Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sujud juga tidak baik jika asal dikerjakan. Karena dalam sujud itu terdapat nilai-nilai kerohanian yang sangat dalam. Dengan meletakkan kepala di bawah dan menempelkan kening dan hidung di atas tanah, dua lutut, dan telapak tangan serta ujung-ujung jarinya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah saw:

 

 ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Aku disuruh bersujud pada tujuh tulang pada kening seraya menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung kaku.

 

Keterangan tentang posisi fisik di atas hendaknya tidak haya dilaksanakan tetapi juga diresapi. Karena sesungguhnya rambu-rambu itu mengandung hikmah yang bila dilaksanakan dapat membantu seorang lebih khusyu’ dan ihlash dalam shalat. Jika demikian, wajar kalau Rasulullah saw kana menemani sahabatnya yang banyak bersujud

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ?. ? : ? ? . ? : ? ? . ? ? ? . ? : ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Rabiah bin Ka’ab r.a, ia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah SAW kemudian aku membawa kepadanya air untuk beliau berwudhu dan buang hajat, lalu beliau bersabda: “Mintalah dariku”, aku berkata: “Aku meminta menjadi pendampingmu di syurga”, ia bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Aku hanya meminta menjadi pendampingmu di syurga”, Rasulullah SAW bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Itu permintaanku”, ia bersabda: “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu dengan banyak engkau bersujud (shalat)”. HR. Muslim 1

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Secara fisik kondisi sujud memang menunjukkan sebuah penghambaan total. Bagaimana posisi itu begitu sangat rendahnya. Namun dibalik kepasrahan dan kerendahan itu sesungguhnya Allah swt akan meninggikan derajatnya. Sebagaimana diterangkan

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Tsauban r.a ia berkata: “Aku mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah bersujud sesungguhnya engkau tidak melakukan satu sujudpun karena Allah, melainkan Allah mengangkatkan engkau dengan sujud tersebut satu derajat dan Allah menghapuskan darimu satu kesalahan”. HR. Muslim

 

Dan yang paling hakiki dari sujud adalah merasakan kedekatan antara seorang hamba dan tuhannya. Pada saat sujud itu bisa dengan mudah seorang hamba menitikkan air mata, atau merasa intim dengan Allah swt. Begitu yang diajarkan Rasulullah saw dalam haditsnya.

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?“? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?”

 

Hadits riwayat Abi Hurairah Radhiyallahu’anhu, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dengan tuhannya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyaklah berdo’a”

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Santri, Lomba Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Oleh Nur Rohman Suwardi

Filantropi atau kedermawanan sudah menjadi roh dari kebangkitan ulama yang lahir sejak 1926, dengan nama Nahdlatul Ulama. Perjalanan ormas Islam terbesar di dunia ini dibiayai oleh kedermawanan dari para anggota atau simpatisan Nahdliyin. Kedermawanan yang dalam istilah Islam disebut dengan zakat, infak, atau sedekah, menjadi kekuatan penunjang prinsip pokok dalam perjuangan Nahdlatul Ulama.

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care dan Kebangkitan Gerakan Filantropi Nahdliyin

Zakat sebagai rukun Islam dan tiang dalam agama Islam mempunyai peran yang sangat vital. Islam dan perjuangan para pengggerak Islam akan kuat jika kedermawanan masih dijalankan oleh para pemeluknya. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an tentang sinergi antara rukun shalat dan zakat dalam mengatasi persoalan hidup. Zakat dan shalat menjadi tawaran solusi dahsyat? yang Allah berikan kepada hambanya. Zakat sebagai penjaga hubungan dengan manusia dan shalat sebagai penjaga hubungan dengan Allah secara vertikal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perjalanan filantropi Islam di Nahdlatul Ulama secara konsisten didakwahkan dan disosialisasikan dan ini menjadi komitmen semua warga Nahdliyin dalam memeluk ajaran Islam sampai sekarang. Kebangkitan zakat dan gairah perzakatan di Indonesia pun tumbuh. Atas dasar Undang-Undang Zakat nomor 38 tahun 1999, lembaga amil zakat, infak dan sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dibentuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Donoyudan Solo tahun 2005. Dari situ perkembangan filantropi Islam di tubuh Nahdlatul Ulama juga mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Perjalanan lembaga filantropi di Nahdlatul Ulama yang dinamakan LembagaAmil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) mengalami perkembangan dari waktu ke waktu semenjak didirikan secara resmi di Muktamar Donoyudan Solo, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Fathurrahman Rouf. Sebagai lembaga baru di tubuh Nahdlatul Ulama, LAZISNU sudah mengumpulkan rata-rata Rp800 juta per tahun, dari tahun 2004 sampai dengan 2010.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perkembangan mulai dirasakan ketika fase kedua setelah Muktamar di Makassar, LAZISNU dipimpin oleh KH. Masyhuri Malik, pada perkembangan di era ini LAZISNU berkembang dengan performa manajemen yang lebih modern. Potret yang bisa kita lihat dari perolehan LAZISNU setiap tahunnya di rata-rata Rp6 miliar dimulai dari 2010 sampai dengan 2015.

Kemudian selepas Muktamar ke-33 NU di Jombang, LAZISNU dipimpin oleh Syamsul Huda SH Harus berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena beban yang harus ditanggung sebagai Lembaga Zakat Nasional. Lembaga Zakat Nasional seperti LAZISNU harus mampu mengumpulkan perolehan fundraising minimal Rp50 miliar. Tapi alhamdulillah pada awal 2016, beban yang diwajibkan kepada LAZISNU dalam perolehan minimal satu tahun Rp50 miliar sudah terpenuhi. Sekarang, saatnya LAZISNU yang melakukan rebranding NU CARE-LAZISNU harus mengerakkan spirit NU dalam kesadaran “berbagi bagi sesama.”

Sosialisasi tentang pentingnya filantropi selalu digalakkan sampai sekarang. Filantropi berbeda dari charity. Filantropi lebih terlihat sebagai gagasan yang terstruktur dan teratur ketimbang hanya memberi kepada yang lain dan terlebih kepengen mendapatkan dampak secara langsung bagi para donatur (direct impact).

Secara umum, konsep zakat itu harus diatur supaya teratur. Nidham (manajemen) menjadi hal yang sangat penting di warga Nahdliyin. “Kalau sudah ngasih ya sudah yang lillahita’ala,” sering ada ucapan begitu. Ini seolah-olah melegitimasi tentang tidak penting melaporkan akan kinerja yang dilakukan oleh para amilin. Padahal, pelaporan tersebut sama sekali bukan hendak menghilangkan aspek keikhlasan, melainkan sebagai konsekuensi logis nidham itu.

Kini LAZISNU diuji dan ditantang dengan harus menunjukkan keberanian untuk menjadi Lembaga Zakat Nasional, berdasar Undang-Undang 23 tahun 2011. Sesungguhnya, Undang-Undang 23 tahun 2011 ada plus dan minus dalam era kebangkitan gerakan filantropi NU. Tuntutan untuk eksis menjadi lembaga yang trusted, kredibel, dan tranparan menjadi tuntutan tidak hanyaUndang-Undang, tapi juga para donatur dan masyarakat. Pimpinan organisasi para ulama ini, Rais ‘Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin menggelorakan “Gerakan NU Berzakat Menuju Kemandirian Umat”. Ini bukan tidak ada sebab, tapi gerakan ini justru yang menjadi embrio dan spirit bagi gerakan zakat di warga Nahdliyin.



Tiga Titik Tolak


Ada tiga hal yang harus menjadi titik tolak bangkitnya filatropi NU, pertama adalah memberikan pengertian kepada masyarakat Nahdliyin tentang pentingnya berjamaah, tidak hanya berjamaah shalat, tahlilan, zikiran saja tapi harus diperluas dan diperlebar jamaah terlebih berjamaah untuk aksi berbagi kepada sesama. Masyarakat modern ini lebih suka kalau ada kegiatan aksi, bukan hanya kegiatan seremoni. Membangkitkan jamaah dengan aksi kepada sesama ini harus menjadi spirit yang digelorakan di? warga Nahdliyin. Berjamaah atau sinergi ini akan mejadi lebih sempurna jika ulama, umara (pemerintah), aghniya (kalangan berpunya) dan umat menjadi satu kesatuan dalam menyelesaikan masalah bersama terlebih isu yang menjadi pesan utama Muktamar Jombang, yaitu ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Kedua, adalah pentingnya manajemen yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Pentingnya manajemen ini yang kemudian Lazisnu Pusat berinisiatif untuk menstandarkan manajemen dengan menggunakan ISO 9001-2015 dengan nomor sertifikat izin 49224. Ini membuktikan komitmen yang tinggi terhadap kebangkitan filantropi di NU untuk menjadi yang lebih baik dalam rangka mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Betapa pentingnya motto “kerjakan apa yang ditulis, dan tulis apa yang akan dikerjakan,” itulah manajemen. Semua harus berbasis data, bukan hanya katanya atau ucapan mulut.

Ketiga, pergerakannya harus dibangkitkan lagi, harakah an-nahdliyyah lizzakah, itulah gerakan yang dimotori Rais ‘Aam PBNU, supaya komitmen membangun NU lewat jalur filantropi menjadi lebih hidup dan berkembang sesuai dengan cita-cita mulia para pendiri NU. Pelopor sekaligus model percontohan yang di gerakkan almarhum Abuya KH. Abdul Basit Sukabumi menjadi contoh yang patut di tiru dan diteladani. Abuya mampu membuat konsep Allah yang termaktub didalam Al Qur’an dan Hadist Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi membumi dan gampang di kerjakan dan diaplikasina umat dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan sedekah mampu memberikan manfaat kepada umat dengan pola yang sangat sederhana dan bisa di aplikasikan di mana saja kita berapa. Konsep membumikan sedekah merupakan konsep lama yang dalam Bahasa sederhana kita sehari-hari kita sebut denga? konsep gotong royong. Sedekah atau gotong royong menjadi mahluk mulia yang mampu memberikan manfaat bagi umat jika dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong (sedekah berjamaah).

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan NU Care-LAZISNU dalam memegang amanat yang mulia untuk memberikan manfaat kepada umat. Amiin.

Penulis adalah Direktur Fundraising NU Care



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Doa, Santri, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Banyak yang terperangah dengan tampilnya sejumlah penceramah di televisi namun yang bersangkutan tidak menguasai agama dengan benar. Yang terbaru, seorang ustadzah melakukan kesalahan dalam menulis Surat Al-Ankabut ayat 45 dan Surat Al-Ahzab ayat 21.

Terjadinya peristiwa ini tentunya diawali dengan sebab. "Mengapa mereka yang tidak kompeten ternyata mendapatkan tempat di media, termasuk di media sosial? Karena mereka lebih progresif dan bergerak maju," kata KH Agus Ali Masyhuri, Selasa (5/12) petang.

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Gus Ali ditemui media ini usai mengikuti rapat harian PWNU Jatim di lantai dua Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya.

"Maaf, kita harus jujur dengan sumber daya manusia sendiri. Banyak kader kita yang memiliki potensi, tetapi tidak didukung dengan kemampuan lain," kata Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Apa faktornya sehingga banyak tenaga potensial yang dimiliki kalangan pesantren dan NU ternyata tidak muncul di ranah publik? "Mungkin karena tidak ada yang bisa menyalurkan, atau memang tidak memiliki keinginan untuk maju," urainya.

Wakil Rais PWNU Jatim ini juga menduga karena sang kiai atau ustadz telah merasa puas dengan yang dicapai saat ini. Mereka merasa puas di kampungnya, dengan keadaannya saat ini. "Padahal mereka keliru dalam menerjemahkan qanaah," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai solusi, Gus Ali mengajak kalangan pesantren dan warga NU untuk berdakwah di media, termasuk di dalamnya media sosial. "Padahal barangsiapa yang menguasai media, maka memiliki separuh kemenangan dalam pembentukan opini publik. Jadi opini di masyarakat itu bisa dibentuk," terangnya.

Berlimpahnya sumber daya manusia khususnya yang memiliki komptenesi dalam menyeru agama di kalangan nahdliyin hendaknya dapat dioptimalkan. "Bahwa SDM yang kita miliki sebenarnya cukup dan memadai untuk melakukan hal yang lebih baik dari mereka," ujarnya.

Ia mengajak semua pihak berbenah diri dan melakukan konsolidasi secara terukur dan terarah. Jangan sampai para kader pendakwah gagap teknologi atau gaptek, tidak mengerti aplikasi, juga media sosial, "Karenanya, hendaklah ada di antara kita yang berdakwah di sejumlah media," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Makam, Internasional, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar kegiatan tahlilan untuk para kiai dan santri yang menjadi korban serangkaian pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa tahun silam.

Kegiatan akan diselenggarakan di aula lantai 8 kantor PBNU, jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Senin (1/10) pukul 18.30 WIB dan akan dipimpin oleh sejumlah kiai.

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Gelar Tahlilan untuk Kiai-Santri Korban G30S PKI

Selain tahlilan, PBNU juga akan mengeluarkan pernyataan sikap terkait peristiwa G30S PKI dan beberapa pemberontakan yang dilakukan PKI sebelumnya. Sejumlah peneliti dan pelaku sejarah juga akan memberikan testimoni mereka dalam forum ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu ? diwartakan, Ahad 30 Septermber 2012 tadi malam, ribuan orang menghadiri kegiatan tahlil akbar untuk arwah korban keganasan OKI di Monumen Bendo Magetan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Di situ pada 1948, sebanyak 108 tokoh dibunuh secara kejam oleh PKI dan dimasukkan ke dalam satu sumur,” kata Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, Ahlussunnah, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Belajar Romantisme dari Gus Dur

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Banyak orang menilai, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai sosok yang memiliki intelektualitas luar biasa, meskipun terkadang kontroversial. Namun dibalik itu semua, Presiden RI keempat ini ternyata seorang pribadi yang romantis sejak muda sampai akhir hidupnya.?

Belajar Romantisme dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Romantisme dari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Romantisme dari Gus Dur

Hal itu mengemuka dalam diskusi dan bedah buku "Peci Miring, novel biografi Gus Dur" yang diadakan oleh GP Ansor Gebog, Ahad (18/12) lalu di Aula MA NU Nurussalam, Gebog, Kudus, Jawa Tengah.

Hadir sebagai narasumber penulis buku "Peci Miring" Aguk Irawan, Mantan Pengurus PCINU Turki Ahmad Faiz, dan Ketua Lakpesdam PCNU Kudus, H Asyrofi Masyitoh. Mereka membincang Gus Dur dari berbagai aspek yang dimoderatori oleh Jurnalis NU Kudus dan staf Humas Universitas Muria Kudus, Rosidi.

Menjadi pembicara pertama, Aguk memaparkan kenangannya dalam menulis novel biografi miliknya itu. Ia menemukan Gus Dur merupakan pribadi yang romantis. Di balik kehidupan cucu pendiri NU yang serba sibuk itu, sosok Gus Dur selama hidupnya seringkali mengirimkan surat cinta kepada istrinya Sinta Nuriyah Wahid. Bahkan sebelum menikah Gus Dur juga lebih suka mengirim buku dan bunga kepada Ibu Sinta.

"Saya bahkan tidak menyangka kiai kita begitu romantis. Cara pendekatannya itu sama sekali tidak terpikirkan oleh kebanyakan pemuda, termasuk saya," papar Aguk.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain itu, lanjut Aguk, Gus Dur merupakan pribadi yang sangat bertanggung jawab dan amat memuliakan wanita. Hampir semua pekerjaan rumah, mulai dari masak, bersih-bersih dan mencari nafkah dikerjakan oleh Gus Dur.?

Disamping memang karena salah satu hobi Gus Dur adalah memasak. Ketika ditanya alasan mengapa Gus Dur mau melakukan itu semua ialah karena tugas seorang ibu untuk membesarkan anak itu sudah sangat berat. "Betapa itu juga teladan bagus bagi para laki-laki, suami dan kita semua," paparnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam paparannya Aguk juga menyampaikan alasan dan tips dirinya bisa menulis banyak buku novel biografi. Ia mengklaim bahwa kemampuan itu sesungguhnya lahir sebab dorongan kekaguman yang memuncak. Dari rasa kagum itulah akhirnya Aguk bisa menulis halaman demi halaman dalam waktu yang singkat. Meski begitu ia mengakui bahwa tulisan itu tetap lahir karena riset yang panjang.

Sementara itu, Asyrofi menyampaikan pengalamannya kala bersua dan silaturrahim dengan Gus Dur. Menurutnya selain pribadi yang intelektualis dan romantis sebagaimana dipaparkan Aguk, Gus Dur merupakan tokoh yang dicintai banyak sekali orang. Hal itu kemudian banyak penulis yang mengangkat sisi kehidupannya ke dalam sebuah buku.

"Karena cintanya kepada Gus Dur banyak orang yang kemudian menulis sesuatu tentangnya. Maka tak heran jika kita temui banyak sekali karya tulis tentang Gus Dur. Memang luar biasa," tuturnya.

Asyrofi menuturkan rasa cinta dan kagum itu dilatarbelakangi sebab pribadi Gus Dur yang memang ramah dengan semua orang dan golongan. Sikap dan nilai yang beliau usung merupakan sikap yang amat memanusiakan manusia. Dan, yang paling berkesan dari Gus Dur yaitu selera humornya yang tinggi.

Selanjutnya, secara santai Ahmad Faiz menyampaikan kekagumannya kepada Gus Dur terutama dalam merangkul manusia-manusia di seluruh Dunia. Hal itu dikemukakan mengingat Gus Dur juga pernah aktif dalam Persatuan Pelajar Indonesia Timur Tengah.

Kegiatan bedah buku yang rangkaian acara peringatan Haul ke-7 Gus Dur yang diadakan GP Ansor, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU Gebog Kudus ini berlangsung meriah dengan selingan humor-humor dan kisah hidup tentang Gus Dur yang asyik untuk disimak.?

Pada waktu yang sama pula sejumlah siswa mewakili pelajar se-Kabupaten Kudus untuk lomba menulis surat untuk Gus Dur. Satu seminggu sebelumnya diadakan lomba mewarnai dan menggambar wajah Gus Dur dengan peserta anak-anak TK, PAUD dan siswa siswi MI/SD se Kudus. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Mentradisikan Teknologi

Judul Buku: Teknologi Sebagai Tradisi; Refleksi Pengalaman 4 Tahun Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengantar: KH Hasyim Muzadi

Penulis: Abdul Mun’im DZ

Penerbit: Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Jakarta

Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentradisikan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentradisikan Teknologi

Cetakan: I, Agustus 2007

Tebal: 56 Halaman

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peresensi: Ach Syaiful A’la*


Nahdlatul Ulama—biasa disingkat NU—artinya adalah ”Kebangkitan Ulama”. Sebuah organisasi keagamaan kemasyarakatan (jamiyah diniyah ijtimaiyah) yang didirikan para ulama, 31 Januari 1926 M/16 Rajab H di Surabaya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Latar belakang berdirinya, berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran kaum modernitas Islam atas situasi politik dunia Islam. Berawal dari pemikiran Syeikh Muhammad Abduh di Mesir, dan gerakan Wahabi yang dipelopori Abdul Wahab di Arab Saudi, dengan tujuan untuk memurnikan ajaran Islam.

Gerakan ini ingin memacu perkembangan Islam menghadapi perubahan zaman, dengan tetap berdasarkan Al-Quran dan Hadits (konservatif) yang tidak menghendaki ajaran bermazhab. Sementara, kalangan pesantren dan ulama salaf Indonesia, yang tetap berpegang pada ajaran bermadzhab dalam menjalankan syariat Islam, membentuk sebuah komite yang dipimpin KH Wahab Chasbullah atas restu KH Hasyim Asyari.

Komite kemudian mengalih perhatian ke kongres Islam yang diprakarsai Ibnu Suud, penguasa Hijaz baru di Arab. Gagasan Ibnu Suud akan menghapus tradisi keagamaan dan ajaran bermadzhab, tawasul, ziarah kubur, Maulid Nabi, dibicarakan dalam dua kongres umat Islam berturut-turut. Di Yogyakarta tahun 1925 dan di Bandung tahun 1926. Walaupun kongres Bandung sebenarnya hanya mengesahkan kesepakatan sebelumnya, karena nama, KH Abdul Wahab Chasbullah (delegasi pesantren) dicoret di konferensi khilafah umat Islam se-dunia, dengan alasan bukan organisasi. Peristiwa itu menyadarkan ulama pengasuh pesantren, betapa pentingnya sebuah organisasi. Akhirnya, para ulama pesantren sangat tidak bisa menerima kebijakan Ibnu Suud. Bahkan santer terdengar berita, rencana akan menggusur makam Nabi Muhammad Saw. Maka melalui proses panjang lahirlah “NU”.

Perkembangan NU ternyata semakin pesat. Mungkin di luar dugaan para pendirinya. Kebesaran ini tak lepas dari adanya kreatifitas para aktor sebagai pengendali dan uswah bagi umatnya. Dan sistem manajemen kepengurusan NU secara struktural sangat jelas, mulai tugas, fungsi, wewenang, kebijakan dari tingkat pusat hingga ranting.

NU, sebagai jamiyah diniyah ijtimaiyah, sangat menghargai nilai-nilai tradisi dan budaya. Karena kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan tradisi dan budaya. Salah satu karakter budaya adalah berubahan yang terus menerus, hal ini diciptakan oleh manusia. Maka, budaya bersifat beragam sebagaimana keberagaman manusia. Menghadapi hal semacam itu, NU mengacu pada salah satu kaidah fiqh “al-muhafazhah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidil al-ashlah” (mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik).

Di tengah arus informasi dan komunikasi yang tak lagi terbendung, ternyata internet menjadi sebuah sarana alternatif yang harus digalakkkan. Maka apresiasi terhadap teknologi terasa perlu dilakukan karena pengetahuan warga “Nahdliyin” masih terbatas tentang teknologi. Dengan harapkan akan memunculkan masyarakat terpelajar dan melek informasi. Masyarakat tidak hanya tahu informasi keagamaan dari para mubalig, tetapi juga bisa banyak mengakses informasi mengenai perkembangan politik, ekonomi, sosial serta gerak lajunya kebudayaan.

Membuka mata dengan informasi nantinya akan menjadi manusia yang kritis dan mandiri. Orang yang kritis dan mandiri bisa mengambil keputusan atau sikap atas dasar keyakinan dan pertimbangan menurut rasionalnya sendiri. Juga menambah wawasan para kiai, pengasuh pesantren, dan santri agar pemikiran mereka relevan bagi perkembangan zaman, shalih fi kulli zaman wa makan. Oleh karena itu, dirasa perlu “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” lahir untuk masyarakat NU.

Kenapa harus ada “Kedung Sukun Adiwerna Tegal”? Padahal sudah banyak media NU lainnya yang menfokuskan berbagai kajian tentang NU dan Ahlussunnah Wal Jamaah, Aswaja. Di antaranya: Bintang Sembilan (Sumatera Barat), Aula dan Duta Masyarakat (Jawa Timur), Khittah (Sulawisi Selatan), Forum Warga (Jawa Tengah) dan beberapa media lainnya tingkat cabang.

Setelah membuka website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” pembaca akan menemukan jawabannya. Melalui proses panjang, yang pada tanggal 11 Juli 2003 secara resmi “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” diluncurkan di hall Hotel Borobudur, Jakarta. Bahkan tahun 2004-2005 website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” mendapat penghargaan situs terbaik kategori “Sosial & Kemasyarakatan”. Ini menandakan bahwa NU tidak hanya berjuang dalam bentuk tindakan nyata di masyarakat. Tapi juga NU memberikan pencerahan-pencerahan dalam dunia maya.

Terlepas adanya beberapa kelemahan website itu, adalah hal yang tetap patut disyukuri. Karena dengan adanya media seperti ini, berarti NU telah memperkenalkan ajarannya, yaitu, Islam Indonesia yang moderat, rahmatan lil alamin. Karena kini, NU telah go international dikenal kurang lebih 21 negara belahan dunia.

Buku ini, tidak bermaksud dijadikan sebagai rujukan (reference) bacaan yang mempunyai dasar pemikiran, rumusan masalah, metode, dan lain-lain. Tapi hanya sebatas memperkenalkan kepada warga “Nahdliyin” khususnya, pembaca pada umumnya tentang adanya website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal”.

Website ini menyediakan berbagai “menu”? all about NU: sejarah berdirinya, tokoh, forum diskusi, beberapa istilah organisasi, dan lain-lain. Menariknya lagi, di website “Kedung Sukun Adiwerna Tegal” tersedia dalam tiga bahasa. Pembaca bisa ber-cas-cis-cus dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris sesuai dengan selera. Selanjutnya, selamat berkunjung di website: http://www.nu.or.id.



*Kader muda Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Aktif di Lesehan Komunitas Baca Surabaya (Kombas).
Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah

Probolinggo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Setelah terpilih sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo masa bakti 2017-2019, Evi Kumalasari bertekad akan memaksimalkan peran pimpinan komisariat (PK) di semua lembaga MTs dan MA di Kota Probolinggo.

“Hal ini merupakan salah satu program yang ingin saya jalankan dengan tujuan ingin membuat PAC IPPNU Wonoasih semakin baik ke depannya, khususnya dalam kaderisasi di organisasi,” kata Ketua IPPNU Wonoasih Evi Kumalasari, Senin (23/1).

Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru IPPNU Wonoasih Tertantang Genapkan Komisariat di 11 Sekolah

Menurutnya, saat ini di Kecamatan Wonoasih terdapat sebelas lembaga MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah). “Alhamdulillah, sudah terbentuk PK IPPNU di delapan lembaga MTs dan MA. Ke depan kami berupaya agar semua lembaga ada PK IPPNU-nya,” jelasnya.

Setelah semua sekolah di bawah naungan LP Ma’arif terbentuk PK IPPNU, jelas Evi. Ia akan mencoba membentuk komisariat di sekolah negeri dan menjalin kemitraan dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Sehingga dalam setiap kegiatan sekolah, OSIS dan IPPNU bisa saling bersinergi dengan baik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Tugas ini memang sangatlah berat, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita masih belum mencoba dan belum berusaha. Tapi untuk sementara kita fokus dulu kepada sekolah di bawah naungan LP Ma’arif,” tegasnya.

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Wonoasih Kecamatan Wonoasih ini mengaku demi mewujudkan program itu dirinya telah menjalin komunikasi yang intens dengan beberapa sekolah.

“Saat ini masih proses ke arah sana. Target kami setidaknya tahun ini minimal ada dua lembaga sekolah MTs dan MA. Syukur-syukur kalau bisa tiga sehingga lengkap sebelas lembaga MTs dan MA ada PK IPPNU-nya,” tambahnya.

Ia menambahkan, keberadaan PK IPPNU di lembaga sekolah ini sangat bermanfaat dalam upaya melakukan kaderisasi organisasi. Karena selama ini pihaknya mengaku kesulitan mendapatkan kader tatkala kader yang ada ditarik ke cabang.

“Mudah-mudahan keberadaan komisariat IPPNU ini bisa membantu keberlangsungan organisasi di masa yang akan datang,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock