Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Festival Tongtek yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor-Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah. Kegiatan yang baru dihelat kali pertama ini diikuti 33 kontingen dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Kudus.

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Di sepanjang jalan dari start Lapangan Kongsi Desa Loram hingga Masjid Wali, mereka Sabtu (25/6) malam itu memainkan musik kentongan yang dipadukan alat-alat seadanya lainya seperti galon, kaleng biskuit, tong, dan lainnya. Dengan berjalan kaki, tetabuhan musik kentongan ini mengiringi lagu-lagu religi yang mereka nyanyikan.

Festival yang dimulai selepas tarawih ini mendapat sambutan warga dan tokoh masyarakat desa setempat. Ratusan masyarakat berjajar di pinggir jalan menanti kontingen tongtek melewati jalan raya Desa Loram.

Ketua panitia Syaifuddin Najib mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya melestarikan musik kentongan yang belakangan ini hampir punah. Musik kentongan, katanya, memiliki manfaat sebagai perangkat untuk kepentingan patroli (ronda) malam menjaga keamanan desa.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

"Ansor ingin mencoba menumbuhkan kembali melalui lomba tongtek sehingga musik tradisional tetap lestari. Apalagi selama Ramadhan seringkali dimanfaatkan untuk membangunkan orang sahur puasa," katanya.

?

Melihat antusiasme warga dan peserta, kata dia, kegiatan festival tongtek menunjukkan adanya respon positif. Karenanya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan budaya yang diagendakan rutin setiap tahun.? "Kita akan melanjutkan festival tongtek ini sebagai kegiatan rutin setiap tahun di Kecamatan Jati," tutur Najib.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

Pembina Banser Kudus H.Akhwan Sukandar mengapresiasi kegiatan bernuansa seni tradisional ini. Menurutnya, kesenian tongtek sudah berlangsung lama muncul di lingkungan masyarakat pedesaan sebagai musik ronda. Namun belakangan musik seperti ini hampir hilang.

?

"Kegiatan festival tongktek patut didukung sehingga musik tradisional ini tetap lestari," ujar Akhwan yang juga mantan Komandan Satkorcab Banser Kudus ini.

?

Pernyataan senada juga disampaikan Kapolsek Jati yang hadir mulai awal hingga selesainya acara pukul 24.00 WIB. Dikatakan, sejarah musik tongtek berawal dari cerita adanya orang bermain judi gaple. Karena judi mengganggu masyarakat, akhirnya para pemainnya diusir oleh para pemain tongtek.

"Oleh karena itu saya sangat berharap kegiatan tongtek tetap dilaksanakan dengan kemeriahan," katanya seraya meminta masyarakat menjaga lingkungan sekitarnya.

Festival tongtek ini diikuti 33 kontingen yang berasal dari 6 kecamatan yakni Gebog, Jati, Bae, Kaliwungu, Mejobo dan Undaan. Dari hasil penilaian juri terpilih kontingen terbaik masing-masing juara 1 grup dari Kaliwungu, Juara 2 (Jepang Pakis, Jati), Juara 3 (Payaman, Mejobo), Juara harapan 1 dan 2 adalah Loram Wetan dan Undaan Lor. Masing-masing juara mendapat penghargaan piala dan uang pembinaan yang nilainya beragam. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Quote Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Banyak yang terperangah dengan tampilnya sejumlah penceramah di televisi namun yang bersangkutan tidak menguasai agama dengan benar. Yang terbaru, seorang ustadzah melakukan kesalahan dalam menulis Surat Al-Ankabut ayat 45 dan Surat Al-Ahzab ayat 21.

Terjadinya peristiwa ini tentunya diawali dengan sebab. "Mengapa mereka yang tidak kompeten ternyata mendapatkan tempat di media, termasuk di media sosial? Karena mereka lebih progresif dan bergerak maju," kata KH Agus Ali Masyhuri, Selasa (5/12) petang.

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Gus Ali ditemui media ini usai mengikuti rapat harian PWNU Jatim di lantai dua Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya.

"Maaf, kita harus jujur dengan sumber daya manusia sendiri. Banyak kader kita yang memiliki potensi, tetapi tidak didukung dengan kemampuan lain," kata Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Apa faktornya sehingga banyak tenaga potensial yang dimiliki kalangan pesantren dan NU ternyata tidak muncul di ranah publik? "Mungkin karena tidak ada yang bisa menyalurkan, atau memang tidak memiliki keinginan untuk maju," urainya.

Wakil Rais PWNU Jatim ini juga menduga karena sang kiai atau ustadz telah merasa puas dengan yang dicapai saat ini. Mereka merasa puas di kampungnya, dengan keadaannya saat ini. "Padahal mereka keliru dalam menerjemahkan qanaah," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai solusi, Gus Ali mengajak kalangan pesantren dan warga NU untuk berdakwah di media, termasuk di dalamnya media sosial. "Padahal barangsiapa yang menguasai media, maka memiliki separuh kemenangan dalam pembentukan opini publik. Jadi opini di masyarakat itu bisa dibentuk," terangnya.

Berlimpahnya sumber daya manusia khususnya yang memiliki komptenesi dalam menyeru agama di kalangan nahdliyin hendaknya dapat dioptimalkan. "Bahwa SDM yang kita miliki sebenarnya cukup dan memadai untuk melakukan hal yang lebih baik dari mereka," ujarnya.

Ia mengajak semua pihak berbenah diri dan melakukan konsolidasi secara terukur dan terarah. Jangan sampai para kader pendakwah gagap teknologi atau gaptek, tidak mengerti aplikasi, juga media sosial, "Karenanya, hendaklah ada di antara kita yang berdakwah di sejumlah media," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Makam, Internasional, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut

Karanganyar, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Sedikitnya 100 orang terdiri atas perwakilan Muslimat NU se-Kabupaten Karanganyar mendapatkan pelatihan kewirausahaan dan keterampilan merajut di kediaman Ketua Muslimat NU Perum Josroyo Indah Jaten Karanganyar, Senin (2/1). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan PT MAS Surakarta.

Dalam pelatihan ini para anggota Muslimat NU dibekali dengan keterampilan agar bisa berwirausaha sehingga mampu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Selama pelatihan mereka diajari cara merangkai benang sehingga menjadi rajutan.

Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut

Ketua Muslimat NU Karanganyar Hj Suliyastuti mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan tersebut untuk melatih dan mengolah keterampilan dan menambah pendapatan pengurus Muslimat NU.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Jika ibu-ibu terampil dalam membangun ekonomi, maka akan tercapai keluarga yang sakinah dan pasti akan mengantarkan negara baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur," kata Sulis.

Dengan dilatih merajut setidaknya para anggota Muslimat NU bisa berwirausaha dan menciptakan sebuah usaha produktif yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya, pungkas Sulis. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Fragmen, Lomba Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M. Hanif Dhakiri unjuk kebolehan membaca puisi saat menghadiri agenda Hari Puisi Indonesia Tahun 2017 di Graha Bhakti Kebudayaan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (3/10) malam.

Bagi Menteri Hanif, puisi merupakan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari realita kehidupan manusia. Oleh karena iu, Hanif mendukung agar proses berpuisi terus dikembangkan dan dilestarikan. 

"Karena disana mengalir realita yang metaforik. Kemudian metafora yang realistik. Kemudian di sana ada etika dan juga estetika," kata Menaker.

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno

Pada kesempatan tersebut, Menaker pun turut membacakan puisi "Berpedomanlah Pada Cita-cita" karya Ir. Soekarno.

Melalui puisi karya Soekarno ini, Menaker mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk optimis menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Saatnya kita sebagai bangsa melihat ke depan, penuh optimisme, bekerja keras," ujarnya.

Berikut adalah sepenggal puisi karya presiden pertama Indonesia tersebut:

 

Berpedomanlah Pada Cita-cita

Ir. Soekarno

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan

kehidupan manusia sekarang digerogoti

dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan

Ketakutan akan hari depan

ketakutan akan bom hidrogen

ketakutan akan ideologi-ideologi

Mungkin rasa takut itu

pada hakekatnya merupakan bahaya yang

lebih besar daripada bahaya itu sendiri

Sebab rasa takutlah yang

mendorong orang berbuat tolol

berbuat tanpa berpikir

berbuat hal yang membahayakan

Dalam permusyawaratan Tuan-tuan

saya minta, jangan kiranya Tuan-tuan

terpengaruh oleh ketakutan itu

Sebab ketakutan adalah zat asam

yang mencapkan perbuatan manusia

menjadi pola yang aneh-aneh

Berpedomanlah pada harapan

dan ketetapan hati

berpedomanlah pada cita-cita

berpedomanlah pada impian dan angan-angan

(Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nahdlatul Ulama, Anti Hoax, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian

Brebes, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Keberadaan Gerakan Pemuda Ansor diharapkan dapat membawa maslahat bagi lingkungan sekitarnya. Setiap kader GP Ansor harus mampu menyentuh persoalan lokalitas yang berkembang sekarang.

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian

Harapan itu disampaikan Wasekjen Pimpinan Pusat GP Ansor Rizqon Halal Syah saat menghadiri Rakercab Pengurus Cabang (PC) Ansor Kabupaten Brebes di Pondok Pesantren Al-Falah Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (11/9).

"Ansor saat ini perlu penguatan kader sebagai bekal untuk menjawab persoalan kekinian dan kedisinian. Ansor harus menyentuh persoalan yang ada," kata Rizqon Syah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rizqon juga berharap program kerja yang dirumuskan pada Rakercab tersebut bisa menjadi wadah yang berguna dalam mencetak kader andal di masa mendatang.? Sebab, masa depan NU dan bangsa juga tidak lepas dari proses kaderisasi saat ini. Sehingga identitas kultural Jamiah Nahdlatul Ulama harus diperkokoh untuk memperkuat ukhuwah islamiyah dan ukhuwah Nahdliyah.

Ketua PC Ansor Brebes, Ahmad Munsip menjelaskan, sejumlah program yang telah dirancang berbagai bidang kerja yang meliputi arah maslahat untuk internal seperti penguatan kelembagaan maupun kemandirian. Di samping itu juga program yang bersifat eksternal baik yang bersinggungan dengan peran serta dalam pembangunan daerah, penyiapan SDM serta aksi sosial kemasyarakatan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. Pihaknya mengaku akan fokus lebih dulu pada penataan kelambagaan, pemberdayaan kader dan penguatan identitas kultural Aswaja.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Program kerja ke depan arahnya revitalisasi gerakan menuju optimalisasi kader dan kemandirian organisasi secara internal. Insya Allah periode kali ini akan dibentuk LPK (lembaga pendidikan dan keterampilan) sebagai wadah pembinaan di bidang keterampilan anggota “ terang Munsip

? ? ? ?

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Ansor Jawa Tengah, Solahudin, pengurus lembaga pendidikan dan kederisasi, keanggotaan dan organisasi, IPTEK Pers dan Kajian Strategis, dakwah dan pengembangan pesantren, lingkungan hidup dan perdagangan, advokasi dan perlindungan HAM, seni budaya dan lahraga serta lembaga perekonomian dan? ketenagakerjaan.

Rakercab juga akan diisi dengan Ansor Bershalawat di lapangan Jatirokeh yang akan diisi dengan majelis dzikir dan sholawat rijalul ansor bersama sejumlah ulama. Di antaranya, Habib Umar Muthohar dari Semarang dan Habib Masoleh Bin Yahya dari Cirebon. Kegiatan Ansor Bersholawat juga akan dipandu oleh group Qosidah Akhbabul Mustofa asuhan Habib Lutfi Bin Yahya dari Kota Pekalongan. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Nusantara, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja

Sukoharjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal -

Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, mengadakan kegiatan kelas akhir tahun 2016 dengan membedah buku “Khazanah Aswaja” yang diterbitkan Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.

Kegiatan bedah buku tersebut dilaksanakan, Sabtu-Ahad (24-25/12), di Aula Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah

Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja

Selama dua hari itu para peserta yang terdiri dari santri dan masyarakat umum, mengaji buku yang menjelaskan secara lengkap ajaran Aswaja mulai dari mmafahim Aswaja, aqidah Aswaja, fikih Aswaja, tasawuf Aswaja, dan kelompok aliran dalam sejarah umat Islam ini, dengan dipandu berbagai narasumber.

Pengasuh Pesantren Windan, KH M Dian Nafi’, kegiatan mengkaji buku ini sangat penting untuk bekal para santri dan generasi muda Nahdliyin. “Santri perlu terus menambah pengetahuan dan wawasan tentang Nahdlatul Ulama,” terang Kiai ‘Dian, Jumat (23/12).?

Menurutnya, NU memiliki sanad ilmu yang jelas, yang sangat penting bagi para pencari ilmu. “Sehingga orang muda akan sangat beruntung jika belajar agama islam dengan mengikuti Nahdlatul Ulama,” terang Wakil Rais Syuriah PWNU Jateng itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Dian menambahkan, kajian ini menjadi kegiatan rutin yang selalu digelar menjelang akhir tahun. “Setiap akhir tahun kita membahas satu buku atau pemikiran para tokoh ulama Islam,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal PonPes, Lomba, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Sukoharjo,? Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, memiliki cara unik untuk memperingati momentum pergantian tahun. Mereka menggelar kegiatan “Dupa Nuswantara”.

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)
Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Kegiatan yang rutin digelar saban tahun tersebut bertema “Dupa Nuswantara: dari Pagar Nusa Kartasura untuk Masyarakat Indonesia”, digelar di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Ahad (1/1).

Kepada? Kedung Sukun Adiwerna Tegal, salah satu panitia kegiatan Dupa Nuswantara, Hamid Baedhowi, menuturkan ini merupakan acara Dupa Nuswantara yang diadakan untuk ketiga kalinya. Sebelumnya, kegiatan serupa hanya dilaksanakan di daerah sekitar Kartasura.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Para peserta yang ikut tidak hanya dari Kartasura, tapi juga dari berbagai daerah seperti Boyolali, Sragen, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo bahkan dari Ponorogo pun ada yang berpartisipasi dalam acara tersebut,” terang Hamid.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di sana, para pendekar Pagar Nusa menuju ke lokasi dengan berjalan kaki. Sesampainya di sebuah Langgar yang bertepat di Desa Kalipang mereka berkumpul dan melantunkan dzikir, tahlil dan doa bersama untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

“Doa kita panjatkan agar bangsa ini dibebaskan dari bencana yang tidak kita inginkan, maka dari itulah acara ini disebut dengan nama Dupa Nuswantara,” tutur Baedhowi.

Acara juga dimeriahkan dengan penerbangan lentera harapan. “Semoga tahun 2017 ini kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata dia.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan, Internasional, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock