Hadits riwayat Abi Hurairah Radhiyallahu’anhu, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dengan tuhannya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyaklah berdo’a”

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Santri, Lomba Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Oleh Nur Rohman Suwardi

Filantropi atau kedermawanan sudah menjadi roh dari kebangkitan ulama yang lahir sejak 1926, dengan nama Nahdlatul Ulama. Perjalanan ormas Islam terbesar di dunia ini dibiayai oleh kedermawanan dari para anggota atau simpatisan Nahdliyin. Kedermawanan yang dalam istilah Islam disebut dengan zakat, infak, atau sedekah, menjadi kekuatan penunjang prinsip pokok dalam perjuangan Nahdlatul Ulama.

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Zakat sebagai rukun Islam dan tiang dalam agama Islam mempunyai peran yang sangat vital. Islam dan perjuangan para pengggerak Islam akan kuat jika kedermawanan masih dijalankan oleh para pemeluknya. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an tentang sinergi antara rukun shalat dan zakat dalam mengatasi persoalan hidup. Zakat dan shalat menjadi tawaran solusi dahsyat? yang Allah berikan kepada hambanya. Zakat sebagai penjaga hubungan dengan manusia dan shalat sebagai penjaga hubungan dengan Allah secara vertikal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perjalanan filantropi Islam di Nahdlatul Ulama secara konsisten didakwahkan dan disosialisasikan dan ini menjadi komitmen semua warga Nahdliyin dalam memeluk ajaran Islam sampai sekarang. Kebangkitan zakat dan gairah perzakatan di Indonesia pun tumbuh. Atas dasar Undang-Undang Zakat nomor 38 tahun 1999, lembaga amil zakat, infak dan sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Donoyudan Solo tahun 2005. Dari situ perkembangan filantropi Islam di tubuh Nahdlatul Ulama juga mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Perjalanan lembaga filantropi di Nahdlatul Ulama yang dinamakan LembagaAmil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) mengalami perkembangan dari waktu ke waktu semenjak didirikan secara resmi di Muktamar Donoyudan Solo, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Fathurrahman Rouf. Sebagai lembaga baru di tubuh Nahdlatul Ulama, LAZISNU sudah mengumpulkan rata-rata Rp800 juta per tahun, dari tahun 2004 sampai dengan 2010.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perkembangan mulai dirasakan ketika fase kedua setelah Muktamar di Makassar, LAZISNU dipimpin oleh KH. Masyhuri Malik, pada perkembangan di era ini LAZISNU berkembang dengan performa manajemen yang lebih modern. Potret yang bisa kita lihat dari perolehan LAZISNU setiap tahunnya di rata-rata Rp6 miliar dimulai dari 2010 sampai dengan 2015.

Kemudian selepas Muktamar ke-33 NU di Jombang, LAZISNU dipimpin oleh Syamsul Huda SH Harus berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena beban yang harus ditanggung sebagai Lembaga Zakat Nasional. Lembaga Zakat Nasional seperti LAZISNU harus mampu mengumpulkan perolehan fundraising minimal Rp50 miliar. Tapi alhamdulillah pada awal 2016, beban yang diwajibkan kepada LAZISNU dalam perolehan minimal satu tahun Rp50 miliar sudah terpenuhi. Sekarang, saatnya LAZISNU yang melakukan rebranding NU CARE-LAZISNU harus mengerakkan spirit NU dalam kesadaran “berbagi bagi sesama.”

Sosialisasi tentang pentingnya filantropi selalu digalakkan sampai sekarang. Filantropi berbeda dari charity. Filantropi lebih terlihat sebagai gagasan yang terstruktur dan teratur ketimbang hanya memberi kepada yang lain dan terlebih kepengen mendapatkan dampak secara langsung bagi para donatur (direct impact).

Secara umum, konsep zakat itu harus diatur supaya teratur. Nidham (manajemen) menjadi hal yang sangat penting di warga Nahdliyin. “Kalau sudah ngasih ya sudah yang lillahita’ala,” sering ada ucapan begitu. Ini seolah-olah melegitimasi tentang tidak penting melaporkan akan kinerja yang dilakukan oleh para amilin. Padahal, pelaporan tersebut sama sekali bukan hendak menghilangkan aspek keikhlasan, melainkan sebagai konsekuensi logis nidham itu.

Kini LAZISNU diuji dan ditantang dengan harus menunjukkan keberanian untuk menjadi Lembaga Zakat Nasional, berdasar Undang-Undang 23 tahun 2011. Sesungguhnya, Undang-Undang 23 tahun 2011 ada plus dan minus dalam era kebangkitan gerakan filantropi NU. Tuntutan untuk eksis menjadi lembaga yang trusted, kredibel, dan tranparan menjadi tuntutan tidak hanyaUndang-Undang, tapi juga para donatur dan masyarakat. Pimpinan organisasi para ulama ini, Rais ‘Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin menggelorakan “Gerakan NU Berzakat Menuju Kemandirian Umat”. Ini bukan tidak ada sebab, tapi gerakan ini justru yang menjadi embrio dan spirit bagi gerakan zakat di warga Nahdliyin.



Tiga Titik Tolak


Ada tiga hal yang harus menjadi titik tolak bangkitnya filatropi NU, pertama adalah memberikan pengertian kepada masyarakat Nahdliyin tentang pentingnya berjamaah, tidak hanya berjamaah shalat, tahlilan, zikiran saja tapi harus diperluas dan diperlebar jamaah terlebih berjamaah untuk aksi berbagi kepada sesama. Masyarakat modern ini lebih suka kalau ada kegiatan aksi, bukan hanya kegiatan seremoni. Membangkitkan jamaah dengan aksi kepada sesama ini harus menjadi spirit yang digelorakan di? warga Nahdliyin. Berjamaah atau sinergi ini akan mejadi lebih sempurna jika ulama, umara (pemerintah), aghniya (kalangan berpunya) dan umat menjadi satu kesatuan dalam menyelesaikan masalah bersama terlebih isu yang menjadi pesan utama Muktamar Jombang, yaitu ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Kedua, adalah pentingnya manajemen yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pentingnya manajemen ini yang kemudian Lazisnu Pusat berinisiatif untuk menstandarkan manajemen dengan menggunakan ISO 9001-2015 dengan nomor sertifikat izin 49224. Ini membuktikan komitmen yang tinggi terhadap kebangkitan filantropi di NU untuk menjadi yang lebih baik dalam rangka mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Betapa pentingnya motto “kerjakan apa yang ditulis, dan tulis apa yang akan dikerjakan,” itulah manajemen. Semua harus berbasis data, bukan hanya katanya atau ucapan mulut.

Ketiga, pergerakannya harus dibangkitkan lagi, harakah an-nahdliyyah lizzakah, itulah gerakan yang dimotori Rais ‘Aam PBNU, supaya komitmen membangun NU lewat jalur filantropi menjadi lebih hidup dan berkembang sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri NU. Pelopor sekaligus model percontohan yang di gerakkan almarhum Abuya KH. Abdul Basit Sukabumi menjadi contoh yang patut di tiru dan diteladani. Abuya mampu membuat konsep Allah yang termaktub didalam Al Qur’an dan Hadist Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi membumi dan gampang di kerjakan dan diaplikasina umat dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan sedekah mampu memberikan manfaat kepada umat dengan pola yang sangat sederhana dan bisa di aplikasikan di mana saja kita berapa. Konsep membumikan sedekah merupakan konsep lama yang dalam Bahasa sederhana kita sehari-hari kita sebut denga? konsep gotong royong. Sedekah atau gotong royong menjadi mahluk mulia yang mampu memberikan manfaat bagi umat jika dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong (sedekah berjamaah).

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan NU Care-LAZISNU dalam memegang amanat yang mulia untuk memberikan manfaat kepada umat. Amiin.

Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Doa, Santri, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Banyak yang terperangah dengan tampilnya sejumlah penceramah di televisi namun yang bersangkutan tidak menguasai agama dengan benar. Yang terbaru, seorang ustadzah melakukan kesalahan dalam menulis Surat Al-Ankabut ayat 45 dan Surat Al-Ahzab ayat 21.

Terjadinya peristiwa ini tentunya diawali dengan sebab. "Mengapa mereka yang tidak kompeten ternyata mendapatkan tempat di media, termasuk di media sosial? Karena mereka lebih progresif dan bergerak maju," kata KH Agus Ali Masyhuri, Selasa (5/12) petang.

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Gus Ali ditemui media ini usai mengikuti rapat harian PWNU Jatim di lantai dua Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya.

"Maaf, kita harus jujur dengan sumber daya manusia sendiri. Banyak kader kita yang memiliki potensi, tetapi tidak didukung dengan kemampuan lain," kata Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Apa faktornya sehingga banyak tenaga potensial yang dimiliki kalangan pesantren dan NU ternyata tidak muncul di ranah publik? "Mungkin karena tidak ada yang bisa menyalurkan, atau memang tidak memiliki keinginan untuk maju," urainya.

Wakil Rais PWNU Jatim ini juga menduga karena sang kiai atau ustadz telah merasa puas dengan yang dicapai saat ini. Mereka merasa puas di kampungnya, dengan keadaannya saat ini. "Padahal mereka keliru dalam menerjemahkan qanaah," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai solusi, Gus Ali mengajak kalangan pesantren dan warga NU untuk berdakwah di media, termasuk di dalamnya media sosial. "Padahal barangsiapa yang menguasai media, maka memiliki separuh kemenangan dalam pembentukan opini publik. Jadi opini di masyarakat itu bisa dibentuk," terangnya.

Berlimpahnya sumber daya manusia khususnya yang memiliki komptenesi dalam menyeru agama di kalangan nahdliyin hendaknya dapat dioptimalkan. "Bahwa SDM yang kita miliki sebenarnya cukup dan memadai untuk melakukan hal yang lebih baik dari mereka," ujarnya.

Ia mengajak semua pihak berbenah diri dan melakukan konsolidasi secara terukur dan terarah. Jangan sampai para kader pendakwah gagap teknologi atau gaptek, tidak mengerti aplikasi, juga media sosial, "Karenanya, hendaklah ada di antara kita yang berdakwah di sejumlah media," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Makam, Internasional, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar kegiatan tahlilan untuk para kiai dan santri yang menjadi korban serangkaian pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa tahun silam.

Kegiatan akan diselenggarakan di aula lantai 8 kantor PBNU, jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Senin (1/10) pukul 18.30 WIB dan akan dipimpin oleh sejumlah kiai.

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI

Selain tahlilan, PBNU juga akan mengeluarkan pernyataan sikap terkait peristiwa G30S PKI dan beberapa pemberontakan yang dilakukan PKI sebelumnya. Sejumlah peneliti dan pelaku sejarah juga akan memberikan testimoni mereka dalam forum ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu ? diwartakan, Ahad 30 Septermber 2012 tadi malam, ribuan orang menghadiri kegiatan tahlil akbar untuk arwah korban keganasan OKI di Monumen Bendo Magetan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Di situ pada 1948, sebanyak 108 tokoh dibunuh secara kejam oleh PKI dan dimasukkan ke dalam satu sumur,” kata Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, Ahlussunnah, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Belajar Romantisme dari Gus Dur

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Banyak orang menilai, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai sosok yang memiliki intelektualitas luar biasa, meskipun terkadang kontroversial. Namun dibalik itu semua, Presiden RI keempat ini ternyata seorang pribadi yang romantis sejak muda sampai akhir hidupnya.?

Belajar Romantisme dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Romantisme dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Romantisme dari Gus Dur

Hal itu mengemuka dalam diskusi dan bedah buku "Peci Miring, novel biografi Gus Dur" yang diadakan oleh GP Ansor Gebog, Ahad (18/12) lalu di Aula MA NU Nurussalam, Gebog, Kudus, Jawa Tengah.

Hadir sebagai narasumber penulis buku "Peci Miring" Aguk Irawan, Mantan Pengurus PCINU Turki Ahmad Faiz, dan Ketua Lakpesdam PCNU Kudus, H Asyrofi Masyitoh. Mereka membincang Gus Dur dari berbagai aspek yang dimoderatori oleh Jurnalis NU Kudus dan staf Humas Universitas Muria Kudus, Rosidi.

Menjadi pembicara pertama, Aguk memaparkan kenangannya dalam menulis novel biografi miliknya itu. Ia menemukan Gus Dur merupakan pribadi yang romantis. Di balik kehidupan cucu pendiri NU yang serba sibuk itu, sosok Gus Dur selama hidupnya seringkali mengirimkan surat cinta kepada istrinya Sinta Nuriyah Wahid. Bahkan sebelum menikah Gus Dur juga lebih suka mengirim buku dan bunga kepada Ibu Sinta.

"Saya bahkan tidak menyangka kiai kita begitu romantis. Cara pendekatannya itu sama sekali tidak terpikirkan oleh kebanyakan pemuda, termasuk saya," papar Aguk.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain itu, lanjut Aguk, Gus Dur merupakan pribadi yang sangat bertanggung jawab dan amat memuliakan wanita. Hampir semua pekerjaan rumah, mulai dari masak, bersih-bersih dan mencari nafkah dikerjakan oleh Gus Dur.?

Disamping memang karena salah satu hobi Gus Dur adalah memasak. Ketika ditanya alasan mengapa Gus Dur mau melakukan itu semua ialah karena tugas seorang ibu untuk membesarkan anak itu sudah sangat berat. "Betapa itu juga teladan bagus bagi para laki-laki, suami dan kita semua," paparnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam paparannya Aguk juga menyampaikan alasan dan tips dirinya bisa menulis banyak buku novel biografi. Ia mengklaim bahwa kemampuan itu sesungguhnya lahir sebab dorongan kekaguman yang memuncak. Dari rasa kagum itulah akhirnya Aguk bisa menulis halaman demi halaman dalam waktu yang singkat. Meski begitu ia mengakui bahwa tulisan itu tetap lahir karena riset yang panjang.

Sementara itu, Asyrofi menyampaikan pengalamannya kala bersua dan silaturrahim dengan Gus Dur. Menurutnya selain pribadi yang intelektualis dan romantis sebagaimana dipaparkan Aguk, Gus Dur merupakan tokoh yang dicintai banyak sekali orang. Hal itu kemudian banyak penulis yang mengangkat sisi kehidupannya ke dalam sebuah buku.

"Karena cintanya kepada Gus Dur banyak orang yang kemudian menulis sesuatu tentangnya. Maka tak heran jika kita temui banyak sekali karya tulis tentang Gus Dur. Memang luar biasa," tuturnya.

Asyrofi menuturkan rasa cinta dan kagum itu dilatarbelakangi sebab pribadi Gus Dur yang memang ramah dengan semua orang dan golongan. Sikap dan nilai yang beliau usung merupakan sikap yang amat memanusiakan manusia. Dan, yang paling berkesan dari Gus Dur yaitu selera humornya yang tinggi.

Selanjutnya, secara santai Ahmad Faiz menyampaikan kekagumannya kepada Gus Dur terutama dalam merangkul manusia-manusia di seluruh Dunia. Hal itu dikemukakan mengingat Gus Dur juga pernah aktif dalam Persatuan Pelajar Indonesia Timur Tengah.

Kegiatan bedah buku yang rangkaian acara peringatan Haul ke-7 Gus Dur yang diadakan GP Ansor, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU Gebog Kudus ini berlangsung meriah dengan selingan humor-humor dan kisah hidup tentang Gus Dur yang asyik untuk disimak.?

Pada waktu yang sama pula sejumlah siswa mewakili pelajar se-Kabupaten Kudus untuk lomba menulis surat untuk Gus Dur. Satu seminggu sebelumnya diadakan lomba mewarnai dan menggambar wajah Gus Dur dengan peserta anak-anak TK, PAUD dan siswa siswi MI/SD se Kudus. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Mentradisikan Teknologi

Judul Buku: Teknologi Sebagai Tradisi; Refleksi Pengalaman 4 Tahun Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengantar: KH Hasyim Muzadi

Penulis: Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Jakarta

Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentradisikan Teknologi

Cetakan: I, Agustus 2007

Tebal: 56 Halaman

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peresensi: Ach Syaiful A’la*


Nahdlatul Ulama—biasa disingkat NU—artinya adalah ”Kebangkitan Ulama”. Sebuah organisasi keagamaan kemasyarakatan (jamiyah diniyah ijtimaiyah) yang didirikan para ulama, 31 Januari 1926 M/16 Rajab H di Surabaya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Latar belakang berdirinya, berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran kaum modernitas Islam atas situasi politik dunia Islam. Berawal dari pemikiran Syeikh Muhammad Abduh di Mesir, dan gerakan Wahabi yang dipelopori Abdul Wahab di Arab Saudi, dengan tujuan untuk memurnikan ajaran Islam.

Gerakan ini ingin memacu perkembangan Islam menghadapi perubahan zaman, dengan tetap berdasarkan Al-Quran dan Hadits (konservatif) yang tidak menghendaki ajaran bermazhab. Sementara, kalangan pesantren dan ulama salaf Indonesia, yang tetap berpegang pada ajaran bermadzhab dalam menjalankan syariat Islam, membentuk sebuah komite yang dipimpin KH Wahab Chasbullah atas restu KH Hasyim Asyari.

Komite kemudian mengalih perhatian ke kongres Islam yang diprakarsai Ibnu Suud, penguasa Hijaz baru di Arab. Gagasan Ibnu Suud akan menghapus tradisi keagamaan dan ajaran bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, Maulid Nabi, dibicarakan dalam dua kongres umat Islam berturut-turut. Di Yogyakarta tahun 1925 dan di Bandung tahun 1926. Walaupun kongres Bandung sebenarnya hanya mengesahkan kesepakatan sebelumnya, karena nama, KH Abdul Wahab Chasbullah (delegasi pesantren) dicoret di konferensi khilafah umat Islam se-dunia, dengan alasan bukan organisasi. Peristiwa itu menyadarkan ulama pengasuh pesantren, betapa pentingnya sebuah organisasi. Akhirnya, para ulama pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan Ibnu Suud. Bahkan santer terdengar berita, rencana akan menggusur makam Nabi Muhammad Saw. Maka melalui proses panjang lahirlah “NU”.

Perkembangan NU ternyata semakin pesat. Mungkin di luar dugaan para pendirinya. Kebesaran ini tak lepas dari adanya kreatifitas para aktor sebagai pengendali dan uswah bagi umatnya. Dan sistem manajemen kepengurusan NU secara struktural sangat jelas, mulai tugas, fungsi, wewenang, kebijakan dari tingkat pusat hingga ranting.

NU, sebagai jamiyah diniyah ijtimaiyah, sangat menghargai nilai-nilai tradisi dan budaya. Karena kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan tradisi dan budaya. Salah satu karakter budaya adalah berubahan yang terus menerus, hal ini diciptakan oleh manusia. Maka, budaya bersifat beragam sebagaimana keberagaman manusia. Menghadapi hal semacam itu, NU mengacu pada salah satu kaidah fiqh “al-muhafazhah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidil al-ashlah” (mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik).

Di tengah arus informasi dan komunikasi yang tak lagi terbendung, ternyata internet menjadi sebuah sarana alternatif yang harus digalakkkan. Maka apresiasi terhadap teknologi terasa perlu dilakukan karena pengetahuan warga “Nahdliyin” masih terbatas tentang teknologi. Dengan harapkan akan memunculkan masyarakat terpelajar dan melek informasi. Masyarakat tidak hanya tahu informasi keagamaan dari para mubalig, tetapi juga bisa banyak mengakses informasi mengenai perkembangan politik, ekonomi, sosial serta gerak lajunya kebudayaan.

Membuka mata dengan informasi nantinya akan menjadi manusia yang kritis dan mandiri. Orang yang kritis dan mandiri bisa mengambil keputusan atau sikap atas dasar keyakinan dan pertimbangan menurut rasionalnya sendiri. Juga menambah wawasan para kiai, pengasuh pesantren, dan santri agar pemikiran mereka relevan bagi perkembangan zaman, shalih fi kulli zaman wa makan. Oleh karena itu, dirasa perlu “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” lahir untuk masyarakat NU.

Kenapa harus ada “Kedung Sukun Adiwerna Tegal”? Padahal sudah banyak media NU lainnya yang menfokuskan berbagai kajian tentang NU dan Ahlussunnah Wal Jamaah, Aswaja. Di antaranya: Bintang Sembilan (Sumatera Barat), Aula dan Duta Masyarakat (Jawa Timur), Khittah (Sulawisi Selatan), Forum Warga (Jawa Tengah) dan beberapa media lainnya tingkat cabang.

Setelah membuka website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” pembaca akan menemukan jawabannya. Melalui proses panjang, yang pada tanggal 11 Juli 2003 secara resmi “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” diluncurkan di hall Hotel Borobudur, Jakarta. Bahkan tahun 2004-2005 website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” mendapat penghargaan situs terbaik kategori “Sosial & Kemasyarakatan”. Ini menandakan bahwa NU tidak hanya berjuang dalam bentuk tindakan nyata di masyarakat. Tapi juga NU memberikan pencerahan-pencerahan dalam dunia maya.

Terlepas adanya beberapa kelemahan website itu, adalah hal yang tetap patut disyukuri. Karena dengan adanya media seperti ini, berarti NU telah memperkenalkan ajarannya, yaitu, Islam Indonesia yang moderat, rahmatan lil alamin. Karena kini, NU telah go international dikenal kurang lebih 21 negara belahan dunia.

Buku ini, tidak bermaksud dijadikan sebagai rujukan (reference) bacaan yang mempunyai dasar pemikiran, rumusan masalah, metode, dan lain-lain. Tapi hanya sebatas memperkenalkan kepada warga “Nahdliyin” khususnya, pembaca pada umumnya tentang adanya website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal”.

Website ini menyediakan berbagai “menu”? all about NU: sejarah berdirinya, tokoh, forum diskusi, beberapa istilah organisasi, dan lain-lain. Menariknya lagi, di website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” tersedia dalam tiga bahasa. Pembaca bisa ber-cas-cis-cus dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris sesuai dengan selera. Selanjutnya, selamat berkunjung di website: http://www.nu.or.id.



*Kader muda Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Aktif di Lesehan Komunitas Baca Surabaya (Kombas).
Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah

Probolinggo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Setelah terpilih sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo masa bakti 2017-2019, Evi Kumalasari bertekad akan memaksimalkan peran pimpinan komisariat (PK) di semua lembaga MTs dan MA di Kota Probolinggo.

“Hal ini merupakan salah satu program yang ingin saya jalankan dengan tujuan ingin membuat PAC IPPNU Wonoasih semakin baik ke depannya, khususnya dalam kaderisasi di organisasi,” kata Ketua IPPNU Wonoasih Evi Kumalasari, Senin (23/1).

Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah

Menurutnya, saat ini di Kecamatan Wonoasih terdapat sebelas lembaga MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah). “Alhamdulillah, sudah terbentuk PK IPPNU di delapan lembaga MTs dan MA. Ke depan kami berupaya agar semua lembaga ada PK IPPNU-nya,” jelasnya.

Setelah semua sekolah di bawah naungan LP Ma’arif terbentuk PK IPPNU, jelas Evi. Ia akan mencoba membentuk komisariat di sekolah negeri dan menjalin kemitraan dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Sehingga dalam setiap kegiatan sekolah, OSIS dan IPPNU bisa saling bersinergi dengan baik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Tugas ini memang sangatlah berat, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita masih belum mencoba dan belum berusaha. Tapi untuk sementara kita fokus dulu kepada sekolah di bawah naungan LP Ma’arif,” tegasnya.

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih ini mengaku demi mewujudkan program itu dirinya telah menjalin komunikasi yang intens dengan beberapa sekolah.

“Saat ini masih proses ke arah sana. Target kami setidaknya tahun ini minimal ada dua lembaga sekolah MTs dan MA. Syukur-syukur kalau bisa tiga sehingga lengkap sebelas lembaga MTs dan MA ada PK IPPNU-nya,” tambahnya.

Ia menambahkan, keberadaan PK IPPNU di lembaga sekolah ini sangat bermanfaat dalam upaya melakukan kaderisasi organisasi. Karena selama ini pihaknya mengaku kesulitan mendapatkan kader tatkala kader yang ada ditarik ke cabang.

“Mudah-mudahan keberadaan komisariat IPPNU ini bisa membantu keberlangsungan organisasi di masa yang akan datang,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB

Mataram, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat menyambut baik seminar LPBHNU NTB yang dihadiri Kepala BPN NTB, Kepolisian, dan pengadilan tinggi agama NTB ini. Pihak PWNU NTB berharap instansi terkait seperti BPN NTB dan pihak aparat untuk melakukan aksi nyata dalam menyelesaikan masalah pertanahan di Lombok dan sekitarnya.

Ketua PWNU NTB TGH Achmad Taqiuddin Mansur menyatakan terima kasih kepada para hadirin atas perhatiannya pada isu pertanahan di kawasan NTB. Taqiuddin Mansur menilai isu pertanahan merupakan persoalan masyarakat yang sangat krusial dan agak rumit.

PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU NTB Tunggu Langkah Konkret BPN NTB

“Kami berharap khususnya narasumber dan instansi terkait tidak berhenti sampai pada seminar, tetapi perlu ada tindak lanjutnya,” kata Taqiuddin Mansur di akhir seminar di aula kantor PWNU NTB jalan Pendidikan nomor 6 Mataram, Senin (16/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia juga mendukung inisiatif awal dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) NTB untuk mengangkat wacana pertanahan di NTB. Langkah konkret ke depan, kata Mansur, LPBHNU NTB perlu melakukan pendampingan di masyarakat soal pertanahan.

Sementara Ketua BPN NTB Budi Suryanto menyatakan siap menjalankan tugas sesuai undang-undang. Saat ini, menurutnya, ia baru menjajaki masalah pertanahan di NTB. “Saya baru 5 bulan tugas di sini.”

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia berjanji akan segera menyelesaikan persolan tanah dan melakukan pendekatan berbasis spiritual, secara kekeluargaan, dan sejenisnya. Kalau dengan cara ini juga buntu, penyelesaian secara hukum merupakan jalan terakhir.

“Karena BPN tidak berwewnang untuk memutuskan perkara hukum melainkan menerbitkan sertifikat jika sudah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Saya menekankan kepada jajarannya untuk manata ketertiban administrasi agar tidak ada sertifikat ganda,” tandas Budi. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Santri, AlaSantri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal?

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta kader-kader Ikatan Pelajar Nahdlatul ULama (IPNU) untuk melengkapi dirinya dengan segala skill untuk internal dan eksternal.?

Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU

“Artinya kader NU membangun dirinya dan membangun kontribusi untuk bangsa ini,” pesannya di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (22/2) kepada organisasi pelajar NU yang kini Jumat (24/2) berusia 63 tahun.

Ia menambahkan, IPNU harus melengkapi dengan kemampuan di bidang teknologi informasi dan dunia literasi seperti jurnalistik, dan harus mampu mengikuti arus putaran zaman yang cepat.?

“Mudah-mudahan IPNU menjadi kader NU masa depan yang bisa kita harapkan,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta tersebut.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia juga berpsan agar kader IPNU, dalam menjalankan organisasi untuk menghindari konflik internal, karena itu sangat merugikan.?

Daripada konflik, lanjutnya, lebih baik IPNU fokus untuk hal-hal yang positif demi menjaga kekuatan Islam Ahlussunah wal-Jamaah, Islam Nusantara, sekaligus juga memperkuat peran dan posisi ulama, kiai-kiai NU.

“Akhir-akhir ini ada upaya kiai NU digeser dalam kepemimpinan agama,” pungkas kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak tersebut. ?

KH Said Aqil Siroj pernah aktif Pimpinan Anak Cabang IPNU Palimanan Kabupaten Cirebon sebagai sekretaris pada tahun 1965. (Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, Kiai, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik

Jembrana, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Jembrana, Bali, mendirikan 10 Posko Mudik yang tersebar di sepanjang jalur utama Denpasar-Gilimanuk. Posko yang didirikan secara mandiri ini sudah melalui proses koordinasi dengan pihak Polres Jembrana guna membantu kelancaran dan keamanan para pemudik yang akan menyeberang ke Pulau Jawa.

Posko utama berada di Kelurahan Gilimanuk, sebagai pintu keluar dan menjadi pusat bertumpuknya kendaraan. Sementara titik posko yang lainnya berada di Desa Pekutatan, Pulukan, Medewi, Yeh Sumbul, Poh Santen, Baluk, Kaliakah, Candikusuma dan Melaya.

Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jembrana Bali Dirikan 10 Posko Mudik

Wakil Komandan Satkorcab Banser Jembrana, Ipan menjelaskan penjagaan di masing masing posko ini dilakukan secara bergantian dan secara sukarela. Hal ini dilakukan semata mata untuk memudahkan para pemudik manakala terjadi gangguan dalam perjalanan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Biasa dalam perjalanan banyak kemungkinan yang terjadi, sehingga kami siaga 24 jam siap membantu para pemudik apabila ada masalah dalam perjalanannya," ungkapnya, Rabu (21/6).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ipan menambahkan, Posko Banser juga dapat digunakan para pemudik sebagai tempat istirahat. "Jadi kalau ngantuk atau kelelahan, posko kami bisa dijadikan tempat istirahat," jelasnya.

Ia juga mengingatkan para pemudik untuk berhati hati dalam berkendara. Karena jalur Denpasar-Gilimanuk ini akan semakin padat menjelang hari H lebaran.

"Mohon patuhi rambu lalu lintas, karena dalam seminggu terakhir di jalur ini sudah dua kali terjadi kecelakaan maut, jadi mohon berhati hati," tegasnya. (Abraham Iboy/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Aswaja, Santri, Anti Hoax Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Selamat Datang Bulan Dzulqa’dah 1437 H!

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan ikhbar bahwa awal bulan Dzulqa’dah 1437 hijriah jatuh pada Kamis ini (4/8), persisnya sejak Rabu tadi malam, berdasarkan hasil rukyat hilal dari berbagai tempat.

Selamat Datang Bulan Dzulqa’dah 1437 H! (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Datang Bulan Dzulqa’dah 1437 H! (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Datang Bulan Dzulqa’dah 1437 H!

Ketua LF PBNU KH A. Ghazalie Masroeri melaporkan, tim rukyat hilal berhasil pada Rabu petang berhasil melihat hilal antara lain di Pondok Pesantren Baytul Hikmah Pasuruan, Jatim dengan perukyat Ustadz M Inwan Nudin; serta di Pantai Cibeas Pelabuhan Ratu Sukabumi, Jabar (KH Yahya dan para perukyat lainnya).

Ikhbar ini sesuai dengan prediksi LF PBNU sebagaimana data hisab yang tercatat dalam almanak PBNU bahwa awal bulan Dzulqa’dah jatuh pada Kamis Legi dengan ketinggian hilal 050 19’ 51” dari markaz Jakarta.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Ghazalie mengapresiasi keterlibatan warga NU dari berbagai daerah dalam proses observasi bulan sabit kali ini. “Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi Nahdliyyin,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dzulqa’dah merupakan bulan ke-11 dalam kalender hijriah. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (asyhur hurum) seperti yang disebutkan Al-Qur’an.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in menjelaskan, bulan paling utama untuk ibadah puasa setelah Ramadhan ialah bulan-bulan yang dimuliakan Allah dan Rasulnya. Yang paling utama ialah Muharram, kemudian Rajab, lalu Dzulhijjah, terus Dzulqa‘dah, terakhir bulan Sya‘ban. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal -?

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, di Jakarta, Rabu (30/11) menginstruksikan seluruh kader pemuda Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia untuk memperbanyak membaca istighfar demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Langkah tersebut, ujar pria karib dipanggil Gus Yaqut itu, diambil karena ada permintaan khusus para kiai setelah mencermati kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini.

GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI

"Seluruh kader dari pusat hingga ranting harus meningkatkan siaturahim dengan para ulama dan kader serta memperbanyak bacaan istigfar minimal seratus kali sehari dengan niat memohon kepada Allah SWT agar NKRI tetap utuh dan selamat," tegasnya.?

Terpisah, Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni menginstruksikan seluruh jajaran Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) hingga Satuan Koordinasi Kelompok (Satkorkel) untuk tetap satu komando di bawah Kasatkornas selaku penanggungjawab operasional dan Ketua Umum PP GP Ansor sebagai pemegang komando tertinggi Banser.

Kasatkornas Banser itu juga meminta seluruh kader inti Pemuda Ansor untuk tidak terlibat dalam atau memobilisasi aksi massa yang diselenggarakan oleh pihak atau kelompok manapun.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Seluruh anggota Banser memperbanyak wirid dan memohon ampun kepada Allah SWT demi utuhnya NKRI dan tegaknya Pancasila," kata dia. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Bahtsul Masail, Santri, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Mustasyar NU Lampung: Hindari Saling Curiga, Hormati Agama Lain!

Pringsewu, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Agama mengajarkan agar penganutnya menanamkan pemahanan terhadap naskah suci melalui pendekatan kontekstual, bukan hanya pemahaman secara tekstual. Agama juga mengajarkan umatnya untuk bersikap inklusif serta toleran antara sesama umat beragama.

Selain itu, agama juga mengajarkan umatnya untuk menanamkan saling menerima keberadaan umat beragama lain dan saling mengerti kebutuhan umat beragama lain. Oleh karenanya perlu dihindari rasa curiga dengan mengembangkan forum dialog di lingkungan internal umat beragama, antarumat beragama, dan umat beragama dengan pemerintah.

Mustasyar NU Lampung: Hindari Saling Curiga, Hormati Agama Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar NU Lampung: Hindari Saling Curiga, Hormati Agama Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar NU Lampung: Hindari Saling Curiga, Hormati Agama Lain!

Demikian disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Mustasyar PWNU Lampung KH DR Khairuddin Tahmid saat menjadi pembicara pada Dialog Pelibatan Dai dan Tokoh Pendidikan dalam Pencegahan Paham Radikal-Terorisme yang dilaksanakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung di Hotel Balong Kuring Pringsewu, Kamis (11/8).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Apa yang disampaikan oleh Dosen Pasca Sarjana IAIN Raden Intan ini merupakan konsep dalam beragama yang dinamakan sebagai konsep tawasuthiyah atau moderat. Ia mengajak umat Islam untuk mengembangkan fikrah tawasuthiyah ini di tengah-tengah masyarakat agar radikalisme dan terorisme dapat dihilangkan.

Kiai Khairuddin, begitu ia biasa dipanggil, menjelaskan bahwa sikap tawasuth merupakan salah satu metode untuk melakukan dakwah inklusif sebagai model pencegahan radikalisme dan terorisme. Dakwah inklusif terbukti telah berhasil mencerahkan karena mengedepankan kearifan dalam berdakwah.

"Dakwah itu menyejukkan bukan menyalah-nyalahkan," tegas Kiai Khairuddin. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, Makam, Habib Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat

Sepuluh tahun sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) secara nyata bughot (memberontak) terhadap pemerintah RI, mereka ikut menjadi kontestan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955 yang melibatkan 13 partai lain termasuk Partai Nahdlatul Ulama (NU).

Pemilu pertama dalam sejarah Indonesia ini disebut-sebut berjalan demokratis. Namun demikian, PKI memunculkan kegaduhan dengan menyalahi ketetapatan Menteri Dalam Negeri Mr. R. Sunaryo perihal lambang partai. Semua partai menyepakati ketetapan Mendagri, kecuali PKI.

Tanda gambar PKI berupa palu arit dibubuhi tulisan “PKI dan orang-orang tak berpartai” diprotes oleh NU namun PKI tetap bertahan. Terjadi silang pendapat di antara NU dan PKI yang berujung pada Mr. R. Sunaryo untuk memanggil perwakilan dari kedua partai.

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat

Dilakukanlah musyawarah yang menghadirkan wakil-wakil NU dan PKI disaksikan Mendagri dan Ketua Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) S. Hadikusumo. Partai NU mengutus Idham Chalid dan Munir Abisudjak, sedangkan PKI mengirim DN. Aidit dan Sudisman. Terjadilah perdebatan sengit di antara mereka seperti yang diungkap KH Saifuddin Zuhri dalam memoarnya Berangkat dari Pesantren sebagai berikut:

Mr. R. Sunaryo: Saya persilakan wakil NU untuk mengemukakan keberatan-keberatannya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Idham Chalid: Menurut NU, tanda gambar atau simbol PKI selama ini cuma palu arit, tak ada embel-embel kalimat, ‘dan orang-orang tak berpartai’.

DN. Aidit: PKI berpendapat bahwa banyak sekali orang-orang tak berpartai tetapi memercayakan perjuangan politiknya kepada PKI.  Karena hasrat yang mulia itu kami tampung.

Idham Chalid: Tetapi tidak semua orang tak berpartai simpati kepada PKI. Dengan menyamaratakan semua orang tak berpartai seolah-olah simpati PKI jelas bahwa ada niat PKI mencatut nama rakyat bahkan hendak mengelabui mata rakyat.

DN. Aidit: Saya protes saudara menuduh PKI mencatut nama rakyat bahkan mengelabui mata rakyat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Idham Chalid: Protes saudara saya tolak. Saya sekadar menyatakan kenyataan yang saya rasakan.

Sudisman: Dari mana saudara merasakan PKI mengelabui mata rakyat?

Idham Chalid: Dari kenyataan yang ada dalam masyarakat. Di sana banyak orang-orang tak berpartai yang bersimpati kepada NU, kepada Masyumi, kepada PNI dan sebagainya. Kalau terhadap mereka yang pandangan hatinya berbeda-beda lalu dituntut seolah-olah mereka juga ikut PKI semua, apakah ini bukan mencatut nama rakyat dan mengelabui mereka?

Karena situasi musyawarah semakin panas, Mendagri Sunaryo mengambil alih dan menyela perdebatan.

Mr. R. Sunaryo: Saya harap saudara Aidit mengindahkan keberatan pihak lain!

S. Hadikusumo: Saya kira PKI tidak boleh mengikuti kehendak sendiri. Semua tanda gambar dalam pemilu harus diputuskan melalui kebulatan bersama.

DN. Aidit: Kalau begitu saya usulkan agar NU juga menambah kalimat, ‘NU dan semua orang Islam’ di bawah tanda gambarnya.

Idham Chalid: Tidak bisa! Bagaimana saya harus melakukan hal-hal yang saya sendiri memprotesnya? Orang-orang Islam yang tidak berpartai itu hati kecilnya mempunyai simpati kepada partai tertentu. Ada yang bersimpati pada Masyumi, PSII, Perti, dan ada yang kepada PNI maupun IPKI dan sebagainya. Saya tidak ingin NU mencatut nama orang-orang tak berpartai seolah-olah pro NU semua.

DN. Aidit dan Sudisman akhirnya tidak mempunyai argumen-argumen lain untuk membantah Idham Chalid. Pada kesempatan ini, akhirnya Mendagri Mr. R. Sunaryo dan Ketua PPI S. Hadikusumo memutuskan bahwa PKI dilarang menyematkan kalimat ‘orang-orang tak berpartai’, kecuali tanda gambar palu arit. 

Setelah pertarungan dalam pemilu usai, berikut perolehan suara partai-partai dalam pemilu 1955 tersebut: PNI (57 suara), Masyumi (57 suara), NU (45 suara), PKI (39 suara), PSII (8 suara), Parkindo (8 suara), Partai Katolik (6 suara), PSI (5 suara), Perti (4 suara), IPKI (4 suara), Murba (2 suara), Partai Buruh (2 suara), dan Gerakan Pembela Pancasila (2 suara). (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Santri, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar?

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya seorang wali bagi anak perempuan saya yang masih gadis. Saya mau bertanya tentang mahar, apakah dalam soal mahar. Apakah seorang wali bagi anak gadisnya boleh menentukan besaran maharnya? Atas penjelesannya saya ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Hasan/Lombok)

?

---

Waalaikum salam wr. wb.

Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mayoritas para fuqaha` berpendapat mahar atau mas kawin bukan termasuk rukun atau syarat dalam akad nikah. Tetapi mahar merupakan konsekwensi logis yang ditimbulkan dari akad nikah tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Menurut mayoritas fuqaha` mahar bukanlah salah satu syarat dalam akad nikah, bukan juga salah satu rukunnya. Tetapi mahar hanyalah merupakan salah satu konsekwensi logis yang timbul karena akad nikah tersebut. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, cet ke-2, Kuwait-Dar as-Salasil, 1404 H-1427 H, juz, 24, h. 24)

Jika mahar merupakan konsekwensi logis yang timbul karena adanya akad nikah, lantas hak siapakah mahar itu? Allah swt berfirman dalam al-Quran;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Berikanlah mahar kepada wanita sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (Q.S. An-Nisa`: 4)

Pembicaraan dalam ayat ini menurut Ibnu Abbas, Qatadah, Ibnu Zaid, dan Ibnu Juraij ditujukan kepada para suami. Allah swt memerintahkan kepada mereka untuk ber-tabarru` (berderma) kepada isteri-isteri mereka dengan memberikan mahar dengan penuh kerelaan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Qurthubi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Pembicaan dalam ayat ini itu ditujukan kepada para suami sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, Ibnu Zaid, dan Ibnu Juraij. Allah swt memerintahkan kepada mereka untuk berderma kepada isteri-isteri mereka dengan memberikan mahar dengan penuh kerelaan” (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Riyadl-Daru ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M, juz, 5, h. 33)

Perintah untuk memberikan mahar kepada perempuan yang dinikahi secara kasat mata menunjukkan bahwa mahar itu menjadi hak perempunan, bukan walinya. Jika, mahar merupakan hak dari pihak perempuan, maka wali secara otomatis tidak memiliki kewenangan untuk menentukan besaran mahar. Dengan bahasa lain, wali tidak boleh melakukan intervensi dalam menentukan berapa mahar yang harus diserahkan mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan.

Namun persoalannya akan menjadi lain, apabila pihak perempuan meminta pertimbangan kepada walinya dalam hal menentukan besar mahar yang pantas ia minta. Sebab, wali diminta oleh pihak perempuan untuk urun rembug dalam soal menentukan besaran mahar. Begitu juga ketika pihak perempuan mewakilkan kepada walinya untuk menentukan besaran maharnya.

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban yang dapat kami kemukakan adalah sebagai berikut;

Pertama, mahar adalah hak bagi perempuan, karena itu wali tidak boleh mengintervensi atau menentukan besaran mahar. Kedua, apabila pihak perempuan mewakilkan atau menyerahkan urusan penentuan besaran mahar kepada walinya, maka dalam hal ini wali boleh menentukan berapa besaran maharnya.

Ketiga, jika ternyata pihak perempuan meminta pertimbangan kepada walinya mengenai berapa jumlah mahar yang pantas untuk dirinya maka dalam hal ini boleh saja wali urun rembug dalam menentukan besaran maharnya dengan persetujuan pihak perempuan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dimengerti dan dipahami dengan baik. Saran kami, sebaiknya dalam soal penentuan mahar, pihak perempuan bermusyawarah dengan bapaknya (wali) atau keluarganya. Disamping itu dalam menentukan besaran mahar sebaiknya melihat kondisi kemampuan pihak mempelai laki-laki. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ulama, Santri, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Datangkan Dokter, Muslimat NU Jember Periksa Kesehatan Lansia

Jember, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Di tengah berbagai kegiatan rutinnya, Muslimat NU Jember menggelar pertemuan dengan para? wanita lansia, terutama yang bertempat tinggal di sekitar lokasi kantor badan otonom Nahdlatul ulama tersebut, pada Ahad (4/12). Muslimat NU mendatangkan seorang dokter untuk memeriksa kesehatan para lansia tersebut.

Datangkan Dokter, Muslimat NU Jember Periksa Kesehatan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
Datangkan Dokter, Muslimat NU Jember Periksa Kesehatan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)

Datangkan Dokter, Muslimat NU Jember Periksa Kesehatan Lansia

Namun sebelum itu, juga dilakukan istighotsah dan sosialisasi hidup sehat. “Bagaimanapun mereka telah berbuat sesuatu bagi keluarganya, dan kondisi fisiknya harus kita jaga,” ujar Ketua PC Muslimat NU Jember Nyai Hj. Emi Kusminarni kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Menurut Nyai Emi, pertemuan dengan para lansia akan menjadi agenda rutin ke depan. Selain cek kesehatan dan sebagainya,? juga akan digelar senam lansia, rekreasi bersama, bahkan dalam waktu dekat mereka akan dibuatkan kebun sayur hidroponik di tanah pekarangan area kantor PC Muslimat NU Jember.

“Intinya mereka akan kita buatkan kegiatan yang menyenangkan supaya hidupnya sehat dan terus bisa berinteraksi dengan kita. Sebab, mereka juga punya? ilmu, setidaknya ilmu pengalaman,” ungkapnya di sela-sela di kegiatan tersebut di kantor PC Muslimat NU Jember.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Kepala Puskesmas Jember Kidul, dr. Apsari dalam paparannya menegaskan betapa pentingnya menjaga kesehatan? bagi para lansia. Sebab, lansia biasanya rawan diserang penyakit. Oleh karena itu, selain menjaga tradisi hidup bersih, mereka juga perlu rutin berolahraga.

“Agar ibu-ibu sehat lahir bathin. Untuk urusan lahir, ibu-ibu punya tanggung jawab masing-masing. Sedangkan urusan bathin, ini bagian dari tugas muslimat NU,” ucapnya dihadapan 60 wanita lansia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di ujung acara tersebut diberikan doorprize sembako. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal PonPes, Kajian Sunnah, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 30 November 2017

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan

Way Kanan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ratusan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Way Kanan di Lampung menangis haru mendengar Puja Adelia (5) Binti Juharmin (almarhum) dari Kampung Jukubatu Kecamatan Banjit menyanyikan lagu kerinduan seorang anak kepada bapaknya pada kegiatan santunan anak yatim piatu.

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan

"Ayo bersama alim ulama. Salah satu perilaku alim ulama ialah menyantuni anak yatim seperti genduk (anak perempuan kecil) yang tadi menyanyi dan membuat nangis mbrebes mili (menangis tersedu), itu pahalanya besar," ujar Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Soleh Bajuri di Banjit, Way Kanan yang berada sekitar 220 km sebelaha Kota Bandarlampung, Selasa (4/11).

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan Lampung, menyantuni 74 anak yatim piatu di daerah tersebut. Dana dari donatur yang dibagikan oleh Paimo, Ketua MWC NU Banjit Rp7 juta lebih.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Setelah penyerahan santunan itu, Puja dipersilakan pembawa acara naik ke panggung untuk menyanyi di hadapan sekitar 2.000 hadirin. Ratusan jamaah, kaum ibu dan laki-laki terpantau menyeka air mata dengan sapu tangan dan tisu mendengar syair-syair kerinduan anak kecil terhadap bapaknya.

Tak seberapa lama, puluhan ibu-ibu berbondong-bondong menuju panggung, menyantuni Puja dan menciumi pipi gadis kecil yang meneteskan air mata itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain Paimo, Asmazi Ketua Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Kecamatan Kasui juga terpantau meneteskan air mata.

"Saya terharu mendengar anak kecil yang kehilangan ayahnya menyanyi. Saya kira kita tadi bersama-sama belajar mengenai takdir yang harus diterima saat mendengar lagu tadi," ujar Asmazi.

Pada kegiatan memperingati Tahun Baru Islam 1436 Hijriah bertema "Kita Susun Hati Yang Sama Lewat Cahaya Alim Ulama, Santuni Yatim Hindari Dusta Agama" itu, terkumpul infak Rp4 juta lebih.

Hadir pada kegiatan itu Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda, Direktur Program Ansor Digdaya (mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat) Heri Amanudin dan sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). (Gatot Arifianto/Mahbib)

Foto: Puja Adelia menyanyikan lagu kerinduan anak yang kehilangan ayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 29 November 2017

Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres

Solo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Komunitas pecinta sholawat Jama’ah Muji Rasul Putri (Jamuri) di Soloraya, memiliki sikap politik yang sama dengan Jamuro terkait netralitasnya dalam Pilpres 9 Juli nanti. Pernyataan resmi in disampaikan Ketua Jamuri Nyai Sihah Wal’afiyah dalam kunjungan rutin di kediaman Ibu Purnomo, istri wakil wali kota Solo, Selasa (1/7) sore.

Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamuri Solo Ambil Sikap Netral dalam Pilpres

“Dalam pilpres nanti Jamuri mengikuti jejak Jama’ah Muji Rosul pimpinan Kiai Abdul Karim Pengasuh pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo yang tidak mengimbau jamaahnya mendukung salah satu capres. Namun begitu, pecinta sholawat hendaknya memilih pemimpin yang sekiranya juga cinta shalawat,” kata Nyai Sihah.

Jamaah Jamuri pun semakin banyak jumlahnya karena tak lepas dari peran pemimpin daerah dalam keikutsertaanya membumikan sholawat di kota Solo.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ibu walikota Solo yang dulu itu tidak pernah absen ikut mengundang Jamuri untuk bersholawat di kediamannya setiap even safari 30 hari Jamuri di bulan Maulud. Demikian dengan ibu wakil walikota Solo sekarang,” imbuhnya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara sesepuh Jamuri Nyai Aliyyuddin mengajak jama’ah untuk selalu berdo’a agar Indonesia memiliki pemimpin yang layak. “Semoga kita dipilihkan pemimpin terbaik dan terpilih yang bisa membawa negeri ini menuju negeri yang subur makmur, adil, dan aman,” harap Nyai Aliyyuddin. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Syariah, Daerah, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 27 November 2017

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) periode 2012-2012 telah dilantik oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfud  di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/4) malam. 

ISNU merupakan badan otonom NU termuda yang baru dikukuhkan dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar 2010. Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa mengatakan, embrio ISNU sudah ada semenjak 19 November 1999 namun baru dikukuhkan pada Muktamar kepada 2010 dan pada awal tahun 2012 ISNU menyelenggarakan kongresnya yang pertama.

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

Dalam sambutannya usai pelantikan itu Ali Masykur mengatakan, para sarjana NU meliputi berbagai bidang seperti kesehatan, ekonomi, politik, hukum, sosial, dan bidang-bidang lain yang lebih spesifik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“NU tidak hanya punya sarjana agama. Banyak sarjana di berbagai bidang. Maka ISNU memanggil para sarjana NU untuk pulang, pulang dan pulang ke pangkuan NU,” katanya sembari menambahkan kepengurusan yang dipimpinya merupakan kabinet ‘empat kaki’ yang  merepresentasikan kaum ilmuan, birokrasi, pengusaha dan pekerja sosial di kalangan sarjana NU.

Menurutnya, kelahiran Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama didahului dengan tiga kebangkitan yang ditandai dengan berdirinya tiga organisasi, yakni kebangkitan politisi yang tercermin dalam organisasi Nahdlatul Wathan, kebangkitan intelektual dalam Tashwirul Afkar dan kebangkitan ekonomi dalam Nahdlatut Tujjar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ali Masykur yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada malam pelantikan itu mengajak para sarjana NU yang bergelut di berbagai bidang untuk kembali merapat ke NU. “Kita bersama-sama membangun NU dan komunitas Nahdliyin, serta bersama-sama membangun bangsa,” katanya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 16 November 2017

40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sebanyak 40 jamaah asal Kabupaten Sorong, Papua Barat, melakukan perjalanan umrah melalui PT ASBIHU Tour and Travel, operator Asosisi Bimbingan Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (ASBIHU NU) pada Kamis (2/2) malam. 40 ? jamaah tersebut tiba di Jakarta sehari sebelumnya.?

“Karena penerbangan dari Jakarta memerlukan kesiapan, saudara-saudara kita tiba Rabu kemarin di Jakarta,” terang Direktur PT ASBIHU Tour and Travel, KH Hafidz Taftazani.

Jeda waktu sehari tersebut dimanfaatkan PT ASBIHU untuk mengantar jamaah berkunjung ke sejumlah lokasi di Jakarta. Pada Kamis pagi mereka dibawa berkeliling ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur. Siangnya mereka mengunjungi kantor PT ASBIHU, lalu mengadakan silaturahim ke kantor PBNU.?

40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Jamaah Umrah Asal Papua Dapat Bonus Keliling Jakarta

Mereka juga melakukan shalat duhur dan ashar berjamaah di Masjid Annahdlah PBNU, sekaligus mendengarkan tausiyah pembekalan dari Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyubi.

Dari PBNU jamaah lalu diajak mengunjungi Monumen Nasional (Monas) dan Masjid Istiqlal.?

“Kalau orang-orang dari Bogor ke Jakarta merasa belum lengkap kalau belum mengunjungi Monas. Maka saudara-saudara dari Papua yang datang dari jauh, juga dikasih bonus ke Monas,” seloroh Kiai Hafidz.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kegiatan jamaah selama di Jakarta termasuk penginapan, dibiayai oleh PBNU melalui PT ASBIHU Tour and Travel. Hal tersebut, menurut Kiai Hafid dilakukan sebagai komitmen ASBIHU dan PBNU untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada para jamaah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Hafidz sangat mengapresiasi semangat para jamaah asal Sorong tersebut dalam melakukan ibadah umrah melalui PT ASBIHU Tour and Travel. Mereka yang berada di wilayah timur, jauh dari pusat pemerintahan Indonesia, juga tergerak hatinya untuk menjadi tamu Allah di tanah suci. (KendiSetiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, News Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock