Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dunia masa kini yang dipenuhi dengan tuntutan kesempurnaan dan persaingan sengit diantara berbagai fihak telah menimbulkan tekanan-tekanan mental bagi sebagian anggota masyarakat. Sentuhan rohani yang diberikan oleh tasawwuf ternyata mampu memberi keseimbangan jiwa dan ketenangan batin.



Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Demikian dikatakan oleh Khatib Aam PBNU KH Nasaruddin Umar dalam pembukaan Munas Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (28/6).

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Departemen Agama ini menuturkan, tantangan-tantangan baru yang dihadapi masyarakat seringkali melampaui kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hal ini bukan hanya dialami oleh kelompok masyarakat bawah, tetapi juga kelompok atas.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mencontohkan munculnya persaingan dalam dunia politik seperti dalam perebutan jabatan melalui Pilkada serta upaya untuk tetap bisa bertahan dalam kesulitan ekonomi yang terus menekan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Disinilah peran penting institusi tarekat, untuk menuangkan aspek batiniah agama dan pedalaman makna agama serta mencegah adanya praktek tidak terpuji yang keluar dari koridor akhlak Islam,” tuturnya.

Munas ini diikuti oleh sekitar 500 orang dari berbagai jamaah tarekat yang tergabung dalam Jatman. Munas merupakan forum tertinggi setelah muktamar yang bertujuan untuk mengevaluasi berbagai program yang sudah dirancang sebelumnya.

Suasana penuh ketenganan dan keteduhan hati sangat tampak dalam forum ini. Para peserta yang sebagian besar memakai baju koko warna putih, dengan tekun mengikuti rangkaian acara. Mereka adalah para kiai dan guru tarekat yang memiliki ribuan jamaah di daerahnya masing-masing.

Zikir-zikir panjang dan istighotsah selalu menjadi bagian rutin dalam sholat berjamaah yang diselenggarakan di masjid asrama haji.

Sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Nasaruddin Umar, salah seorang guru tarekat dari Jawa Timur yang ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal menuturkan, tarekat saat ini semakin diterima oleh masyarakat. Jika dulu hanya komunitas santri saja yang akrab dengan tarekat, kini para birokrat, pengusaha, intelektual, termasuk dari kalangan militer secara intens mendalami tarekat. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Kajian Islam, Budaya Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial

Jakarta,Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Para Gusdurian mengadakan tahlilan 40 hari wafatnya Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh, Jumat (7/3) malam. Acara yang diniatkan meneladani Rais Aam tiga periode ini dilaksanakan di aula lantai 8 gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 64 Jakarta Pusat.

Para anak muda dari berbagai organisasi tumplek blek memenuhi aula lantai 8 hingga meluber keluar. Acara yang diinisiasi Jaringan Gusdurian ini dimulai dengan tahlil yang dipimpin Abdul Moqsith Ghozali.

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial

Para hadirin tampak khidmat mengikuti tahlil yang di-ruusi dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut. Acara kemudian dilanjutkan diskusi “Fiqih Sosial” yang dimoderatori Ulil Abshar Hadrawi. Diskusi yang dinamakan Forum Jumat Pertama Gusdurian ini menghadirkan dua narasumber, yakni KH Husein Muhammad dan Dr Saiful Umam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam pemaparannya, Kiai Husein menjelaskan bahwa Mbah Sahal merupakan sosok yang resah terhadap stagnasi Fiqih. Oleh karenanya, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini mencoba melakukan kontekstualisasi Fiqih. “Kiai Sahal menempatkan Fiqih sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum negara,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Sahal, lanjut kakak kandung Dr Ahsin Sakho Muhammad ini, memiliki genuinitas fiqih. Dalam Bahtsul Masail, misalnya, ketika menukil ta’bir atau istinbath (penggalian) hukum dari kitab-kitab kuning tidak serta-merta menolak pendapat yang diambil dari ulama semisal Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

“Selama ini kan pendapat dua tokoh tersebut selalu ditolak. Namun, Kiai Sahal berpendapat lain. Beliau meminta untuk tidak menggeneralisir semua pendapat kedua tokoh itu layak ditolak. Bisa jadi, pendapat mereka berdua dapat dijadikan pembanding atau memiliki sudut pandang lain,” terangnya.

Kiai yang aktif di Yayasan Puan Amal Hayati ini menambahkan, Kiai Sahal jelas berpikir tepat sekali lantaran mengamalkan pepatah Arab: “Undzur maa qaala, wa laa tandzur man qaala.” (Perhatikan apa yang dikatakan, jangan siapa yang bicara).

Menurut Koordinator Seknas Gusdurian Indonesia Alissa Wahid, acara ini merupakan pertemuan bulanan pekan pertama civitas Gusdurian. “Diskusi bulanan tadi sebetulnya baru pemanasan. Jadi, mestinya ditindaklanjuti pada pertemuan berikutnya,” ujarnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Banyaknya persoalan yang mendera bangsa Indonesia mulai dari korupsi, suap, asusila, kekerasan rumah tangga, dan segudang persoalan lainnya, menuntut warga Indonesia yang mayoritas beragama untuk mengintrospeksi diri. Mereka perlu mempertanyakan kembali sejauh mana makna keberagamaan itu sendiri.

Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani ketika ditanya Kedung Sukun Adiwerna Tegal perihal semangat harlah 91 tahun NU, Senin (19/5) malam.

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Kiai Malik menilai perhatian umat beragama terfokus pada kesalehan ritual. “Umat beragama di Indonesia tampak hanya mengejar peribadatan formal. Mereka sudah merasa cukup beragama hanya dengan melakukan rutinitas ibadah formal.”

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Padahal, tujuan puncak dari agama ialah kesalehan moral baik secara individu maupun sosial. Tujuan pengutusan Nabi Muhammad Saw dimaksudkan untuk membenahi moral masyarakat yang bobrok.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Selain ‘makarimal akhlaq’, riwayat Ahmad menyatakan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan shalihal akhlaq, kesalehan moral. Karena ritual itu wasilah, bukan tujuan,” terang Kiai Malik.

Kalau pengamalan beragama berhenti pada kesalehan ritual, maka tidak heran banyak orang yang tampak rajin ibadah tetapi terjerumus dalam kejahatan sosial seperti korupsi atau melakukan praktik suap.

Mereka yang tidak pernah absen dalam ibadah formal, justru di lain pihak melakukan kejahatan-kejahatan, penipuan, dan kekerasan, kata Kiai Malik memberi contoh. Ia mengajak segenap warga Indonesia yang terkenal sebagai umat beragama untuk menyoal keberagamaannya.

“Introspeksi ini bukan hanya ditujukan kepada para politikus dan pengusaha, tetapi juga masyarakat secara umum,” tandas Kiai Malik. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo menegaskan bahwa pencegahan dan penanggulangan terorisme tidak hanya dilakukan oleh aparat TNI, Polri, dan masyarakat, tetapi juga media dan para jurnalis melalui tulisan dan peliputannya.

Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme

Demikian disampaikan oleh pria yang akrab disapa Stanley ini dalam kegiatan bertajuk Diseminasi Pedoman Peliputan dan Peningkatan Profesionalisme Media Masa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta dan BNPT, Kamis (7/4) di Gedung Hall of Blessing ITC Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

“Sebab itu, wartawan harus mengacu pada pedoman yang telah dikeluarkan oleh Dewan Pers dalam meliput kasus-kasus terorisme,” ujar Stanley kepada sekitar 180 wartawan dari media online, cetak, dan televisi yang hadir di acara tersebut.?

Berikut adalah pedoman peliputan terorisme yang diterbitkan oleh Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015 tentang Pedoman Peliputan Terorisme:

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

1. Wartawan selalu menempatkan keselamatan jiwa sebagai prioritas di atas kepentingan berita. Saat meliput sebuah peristiwa terkait aksi terorisme yang dapat mengancam jiwa dan raga, wartawan harus membekali diri dengan peralatan untuk melindungi jiwanya.

2. Wartawan selalu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan jurnalistik. Wartawan yang mengetahui dan menduga sebuah rencana tindak terorisme wajib melaporkan kepada aparat dan tidak bolehmenyembunyikan informasi itu dengan alasan untuk mendapatkan liputan eksklusif. ? Wartawan bekerja untuk kepentingan publik sehingga keselamatan nyawa warga masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan berita.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

3. Wartawan harus menghindari pemberitaan yang berpotensi mempromosikan dan memberikan legitimasi maupun glorifikasi terhadap tindakan terorisme maupun pelaku terorisme. Terorisme adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) terhadap kemanusiaan.

4. Wartawan dan media penyiaran dalam membuat siaran langsung (live) tidak melaporkan secara terinci/ detail peristiwa pengepungan dan upaya aparat dalam melumpuhkan para tersangka terorisme. Siaran secara langsung dapat memberikan informasi kepada para terduga teroris mengenai posisi dan lokasi aparat keamanan secara real time dan hal ini bisa membahayakan keselamatan anggota aparat yang sedang berupaya melumpuhkan para teroris.

5. Wartawan dalam menulis atau menyiarkan berita terorisme harus berhati-hati agar tidak memberikan atribusi, gambaran, atau stigma yang tidak relevan, misalnya dengan menyebut agama yang dianut atau kelompok etnis si pelaku. Kejahatan terorime adalah kejahatan individu atau kelompok yang tidak terkait dengan agama ataupun etnis.

6. Wartawan harus selalu menyebutkan kata ”terduga” terhadap orang yang ditangkap oleh aparat keamanan karena tidak semua orang yang ditangkap oleh aparat secara otomatis adalah pelaku tindak terorisme. Untuk menjunjung asas praduga tidak bersalah (presumption of innocense) dan menghindari pengadilan oleh pers (trial by the press) wartawan perlu mempertimbangkan penggunaan istilah “terperiksa” untuk mereka yang sedang diselidiki atau disidik oleh polisi, “terdakwa” untuk mereka yang sedang diadili, dan istilah “terpidana” untuk orang yang perkaranya telah diputus oleh pengadilan.

7. Wartawan wajib menghindari mengungkap rincian modus operandi tindak pidana terorisme seperti cara merakit bom, komposisi bahan bom, atau teknik memilih sasaran dan lokasi yang dapat memberi inspirasi dan memberi pengetahuan bagi para pelaku baru tindak terorisme.

8. Wartawan tidak menyiarkan foto atau adegan korban terorisme yang berpotensi menimbulkan kengerian dan pengalaman traumatik. Pemuatan foto atau adegan hanya diperbolehkan bila bertujuan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan bahwa terorisme selalu menyasar sasaran umum dan menelan korban jiwa.

9. Wartawan wajib menghindari peliputan keluarga terduga teroris untuk mencegah diskriminasi dan pengucilan oleh masyarakat, kecuali dimaksudkan untuk menghentikan tindakan diskriminasi yang ada dan mendorong agar ada perhatian khusus misalnya terhadap penelantaran anak-anak terduga teroris yang bila dibiarkan akan berpotensi tumbuh menjadi teroris baru.

10. Terkait dengan kasus-kasus yang dapat menimbulkan rasa duka dan kejutan yang menimpa seseorang, pertanyaan dan pendekatan yang dilakukan untuk merekonstruksi kejadian dengan menemui korban keluarga korban maupun keluarga pelaku harus dilakukan secara simpatik dan bijak.

11. Wartawan dalam memilih pengamat sebagai narasumber wajib selalu memperhatikan kredibilitas, kapabilitas dan kompetensi terkait latar belakang, pengetahuan, dan pengalaman narasumber yang relevan dengan halhal yang akan memperjelas dan memberikan gambaran yang utuh terhadap fakta yang diberitakan.

12. Dalam hal wartawan menerima undangan meliput sebuah tindakan aksi terorisme, wartawan perlu memikirkan ulang untuk melakukannya. Kalau undangan terkait dengan rencana aksi pengeboman atau aksi bom bunuh diri sebaiknya wartawan tak perlu memenuhinya, karena hal itu dapat dipandang sebagai cara memperkuat pesan teroris dan mengindikasikan ada kerja sama dalam sebuah tindakan kejahatan. Wartawan menyampaikan rencana tindak/aksi terorisme kepada aparat hukum.

13. Wartawan wajib selalu melakukan check dan rechek terhadap semua berita tentang rencana maupun tindakan dan aksi terorisme ataupun penanganan aparat hukum terhadap jaringan terorisme untuk mengetahui apakah berita yang ada hanya sebuah isu atau hanya sebuah balon isu (hoax) yang sengaja dibuat untuk menciptakan kecemasan dan kepanikan. Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Peliputan terorisme ini diselesaikan oleh Dewan Pers.

Hadir juga sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, yaitu Direktur Deradikalisasi BNPT Brigjen Pol Hamidin, mantan panglima Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas, jurnalis Tempo Sunu, dan Fahruddin sebagai moderator. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kyai, Syariah, Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama

Tasikmalaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pelantikan Pimpinan Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (29/6) kemarin diisi dengan Deklarasi Kebangsaan. Pagar Nusa akan menindak tegas segala bentuk rongrongan dan kekerasan atas nama agama.

“Jika kita menemukan kekerasan atas nama agama di Kabupaten Tasikmalaya seperti beberapa hari yang lalu, kita langsung akan bertindak tanpa melakukan koordinasi dulu dengan aparat,” kata Ajengan Mimih Haeruman, yang berkesempatan memimpin deklarasi yang diikuti oleh Banom-banom NU, OKP-OKP dan partai politik se Kabupaten Tasikmalaya ini. 

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama

Hal ini dilakukan, sambung pimpinan Padepokan Santri Manuk Heulang ini, karena dia menilai selama ini aparat dan pemerintahan di Kabupaten Tasikmalaya selalu kurang responsif terhadap aksi-aksi mereka yang selalu mengatasnamakan agama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Naskah Deklarasi Kebangsaa ini berbunyi: Kami Anak Bangsa Indonesia Menyatakan: 1. Mengajak seluruh komponen bangsa untuk memperkuat persatuan dan kesatuan demi kokohnya NKRI dalam bingkai Kebhineka Tunggal Ika-an. 2. Menolak dan melawan segala bentuk radikalisme yang mengatasnamakan suku bangsa, agama dan golongan. 

Deklarasi ini ditandatangani , Ketua PC PS NU Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Ketua PC NU Kabupaten Tasikmalaya, Asda II Kabupaten Tasikmalaya mewakili Bupati yang berhalangan hadir, Kapolres Tasikmalaya, perwakilan Dandin 0612 Tasikmalaya, Kemenag Kabupaten Tasikmalaya, seluruh Banom NU Kabupaten Tasikmalaya, DPD JAI Kabupaten Tasikmalaya serta PD IJABI Tasikmalaya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari partai politik perwakilan dari DPC Partai Kebangkitan Bangsa, DPD Partai Gerindra dan DPD Partai Demokrat. Sementara dari unsur OKP, turut membubuhkan tandangannya antara lain, Banser, Gibas, KMRT, Pemuda JAI dan lain-lain. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Asep Sufian Sya’roni

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal PonPes, Meme Islam, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali menyebutkan sedikitnya tiga hal  yang menjad alasan mengapa NU layak dipromosikan ke tingkat dunia melalui muktamar ke-33 NU di Jombang yang mengangkat tema besar “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia

Pertama, menurut As’ad, secara politik NU telah menyelesaikan konsep kenegaraan di tengah penduduk yang mayoritas Muslim namun terdiri dari banyak agama, suku, dan adat istiadat, serta tinggal di banyak pulau. Pada Muktamar di Banjarmasin Kalimantan Selatan pada 1936,  beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka, NU telah merumuskan konsep negara Islam yang khas dengan menggabungkan antara Islam dan nasionalisme, yang sering dikenal dengan istilah darus salam.

“Di beberapa negara Islam atau yang mayoritas penduduknya Muslim, persoalan Islam dan nasionalisme ini belum selesai sampai sekarang,” katanya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Jakarta, Selasa (8/7).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada satu sisi, menurut As’ad, mereka menyatakan Islam, tapi kesukuan mereka sangat kuat. Negara-negara yang ada dikuasai oleh satu suku tertentu. Fanatisme terhadap kelompok atau aliran juga sangat kuat dan selalu menimbulkan konflik berdarah yang berkepanjangan dan turun-menurun.

Kedua, NU layak dipromosikan ke tingkat dunia karena prinsip sosial dan kemasyarakatannya sudah mapan dan bisa menjadi model. Melalui organisasi atau jam’iyah NU, para ulama dan umat berkumpul untuk membahas dan menyelesaikan masalah bersama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Secara sosial, ormas NU bisa jadi model. Konsep keumatan kita sudah aplikatif. Di Mesir, misalnya, ada organisasi ulama saja, umatnya tidak ikut. Kita melalui NU ini, para ulama dan jamaah tidak terputus,” katanya.

Salah satu peran ormas yang paling penting adalah ketika terjadi benturan atau konflik kepentingan antar masyarakat, atau antara masyarakat dengan negara. NU bisa mengambil peran sehingga segala sesuatu tidak harus diselesaikan melalui pendekatan politik, atau bahkan militer.

“Di negara-negara Timur Tengah, ormas semacam NU ini tidak ada sehingga tidak ada yang menjadi penengah. Dan yang lebih penting lagi, ormas model NU ini bisa diterima oleh non muslim,” kata As’ad yang belasan tahun bertugas di Timur Tengah ini.

Ketiga, menurutnya, NU layak dipromosikan ke dunia karena kesiapannya untuk menerima berbagai perbedaan pendapat. NU mengakui empat madzab di bidang fiqih, dan mengizinkan umat mengikuti salah satu dari empat madzab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

“Di Saudi hanya memakai madzab Hambali. Di Irak dulu ada namanya Madrasah Mustansiriyah. Madrasah ini menyiapkan tempat beda-beda tempat untuk madzab-madzab. Kalau kita ini berbeda-beda mazhab di satu tempat dan saling menghargai,” katanya.

Kesiapan NU untuk menerima perbedaan pendapat itu, menurut As’ad, itulah kunci kekuatan NU bisa menjadi penengah dan penyeimbang di tengah masyarakat yang berbeda-beda. “NU bisa jadi pemersatu semua,” ujarnya.

Terkait penerimaan oleh dunia Muslim, menurut As’ad, NU patut berbangga karena para ulama dan cendekiawan muslim dari beberapa provinsi di Afganistan telah mempelajari NU mendirikan Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA) yang secara keorganisasian persis dengan NU yang ada di Indonesia. “Muslim India juga akan mendirikan NU,” tambahnya. (A. Khoirul Anam)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ubudiyah, Meme Islam, Pahlawan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK

Bogor, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mendirikan PAUD/TK NU Al-Asy’ari 01 untuk masyarakat di Desa Cimande, Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Peluncuran lembaga pendidikan tersebut berlangsung, Ahad (21/8), di desa setempat. Pendirian PAUD/TK NU ini diprakarsai oleh mahasiswa STAINU Jakarta yang menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cimande.

Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK

Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam STAINU Jakarta Dede Setiawan menekankan, mahasiswa peserta KKN harus mampu melahirkan karya nyata di tengah-tengah masyarakat yang menjadi mitra KKN. “Saya apresiasi lahirnya lembaga pendidikan ini,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sekretaris PCNU Kabupaten Bogor Kiai Abbas Ma’ruf juga menyampaikan, kehadiran mahasiswa KKN di Desa Cimande sangat penting artinya dalam memperkuat peran Nahdlatul Ulama bagi masyarakat Desa Cimande. “Bahkan saya berharap, melalui pendirian PAUD/TKNU ini, bisa kita jadikan pintu masuk untuk mendirikan lembaga pendidikan formal tingkat dasar dan menengah atas nama NU di Desa Cimande ke depannya,” pesan Kiai Abbas.

Bayangkan saja, lanjut Kiai Abbas, seluruh masyarakat Cimande ini amaliahnya Nahdlatul Ulama. Tapi sampai sejauh ini belum ada MI/SD, MTs/SMP, atau SMA/MA/SMK bernama Nahdlatul Ulama. “Sekali lagi, atas peran adik-adik mahasiswa, kami menjadi sadar bahwa pendirian pendidikan formal tingkat dasar dan menengah di Cimande sangat mungkin diwujudkan,” pungkas Kiai Abbas.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Muslimat Kabupaten Bogor yang bertanggung jawab dalam pembinaan lembaga PAUD/TK Nahdlatul Ulama di wilayah Kabupaten Bogor juga memuji karya mahasiswa KKN ini sebagai wujud konkret kepedulian mereka terhadap pendidikan anak sejak dini.

“Saya berharap, pendirian lembaga PAUD/TKNU Al-Asy’ari 01 ini akan menjadi amal jariyah dan wasilah bagi mahasiswa dan masyarakat Cimande nanti di akhirat,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat STAINU Jakarta Fatkhu Yasik menilai, pendirian lembaga pendidikan tingkat PAUD/TK merupakan langkah strategis dan cerdas dari mahasiswa peserta KKN. “Mahasiswa melihat lembaga PAUD/TK memiliki peran fundamental dalam pembangunan karakter generasi bangsa yang akan datang,” ujarnya.

Prosesi peluncuran PAUD/TK NU ini dihadiri oleh beberapa komponen Nahdlatul Ulama di Kabupaten Bogor, di antaranya pengurus Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU), pengurus Lembaga Amil Zakat Nahdlatul Ulama (LAZISNU), dan Muslimat NU. Di samping juga aparat desa dan tokoh masyarakat Cimande. Ketua MUI Caringin KH Abdul Latif beserta jajarannya juga turut serta menyaksikan lembaga pendidikan yang didirikan oleh mahasiswa STAINU Jakarta tersebut. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Meme Islam, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Jika saat ini, pemikiran para kiai dan ulama di lingkungan nahdliyyin didominasi oleh Mazhab Syafii, dalam 10-15 tahun ke depan, akan terjadi pluralisme pemikiran mazhab akibat banyaknya anak muda yang belajar di berbagai negara yang menganut mazhab non Syafii.

Demikian diungkapkan oleh Waki Rais Aam PBNU KH Tolhah Hasan dalam silaturrahmi PBNU yang diikuti oleh jajaran mustasyar, syuriyah, tanfidziyah dan ulama para kiai pesantren, Selasa (31/7).

NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab (Sumber Gambar : Nu Online)
NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab (Sumber Gambar : Nu Online)

NU akan Hadapi Pluralisme Mazhab

“Saya memperkirakan tidak lebih dari 15 tahun mendatang, syuriyah kita ada yang mengikuti mazhab Maliki atau Hanafi, ini kalau tidak kita fikirkan sekarang, akan ada benturan diantara kita sendiri,” jelasnya.

Dikatakan oleh Mantan Menteri Agama ini bahwa saat ini lebih dari 1000 anak-anak muda NU belajar di Marokko, Syiria Aljazair, Libya, dan Turki dengan pemeluk agama Islam yang mengikuti Mazhab Maliki dan Hanafi. Menurut AD/ART NU, terdapat empat mazhab yang mungkin diikuti oleh nahdliyyin meliputi Mazhab Syafii, Maliki, Hanafi, dan Hambali.

Saat ini kitab Malikyah, Hanafiyah juga sudah banyak beredar di Indonesia seperti Azzuhaili, Assyobuni, Ramadhan al Buthi, dan lainnya. “NU muda atau kiai muda saat ini yang dibaca sudah fikih perbandingan, kita belum membuat semacam satu aturan bagaimana yang dinamakan tanadzud didalam NU,” katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mantan Rektor Universitas Islam Malang ini juga menjelaskan para fuqoha atau ahli fikih yang kompeten di tingkat internasional saat ini meskipun mengaku mengikuti mazhab tertentu, tetapi mereka lebih menjaga reputasi ilmiahnya daripada mengikuti pemikiran satu mazhab saja.

“Mereka sebagai fukoha lebih menjaga reputasi ilmiah daripada reputasi mazhabnya. Yang dianggap memiliki dalil yang paling kuat, itu yang diikuti meskipun tetap menyatakan saya Syafii, saya Hanafi dan lainnya,” ungkapnya.

Dikatakannya saat ini kuliah syariah dengan pemikiran imam Syafii terbaik di dunia masih terdapat di Syiria dengan pengajar para fukoha yang memiliki reputasi internasional. (mkf)



Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Ini adalah halaman muka dari naskah kitab Hasyiah Tasywiqul Khallan ‘ala Syarhil Ajurumiyyah karangan KH Muhammad Ma’shum ibn Salim al-Safuthani al-Samarani, seorang ulama Nusantara asal Seputon, Semarang (Jawa Tengah). Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh ‘Isa al-Babi al-Halabi di Mesir pada tahun 1303 H (1886 M). Naskah ini menjadi koleksi Robarts Library, University of Toronto, Kanada.



“Tasywiqul Khallan” merupakan hasyiah (komentar panjang) atas syarh (penjelasan) “Mukhtashar Jiddan” (karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, w. 1866 M) atas matan (teks) al-Ajurumiyyah, kitab monumental gramatika Arab (nahw) karangan Muhammad ibn Jurum al-Shanhaji, w. 1323 M.

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Halaman muka kitab mengisyaratkan jika KH. Muhammad Ma’shum mengarang hasyiah ini saat ia masih berusia muda. Tertulis di sana: “Ta’lif al-syab an-najib wal-fadhil al-labib” (karangan seorang pemuda cendikia, pemilik keutamaan yang cerdas).

Dalam kata pengantarnya, KH. Muhammad Ma’shum mengatakan jika ia mengarang kitab ini karena permintaan beberapa koleganya yang hendak memahami kitab al-Ajurumiyyah dan syarh-nya, Mukhtashar Jiddan, secara lebih mendalam. Para kolega itu meminta KH Muhammad Ma’shum untuk menuliskan komentar dan penjelasan panjang atas dua kitab (matan dan syarh) tersebut, agar lebih mudah difahami.

KH Muhammad Ma’shum mulai menulis hasyiah ini di Mekkah saat ia pergi haji dan merampungkanya di Semarang. Dalam menulis hasyiah ini, KH. Muhammad Ma’shum merujuk pada beberapa referensi utama, yaitu (1) Hasyiah al-Sanwani ‘ala Syarh al-Syaikh Khalid al-Azhari ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, (2) Syarh al-Astarabadi ‘ala Kafiyah Ibn al-Hajib, dan (3) Mughni al-Labib karangan Ibn Hisyam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sayangnya, belum banyak informasi lebih terkait biografi KH. Muhammad Ma’shum beserta karya-karyanya. Dalam kata pengantarnya, beliau menyebutkan jika Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah “syaikh syaikhi” (guru dari guruku).

Menimbang tahun kepengarangan kitab tersebut (1303 H/ 1886 M), maka bisa diperkirakan jika KH. Muhammad Ma’shum ini satu generasi dengan santri-santri Jawi yang belajar di Mekkah pada masa itu, seperti KH. Hasyim Asyari Jombang (w. 1366 H), KH. Mukhtar Atharid Betawi (w. 1349 H), KH. Abdul Karim ibn Ahmad Khatib Minang (w. 1357 H), KH. Abdul Rasyid Bugis (w. 1361 H), KH. Wahyuddin Abdul Ghani Palembang (w. 1360 H), KH. Jamaluddin Khaliq Patani (w. 1355 H), dan lain-lain.

Meski demikian, kitab Hasyiah Tasywiqul Khullan banyak dicetak ulang dan diterbitkan kembali oleh banyak penerbit, baik di Arab atau pun Nusantara, seperti Dar al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubra (Kairo, 1326 H/ 1908 M), al-Maktabah al-‘Ilmiyyah (Kairo, 1358 H/ 1940 M), Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah (Beirut, 2003), dan Maktabah al-Hidayah (Surabaya).

Matn al-Ajurumiyyah terhitung sebagai kitab pegangan wajib bagi pelajaran gramatika Arab (nahw) tingkatan pemula di pesantren-pesantren tradisional (NU) di Indonesia. Matn (teks) tersebut sangat popuker dan banyak yang menulis pejelasan (syarh) atasnya, diantaranya adalah syarh yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarromah sekaligus mahaguru bagi para santri dan ulama asal Nusantara di akhir abad ke-19 M. Maka tidaklah mengherankan jika kitab-kitab karangan beliau banyak diaji dan dikaji di dunia pesantren hingga sekarang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan sezaman dan sejawat dengan Syaikh Nawawi Banten, yang juga mahaguru para santri dan ulama Nusantara di Makkah. Jika Syaikh Zaini Dahlan menulis Syarh Mukhtashar Jiddan atas teks al-Ajurumiyyah, maka Syaikh Nawawi menulis Kasyf al-Maruthiyyah yang merupakan syarh atas teks yang sama.

Pada bulan Ramadhan tahun 1999 dulu, saya khatam mengaji kitab Syarh Mukhtashar Jiddan karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan ini di pesantren HM Putra Lirboyo Kediri (Jawa Timur) dari bacaan (qira’ah) KH. Imam Yahya Mahrus. Di akhir pengajian, KH. Imam Yahya memberikan sanad (mata rantai keilmuan) kitab tersebut yang menyambung sampai pengarangnya: KH. Imam Yahya Mahrus, dari KH. Mahrus Ali, dari KH. Abdul Karim, dari KH. Kholil Bangkalan, dari Syaikh Nawawi al-Bantani, dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Kajian Sunnah, Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Tiga Hasanah

Karena saking sibuknya, seorang santri sudah lama sekali tidak bisa sowan ke kiainya. Maklum dia  sudah menjadi orang sukses. Suatu ketika santri ini berkesempatan sowan ke gurunya, dan seperti biasa setelah bersalaman dengan kiai, para tamu dipersilakan duduk lesehan di pendopo,  sang kiai pun duduk di depan para tamu. Setelah agak lama hening, sang kiai lalu menyapa santri itu yang kebetulan duduk di shaf paling depan.

Kiai: Bagaimana keadaanmu, Cong?

Tiga Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hasanah

Santri: Alhamdulillah sehat, berkat doa Kiai .

Kiai: Ya... syukurlah kalau begitu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Setelah diam sejenak sang kiai kemudian melanjutkan pertanyaannya

Kiai: Saya dengar kamu berpoligami?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sontak saja si santri  menjadi deg degan, berbagai perasaan berbaur dalam pikirannya, dari merasa bersalah, malu dan sebagainya. Lalu dengan agak gugup ia menjawab.

Santri:Ya, benar, Kiai.

Kiai: Hebat kamu, saya aja baru satu.

Mendengar pujian sang guru ia kembali tenang, kemudian melanjutkan perbincangannya

Santri: Tapi ada yang musykil, Kiai.

Kiai:  Lho kok bisa, apanya yang musykil ?

Santri:  Begini Kiai, sebetulnya saya hanya mau dua saja, seperti dalam  al Qur’an...

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang Kiai.

Kiai: Lho..!  Di dalam  Al Qur’an bukannya sampai empat?

Santri: Maksud saya begini Kiai,saya sudah terlanjur punya tiga isteri, sementara dalam al Qur’an disebutkan hanya dua, “fid dunya hasanah” dan “fil akhiroti hasanah”, terus hasanah yang satu lagi  tempatnya di mana, Kiai?

“Grrrrrrrr...” semua yang hadir di pendopo tertawa.

(Hosni Rahman, Sukorejo Situbondo)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Kajian Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tasikmalaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU)Kota Tasikmalaya, mengerahkan seluruh kader dan anggotanya untuk menyambut para peserta Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (19/10).

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Tasikmalaya Kerahkan Anggota Sambut Kirab Resolusi Jihad

Acara penyambutan ini bertempat didepan Kantor PC NU Kota Tasikmalaya di jalan Dr. Soekardjo Nomor 47. Selaian para anggota dan kader IPNU IPPNU se-Kota Tasikmalaya, para pengurus pun diwajibkan hadir pada acara tersebut. Mulai dari Pengurus Cabang, Anak Cabang, Ranting dan Komisariat se-Kota Tasikmalaya.

Dengan mengerahkan semua anggota, kader dan pengurusnya untuk menyambut peserta kirab, IPNU IPPNU harus menjadi lapisan terdepan untuk semua kegiatan-kegiatan yang berbaur NU.

Menurut ? Ketua PC IPNU Kota Tasikmalaya, Saepul Malik, ia sangat bangga dan senang menyambut peserta Kirab Resolusi Jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), disisi lain sebagai Anak dari NU, IPNU juga harus menjadi garda terdepan ketika ada acara-acara NU, karena biarkan IPNU yang terjun ke lapangan dengan basah-basahan demi keberlangsungan dan kebesaran NU.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“NU merupakan orang tua kita yang harus kita takdzimi dan kita hormati, biarkan IPNU cape terjun ke lapangan sehingga kecapean tersebut menjadikan spirit kita untuk tetap istiqomah mengabdi di organisasi tercinta ini yaitu NU,” tambah Saepul.

Ia juga mengingatkan semua anggota, kader dan pengurus IPNU baik di PAC, PR dan PK, harus kompak dalam mengawal dan menyukseskan serta ikut terjun dan berpasrtisipasi dalam semua acara-acara NU demi kemaslahatan dan kebesaran NU. (Agum Gumilar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Nahdlatul, Olahraga Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Doa Selepas Buang Hajat

? ? ? ? ? ? ? ?

Ghufrânakal hamdu lillâhil-ladzî adzhaba ‘annî-l-adzâ wa ‘âfânî

Doa Selepas Buang Hajat (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Selepas Buang Hajat (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Selepas Buang Hajat

“Aku memohon ampunan-Mu. Segala uji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari diriku dan membuatku sehat.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Budaya, Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 28 November 2017

Qanaah Bukti Keyakinan Orang Beriman

Rasulullah saw pernah berkata kepada Hakim bin Hizam ”harta memang indah dan manis, barang siapa mengambilnya dengan lapang dada maka dia mendapatkan berkah. Sebaliknya, barang siapa menerimanya dengan kerakusan, maka harta itu tidak akan memberikan berkah kepadanya. layaknya orang makan yang tak pernah kenyang"

إن الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله. أرسله بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجا منيرا. أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد ان محمدا عبده و رسوله. ارفع البرية قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. أما بعد. فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Qanaah Bukti Keyakinan Orang Beriman (Sumber Gambar : Nu Online)
Qanaah Bukti Keyakinan Orang Beriman (Sumber Gambar : Nu Online)

Qanaah Bukti Keyakinan Orang Beriman

Alhamdulillah kita masih dapat bersama-sama menunaikan shalat Jum’ah di siang ini. Marilah saling berwasiat dan mengingatkan akan pentingnya meningkatkan taqwa. Sesungguhnya hanya dengan taqwalah kita dapat sukses menghadapi kehidupan di akhirat nanti dan di dunia sekarang ini. Dunia nyata yang semakin menggelorakan nafsu menumpuk harta dan berebut tahta. Karenanya kita memerlukan tratmen mengahadapi itu semua, salah satunya dengan mengingat kembali konsep qan’ah.   

Qana’ah adalah merasa puas atas pemberian yang sudah diterimanya. Puas itu ditunjukkan dengan syukur dan menghindari kerakusan. Mengekang diri dalam memburu apa yang diinginkannya, karena merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Qana’ah adalah salah satu jalur alternatif mengendalikan diri di tengah gemerlap dunia yang semakin menggiurkan. Inilah sikap yang harus dimiliki oleh seorang muslim pada umumnya dan muslim pejabat pada khususnya. Mengingat derasnya cobaan yang silih berganti menawarkan isi dunia. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Bukankah kita sudah maklum bahwa pada akhirnya nanti uang, harta dan tahta juga akan sirna. Uang akan usang, harta akan binasa dan jabatan akan digantikan. Mengapa diri ini selalu tertarik untuk mengumpulkannya, bukankah itu sama artinya menimbun busa yang akan lenyap diterpa udara?  Orang yang cerdas pastilah lebih suka mencari sesuatu yang lebih tahan lama, sesuatu yang tidak cepat punah dan habis hanya karena pergantian masa. Adakah hal yang demikian itulah qana’ah.

اَلْقَنَاعَةُ مَالٌ لَايَنْفَذُ وَكَنْزٌ لَايَفْتَى  

Qana’ah adalah harta yang tidak akan habis dan simpanan –modal- yang tak akan lenyap.

Itulah yang disindirkan oleh Abu Bakar al-maghribi bahwa orang yang berakal ialah orang yang dapat mengatur urusan dunianya dengan sikap qana’ah dan mengatur urusan akhiratnya dengan penuh semangat dan mengatur urusan agamanya dengan syari’ah.

Hal ini tidak untuk dipikirkan dengan akan, tetapi untuk direnungkan dengan hati yang tenang. Bukankah jika kita memiliki sifat qana’ah semua yang ada akan terasa cukup. Sebagaimana pendapat Syaikh Zakaria al-Anshari bahwa qana’ah itu merasa cukup dengan apa yang sudah diterima dan memenuhi kepentingannya, baik berupa makanan, minuman, pakaian atau lainnya.

Maka dalam hal ini kita perlu bersandar pada hadits Rasulullah saw.



كُنْ وَرَعًا تَكٌن اَعْبَدَ الناسِ وَكٌنْ قَنَعًا تكن أشكر الناس 

Jadilah kamu orang yang wara’ pasti kamu menjadi orang yang rajin beribadah, dan jadilah kamu orang yang qana’ah pastilah kamu menjadi orang yang banyak bersyukur (HR.Bukhari) 

Namun demikikan Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah…

Janganlah salah mengartikan qana’ah dengan berpangku tangan, berserah diri tanpa usaha namun penuh harap akan rahmat Allah swt. Tidak, bukan demikian maksud qana’ah itu. Manusia tidak dilarang mencari rizqi, bahkan Allah swt memerintahkan manusia untuk berusaha. Karena hasil usahalah yang akan menopang ibadah seseorang. Usahalah yang menjadi modal perjuangan agama. Tanpa ada hasil usaha tidak akan ada masjid mewah, tidak ada panti asuhan, tidak ada madrasah dan mushalla. Semua itu memerlukan usaha dan harta. 

Hanya saja yang perlu disadari dunia usaha bagaikan hutan belantara yang gelap tanpa arah. Apabila kita berjalan tanpa senjata dan tidak berhati-hati akan diterkam binatang buas atau tersesat di dalamnya. Sehingga kita tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, ataupun mendapatkannya tetapi bukan hasil yang halal.  Bukankah nafsu syaitan selalu mengarahkan kita ke dalam sesat keharaman.

Oleh karena itu, marilah kita persenjatai diri kita dalam belantara usaha dengan qana’ah, insyaallah ia akan memberikan rambu-rambu ke arah yang benar walaupun tidak disertai dengan hasil yang maksimal. Bila demikian adanya usaha yang kita lakukan akan memilki nilai ibadah. Karena segala macam kegiatan manusia yang disandarkan niatnya kepada Allah swt akan dihitung sebagai ibadah. Ibadah tidak terbatas bertekur dan berdzikir di dalam masjid saja, tetapi menyingkirkan duri dari jalanan juga termasuk ibadah.

Jama’ah Juma’ah RahimakumullahJelaslah bahwa qana’ah tidaklah semata berpangku tangan, justru sebaliknya qana’ah adalah sebuah kekuatan untuk percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Kekuasan-Nya mengatasi segala kemampuan manusia. Kekuasaan-Nya menentukan apa yang ada didunia. Jika ternyata ketentuan itu tidak mengenakkan kita, maka bersabarlah itu tandanya Allah sedang menguji kesabaran kita.

Meski apa yang ditetapkan Allah swt, tidak seperti apa yang kita inginkan. Itu tidak bearati kita berhenti berusaha. Tetaplah berusaha sekuat tenaga. Selama nyawa masih dikandung badan berusaha mengais rezeki harus terus kita lakukan. Ini tidak berarti kita memburu apa yang belum kita dapatkan, atau merasa tidak cukup dengan apa yang ada. Tetapi usaha ini kita lakukan karena merupakan sebuah kewajiban. Mempertahankan kehidupan, dan menjaga nyawa agar senantiasa dalam badan adalah kewajiban, karena itulah satu-satunya cara kita melakukan ibadah menyembah kepada-Nya.

Disinilah kehebatan qana’ah, ia tidak mengenal takut dan gentar. Apapaun kondisi yang ada harus kita hadapi dengan sabar dan penuh keyakinan. Seperti janji Allah swt dalam Surat Hud ayat 6.

Tiada sesuatu yang melata di bumi ini, melainkan di tangan Allah rizqinya. 

Memang pada kenyataannya hidup ini tidaklah selalu mulus dan mujur. Terkadang malang dan terkdang berkelok. Dan ketika berkelok itulah tanda-tanda keberuntungan kita. Rasulullah saw bersabda



قد أفلح من اسلم ورزقه كفافا وقنعه الله بما اتاه



Sungguh beruntung orang yang Islam dan rezkinya pas-pasan dan dia merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.

Begitulah pesan Rasulullah saw kepada Hakim bin Hizam ”harta memang indah dan manis, barang siapa mengambilnya dengan lapang dada maka dia mendapatkan berkah. Sebaliknya, barang siapa menerimanya dengan kerakusan, maka harta itu tidak akan memberikan berkah kepadanya. layaknya orang makan yang tak pernah kenyang”

Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini. Semoga dapat menjadi pertimbangan dalam mengarungi kehidupan kita sehari-hari yang semakin terasa penuh sesak dengan berbagai persaingan dan tunutan. Semoga kita termasuk muslim yang cerdas. Muslim yang dapat mengendalikan diri dan nafsunya dalam menghadapi dunia.



بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ Ø§ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًااَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَىوَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ 

 

Red. Ulil H. Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Kajian Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 20 November 2017

NU Jatim Pertegas Khittah 1926

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) mempertegas Khittah NU 1926 dalam tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-84 NU di kantor PWNU Jatim, di Surabaya, Selasa (31/7).



NU Jatim Pertegas Khittah 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Pertegas Khittah 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Pertegas Khittah 1926

"Khittah NU 1926 bukan sekedar menjaga jarak dari partai politik, tapi menata hati dalam bermasyarakat dan bernegara," ujar Ketua PWNU Jatim KH Ali Maschan Moesa.

Ia mengemukakan hal itu dalam sambutannya pada tasyakuran Harlah ke-84 NU yang dihadiri belasan politisi dari berbagai kalangan, antara lain PKB pro-Anam/PKNU, PKB Jatim pro-Imam Nahrawi, PKB Jatim "caretaker", PPP, PKS, dan Partai Demokrat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Ali, Khittah NU 1926 berarti kembali kepada garis perjuangan Islam ala Walisongo yang bukan meng-Islam-kan negara, melainkan meng-Islam-kan masyarakat secara bertahap.

"Meng-Islam-kan masyarakat berarti NU mementingkan isi daripada wadah dalam bentuk negara atau politik, karena itu meng-Islam-kan masyarakat adalah menata hati masyarakat," ucapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menata hati, kata pengasuh Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, itu, adalah memperbaiki moral masyarakat untuk dapat bersikap sabar, ikhlas, dan selalu berbuat dengan niat untuk agama.

"Jadi, kalau salat tapi suka mencaci maki orang, maka salat yang dilakukan tidak ada artinya, bahkan kalau bisa bersikap sabar saat dicaci maki orang, serta menganggapnya sebagai ujian," paparnya.

Tasyakuran Harlah ke-84 NU itu diawali dengan silaturrahim tokoh lama NU tahun 1970-an, silaturrahim pengurus ranting NU se-Jatim pada lima lokasi, khataman Al-Quran, dan tumpeng tasyakuran. (ant/sbh)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nasional, Meme Islam, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi

Boyolali, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Implementasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Indonesia, termasuk di dalamnya para kader GP Ansor. Untuk itu, butuh kesiapan serta pendampingan untuk memaksimalkan segala potensi yang ada.

Hal tersebut disampaikan Ketua Departemen Koperasi dan UKM Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor Hafied Nur Siddiqi saat meninjau potensi ekonomi para kader Ansor di daerah Cepogo, Boyolali, Selasa (12/7).

Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi

“GP Ansor harus mampu mandiri secara ekonomi. Apalagi untuk menghadapi pasar bebas. Saya sangat bangga dan turut mendukung adanya koperasi yang bisa mengkoordinir potensi-potensi di tiap daerah," kata Hafied.

Hafid menambahkan, apa yang sudah digagas para kader Ansor Cepogo untuk membangun kemandirian organisasi lewat koperasi dan pengembangan potensi daerah patut menjadi contoh bagi pengurus Ansor di daerah lain.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Cepogo Athar Fuadi menyatakan pentingnya untuk mengetahui potensi di masing-masing daerah. Sebagai contoh, di daerah Cepogo ada kerajinan tangan dari logam di Tumang, sabun herbal dan peralatan dapur.

“Di kecamatan Cepogo ini banyak sekali potensi produk kerajinan anggota Ansor yang sudah sampai ke kancah internasional. Sangat disayangkan kalau tidak diwadahi. Itu kan juga untuk kemandirian organisasi,” tukas Fuadi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senada dengan hal di atas, Ketua GP Ansor Boyolali Choiruddin Ahmad berharap agar semua potensi yang dimiliki para kader Ansor di Boyolali pada khususnya dapat dimaksimalkan.

“Semoga di Boyoalali juga dapat segera membentuk koperasi Ansor atau pun badan ekonomi untuk menunjang kemandirian organisasi,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 18 November 2017

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengatakan akan menemui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk membahas nasib daerah penggusuran Luar Batang dan lokasi sekitarnya Kampung Akuarium dan Pasar Ikan.

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma’ruf Amin Akan Temui Ahok Terkait Penggusuran di Luar Batang

"Kami akan bertemu Pemda untuk mempertahankannya. Tidak digusur tapi diperbaiki," kata Kiai Ma’ruf saat mengunjungi lokasi penggusuran di sekitar Luar Batang, Jakarta, Selasa.

Kiai Ma’ruf yang juga rais aam NU ini mengatakan salah satu hal yang akan direkomendasikan terkait hak-hak warga itu adalah supaya Ahok dapat membangun kembali rumah yang telah digusur dengan yang lebih baik.

Kiai Ma’ruf mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan kondisi warga Luar Batang pascapenggusuran oleh otoritas Pemda DKI. Terlebih setelah MUI meninjau langsung lokasi penggusuran itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kendati demikian, MUI akan melakukan investigasi lebih dalam terlebih dahulu mengenai rincian hak-hak warga yang dilanggar. Dengan begitu, rekomendasi-rekomendasi yang disampaikan saat bertemu Ahok akan menyeluruh.

Kiai Ma’ruf mengatakan Pemda DKI sudah seharusnya mempertahankan situs sejarah Luar Batang dan sekitarnya lantaran kawasan itu sudah ada sejak lama yaitu ketika kota Sunda Kelapa cikal bakal Jakarta dibangun.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kawasan Luar Batang, kata dia, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi khususnya terkait dengan Islam.

Pemprov DKI Jakarta sebelumnya melakukan relokasi warga Pasar Ikan dengan memberikan solusi kepada warga yang telah bermukim sejak lama dan memiliki rumah tinggal di lingkungan RT 001, 002, 011 dan 012 di RW 04 untuk mendapatkan hunian layak di rusun Marunda dan Rawa Bebek.

Saat dilakukan penggusuran pada Senin pagi (11/4), ratusan warga Pasar Ikan mencoba menolak dan bertahan. Bahkan petugas pengamanan gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Polisi dan TNI sebanyak 4.218 personel membawa sejumlah warga dengan bus yang telah disediakan. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Aswaja, Meme Islam, Sejarah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 17 November 2017

Keluarga Mohon Dibuka Pintu Maaf untuk KH Hasyim Muzadi

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal?



Ketua Umum PBNU periode 1999-2010 KH Hasyim Muzadi selama hidupnya bersinggungan dengan beragam kalangan, mulai dari rakyat biasa, tokoh nasional, hingga dunia.?

Menantu pertama Kiai Hasyim, Arif Zamhari, atas nama keluarga, memohon kepada siapa pun untuk membukakan pintu maaf atas kekhilafan almarhum yang wafat pagi tadi, Kamis (16/3) di Malang, Jawa Timur.?

Keluarga Mohon Dibuka Pintu Maaf untuk KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Mohon Dibuka Pintu Maaf untuk KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Mohon Dibuka Pintu Maaf untuk KH Hasyim Muzadi

Ia menambahkan, pihak keluarga akan menyelenggarakan tahlilan selama tujuh hari berturut-turut di kediaman Kiai Hasyim, kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat.?

Bagi warga NU dan masyarakat pada umumnya, yang akan mengikuti tahlilan, kata dia, dipersilakan datang ke kompleks pesantren.?

Saat ini, prosesi pemakaman secara militer atas jenazah Kiai Hasyim sudah usai. Para tokoh nasional dan masyarakat umum mulai berpamitan pulang. Sebagian masyarakat ada yang masih bertahan membaca Al-Qur’an da tahlilan. (Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Anti Hoax, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 07 November 2017

Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel

Sidoarjo,? Kedung Sukun Adiwerna Tegal?

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo akan menerjunkan ratusan anggota Banser untuk mengamankan Istighatsah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur di GOR Delta Sidoarjo, 9 April mendatang.

"Kami akan mengerahkan 500 personil Banser dari 18 Pimpinan Anak Cabang Ansor se-Sidoarjo yang akan disebar ke beberapa titik. Banser yang akan diterjunkan ini sudah digembleng sebelumnya," kata Ketua GP Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin, Selasa (4/4).

Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel (Sumber Gambar : Nu Online)
Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel (Sumber Gambar : Nu Online)

Amankan Istighotsah Kubro NU, Ansor Sidoarjo Siap Terjunkan 500 Personel

Rizza menjelaskan, dari 500 personil, 200 di antaranya akan berjaga di dalam stadion dan 300 personil lainnya akan ditempatkan di rute menuju lokasi digelarnya istighatsah.

Rizza berpesan kepada seluruh peserta yang akan mengikuti Istighatsah Kubro dalam rangka memperingati Harlah ke-94 Nahdlatul Ulama itu, untuk menata niat atau hati karena Allah SWT.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Karena ini doa untuk keselamatan dan kedamaian bangsa, bagi jamaah yang hadir, mohon hadir dengan hati yang tulus, ikhlas, dan bersih," pesannya.

Ketua PCNU Sidoarjo, H Maskhun juga mengimbau kepada para jamaah agar memakai baju putih, membawa alas dan membawa bekal makan minum pada kegiatan itu. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal . Selain warga NU di tingkat akar rumput, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin juga angkat bicara soal rencana penerapan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam menentukan pemumpin baru NU pada Muktamar ke-33 NU di Jombang awal Agustus mendatang.

Ia menyebut posisi Rais Aam di tubuh NU adalah maqam (derajat yang tinggi), sehingga yang berhak mendudukinya adalah shahibul maqam (yang layak pada posisi itu). “Menurut saya standar Rais Aam itu ya (seperti) KH Wahab Chasbullah, atau paling tidak yang mendekati beliau,” tuturnya pada forum Musyawarah Nasional Alim Ulama, Ahad (14/6) malam.

Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa

Pada forum yang digelar di gedung PBNU, Jakarta, ini hadir perwakilan dari 27 Pengurus Wilayah NU (PWNU) dari berbagai daerah di Indonesia. Forum tertingi setelah Muktamar NU ini fokus pada pembahasan Ahlul Halli wal Aqdi, model pemilihan melalui semacam tim formatur yang terdiri dari orang-orang terpilih.

“Memang harus dijaga. Menurut saya ada dua cara pengamanannya. Yang pertama adalah kriteria, dan yang kedua adalah sistem. Sistem saja tanpa kriteria, bisa nyelonong. Kriteria tanpa sistem juga sulit terealisasi,” imbuhnya.

Kiai Ma’ruf Amin memaparkan, setidaknya Rais Aam memiliki empat kriteria, antara lain faqih atau berwawasan agama secama mendalam, munadhdhim (organisatoris), muharrik (penggerak), dan mutawarri’ (berlaku sangat hati-hati dan jauh dari kepentingan duniawi).

“Rais Aam itu harus menjadi merupakan penggerak , bukan bergerak sendiri. Kalau bergerak sendiri namanya gasing. Yang keempat harus mutawarri’, wira’i,” tutur Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Bagi Kiai Ma’ruf Amin, keempat hal tersebut adalah kriteria ideal, yang semestinya dipenuhi atau paling tidak mendekati sejumlah kriteria tersebut. ? Kriteria ini akan semakin terjaga ketika didukung oleh sistem yang memungkin hal itu.

“Saya kira Ahlul Halli wal Aqdi adalah sistem yang paling aman. Sehingga orang yang tidak paham tidak meilih orang yang mereka tidak paham, memilih yang bukan shahibul maqam,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam kesempatan itu, Kiai Maruf Amin tidak mengungkapkan pendapatnya secara spesifik tentang penerapan sistem Ahwa untuk pemilihan ketua umum tanfidhiyah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Budaya, Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 18 Oktober 2017

PMII Harus Miliki Kecerdasan Sosial

Purworejo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal . Sejumlah 57 mahasiswa mengikuti Masa Penerimaan Anggota (Mapaba) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Berjan Purworejo di Komplek Pondok Pesantren At Taslimiyah Desa Lubang Lor Kecamatan Butuh Purworejo. 

Ketua Panitia Mapaba, Muhammad Arifin mengatakan, kegiatan yang digelar selama 3 hari ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seorang mahasiswa yang akan menjadi anggota PMII.

PMII Harus Miliki Kecerdasan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Harus Miliki Kecerdasan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Harus Miliki Kecerdasan Sosial

Pada kegiatan tersebut, kata Arifin, seluruh peserta diberi materi tentang Sejarah Bangsa, Islam Nusantara, Analisa Diri, Gender, Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial, Nilai Dasar Pergerakan dan ke-PMII-an.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Seluruh materi yang diberikan merupakan bekal bagi para mahasiswa untuk bergerak dan beraktualisasi kedepan saat mehasiswa tersebut menjadi anggota PMII,” terang Arifin di sela-sela Mapaba, Kamis (17/10).

Arifin menambahkan, materi-materi yang disampaikan merupakan pondasi dari bangunan pengetahuan dari para kader PMII. Menurutnya, dengan bekal pengetahuan tersebut, para mahasiswa yang aktif di organisasi PMII harus memilki kesadaran dan kecerdasan sosial yang lebih dibanding mahasiswa lain pada umumnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Tantangan mahasiswa hari ini adalah bagaimana ia memilki tanggung jawab untuk membangun lingkungannya dengan bekal kemampuan akademis dan pengetahuan yang ia miliki,” tandasnya.

Lebih lanjut Arifin mengatakan, ini merupakan bagian dari jawaban organisasi atas fenomena para mahasiswa yang cenderung apatis terhadap kondisi lingkungan sekitar. Banyak mahasiswa yang tidak peduli dengan permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat.

“Kalau kita amati, hari ini banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual, namun hanya sedikit yang memiliki kecerdasan social. Ini tentu sangat memperihatinkan,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua PMII Komisariat An-Nawawi, Syarif Hidayatullah. Menurutnya PMII senantiasa mengajak para anggotanya untuk lebih peka menyikapi permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat.

“Tentu ada skala-skala tertentu untuk dijadikan medan juang pengabdian terhadap kemaslahatan masyarakat. Ada yang mampu untuk berjuang hingga skala nasional, adapula yang hanya skala lokal. Namun itu bukanlah masalah, karena yang terpenting adalah bagaimana agar kesadaran tersebut terbangun sejak dini,” pungkasnya. (Lukman Hakim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Habib, PonPes Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock