Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

GP Ansor Pusakajaya Gelar Turnamen Bulu Tangkis

Subang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menggelar turnamen bulu tangkis tingkat kecamatan.

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Pusakajaya, Nanang Kosim mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan selama tiga hari dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-70.

GP Ansor Pusakajaya Gelar Turnamen Bulu Tangkis (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pusakajaya Gelar Turnamen Bulu Tangkis (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pusakajaya Gelar Turnamen Bulu Tangkis

"Alahmadulillah, masyarakat di sini cukup antusias dalam mengikuti turnamen bulu tangkis ini. Apalagi anak-anak muda di Pusakajaya sangat menggemari permainan bulu tangkis ini," ujar Nanang, Selasa (18/8).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dikatakan, kegiatan turnamen bulu tangkis ini dibuka untuk umum dan semua kalangan. "Peserta yang mengikuti kegiatan turnamen ini ada 24 orang. Mereka semua berasal dari Kecamatan Pusakajaya," kata Nanang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari 24 peserta yang mengikuti turnamen itu, kata Nanang, tampil sebagai juara umum dari Desa Kebondas, Kecamatan Pusakajaya.

"Juara pertama masing-masing mendapatkan satu buah raket. Juara dua masing-masing mendapatkan dua buah raket nyamuk dan juara tiga masing-masing mendapatkan kaos. Jadi total hadiahnya sekitar 700 ribuan," jelasnya.

Dia menegaskan, selain bertujuan memperingati hari kemerdekaan RI, kegiatan tersebut juga dilakukan untuk mencari bibit-bibit atlet baru di bidang olahraga, khususnya bulu tangkis.

"Jadi, kegiatan yang dilakukan sahabat-sahabat Ansor ini untuk meningkatkan kualitas para pemuda di bidang olahraga, sehingga kedepan Subang memiliki atlet yang potensial," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Jadwal Kajian Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal 



Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz mengatakan, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Rabu (6/9) di Istana Negara Jakarta merupakan hasil dari perjuangan para kiai dan warga NU. Hanya NU yang secara terbuka melakukan penolakan di mana-mana dalam waktu yang cukup panjang.

Tanpa mengurangi peran kiai dan pengurus NU yang lain, lebih khusus, Ishfah memuji Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tak bosan-bosannya berjuang keras dalam menolak Permendikbud 23 yang kemudian dibatalkan Perpres itu. Kiai Said mengkampanyekan menolak kebijakan yang mengandung muatan full day school (FDS) itu di mana-mana dalam setiap kesempatan.  

Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbitnya Perpres 87/2017, Usaha Keras Ketum PBNU Demi Madrasah

“Perpres yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo hari ini tak lepas atas usaha keras Kiai Said yang intens berjuang melalui komunikasi dan pertemuan intensif dengan Presiden,” katanya di gedung PBNU, Jakarta. 

Menurut Ishfah, Kiai Said bertemu presiden tidak kurang dari tiga kali dan sekali dengan Wapres untuk meminta Permendikbud dibatalkan. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Upaya Kiai Said itu, lanjutnya, karena kecintaanya terhadap madrasah diniyah dan pesantren demi kaum Nahdliyin. 

“Bukan karena menterinya dari Muhammdiyah lantas NU menolak Permendikbud itu. Sekalipun menterinya dari NU, Kiai Said akan menolak jika kebijakan itu ngotot dilakukan,” jelasnya.

Apresiasi atas usaha PBNU itu disampaikan Pengurus Cabang NU di daerah-daerah. Hinggga sore tadi, Kiai Said menerima telpon dari Cirebon, Majalengka, Bogor (Jawa Barat), Demak, Jepara (Jawa Tengah), Kota Surabaya dan PW Jawa Timur. Mereka mengucapkan terima kasih kepadanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Berikut perbedaan Permendikbud 23/2017 dan Perpres 87/2017 soal peraturan hari sekolah:

Permendikbud 23/2017





Pasal 2: 

(1) Hari Sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(2) Ketentuan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk waktu istirahat selama 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(3) Dalam hal diperlukan penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Sekolah dapat menambah waktu istirahat melebihi dari 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(4) Penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak termasuk dalam perhitungan jam sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 

Perpres 87/2017

Pasal 9: 

(1) Penyelenggaraan PPK pada jalur Pendidikan Formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dilaksanakan selama 6 (enam) atau 5 (lima) hari sekolah dalam 1 (satu) Minggu.

(2) Ketentuan hari sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diserahkan pada masing-masing satuan pendidikan bersama-sama dengan Komite Sekolah/Madrasah dan dilaporkan kepada Pemerintah Daerah atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama setempat sesuai dengan kewenangan masing-masing.

(3) Dalam menetapkan 5 (lima) hari sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), satuan pendidikan dan Komite/Sekolah Madrasah mempertimbangkan: 

a. kecukupan pendidik dan tenaga kependidikan; 

b. ketersediaan sarana dan prasarana; 

c. kearifan lokal; dan 

d. pendapat tokoh masyarakat dan/atau tokoh agama di luar Komite Sekolah/Madrasah. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Humor Islam, Ahlussunnah, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Sejarah Tahlil

Judul Buku : Sejarah Tahlil

Penulis : KH Muhammad Danial Royyan

Tebal : viii, 72

Penerbit : LTN NU Kendal bekerjasama dengan Pustaka Amanah Kendal

Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Tahlil

Cetakan : pertama, 17 Februari 2013

Peresensi : Fahroji

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Munculnya kembali ideologi dan faham Salafi Wahabi dengan berbagai bentuk organisasinya yang telah menyebar ke tengah masyarakat lintas bangsa dan negara (ideologi transnasional) sekarang ini yang cenderung memusyrikkan dan membid’ahkan amaliah yang sudah ada, maka, mau tidak mau semua hal yang berkaitan dengan amaliah agama harus diketahui lengkap dengan dalil-dalilnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kondisi tersebut telah menimbul keprihatinan di kalangan ulama dan pengurus NU di berbagai wilayah dan cabang, salah satunya PCNU Kendal. KH Muhammad Danial Royyan penulis buku ini yang juga ketua tanfidziyah PCNU Kendal periode 2012-2017 menuangkan kegelisahannya dengan menulis buku Sejarah Tahlil. Tradisi Tahlilan yang merupakan salah satu sasaran tembak bagi kaum salafi wahabi perlu mendapatkan pembelaan agar kaum Nahdliyyin tidak menjadi ragu atas amaliah yang dilakukan secara turun-temurun dan masih berkembang di masyarakat hingga saat ini.

Buku Sejarah Tahlil yang dicetak dalam ukuran saku tersebut memaparkan bagaimana tradisi bacaan Tahlil sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi tradisi itu mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Dalam buku tersebut juga diulas siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Menurut penulis buku ini, hal tersebut pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para kyai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja’far Al- Barzanji. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Dari dua pendapat tersebut, pendapat yang paling kuat tentang siapa penyusun pertama tahlil adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.

Pendapat tersebut diperkuat oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syarah Ratib Al Haddad, bahwa kebiasaan imam Abdullah Al Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin yang hadir dalam majlis Imam Al Haddad ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai dengan 500 kali.

Disamping mengulas sejarah tahlil, buku setebal 72 hal itu juga membahas argumentasi tahlil dan pahala bacaanya yang diyakini bisa sampai kepada mayyit. Pada bab-bab berikutnya penulis juga mengupas tentang talqin dan ziarah kubur lengkap dengan pengertian, tatacara dan argumentasi pelaksanaannya. Buku ini wajib dibaca oleh warga Nahdliyyin di Kendal karena memang diterbitkan dalam rangka penggalian dana NU Kendal dan menggantikan model penggalian dana dengan lewat stiker. Sungguhpun demikian buku ini juga perlu dibaca oleh warga NU dimana saja berada.

Peresensi adalah kontributor Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kendal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Pemurnian Aqidah, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Pati, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Suara hentakan kaki puluhan pemuda ramai pada Jumat (25/3) sekitar pukul lima pagi selepas sembahyang subuh berjamaah. Dengan penuh semangat mereka melakukan senam pinguin sebelum mengawali aktivitas mereka hari itu.

Begitulah cara Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyegarkan para peserta pendidikan dan latihan (diklat) atau kaderisasi di kecamatan setempat. Puluhan pemuda tersebut adalah calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) X-7 Pati

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Menurut Ketua PAC GP Ansor Wedarijaksa Ahmad Halimi, olahraga ini cocok untuk menjaga kesehatan tubuh dan jiwa peserta diklat agar selalu fit dalam setiap kegiatan. “Badan akan terasa enteng setelah melakukan senam pagi,” tuturnya. Dia juga menambahkan kalau peserta diklat akan menjadi fokus disetiap kegiatan setelah melakukan beberapa gerakan-gerakan senam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Setelah senam peserta lantas berjalan kaki memutari keindahan alam Desa Tluwuk, Wedarijaksa, Pati. Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi peserta diklat dan juga warga sekitar. Di sela perjalanan peserta diklat diwajibkan membawa kantong plastik yang digunakan untuk menyisir sampah di jalan yang mereka lalui.

“Peserta memang harus mempunyai tubuh yang fit karena banyaknya kegiatan yang nanti dilakukan” ungkap Instruktur diklat Ahmad Thohir. Tubuh yang sehat akan menumbuhkan jiwa yang kuat, jiwa yang kuat akan membuat otak bekerja dengan maksimal. Dengan siklus yang seperti itu, peserta harus menjaga tubuh dan pikiran sebaik mungkin.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peserta diklat mencapai 93 orang dari target peserta 70 orang. “Kebanyakan memang berasal dari kecamatan Wedarijaksa, tapi tidak sedikit yang berasal dari luar wilayah Wedarijaksa,” ucap ketua panitia, Ahmad Halimi.? “Peserta diklat memang sengaja kami batasi, karena terbatasnya tempat” imbuhnya.

PAC GP Ansor Wedarijaksa mengadakan diklat tidak hanya karena perintah dari PC GP Ansor Kabupaten tetapi dari ranting yang memang mengusulkan untuk segera mengadakan pengaderan Banser. (Hasannudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Halaqoh, Olahraga Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Lakpesdam PWNU Aceh Bangun Gampong Inklusi

Banda Aceh, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dalam rangka membangun Gampong Inklusi Gampong bermartabat sebagai perwujudan Kota madani di Banda Aceh, Lakpesdam PWNU Aceh terus melakukan kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak salah satunya dengan Kecamatan Kuta Alam dan para Keuchik di empat gampong (kampung) yang termasuk dalam Program Peduli Lakpesdam PWNU Aceh yaitu Gampong Mulia, Laksana, Kuta Baro dan Peunayong dikecamatan Kuta Alam Banda Aceh.

Lakpesdam PWNU Aceh Bangun Gampong Inklusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PWNU Aceh Bangun Gampong Inklusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PWNU Aceh Bangun Gampong Inklusi

Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Camat Kuta Alam, Senin, (5/9) tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan antara lain semua Keuchik sepakat untuk sama-sama meningkatkan koordinasi antar gampong dan saling mendukung satu sama lain dalam pemberdayaan masyarakat dan aparatur gampong.

Menurut Camat Kuta Alam Ria Jelmanita, program peduli Lakpesdam PWNU Aceh ini sangat membantu proses pembangunan sumber daya manusia di gampong-gampong program, apalagi dengan melibatkat kaum minoritas dan perempuan.

Ria juga menambahkan bahwa program ini harus menjadi pilot project pembangunan gampong inklusi di Banda Aceh. "Saya sarankan Lakpesdam PWNU Aceh terus intents bekoordinasi dengan pemerintah Kota terutama Walikota, DPRK dan Bapedda serta dinas terkait lainnya,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Marini, Ketua Lakpesdam PWNU Aceh mengatakan bahwa program peduli ini adalah lannjutan dari program PNPM Peduli dan sudah berjalan sejak tahun 2010 di beberapa wilayah nusantara, sementara untuk aceh kita baru jalan sejak awal tahun 2015.

"Adapun kegiatan Lakpesdam PWNU Aceh ke depan lebih fokus pada peningkatan kapasitas aparatur gampong tentang tugas dan fungsi Keuchik, Tuha Peut, dan Kepala Dusun serta membantu merumuskan reusam gampong yang inklusif serta meningkatkan tata kelola Badan usaha Milik Gampong (BUMG),” tutup Marini. (Ismi Amran/Fathoni)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Berita Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang

Bekasi, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. NU Care-LAZISNU menyerahkan bantuan kaki palsu kepada Teguh Budiono, warga Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/10).

Relawan NU Care-LAZISNU Agus Fuat mengatakan sejak lahir Teguh tidak bisa berjalan layaknya anak-anak pada umumnya. Untuk bisa berjalan, ia harus dibantu dengan kaki palsu. 

NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang (Sumber Gambar : Nu Online)
NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang (Sumber Gambar : Nu Online)

NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang

“Satu bulan yang lalu ibunda Teguh, Bu Evi, mengunjungi kantor LAZISNU. Sembari membawa dokumen-dokumen tentang Teguh, ibu berumur 54 tahun itu bercerita apabila kaki palsu anaknya sudah tak layak pakai, sementara kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membeli kaki palsu,” cerita Fuat soal alasan NU Care-LAZISNU menyerahkan bantuan kaki palsu untuk Teguh.

NU Care-LAZSINU lalu berinisiatif melakukan penggalangan diantaranya melalui kitabisa.com untuk pembelian kaki palsu yang baru untuk Teguh. Hasil donasi tersebut digunakan untuk membeli kaki palsu dan juga bantuan untuk pengobatan Bu Evi. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Teguh Budiono menceritakan kaki palsu yang lama sudah pecah pada bagian telapak; dan bagian lutut juga sudah tidak muat. Kaki palsu lama itu ia dapatkan dari program santunan 5 tahun lalu. 

Siang itu Teguh tampak sangat bahagia melihat kaki palsunya diganti dengan yang baru.

“Terima kasih NU Care-LAZISNU yang telah membantu saya dan ibu saya. Semoga NU Care-LAZISNU ke depan semakin maju,” ucap Teguh.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pihak NU Care-LAZISNU yang diwakili oleh relawan juga turut bahagia bisa membantu Teguh dan keluarga

“Ini merupakan wujud bakti NU Care-LAZISNU untuk menolong orang-orang seperti Mas Teguh. Semoga kaki palsu ini bisa bermanfaat untuk Mas Teguh menjalankan aktifitas sehari-hari. Apalagi Mas Teguh punya cita-cita memberangkat haji ibundanya. Semoga cita-cita mulia itu bisa terkabul,” kata Fuat pada kesempatan itu.

(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Jika saat ini, pemikiran para kiai dan ulama di lingkungan nahdliyyin didominasi oleh Mazhab Syafii, dalam 10-15 tahun ke depan, akan terjadi pluralisme pemikiran mazhab akibat banyaknya anak muda yang belajar di berbagai negara yang menganut mazhab non Syafii.

Demikian diungkapkan oleh Waki Rais Aam PBNU KH Tolhah Hasan dalam silaturrahmi PBNU yang diikuti oleh jajaran mustasyar, syuriyah, tanfidziyah dan ulama para kiai pesantren, Selasa (31/7).

NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab (Sumber Gambar : Nu Online)
NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab (Sumber Gambar : Nu Online)

NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab

“Saya memperkirakan tidak lebih dari 15 tahun mendatang, syuriyah kita ada yang mengikuti mazhab Maliki atau Hanafi, ini kalau tidak kita fikirkan sekarang, akan ada benturan diantara kita sendiri,” jelasnya.

Dikatakan oleh Mantan Menteri Agama ini bahwa saat ini lebih dari 1000 anak-anak muda NU belajar di Marokko, Syiria Aljazair, Libya, dan Turki dengan pemeluk agama Islam yang mengikuti Mazhab Maliki dan Hanafi. Menurut AD/ART NU, terdapat empat mazhab yang mungkin diikuti oleh nahdliyyin meliputi Mazhab Syafii, Maliki, Hanafi, dan Hambali.

Saat ini kitab Malikyah, Hanafiyah juga sudah banyak beredar di Indonesia seperti Azzuhaili, Assyobuni, Ramadhan al Buthi, dan lainnya. “NU muda atau kiai muda saat ini yang dibaca sudah fikih perbandingan, kita belum membuat semacam satu aturan bagaimana yang dinamakan tanadzud didalam NU,” katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mantan Rektor Universitas Islam Malang ini juga menjelaskan para fuqoha atau ahli fikih yang kompeten di tingkat internasional saat ini meskipun mengaku mengikuti mazhab tertentu, tetapi mereka lebih menjaga reputasi ilmiahnya daripada mengikuti pemikiran satu mazhab saja.

“Mereka sebagai fukoha lebih menjaga reputasi ilmiah daripada reputasi mazhabnya. Yang dianggap memiliki dalil yang paling kuat, itu yang diikuti meskipun tetap menyatakan saya Syafii, saya Hanafi dan lainnya,” ungkapnya.

Dikatakannya saat ini kuliah syariah dengan pemikiran imam Syafii terbaik di dunia masih terdapat di Syiria dengan pengajar para fukoha yang memiliki reputasi internasional. (mkf)



Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Hukum dan Tata Cara Shalat Ketika Membawa Mushaf Al-Quran

Assalamualaikum. Pak kiai yang dirahmati Allah. Saya ingin bertanya bagaimana hukumnya shalat dengan membaca mushaf Al Qur’an, terimakasih. Wassalamualiakum wr.wb. ( Hasan – Jakarta)

---

Wa’alaikum salal wr. wb.

Hukum dan Tata Cara Shalat Ketika Membawa Mushaf Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum dan Tata Cara Shalat Ketika Membawa Mushaf Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum dan Tata Cara Shalat Ketika Membawa Mushaf Al-Quran

Saudara penanya yang dimuliakan Allah.

Salah satu ibadah sunat paling utama yang dilakukan oleh umat Nabi Muhammad saw adalah membaca ayat-ayat al-Qur’an terlebih apabila dilakukan dalam shalat. Bahkan hukum sunat ini dapat berubah menjadi wajib seperti  membaca surat Al-Fatihah dalam shalat  menurut madzhab Syafi’i.

Menanggapi permasalahan yang saudara kemukakan terkait dengan membaca mushaf al- Qur’an ketika shalat, dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhaddzzab karya Imam Nawawi  disebutkan sebuah redaksi: 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Apabila  orang yang sedang shalat membaca Al-Qur’an dari mushaf maka shalatnya tidak batal, baik dia hafal Al-Qur’an atau tidak. Bahkan dia wajib melakukan hal itu jika dia tidak hafal surat Al-Fatihah sebagamaina keterangan yang telah dijelaskan. Apabila ia sampai membolak balik lembaran mushaf maka salatnya  tetap tidak batal.”

Dari  rujukan diatas, kami memberikan beberapa gambaran sebagai  berikut:

Pertama, apabila mushaf tersebut terletak dan terpampang didepan mushalli (orang yang shalat), maka hukumnya tidak masalah  seperti  mushaf yang dipigura atau dilaminating lalu dipasang didepan pengimaman dan imam membacanya ketika shalat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedua, mushaf tersebut terletak disebelah atau disaku orang yang shalat. Apabila memang demikian kondisinya, maka yang perlu diperhatikan adalah cara pengambilan serta meletakkannya kembali berikut membukanya. Selama dalam proses pengambilan, meletakkan serta membuka tersebut tidak tergolong melakukan  banyak aktifitas, maka hukum membaca mushaf tersebut tetap dibenarkan. Sedangkan apabila dalam proses yang kami sebutkan dianggap melakukan banyak aktifitas, maka dalam pandangan madzhab Syafii  hal ini  dianggap dapat membatalkan shalat sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih mereka.

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca mushaf ketika sedang melaksanakan shalat hukumnya boleh selama tidak melakukan aktifitas-aktifitas yang dapat membatalkan shalat. Pendapat ini sekali lagi mengacu kepada pandangan madzhab Syafi’i. Berbeda dengan pendapat  sebagaian pengikut madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa hal yang demikian (membaca mushaf ketika shalat) dianggap membatalkan shalat.

Saudara Hasan yang dimuliakan Allah.

Demi terhindar dari perbedaan pendapat antar madzhab sebagaimana disebutkan, alangkah lebih baik apabila diluar shalat kita memperbanyak bahkan sering membaca Al-Qur’an sehingga mampu menghafalnya, hingga dalam pelaksanaan shalat kita tidak perlu membaca atau membuka mushaf. Hal ini tentunya akan kian menambah fokus dan kekhusyu’an kita dalam beribadah.

Mudah-mudahan  jawaban ini bermanfaat dan semakin menggiatkan kita untuk lebih gemar membaca serta mencintai kalamullah. Amin.

Wallahu a’lam bi as-shawab. (Maftukhan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Aswaja, Halaqoh, Sejarah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Cara Menghindari Paham Islam Radikal

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Usai mengisi acara pengkaderan di IPNU-IPNU Pekalongan dan Cilacap, saya berkesempatan belajar bersama: mengisi seminar bertajuk "Radikalisme: Gerakan, Ideologi dan Media" yang diselenggarakan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purworejo, Jawa Tengah.

Pertama-tama, saya menjelaskan radikalisme secara etimologis dan terminologis. Ia berasal dadi kata radix, yang berarti akar. Radikalisme adalah paham yang ingin adanya perubahan sistem sosial dan atau politik secara cepat (revolusi), yang tak jarang menimbulkan pertumpahan darah.

Cara Menghindari Paham Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Menghindari Paham Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Menghindari Paham Islam Radikal

Dalam pada itu, saya juga mengatakan bahwa bibit paham radikal (dalam Islam) sudah ada semenjak masa sahabat, ketika terjadi peristiwa tahkim. Waktu itu, terjadi perang antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Ketika pasukan Muawiyah terdesak, Amru bin Ash selaku politisi ulung menyarankan mengangkat Al-Quran sebagai simbol perdamaian. Konon, Al-Quran-nya waktu itu "dijunjung" diatas ujung tombak.

Beberapa pengamat politik menilai, ini adalah politik pecah belah. Begini logikanya: seandainya Sayyidina Ali menerima ajakan berunding atau negosiasi, maka pasti ada diantara pasukannya yang tidak menerima. Seandainya beliau tidak menerima, pasti ada pasukan yang mau menerima. Dan sang menantu Rasulullah pun memutuskan: menerima rundingan.

Umat Islam yang tidak menerima (keluar) rundingan di peristiwa tahkim itu, kemudian menamakan diri mereka dengan aliran Khawarij. Inilah aliran yang menganggap kedua sahabat itu sesat, dan bahkan kafir. Argumen mereka simple: Ali dan Muawiyyah menerima "hasil rundingan" dan "hasil putusan akal" manusia. Padahal, menurut mereka, tidak ada hukum kecuali dari Allah; waman lam yahkum bimaa anzalallaah, faulaaikahumul kaafirun (terjemahan bebas: barangsiapa tidak memakai hukum dengan apa yang diturunkan Allah, mereka adalah orang-orang kafir).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kemudian, "gara-gara" berpemahaman dan berideologi seperti itu, seorang yang bernama Abdullah bin Muljam (Ibnu Muljam), pada tahun 40 H. berani membunuh Sayyidina Ali. Padahal, ia seorang yang hafal Al-Quran (haafidzul quran), rajin berpuasa (shaaimun nahaar) dan shalat malam (qaaimullail). Yah, orang yang shaleh "secara pribadi", hanya karena berpemahaman - atau memahami Al-Qur’an secara-literer, tekstual, skriptual dan sempit, berani membunuh sang pintu gerbang ilmu (baabul ilm), pemuda yang dalam kategori pertama kali masuk Islam (asaabiqunal awwalun) dan salah satu sahabat yang dijamin masuk syurga oleh Rasulullah (almubasyyarah bil jannah).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam perjalanannya, umat Islam banyak dikoyak oleh negara-negara adidaya yang berkepentingan. Mereka membikin Alqaeda, dan berapa gerakan Islam lain melalui mata-mata dan orientalis, untuk menghancurkan umat Islam sekaligus menggarong ekonomi dan SDA negara-nya. Termasuk sekte Wahabi, yang tak lepas dari peran orientalis juga mata-mata Happer Allenbi, dan ISIS pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi.

Dalam konteks bernegara, Indonesia memiliki - dan bahkan kini berkembang - pelbagai paham dan aliran. Ada neo-komunisme yang radikal, sebagai antitesis dari kapitalisme global. Ada juga Islam Radikal yang ingin ada formalisasi syariat Islam, antitesis dari liberalisme (pemisahan agama dengan negara). Namun kebanyakan berpaham moderat: menerima demokrasi sebagai sistem negara, tetapi tetap berpegang peguh pada nilai-nilai, hukum dan moralitas Islam. Ini mengingat Indonesia adalah negara yang berpenduduk plural, baik suku, etnis maupun agamanya. Semua diakomodir dalam dasar dan falsafah negara kita: Pancasila dengan slogan Bhineka Tunggal Ika.

Pancasila dan Piagam Madinah

Dalam sejarahnya, Pancasila lahir melalui perdebatan alot, antara yang menginginkan negara Islam dengan negara yang bernafaskan Islam. Ini dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Akhirnya, setelah adanya keberatan dari perwakilan Indonesia Timur yang mayoritas non-muslim, disepakatilah Pancasila (yang sekarang ini).

Konsensus dasar negara Indonesia berupa Pancasila, mirip sekali dengan Piagam Madinah. Pada awalnya, perjanjian antara Islam, Yahudi, Kristen serta berbagai kepercayaan lainnya, diawali dengan Muhammadur Rasulullah. Kemudian non-muslim tak sepakat, karena mereka tidak mengakui kerasulan Muhammad. Akhirnya, nabi mencoret sendiri kata Rasulullah dan menganti dengan Muhammad ibni Abdillah.

Jadi, Negara Madinah itu bukan negara Islam. Nabi pun tidak menyuruh umat Islam membentuk negara yang seperti apa. Islam cukup menyediakan moralitas, hukum prinsip umum yang mesti dilakukan seperti menegakkan keadilan dan kebenaran. Adapun kekhalifahan, kesultanan, monarki, adalah produk hasil peradaban Islam. Kita umat manusia bebas menentukan.

Demikian, panjang lebar saya katakan, salah satu yang membuat menjadi pemahaman ideologi radikal adalah paham keagamaan dan kebangsaan. Kini, Pancasila sebagai pemersatu bangsa banyak dikoyak oleh sekelompok ormas, partai, LSM dan berpotensi merusak persatuan. Bahkan, dengan "tangan yang tak terlihat," mereka mengganti peraturan (UUD).

Kemudian, di sesi tanya jawab, ada banyak gempuran pertanyaan. Mereka – siswa siswi remaja itu – begitu antusias bertanya. Namun tidak semuanya saya ulas disini.

Pertama, apa sikap kita jika aksi penolakan pemimpin non-muslim, membuat mereka masyarakat non-muslim tidak terima, bukankah ini berbahaya? Lalu bagaimana sikap kita jika malah "minoritas" justeru yang memimpin "mayoritas".

Menjawab ini saya hati-hati. Pertama, kita negara demokrasi, Pancasila. Semua warga negara berhak dipilih dan memilih. Jadi, jika pun ada penolakan, frame kita jangan didasarkan pada suku, ras dan agamanya, tetapi karena perbuatannya. Walaa udwaana illa aladzzaalimin; tidak ada musuh (atau permusuhan) kecuali kepada orang yang dholim, seperti: koruptor, pengedar narkoba, penipu rakyat dll. Jadi misalpun menolak, mesti dengan cara-cara yang konstitusional.

Kedua, mengenai adanya "minoritas" yang memimpin – atau menjadi – pemimpin "mayoritas," itu tidak masalah selagi sesuai dan tidak menyalahi undang-undang. Undang-undang kita memang begitu: melindungi semua. Meski demikian, itu meski disikapi sebagai sebuah otokritik. Misalnya, itu merupakan lemahnya sistim partai, lembaga pendidikan, institusi atau kita masyarakat Islam dalam mengkader pemimpin. Untuk itu, ukhuwwah Islamiyyah disini perlu direkatkan, agar kedepan banyak orang muslim – termasuk adik-adik sekalian – bisa menjadi pemimpin yang baik sesuai ajaran Islam.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara mengenali dan menghindari paham radikal? Menjawab anak-anak SMA ini saya sederhanakan. Pertama, musti belajar Islam dengan sungguh-sungguh dengan kiai atau ulama yang otoritatif, di pesantren bukan di google. Kebetulan mayoritas siswanya mondok.?

Kemudian pahami Islam yang substansial, seperti dibawa sang penyebar: Walisongo, dimana Islam dan identitas kebudayaan tidak saling bertabrakan. Ada akulturasi, asimilasi dan sinkretisasi yang tidak merubah substansi. Itu merupakan sebuah strategi dakwah Islam yang efektif, tanpa paksaan apalagi peperangan.

Juga, agar tak jauh dari ulama-ulama pesantren yang teduh dan arif, meski jarang muncul di televisi. Jangan mudah bergabung dengan organisasi Islam yang tidak dipimpin oleh kiai dan atau ulama.

Lalu cara menghindarinya, adalah jangan mudah bergabung dengan kelompok yang tidak sewajarnya, eksklusif dan intoleran. Juga perlu adanya filterisasi jika membaca buku dan artikel di internet.?

Saya sendiri mengaku rujukannya adalah nu.or.id, muslimoderat.net, muslimedianews.com, sarkub.com, pesantrenvirtual.com dan beberapa situs Islam yang moderat, tidak penuh fitnah, kebencian dan propaganda.

Kemudian, ada juga yang curhat ketidakpedeannya dalam menjawab pertanyaan teman: kenapa Islam diidentikkan dengan teroris? Bagaimana cara kita menjawabnya?

Pertama, saya menjawab, memang kita harus fair, bahwa ada sebagian kecil – kecil sekali – yang berpaham radikal seperti itu. Suka ngebom dan membunuh. Itu kesalahan pemahaman mereka akan ajaran Alquran. Jadi bukan Islamnya yang salah, tetapi orangnya. Meski demikian mereka tetap membawa iman.

Kemudian, ada juga paham islam radikal yang sengaja dibikin oleh negara-negara adikuasa. Mereka memang disiapkan untu memecah-belah internal dan agar ekonomi negaranya bisa dikuasai, seperti Al-Qaeda dan ISIS. Negara-negara adidaya itu, rela mengeluarkan kocek dalam, triliunan, untuk proyek terorisme dan pendangkalan Islam ini.?

Bilang saja, mayoritas umat Islam berlaku sesuai ajaran Al-Quran. Adapun citra buruk islam, terutama paska Bom WTC 11 September 2001, adalah bagian dari upaya mereka menistakan Islam dan alasan untuk menggempur negara-negara Timur Tengah.

Wajah Islam yang sebenarnya, adalah wajah Islam yang ditampilkan umat Islam Indonesia, yang meski taat beragama, tetap sederhana. Mereka berpeci, bersarung, bercelana, bahkan sebagian belum berkerudung, namun taat menjalankan ajaran agamanya, dan bisa marah jika diganggu negaranya. Toleran terhadap sesama manusia.?

Saya katakan juga, bahwa orang Islam adalah orang yang beriman. Iman, aman dan amin berasal dari satu rumpun. Orang islam adalah orang yang siapapun aman jika bersamanya. Entah teman, jabatan dan pergaulan.

Mengutip penelitian Kiai Muzammil dari LBM NU Yogyakarta, saya mengatakan, bahwa ketika hijrah dan mendirikan Negara Madinah, umat Islam masih menjadi minoritas, sekitar 15 persen pemeluknya dari seluruh penduduk Madinah (Yatsrib) yang waktu itu sekitar 10.000. Sisanya Yahudi, Nasrani dan sedikit aliran kepercayaan. Namun mengapa nabi Muhammad dipercaya menjadi kepala Negara? Karena beliau adil, jujur, hormat, berakhlak, terpercaya, dan semua aman bersamanya. Kini, tugas berat menanti kita semua: meneladaninya.

Penulis adalah Santri Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah, Penulis Buku Santri Jalanan (Gemamedia: 2016).

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan

Jember, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Nama Universitas Islam Jember (UIJ) terdengar juga di kalangan petinggi Amerika Serikat (AS). Itu dibuktikan dengan kunjungan Konjen AS, Joaquin “Wakin” Monserrati, Selasa (24/2) di kampus yang terletak di jalan Kiai Mojo, Jember itu. 

Wakin menawarkan kerjasama dengn UIJ dalam bidang pendidikan, yakni pertukaran pelajar dan  mahasiswa. Dikatakan Wakin, selama ini pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah pondok pesantren dalam bidang pendidikan.

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi UIJ, Konjen AS Tawarkan Kerjasama Pendidikan

“Sangat menyenangkan kalau akhirnya kami dan UIJ bisa menjalin kerjasama yang lebih inten,” harapnya sambil menambahkan bahwa NU merupakan organisasi terbesar dunia yang mampu menjadi stabilisator dalam berbagai persoalan kebangsaan.

Wakin yang didampingi Kabag Politik dan Ekonomi, Brandon Passin dan Asisten Konjen, Ahmad Cholis Hamzah itu diterima Ketua Yayasan Pendidikan NU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab), Plt Rektor UIJ, Hobri, mantan Rektor UIJ, Dodiek Sutikno, dan sejumlah petinggi UIJ di gedung rektorat. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam kesempatan itu, Wakin mengaku bersyukur akhirnya bisa berkunjung ke UIJ. “Baru hari ini kami bisa mengunjungi UIJ setelah  14 tahun berkeinginan,” ucapnya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Sebelum mengadakan dialog, Wakin dan rombongan sempat berjalan-jalan mengelilingi area kampus UIJ dan sempat mampir di kantor FISIP. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, KH Abdullah Syamsul Arifin mengemukakan bahwa kunjungan Konjen AS tersebut merupakan bukti UIJ dan NU cukup diperrhitungkan keberadaannya. Ia mengaku bersyukur ditawari kerjasama pertukaran pelajar dan mahasiswa.

“Semua itu masih akan kita bicarakan dulu di internal UIJ,” jelasnya. (Aryudi A Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Aswaja Dikenalkan dalam Pesantren Kilat

Pati, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Untuk mengenalkan nilai-nilai Aswaja, Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Pati, Jawa Tengah menggembleng 90 santri pesantren kilat. Kegiatan yang mengambil tempat di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Alistiqomah Desa Margorejo Kecamatan Margorejo, Pati, itu berlangsung selama tiga hari, yakni, dari 1 hingga 3 Agustus.  

Ketua IPNU Pati Muhammad Mubarok mengatakan, kegiatan yang dilakukan IPNU-IPPNU itu dalam rangka menanamkan karakter keagamaan sejak dini. Khususnya karakter keaswajaan. Yakni, karakter tawasuth, tawazun, ta’adul, tasamuh dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Aswaja Dikenalkan dalam Pesantren Kilat (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Dikenalkan dalam Pesantren Kilat (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Dikenalkan dalam Pesantren Kilat

Peserta pesantren kilat ini diikuti anak-anak dari berbagai usia. Yakni, usia TK/RA hingga SMP/MTs. Kendati beda usia, mereka tetap antusias dan bersemangat mengikuti materi kegiatan.    

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Untuk hari pertama dilakukan ta’aruf, pengenalan materi aswaja dan sholat dzuhur berjamaa’ah,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah materi yang disampaikan bertujuan untuk menanamkan kebiasaan sifat hasanah melalui metode yang menarik, menyenangkan, tidak memberatkan dan mudah dipahami. Sehingga, kendati berlangsung selama tiga, mereka tetap merasa kerasan di pesantren.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dikatakan, dengan pengenalan nilai-nilai aswaja sejak dini, diharapkan mereka akan mengenal Islam yang rahamatan lil ’alamin. Yakni, Islam yang penuh kedamaian, toleransi, dan menjunjung tinggi nilai-nailai kemanusiaan. Bukan Islam yang suka kekerasan.

Selain itu, dengan pesantren kilat, mereka diharapkan mulai mengenal suasana pesantren. Sehingga kelak, mereka akan tertarik masuk pesantren dan mendalami ilmu di pesantren yang sebenarnya.

Sementara itu, Kepala TPQ Alistiqomah Margorejo, Thohuroh menambahkan, kegiatan pesantren kilat sudah menjadi kegiatan rutin di lembaganya. Dan untuk menyukseskan kegiata tersebut pihaknya bekerjasama dengan IPNU-IPPNU Pati.

“Pelaksanaan pesantren kilat ini sengaja ditempatkan diakhir Ramadhan, guna memanfaatkan moment libur sekolah jelang Idul Fitri,” ungkapnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Sholihin Hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Olahraga, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengingatkan kehadiran digital yang masuk ke semua lini kehidupan.

“Digital tidak pandang bulu. Agama apapun, agama Islam sekalipun,” katanya saat menghadiri Peluncuran Aplikasi NU Mobile, Televisi NU Channel, Data Center, Arab Pegon, dan Mobil Halal Investigasi di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (17/11) malam.

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)
Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone (Sumber Gambar : Nu Online)

Merasuk ke Kehidupan, Menkominfo Ingatkan Dampak Penggunaan Smartphone

Menurutnya, kehadiran digital menimbulkan banyak perubahan pada kehidupan. Dulu, katanya, qari dalam membaca Al-Qur’an itu membaca Al-Qur’an cetak, tapi sekarang qari tidak membawa Al-Qur’an cetak melainkan membacanya melalui ponsel.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hal itu, menurutnya, sesuai dengan data yang menunjukkan bahwa penggunaan smartphone tidak terjadi perubahan. Dengan kata lain, aktivitas penggunaannya tetap tinggi, dari bangun sampai mau tidur.

“Jadi ini betul-betul merasuk ke kehidupan kita,” ujar pria kelahiran Bogor, Jawa Barat ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Oleh karena penggunaan yang sudah tak terbendung itu, Rudi pun mengingatkan tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan smartphone.

Hadir pada peluncuran aplikasi ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Syariah, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Memulai Kembali Ishari sebagai Banom NU

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Wilayah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) Jawa Timur mengadakan rapat koordinasi (Rakor) perdana pada Ahad (22/11) di Pondok Pesantren Fatchul Ulum Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, pasca keputusan Muktamar Ke-33 NU di Jombang tentang kembalinya Ishari menjadi badan otonom NU.

Ketua PW Ishari Jatim Yusuf Arif mengatakan, rapat ini baru pertama kalinya diselenggarakan dan dihadiri oleh semua Pengurus Cabang Ishari se Jatim. "Menjadi Banom, bagi Ishari adalah sebuah cita-cita yang sangat tinggi, bahkan sudah mentok," lanjutnya.

Memulai Kembali Ishari sebagai Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Memulai Kembali Ishari sebagai Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Memulai Kembali Ishari sebagai Banom NU

PW Ishari Jatim termasuk pendorong utama kembalinya Ishari sebagai banom NU. Hal itu dilakukan sejak sebelum Muktamar ke-33 NU digelar, mulai dari konsolidasi? hingga melobi para Pengurus Cabang NU se-Jatim, dan puncaknya adalah tampilnya Ishari di perhelatan akbar di muktamar NU di Jombang. Saat itu Ishari menampilakan dengan 1926 orang bershalawat di area Muktamar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Alhamdulillah, pembahasan Ishari di komisi organisasi dan pleno komisi lolos secara aklamasi tanpa ada sanggahan dari PCNU se Indonesia," tegasnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lantas apa yang akan dilakukan oleh PW Ishari Jatim. Arif mengaku beberapa minggu yang lalu, dirinya bersama Sekertaris dan Rais Majelis Hadi Ishari Jatim menemui Pengurus Besar NU di Jakarta dan ditemui oleh H Imam Aziz Ketua PBNU. "Imam Aziz mengatakan akan membahas ulang dengan para kiai dan kita disuruh menunggu hingga rapat pleno PBNU, nanti akan dikabari," terangnya menirukan instruksi dari PBNU.

Pada intinya, PBNU mengiginkan Ishari juga menaungi beberapa seni hadrah Al-Banjari, mulai dari Al-Habsy, Ahbabul Mustafa, dan sebagainya. "Semua yang berhubungan dengan seni diminta Ishari menaunginya," lanjutnya.

Rapat kordinasi ini memiliki agenda tunggal yaitu persiapan Munas Ishari. "Kita nanti akan membentuk tim untuk mempersiapkan munas itu, mulai dari administrasi, syarat-syarat menjadi banom, rancangan PD/PRT, dan lain sebagainya," pungkas Arif saat ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal setelah acara pembukaan.

Ishari pernah diresmikan menjadi salah satu lembaga binaan Syuriah di PBNU pada Muktamar ke-23 NU di Solo, lalu disepakati sebagai salah satu badan otonom NU Muktamar ke-29 NU tahun 1994 di Cipasung, Jawa Barat.

Dalam perjalanannya, kedudukan Ishari di tubuh NU cukup dinamis. Belum purna masa khidmah kepengurusan pertama sebagai badan otonom NU, organisasi yang menyelenggarakan Munas I di Pondok Pesantren Sunan Drajat tahun 1995 ini berubah sebagai lembaga binaan Lesbumi NU (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia NU).

Pada Muktamar Ke-32 NU di Makassar, Ishari dialihkan sebagai organisasi binaan lembaga tarekat di NU, hingga kian kaburnya posisi Ishari ketika lembaga tarekat itu berubah menjadi badan otonom NU, Jamiyyah Thariqah Mutabarah an-Nahdliyah (Jatman).

Berdasaran hasil keputusan Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdaltul Ulama yang disingkat Ishari resmi menjadi badan otonom baru yang mewadahi anggota NU yang bergerak dalam pengembangan seni hadrah dan shalawat. (Rof Maulana/Mahbib)

Foto: Kiai Mahmud (Rais Majelis Hadi) didampingi oleh Ketua PW Ishari NU Jatim Yusuf Arif saat membuka acara Rakor

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Cerita, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin

Bandar Lampung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Bandar Lampung H Moh Mukri menyatakan dukungannya dengan akan digelarnya Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di Kabupaten Lampung Timur.

Insya Allah pada Kick Off nanti saya akan hadir dalam pembukaan Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur pada 26 Agustus 2017 mendatang,” kata H Moh Mukri di sela-sela menerima kunjungan rombongan Panitia Pelaksana Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung di kediamannya, Kota Bandar Lampung, Senin (31/7).

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Harus Bawa Nilai-Nilai Rahmatan lil ‘Alamin

“Liga Santri Nusantara harus menjadi media untuk menebarkan nilai-nilai (values) Islam rahmatan lil alamin, pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Nusantara ini dan telah ikut berkiprah lahirnya republik ini. Tanpa pesantren dan ulama saya rasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak akan pernah ada. Oleh karenanya, jangan sekali-kali melupakan jasa-jasa para ulama (jas hijau),” imbuh Mantan Ketua PW GP Ansor Provinsi Lampung ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Liga Santri Nusantara adalah momentum baik menyebarkan semangat (ghirah) kepada masyarakat luas untuk memondokkan putra-putrinya ke pesantren. Pesantren adalah tempat lahirnya para ulama, para pejuang yang tanpa pamrih, oleh karenanya Liga Santri Nusantara selain menjadi media silaturahmi antarpesantren se-Provinsi Lampung, juga membangkitkan kembali semangat jargon Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren,” tegasnya yang juga alumni pesantren Langitan Tuban Jawa Timur ini.

“Inilah berkahnya di pesantren. Saya juga tidak akan jadi Rektor kalau tidak pernah nyantri,” tutupnya yang juga Dewan Pembina Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Koordiantor Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung Munir A Haris menambahkan, pendaftaran Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung akan kami tutup pada hari Sabtu mendatang, 5 Agustus 2017 karena kami hanya membatasi 48 klub pesantren saja.”

“Direncanakan pembukaan Liga Santri Nusantara Region VIII Lampung, pada Sabtu, 26 Agustus 2017 di Lapangan Merdeka Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur Propinsi Lampung, akan dihadiri tokoh-tokoh NU antara lain; Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Panitia Pelaksana Pusat atau CEO Liga Santri Nusantara (LSN) KH Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin), Inisiator Nasional Liga Santri Nusantara H Abdul Muhaimin Iskandar, Menpora H Imam Nahrowi, Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri, Bupati Lampung Timur Hj Chusnunia Chalim, pengurus harian PWNU Provinsi Lampung, pengasuh-pengasuh pesantren, dan lain-lain,” imbuh alumnus Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Aswaja Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Mahasiswa IAI Al-Khoziny dan Pelajar Sidoarjo Tingkatkan Keterampilan Menulis

Sidoarjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Ikatan Penulis Mahasiswa Al-Khoziny (IPMA) menggelar pelatihan jurnalistik tingkat dasar yang diadakan di kantor MWCNU Buduran, Sidoarjo, Sabtu (14/1). Pelatihan ini diikuti sekitar 32 peserta dari tingkat SMA hingga perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

Menurut Ketua IPMA IAI Al-Khoziny, Ardina Kholidatul, pelatihan jurnalistik ini bertujuan memberikan pemahaman kepada calon wartawan muda agar dalam menulis berita sesuai dengan kode etik jurnalistik. Pasalnya, saat ini marak pemberitaan yang telah keluar dari rel jurnalistik.

Mahasiswa IAI Al-Khoziny dan Pelajar Sidoarjo Tingkatkan Keterampilan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa IAI Al-Khoziny dan Pelajar Sidoarjo Tingkatkan Keterampilan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa IAI Al-Khoziny dan Pelajar Sidoarjo Tingkatkan Keterampilan Menulis

"Kami berharap, dengan adanya pelatihan jurnalistik ini, para peserta mampu menulis berita yang objektif, akurat dan berimbang. Ketika benar-benar menjadi wartawan, mereka akan menjadi wartawan yang professional," kata Dina.

Acara pelatihan jurnalistik ini akan berlangsung selama dua hari, Sabtu-Ahad (14-15/1). Selama pelatihan, peserta diberikan materi jurnalistik dasar, reportase, hingga pengambilan gambar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu pendiri IPMA M Zainal Abidin menambahkan, pelatihan jurnalistik ini harus digalakkan di semua komponen bangsa khususnya mahasiswa sebagai generasi muda. Karena, generasi muda harus mendapatkan pembekalan keterampilan terkait dengan tulisan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Karena saat ini perang yang paling efektif adalah perang tulisan atau di media sosial. Adanya pelatihan jurnalistik ini akan memberikan pembekalan yang cukup sehingga mahasiswa mengetahui bagaimana menulis, membuat, dan menganalisis berita yang benar, sesuai koridor yang telah disepakati oleh para ulama," kata pria yang juga Wakil Ketua PCNU Sidoarjo itu. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Syariah, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Ali Fauzi Tobat karena Penanganan Manusiawi Kepolisian

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Mantan Napi Terorisme Ali Fauzi memandang pentingnya sikap manusiawi aparat kepolisian dalam menangani semua pelaku kejahatan termasuk pelaku kejahatan teror. Sikap manusiawi ini tidak mustahil mengubah jalan hidup pelaku kejahatan untuk berempati kepada manusia dan kemanusiaan.

Ia menyatakan bahwa polisi memang mempunyai peran penting untuk pertobatannya dari aksi-aksi teror.

Ali Fauzi Tobat karena Penanganan Manusiawi Kepolisian (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Fauzi Tobat karena Penanganan Manusiawi Kepolisian (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Fauzi Tobat karena Penanganan Manusiawi Kepolisian

“Salah satu hal yang juga membuat saya sadar adalah sikap polisi yang memanusiakan saya saat dan setelah melakukan penangkapan terhadap saya,” kata Ali Fauzi pada pendidikan singkat Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media yang diinisiasi Aliansi Indonesia Damai dan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/5) malam.

Ketika ditanya apakah aksi terorisme di Indonesia akan terjadi lagi, Ali mengatakan selama masih ada proses regenerasi dan rekrutmen, masih ada peluang untuk adanya aksi terorisme.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Nah, siapa yang tahu proses itu masih berjalan? Adalah tugas kita bersama untuk mengantisipasi dan mencegah hal itu, terutama kalangan media masa,” ujar Ali.

Ia menaruh harapan besar kepada media massa untuk berada di garda terdepan dalam membendung ektremisme dan radikalisme. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Aswaja Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pejabat Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri (Gus Mus) mendorong lembaga pendidikan untuk tidak bergantung pada pemerintah. Kemandirian dinilai justru akan membawa mereka pada kreativitas dan kemajuan.

Menurut Gus Mus, kunci kesuksesan negara-negara Barat tak lain adalah kemandirian. “Amerika dan Eropa itu pada mandiri, mereka tidak mengandalkan pemerintah. Makanya bisa maju,” terangnya saat pertemuan di gedung Haji Kudus, Jawa Tengah, Rabu (5/11).

Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah

Ia menerangkan bahwa kemandirian menjadi hal yang pertama kali diperlukan jika ingin tetap bertahan. Termasuk urusannya dalam dunia pendidikan. Ketika sebuah lembaga pendidikan tak mampu mandiri dan percaya diri, maka ia akan kalah dengan lembaga pendidikan di sekitarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Contoh nyata dari kemandirian yang berbuah manis adalah pondok pesantren dan madrasah-madrasah swasta yang dirintis oleh para kiai. Kecuali mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa uluran tangan pemerintah, mereka juga tetap mengedepankan nilai ketakwaan.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang ini menilai bahwa Kabupaten Kudus merupakan daerah yang paling mandiri di Nusantara. Pendapat ini dilatarbelakangi banyaknya lembaga pendidikan swasta yang tegak berdiri sejak puluhan tahun lalu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kudus itu hebat. Saya melihat, inilah daerah paling mandiri di Indonesia. Makanya, Kudus tak bisa diapa-apakan lagi. Lihat saja, banyak lembaga pendidikan swasta yang sangat mandiri dan karenanya tetap dapat selalu eksis, tak kalah dengan lembaga-lembaga pendidikan negeri,” paparnya.

Lembaga pendidikan swasta yang dimaksud yakni madrasah-madrasah berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah, baik yang berada di naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kudus maupun yang di luarnya. Di antaranya, madrasah NU Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS), madrasah Qudsiyyah, madrasah NU Banat, madrasah NU Mu’allimat, dan yang lain. Lembaga tersebut banyak didatangi pelajar bahkan dari daerah luar Kudus.

“Lembaga-lembaga ini didirikan atas landasan takwa, oleh para kiai. Bukan didirikan atas landasan APBN, dibiayai negara. Mereka ini mandiri, tidak bergantung pada pemerintah. Kemandirian mengantar mereka untuk kreatif dan aktif, makanya tetap eksis. Banyak juga lembaga-lembaga kita yang tidak mandiri dan akhirnya statis,” ujar Gus Mus. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dunia internasional kembali mengakui kiprah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atas konsistensinya menjaga kerukunan beragama di Indonesia dan luar negeri.

PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay

Sebagai apresiasi, sebuah organisasi pemerhati perdamaian dunia, Global Peace Foundation, memberi anugerah Global Peace Interfaith Leadership Award 2014 kepada PBNU.

 

Penyerahan award dilakukan dalam acara Global Peace Convention yang diselenggarakan di Asuncion, Paraguay, Amerika Selatan, Sabtu (22/11) malam waktu setempat.

 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Konvensi Perdamaian Dunia-nya dimulai sejak tanggal 19 (November) dan ditutup kemarin, dan puncaknya hari ini untuk penyerahan award. Alhamdulillah, PBNU tahun ini adalah penerima award perdamaian global," kata Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud yang menjadi wakil PBNU dalam menerima award tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Marsudi menjelaskan, Global Peace Foundation menetapkan beberapa kriteria penilaian untuk award perdamaian yang tahun ini mengambil tema "One Family under God"  tersebut, antara lain inovator terkemuka, baik pemerintahan, lembaga atau organisasi kemasyarakatan, masyarakat sipil, akademisi, dan masyarakat lintas agama, yang telah bekerja dan memberikan teladan dalam substansi meningkatkan kehidupan orang atau kelompok lain, serta nyata berkontribusi untuk perdamaian.

 

Pemenang penghargaan, kata Marsudi, juga dinilai telah menunjukkan integritas kehidupan pribadi atau kelompok dan layanan, dan memberikan contoh pengakuan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat.

 

"PBNU dinilai telah menunjukkan usaha yang luar biasa dalam memajukan kerjasama lintas agama, kemanusian, serta layanan dan perdamaian. Award ini tentu wajib disyukuri, karena di sini PBNU adalah wakil Indonesia," jelas Marsudi.

 

Sementara dalam konvensi perdamaian yang menjadi rangkaian acara sebelumnya, Marsudi menyampaikan pidato dengan tema "Leadership in the Promotion of Liberty, Prosperity and Integrity".

"Pidato ini menyampaikan betapa pentingnya kepemimpinan moral. Ini merupakan topik penting, tidak hanya untuk negara-negara Muslim di Asia, akan tetapi juga negara-negara lain di dunia," tegasnya.

 

Marsudi memaparkan, dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari kepemimpinan moral untuk mendukung kebebasan, kemakmuran, dan integritas, karena itu adalah bagian dari martabat dan sistem bangsa Indonesia yang telah sukses membangun peradaban.

 

"Ibaratnya, saat akan pergi ke tujuan, yaitu titik keberhasilan di dunia dan akhirat, saadah fiddunya wal akhirat, cara dan jalur untuk mencapainya adalah dengan menggunakan kebebasan, kemakmuran, dan integritas yang dilaksanakan oleh para pemimpin yang dikontrol oleh sistem moral," pungkas Marsudi. (Red: Mahbib Khoiron)

 

Foto: Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud (dua dari kanan) menjadi salah satu narasumber dalam Global Peace Convention 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

IPNU-IPPNU Lamongan Persiapkan Kader NU Masa Depan

Lamongan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dalam rangka meningkatkan mutu kader-kader muda Nahdlatul Ulama, Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan menggelar Latihan Kader Utama (Lakut) yang merupakan jenjang pengkaderan tertinggi di tingkat cabang.

?

IPNU-IPPNU Lamongan Persiapkan Kader NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lamongan Persiapkan Kader NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lamongan Persiapkan Kader NU Masa Depan

Lakut berlangsung mulai tanggal 6-9 Oktober 2016 di TPQ Syech Maulana Ishaq Kemantren-Paciran-Lamongan yang diikuti oleh 50 orang kader pilihan dari PAC IPNU-IPPNU se-Kabupaten Lamongan dan beberapa kader yang didelegasikan oleh PC IPNU-IPPNU di Jawa Timur di antaranya Surabaya, Sumenep, Pamekasan, dan Tulungagung.

Pembukaan Lakut dihadiri dan dibuka langsung oleh jajaran PCNU Kabupaten Lamongan, yaitu Fauzi Ahmad (wakil Ketua), Imam Ghazali (sekretaris), Gus Syahrul (ketua RMI NU), dan Husen (ketua LP Ma’arif NU).?

Fauzi menyatakan bahwa IPNU-IPPNU adalah ujung tombak perjuangan Nahdlatul Ulama dengan karakter dan pemahaman yang tepat terhadap keadaan zaman. Kaderisasi adalah langkah kongkret dalam organisasi guna mewujudkan kader penerus yang kompeten, memiliki loyalitas, dan totalitas terhadap organisasi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Terpimpin dan terkomando merupakan konsep yang diusung oleh PC IPNU IPPNU Kab. Lamongan dalam Lakut Angkatan II. Di mana kami berharap pasca kegiatan tersebut para kader mampu menjadi pelopor IPNU-IPPNU di wilayahnya masing-masing dan siap menghadapi segala macam bentuk fenomena di Indonesia,” tutur Muhlisin Ketua PC IPNU Kab. Lamongan.

Peserta begitu antusias dan bersemangat dalam menerima pemaparan dari para narasumber. Mereka dituntut aktif dan kritis terhadap seluruh materi yang disampaikan dengan pengaplikasian tindakan dalam realita.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua PC IPPNU Kab.Lamongan Alifa Puteri menjelaskan memperbaiki tatanan organisasi menjadi lebih baik dan benar merupakan modal untuk mengembangkan dan mencetak kader IPNU-IPPNU yang berdaya guna serta mengkader para pemimpin melalui kegiatan yang terarah dan terukur merupakan suatu kewajiban yang harus segera dilaksanakan.?

“Kami berharap dapat memberikan manfaat dan dampak positif bagi perkembangan kader di masa depan, senantiasa melestarikan tradisi dan nilai-nilai perjuangan para masyayikh terdahulu tanpa mengenal batas waktu,“ jelas Alifa Puteri. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kyai, Halaqoh, Humor Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 28 November 2017

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah

Pati, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ratusan mahasiswa Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) dan santri dari berbagai pondok pesantren di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati berduyun-duyun mendonorkan darah di kampus setempat.

Aksi tersebut, baru kali pertama dan tidak biasa dilakukan dalam rangkaian peringatan Haul Syekh Ahmad Mutamakkin. Haul yang digelar setiap 10 Muharram itu, mengundang partisipasi banyak kalangan, terutama kalangan santri dan pelajar.

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa dan Santri di Pati Ramai-ramai Donorkan Darah

Para peziarah dan pedagang dari berbagai daerah juga turut meramaikan haul tersebut. Bagi warga masyarakat, santri pondok pesantren dan lembaga pendidikan di Kajen, Haul Syekh Ahmad Mutamakkin menjadi momentum untuk bertemu dalam kegiatan positif. Sekaligus mengawali tahun dengan aktivitas yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Aksi donor darah berlangsung Rabu (21/10). “Donor darah ini misalnya menjadi contoh kecil kegiatan positif di awal tahun hijriyah, sekaligus wujud solidaritas sesama insan melalui darah,” ujar Zaki Fuad panitia pelaksana donor darah di Fakultas Dakwah Progam Studi Pengembangan Masyarakat Islam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Melalui PMI

Dalam kesempatan itu, sedikitnya 170 Mahasiswa dan santri merelakan sebagian darahnya untuk disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI).

Jumlah penyumbang darah tersebut, di luar dugaan lantaran melebihi target yang ditetapkan, yakni 100 penyumbang darah.

“Mahasiswa dan santri sangat antusias sehingga jumlah penyumbang darah membeludak. Jumlah tersebut, sebenarnya bisa lebih banyak namun karena santri terkendala transportasi sehingga hanya 170 orang,” jelas Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah itu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, animo penyumbang darah yang besar menunjukkan, bahwa kepekaan sosial mahasiswa dan santri di Kajen dan sekitarnya cukup tinggi. Itu tidak terlepas dari pola pendidikan yang selama ini diterapkan, yakni memberi manfaat bagi masyarakat.

“Kedepan kegiatan seperti ini akan kami persiapkan lebih matang lagi, sehingga akan mengundang lebih banyak peserta yang terlibat tidak hanya dari kajen saja,” tandasnya.? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Bahtsul Masail, Halaqoh, Habib Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock