Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dunia masa kini yang dipenuhi dengan tuntutan kesempurnaan dan persaingan sengit diantara berbagai fihak telah menimbulkan tekanan-tekanan mental bagi sebagian anggota masyarakat. Sentuhan rohani yang diberikan oleh tasawwuf ternyata mampu memberi keseimbangan jiwa dan ketenangan batin.



Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Demikian dikatakan oleh Khatib Aam PBNU KH Nasaruddin Umar dalam pembukaan Munas Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (28/6).

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Departemen Agama ini menuturkan, tantangan-tantangan baru yang dihadapi masyarakat seringkali melampaui kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hal ini bukan hanya dialami oleh kelompok masyarakat bawah, tetapi juga kelompok atas.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mencontohkan munculnya persaingan dalam dunia politik seperti dalam perebutan jabatan melalui Pilkada serta upaya untuk tetap bisa bertahan dalam kesulitan ekonomi yang terus menekan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Disinilah peran penting institusi tarekat, untuk menuangkan aspek batiniah agama dan pedalaman makna agama serta mencegah adanya praktek tidak terpuji yang keluar dari koridor akhlak Islam,” tuturnya.

Munas ini diikuti oleh sekitar 500 orang dari berbagai jamaah tarekat yang tergabung dalam Jatman. Munas merupakan forum tertinggi setelah muktamar yang bertujuan untuk mengevaluasi berbagai program yang sudah dirancang sebelumnya.

Suasana penuh ketenganan dan keteduhan hati sangat tampak dalam forum ini. Para peserta yang sebagian besar memakai baju koko warna putih, dengan tekun mengikuti rangkaian acara. Mereka adalah para kiai dan guru tarekat yang memiliki ribuan jamaah di daerahnya masing-masing.

Zikir-zikir panjang dan istighotsah selalu menjadi bagian rutin dalam sholat berjamaah yang diselenggarakan di masjid asrama haji.

Sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Nasaruddin Umar, salah seorang guru tarekat dari Jawa Timur yang ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal menuturkan, tarekat saat ini semakin diterima oleh masyarakat. Jika dulu hanya komunitas santri saja yang akrab dengan tarekat, kini para birokrat, pengusaha, intelektual, termasuk dari kalangan militer secara intens mendalami tarekat. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Kajian Islam, Budaya Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria

Pati, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah mengkaji ulang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria di Ujung Lemah Abang Desa Balong, Kecamatan Kembang, Jepara, Jawa Tengah. Pasalnya, lokasi tersebut jaraknya masih berdekatan dengan pemukiman warga di sejumlah kota sekitar.

Kekhawatiran tersebut, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Anas Tahir cukup beralasan. Sebab, pihaknya menilai Indonesia belum siap dengan keberadaan PLTN, utamanya dalam hal sumber daya manusia (SDM).

Pemerintah seharusnya menghentikan rencana itu, karena masyarakat melakukan penolakan. “Kalau pun ingin memaksakan membangun PLTN harus mencari lokasi sejauh mungkin dari pemukiman dan benar-benar terisolir,” jelas Anas kepada wartawan usai membuka Gelar Budaya Rakyat yang diselenggarakan Lembaga Seniman dan Budaya Indonesia (Lesbumi) NU di pelataran Stadion Joyokusumo, Pati, Jawa Tengah, Jumat (13/7) kemarin.

NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria

Ia mengatakan, pemerintah harus rasional dalam mempersiapkan tenaga profesional dalam pembangunan PLTN. Karena dia menilai, masyarakat sampai saat ini masih belum bisa menerima dan belum siap atas keberadaan itu.

“Sebaiknya pemerintah tidak terburu-buru membangunnya. Lebih baik dilakukan kajian yang lebih mendalam dan harus jujur pada masyarakat tentang keunggulan dan kekurangan PLTN,” harapnya.

Sejauh ini, informasi yang diterima pihaknya, kajian PLTN Muria masih dalam proses dan belum selesai. Sehingga, aksi penolakan dari masyarakat, baginya, adalah sikap yang semestinya sebelum terlanjur dibangun.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, berkaitan dengan gencarnya aksi penolakan yang dilakukan masyarakat di semenanjung Muria, pihaknya bakal mengikuti. “Kalau keinginan sebagian besar masyarakat menolak, ya kami juga akan menyatakan sikap menolak. Toh, sebagian besar masyarakat tersebut warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU),” tandasnya. (man/gpa)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, Hadits, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi

Sidoarjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Cabang Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PC JQH NU) Sidoarjo akan mengadakan Festival Santri Berprestasi (Fantasi) pada Februari mendatang. Festival itu rencananya diselenggarakan di masjid Agung Sidoarjo.

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi

"Pada hasil rapat koordinasi pengurus JQH NU Sidoarjo yang diadakan di rumah salah satu anggota JQH NU di Desa Lajuk Porong Sidoarjo, Rabu 6 Januari 2016 (malam), kami berencana akan mengadakan acara Fantasi," ujar Ketua JQH NU Sidoarjo H Imam Mukozali, Kamis (7/1).

Menurutnya, festival itu bertujuan untuk menggali potensi dari anak-anak atau santri mulai dari TPQ, Madin, SD/MI se-Kabupaten Sidoarjo yang berprestasi dan selama ini tidak tercover pada MTQ. Festival itu sendiri boleh diikuti oleh siswa atau santri yang berusia maksimal 12 tahun.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Ini khusus untuk anak-anak yang berprestasi dalam bidang tahfidz, tilawah, pildacil dan Al-Banjari. Dengan kegiatan itu, saya berharap akan muncul santri-santri berprestasi," kata H Imam penuh dengan harap.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada para pengurus JQH NU Sidoarjo karena telah menyelenggarakan acara rapat kerja (raker) JQH NU ke-II dengan sukses.

Rapat koordinasi ini dihadiri beberapa unsur di antaranya unsur majelis ilmi, unsur pimpinan cabang, PAC dan komisariat.

Di tempat terpisah, Ketua JQH NU Jawa Timur H Zainul Arifin mengapresiasi atas terselenggaranya program yang telah dijalankan oleh JQH NU Sidoarjo. "Selamat dan sukses JQH NU Sidoarjo. Semoga program-programnya diberi kemudahan dan keberhasilan," ucap H Zainul. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, News, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten

Klaten, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Peringatan haul ke-8 (sewindu) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kabupaten Klaten bakal dimeriahkan dengan berbagai kegiatan antara lain Jambore Kebersamaan Lintas Iman. Acara tersebut akan dipusatkan di Kampung Gemblegan, Jumat-Sabtu (15-16/12).

Salah satu pihak yang ikut memprakarsai kegiatan ini adalah KH Jazuli Kasmani. Ia menjelaskan, selain kegiatan Jambore Kebersamaan Lintas Iman, juga ada deklarasi dan peresmian Kampung Damai, Pameran Alat Liturgi Lintas Iman (PALLI) dan pameran UKM Wahid Foundation.

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten

“Penyelenggarannya Komunitas Kebersamaan Muda Lintas Iman/Budaya (KKMLIB), acara insya Allah akan dimulai pada Jumat (15/12) mendatang, dengan kegiatan pendirian tenda dan persiapan pameran, di Lokasi Camp Hutan Jati RPTRA dan Lapangan Gemblegan,” terang pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muttaqin Pancasila Sakti itu.

Ditambahkan Gus Jazuli, acara ini akan menghadirkan sejumlah tokoh seperti Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation), Hj Sri Mulyani (Bupati Klaten), dan lain sebagainya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada hari kedua, lanjut dia, juga akan ada peresmian Kampung Damai Wisata Damai Terpadu Gemblegan dan penebaran benih ikan di Sendang Kamulyan dan di Kolam Pemancingan Umbul China Gemblegan.

Pihaknya berharap melalui kegiatan ini, para peserta dapat mewarisi semangat dan ajaran kebersamaan dari Gus Dur, serta memupuk persaudaraan antar anak bangsa. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, Pertandingan, Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Terjemah Al-Qur’an ke Bahasa Daerah Bukti Negara Layani Warga

Makassar, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, H Abdurrahman Mas’ud mengatakan, tujuan penerjemahan Al-Qur’an ke sejumlah bahasa daerah sejatinya untuk memberikan pelayanan kepada umat. Ini juga bisa menjadi bukti bahwa negara benar-benar hadir melayani warga.

Demikian dikatakannya ketika membuka secara resmi lokakarya (workshop) Pembahasan Draft Final Terjemah Al-Qur’an ke Bahasa Bugis, Rabu (29/11). 

Terjemah Al-Qur’an ke Bahasa Daerah Bukti Negara Layani Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Terjemah Al-Qur’an ke Bahasa Daerah Bukti Negara Layani Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Terjemah Al-Qur’an ke Bahasa Daerah Bukti Negara Layani Warga

Kaban Rahman menyampaikan sambutannya melalui video yang direkam di kantor Kemenag Jl MH Thamrin No 6 Jakarta. Lokakarya ini dihelat di Hotel Aryaduta Jl Somba Opu No 297 Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan hasil kerja sama dengan UIN Alauddin Makassar ini berlangsung selama tiga hari, Rabu-Jumat, 29 November-1 Desember 2017.

“Dalam rangka menyapa dan sekaligus menyampaikan kegembiraan kami. Alhamdulillah sejak 2016 sudah ada 12 terjemah Al-Qur’an dalam bahasa daerah atau lebih tepatnya bahasa ibu. Dan tahun ini ditambah lagi bahasa ibu yang lain yakni Aceh, Bugis, dan Madura,” ujarnya.

Mas’ud menggarisbawahi, bahwa penerjemahan Al-Qur’an ini merupakan kegiatan unggulan Balitbang Diklat Kemenag melalui Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Managemen Organisasi (LKKMO).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Insyaallah ini akan terus dikembangkan baik sekarang maupun di depan,” tandasnya.  

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut pria kelahiran Kudus ini, hal tak kalah pentingnya adalah upaya membantu pelestarian, konservasi, atau pemeliharaan budaya lokal. Khususnya dalam hal ini bahasa daerah sebagai unsur terpenting dalam budaya.

“Jadi, jika kita bicara soal local wisdom atau kearifan lokal, maka kita sesungguhnya telah berperan besar. Karena ini bagian dari penerjemahan, kami juga tidak bekerja sembarangan, tapi profesional. Alhamdulillah selama ini sudah bekerja sama dengan para ulama Al-Qur’an, akademisi, dan pakar bahasa,” ungkapnya.

Doktor jebolan UCLA Amerika ini menambahkan, para pakar tersebut memiliki kualifikasi penguasaan Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an, penguasaan dasar Ulumul Qur’an dan Tafsir, serta menguasai bahasa dan budaya daerah yang menjadi sasaran terjemahan.

“Kami juga ingin mengingatkan bahwa LIPI beberapa tahun lalu menyatakan terjadinya kepunahan bahasa ibu. Oleh karena itu, sekali lagi ini peran ulama dan ahli bahasa. Bukan sekedar dakwah, bukan hanya tugas agama dan negara. Tapi jadi tugas bersama dalam rangka mempertahankan kearifan lokal yang menjadi pilar penting untuk budaya dan NKRI kita,” tegasnya.

Masih melalui video tersebut, ia berharap kegiatan bisa menghasilkan terjemahan yang bermanfaat bagi umat. 

"Juga jadi ladang amal jariyah bagi tim. Dengan demikian, acara temu ulama ini saya buka secara resmi,” tutup Mas’ud. (Musthofa Asrori/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond

Bondowoso, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur bersama Jamiyah Sholawat Bondowoso (Jams Bond) menyelenggarakan mejelis shalawat bertema “Lembur dalam Cinta al-Musthafa SAW”.

NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond

Acara yang diikuti masyarakat secara umum ini digelar dalam rangka memperingati hari lahir Jams Bond. Majelis shalawat berlangsung di alun-alun Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Rabu (12/10).

Ketua MWCNU Kecamatan Tamanan KH Masrur Husnan mengatakan, perhelatan tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari agenda rutin. Hanya saja, kali ini bertepatan dengan hari jadi ke-4? Jams Bond.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Alhamdulillah jam’iyah ini anggotanya sudah di luar dari Tamanan, juga ada dari Kecamatan Tlogosari, Maesan, dan Jambesari, yang aslinya jam’iyah shalawat Tamanan menjadi jamiyah sholawat Bondowoso," katanya di lokasi.

Ia juga menyampaikan rentetan acara yang meliputi khataman Al-Qur’an, paragliding (para layang), atau paramotor sekaligus menyebarkan brosur dan haul akbar. "Ini adalah wujud kecintaan kita terhadap shalawat," ungkapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Acara tabligh akbar tersebut akan dihadiri oleh Habib Hasyim bin Abdullah Assegef dari Banyuwangi dan KH Sholeh Ahmad, dai shalawat dari Sumber Wringin. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, AlaSantri, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas!

Banyumas, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyumas, Jawa Tengah, mengadakan lomba menulis karya tulis ilmiah (LKTI) tingkat nasional. Hal ini didorong oleh keinginan agar masyarakat turut menyumbang pemikiran terhadap berbagai problematika umat.

Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti, Lomba Karya Tulis Tingkat Nasional ISNU Banyumas!

Secara khusus, ISNU Banyumas menantang peserta lomba untuk menulis dari tema besar yaitu “Rekonstruksi Kinerja NU di Era Global” dengan panjang tulisan 15-20 halaman.

Tulisan dapat dikirim ke email rohman.boys@gmail.com atau dikirim langsung ke sekretariat panitia di Pesantren Mahasiswa An-Najah, Jalan Moh Besar Kutasari Purwokerto, paling lambat tanggal 7 September 2015 (cap pos). Tentang persyaratan peserta dan hadiah, informasinya dapat diakses di situs www.isnubanyumas.org.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua panitia, Suparjo, mengatakan ke depan kegiatan ini merekomendasikan konsep dan instrumen teknis penting dalam mendukung kemajuan kesejahteraan bangsa. Hasil lomba ini akan dibukukan dan diseminarkan.

"Jadi tidak sekadar lomba memenuhi syarat kepentingan formal semata, namun ada spirit untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara untuk lebih baik. Kami tunggu partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam lomba yang memang ditujukan umum untuk semua kalangan," imbuhnya, Rabu (8/7).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Humas panitia LKTI Nasional, Ulul Huda, berharap melalui kegiatan ini banyak sumbangan pemikiran kaum intelektual untuk kemajuan sumber daya manusia khususnya warga NU di Banyumas.

"Ini juga menjadi bagian dari pemberdayaan kaum intelektual untuk berkontribusi untuk memberikan edukasi dan pengawasan sosial di sekitarnya. Dengan pemikiran mereka, kami yakin dapat diperoleh berbagai alternatif pemecahan masalah," jelasnya. (Susanto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah, Kajian Islam, Lomba Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Hindari Pergaulan Negatif dengan Aktif di Masjid

Maros, Kedung Sukun Adiwerna Tegal 

Kepala Bidang Kepeloporan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) Sopti Popiyanti menjelaskan kepada peserta Pelatihan Pemuda Pelopor tentang pentingnya aktif di masjid. Zaman sekarang ini banyak pergaulan anak muda yang mudah terpengaruh lingkungan negatif seperti narkoba, begal, teroris atau hal negatif lainnya. Menurut dia, aktif melakukan berbagai kegiatan di masjid adalah salah satu upaya agar pemuda terhindar dari hal-hal negatif tersebut.

Demikian disampaikan Sopti Popiyanti saat membuka kegiatan Pelatihan Pemuda Pelopor di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros, Selasa (5 /12). 

Hindari Pergaulan Negatif dengan Aktif di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Pergaulan Negatif dengan Aktif di Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Pergaulan Negatif dengan Aktif di Masjid

Pada kegiatan yang mengusung tema Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid Sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI ini, Poppy berharap, dengan diadakannya kegiatan pelatihan pemuda pelopor ini agar jiwa dan mental para pemuda tidak kosong dan mempunyai etika dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Selain itu, dengan melibatkan diri di masjid, nantinya para pemuda mempunyai beban moral, sehingga jauh dari perilaku yang negatif. 

"Jadi ada beban," ucapnya. 

Ia mengaku yakin, dengan pemuda aktif dan melakukan berbagai aktivitas di masjid, maka mereka akan terhindar dari perilaku negatif. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada kegiatan yang diikuti peserta sebanyak lima puluh orang ini, Poppy meminta kepada peserta untuk mengajak pemuda yang lain agar rajin ke masjid dan berbuat positif. 

"Itu tugas adik-adik sekalian terutama yang ikut pelatihan ini," katanya. 

Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari berbagai organisasi kepemudaan seperti IPNU, IPPNU, PMII ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hadir pada pembukaan Pelatihan Pemuda Pelopor hari kedua ini Sekretaris PWNU Sulawesi Selatan Hasid Hasan Palogai, Ketua PCNU Kabupaten Maros H A Mannan Hasan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros H Syamsuddin, Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazen, Wakil Sekretaris LTM PBNU Syarif Hidayat, Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) H Sarmidi Husna. (Husni Sahal/Muchlishon)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Aswaja, Nasional, Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Tiga Hasanah

Karena saking sibuknya, seorang santri sudah lama sekali tidak bisa sowan ke kiainya. Maklum dia  sudah menjadi orang sukses. Suatu ketika santri ini berkesempatan sowan ke gurunya, dan seperti biasa setelah bersalaman dengan kiai, para tamu dipersilakan duduk lesehan di pendopo,  sang kiai pun duduk di depan para tamu. Setelah agak lama hening, sang kiai lalu menyapa santri itu yang kebetulan duduk di shaf paling depan.

Kiai: Bagaimana keadaanmu, Cong?

Tiga Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hasanah

Santri: Alhamdulillah sehat, berkat doa Kiai .

Kiai: Ya... syukurlah kalau begitu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Setelah diam sejenak sang kiai kemudian melanjutkan pertanyaannya

Kiai: Saya dengar kamu berpoligami?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sontak saja si santri  menjadi deg degan, berbagai perasaan berbaur dalam pikirannya, dari merasa bersalah, malu dan sebagainya. Lalu dengan agak gugup ia menjawab.

Santri:Ya, benar, Kiai.

Kiai: Hebat kamu, saya aja baru satu.

Mendengar pujian sang guru ia kembali tenang, kemudian melanjutkan perbincangannya

Santri: Tapi ada yang musykil, Kiai.

Kiai:  Lho kok bisa, apanya yang musykil ?

Santri:  Begini Kiai, sebetulnya saya hanya mau dua saja, seperti dalam  al Qur’an...

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang Kiai.

Kiai: Lho..!  Di dalam  Al Qur’an bukannya sampai empat?

Santri: Maksud saya begini Kiai,saya sudah terlanjur punya tiga isteri, sementara dalam al Qur’an disebutkan hanya dua, “fid dunya hasanah” dan “fil akhiroti hasanah”, terus hasanah yang satu lagi  tempatnya di mana, Kiai?

“Grrrrrrrr...” semua yang hadir di pendopo tertawa.

(Hosni Rahman, Sukorejo Situbondo)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli

Jeddah, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Apa kira-kira oleh-oleh dari Mekkah yang paling dicari? Ada dua, air zam-zam dan kurma. Karena itulah Elmazroi, perusahaan pengemasan air zam-zam untuk jamaah haji saat kepulangan, menjamin kualitas dan orisinalitas air yang ditemukan Nabi Ismail itu tidak berubah hingga sampai di Tanah Air.

Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli (Sumber Gambar : Nu Online)
Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli (Sumber Gambar : Nu Online)

Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli

Artinya, zam-zam mereka asli.

"Kami jamin kualitas zam-zam ini karena diterima dari sumbernya yang dikelola kerajaan. Dikemas secara higenis dan aman hingga sampai ke Tanah Air," kata Ali Saieed Elmazroi, di Jeddah, Sabtu. Nama keluarganya dijadikan merek dagang zam-zam itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ali yang didampingi Manajer Marketing Elmazroi, Ujang Abdullah, menjelaskan, kualitas zam-zam itu dijamin Kerajaan Arab Saudi karena yang mengelola air zam-zam adalah pemerintah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kami hanya membayar kontainer air, sedangkan isinya gratis untuk jamaah haji," kata Ali Elmazroi.

Untuk tahun ini, Kerajaan Arab Saudi mengganti kemasan yang semulanya berbentuk jerigen kotak, maka tahun ini berbentuk galon berisi lima liter. Galon dinilai lebih kuat dan tidak tumpah.

Perusahaan itu sudah bekerja sama dengan Garuda sejak 11 tahun lalu. "Kami mampu mempersiapkan air zam-zam hingga 140.000 galon perbulan sesuai dengan kebutuhan jamaah haji Indonesia," kata pengusaha yang juga memasok air zam-zam untuk kebutuhan di tanah air.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Bahtsul Masail, Cerita, Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Fasilitasi Bakat Pelajar, PP IPPNU Gelar Pelatihan Media Kreatif dan Sehat

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) melalui departemen komunikasi dan informasi menggelar pelatihan yang bertajuk Creative Media Youth School yang berlangsung sejak Kamis (5/10) di Gedung Kantor Pusat Tik Nasional, Ciputat, Tangsel. Acara ini digelar selama tiga hari ini.

Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balitbang SDM) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Basuki Yusuf Iskandar.

Fasilitasi Bakat Pelajar, PP IPPNU Gelar Pelatihan Media Kreatif dan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Fasilitasi Bakat Pelajar, PP IPPNU Gelar Pelatihan Media Kreatif dan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Fasilitasi Bakat Pelajar, PP IPPNU Gelar Pelatihan Media Kreatif dan Sehat

Ia dalam sambutannya menyampaikan bahwa pertumbuhan atau dinamika teknologi begitu kencang oleh karena itu sudah selayaknya para pelajar-pelajar dapat menggunakan media dengan produktif dan bermanfaat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia berharap, para peserta dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk menggali ilmu pengetahuan yang lebih dalam perkembangan media, teknologi dan dapat melihat perspektif global.

“Nantinya, ilmu yang sudah diperoleh dari pelatihan ini, dapat diimplementasikan di daerah masing-masing dan dapat menggunakan media dengan cerdas, sehingga para peserta ini dapat memberikan kontribusinya sebagai generasi yang cerdas dalam besosial media,” jelasnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Seketaris Umum IPPNU Zaimah Imamatul Baroroh menyatakan bahwa di Indonesia saat ini banyak pelajar-pelajar kreatif dan cerdas. “Jika difasilitasi, diberikan training-training, maka akan sangat bermanfaat untuk menjadi instruktur sebaya di bidang media dan menjadi pelopor pengguna media sosial yang cerdas dan bijak,” katanya.

“Saya menyampaikan salam dari Ketua Umum IPPNU Puti Hasni yang saat ini sedang berada di Jepang untuk mengikuti Program Jenesys 2017, ia menyampaikan selamat dan sukses untuk teman-teman yang telah mengikuti acara pelatihan ini,” katanya.

Menurut Zaimah, IPPNU berperan aktif untuk menjembatani para rekanita di dalam memperkaya pengetahuan mengenai media. Kita dari pimpinan pusat berinisiatif dengan membuat pelatihan Creative Media Youth School. Hal ini diharapkan menjadi wadah bagi generasi millenial agar semakin melek media dan haus akan pengetahuan sehingga dapat meningkatkan sensitivitas terhadap keberagaman di media.

Pengetahuan dan pemahaman mengenai ilmu-ilmu di dalam menguasai media menjadi urgensi bagi diri kita sebagai filter dalam menghadapi modernisasi millenial.

“Atas nama Panitia saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang baik yang diberikan kepada kami. Ini adalah awal yang baik yang bisa terus dilakukan secara bertahap sehingga ke depannya kami bersama teman-teman di seluruh Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik,” imbunya.

Peserta yang berjumlah 100 orang ini adalah perwakilan dari daerah zona Jawa dan Sumatera. Peserta sebelumnya telah melewati seleksi ketat. (Anty Husnawati/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kyai, Kajian Islam, Cerita Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 28 Agustus 2017

ISNU Tasikmalaya Kembangkan Potensi Desa

Tasikmalaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Sarjana NU Kabupaten Tasikmalaya bekerja sama dengan Asosiasi Pemerintahan Desa Indonesia (Apdesi)? mencoba memunculkan potensi desa di Kabupaten Tasikmalaya. Mereka mengadakan pekan raya Usaha Menengah Kecil Mandiri (UMKM) Desa yang dilaksanakan di Lapangan Doser Kompleks Pesanten Cipasung pada Ahad (22/5) hingga Sabtu (4/6).

Kegiatan ini termasuk dalam salah satu rangkaian dari Pelantikan 25 Pimpinan Wakil Cabang (PWC) Se-Kabupaten Tasikmalaya. Mereka juga menggelar seminar nasional? tentang Undang-Undang Desa No.6 tahun 2014 dengan narasumber Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa dan Menteri Desa Marwan Jafar pada Sabtu (28/5).

ISNU Tasikmalaya Kembangkan Potensi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Tasikmalaya Kembangkan Potensi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Tasikmalaya Kembangkan Potensi Desa

Pekan Raya UMKM ini berbarengan dengan pameran yang diikuti 80 stan dengan berbagai bentuk potensi desa yang ada di Kabupaten Tasikmlaya. Pecan ini juga diisi dengan kegiatan sosial yang berbentuk donor darah, Orasi Jaga Lembur (Jaga Kampung Halaman), dan seni budaya lokal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua ISNU Kabupaten Tasikmlaya Sandra Muhammad Firdaus saat ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Pesantren Manarul Hikam Tampian Singaparna pada Jum’at (20/5) mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memunculkan potensi desa di Kabupaten Tasikmalaya supaya siapa pun bisa mengetahui bahwa Kabupaten Tasikmalaya ini kaya dan memiliki potensi yang besar.

Ketua Majelis Alumni IPNU ini melanjutkan, di samping itu kami juga dari ISNU memunyai Kelompok Usaha Mandiri (KUM) yang dari pameran ini semoga kami bisa menampilkan? potensi yang bagus? dan bisa bersama membangun potensi-potensi di Tasikmalaya. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 18 Agustus 2017

Di Gedung PBNU, Warga Rayakan Harlah dengan Istighotsah

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Dakwah memperingati hari lahir ke-93 NU dengan pengajian dan istighotsah. Acara berlangsung di pelataran Masjid An-Nahdlah, Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Rabu (27/4) malam.

Seusai istighotsah, sejumlah tokoh dan ulama memberikan taushiyah, antara lain KH Wahfiuddin Sakam, H Wahid Nuruddin, H Aziz Syafiuddin, H Misbahul Munir. Hadir dalam kesempatan itu para pengurus LD PBNU, peserta Pelatihan Kader Dakwah LD PBNU, dan masyarakat dari berbagai wilayah di Jabodetabek.

Di Gedung PBNU, Warga Rayakan Harlah dengan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Gedung PBNU, Warga Rayakan Harlah dengan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Gedung PBNU, Warga Rayakan Harlah dengan Istighotsah

Wakil Ketua LD PBNU H Wahid Nuruddin mengungkapkan, saat ini LDNU sebagai corong dakwah PBNU, secara kelembagaan sudah ada di mana-mana. Ini bisa mewarnai semua lapisan masyarakat dalam kehidupan berbangsa.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

LD PBNU sebagai corong ujung tombak NU, akan terus mengenalkan ajaran aswaja ke semua lapisan masyarakat. Pihaknya berkomitmen akan lebih sering menyelenggarakan istighotsah. Juga di DKI Jakarta pengkaderan dilakukan dengan membentuk stuktur NU sampai ke tingkat ranting, sekaligus memberikan pelayanan terhadap umat dengan prinsip rahmatan lil alamin, kata Kiai Wahid Nuruddin.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mengaku kasihan terhadap adanya pihak-pihak yang pemikiran dan gerakannya ekstrem. Bagi NU, ini merupakan tantangan. Lembaga Dakwah NU (LDNU) berupaya mendekati mereka, karena mereka semua adalah saudara dalam bingkai NKRI.

Lebih kanjut Kiai Wahid Nuruddin mengungkapkan, LDNU memandang generasi muda sebagai ujung tombak kader bangsa dan negara harus memperbanyak belajar agama dengan baik dan benar, yaitu? kepada guru yang punya silsilah keguruan yang sanadnya mutasil atau menyambung sampai kepada Rasulullah. Merupakan hal yang otentik bagi NU adalah berilmu beramaliyah dengan acuan yang muttasil (sanad keilmuan yang jelas).

Sementara itu, Sekertaris LD PBNU H Nurul Yaqin Ishaq dalam kata sambutan berpesan, pada era sekarang, informasi dapat diakses dengan mudah. Warga Nahdliyin apabila mendengar informasi jangan serta merta percaya, tetapi hendaknya bertanya lebih dulu kepada yang lebih tahu untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 05 Juni 2017

Rembang Siap Ikuti Kemah Kebangsaan GP Ansor Jateng

Rembang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang mengaku siap mengikuti "Kemah kebangsaan" yang digelar Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah pada tanggal 28-30 April mendatang di Makodam IV Diponegoro.

Hal itu diungkapkan Ketua PC GP Ansor Rembang H M Hanies Cholil Barro yang akan diikuti seluruh PC se-Jateng.

Rembang Siap Ikuti Kemah Kebangsaan GP Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Rembang Siap Ikuti Kemah Kebangsaan GP Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Rembang Siap Ikuti Kemah Kebangsaan GP Ansor Jateng

Ia menjelaskan, pada kemah tersebut akan digelar beberapa, diantaranya peraturan baris-berbaris, menyanyi mars GP Ansor dan Subbanul Waton.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Juga lomba penyusunan dan presentasi profil cabang, lomba cerdas cermat Aswaja dan ke-NU-an, serta lomba penyusunan proposal usaha (bussines plan).

"Peserta dibatasi, 10 Banser untuk baris-berbaris, 3 untuk cerdas cermat, 1 untuk profil cabang, yang 1 presentasi perekonomian. Terus tiga pendamping yaitu ketua, kasatkorcab, dan sekretaris,” rincinya.

Menurut Komandan Banser Satkorcab Rembang Zainal Arifin, untuk mengikuti kegiatan tesebut, sejak tanggal 20 April sudah mempersiapkan pasukan Banser yang akan didelegasikan sebagai peserta lomba baris-berbaris.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia menambahkan, selama proses pelatihan pihaknya melibatkan instruktur dari Kodim 0720 Rembang. (Ahmad Asmui/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 07 Mei 2017

Pesantren dan Madrasah Ajarkan Sikap Kritis namun Tetap Moderat

Pringsewu, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Salah satu sikap muslim dan warga negara Indonesia yang baik adalah senantiasa menjaga keutuhan dan kebhinekaan bangsa. Keutuhan yang sudah terbina dengan baik di Indonesia selama ini wajib disyukuri karena merupakan anugerah yang luar biasa.

Pesantren dan Madrasah Ajarkan Sikap Kritis namun Tetap Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Madrasah Ajarkan Sikap Kritis namun Tetap Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Madrasah Ajarkan Sikap Kritis namun Tetap Moderat

"Jangan sampai Indonesia hancur seperti Yaman, Irak dan Suriah. Dalam bernegara Pancasila dan berkonstitusi, semua warga sama hak dan kedudukan. Jangan didiskriminasi," ujar salah satu Akademisi asal Provinsi Lampung Alamsyah, Rabu (19/4).

Ia menilai bahwa sebagai individu, umat Islam wajib menyuarakan dan bersikap dalam ikut menyebarkan perdamaian sesuai dengan konsep Islam Rahmatan lil Alamin.

"Itulah Islam yang rahmatan lil alamiin. Islam Indonesia itu moderat, tegas, dan cerdas. Bukan ngamuk, marah, hoax, fitnah dan tuduh sana sini," tegas Alamsyah yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia juga menyayangkan suasana yang saat ini terus memanas terkait permasalahan politik yang terjadi di Ibukota. "Janganlah ayat Tuhan dijual-jual untuk cari suara Pilkada, dijadikan alat, kendaraan dan tumpangn saja, janganlah dipolitisasi apalagi dimanipulasi," harapnya.

Namun Ia masih optimis karena masih ada Lembaga Pendidikan Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi yang masih terus mengajarkan dan mengamalkan ilmu-ilmu keislaman dengan mendalam, integrasi agama, sains dan ilmu sosial, mencerdaskan serta yang memelihara nasionalisme.

Lembaga tersebut menurutnya dibangun untuk mengembangkan kajian keislaman dan kemanusiaan dengan luas serta mencerdaskan dengan kajian khilafiyah yang ilmiah dan kritis tetapi tetap moderat (tawasuth).

"Pondok Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam menghargai kearifan lokal dan loyal dengan nilai-nilai kebangsaan serta sadar dengan wawasan keindonesiaan yang beragam," terangnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 28 April 2015

Membandingkan Kepemimpinan

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Raymond White menuliskan sekitar 40 tahun yang lalu, bahwa ada perbedaan antara kepemimpinan (leadership) Richard Nixon dengan John F. Kennedy. White menggambarkan kepemimpinan model Nixon itu sebagai kepemimpinan kepala kelasi (boatswain). Ia memimpin para kelasi di ruangan bawah untuk menimba air yang masuk akibat badai dan membuangnya ke laut. Sepanjang waktu badai berlangsung ia harus siaga memimpin para kelasi untuk menjaga agar kapal mereka tidak sarat dengan air yang dibawa badai itu. Kalau ia lupa sekitar 15 menit saja, kapal yang ditumpanginya akan tengelam. Artinya, ia harus menjaga, dengan kepemimpinannya itu agar keselamatan kapal laut mereka tidak tenggelam dalam perjalanan. Kepemimpinan seperti ini sangat diperlukan dalam berbagai bidang.

Membandingkan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Membandingkan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Membandingkan Kepemimpinan

Tentu saja model kepemimpinan seperti Nixon itu berbeda dari kepemimpinan Kennedy. Kalau White menamai kepemimpinan Nixon sebagai kepemimpinan yang sibuk dengan hal-hal teknis, maka kepemimpinan Kennedy justru sebaliknya. Hal itu digambarkan White sebagai kepemimpinan nahkoda kapal di anjungan kemudi. Seorang nahkoda melihat laut luas di hadapan matanya. Ketika cuaca menjadi gelap, angin mulai bertiup kencang dan hujan mulai turun, sang nakhoda akan memerintahkan sauh dibuang ke laut untuk menahan agar supaya kapal tetap berada di tempat dan layar mulai digulung agar kapal laut itu tidak dibawa angin kemana-mana. Sang nahkoda sendiri kembali ke kabinnya dan tidur di sana. Nanti, setelah ia bangun dari tidur, cuaca sudah baik, badai sudah berlalu dan angin sepoi-sepoi saja yang terasa, maka ia pun memerintahkan sauh diangkat dari laut, dan layar dikembangkan kembali. Kepemimpinan seperti ini tidak terlalu terpaku oleh rincian-rincian, melainkan lebih memperhatikan ke arah mana kapal laut harus diarahkan.

Contoh lain yang dapat dikemukakan di sini, terjadi ketika penulis masih menjadi santri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Kabupaten Jombang. Tiap Jum’at dan Selasa siang, sehabis dzuhur atau sekitar jam 1 siang hingga jam 4 sore penulis mengaji kepada kakeknya dari Ibu, KH. M. Bisri Syansuri di Denanyar, Kabupaten Jombang. Pada suatu ketika seorang pemimpin lokal Nahdlatul Ulama (NU) menunggu dengan sabar hingga acara penulis mengaji selesai di waktu Ashar itu. Ia lalu mengatakan kepada Kiai Bisri, bahwa ia mempunyai delapan orang anak dan berniat berqurban bagi mereka. Namun uangnya hanya cukup untuk membeli seekor lembu. Padahal sesuai dengan ketentuan fiqh/ hukum Islam, binatang itu hanya dapat dijadikan qurban bagi tujuh orang anaknya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Bisri menyatakan kepadanya, bahwa ia harus memilih antara dua hal: menunda qurban hingga tahun depan atau berqurban tahun ini hanya untuk tujuh orang anak. Orang itu pun dengan mata kuyu dan muka sangat sedih segera meninggalkan tempat itu. Kiai Bisri meminta kepada penulis artikel ini, untuk membonceng di atas sepeda orang tersebut mengantarkan ke rumah ipar Kiai Bisri yaitu Kiai A. Wahab Chasbullah, Ra’is ’Aam atau orang pertama NU. Penulis membonceng orang itu di atas sepedanya ke Tambak Beras, empat kilometer jauhnya. Di sana penulis menyatakan kepada Kiai Wahab, bahwa orang itu disuruh Kiai Bisri untuk bertemu dengan sang ipar. Orang itu lalu menyampaikan kepada Kiai Wahab seperti apa yang dikemukakannya kepada Kiai Bisri.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Wahab lalu menanyakan, apakah ia punya uang untuk membeli seekor lembu dan seekor kambing? Orang itu menyatakan, bahwa ia mempunyai uang sejumlah itu. Kata Kiai Wahab, lembu itu dapat dijadikan qurban untuk tujuh orang anak. Adapun kambing digunakan sebagai binatang ancik-ancik (alat untuk mencapai sesuatu yang tinggi) bagi anak ke delapan. Orang itu lalu sangat gembira dengan “pemecahan” seperti itu. Ia keluar dari rumah Kiai Wahab dengan senyum gembira. Kiai Wahab telah memperlihatkan kepemimpinannya pada saat itu. Berkat kepemimpinan itu, ia membuat sang pengurus lokal NU itu sangat bergembira dan tentunya merasa berhutang budi pada Kiai Wahab seumur hidupnya.

Sudah tentu kepemimpinan seperti itu, memiliki dimensinya masing-masing. Hal ini terlihat ketika Bung Karno merencanakan pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR). Kiai Wahab menerima gagasan itu, karena NU adalah satu-satunya kekuatan politik formal gerakan Islam yang masih ‘bertahan’ dalam dunia politik. Kalau gagasan itu ditolak, maka dalam DPR-GR yang akan dibentuk itu, tentu tak ada wakil gerakan Islam. Karena itu ia menerima gagasan tersebut. Ini bertentangan dengan iparnya sendiri, Kiai Bisri yang menjadi Wakil Ra’is ‘Aam atau orang kedua dalam NU. Menurutnya, DPR yang dibubarkan Soekarno adalah hasil pemilu tahun 1955. Kalau itu dibubarkan maka sebagai gantinya, lembaga perwakilan rakyat tersebut haruslah hasil sebuah pemilu. Kiai Bisri dan Kiai Wahab bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing, sehingga berbulan-bulan lamanya tidak ada keputusan tentang hal itu. Baru kemudian Kiai Wahab menyatakan secara formal bahwa ia menerima gagasan tersebut, sedangkan Kiai Bisri tetap menolak gagasan itu. Hingga berakhirnya Demokrasi Terpimpin dua orang itu menunjukkan kepemimpinan yang saling berlawanan, bukan?

*) Pernah dimuat di Sindo, 20 Febuari 2008

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, Daerah, Budaya Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 18 Januari 2015

Kiai Chalwani: Pancasila Upaya Laksanakan Syariat Islam di Indonesia

Purworejo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal?

Dasar negara Pancasila merupakan upaya final untuk melaksanakan syariat Islam di Indonesia. Dengan demikian, sudah tidak ada lagi pertentangan antara Pancasila dan syariat Islam.

Hal itu ditegaskan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Achmad Chalwani saat ditemui di kediamannya Berjan, Gebang, Purworejo, baru-baru ini. Dikatakannya, perdebatan tentang Pancasila dan syariat Islam telah selesai saat para pendiri negara duduk bersama merumuskan dasar negara.

Kiai Chalwani: Pancasila Upaya Laksanakan Syariat Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Chalwani: Pancasila Upaya Laksanakan Syariat Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Chalwani: Pancasila Upaya Laksanakan Syariat Islam di Indonesia

"Pendiri bangsa ini yang di dalamnya juga ada beberapa tokoh Islam sudah sepakat dan berjanji bersama bikin Pancasila sebagai dasar negara. Untuk itu generasi penerus wajib turut serta mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara," katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi ini menambahkan, sebagai warga NU harus berpegangan pada hasil Musyawarah Nasional (Munas) NU di Situbondo yang sudah memutuskan Pancasila final. Dasarnya adalah ayat Al-Qur’an yang artinya orang Islam itu gerakannya harus sesuai janjinya.

"Tokoh-tokoh kita telah berjanji dan meyepakati bersama dasar negara Pancasila. Salah satu tujuannya adalah untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan antara umat Islam dengan non-Muslim di Indonesia," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Chalwani menambahkan agar umat melihat realita kehidupan beragama dan bernegara ketika masa Nabi Muhammad SAW. Saat Nabi Muhammad bikin negara Madinah dasar negara yang digunakan adalah Sulhul Hudaibiyah atau Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian tersebut, Nabi bersama orang-orang kafir membuat klausul-klausul yang kemudian dipedomani bersama oleh seluruh rakyat Madinah.

"Sama dengan Pancasila yang dulu di rumuskan oleh tokoh-tokoh bangsa. Tidak hanya muslim. Akhirnya menyepakati bersama sebuah rumusan Pancasila sebagai dasar negara," tambahnya.

Menyikapi kondisi saat ini, Kiai Chalwani juga meminta agar generasi muda senantiasa tidak melupakan sejarah. Apa yang baik dari sosok Soekarno maupun Soeharto diambil untuk dijadikan sebagai pelajaran. Jangan justru membenturkan antara keduanya.

"Pasca-Reformasi ini umat seringkali dibentur-benturkan untuk kepentingan sesaat. Ini harus dihindari agar cita-cita bangsa dapat segera tercapai," katanya. (Lukman Khakim, Ahmad Naufa/Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 25 Oktober 2013

Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur mengagendakan Dauroh Aswaja khusus untuk mahasiswa secara cuma-cuma. Dauroh pertama akan selenggarakan pada 30 September, dan yang kedua pada November.

Demikian kesimpulan rapat tim Aswaja NU Center pada Sabtu (16/9) di kantor PWNU Jatim, Surabaya. Rapat dipimpin oleh Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim KH Abdurrahman Navis.

Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dauroh Aswaja NU Center Jatim Buka Pendaftaran Khusus Mahasiswa

Menurut Kiai Navis, tiap angkatan peserta maksimal berjumlah 100 mahasiswa, dan yang mendaftar selepas itu akan diikutsertakan pada angkatan berikutnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pendaftaran ini bisa langsung perorangan ke Assisten Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim  (Ustadz Muhaimin), atau secara kelompok melalui organisasi kemahasiswaan, atau pimpinan perguruan tinggi.

Dalam satu dauroh, peserta bisa berasal dari kampus berbeda. Mahasiswa yang telah mendaftar sama sekali tidak dipungut biaya. “Yang menjadi acuan adalah buku Khazanah Aswaja, dan dauroh berlangsung sehari, dengan tiga sesi,” katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Sesi pertama adalah paparan bab satu dan bab dua. Akan disampaikan oleh Ustadz Yusuf Suharto dan Ustadz Muntaha. Pada sesi pertama ini yang dibahas seputar sejarah Aswaja dan mengapa harus Aswaja, Aqidah 50 dan persoalan persoalan Aqidah termasuk kritik trilogi tauhid,” tambah Kiai Navis.

Ia menambahkan, sesi kedua, materi akan diisi bab ketiga dan bab keempat yang bakal disampaikan oleh Ustadz Maruf Khozin. Ini terkait dengan pembahasan mengapa harus bermazhab, dan membahas landasan amaliah, juga tentang jati diri tasawuf.

“Dan sesi ketiga, bab kelima dan keenam, akan disampaikan Ustadz Faris Khoirul Anam dan Ustadz Fathul Qodir. Ini tentang aliran aliran di luar aswaja dan memaparkan sejarah NU, perjuangan dan khitah nya," ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 02 Juni 2010

Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ribuan jamaah dari Jakarta dan sekitarnya, Selasa (21/5) malam, memadati Masjid Jami’ al-Munawwarah yang terletak di kompleks kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mereka mengikuti istighotsah kubra.

Istighotsah yang digelar bersemaan dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj ini berlangsung khidmat. Sejumlah lantunan ayat al-Qur’an, dzikir dan shalawat bergema sejak wirid sembahyang isya’ selesai. Di luar masjid, puluhan pedagang berjajar turut memeriahkan acara.

Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur

Hadir dalam kesempatan ini, guru Tarekat Syadziliyah KH Lukman Hakim, Sekretaris Pengurus Pusat LDNU H Nurul Yakin Ishaq, pengasuh Pesantren al-Mishbah Jakarta KH Mishbahul Munir, serta sejumlah pengurus NU dan kiai setempat.

Dalam sambutannya, Yakin mengingatkan tentang pentingnya menjalin persatuan antarumat, salah satunya melalui forum istighotsah. Menurut dia, sejak awal para NU menegaskan bahwa Negara Kesatuan Repulik Indonesia (NKRI) bersifat final, dan menjadi tugas umat Islam sekarang untuk merawat dan mengisinya dengan positif.

Saat berceramah, Lukman menjelaskan, istighotsah atau memohon pertolongan kepada Allah seyogiannya dilakukan setiap saat. Tak perlu menunggu datangnya bencana atau musibah, karena sifat manusia sejatinya senantiasa membutuhkan pertolongan.

Istihotsah kubra ini sedianya dihadiri Pemimpin Tarekat Naqsabandi Haqqani Amerika Serikat Syekh Hisyam Kabbani dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Karena terkendala sejumlah hal, mereka terpaksa tidak datang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nahdlatul Ulama, Jadwal Kajian, Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 24 Juli 2009

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan

Solo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Banyaknya da’i yang memberikan kultum dan ceramah, khususnya di bulan Ramadhan ini, mestinya membuat umat Islam semakin paham akan ajaran Islam. Namun, terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Banyaknya kalimat nasihat yang disampaikan, tidak berbanding lurus dengan banyaknya masyarakat yang mengamalkannya.

Hal tersebut, menurut keterangan yang terdapat dalam kitab al-Hikmah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, disebabkan karena kurangnya keikhlasan para da’i dalam menyampaikan nasihatnya.

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan

“Kata-kata nasihat orang yang ikhlas, meski sederhana akan mengena. Sebaliknya, ahli riya, kalimat nasihatnya akan dibuat-dibuat, justru menjadikan para pendengarnya gelap hati,” terang Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf pada kajian yang diselenggarakan menjelang sahur di Gedung Bustanul Asyiqin Solo, Ahad (12/7) lalu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lebih lanjut dijelaskan Mustasyar PWNU Jateng itu, keikhlasan kalam dari para orang shaleh dan ulama menjadikan kalam mereka selama ribuan tahun sampai sekarang tetap diperhatikan dan dipelajari umat Islam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Bahasa nasihat itu bahasa ikhlas, bukan sekedar pintar bicara atau indahnya bahasa. Kita lihat Nabi saw, kalau menyampaikan sederhana tapi maknanya dalam. Misal ketika ditanya apa itu iman? Dijawab Nabi, iman itu menjaga Islam,” papar Habib Syech.

Kajian menjelang sahur ini diselenggarakan tiap dini hari Selama bulan Ramadhan di Gedung Bustanul Asyiqin Solo. Pada kegiatan tersebut menghadirkan beberapa ustadz antara lain Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, Kiai Anshori (LBM PCNU Solo), dan lainnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock