Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei

Cirebon, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pondok Pesantren Gedongan Cirebon mulai melakukan persiapan menghadapi pelaksanaan? Haul KH Muhammad Said (Mbah Said). Ia pendiri pesantren sekaligus buyut dari KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Diungkapkan Aghuts Muhaemin, Ketua Panitia, Haul Mbah Said untuk tahun ini akan digelar pada hari Sabtu tanggal 24 Mei 2014 mendatang. Menurutnya, berbagai persiapan telah dilakukan oleh segenap panitia.

Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Buyut Kang Said Digelar Akhir Mei

“Persiapan tersebut termasuk menghubungi calon pembicara pada malam puncak, antara lain Kiai Said, Kiai Musthofa Aqil dan Habib Umar Muthohar dari Semarang sebagai penceramahnya,” ungkap Aghuts, Jumat (2/5).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain persiapan malam puncak peringatan haul, panitia juga telah melakukan persiapan untuk beberapa mata acara yang akan digelar dalam rangka pra haul Pesantren Gedongan tersebut. Ditambahkan Aghuts, dalam peringatan haul kali ini, pesantren juga akan menggelar Santunan Anak Yatim, Pengobatan Gratis, Bahtsul Masail, Kontes Genjring, Donor Darah, Semaan Al-Quran dan Tahlil Akbar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Karena tujuan dari peringatan haul adalah mempererat silaturrahmi antaralumni, masyarakat dan pesantren. Tentu, selain melakukan refleksi atas teladan yang telah diberikan para pendahulu, terlebih Mbah Said,” pungkas pria yang kerap disapa Kang Aghust tersebut.

KH Mohammad Said hidup di masa 1830-an Masehi, menurut catatan keluarga,? Mbah Said banyak berperan dalam melakukan perjuangan melawan penjajah Belanda,? serta menjadi cikal bakal berkembangnya beberapa pesantren di Jawa, khususnya di Cirebon. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Warta Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Puluhan pelajar tingkat SMP dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia mengadu kepintaran untuk merebut tropi dari Menteri Pendidikan dan Gubernur Jawa Timur. Para pelajar kelas 9 ini selama 4 hari mengikuti Olimpiade Sains dan Sosial (SSO) yang digelar SMA Darul Ulum 2 BPPT, Pesantren Rejoso Peterongan Kabupaten Jombang Jawa Timur.

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Djihan Islahiyah dan dua rekannya peserta asal SMP Islam Al Azhar, Pontianak? misalnya mengaku sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tingkat Nasional ini. Sebagai wakil dari luar Jawa, Djihan sangat berharap bisa memenangi olimpiade Sains dan Sosial. "Kita dating bertiga, dan sekolah kita memang jauh hari telah mempersiapkan muridnya untuk mengikuti lomba ini," katanya ditemui usai mengikuti lomba.

Dengan menggunakan seragam, khas pelajar berjilbab ini mengatakan bahwa sekolah yang diwakilinya pernah mendapatkan medali perak dari lomba sains tingkat provinsi. "Dengan materi yang dilombakan, kita optimis bisa menjadi Juara," tambahnya seraya mengatakan dirinya sudah berulang kali mengikuti ajang lomba serupa di daerah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Berbeda dengan peserta asal Pontianak,? Padil pelajar SMP Negeri Palu Sulawesi Selatan, meski bisa menjawab soal-soal yang dilombakan, namun pihaknya mengaku pesimis. Pasalnya dirinya hanya datang bersama dua rekannya. "Kita datang cuman dua orang, karena yang satu sakit saat akan berangkat ke sini, jadi ada satu materi yang kurang kayaknya," ungkapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk menghadi olimpiade ini, Saifullah Kamil menceritakan,? sekolah memberikan materi tambahan khusus bagi pelajar yang ditunjuk untuk mengikuti lomba. "Latihan latihan itu diwajibkan 2 kali setiap minggu. Dan ini adalah lomba yang pertama kita ikuti," ungkapnya dengan logat khas Palu.

Ahmad Kaseri Kepala SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT mengatakan, olimpiade Sains dan Sosial kali ini diikuti sebanyak 1. 629 peserta. Terdiri dari 68 Tim peserta Sains dan 51 Tim peserta Sosial yang datang dari berbagai daerah dan provinsi.

"Antusias peserta cukp tinggi, disamping hadiah uang pembinaan, mereka yang juara berhak mendapatkan tropi bergilir dari Menteri Pendidikan dan Tropy dari Gubernur Jatim," jelasnya seraya mengatakan untuk pemenang olimpiade, Kusairi menyebutkan, jika masuk SMA DU 2 ini, akan mendapatkan tambahan biasiswa selama 1 tahun. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Pertandingan, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Bank Jatim Sebabkan Kemacetan Kota, Ini Komentar PCNU Pamekasan

Pamekasan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Pamekasan KH Abd Ghoffar sangat menyayangkan atas kelalaian pimpinan Bank Jatim yang membiarkan sebagian jalan raya di depan kantor bank tersebut dijadikan parkir kendaraan roda empat oleh nasabahnya.

Ulah bank tersebut disinyalir menjadi penyebab utama macetnya kendaraan di pusat kota. "Kita bisa cermati sendiri betapa seringnya kemacetan di pusat kota, di daerah monument Arek Lancor. Sebagian jalan raya yang dijadikan tempat parkir nasabah Bank Jatim menjadi pemicunya. Kami sangat mengapresiasi tindakan Komisi I DRPD Pamekasan untuk memanggil pimpinan bank tersebut. Karena ini menyangkut kemaslahatan umum," tegas pengasuh Pesantren Riyadush Sholihin Pamekasan tersebut, Rabu (10/2).

Bank Jatim Sebabkan Kemacetan Kota, Ini Komentar PCNU Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Jatim Sebabkan Kemacetan Kota, Ini Komentar PCNU Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Jatim Sebabkan Kemacetan Kota, Ini Komentar PCNU Pamekasan

Karena itu, kata dia, PCNU Kabupaten Pamekasan menyetujui Komisi I DPRD Pamekasan yang memanggil pimpinan Bank Jatim di daerah itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Komisi I DPRD Pamekasan melayangkan surat resmi kepada Bank Jatim Cabang Pamekasan. Bank yang menjadi penyimpan dana Pemkab Pamekasan itu, dipersoalkan lantaran tidak mengindahkan desakan publik agar segera membangun lahan parkir di area gedungnya. Pasalnya, separuh badan jalan di depan kantor tersebut, dihabiskan untuk parkir kendaraan nasabahnya.

Lokasi Bank Jatim berada di Jalan Panglima Sudirman yang merupakan jalan bundaran area monumen Arek Lancor yang dikenal padat. Akibatnya, sering mengakibatkan kepadatan lalu lintas. Bahkan, kemacetan. Desakan agar menyediakan lahan parkir sendiri itu sudah berulangkali, namun tidak juga dipenuhi oleh Bank Jatim.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Ismail mengatakan, dalam waktu dekat ini akan memanggil pengelola Bank jatim Cabang Pamekasan. Tujuannya, meminta Bank Jatim untuk datang ke kantor DPRD Pamekasan membahas masalah tidak adanya lahan parkir di bank milik pemerintah tersebut.

Sementara itu, Kepala Cabang Bank Jatim Pamekasan Arief Firdausi mengatakan, pihaknya sudah punya rencana membangun lahan parkir. Rencananya akan dimulai pada pertengahan tahun 2016 mendatang. Lantaran lahannya yang sempit, pihaknya akan membongkar sebagian gedung untuk lahan parkir.

"Kami akan menyiapkan lahan parkir di sebelah bangunan yang ada sekarang. Ada layoutnya, akan ditata kembali supaya roda 4 dan roda 2 bisa masuk," tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Ulama, IMNU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Dua Kesebelasan dari Kebumen Bakal Bertemu di Laga Final LSN Regional Jateng III

Tegal, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Partai final ajang kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 Regional Jateng III bakal mempertemukan dua tim kesebelasan pesantren asal Kebumen. Mereka adalah kesebelasan Hisba FC, PP Al-Barokah, Kebumen dengan tim kesebelasan Al-Kahfi FC, PP Al-Kahfi, Kebumen.

Kedua tim dijadwalkan beradu terbaik di Lapangan GOR Trisanja Slawi Kabupaten Tegal, Selasa (19/9).

Dua Kesebelasan dari Kebumen Bakal Bertemu di Laga Final LSN Regional Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kesebelasan dari Kebumen Bakal Bertemu di Laga Final LSN Regional Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kesebelasan dari Kebumen Bakal Bertemu di Laga Final LSN Regional Jateng III

Panitia Pelaksana LSN 2017 Regional Jateng III Mustholah melalui Sekretarisnya Mubin menuturkan, pada laga semifinal tim Al-Kahfi FC Kebumen berhasil menumbangkan tim Walindo Berbaur FC, Pekalongan dengan skor 2-0.

"Sedangkan tim Pesantren Hisba FC, Kebumen berhasil unggul atas tim Mangku Aji FC Pekalongan lewat drama adu pinalti dengan skor akhir 4-2," tuturnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mubin menyebutkan, Jawara LSN 2017 Regional Jateng III nantinya bakal mewakili zona tersebut ke ajang LSN tingkat nasional.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Insya Allah digelar 22 Oktober 2017 mendatang di Bandung bersamaan dengan peringatan Hari Santri tingkat nasional," ujarnya. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna

Bandung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pelantikan Pimpinan Anak Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung, Jawa Barat diisi dengan pelatihan Kurikulum 2013 di MTs Miftahul Hidayah Desa Cibeet, Ibun, Bandung, Kamis (10/11).?

Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris PW Pergunu Jawa Barat H. Saepuloh, Ketua PCNU Kabupaten Bandung KH Asep Jamaluddin, Sekretaris DPC PKB Kabupaten Bandung H Tarya, Ketua PC Pergunu Kabupaten Bandung Akbar Hadiansyah beserta jajaran Pengurus Cabang Pergunu Kabupaten Bandung.

Saepuloh berharap agar pengurus Pergunu Kecamatan Ibun bisa bersinergi dengan instansi terkait dalam melaksanakan program kegiatan dalam upaya peningkatan kompetensi dan kualitas guru-guru NU yang diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang bisa bersaing dan berdayaguna di masa yang akan datang.

“Buatlah program kerja untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas guru-guru NU, serta jangan lupa tanamkan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah kepada peserta didik dalam setiap proses pembelajaran,” tutur Saepuloh.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Ketua PCNU Kab. Bandung KH Asep Jamaluddin berharap Pergunu bisa tampil untuk memperbaiki kualitas pendidikan NU, khussusnya lembaga pendidikan dibawah naungan NU.?

“Kami berharap Pergunu bisa tampil untuk meningkatkan kualitas pendidikan NU sehingga bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya,” tutur Kiai Asep. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Pengurus Jatman Provinsi Tinjau Lokasi Manaqib Kubro

Brebes, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Panitia tingkat provinsi Jawa Tengah dan pengurus Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyah (JATMAN) tingkat Jateng, meninjau lokasi penyelenggaraan Manaqib Kubro. Peninjauan dilakukan setelah rapat gabungan kedua pihak sehubungan perubahan lokasi.

Pengurus Jatman Provinsi Tinjau Lokasi Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Jatman Provinsi Tinjau Lokasi Manaqib Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Jatman Provinsi Tinjau Lokasi Manaqib Kubro

“Untuk sinkronisasi, kami datang untuk melihat langsung kesiapan panitia termasuk mengecek lokasi yang akan ditempati,” kata Sekretaris JATMAN Provinsi Jawa Tengah H Muhtarom, usai memimpin rapat gabungan di ruang rapat Bupati Brebes Jateng, Rabu (13/2).

Selain Manaqib Kubro, pada pertemuan tersebut akan dilaksanakan Bahtsul Masa’il, istighosah, dan pengajian akbar JATMAN Idaroh Wusto Jawa Tengah. Kegiatan yang semula difokuskan di Kompleks Islamic Centre, MTs Negeri Brebes serta MAN Brebes kini dialihkan ke kompleks Pendopo Bupati, Masjid Agung Brebes, dan pesantren Assalafiyah II Brebes.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peninjauan ini, tambah H Muhtarom, bertujuan agar penyelenggaraan Manaqib Kubro pada 24 Mei 2014 mendatang steril dari bendera politik. Pasalnya, saat itu berdekatan dengan pemilihan Presiden. “Yang boleh berkibar di area kegiatan hanyalah bendera NKRI dan bendera NU,” kata Muhtarom.

Muhtarom menjelaskan, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sudah mengagendakan untuk membuka kegiatan tersebut. Meski demikian, banyak menteri yang bersedia untuk membuka. Hanya saja untuk menghindari sentuhan politik, panitia berusaha membersihkan acara dari kegiatan-kegiatan di luar Thoriqoh.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Panitia H Emastoni Ezam menjelaskan, kegiatan ini diperkirakan akan dihadiri delegasi dari 35 kabupaten dan kota. Masing-masing kabupaten 20 orang sehingga total 700 orang. Jumlah itu belum termasuk para pengasuh, masyayikh pesantren, dan ulama setempat di Brebes dan sekitarnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Humor Islam, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) bekerjasama dengan Forum Bagi Bangsa (FBB) mengadakan Seminar Kebangsaan bagi Siswa-siswi di SMAN 70, Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu, (15/11).

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Abdul Ghopur yang juga intelektual muda Nahdlatul Ulama, mengatakan kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa serta beragam suku bangsa adalah anugerah luar biasa yang tiada tara. 

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara (Sumber Gambar : Nu Online)
Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara (Sumber Gambar : Nu Online)

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara

“Tidak ada bangsa atau negeri sekaya ini dan seindah serta senyaman Indonesia. Belum lagi alamnya yang ramah, iklimnya yang sedang-sedang saja, tidak ada musim yang ekstrim, terlalu panas tidak, terlalu dingin pun tidak. Ditambah dengan keanekaragaman hayati dan hewani-flora dan fauna yang sangat kaya tak terbanding,” kata Ghopur melalui materi Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman.

Ghopur menyebutkan hal itu sebagaimana disebutkan dalam penggalan Al-Qur’an Surat An Naml ayat 40, "Haadza min fadli rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur, artinya: ini anugerah dari Tuhan untuk menguji kita untuk disyukuri atau diingkari).” 

Ghopur prihatin atas situasi bangsa Indonesia sekarang, 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ada sebagian kelompok masyarakat yang kurang mensyukuri karunia Tuhan ini dengan dalih atau atas nama kemurnian suatu paham agama tertentu dan atas nama kemodernan, sehingga, prinsip-prinsip kebangsaan, kenegaraan serta kewarganegaraan semakin hari semakin jauh. Bahkan jauh lebih menjauh setelah dikobarkannya reformasi Mei 98,” sesalnya.

Menurutnya ada banyak jawaban atas persoalan tersebut. Tetapi,yang terpenting adalah karena; Pertama, problem Indonesia sesungguhnya adalah keberlangsungan manajemen negara pasca kolonial yang tak mampu menegakkan kedaulatan hukum, memberikan keamanan dan keadilan bagi warganya.

Di dalam ketiadaan keadilan, keamanan dan perlindungan hukum bagi individu untuk mengembangkan dirinya, orang lebih nyaman berlindung di balik  warga-tribus (tribalisme, premanisme, koncoisme dan sektarianisme) ketimbang warga-negara. 

Persoalan ekonomi-politik yang bersumber dari manajemen negara yang korup menyisakan kelangkaan dan ketimpangan alokasi sumberdaya di rumahtangga kebangsaan. Jika aparatur negara hanya sibuk mengamankan kekuasaan dan dapurnya sendiri, maka individu akan segera berpaling ke sumber-sumber tribus sebagai upaya menemukan rasa aman. Di sini persoalan ekonomi-politik yang objektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitias yang subjektif. 

“Kedua, kita belum siap menerima keragaman. Padahal, keragaman bangsa bisa menjadi kekayaan jika negara mampu menjalankan fungsinya sebagai, apa yang disebut Mohammad Hatta, (panitia kesejahteraan rakyat),” katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lebih lanjut, Ghopur menukil isi dari teks Piagam Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam sebagai hasil Munas NU, Situbondo, 21 Desember 1983, Meski Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dipergunakan untuk menggantikan agama. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Udang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

“Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan antar manusia (hablumminannas),” tambahnya.

Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan (pengejawantahan) dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya.

“Sebagai konsekuensi dari sikap ini, segenap anak bangsa yang masih mencintai dan menginginkan utuhnya negeri ini, berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak,” imbuhnya lagi.   

“Intinya, No Ekstrim Kanan, No Ekstrim Kiri! Jadilah Ummat yang Tengah-tengah (ummatan wasahan) yang seimbang, bersatulah Orang Indonesia (Oi)” tandasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Humor Islam, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan

Jakarta, NU online?



Penurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU menggelar Madrasah Ramadhan di Masjid KH Hasyim Asy’ari, Jakarta (9-13/6). Kegiatan bertajuk “Indahnya Ramadhan, Doa untuk Bangsa” itu menargetkan1000 peserta dari anak yatim piatu, kaum duafa, dan anak jalanan.?

Pada Madrasah Ramadhan hari pertama, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU H. Arifin Junaidi mengatakan, program Madrasah Ramadhan akan di lakukan setiap tahun sebagai wujud pemguatan komitmen kemanusian dan kebangsaan LP Maarif NU. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Pusat Targetkan Seribu Peserta Ikuati Madrasah Ramadhan

“Dan ramadhan menjadi bulan berbagi terhadap saudara-saudara kita yang kurang beruntung,” katanya, sembari mengatakan bahwa kegiatan tersebut akan diadakan santunan untuk peserta. ? ?

Sekretaris LP Ma’arif NU Harianto Oghie mengatakan, dengan Madrasah Ramadhan ia berharap bulan ini menjadi semangat bulan-bulan lain untuk menjauhi kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Menyadarkan semua kalangan bahwa anak adalah generasi penerus yang harus diselamatkan dari berbagai macam bahaya yang dapat merusak masa depannya serta Membangun anak Indonesia yang tangguh dan berwawasan ke-Islam-an yang Berhaluan Aswaja An-nahdliyah yang pluralis dan bermartabat,” jelasnya. ?

Lebih lanjut ia mengatakan, kegiatan tersebut juga ingin menunjukan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).?

Madrasah Ramadhan menghadirkan pemateri dari LP Ma’arif, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Kementerian Agama, dan Kementerian Sosial.?

Kegiatan yang berlangsung selepas ashar dan kemudian dilanjutkan pada malam hari itu rencananyakan ditutup Menteri Sosial RI Hj. Khofifah Indar Parawansa. (Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Kiai, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Menag: Keragaman Adalah Jati Diri Bangsa

Bogor, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Keragaman, termasuk dalam keragaman beragama, adalah jati diri bangsa. Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang hadir sebagai pembicara utama dalam Temu Kebangsaan Orang Muda, Sabtu, (9/4) di Cico Resort, Bogor.?

Sejak dulu, papar Menag, Indonesia sudah kaya akan ? ritual keagamaan, terbukti ada selamatan kelahiran warga di masyarakat Indonesia. Dan jauh setelah meninggal dunia pun, seseorang masih dikirimi doa-doa. Dan itu dilakukan oleh banyak agama.

Menag: Keragaman Adalah Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Keragaman Adalah Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Keragaman Adalah Jati Diri Bangsa

Menag mengatakan bangsa Indonesia telah mengalami proses yang panjang. Sejarah menunjukkan, bahwa bangsa Indonesia sangat beragam.?

“Kalau ditarik dari perspektif agama, Tuhan memang menciptakan kita dalam wujud keberagaman. Keragaman adalah sunnatullah, atau dengan bahasa lain memang begitulah kehendak Tuhan Yang Maha Esa,” terang Menag di hadapan sekitar seratus hadirin yang mememuhi ruangan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selanjutnya Menag menyebut dalam perumusan UUD 1945, terjadi perdebatan, tetapi nilai-nilai agama yang dipegang oleh para pendahulu bangsa dijadikan sesuatu yang mampu menyatukan Indonesia. Dengan demikian religiusitas menjunjung tinggi nilai agama. Dan nilai-nilai keagamaan lah yang sesungguhnya menyatukan bangsa Indonesia.

Melengkapi paparannya, Menag membuat gambar sebuah bangun persegi panjang berukuran besar. Lalu Menag membuat garis-garis vertikal dan horisontal sehingga di dalam persegi panjang itu, terbentuk persegi panjang-persegi panjang lainnya.

“Menurut Anda berapa jumlah persegi panjang yang ada sekarang?” tanya Menag kepada peserta. Langsung saja para peserta menebak jumlah segi panjang yang ada.

Menag lalu menjelaskan satu gambar bisa melahirkan banyak persepsi atau pemahaman. Dari analogi itu terungkap bahwa dalam beragama Tuhan adalah satu. Kitab suci yang dipegang oleh penganut masing-masing agama juga satu. Orang suci yang diutus Tuhan juga ada satu. Tetapi, pemahaman keagaamaan itulah yang beragam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Islam misalnya banyak ahli tafsir yang menerjamahkan Al-Quran, memiliki pemahaman-pemahaman tergantung ? cara pandang, paradigma, dan seterusnya. Demikian juga Alkitab, saya pikir tidak tunggal. Terbukti ada sekte-sekte,” kata Menag.

Menag melanjutkan, keragaman ini muncul sesungguhnya karena keterbatasan manusia. Manusia melihat sesuatu berdasarkan perspektif atau sudut pandang yang tak sama, karena memang manusia memiliki keterbatasan. Tuhan menciptakan keragaman agar manusia yang terbatas bisa saling melengkapi, sehingga bisa saling memperkaya dalam memahami kebenaran yang mutlak.?

Keberagaman agama tampak dalam sisi luar atau ritual. Tetapi bermuara pada pada satu hal sama. Agama apa pun pasti menjunjung misalnya hak asasi manusia, keadilan, dan upaya menyejahterakan manusia.

Oleh karena itu, Menag mengimbau agar kita tidak terjebak pada persoalan konflik, karena melihat sisi luar kebaragaman yang memang berbeda dan tak mungkin disatukan.?

“Tetapi kita dijalin oleh nilai-nilai agama, atau sisi dalam dari agama, sehingga tidak perlu terlalu fanatik yang berlebihan. Sisi dalam itulah yang menjadi esensi beragama,” ungkap Menang. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Cerita, Kiai, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal?

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta kader-kader Ikatan Pelajar Nahdlatul ULama (IPNU) untuk melengkapi dirinya dengan segala skill untuk internal dan eksternal.?

Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-63, Ini Permintaan Ketum PBNU kepada Pelajar NU

“Artinya kader NU membangun dirinya dan membangun kontribusi untuk bangsa ini,” pesannya di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (22/2) kepada organisasi pelajar NU yang kini Jumat (24/2) berusia 63 tahun.

Ia menambahkan, IPNU harus melengkapi dengan kemampuan di bidang teknologi informasi dan dunia literasi seperti jurnalistik, dan harus mampu mengikuti arus putaran zaman yang cepat.?

“Mudah-mudahan IPNU menjadi kader NU masa depan yang bisa kita harapkan,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta tersebut.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia juga berpsan agar kader IPNU, dalam menjalankan organisasi untuk menghindari konflik internal, karena itu sangat merugikan.?

Daripada konflik, lanjutnya, lebih baik IPNU fokus untuk hal-hal yang positif demi menjaga kekuatan Islam Ahlussunah wal-Jamaah, Islam Nusantara, sekaligus juga memperkuat peran dan posisi ulama, kiai-kiai NU.

“Akhir-akhir ini ada upaya kiai NU digeser dalam kepemimpinan agama,” pungkas kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak tersebut. ?

KH Said Aqil Siroj pernah aktif Pimpinan Anak Cabang IPNU Palimanan Kabupaten Cirebon sebagai sekretaris pada tahun 1965. (Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Santri, Kiai, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Kyai, PonPes Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Sejak Ada Liga Santri, Jumlah Pendaftar Pesantren Meningkat

Bandung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Semenjak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggulirkan kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) di jagad persepakbolaan pondok pesantren, kini sudah mulai menampakkan berbagai dampak positif termasuk peningkatan pendaftar yang nyantri di pesantren yang memiliki tim sepak bola. 

Sejak Ada Liga Santri, Jumlah Pendaftar Pesantren Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejak Ada Liga Santri, Jumlah Pendaftar Pesantren Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejak Ada Liga Santri, Jumlah Pendaftar Pesantren Meningkat

Fenomena tersebut disampaikan oleh pengurus pondok pesantren Manbaul Hikmah Kendal Rifqil Muslim. Ia mengungkapkan bahwa ada beberapa santri saat wawancara pendaftaran masuk pesantren, ketika ditanya tentang motivasi menyantri, ternyata mereka menjawab salah satunya karena ada Liga Santri Nusantara.

“Tidak apa-apa, yang penting kan tujuannya untuk ngaji,” tegas Rifqi yang juga sebagai official tim Manbaul Hikmah yang sudah berdiri sejak tahun 1983 didirikan oleh Ustad Suyuthi.

Hal senada juga diungkapkan pengajar pondok pesantren Nurul Fauzi Karim yang mengakui bahwa ada banyak santri baru yang mendaftar sebab termotivasi adanya Liga Santri Nusantara. Apalagi sejak tim mereka lolos ke babak 8 besar pada pagelaran LSN tahun lalu di Yogyakarta.

“Alhamdulillah ada hikmahnya, ternyata ada santri baru masuk ke pesantren karena termotivasi ada tim sepak bola di pesantren Nurul Fauzi. Tidak cuma mengaji, tapi  juga prestasi,” ungkapnya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Kamis (26/10), di barak penginapan di Pusdikif, kota Bandung.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Adanya LSN anak-anak termotivasi untuk masuk pesantren. Kebetulan tagline Liga Santri ada Ayo Mondok,” tutur Karim yang juga pengajar pondok pesantren Nurul Fauzi Tasikmalaya yang sudah berdiri pada 2012.

Di pihak lain, pesantren Birrul Walidain Lombok Barat juga merasakan hal yang sama. Wakil Ketua Yasasan Abdul Basir mengungkapkan bahwa semenjak ada LSN, pesantrennya mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) bersanam Bintang Muda, sehingga masyarakat banyak mendaftarkan anaknya untuk ikut SSB tersebut.

Hingga hari ini Basir merasakan lewat SSB inilah pesantren Birrul Walidain mulai bertambah santri dan semakin dikenal masyarakat sekitar. Bahkan sejak lolos ke putaran final 32 besar di kota Bandung, pesantren yang berdiri pada 2007 dengan jumlah santri 300 itu semakin diperhitungkan oleh Bupati dan Gubernur. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pemurnian Aqidah, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid menilai, sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dan masyarakat luas. Hal itu diungkapkan Gus Sholah saat meresmikan berdirinya Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), di Tebuireng, Sabtu (18/3).

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Yayasan yang didirikan oleh belasan tokoh pesantren lintas ormas, cendekiawan lintas kampus, dan beberapa pengusaha muslim tersebut dimaksudkan untuk menguatkan peran pesantren dalam tiga ranah. Yaitu, pesantren sebagai benteng pembangunan karakter, pembangunan ekonomi umat, dan salah satu pilar kekuatan kepemimpinan bangsa.

Dalam sambutannya, Gus Sholah yang ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I mengulas peran pesantren dan ulama dalam sejarah perjalanan bangsa. "Kalau tidak ada kiai dan pesantren, maka patriotisme warga Nusantara --yang kemudian menjadi bangsa Indonesia-- akan hancur berantakan," ungkap Gus Sholah mengutip catatan Douwes Dekker.

Menurut Gus Sholah, harus diakui bahwa kalangan di luar pesantren adalah kelompok yang mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dalam Kongres Pemuda II pada 1928. "(Tapi) nasionalisme yang mereka usung adalah nasionalisme yang tidak memberi tempat memadai bagi sesuatu yang berbau keislaman," ujarnya di hadapan ratusan kiai yang memenuhi Aula H. Bachir Pesantren Tebuireng.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini kemudian mengulas upaya-upaya peminggiran Islam dalam catatan sejarah. "Dalam buku berjudul The Idea of Indonesia, A History karya RE Elson, tidak ada tempat bagi Islam. Nama KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan dan H Agus Salim tidak tertulis dalam buku itu. Buku karya Ricklefs juga bernada sama. Yang tertulis hanya nama HOS Tjokroaminoto," tandasnya

Pada saat itu, imbuh Gus Sholah, pandangan kalangan luar terhadap pesantren dapat disimpulkan dari pidato Bung Karno saat mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari IAIN Ciputat pada 1964. Dalam pidato tanpa teks, Bung Karno mengkritik pesantren dengan menyebutnya sebagai gudang besar yang tidak punya pintu dan jendela, sehingga terasa pengap dan apek.

Terhadap penilaian tersebut, Gus Sholah lalu mengutip pendapat Menteri Agama saat itu. "Menurut KH Saifuddin Zuhri (Menag saat itu), yang menganggap bahwa pesantren tidak punya jendela dan pintu adalah mereka yang tidak tahu di mana letak pintu dan jendela (pesantren) itu," tegasnya, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Terkait tantangan ke depan, Gus Sholah melihat bahwa potensi pesantren dalam pendidikan amat besar, tetapi belum termanfaatkan dengan baik. "Ada potensi lain yang bisa dimanfaatkan tapi hampir belum tersentuh, yaitu dalam aspek ekonomi. Inilah salah satu potensi yang akan menjadi bidang garapan dari YP3I dan pihak lain," tandas lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Potensi lain yang dimiliki pesantren adalah ajaran wasatiyah (moderatisme) yang diajarkan sejak awal penyebaran Islam di wilayah nusantara. "Islam rahmatan lil alamin yang membuat Islam dan paham kebangsaan (Indonesia) bisa terpadu dan tidak memicu konflik, seperti di banyak negara Timur Tengah," tandasnya.

Di akhir pidatonya, Gus Sholah menyoroti hubungan Islam dan negara yang mulai terganggu sejak 2016. Baik karena kasus Al-Maidah maupun adanya anggapan bahwa pemerintah memberi angin kepada keluarga PKI dan yang dianggap. "Muncul anggapan, kalau tidak memilih kepala daerah (dan mungkin kepala negara) nonmuslim, maka keindonesiaan, kebinekaan dan kepancasilaan kita diragukan," pungkasnya.

Selain diisi orasi Gus Sholah, deklarasi YP3I juga dimeriahkan dengan seminar yang dihadiri oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Haddad dan Sekjen Kementerian Agama Nur Syam. Juga pameran produk unggulan dari berbagai pesantren di Indonesia.

Beberapa kiai dan cendekiawan terkemuka yang tampak hadir antara lain Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Sholeh Qosim, Imam Besar Masjid Al-Akbar KH Ahmad Zahro, pengurus Masjid Istiqlal KH Muzammil Basuni, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta Shofwan Manaf dan Rektor Universitas Darussalam Gontor KH Fathullah Amal Zarkasyi. Juga, Ketua Umum YP3I Marzuki Alie dan Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Heppy Trenggono. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Berita, Kiai, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

PW Muslimat NU DKI Jakarta Gelar Lomba Qasidah

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta mengadakan perlombaan qasidah Rawi Barzanji dan Ad-Diba‘i. Perlombaan digelar di aula Kantor PWNU Jakarta lantai dua, jalan Talang nomor tiga, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6).

Perlombaan digelar dalam rangka memperingati harlah ke-67 Muslimat NU. “Sejumlah 36 grup qasidah mengikuti perlombaan. Mereka berasal dari grup qasidah yang tersebar di wilayah Jakarta,” kata anggota Kewirausahaan dan Koperasi Muslimat NU Mutia kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal di lokasi perlombaan, Sabtu (1/6) siang.

PW Muslimat NU DKI Jakarta Gelar Lomba Qasidah (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Muslimat NU DKI Jakarta Gelar Lomba Qasidah (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Muslimat NU DKI Jakarta Gelar Lomba Qasidah

Jumlah grup yang mengikuti lomba terbilang cukup banyak. Jumlah itu sudah mendekati angka 50 yang ditargetkan oleh panita lomba. Padahal panitia hanya membuka pendaftaran mulai awal Mei sampai 25 Mei, tambah Mutia yang sedang melayani kebutuhan konsumsi para kontestan di meja panitia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Mutia, informasi lomba dilanjutkan pengurus-pengurus cabang Muslimat NU di Jakarta. Setiap grup peserta lomba dikenakan biaya sebesar 50.000 untuk konsumsi. Sedangkan pengumuman pemenang dan pembagian hadiah disampaikan pada kegiatan tabligh akbar dan Isra’ Mi‘raj di taman Monumen Nasional (Monas), Sabtu 8 Juni 2013.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pemenang tentu akan menerima piala dan uang tunai. Sedangkan setiap grup qasidah peserta lomba akan menerima piala partisipasi, tandas Mutia.

Perlombaan qasidah berlangsung sejak pukul 8.00 hingga 17.00. Setiap grup mengenakan seragam kebanggaannya. Di sekitar mereka, tergeletak alat-alat musik yang mereka mainkan di hadapan peserta lain, dewan juri, dan warga Muslimat NU.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ahlussunnah, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Madrasah Arabia Zahoor-ul-Islam Pakistan Tolak Aksi Kekerasan Agama

Pakistan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Madrasah (Pondok Pesantren) Arabia Zahoor-ul-Islam Talagang Pakistan, Syed Maulana Akhlaq Ahmed secara tegas menolak berbagai aksi kekerasan agama. Pernyataan tersebut dilontarkan saat ia menerima kunjungan Tim KBRI Islamabad, Ahad (21/8) waktu setempat. 

Madrasah Arabia Zahoor-ul-Islam merupakan salah satu madrasah besar yang terletak di Distrik Talagang. Madrasah yang berdiri sejak tahun 1974 ini dipimpin oleh Syed Maulana Akhlaq Ahmed dengan 750 siswa yang datang dari berbagai negara, seperti Indonesia, Kazakhstan, Malaysia, Thailand, Myanmar, Filipina, RRT, Perancis, Azerbaijan dan hampir semua kota di Pakistan.

Menurut Syed Maulana Ahmed, madrasahnya mendalami ilmu agama Islam murni yang bersumber dari kitab suci Al-Quran, hadits Nabi, ilmu Fiqh, dan ragam pengetahuan lain dengan semangat ajaran Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Suatu spirit asli Islam yang sayangnya sering di selewengkan oleh beberapa pihak yang memiliki kepentingan pribadi dan golongan, sehingga justru bertentangan dengan jiwa Islam yang sesungguhnya.

Madrasah Arabia Zahoor-ul-Islam Pakistan Tolak Aksi Kekerasan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Arabia Zahoor-ul-Islam Pakistan Tolak Aksi Kekerasan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Arabia Zahoor-ul-Islam Pakistan Tolak Aksi Kekerasan Agama

"Madrasah ini sangat mengecam keras tindakan para teroris dan perusak kedamaian dengan memakai baju Islam. Mereka golongan yang jauh tersesat. Mereka adalah musuh besar madrasah ini," tukas Syed Maulana Ahmed.

Sebanyak tujuh orang santri dari Indonesia berasal dari Kalimantan Timur, Riau, NTB, Lampung, dan Aceh menuntut ilmu di madrasah ini. Mereka mendapatkan berbagai fasilitas yang cukup bagus. Mereka semua dibebaskan dari uang pendidikan dan konsumsi, serta hanya membayar sedikit biaya untuk pembelian buku ajaran. Semua santri khususnya para WNI terlihat sangat sehat baik fisik maupun psikis. Mereka terlihat menikmati kehidupannya di madrasah itu. 

Dokumen kewarganegaraan Indonesia berupa paspor semua dalam keadaan baik dan tidak kadaluwarsa. Visa juga tidak kadaluwarsa, beberapa santri sedang prosesi memperpanjang visa yang diurus oleh  bagian administrasi madrasah secara kolektif.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai upaya pembinaan dan pembekalan penguatan jaringan bagi warga Pakistan peserta dan alumni program Beasiswa Dharmasiswa, tim KBRI Islamabad kemudian mengadakan pertemuan dengan warga Pakistan penerima beasiswa Dharmasiswa Indonesia 2016 Muhammad Ibrahim Paracha. Kegiatan ini untuk memberikan berbagai pembekalan, konsultasi dan pembinaan terkait program beasiswa yang bersangkutan yang akan dimulai pada 29 Agustus 2016. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Paracha menyatakan kesiapannya dan merasa tidak sabar untuk segera bisa tinggal dan belajar di Indonesia. Ia mendapatkan beasiswa pada program Design Interior dan Bahasa Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Guna penguatan jaringan dan pendekatan people to people contact, pihak KBRI juga telah bertemu dengan alumni beasiswa Dharmasiswa 2014, Azzeem Khan, alumnus program Teknik Industri dan Bahasa Indonesia ITB Bandung. Selepas mengikuti program beasiswa dari Indonesia, Azzeem melanjutkan studi di Universitas Peshawar program Ilmu Informatika. 

Kegiatan silaturahim seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut dan dapat dilakukan secara merata di kota-kota di seluruh wilayah akreditasi KBRI Islamabad. (Muladi Mughni/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Memberdayakan Ekonomi Umat Melalui E-Kartanu

Medan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rangkaian kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Medan, Sumatera Utara, Jumat-Sabtu (1-2/4) diantaranya membahas tentang E-Kartanu. Kartu elektronik keanggoataan warga NU ini yang terintegrasi dengan fasilitas Bank Mandiri ke depan akan dikembangkan untuk memberdayakan ekonomi warga NU.

Memberdayakan Ekonomi Umat Melalui E-Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Memberdayakan Ekonomi Umat Melalui E-Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Memberdayakan Ekonomi Umat Melalui E-Kartanu

Dalam sesi diskusi bersama para pengurus wilayah LPNU, Ketua PBNU KH Hasyim Wahab dalam arahannya mengatakan, perekonomian warga NU yang dirintis jauh sebelum Indonesia merdeka melalui perkumpulan Nahdlatut Tujjar harus terus dikokohkan dan dikembangkan.

“Program bagus PBNU dengan menggagas pembuatan E-Kartanu yang terhubung dengan sistem Bank bisa dimanfaatkan betul oleh warga NU. Kartu ini dapat digunakan untuk mengembangkan dan memberdayakan perekonomian warga NU,” ujar Kiai Hasyim Wahab, Jumat (1/4) malam didampingi Ketua LPNU Harvick Husnul Qolbi yang sebelumnya juga memberikan arahan kepada para peserta Rakernas di Hotel Grand Serela Medan.

Dalam kesempatan tersebut, Putra KH Wahab Chasbullah ini juga berharap bahwa kegiatan Rakernas LPNU ini dapat merumuskan dan mewujudkan program-program perekonomian sesuai dengan kebutuhan warga NU.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU HA Helmy Faishal Zaini yang juga memberikan arahan dalam sesi ini menjelaskan, selama ini jumlah warga NU yang mencapai lebih dari 90 ribu jiwa belum terverifikasi dengan baik oleh para pengurus NU.

Menurutnya, di sinilah pentingnya kartu identitas ke-NU-an bagi seluruh Nahdliyin. Selama ini sebagian pengurus wilayah memang sudah aktif memverifikasi jumlah warga NU melalui pembuatan Kartanu. Namun demikian, Helmy menginginkan Kartanu bisa digunakan lebih dari sekadar identitas NU.

“Maka PBNU menggagas pembuatan E-Kartanu bekerja sama dengan Bank Mandiri. Kartu ini mempunyai fungsi dan kelebihan secara dinamis untuk membayar tagihan apapun,” jelas Helmy.

Berangkat dari E-Kartanu ini, lanjut Helmy, ke depan akan dikembangkan dalam bentuk sistem aplikasi E-Kartanu. Dalam aplikasi ini akan memuat berbagai kebutuhan warga NU, baik sebagai tabungan masa depan maupun sebagai alat pembayaran secara elektronik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Dari jumlah warga NU yang mencapai 91,2 juta jiwa dengan berbagai potensi ekonominya, E-Kartanu bisa dikembangkan untuk mewujudkan kesejahteraan warga NU,” terang Helmy.

Secara resmi, pembukaan Rakernas LPNU bertajuk ‘Dengan Semangat Islam Nusantara, Kita Menyongsong 100 Tahun NU dan Kebangkitan Perekonomian Indonesia ini akan dilaksanakan Sabtu (2/4) di Medan International Convention Center (MICC). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaSantri, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Ingin Lacak Naskah Klasik Keagamaan, Inilah Lamannya

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Guna memfasilitasi masyarakat atau pihak-pihak lain yang menginginkan akses terhadap manuskrip klasik keagamaan, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan (LKK) Kementerian Agama kini sudah mempublikasikan hasil naskah-naskah yang selama ini sudah dikumpulkan. Alamat laman untuk menyimpan naskah-naskah tersebut adalah http://lektur.kemenag.go.id/manuskrip/

Laman tersebut menyediakan data hasil penelitian sejak tahun 2013-2016 dengan jumlah sekitar 2500 naskah. Karya yang diunggah berasal dari berbagai tempat seperti Aceh, Banten, Jawa Barat, Sumatra Barat, dan lainnya. Pembaca dengan mudah bisa mengunduh dan menyimpan naskah klasik yang disimpan dalam bentuk JPEG sehingga bisa dibaca di semua komputer atau tablet.?

Ingin Lacak Naskah Klasik Keagamaan, Inilah Lamannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Lacak Naskah Klasik Keagamaan, Inilah Lamannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Lacak Naskah Klasik Keagamaan, Inilah Lamannya

Dilihat dari gambar yang ada, beberapa naskah kondisinya sudah tidak baik seperti adanya bekas air, sobek atau tinta yang sudah luntur. Digitalisasi ini berhasil menyelamatkan keberadaan naskah berharga itu.?

Kemenag, dalam setiap naskah yang diunggah memberikan watermark (penanda digital) bahwa naskah tersebut dipotret oleh pihaknya.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam setiap halaman juga dideskripsikan tentang sumber naskah, jenis kertas, bahasa dan huruf yang digunakan. Lalu isi naskah tersebut dibahas singkat, mulai dari siapa yang menuliskannya, pembahasan dan hal-hal lain terkait dengan pentingnya naskah tersebut. Hal ini akan memudahkan publik awam yang tidak bisa membaca huruf pegon karena naskah-naskah tersebut ditulis dalam huruf Arab Jawi sebagaimana tradisi klasik yang berlaku di Nusantara. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sejarah, Anti Hoax, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 30 November 2017

Jalan Jihad Pelajar dan Santri

Oleh: Uub Ayub Al Ansori?



Saat mondok dulu saya pernah mendengar kutipan "Tetesan tinta seorang pelajar lebih berharga dari darah seorang syuhada". Entah hadits, entah korasan dari kitab kuning atau ungkapan kiai. Saya tidak tahu. Namun dipikir-pikir setidaknya kutipan tersebut merupakan bentuk penegasan bahwa betapa pelajar-santri yang sedang mencari ilmu berada dalam kedudukan dan posisi sangat berharga di hadapan Allah SWT.

Saya tidak hendak merendahkan para syuhada apalagi merendahkan makna jihad. Tapi jihad bagi pelajar-santri adalah belajar. Belajar bagi pelajar-santri adalah mencari dan menguasai ilmu. Karena dengan ilmu kita dapat meraih kemuliaan. Belajar kata James Whittaker berarti juga proses dimana perilaku yang dihasilkan atau dimodifikasi melalui pencarian ilmu, pengalaman, dan pelatihan.

Jalan Jihad Pelajar dan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Jihad Pelajar dan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Jihad Pelajar dan Santri

Derajat kemuliaan manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mampu menguasai ilmu. Ketidakmampuan dlm menguasai ilmu atau pengetahuan akan mengantarkan manusia ke jurang kebodohan. Dengan ilmu selain menjadikan kita berpengetahuan juga berperadaban. Ilmu mengantarkan manusia ke keadaban. Meraih dunia dan akhirat. Ingat sabda Nabi Muhammad SAW yang sering kita dengar, yang artinya: “Barangsiapa yang ingin meraih dunia maka ia harus menguasai ilmu. Dan barangsiapa yang ingin meraih akhirat maka ia harus dengan ilmu. Dan barangsiapa ingin meraih keduanya maka juga harus dengan ilmu.”

Hadits Nabi di atas menegaskan bahwa jangan bermimpi memiliki peradaban maju dan berkelas jika para pelajar-santri nya tidak mau serius belajar mencari ilmu. Jangan pernah membayangkan enaknya surga jika para pelajar-santri nya enakan tidur pulas saat ngaji atau belajar.

Allah SWT sendiri mengkhususkan ayat bagi para pencari ilmu. "Allah akan mengangkat orang2 beriman di antara kamu dan orang2 yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat" (Al Mujadalah: 11).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jalan Jihad Pelajar-Santri

Dalam proses belajar, saya sebut sebagai "jalan Jjhad pelajar-santri", ada beberapa ketentuan yang harus dilakukan. Menurut Imam Al Zarnuji dalam kitab Talim Al Mutaallim, bahwa ketentuan mencari ilmu ada enam, yaitu cerdas-mau berpikir, penuh semangat, sabar-penuh perjuangan, ada bekal-biaya, Bersahabat dengan guru, dan waktu yang lama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Cerdas salah satu sayaratnya. Saya lebih suka memaknainya sebagai kemauan untuk berpikir. Sebodoh-bodohnya orang -meskipun tidak ada yang benar-benar bodoh di dunia ini- pasti ada sedikit keinginan untuk berpikir. Dalam berjihad mencari ilmu pelajar-santri sudah seharusnya selalu mau berpikir.

Setelah kita memiliki kemauan untuk berpikir, jalan selanjutnya adalah semangat. Dengan penuh semangat apa pun mudah diraih, termasuk ilmu. Semangat inilah yang mengantarkan pelajar-santri memperoleh predikat takwa.

Kalau kita sudah mau berpikir dan memiliki semangat, maka dengan sabar dan penuh perjuangan apa yang kita cari dari proses belajar sedikit-demi sedikit akan kita raih. Kita jangan berharap tinggi dapat ilmu laduni kalau dalam belajar saja tidak mau bersabar dan berjuang. Maksimalkan dan upayakan segalanya dalam proses, biarkan hasil akhir Allah SWT yang menentukan.

Ketiga ketentuan di atas harus pula ditopang oleh kebutuhan akan bekal dan biaya dalam belajar. Kita perlu makan-minum, membeli alat untuk belajar, dan kebutuhan lainnya. Namun biaya jangan menjadi penghalang kita dalam belajar. Sekarang sudah zamannya kemudahan dalam belajar. Tidak perlu biaya mahal untuk belajar. Kalau kita berangkat dari keluarga yang kurang mampu tidak ada alasan untuk tidak belajar. Manfaatkan apa yang ada dan syukuri.

Nah, belajar juga perlu guru. Di Sekolah atau madrasah kita akan menemukan guru dengan berbagai macam pola pikir dan perspektif keagamaan tertentu. Bersahabatlah dengan guru yang memiliki pemikiran terbuka soal keagamaan. Guru yang tidak memaksa apalagi suka mencaci maki dan mudah mengkafirkan sesama orang Islam.?

Kalau di pesantren ada kiai-nyai dan ustad-ustadzah yang sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Carilah guru yang jelas sanad keilmuannya dan bersahabatlah dengannya. Dengan penuh rasa takdim, kalau belajar pada guru, kita juga bisa banyak bertanya dan berdiskusi langsung. Sehingga ada transfer atau sharing keilmuan. Bersahabat dengan guru atau ustad sangat dianjurkan agar ikatan batin antara guru-murid semakin kuat. Khusus untuk pelajar-santri perempuan jangan sampai kepincut guru-ustad karena kegantengannya ya. Biasanya saling naksir-menaksir, bisa jadi nanti dijodohkan Pak Kiai dan Bu Nyainya.

Boleh kita belajar dari sumber lain seperti buku, internet, dan lain lain asalkan jelas dan kita harus pintar-pintar memilah dan memilih sumbernya. Jangan sampai terjebak dalam sumber-sumber yang tidak jelas, yang menjerumuskan kita pada kedangkalan berpikir. Apalagi belajar ilmu agama, jangan sampai kita terjerembab pada lembah keagamaan yang penuh kebencian dan caci maki. Kalau soal ini carilah buku-buku dan situs-situs dakwah yang santun dan mengajak pada kebaikan.

Lalu belajar perlu waktu yang lama. Kenapa? Kata al-Maghfurlah Akang KH Muhammad (Pendiri Ponpes Kebon Jambu Al Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon), mencari ilmu itu seperti menggali sumur di tanah yang tandus. Satu sampai enam meter menggali tanah mungkin saja belum menemukan titik mata air. Tapi kalau sudah 7 meter ke atas bisa jadi kita menemukan mata air, meskipun cuma setetes. Begitupun mencari ilmu, harus lama waktunya. Maka kepada para santrinya, Akang menganjurkan untuk mondok minimal 7 tahun. Kalau 7 tahun, meskipun tidak pintar2 amat, yakin akan ada setetes ilmu yang kita peroleh dan manfaat.

Lah, sekarang zaman sudah semakin canggih dan modern. Selain enam tadi, kita juga harus mampu menggunakan teknologi atau perangkat modern seperti komputer, laptop, smartphone, dan lain sebagainya. Juga mampu mengaplikasikan perangkat lunaknya dengan bijak. Kita akan menemukan banyak sekali perangkat untuk belajar dari internet dan aplikasinya. Karena dunia internet bebas nilai, maka para pelajar-santri mesti bijak dalam menggunakannya.

Dari uraian di atas, kita juga mesti ingat dawuh sesepuh kita di pesantren: rajin belajar-ngaji supaya pintar, dan rajin berjamaah supaya benar. Oleh karena itu, yuk belajar dan terus belajar. Ngaji dan terus ngaji. Belajar-Ngaji tentang ilmu pengetahuan disertai akhlak al karimah adalah jalan jihad paling elegan yang mampu membawa kita bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu alam bisshawabi.









Penulis adalah santri Pondok Kebon Jambu Al Islamy Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Gebyar Prestasi Al-Quran Wujudkan Manusia Qurani

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah Surabaya memberikan apresiasi kepada siswa-siswi prestasi dalam ilmu Al-Quran. "Kemampuan siswa dalam membaca dan menghafal Al-Quran patut diberi apresiasi, maka dari itu kami mengadakan wisuda bagi para penghafal Al-Quran," kata H Agus Fahmi, Ketua Panitia, Sabtu (1/4). ?

Acara yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, merupakan puncak dari berbagai rangkaian. Sebelum digelarnya ujian terbuka dan wisuda ini para siswa harus mengikuti ujian munaqosah tartil dan tahfid. "Ada tiga ujian yang harus diikuti siswa. Ujian ditingkat Yayasan dan ujian berikutnya di Pesantren Ilmu Al-Quran Malang," lanjut Agus.?

Gebyar Prestasi Al-Quran Wujudkan Manusia Qurani (Sumber Gambar : Nu Online)
Gebyar Prestasi Al-Quran Wujudkan Manusia Qurani (Sumber Gambar : Nu Online)

Gebyar Prestasi Al-Quran Wujudkan Manusia Qurani

Mendikbud RI Muhadjir Effendy, mengatakan sudah saatnya negeri ini membangun manusia qurani, agar setiap kehidupan yang dilakukan perpedoman pada Al-Quran.?

"Kami berharap dari gebyar prestasi Al-Quran ini, Yayasan Khadijah bisa memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat Qurani sehingga revolusi mental bisa terwujud," kata pria asal Malang, Jawa Timur ini.?

Selaras dengan keinginan Mendikbud itu, Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, membangun karakter bangsa dengan mewujudkan masyarakat qurani maka dengan sendirnya revolusi mental terwujud.?

"Kenapa seperti itu? Karena Al-Quran mengajarkan Islam itu penuh damai, kasih sayang bukan yang menakutkan. Al-Quran menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia beragam suku, adat dan bahasa," tegas Khofifah.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perempuan yang menjabat sebagai Menteri Sosial saat ini, menceritakan sekitar tahun 2006 dirinya meminta kepada yayasan agar ada forum yang bisa melihat, mengukur dan mengetahui standart kompetisi anak dalam memahami dan menghafal Al-Quran.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain itu pihak yayasan membuat kesepakatan kepada wali murid, jika ada murid yang sudah lulus SD dan belum hatam bacaaan Al-Quran, maka si murid dan wali muridnya harus rela tidak menerima ijazah. "Hal itu sudah ada dalam perjanjian antara yayasan dan wali murid," pungkas Khofifah. (Rof Maulana/Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 20 November 2017

Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain”

Oleh: Fuad Al-Athor



Film pendek berjudul “Kau Adalah Aku yang Lain” menurut penulis, memang layak menjadi pemenang Police Movie Festival IV 2017. Pesan-pesan yang disampaikan melalui film ini sangat tajam dan mengena.?

Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain” (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain” (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayang Betapa Sayang dari “Kau Adalah Aku yang Lain”

Pesan-pesan ini, pertama, baik yang secara langsung bisa disimak dari dialog antara karakter Pak polisi dan karakter bapak gondrong yang bertugas menjaga jalan untuk pelaksanaan pengajian yang memakai sarana publik sebagai tempat mereka mengaji. Perdebatan antara polisi yang lengkap dengan dalil tentang toleransi begitu cadas menepis argumentasi lawan bicaranya yang bersikukuh bahwa dia sedang membela Islam, agamanya.?

Tampak, dalam pemahaman penjaga jalan itu ketinggian Islam melebihi dan tiada mungkin disejajarkan dengan, selembar rasa welas-asih untuk memberi jalan demi menolong nonmuslim yang sedang meregang nyawa dalam mobil ambulans itu. Kalau begitu, betapa egois-nya beragama itu.

Bisa dibayangkan kebaikan macam apa bisa diharapkan tumbuh dalam jiwa pemeluk agama yang sejak semula menolak berseminya welas-asih dalam dirinya. Kalau kemarahan sudah menjadi ekspresi umum dari seorang muslim, itu menunjukkan kekanak-kanakkannya dalam penghayatan keberagamaannya. Sialnya, ini zamannya. Di mana kemarahan, makian dan umpatan umum dimuntahkan, bahkan pada sosok ulama sekalipun! Naudzubillahi min dzalik..

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kenyataan ini menjawil pemikiran kita untuk bertanya, jangan-jangan agama sedang menuju kegagalan dalam misinya untuk membentuk pribadi-pribadi berakhlak mulia dan membangun peradaban yang damai. Jarak antara perintah-perintah berbuat kebaikan dan kenyataan masih banyaknya kerusakan yang diperbuat manusia membuat dahi kita berkerut. Apanya yang salah? Agamanya? Bukankah ia lengkap, tinggi (luhur) dan tak ada yang lebih tinggi (luhur) lagi? Bukankah ia ajaran suci yang mengandung pedoman, prinsip-prinsip dan petunjuk yang bahkan teknis untuk berbuat kebaikan? Ia ajaran paripurna. Kalau begitu apanya yang korsleting? Mau tak mau, diakui atau tidak, manusianyalah yang tak sanggup memanggul ajaran suci tersebut. Kitalah yang terlalu lemah untuk mengemban ajaran mulia yang dibacakan Jibril (as) tersebut.

Sayangnya lagi, introspeksi bukanlah hal yang digandrungi di zaman sosmed ini. Pengakuan akan kelemahan diri untuk mengemban misi agung islam jarang kita dengar, sebaliknya pembenaran-pembenaran atas perbuatan merusak dan penghakiman serta pembunuhan karakter orang-orang mulia justru marak di hadapan kita. Cermin atas betapa kerasnya kita punya hati. Seolah-olah tak mempan lagi dilunakkan dengan nasihat-nasihat yang berserakan dalam teks-teks keagamaan. Apalagi menarik pembelajaran dari peristiwa-peristiwa alam, tak kuasa. Inilah jarak yang begitu jauh terbentang antara realitas kesanggupan kita berbuat baik yang lunglai dengan idealisasi yang semestinya sebagaimana disuratkan dalam ajaran agama kita.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Seperti yang dapat dimengerti dari pesan kedua dari film pendek ini. Mencermati pengadeganan pengajian yang diberikan oleh sang kiai tak ada yang salah. Bahkan secara visual kita diajak untuk menangkap pesan bahwa ini adalah pengajiannya kelompok sufi. Dari pakaian dan materi yang disampaikan. Semua merujuk pada sufisme. Sebuah kelompok yang lazim mengedepankan kelembutan dan kasih sayang dalam praktek keagamaannya. Sampai pada frase, “Kau adalah aku yang lain”, yang disampaikan oleh sang kiai yang menjadi judul dari film pendek ini, pun, merupakan kata-kata yang mengesankan kedalaman sufisme. Universal, sangat rahmatan lil alamin dan tentu saja benar dan bahkan sholeh secara sosial.

Namun apa yang terjadi, di tempat dan waktu bersamaan di mana kebenaran dan keluhuran dibacakan, toh masih ada kemungkinan ajaran dipraktekkan secara keliru. Sang kiai boleh saja mengumandangkan nilai-nilai luhur, tapi apa boleh buat, sebagian hadirin di majelisnya justru sedang bersikap bertolak belakang dengan arahannya. Lagi, ada jarak yang begitu jauh dalam idealisasi keluhuran-keluhuran ajaran dengan pelaksanaannya di kehidupan. Inilah pesan-pesan yang mengandung kritik terhadap ekspresi keberagamaan kita. Tentu, hanya orang yang bijaksana yang mampu menerima kritik dan menjadikannya pelajaran berarti.

Kemampuan film berdurasi 7 menit 41 detik ini dalam menyampaikan secara elegan pesan yang begitu membuat kita malu atas kelemahan-kelemahan kita dihadapkan kebenaran ajaran-Nya inilah yang layak kita acungi jempol. Betapa kita terlalu kenyang dengan agama yang nasihat, namun sangat malas menjadikannya bingkai mujahadah untuk memperbaiki diri. Kata orang di status-status sosmed, ini peradaban yang dibangun oleh generasi kebanyakan micin (penyedap rasa) lembek. Maunya instan, langsung jadi. Padahal sejak awal kita dihidupkan untuk diuji, digembleng, diproses, dilatih agar menjadi lebih pantas untuk menyandang dan mengemban ajaran-ajarannya, al-Islam.

Parahnya lagi, alih-alih bersyukur dengan adanya film berkuatan kritik nan halus ini, justru banyak yang tersinggung dengan film pendek ini. Terlepas apakah sedang ada sekelompok orang yang melakukan framing menggunakan film pendek ini dengan memenggal-menggalnya lebih pendek lagi, yang jelas kemarahan ini, lagi-lagi, semakin memperterang ihwal masih rapuhnya kedewasaan keagamaan kita. Dan, super parahnya lagi, yang marah justru tokoh-tokoh penting bangsa ini! Ampuuuun......!!!!









Penulis bisa ditemui di Twitter @fuad_alathor atau di Facebook: Fuad Al Athor

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Habib, Kiai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock