Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Salamun Rabu Wekasan

Oleh Abdullah Zuma

Gelar sarjana telah di pundakku beberapa bulan lalu dari perguruan tinggi di ibu kota. Ijazahku nilainya bagus-bagus. Aku sudah ditawari bekerja di beberapa perusahaan. Namun aku menundanya untuk istirahat dulu di rumah beberapa bulan untuk membicarakannya dengan ibu. Meski demikian, ternyata gelar sarjana itu tak berguna untuk sekadar masuk ke ruang depan di rumah orang tuaku sendiri. Aku sudah berkali-kali membukakan pintunya, tapi selalu urung. Seolah ada kekuatan yang menolakku, mendorong untuk mengatupkan daun pintunya kembali, perasaan bersalah yang besar.

Salamun Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Salamun Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Salamun Rabu Wekasan

Suatu sore, aku menatap pintu ruangan itu sambil duduk di kursi sembari menikmati kopi dan singkong rebus yang disuguhkan ibu. Tapi rasanya tawar. Pikiranku melayang-layang pada pintu itu, ruangan itu, isinya, dan pada almarhum ayahku yang meninggal setahun lalu.

Belum sempurna lamunan, pintu rumah ada yang mengetuk, uluk salam, dan langsung mendorong pintu. Di ambang telah berdiri tetangga dengan tangan menggenggam piring putih kosong. Piring itu menambah mumet pikiran. Bahkan aku merasa piring itu langsung dilemparkan ke kepalaku.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Aku tak menjawab salam orang itu. Malah pergi ke kamarku kemudian mengunci pintunya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ini pasti Rabu wekasan,” jeritku dalam hati. Aku menangis sesunggukan di dalam kamar. Pikiranku kembali melayang-layang kepada ayah. Wajahnya, ubannya, pecinya, tasbihnya. Perkataan-perkataannya, saat-saat bersamanya bermunculan satu per satu. Begitu jelas.     

***

Ayah mengambil sebuah kitab lusuh agak tebal dari lemari jati yang tampak masih kokoh. Di lemari itu berderet kitab-kitab lain. Kitab yang tebal menyatu dengan yang tebal. Begitu pula yang kecil. Ada juga yang kelihatannya masih baru. Rata-rata kitab yang jilidnya tipis dilapisi dengan sampul. Ada yang dengan koran, bekas almanak dan ada yang memang benar-benar sampul.

Ayah menyebut benda-benda itu dengan kitab kuning. Padahal menurutku, tidak kuning. Bahkan kitab yang baru diambilnya sudah berwarna coklat muda. Pinggir-pinggir halamannya sudah keriting seperti milikku ketika setahun dibawa pulang pergi ke madrasah tanpa tas. Mungkin tokonya sudah lupa menjual kitab itu karena pembelinya saja, ayahnya ayah, telah almarhum.

Kemudian ia membuka jilidnya dengan perlahan seolah tidak ingin ada suara mengikutinya. Di jilid bagian dalam itu tampak tinta hitam tulisan tangan berbahasa Arab, berbaris rapi. Setiap baris tulisan diakhiri angka dengan huruf Arab juga. Ia meraba tulisan-tulisan itu sampai berakhir di satu barisan. Lalu membuka halaman-halaman dengan perlahan. Dan berhenti di angka sesuai akhir baris tulisan di jilid tadi. Ternyata ia tidak memulai dari daftar isi, melainkan dari catatan itu. Entah ayah yang membuatnya atau kakek karena konon ketika ayah nyantri, menggunakan kitab-kitab kakek.    

Di halaman itu, tampaklah rimba semut hitam kaku. Semut-semut itu kadang terjalin dalam satu susunan kalimat, ada juga yang sendirian. Di pengajian malam Jumat bersama bapak-bapak dan Jumat pagi bersama ibu-ibu, berdasarkan semut-semut itu, ayah bisa bercerita tentang para nabi atau sahabat dan para sufi, hukum-hukum yang rumit, perkataan-perkataan ulama, atau kisah-kisah orang alim. Ia bisa membacanya dengan lancar seperti orang kota membaca koran karena di saat senggangnya, ia sering sendirian terpekur di hadapan benda itu di ruangan paling depan rumahku.

Tapi bagiku, jangankan bercerita, melihatnya saja bikin mata kunang-kunang.

"Suatu saat, semut-semut ini harus bicara kepadamu," kata ayah. Dia memberi tekanan pada kata “harus”.

"Bicara? Bagaimana caranya, Ayah?"

"Kau harus belajar nahwu dan sharaf.  Untuk bisa seperti itu, kamu harus nyantri. Ayah nyantri. Kakekmu nyantri. Ayahnya kakekmu juga.”

Aku diam.

“Sore ini Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah,” lanjut ayah sambil mengeluarkan pena bertinta jafaron  yang warnanya kemerahan. Kemudian memanggil ibu di dapur untuk membawakan piring.

Ibu dan kedua adikku datang. Ia menyerahkan piring putih berukuran besar. Kami mengerubungi ayah. Fokusnya kepada pena di atas piring.

“Buat apa Ayah nulis di piring? Apa Ayah sudah tidak punya buku? Aku masih punya,” kata adikku yang pertama, berusia 6 tahun. Ayah tidak menanggapi. Adikku langsung ngeloyor pergi ke kamarnya. Ketika kembali, ia sudah menyodorkan bukunya. Tapi diambil ibu yang langsung membisikkan sesuatu di telinganya. Adik kemudian diam dan memerhatikan ayah. Kami tak ada yang bicara. Termasuk si bungsu.

Tatapan kami tetap seperti semula, ke tangan ayah yang mulai bekerja, mencipta huruf dan rangkaian huruf Arab di atas piring dengan rapi sebagaimana aku lihat di halaman-halaman Al-Qur’an. Ukurannya menurutku seimbang. Selintas, sebagaimana di kitab kuning itu, huruf-huruf itu nyaris seperti barisan semut-semut, cuma bedanya yang ini berwarna merah. Juga barisannya tidak lurus, melainkan berputar ke dalam seperti lingkaran obat antinyamuk bakar.

Ayah terus menulis dengan khusuk. Kami khusuk juga memerhatikannya. Semakin lama, semut-semut yang berbaris melingkar itu semakin berdesakkan. Kemudian tangan ayah berhenti persis di tengah-tengah piring. Dia meletakkan pena itu. Dan semut itu pun berhenti seolah jalan yang akan dilewatinya tercegat.

"Kamu tahu Al-Qur’an berapa juz?” tanya ayah kepadaku.

“Tiga puluh juz, Ayah.”

“Berapa surat dan berapa ayat?”

"Seratus empat belas ayat, dan enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat.”

"Nah, dalam ayat sebanyak itu, perlu kamu ketahui, dalam Al-Qur’an ada 7 ayat yang dimulai kata salamun. Salah satunya ada dalam surat Ya-Siin yang sering kita baca tiap malam Jumat. Kamu ingat?”

“Ingat, Ayah.”

“Coba bacakan!”

“Salamun qaulam mirrabi rahim”.

“Coba apa artinya?”

Aku menggeleng kepala. Aku merasa ayah berlebihan meminta arti ayat kepada anak seusiaku. Ayah-ayah temanku sedesa, mungkin juga sekecamatan, sore itu dan sore-sore yang lain, tak mungkin ada yang bertanya arti ayat kepada anak kecilnya. Sementara ayah menatapku lekat-lekat. Inilah ayahku. Kalau pertanyannya tak terjawab, biasanya marah-marah, setidaknya melotot. Konon kakek dan buyutku juga seperti itu. Pertanyaannya selalu harus berjawab. Jika tidak bisa, membentaklah ia. Apalagi jika pertanyaan itu sudah biasa, ayah sering menghadiahi sapu lidi. Mau berlindung sama ibu adalah sia-sia. Karena ibu selalu berada di pihak ayah. Sedari ingat, aku diajari membaca dan menghafal tiap malam diakhiri dengan tangisan. Ayah dan ibu seolah tak puas kalau aku belum menangis. Beberapa bulan lalu, aku dimintannya mentashrif sebuah fi’il mudlari.  Aku lupa, makanya dimarahi habis-habisan sampai mencucurkan air mata.

Kemudian ayah mengguyurkan sedikit air putih dari ceret ke piring itu. Lalu menghapus-hapus dengan telunjuknya. Sekarang airnya kemerahan. Adikku yang pertama, tanpa komando, hendak turut menghapus dengan telunjuknya juga. Tapi tangan ibu keburu menahannya. Adik bungsu meronta-ronta di pangkuan ibu, sepertinya ingin turut berpartisipasi menghapus juga.  

Kemudian air itu dimasukkan kembali ke dalam ceret. Dan di piring itu tak ada satu pun semut yang tertinggal.  

“Ini adalah Rabu wekasan. Rabu terakhir bulan Safar,” kata ayah, “kalian harus meminum air ini. Guyurkan juga ke dalam bak mandi dan sumur, juga ke kolam di depan kobong. ”

“Kenapa begitu, Ayah?”

“Kamu akan tahu penjelasannya kalau kamu sudah bisa membaca kitab ini,” katanya.

Tak lama setelah itu, beberapa orang tetangga uluk salam dan mengetuk pintu. Mereka membawa piring sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Kemudian ayah menulis di piring itu seperti tadi. Ketika ada yang datang lagi, ayah berbuat serupa. Namun, ketika menjelang maghrib, tetangga yang datang disuruhnya mengambil air dari sumur di dapur untuk dibawa pulang kemudian disatukan dengan air sumur dan minum walaupun setetes.

“Dulu mah para santri juga ikut meminta salamun ,” kata ayah seolah berbicara kepada dirinya sendiri. Sekitar lima tahun lalu, di kobong masih ramai dengan santri. Bahkan sejak zaman buyutku. Tak pernah kurang dari 30 santri yang tinggal. Sedikit memang, tapi tak pernah kering. Mereka berasal dari desa dan kecamatan tetangga. Bahkan pada generasi awal, banyak yang dari luar kabupaten. Namun sekarang tinggal beberapa santri kalong.  Santri tua telah pulang dan menikah, sementara anak-anak generasi baru, tak kerasan tinggal. Alasannya macam-macam.

“Dulu, menurut kakekmu, salamun ini disimpan di saku para santri ketika menghadapi tentara Belanda datang ke desa sini. Buyutmu yang membuatnya, dituliskan dalam selembar kertas,” lanjut ayah bercerita. “Begitu juga ketika datang tentara Jepang, giliran kakekmu yang membuatnya. Tidak hanya para santri yang membawanya, tapi gerilyawan. Sekarang ayah. Kelak seharusnya kamu. Salamun itu tolak bala. Menurut kitab ini, Allah menurunkan berbagai macam penyakit di akhir bulan Safar. Nah, salamun itu tolak balanya, ” jelasnya.

Kami tak ada yang berbicara. Adikku yang pertama pergi setelah meneguk segelas air. Kemudian berlari. Lamat-lamat terdengar suaranya agar meminum salamun entah kepada siapa. Sementara si bungsu menelusup ke dada ibu.   

“Zaman kakekmu, kobong itu dibakar Jepang karena mereka mengetahui tempat itu jadi persembunyian gerilyawan. Rumah kakekmu juga dibakar. Termasuk seluruh kitab kuningnya. Tapi santri selamat semua. Seluruh penduduk kampung mengungsi ke hutan. Sekembali dari pengungsian, kakek tak henti-hentinya menangisi kitab-kitab itu. Ketika zaman telah merdeka, santri berdatangan lagi. Tapi berbulan-bulan dia tak mengajari mereka. Ia masih sedih dengan kitab-kitab itu. Ia mau mengajar lagi ketika datang surat dari gurunya. Sedikit demi sedikit, ia membeli kitab. Semuanya masih terjaga di lemari jati itu. Sementara yang baru-baru, ayah yang beli. Kelak setelah tiada, kaulah dan adik-adikmu pemiliknya.”         

Enam bulan setelah ayah menulis salamun itu, selepas lulus SD, aku dikirimnya ke sebuah pesantren di kota kabupaten. Ayah menyuruhnya nyantri sambil sekolah, dan jangan dibalik. Tapi kenyatannya memang terbalik. Aku sekolah sambil nyantri. Pelajaran di sekolah lebih aku geluti daripada kitab-kitab kuning itu. Aku malas ngalogat  apalagi mutholaah.  Dan tak pernah bertanya apabila ada yang tidak mengerti kepada santri senior, apalagi langsung ke ajengan.  Karena itulah aku sering kena ta’jir.  

Pelajaran di pesantren aku rasa tidak menarik sama sekali dan suasananya juga tidak asyik. Dari hari ke hari aku makin tidak kerasan dan sering menginap di rumah teman sekelas di sekolah. Semakin bertambahlah ta’jir untukku. Makin berlipat-lipat juga ketidakbetahanku.

Ketika ayah mengetahui hal itu, aku pasrah mau dimarahi dengan cara apa pun. Aku kaget karena ternyata ayah tidak marah, melainkan diam. Namun pandangannya ke arah lain. Ada sesuatu di muka ayah yang coklat dan mulai keriput itu, entah apa namanya. Karena tidak ada reaksi, hal itu malah membangkitkan keberanianku untuk meminta sekolah saja. Ayah lagi-lagi diam. Di muka itu aku makin melihat ada bahasa yang panjang tapi tak diungkapkannya. Tapi herannya itu tak menjadi perhatianku karena keinginan hengkang dari pesantren terbuka. Ayah lalu bangkit tanpa sepatah kata pun.

Kelak, aku mengingatnya sejak itu, ia jadi pendiam.

Meski tak mendapatkan izin secara lisan, aku menafsirkan ayah mengabulkan keinginanku. Aku tinggal di kosan bersama teman lain yang berasal dari desa. Kesempatan itu aku manfaatkan sebaik-baiknya dengan belajar giat. Biaya sekolah aku ambil sebulan sekali melalui pintu dapur. Ketika aku mau berpamitan, ayah selalu tiada, seolah menghindariku.

Selepas lulus, perjuanganku tidak sia-sia, aku mendapatkan beasiswa di perguruan negeri di ibu kota. Jurusan kupilih sendiri tanpa bermusyawarah dengan ayah. Dan kini aku jadi sarjana, tapi melihat piring kosong saja pergi, apalagi membuka perpustakaan kitab-kitab kuning ayah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Sunnah, Tegal, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Keadilan dan Pemimpin yang Adil

Rasulullah Pernah bersabda "Satu waktu nanti akan tiba atas umatku penguasa seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?"

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Yang Maha Adil dengan menhindarkan diri dari kedhaliman dan berusaha mendekatkan segala keputusan kita pada keadilan. Walaupun itu bukanlah perkara yang sulit. Sesungguhnya demikianlah perintah Allah dan Rasul-Nya.

Keadilan dan Pemimpin yang Adil (Sumber Gambar : Nu Online)
Keadilan dan Pemimpin yang Adil (Sumber Gambar : Nu Online)

Keadilan dan Pemimpin yang Adil

Adil adalah kata sifat yang dapat dimaknai dengan bertindak sebagaimana mestinya, tidak berat sebelah dan tanpa keberpihakan. Adil adalah memberikan hak kepada pemiliknya, baik hak itu bersifat ganjaran bagi yang berjasa maupun hukuman bagi yang bersalah.

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kata adil dalam bahasa Indonesia seolah tinggal kenangan. Bagi bangsa ini sekarang, adil terkesan mewah dalam realita kehidupan. Popularitas kata adil pada saat ini masih jauh berada di bawah kata android, Iphone, caleg, partai dan lain sebagainya. Begitu pula adanya berbagai lembaga yang berkutat dalam hal putusan dan keadilan sama sekali tidak dapat memposisikan kata adil pada tempatnya, bahkan terkesan membelokkan makna adil itu sendiri.

Padahal adil adalah barang murah, adil tidak perlu dibayar mahal seperti halnya short curse atau studi S1, S2 atau S3. Karena potensi adil selalu terkandung dalam diri tiap insan sebagai pengejawantahan sifat Allah swt ‘al-‘adilu. Adil adalah kekayaan alami yang terkandung dalam diri setiap individu yang hanya memerlukan modal kemauan saja untuk menghadirkannya. Adil bagaikan barang tambang dalam bumi Indonesia yang telah lama tersedia, bahkan semenjak bumi pertiwi ini belum dinamai Indonesia. Kemauan adalah kunci membuka gudang keadilan.

Oleh karena itu, dalam usahan merealisasikan potensi adil yang terkandung dalam diri individu inilah perlu latihan dan pembiasaan. Adil harus diterapkan dalam lingkup kehidupan paling kecil, dari individu, keluarga, dan dari pemerintahan tingkat RT hingga tingkat pusat. Sehingga para bapak bangsa ini menjadikan konsep “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagai salah satu dari Pancasila sebagai Dasar Negara.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jam’ah jum’ah yang berbahagia

Dengan demikian keadilan menjadi salah satu basicstruktur yang harus ada di Indonesia. Dengan bahasa lain Keadilan merupakan masalah ushuliyah yang keberadaannya sudah merupakan barang pasti yang tidak bisa diganti dengan yang lain, apabila bangsa ini ingin lestari. Bukankah demikian peringatan Allah kepada Nabi Daud yang tergambar dalam surat as-shad ayat 26:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.?

Sudah jelas kiranya janji Allah dalam ayat tersebut. Bahwa keadilan adalah syarat mutlaq seorang pemimpin, karena keadilanlah yang akan menentukan arah keberlanjutan sebuah bahngsa. Demikian pentingnya keadilan hingga ada sebuah cerita tentang seorang darwis? yang dimintai pendapat tentang pemimpin yang dhazilim.

?

Sadi bercerita; Alkisah, Seorang raja yang zalim berkenan memanggil seorang darwis ke istananya untuk memberi nasihat. Ketika sufi itu datang, Raja Zalim berkata, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti?"

?

Sang darwis menjawab, "Amal terbaik untuk baginda adalah tidur." Raja itu kehairanan, "Mengapa?" "Karena ketika tidur," jawab sufi itu, "baginda berhenti menzalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kezaliman."

?

Namun manusia adalah insan yang sering lalai dan mudah tergoda dengan berbgai bujuk rayu setan yang menyesatkan. Karenanya hampir dalam setiap jangkah kehidupan ini kedhaliman hadir menggantikan posisi keadilan. Begitulah hingga Rasulullah saw pernah bersabda:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Akan tiba satu waktu kepada umatku penguasanya seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?

Apakah maksud penguasa seperti singa dalam konteks hadits ini? tidak, singa ditamsilkan dalam hadits ini bukan dalam hal keberanian, tapi dalam hal kerakusannya. Singa selalu saja memburu makanan dan demi kepentinga pribadi dan golongannya. Sementara serigala terkenal dengan sifat culas, gesit, dan licik. Ia bisa menggunakan berbagai cara demi menghasilkan buruan walaupun dengan jalan tidak ksatria. Adapun anjing yang suka menjilat pandai sekali menyembunyikan kebuasannya dibalik kejinakan yang dimilikinya. Begitulah Rasulullah saw menerang keberadaan umatnya. Apakah massa yang dimaksud dengan hadits tersebut telah tiba? Wallahu a’lam bis shawab.

Hadirin Rahimakumullah

Hanya saja sebagai garis petunjuk adalah? surat An-Nisa’ ayat 135 haruslah dipegang seorang pemimpin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia[361] kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Demikianlah khotbah singkat kali ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Ya Allah kami sungguh bersyukur atas potensi keadilan yang kau berikan kepada kami, tetapi kami sadar keadilah bukanlah hal yang mudah kami realisasikan. Namun dengan kebesaran-Mu apa susahnya Kau mudahkan keadilan itu hadir pada kehidupan kami ya Allah..

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Akademi Kebidanan (Akbid) Muslimat NU Kudus dapat akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) pada Senin (13/5) lalu. BANPT mengadakan visiting ke kampus yang terletak di Jl. Lambao Karangsambung Bae Kudus, Jawa Tengah tersebut.

BANPT yang menugaskan dua orang asesor itu melakukan penilaian langsung mulai fisik bangunan atau sarana prasarana, sumber daya manusia (SDM) dan kurikulum yang diajarkan.

Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT (Sumber Gambar : Nu Online)
Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT (Sumber Gambar : Nu Online)

Akbid Muslimat NU Kudus Dapat Akreditasi BANPT

Pembantu Direktur II Saiful  Anas menginformasikan, Tim Asesor sangat apresiatif akan potensi Akbid Muslimat NU Kudus. Lembaga berusia 4-5 tahun sudah mampu memiliki sarana prasarana pembelajaran yang lengkap.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kurikulum fiqh terapan yang dikembangkan dalam pengajaran kebidanan mendapat penilaian (apresiatif) tersendiri dari Tim Asesor. Sedangkan SDM Akbid seperti tenaga dosen diminta untuk ditingkatkan,” tutur Anas kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus, Kamis (16/5).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Anas menyatakan secara fisik bangunan termasuk sarprasnya sudah diakui oleh tim Asesor, sedangkan penilaian terkait kualitas SDM-nya masih harus menunggu pleno BNPT, “Memang persoalan SDM telah menjadi perhatian utama Akbid akan terus berusaha ditingkatkan kualitasnya.”kataya.

Dalam pengembangan ke depan, tandas dia, sumber daya manusia (dosen) Akbid Muslimat NU Kudus akan diarahkan penjurusannya pada Magister Kebidanan. Upaya ini menghadapi  akreditasi tahun 2014 yang salah satu instrumennya adalah SDM sesuai dengan kompetensi ilmu kebidanan.

Meskipun begitu, dosen S-2 non-kebidanan tidak perlu berkecil hati karena tetap akan diposisikan mengampu program studi. Namun pengampu khusus Prodi Kebidanan, kita arahkan yang Magister Kebidanan.

Mengenai hasil peniliaian, imbuh Anas, pihak Yayasan hanya berharap mendapat nilai maksimal yang memuaskan.

Redaktur    : Abdullah Alawi

Kontributor     : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Budaya Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

NU Istiqamah Bela NKRI

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. KH Marzuqi Mustamar mengingatkan warga dan para fungsionaris NU untuk tetap kukuh dengan tradisi dan amaliyah yang telah diwariskan para ulama salafus shalih. Karena dengan kemitmen menjaga warisan tersebut akan menyelamatkan bangsa dari perpecahan.

NU Istiqamah Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Istiqamah Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Istiqamah Bela NKRI

Penegasan disampaikan Wakil Rais PWNU Jawa Timur ini saat melantik tiga Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) di Kecamatan Gudo Jombang, Jawa Timur, Kamis (7/8). Ketiga PRNU tersebut adalah Mejoyo Losari, Bugasur Daleman, serta Sukoiber.

Bagi dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur ini, dalam rentang perjalanan panjang bangsa Indonesia, peran dan kiprah serta pembelaan NU kepada eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) demikian menonjol. Sejak zaman pra kemerdekaan, saat kemerdekaan serta hingga kemerdekaan diraih dan hendak direbut kembali oleh penjajah. “Sejarah telah membuktikan hal ini,” kata Kiai Marzuqi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tidak berhenti sampai di situ kiprah NU. Dalam sejarah panjang kepemimpinan Presiden Soekarno Hatta, loyalitas NU masih terlihat jelas. Demikian juga saat Soeharto berkuasa. Bahkan, ketika banyak organisasi sosial keagamaan dan kekuatan politik terbelah antara menerima atau menentang Pancasila,? NU menjadi organisasi sosial keagamaan yang pertama kali menerima Pancasila sebagai asas organisasi. Dalam banyak kesempatan, NU menandaskan bahwa Negara Pancasila adalah upaya final bagi umat Islam dalam memimpikan terbentuknya sebuah negara ideal.

Pembelaan dan komitmen terhadap sejarah panjang bangsa ini adalah di antaranya dapat diwujudkan dengan menjaga tradisi keagamaan yang telah mendarang dan mendaging. Karena itu dalam kesempatan tersebut, Kiai Marzuki mengajak semua kalangan untuk menjaga tradisi yang telah ada.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Identitas NU harus diperjelas dengan amaliyah yang telah menjadi tradisi dan warisan para ulama,” terang Kiai Marzuqi Mustamar. Hanya NU yang konsisten menjaga tradisi kemasyarakatan seperti yang telah digagas oleh para penyebar agama Islam di Nusantara, lanjutnya.

Bagi mantan Ketua PCNU Kota Malang ini, konsistensi dalam menjaga tradisi juga diteruskan dengan keistiqamahan dalam menjaga NKRI. “Hanya NU yang terbukti konsisten dengan komitmen kebangsaan ini,” tegasnya.

Jaga Kekompakan

Ketua PCNU Jombang, KH Dr Isrofil Amar saat memberikan sambutan juga menandaskan agar para fungsionaris NU menjaga kebersamaan dan kekompakan dalam berkhidmah kepada umat. “Kita harus menjaga semangat ittihad atau kekompakan antar para pengurus dan warga,” kata Kiai Isrofil, sapaan akrabnya.

Hal ini kian menemukan momentumnya lantaran belakangan banyak berkembang gerakan dan ideologi transnasional. “Ideologi ini tentu saja akan bertentangan dengan komitmen NU terhadap NKRI,” kata dosen Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang ini.

“Kebersamaan kita juga harus diimbangi dengan semangat ihtiyat atau kehati-hatian,” tandasnya. Kemunculan ISIS dan ideologi ekstrim kanan maupun kiri hendaknya kian membukakan kesadaran para pengurus untuk menjaga kebersamaan dan kehati-hatian tersebut. Bahkan secara khusus, Kiai Isrofil mengingatkan bahwa kemunculan gerakan yang berbeda dengan NU tersebut kini telah merata dan mengepung lingkungan sekitar. “Karena mohon untuk menjaga putra dan putri maupun lingkungan kita dari ancaman gerakan yang jauh dari semangat seperti ajaran para ulama,” katanya.

Bupati Jombang yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan Politik dan Perlindungan Masyarakat, Muhammad Mas’ud menyampaikan harapan agar para pengurus NU bisa bekerja sama dalam menjaga suasana yang kondusif di kota santri ini. Ia juga sependapat dengan para kiai agar setiap tokoh masyarakat dapat menjaga dan membentengi keluarga dari pengaruh paham atau aliran yang mencederai keberadaan NKRI.

Kegiatan pelantikan yang diselenggarakan di Yayasan Pendidikan Islam Wahid Hasyim Pesanggrahan Kecamatan Gudo ini juga dimanfaatkan sebagai sarana halal bihalal antarpengurus. Karena ada tiga kepengurusan yang dilantik, aula terlihat sesak dan suasana demikian meriah. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Yang Sering Dilupakan di Bulan Syaban

Khutbah I



Yang Sering Dilupakan di Bulan Syaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Sering Dilupakan di Bulan Syaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Sering Dilupakan di Bulan Syaban

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jamaah shalat Jumat haafidhakumullah,

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tidak terasa kita sudah berjumpa Sya’ban lagi, bulan yang menandai bahwa kita semakin mendekati blan suci Ramadhan. Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam hitungan kalender hijriah. Terletak setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Secara bahasa Sya’ban berakar dari kata Arab “syi‘âb” yang bararti jalan di atas bukit. Makna “jalan” ini bisa dikiaskan dalam pengertian bahwa kita sedang menapaki jalan menuju Ramadhan, bulan yang paling dimuliakan dalam ajaran Islam.

Posisi bulan Sya’ban yang terjepit di antara Rajab dan Ramadhan itu rupanya membuat Sya’ban kalah populer dari keduanya. Kita tahu, Rajab diyakini sebagai bulan yang di dalamnya terdapat peristiwa dahsyat: Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa yang dialami secara langsung oleh Rasulullah ini begitu membekas di benak umat Islam, bukan saja karena keajaibannya namun juga hasil dari peristiwa itu yang masih berlangsung hingga sekarang, yakni kewajiban shalat waktu. Rajab adalah salah satu dari empat bulan mulia di luar Ramadlan, yakni Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. ? Disebut “bulan-bulan haram” (? ?) karena pada bulan-bulan tersebut umat Islam dilarang mengadakan peperangan.

Tentang bulan Ramadhan, tak perlu ditanya lagi. Bulan ini mendapat tempat khusus dalam ajaran Islam. Pada bulan ini seluruh ganjaran amal kebaikan dilipatgandakan. Di dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa kasih sayang Allah ditumpahkan dalam sepuluh pertama bulan ini, pintu pengampunan dibuka lebar pada sepuluh kedua, dan pembebasan dari neraka diterapkan pada sepuluh ketiga. Umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Singkat kata, Ramadhan menjadi bulan spesial hubungan antara hamba dengan Allah.

Terkait tak begitu populernya bulan Sya’ban, Rasulullah pernah bersabda:?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

”Usamah bin Zaid berkata, ‘Wahai Rasululllah aku tidak pernah melihat engkau berpuasa sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Nabi membalas, “Bulan Syaban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Nasai)

Jamaah shalat Jum’at hafidhakumullah,

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan, hari- hari utama (al-ayyâm al-fâdlilah) ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan, dan tiap minggu. Dalam siklus bulanan, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa bulan Sya’ban merpakan bagian dari al-asyhur al-fâdlilah (bulan-bulan utama), sebagaimana bulan Rajab, Dzulhijjah, dan Muharram. Bobot nilai puasa pada bulan-bulan utama lebih unggul dibanding pada bulan-bulan biasa. Berpuasa juga menjadi amalan yang jelas-jelas dicontohkan oleh Rasulullah sendiri.

Mengapa puasa? Puasa di bulan Sya’ban menandai tentang kesiapan kita dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Semakin intensif seseorang melaksanakan ibadah di bulan ini, semakin matang pula kesiapannya untuk memasuki bulan Ramadhan. Di sinilah relevansi makna “jalan di atas bukit” bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban menjadi jalan mendaki untuk meraih puncak kemuliaan yang tersedia di bulan Ramadhan. Rasulullah sendiri bersabda bahwa beliau ingin ketika amal kebaikan diangkat, beliau sedang dalam kondisi berpuasa.?

Dengan demikian, kata kunci penting dalam hal ini adalah “kesiapan”. Kata ini pula yang sering diabaikan tatkala kita memasuki bulan Sya’ban. Kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan rohani untuk menerima suasana paling sakral dari bulan paling suci, yakni Ramadhan. Sehingga, kesiapan lebih berorientasi spiritual, ketimbang material.

Mungkin kita lihat perubahan suasana di sekeliling kita saat bulan Sya’ban tiba. Pusat-pusat perbelanjaan kian ramai, tiket-tiket stasiun atau pesawat dengan cepat ludes terbeli, jumlah belanja bahan pokok meningkat, dan lain sebagainya. Semua ini mungkin bisa disebut persiapan, tapi dalam pemaknaan yang sangat material, bukan spiritual.

Jamaah shalat Jum’at hafidhakumullah,

Dengan demikian, kita menyaksikan bahwa bukan hanya bulan Sya’ban yang dilupakan, bahkan makna bulan Sya’ban itu sendiri juga tak jarang diabaikan begitu saja. Kondisi duniawi kerap menyibukkan kita dengan hal-hal yang tak terlalu substansial. Tradisi atau “ritus” budaya tahunan sering menjauhkan kita pada kedalaman rohani yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari kita.

Yang tak kalah penting dicatat adalah bahwa bulan ini mengandung pertengahan spesial yang dikenal dengan “Nisfu Sya’ban”. Secara harfiah, Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Syaban atau tanggal 15 Syaban. Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Syaban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan).

Menurut Imam al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Syaban Allah SWT menganugerahi sepertiga syafaat kepada hamba-Nya dan seluruh syafaat secara penuh pada malam ke-14. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Selain puasa, menghidupkan malam sya’ban juga sangat dianjurkan khususnya malam Nisfu Sya’ban. Maksud menghidupkan malam di sini adalah memperbanyak ibadah dan melakukan amalan baik pada malam Nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki menegaskan bahwa terdapat banyak kemuliaan di malam nisfu Sya’ban; Allah SWT akan mengampuni dosa orang yang minta ampunan pada malam itu, mengasihi orang yang minta kasih, menjawab do’a orang yang meminta, melapangkan penderitaan orang susah, dan membebaskan sekelompok orang dari neraka.

Semoga kita semua dianugerahi umur panjang yang barokah; diberi kesempatan berjumpa dengan bulan Ramadhan. Harapannya, kita semua dapat meningkatkan kualitas kehambaan kita dan merengkuh kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiiin. Wallahu a’lam bish shawab.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Habib Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Tentara Myanmar Buka Penyelidikan Internal Kekejaman atas Rohingya

Yangon, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Militer Myanmar mengaku mulai mengadakan penyelidikan internal atas perilaku tentaranya atas tudingan adanya praktik pembunuhan terhadap Muslim Rohingya.

Tentara Myanmar Buka Penyelidikan Internal Kekejaman atas Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentara Myanmar Buka Penyelidikan Internal Kekejaman atas Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentara Myanmar Buka Penyelidikan Internal Kekejaman atas Rohingya

Sebuah komite untuk menangani masalah ini telah dibentuk dan dipimpin Letnan Jenderal Aye Win. Meskipun, militer Myanmar tetap bersikeras bahwa operasi bersenjata yang mereka lakukan dibenarkan konstitusi, seperti dilaporkan Reuters.

Sebuah pernyataan yang dimuat di halaman Facebook Komandan Militer Jendral Senior Min Aung Hlaing mengungkapan bahwa panel akan bertanya kepada personel, "Apakah mereka mengikuti kode etik militer? Apakah mereka benar-benar mengikuti perintah selama operasi? Setelah itu (komite) akan merilis informasi secara lengkap."

Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai ada "pembersihan etnis" oleh tentara Myanmar. Tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja dan sistematis yang melibatkan operasi bersenjata. Bahkan, upaya pengusiran permanen dengan mencegah Rohingya kembali pulang pun dilancarkan.

Myanmar menampik tudingan adanya praktik pemusnahan etnis. Militer setempat juga menunjukkan empati yang kurang terhadap Rohingya. Sebelumnya, Jendral Min Aung Hlaing menyatakan bahwa Muslim Rohingya bukan bagian dari penduduk asli negaranya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia juga tampak enggan menanggapi tuduhan pelanggaran yang dilakukan oleh tentara di bawah kendalinya dengan menuduh balik bahwa media telah melebih-lebihkan jumlah pengungsi yang melarikan diri dari Myanmar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saat ini lebih dari setengah juta orang Rohingya memadati kamp pengungsian di Bangladesh. Jumlah pengungsi terus bertambah meskipun Myanmar mengklaim operasi militer berhenti pada 5 September. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Cerita, Berita Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Hukum Satu Hewan untuk Kurban dan Aqiqah Sekaligus

Tidak sedikit orang yang ketika menginjak usia dewasa belum diaqiqahi oleh orang tuanya. Mungkin karena belum mampu atau sebab hal lain. Saat dewasa, si anak tersebut ingin berkurban, kemudian timbul sebuah pertanyaan: bagaimana jika aqiqah mereka dibarengkan dengan kurban sekalian, apakah yang demikian sah?

Ulama Syafiiyyah berbeda pendapat menyikapi hal ini. Menurut Imam Ibnu Hajar Al Haitami, orang tersebut hanya berhasil mendapatkan pahala salah satunya saja. Sedangkan menurut Imam Romli, ia bisa mendapatkan pahala kedua-duanya.

Hukum Satu Hewan untuk Kurban dan Aqiqah Sekaligus (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Satu Hewan untuk Kurban dan Aqiqah Sekaligus (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Satu Hewan untuk Kurban dan Aqiqah Sekaligus

Maksudnya, apabila bertepatan antara tanggal 10-13 Dzulhijjah ada orang yang berkurban sekaligus niat juga beraqiqah dengan hewan yang sama berupa satu kambing (untuk wanita) atau dua kambing (untuk laki-laki) menurut Imam Romli hal ini bisa mendapatkan pahala kurban dan aqiqah. Pahalanya berlipat ganda. Tentu harus diniati dari hati orang yang berkurban itu. Apabila tidak diniati, tidak akan mendapat pahala kedua-duanya.

 (?): ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ? ? ? (? ?)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Artinya : [Masalah] Jika ada orang berniat melakukan aqiqah dan kurban (secara bersamaan) tidak berbuah pahala kecuali hanya salah satunya saja menurut Imam Ibnu Hajar (Al Haitami) dan berbuah pahala kedua-duanya menurut Imam Romli. (Ibnu Hajar Al Haitami, Itsmidil Ain, [Darul Fikr], h:127).

Jika mengacu pada kutipan Al Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani dari para tabiin dalam Fathul Bari berikut ini, jelas bahwa orang yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, kemudian ia menjalankan ibadah kurban, maka kurbannya itu saja sudah cukup baginya tanpa perlu juga beraqiqah.

? ? ? ? - (? 15 / ? 397)

? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Menurut Abdur Razzaq, dari Mamar dari Qatadah mengatakan "Barangsiapa yang belum diaqiqahi maka cukup baginya berkurban". Menurut Ibnu Abi Syaibah dari Muhammad ibn Sirin dan al-Hasan mengatakan "Cukup bagi seorang anak kurban dari aqiqah"

Kesimpulannya, terdapat perbedaan pendapat antara Imam Romli yang memperbolehkan satu hewan dengan diniatkan kurban dan aqiqah serta mendapatkan dua pahala sekaligus. Sedangkan menurut Ibnu Hajar Al Haitami, hanya menghasilkan pahala salah satunya saja.

Jika ingin mengikuti kutipan Ibnu Hajar Al Asqalani, apabila penyembelihan bertepatan waktu kurban maka cukup diniatkan kurban saja. Ini akan mencukupi tuntutan sunnah aqiqah pada seseorang. (Ahmad Mundzir)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) diminta berhati-hati mengeluarkan pernyataan politik. Hal ini untuk menjaga kondusivitas dan menghindari perpecahan di kalangan warga.

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Pernyataan ini disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh saat dihubungi Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Rabu (14/5). Dikatakan, tokoh NU harus selalu menekankan seruan moral tanpa dilatarbelakangi kepentingan partai politik maupun calon presiden tertentu.

"Jangan terlalu berlebihan larut dalam persoalan politik. Kembalilah pada isu kesejahteraan dan moral umat," tegas kiai yang sering disapa Gus Ubaid ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mengingatkan terjadinya perpecahan (firqah) dalam agama berbarengan dengan peristiwa politik. "Makanya kiai-kiai NU harus hati-hati. Termasuk santri juga jangan mengompori dan memanipulasi pernyataan dan sikap kiai," tandasnya.

Kepada pendukung capres, Gus Ubaid mengharapkan supaya menarik simpati sesuai etika politik tanpa menjelek-jelekkan lawannya. Begitu pula, para wartawan harus berimbang dalam menyampaikan informasi. "Tidaklah elok bila harus menjelek-jelekkan lawan politik," tegasnya lagi singkat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ditanya tentang sikap politik PWNU Jateng, Gus Ubaid menyatakan secara lembaga tetap bersikap netral dan tidak memberi dukungan kepada salah satu kandidat capres. "Meskipun begitu, NU tetap membimbing," ujarnya tanpa merinci penjelasannya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Pesantren, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian

Brebes, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Keberadaan Gerakan Pemuda Ansor diharapkan dapat membawa maslahat bagi lingkungan sekitarnya. Setiap kader GP Ansor harus mampu menyentuh persoalan lokalitas yang berkembang sekarang.

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian

Harapan itu disampaikan Wasekjen Pimpinan Pusat GP Ansor Rizqon Halal Syah saat menghadiri Rakercab Pengurus Cabang (PC) Ansor Kabupaten Brebes di Pondok Pesantren Al-Falah Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (11/9).

"Ansor saat ini perlu penguatan kader sebagai bekal untuk menjawab persoalan kekinian dan kedisinian. Ansor harus menyentuh persoalan yang ada," kata Rizqon Syah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rizqon juga berharap program kerja yang dirumuskan pada Rakercab tersebut bisa menjadi wadah yang berguna dalam mencetak kader andal di masa mendatang.? Sebab, masa depan NU dan bangsa juga tidak lepas dari proses kaderisasi saat ini. Sehingga identitas kultural Jamiah Nahdlatul Ulama harus diperkokoh untuk memperkuat ukhuwah islamiyah dan ukhuwah Nahdliyah.

Ketua PC Ansor Brebes, Ahmad Munsip menjelaskan, sejumlah program yang telah dirancang berbagai bidang kerja yang meliputi arah maslahat untuk internal seperti penguatan kelembagaan maupun kemandirian. Di samping itu juga program yang bersifat eksternal baik yang bersinggungan dengan peran serta dalam pembangunan daerah, penyiapan SDM serta aksi sosial kemasyarakatan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. Pihaknya mengaku akan fokus lebih dulu pada penataan kelambagaan, pemberdayaan kader dan penguatan identitas kultural Aswaja.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Program kerja ke depan arahnya revitalisasi gerakan menuju optimalisasi kader dan kemandirian organisasi secara internal. Insya Allah periode kali ini akan dibentuk LPK (lembaga pendidikan dan keterampilan) sebagai wadah pembinaan di bidang keterampilan anggota “ terang Munsip

? ? ? ?

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Ansor Jawa Tengah, Solahudin, pengurus lembaga pendidikan dan kederisasi, keanggotaan dan organisasi, IPTEK Pers dan Kajian Strategis, dakwah dan pengembangan pesantren, lingkungan hidup dan perdagangan, advokasi dan perlindungan HAM, seni budaya dan lahraga serta lembaga perekonomian dan? ketenagakerjaan.

Rakercab juga akan diisi dengan Ansor Bershalawat di lapangan Jatirokeh yang akan diisi dengan majelis dzikir dan sholawat rijalul ansor bersama sejumlah ulama. Di antaranya, Habib Umar Muthohar dari Semarang dan Habib Masoleh Bin Yahya dari Cirebon. Kegiatan Ansor Bersholawat juga akan dipandu oleh group Qosidah Akhbabul Mustofa asuhan Habib Lutfi Bin Yahya dari Kota Pekalongan. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Nusantara, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Sukoharjo,? Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, memiliki cara unik untuk memperingati momentum pergantian tahun. Mereka menggelar kegiatan “Dupa Nuswantara”.

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)
Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Kegiatan yang rutin digelar saban tahun tersebut bertema “Dupa Nuswantara: dari Pagar Nusa Kartasura untuk Masyarakat Indonesia”, digelar di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Ahad (1/1).

Kepada? Kedung Sukun Adiwerna Tegal, salah satu panitia kegiatan Dupa Nuswantara, Hamid Baedhowi, menuturkan ini merupakan acara Dupa Nuswantara yang diadakan untuk ketiga kalinya. Sebelumnya, kegiatan serupa hanya dilaksanakan di daerah sekitar Kartasura.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Para peserta yang ikut tidak hanya dari Kartasura, tapi juga dari berbagai daerah seperti Boyolali, Sragen, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo bahkan dari Ponorogo pun ada yang berpartisipasi dalam acara tersebut,” terang Hamid.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di sana, para pendekar Pagar Nusa menuju ke lokasi dengan berjalan kaki. Sesampainya di sebuah Langgar yang bertepat di Desa Kalipang mereka berkumpul dan melantunkan dzikir, tahlil dan doa bersama untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

“Doa kita panjatkan agar bangsa ini dibebaskan dari bencana yang tidak kita inginkan, maka dari itulah acara ini disebut dengan nama Dupa Nuswantara,” tutur Baedhowi.

Acara juga dimeriahkan dengan penerbangan lentera harapan. “Semoga tahun 2017 ini kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata dia.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan, Internasional, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

NU Sukoharjo Gelar Pengajian Akbar

Sukoharjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo menggelar kegiatan Pengajian Akbar NU yang bertempat di Masjid Ainul Yaqin Solobaru Grogol Sukoharjo, Senin (9/11). Acara ini diikuti ribuan jamaah yang terdiri dari para Pengurus NU dan Warga Nahdliyin se-Sukoharjo.

Kegiatan pengajian diisi dengan pembacaan dzikir dan sholawat, yang  dipimpin oleh Habib Jamal bin Abdul Qodir As-Segaf. Usai bersholawat, jamaah mendengarkan ceramah dari Habib Umar Muthohar.

NU Sukoharjo Gelar Pengajian Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sukoharjo Gelar Pengajian Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sukoharjo Gelar Pengajian Akbar

Dalam ceramahnya, Habib Umar memberi semangat kepada warga NU Sukoharjo untuk terus mengembangkan amaliah NU, di antaranya dengan bersholawat. “Perbanyaklah bersholawat, sebab setan itu takutnya dengan sholawat,” tuturnya.

Selain itu habib dari Semarang itu menerangkan tentang sikap saling menghormati antara warga NU yang tua dengan yang muda. Sikap saling menghormati bisa menjadi kekuatan yang bagus untuk keberlangsungan NU yakni dengan pengalaman dan semangat.

“Ansor harus mampu menghormati yang tua, yang tua juga harus mencintai dan memberi kesempatan yang muda, yang tua banyak pengalamannya dan yang muda banyak semangatnya. Kalau digabung akan menjadi kekuatan yang hebat,” tegasnya.

Dalam acara ini juga dilaksanakan acara pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Grogol. Dalam sambutannya, ketua Tanfidziyah NU Sukoharjo, H. M Nagib Sutarno mengatakan ikut bangga dengan para pemuda Ansor. “Karena semangat itulah yang harus dikembangkan, jangan patah semangat hanya karena sesuatu,” ucapnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi

Solo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo mengikuti acara pendidikan etika demokrasi yang diadakan Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Provinsi Jawa Tengah, Selasa (29/1) malam, di Hotel Dana Surakarta.?

GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi

Kegiatan tersebut juga diikuti bersama sejumlah mahasiswa di Solo dan dari komunitas FORPLAS (Forum Pemuda Lintas Agama Surakarta).

Kegiatan yang mengambil tema “Tantangan Membangun Etika Politik Dan Budaya Demokrasi Di Tahun 2013” tersebut menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya adalah Joko J. Prihatmoko dan Teguh Yuwono. Keduanya merupakan akademisi dari Semarang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Joko mengatakan perlunya etika dalam politik dan berdemokrasi, “Yunani merupakan asalnya demokrasi. Di sana demokrasi telah membudaya, tetapi karena tak didukung akhlak tetap saja akhirnya negara mengalami krisis. Jadi berdemokrasi saja tak cukup,” kata dosen Universitas Wahid Hasyim Tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Untuk itu peran negara (kebijakan) sangat diperlukan dalam pembentukan etika ini. Negara mesti hadir pada saat dibutuhkan,” lanjutnya.

Sedangkan pembicara lain, Teguh Yuwono, Dosen UNDIP Semarang mengatakan, “etika politik merupakan cerminan dari etika masyarakat,”

“Etika bukan benar atau salah, tetapi baik atau buruk. Ini yang harus dibangun dalam sistem sosial,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ansor Solo juga menggunakannya untuk mengadakan konsolidasi program bersama FORPLAS.

“Rencananya kita akan melakukan reorganisasi pada tubuh FORPLAS,” kata Muhammad Anwar, Ketua Ansor Solo.

Keikutan Ansor Solo bersama dengan FORPLAS merupakan salah satu wujud komitmen Ansor dalam menjaga kebhinekaan, khususnya untuk kalangan pemuda di Solo.

?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api

Magetan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Warga NU Magetan, Jawa Timur, memperingati hari lahir (harlah) NU ke-93 dengan mengadakan kompetisi sepakbola api antarpondok pesantren. Kompetisi tersebut digawangi Rabhitah Maahid Islamiyah (RMI) NU bersama Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama.

Kompetisi tersebut berlangsung sejak tanggal 4 sampai dengan 9 April. Meski tanpa dipungut biaya, panitia memberikan hadiah berupa piala bergilir serta uang pembinaan bagi juara.

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimulai Wirid, Santri-santri Ini Adu Sepakbola Api

Sebelum memulai pertandingan, para pemain melakukan wirid khusus di bawah bimbingan Pengasuh Pondok Pesantren Subulus Safi’in KH Suprianto Ubaidillah. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Dengan wasilah (perantara) wirid ini agar memperoleh keselamatan dan diberi kelancaran oleh Allah SWT,” ujar kiai asal Pojok Kawedanan ini.

Menurut ketua panitia kegiatan tersebut Ahmad Choiruddin, pondok pesantren sangat luar biasa menyambut kegiatan tersebut. Target panitia, semula hanya 16 pesantren yang turut serta. Kuota langsung penuh hanya dalam waktu 2 minggu. “Bahkan ada beberapa pesantren terpaksa tidak panitia akomodir,” katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kegiatan tersebut diharapkan jadi pengikat silaturahim antarpesantren. “Kompetisi ini khas santri-santri salaf atau kaum sarungan. Semoga ini juga menjadi media silaturahim santri se-Kabupaten Magetan,” imbuh Ahmad.

Panitia, lanjut dia, bertekad akan jadikan kompetisi sepakbola api jadi program khas tahunan bagi para santri se-Magetan dalam naungan NU.

Pada kesemptan pembukaan, Selasa malam 4 April 2016 di halaman kantor NU Magetan dipimpin langsung Ketua PCNU Magetan KH Mansur didampingi sekretaris Ahmad Sudarto. Turut hadir pula, Rais Suriah KH Supriyanto, Ketua RMINU Ubaidillah dan jajaran pimpinan banom. (Dewi/Ali Makhrus/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Ketua Lesbumi PC NU Kota Tegal Luncurkan Antologi Puisi Kelapa Ijo

Brebes, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Tegal Drs Atmo Tan Sidik kembali meluncurkan antologi puisi bertajuk "Kelapa Ijo". Kumpulan puisi dalam rangka mensosialisasikan bahaya penyalahgunaan Narkoba itu diluncurkan di Pendopo Bupati Brebes, Sabtu (17/12) lalu.

"Pencegahan penyalahgunaan obat-obat terlarang jenis Narkoba tidak harus dengan pendekatan represif tapi akan lebih efektif dengan pendekatan estetika kesenian sehingga akan lebih menyentuh," ujar Atmo yang juga Kepala Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Brebes, Jawa Tengah.

Ketua Lesbumi PC NU Kota Tegal Luncurkan Antologi Puisi Kelapa Ijo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Lesbumi PC NU Kota Tegal Luncurkan Antologi Puisi Kelapa Ijo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Lesbumi PC NU Kota Tegal Luncurkan Antologi Puisi Kelapa Ijo

Saat peluncuran, juga digelar lomba baca puisi Anti Narkoba yang dihadiri warga dari sejumlah kalangan, dari mulai birokrat, pelajar, seniman dan tokoh masyarakat. Lomba puisi diikuti belasan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Brebes.

Akan halnya peluncuran antologi puisi "Kelapa ijo", dalam antologi tersebut merangkum karya seniman dari sejumlah daerah, berisi tentang bahaya anti-narkoba. Pengantar buku antologi puisi Kelapa Ijo tersebut ditulis langsung oleh Kepala Badan Narkoba Nasional (BNN) Pusat, Budi Waseso.

Menurut Atmo, orang dahulu banyak yang memberi obat dengan meminum kelapa hijau jika keracunan. "Air kelapa hijau juga bisa untuk memberi pertolongan pertama bagi pencandu Narkoba," ucap Atmo.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Atmo memaparkan, air kelapa hijau di dalamnya mengandung 4,7 persen padatan, 2,6 persen gula, 0,55 persen proten, 0,74 persen lemak, serta 0,46 persen mineral. "Air kelapa hijau juga sangat bermanfaat diminum siapa saja karena bisa mencegah banyak penyakit," tuturnya.

Seorang tokoh Brebes yang hadir dalam acara itu, H Soewardi Wirjaatmadja, menceritakan tentang filosofi kelapa yang mengandung banyak makna. Dari akar hingga daun semuanya bermanfaat bagi manusia," ungkap Mbah Wardi, panggilan akrabnya.

Seorang guru besar dari IPB, Bambang Purwantara, memuji Atmo yang disebutnya Kepala BNK yang eksentrik. "Itulah kalau Kepala BNK-nya seorang budayawan, sosialaisasi anti-narkoba dikemas dengan kesenian," puji Bambang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Acara sosialisasi tersebut bertambah gayeng keika sejumlah tokoh yang hadir ramai-ramai meminum kelapa hijau yang memang disediakan dalam acara tersebut. Tak hanya itu, tak sedikit pula yang hadir pulangnya membawa kelapa hijau.

"Untuk diminum di rumah nanti," ujar Anggota DPRD Jawa Tengah, Wahyudin Nooraly.

Buku tersebut, juga telah dikirim kepada Kepala BNN Budi Waseso, Presiden Jokowi, dan tokoh masyarakat Prabowo Subiyanto. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Doa, Pesantren, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Pangdam VII Wirabuana Ajak NU Jaga Keutuhan Bangsa

Makassar, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VII Wirabuana Mayor Jenderal TNI H Agus Surya Bakti bekerjasama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan mengadakan Lailatul Ijtima dalam rangka silaturrahim Prajurit Pangdam VII Wirabuana bersama warga Nahdliyin Sulawesi Selatan, Kamis (14/1) di Baruga Hasanuddin Kodam VII Wirabuana.

Pangdam VII Wirabuana Ajak NU Jaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pangdam VII Wirabuana Ajak NU Jaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pangdam VII Wirabuana Ajak NU Jaga Keutuhan Bangsa

Pangdam VII Wirabuana Mayjend TNI Agus Surya Bakti dalam sambutannya berterima kasih atas kehadiran para sesepuh NU Sulsel. Ia berharap semoga pertemuan ini membawa keberkahan bagi bangsa ini. Ia juga menegaskan Nahdlatul Ulama dikenal sebagai ormas Islam yang moderat dan menjunjung nilai keindonesiaan, kebhinekaan, dan Pancasila.?

“Kami juga sangat mengapresiasi semangat patriotisme dan wawasan kebangsaan NU. Tadi pagi rakyat Indonesia berduka atas kejadian bom di Jakarta dan kami mengutuk keras hal ini. Olehnya itu marilah bersama-sama menjaga bangsa ini dari aksi-aksi kekerasan, mulai dari TNI, NU, Muhammadiyah dan umat Islam secara umum di Sulawesi Selatan untuk menjaga dan menjadi benteng untuk mengawal keutuhan NKRI," paparnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia menjelaskan Islam mengajarkan kedamaian, menghargai perbedaan, tidak merasa benar sendiri. Tentunya hal ini menjadi pondasi utama menjaga keutuhan bangsa, ungkapnya

“Kami harap silaturrahim ini tidak hanya hari ini, TNI berharap bersama Nahdlatul Ulama untuk senantiasa menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alami dalam bingkai NKRI,” tandasnya.

Ketua Tanfidziyah NU Sulsel Prof Iskandar Idy dalam sambutannya berterima kasih kepada Pangdam VII Wirabuana Mayjend TNI H Agus Surya Bakti beserta keluarga besar Kodam VII Wirabuana yang bersama-sama warga Nahdliyin telah menjalin silaturrahmi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia menjelaskan NU Sulsel prihatin atas terjadinya aksi bom di Sarinah Jakarta. Iskandar juga menegaskan dalam sejarah bernegara, tidak ada warga NU yang terlibat aksi terorisme di Indonesia. NU merupakan garda terdepan melawan aksi terorisme dan tentunya bersama TNI negara akan kuat.

"Warga NU Sulsel harus menjadi pelopor anti terorisme di Sulawesi Selatan," imbuhnya.

NU Sulsel setiap malam Jumat di bulan pertama selalu mengadakan silaturrahim yang dikemas dalam acara Lailatul Ijtima dan diisi tausiyah dari sesepuh NU. Hal ini beramnfaat untuk menjaga silaturrahim sesama warga NU dan mengantisipasi masuknya paham-paham radikalisme di kalangan warga NU.?

Setelah sambutan H Agus Surya Bakti dan Prof Iskandar Idy, acara dilanjutkan pembacaan surat Yasin dan naskah dzikir NU Sulsel yang dipimpin Katib Syuriyah NU Sulsel Dr Ruslan dan Wakil Katib Syuriyah NU Sulsel Dr Muammar Bakry yang diikuti ribuan jamaah.

Wakil Ketua NU Sulsel Prof Abd Rahim Yunus dalam tausiyahnya banyak menyinggung tentang kerukunan umat beragama di Sulawesi Selatan. Menurutnya, dalam fakta sejarah, kejayaan Islam tak lepas dari kontribusi umat Agama lain.

“Hal ini dapat kita lihat, bagaimana umat Yahudi di Madinah yang mengakui kerasulan Nabi Muhammad kala itu, bagaimana umat Yahudi hidup damai dengan umat Islam, sehingga menghasilkan perjanjian Madinah yang tentunya memberikan dampak positif kemajuan Islam di Madinah,” ? ungkap Rahim Yunus yang juga guru besar Sejarah Islam UIN Alauddin.

"Di sisi lain NU bersama komponen bangsa yang lainnya bersama TNI membangun bangsa Indonesia dengan nilai Islam yang rahmatan lil alamin," imbuhnya.

Tampak hadir Ibu Pangdam VII Wirabuana Bella Shapira, para Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah NU Sulsel, Rektor UIM Dr Majdah M Zain, Rektor UMI Prof Dr Masrurah, para Wakil Rektor UIM, para Ketua Lembaga/Lajnah dan Badan Otonom NU Sulsel, dan ribuan warga Nahdliyin. (Andy Muhammad Idris/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kyai, News, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Yogyakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Novel Layla karya Candra Malik dibedah di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta, Ahad (7/5). Selain penulis, hadir sebagai pembicara Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand, Nadirsyah Hosen dan Rektor UNU Yogyakarta, Purwo Santoso.

Candra Malik mengaku menyelesaikan naskah novel ini hanya dalam waktu empat hari dan berbekal hp android. Lebih lanjut ia menjelaskan lahirnya novel ini merupakan ikhtiar untuk mengajak kalangan pesantren untuk menulis sastra. “Saat ini dunia pesantren mulai krisis sastrawan,” kata Wakil Ketua Lesbumi PBNU ini.

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Wallaili Wannahar Ditulis dalam Hitungan Hari

Novel Layla menceritakan kisah hidup Wallaili Wannahar yang berubah ketika diterima sebagai murid oleh Abah Suradira, seorang mursyid yang mengajarkannya ilmu tasawuf. Di tengah-tengah proses belajarnya, Lail menghadapi dilema. Lail  jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Layla.“Seseorang akan diuji pada titik kekuatannya paling tinggi. Titik kekuatan Lail adalah cinta. Disini Allah menguji Lail dalam bentuk perempuan bernama Layla. Kemudian Lail pun menjadi limbung.“ papar Gus Nadir.

Novel ini menawarkan kisah cinta yang tidak biasa. “Ketika membaca novel tersebut, seperti silih berganti membaca antara sajak dan puisi, ada kenikmatan tersendiri yang saya rasakan. Gus candra, berani keluar dari zona nyaman. Ngajinya beliau dalam hal sufisme dikomunikasikan keluar dalam bentuk sastra. Sastra itu mengasah budi, Tasawuf juga mengasah budi,” kata Purwo menyampaikan salah satu keunggulan novel Layla.

Bedah buku yang berlangsung cukup lama ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan pesantren, pemerhati budaya dan masyarakat umum. Bedah buku ini berlangsung cukup meriah diselingi dengan guyonan sehingga diskusi berlangsung dengan menarik. Acara yang diprakarsai oleh PP. Ali Maksum Krapyak bekerjasama dengan penerbit Bentang ini juga membagikan beberapa buku secara gratis. (Zulfa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mbah Sahal, Kiai Penjaga Waktu

Pukul 01.30 dini hari, telpon selulerku berdering. Ketika diperiksa, apa yang menjadi kehawatiranku benar terjadi, Mbah Sahal Mahfudh wafat. Maka aku segera bergegas berangkat menuju Kajen, Pati.

Dalam perjalanan, bayangan ketika dulu sebagai santri beliau hadir. Masih lekat dalam ingatan ketika aku ngaji sorogan kitab Ghoyatul Wushul. Beliau memang tidak banyak kata. Ketika kami salah dalam bacaan, beliau hanya berdecak, "Hemmm".

Mendengar suaranya itu, maka aku ulang lagi bacaan kalimat tersebut, dan jika masih salah, beliau pun berdecak lagi, "Hemmm". Begitu seterusnya, sehingga sangat mungkin dalam satu kali pertemuan hanya mendapat satu baris kalau aku dan teman-teman tidak bisa membaca dengan benar. Beliau memang tak pernah mau menunjukkan bagaimana ysng benar, karena kami sudah Aliyah sehingga diharapkan kami bisa mengoreksi sendiri atas kesalahan bacaan kami.

Dan hari besoknya, kami masih disuruh membaca bacaan yang sama dengan hari kemarin. Kalau memang belum bisa mengoreksi, begitulah seterusnya, kata "hemmm" itu aku dengar kembali.

Mbah Sahal, Kiai Penjaga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sahal, Kiai Penjaga Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sahal, Kiai Penjaga Waktu

Pada saat yang lain, aku pernah berkesempatan ditimbali untuk mengikuti beliau tindak ke rumah KH Musthofa Bisri dan kiai-kiai lain sekitar Rembang. Maka semenjak pagi aku sudah bersiap di depan ndalem beliau, karena aku tahu beliau adalah sosok yang selalu tepat waktu.

Dan benar ketika jam yang dimaksudkan tiba, beliau sudah bersiap di depan ndalem, dan anehnya ternyatya sopir belum kelihatan batang hidungnya. Ditunggu kisaran 5 menit, sang sopir belum juga datang. Maka beliau kontan dhawuh: “Ayo budal ngebis,” (mari berangkat naik bus).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dan berangkatlah kami bertiga (Mbah Sahal, Ibu Nyai dan saya) ke tepi jalan raya, menunggu bus. Tapi Alhamdulillah, sebelum bus datang, Kang Masudi sebagai sopir beliau datang, sudah dengan mobilnya, maka kami pun naik mobil beliau.

Begitu kami semua sudah naik mobil, Mbah Sahal dhawuhi saya: "Yak iki duwite kanggo bensin lan mengko mampire nang omahe kiai iki, kiai iki, sambil menyebutkan nama-nama kiai yang akan disinggahi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Setelah itu beliau diam, tidak bicara sampai perjalanan pulang. Maka sepanjang perjalanan kami semua tegang dan sang sopir menyadari dia selalu tepat waktu. ?

Pengalaman lain masih tentang tepat waktu. Ketika itu, beliau aku aturi untuk mengisi stadium general di STAIFAS Kencong. Beliau aku tempatkan di rumah sebelum berangkat ke kampus. Ketika jam yang ditentukan kisaran kurang sepuluh menit, maka beliau sudah mengajak berangkat ke kampus. Kami berusaha mengundur, namun ketika jam sudah tepat yang ditentukan sesuai undangan, maka beliau sudah tidak bisa dihalang-halangi untuk berangkat. Padahal ketika itu, undangan belum banyak yang hadlir.

Ah..., beliau memang sosok yang menghargai waktu. Salam tadzimku tak pernah usai. Semoga beliau selalu mendapatkan rahmat, ridlo dan pengampunan-Nya. Amin...

?

keterangan gambar: lukisan KH Sahal Mahfudh karya Tian Usmara Usman

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Makam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 20 November 2017

Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi

Boyolali, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Implementasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Indonesia, termasuk di dalamnya para kader GP Ansor. Untuk itu, butuh kesiapan serta pendampingan untuk memaksimalkan segala potensi yang ada.

Hal tersebut disampaikan Ketua Departemen Koperasi dan UKM Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor Hafied Nur Siddiqi saat meninjau potensi ekonomi para kader Ansor di daerah Cepogo, Boyolali, Selasa (12/7).

Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidupkan Kerajinan Tangan, Kader Ansor Diharapkan Mandiri Secara Ekonomi

“GP Ansor harus mampu mandiri secara ekonomi. Apalagi untuk menghadapi pasar bebas. Saya sangat bangga dan turut mendukung adanya koperasi yang bisa mengkoordinir potensi-potensi di tiap daerah," kata Hafied.

Hafid menambahkan, apa yang sudah digagas para kader Ansor Cepogo untuk membangun kemandirian organisasi lewat koperasi dan pengembangan potensi daerah patut menjadi contoh bagi pengurus Ansor di daerah lain.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Cepogo Athar Fuadi menyatakan pentingnya untuk mengetahui potensi di masing-masing daerah. Sebagai contoh, di daerah Cepogo ada kerajinan tangan dari logam di Tumang, sabun herbal dan peralatan dapur.

“Di kecamatan Cepogo ini banyak sekali potensi produk kerajinan anggota Ansor yang sudah sampai ke kancah internasional. Sangat disayangkan kalau tidak diwadahi. Itu kan juga untuk kemandirian organisasi,” tukas Fuadi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senada dengan hal di atas, Ketua GP Ansor Boyolali Choiruddin Ahmad berharap agar semua potensi yang dimiliki para kader Ansor di Boyolali pada khususnya dapat dimaksimalkan.

“Semoga di Boyoalali juga dapat segera membentuk koperasi Ansor atau pun badan ekonomi untuk menunjang kemandirian organisasi,” tuturnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 17 November 2017

Lantik PCNU Sumenep, PBNU Resmikan Sekolah dan Balai Kesehatan

Sumenep,? Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ribuan nahdliyin memadati Aula Syarqawi Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur, Jumat (6/5). Mereka hadir untuk mengikuti langsung prosesi pelantikan pengurus PCNU Kabupaten Sumenep yang resmi dilantik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pelantikan tersebut disaksikan oleh masyaikh Annuqayah, kiai se-Madura, Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, Ketua PC GP Ansor Sumenep M Muhri Zaen, dan seluruh banom di bawah naungan PCNU Sumenep. Ketua PCNU Sumenep KH A Panji Taufiq beserta pengurus teras lainnya dibaiat langsung oleh Wakil Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar.

Lantik PCNU Sumenep, PBNU Resmikan Sekolah dan Balai Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantik PCNU Sumenep, PBNU Resmikan Sekolah dan Balai Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantik PCNU Sumenep, PBNU Resmikan Sekolah dan Balai Kesehatan

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menandatanganani prasasti peresmian gedung SMP NU dan Balai Kesehatan MWCNU Pragaan. Ketua MWCNU Pragaan KH Ahmad Junaidi Muarif menyatakan sangat bersyukur dan berterima kasih atas apresiasi PBNU.

"Balai Kesehatan MWCNU Pragaan ini dihadirkan guna memfasilitasi warga nahdliyin supaya maksimal mendapat pelayanan kesehatan," tegas Kiai Muarif.

Kiai Said juga tampil sebagai pembicara dalam Orasi Kebangsaan. Dalam orasinya, Kiai Said mengungkapkan bahwa ketika Rasulullah hidup, shahibul hidayah al-haq adalah Rasulullah sendiri dan pasti benar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Hal itu disebut sunnah. Sunnah ada qauliyah, filiyyah, dan taqririyah," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Jadwal Kajian, AlaSantri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 16 November 2017

40 Hari, Jangan Sebut Lagi Kematian Pram

KAMIS malam (8/6) suasana haru memenuhi ruangan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Ratusan pasang mata para pengagum Pramodya Ananta Toer (pramis) memandang layar yang memantulkan kembali detik-detik terakhir kematian Pram. Malam itu, tepat 40 hari meninggalnya sastrawan besar itu.

Kenapa 40 hari? Dulu Pram dibuang ke pulau Buru karena dianggap sebagai bagian dari gerakan komunisme. 30 April 2006 lalu, saat Pram disemayamkan, terdengar lagu-lagu komunis? bersemangat bersahutan. Tapi Pram dimakamkan secara Islam dan ditalqin secara NU. Keluarga Pram juga mengadakan tahlilan sampai tujuh hari, dan malam itu adalah tahlilan 40 harinya.

“Menurut adat sampai empat puluh hari kita masih boleh bercerita tentang kematian Pak Pram. Arwah beliau masih di sini, di sekitar kita. Tapi setelah itu, setelah keluar dari sini, jangan coba-coba Anda bicara kematian Pram. Kita bercerita kehidupan Pram, karya Pram,” kata budayawan Eka Budianta malam itu di hadapan para pramis.

Acara 40 hari Pram bertajuk "Menentang Penindasan, Mengagungkan Kemanusiaan" itu didukung sepenuhnya oleh Gus Dur yang juga mantan ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Eka Budianta, Romo Mudji Sutrisno, Rieke Diah Pitaloka, Muhidin M. Dahlan, Lokal Ambience, Marjinal, Indonesia Buku, Hantoeroemahbiroe, Rdp Management, Lentera Dipantara, DKJ, Mata Pusaran, Taringbabi, dan pramis lainnya. Acara dirangkai dengan aksi penggalangan dana untuk korban gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Para pramis malam itu secara bergantian mengungkapkan kekagumannya tentang Pram; bercerita, berorasi, berpuisi, menyanyi, berdoa, dan menangis. “Kejahatan itu ada fungsinya buat kita bisa belajar melawan,” demikian suara almarhum Pram itu memecah suasana gedung.

Sekjen Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi NU), M Dienaldo, yang disebut-sebut sebagai pramis utama mengungkapkan dua kalimat tarakhir, wasiat yang terpatah-patah keluar dari mulut Pram sendiri. “Apakah sampah di samping rumah sudah dibakar?” “Pemuda sekarang harus melahirkan pemimpin!”

Ada juga yang malam itu menyebut Pram sebagai Mahatma Gandi. Ya. Pramodya Ananta Toer telah meninggalkan banyak hal: Semangat, keberanian, karya dan kata-kata. Adalah, sastrawan yang mempraksiskan bagaimana “seni untuk rakyat” dan memikirkan tiap centimeter tanah-air di Indonesia. “Jangan dulu meninggal. Pekerjaan masih banyak.” (a khoirul anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pesantren, Humor Islam, Pahlawan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

40 Hari, Jangan Sebut Lagi Kematian Pram (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Hari, Jangan Sebut Lagi Kematian Pram (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Hari, Jangan Sebut Lagi Kematian Pram

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock