Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menjelang pagelaran Muktamar ke-33 NU di Jombang awal Agustus 2015 mendatang, Radio NU menyiarkan secara langsung (Live Streaming) program Bintang NU (Bincang-bincang Tentang NU).?

Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Muktamar, Radio NU Siarkan Program Bintang NU

“Program ini kami rencanakan setiap minggu sekali, tepatnya setiap hari kamis,” ujar Manajer Program Radio NU, Muhammad Yunus saat siaran perdana, Kamis (12/3).

Yunus menambahkan, program siaran langsung ini akan memberikan tema-tema berbeda setiap minggunya. “Pun demikian dengan narasumbernya, kami akan menghadirkan narasumber kompeten untuk setiap tema yang akan kita angkat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk siaran perdana ini, lanjut Yunus, kami mengangkat tema ‘Pengaruh Muktamar NU terhadap Kehidupan Sosial-Politik’ dengan menghadirkan H Khatibul Umam Wiranu, MHum, Ketua LTN PBNU yang juga anggota DPR RI dengan moderator H Ulil Abshar Hadhrawy.

Dalam perbincangannya, Mas Umam, sapaan akrabnya menerangkan, bahwa perhelatan Muktamar bukan sekadar pemilihan Ketua dan pengurus, tetapi lebih dari itu.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Saya kira Muktamar harus dijadikan sebuah gerakan ide dan gagasan, utamanya untuk keadilan, kesejahteraan atau kemaslahatan umat,” ujarnya.

Umam juga menjelaskan, saat ini, NU harus berupaya menyejahterakan umatnya melalui gerakan-gerakan ekonomi. Oleh karena itu, tambahnya, Muaktamar 2015 ini harus memfokuskan diri ke arah itu.

“Kapitalisme global sudah deras mengalir, saat ini warga NU yang sebagian besar adalah rakyat pedesaan kurang bisa menghadapi, sehingga selalu dirugikan oleh para pemilik modal besar,” ucapnya.

Secara organisasi, dia juga menekankan, bahwa NU perlu memperkuat lembaga syuriah. Menurutnya, syuriah harus menjadi pengambil keputusan atas kebijakan-kebijakan strategis, sedangkan tanfidziyah sebagai pelaksananya.

“Itu jika ingin NU tetap pada roh keulamaan,” tandasnya yang berbicara mengenai pengaruh muktamar secara sosial-politik selama tak kurang dari satu jam. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tokoh, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 27 Februari 2018

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Namun sujud juga tidak baik jika asal dikerjakan. Karena dalam sujud itu terdapat nilai-nilai kerohanian yang sangat dalam. Dengan meletakkan kepala di bawah dan menempelkan kening dan hidung di atas tanah, dua lutut, dan telapak tangan serta ujung-ujung jarinya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah saw:

 

 ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Sujud dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Sujud dan Hikmahnya

Aku disuruh bersujud pada tujuh tulang pada kening seraya menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan ujung-ujung kaku.

 

Keterangan tentang posisi fisik di atas hendaknya tidak haya dilaksanakan tetapi juga diresapi. Karena sesungguhnya rambu-rambu itu mengandung hikmah yang bila dilaksanakan dapat membantu seorang lebih khusyu’ dan ihlash dalam shalat. Jika demikian, wajar kalau Rasulullah saw kana menemani sahabatnya yang banyak bersujud

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ?. ? : ? ? . ? : ? ? . ? ? ? . ? : ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Rabiah bin Ka’ab r.a, ia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah SAW kemudian aku membawa kepadanya air untuk beliau berwudhu dan buang hajat, lalu beliau bersabda: “Mintalah dariku”, aku berkata: “Aku meminta menjadi pendampingmu di syurga”, ia bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Aku hanya meminta menjadi pendampingmu di syurga”, Rasulullah SAW bersabda: “Mintalah selain itu”, aku berkata: “Itu permintaanku”, ia bersabda: “Bantulah aku mewujudkan permintaanmu dengan banyak engkau bersujud (shalat)”. HR. Muslim 1

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Secara fisik kondisi sujud memang menunjukkan sebuah penghambaan total. Bagaimana posisi itu begitu sangat rendahnya. Namun dibalik kepasrahan dan kerendahan itu sesungguhnya Allah swt akan meninggikan derajatnya. Sebagaimana diterangkan

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Tsauban r.a ia berkata: “Aku mendegar Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah bersujud sesungguhnya engkau tidak melakukan satu sujudpun karena Allah, melainkan Allah mengangkatkan engkau dengan sujud tersebut satu derajat dan Allah menghapuskan darimu satu kesalahan”. HR. Muslim

 

Dan yang paling hakiki dari sujud adalah merasakan kedekatan antara seorang hamba dan tuhannya. Pada saat sujud itu bisa dengan mudah seorang hamba menitikkan air mata, atau merasa intim dengan Allah swt. Begitu yang diajarkan Rasulullah saw dalam haditsnya.

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?“? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?”

 

Hadits riwayat Abi Hurairah Radhiyallahu’anhu, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dengan tuhannya ialah ketika dia bersujud. Maka perbanyaklah berdo’a”

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Santri, Lomba Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail

Brebes, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sebanyak 105 anggota IPNU-IPPNU se-Pimpinan Anak Cabang Jatibarang Brebes melakukan sholat malam guna mengharap datangnya lailatul qodar. Mereka melakukan sholatul lail merupakan bagian dari kegiatn kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan dan Masa Kesetiaan Anggota (Mekesta).

IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jatibarang Isi Makesta dengan Qiyamul Lail

“Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari anggota pelajar NU yang masih duduk di bangku SMP/MTs, SMA/SMK/MA serta para remaja masjid  perwakilan dari 10 desa di Kecamatan Jatibarang,” ujar Ketua PAC IPNU Jatibarang Kholilurohman, di sela kegiatan di Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Jatibarang Brebes, Selasa malam (14/7).

Selain sholat malam, kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu diisi dengan materi keagamaan, keorganisasian, ke-aswaja-an dan materi tentang Islam Nusantara. “Kami sengaja kegiatan ini diadakan pada akhir bulan ramadhan agar tambah berkah,” terangnya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam sambutannya, ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Ferial Farkhan menyampaikan apresiasinya, karena Sanlat dan Makesta bisa meningkatkan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah pada generasi remaja. Juga memberikan pemahaman tentang arti Islam Nusantara sesungguhnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Darussalam Jatibarang KH Soleh Muhammad Basalamah yang juga sebagai Mustasyar PCNU Brebes mengaku bangga ketika generasi muda yang tergabung dalam IPNU-IPPNU mengadakan acara pengkaderan semacam ini. 

“Hal ini menandakan bahwa NU di masa datang akan semakin baik. Terbukti para penerusnya memiliki semangat dalam belajar dan melanjutkan ajaran-ajaran pendahulunya,” ucapnya. (Wasdiun/Fathoni)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Khutbah, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

PCNU Kota Pekalongan Optimalkan Dana Umat dengan LAZISNU

Pekalongan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan Jumat (22/2) besok akan menggelar kegiatan halaqah dengan tema "Optimalisasi pengelolaan dana umat lewat LAZISNU" bertempat di Gedung Aswaja, Jalan Sriwijaya 2, Pekalongan.

PCNU Kota Pekalongan Optimalkan Dana Umat dengan LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kota Pekalongan Optimalkan Dana Umat dengan LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kota Pekalongan Optimalkan Dana Umat dengan LAZISNU

Kegiatan halaqah sebagai pra acara Muskercab NU akan dihadiri oleh Ketua Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (PP LAZISNU) KH Masyhuri Malik dan Direktur Eksekutif Drs. H. Amir Maruf, MA bertindak sebagai nara sumber.

Sekretaris PCNU Kota Pekalongan, H. Muhtarom kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal mengatakan, untuk mensosialisasikan lembaga baru bentukan PCNU, halaqah diharapkan dapat membuka wawasan umat Islam khususnya di lingkungan NU. Pasalnya, meski sudah ada beberapa lembaga pengelola zakat di Kota Pekalongan, di lingkungan NU sendiri belum sepenuhnya diterima dengan baik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dikatakan, jika saja pengelolaan zakat infaq dan shodaqoh dapat berjalan secara optimal, akan banyak dana yang bisa dikelola untuk pemberdayaan masyarakat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Saya sangat optimis, pengelolaan zakat infaq dan shodaqoh dapat berjalan dengan baik dan dananya dapat untuk pemberdayaan ummat baik untuk kepentingan pendidikan, ekonomi maupun sosial," ujarnya.

Kegiatan halaqah yang akan berlangsung pagi mulai jam 08.00 s/d 11.00  akan diikuti oleh 500 peserta dari jajaran pengurus cabang, MWC dan Ranting NU seKota Pekalongan, beberapa kiyai dan ulama serta para pengusaha di lingkungan NU.

Sementara itu, usai shalat Jumat Pengurus Cabang NU periode 2012 - 2017 akan dilantik oleh PWNU Jawa Tengah dilanjutkan dengan musyawarah kerja cabang (Muskercab) membahas pendalaman program untuk kegiatan tahun 2013 - 2014.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Sunnah, Sunnah, Warta Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sejumlah pendekar putra dan putri berbaris di arena bebas, tepat di hadapan Ketua Umum PBNU, Ketua Umum Pencak Silat Pagar Nusa, para tokoh masyarakat, polisi, tentara dan para pejabat yang hadir. Dipimpin seorang pelatih mereka mulai mengucapkan salam ala pendekar, lalu mereka memasang kuda-kuda.

Diiringi suara gamelan dan kendang, satu persatu mereka mulai beraksi. Ada yang memperagakan jurus-jurus tangan kosong yang indah, bahkan mereka seperti menari. Mereka memukul, menendang, melompat dan bersalto. Ada yang beraksi dengan senjata. Lalu mereka saling serang dan bertarung. Suara gamelan dan kendang bertalu-talu.

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Seragam Hitam Kami Bukan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS

Adegan itu sekaligus menandai dimulainya pembkaan resmi Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat NU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Az Zuhri Semarang, Jum’at (27/3) siang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Para pimpinan Pencak Silat Pagar Nusa dari seluruh Indonesia duduk berjajar memutari gelanggang. Sementara ratusan pendekar berseragam hitam putra dan putri duduk bersila di barisan bagian belakang.

“Seragam kami memang hitam. Tapi hitam kami berbeda dengan yang ada di televisi itu,” kata Pengasuh Pesantren Az Zuhri yang juga Pengurus Pusat Pagar Nusa KH Lukman Hakim saat menyampaikan kata sambutan di hadapan para pejabat Polres dan Kodim.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kami berpakaian hitam. Tapi hitam kami tidak memakai penutup. Kami ini memang ISIS tetapi ISIS kami adalah istri sholihah idaman suami,” katanya disambut tawa hadirin. “Kami berjenggot, tapi jenggot kami berbeda,” kata Kiai berambut gondrong itu.

Rapimnas Pencak Silat NU Pagar Nusa dilaksanakan sejak Kamis (26/3) kemarin yang diisi dengan halaqah-halaqah, pertemuan majelis pendekar, dan pelatihan pasukan inti. Rapimnas akan ditutup dengan Apel Kesetiaan pada Pancasila dan NKRI di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3) pagi, yang akan diikuti sekitar lima ribu pendekar Pagar Nusa. (A. Khoirul Anam)

?

Ilustrasi: Para pendekar Pagar Nusa beraksi di Gelora Senayan Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu

Rembang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Selama perayaan Natal 2017 dan persiapan tahun baru 2018, Satkorcab Banser Rembang menerjunkan sedikitnya 30 anggota yang diminta secara resmi oleh pihak kepolisian dan pemerintah setempat untuk ikut menciptakan iklim yang dondusif di wilayah Kabupaten Rembang menjelang pergantian tahun.

Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Zaenal Arifin mengatakan, partisipasi yang dilakukan oleh pihak Banser muncul karena ada permintaan secara resmi untuk membantu aparat kepolisian dan pemerintah.

Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Banser, Kapolres Rembang Mengaku Sangat Terbantu

"Kami berpartisipasi diundang secara resmi. Spirit Banser memenuhi permintaan membantu polisi dalam mengamankan Natal adalah ingin mengamankan sesama anak bangsa saat beribadah," kata Satkorcab Banser Rembang kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Kapolres Rembang AKBP Pungky Bhuana Santoso menyatakan, aparat yang bertugas dalam mengamankan Natal dan tahun baru sangat terbantu dengan kehadiran para kader GP Ansor.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kami bersama aparat terkait lainnya saat menjaga perayaan Natal dan persiapan tahun baru 2018 sangat terbantu dengan kehadiran Banser Satkorcab Rembang," kata Pungky.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saat apel gelar pasukan operasi lilin candi 2017 di Mapolres Rembang pada 22 Desember 2017, Banser diundang secara resmi untuk mengikuti apel bersama aparat TNI-Polri, dan pihak terkait di Kabupaten Rembang.

Banser Rembang berlangsung sejak tanggal 23 Desember 2017 hingga 1 Januari 2018, dengan mengedepankan kegiatan preventif, dan intelijen sebagai bagian penegakan hukum. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Perbedaan Bukan untuk Diperdebatkan, Tapi Dibagi

Yogyakarta,Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta Prof Nizar Ali mengatakan, perbedaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk dibagi. Dengan berbagi, masalah kemanusiaan dan permasalahan bangsa ini bisa diselesaikan secara bersama-sama.

“Aktor penting dalam membendung radikalisme adalah penyuluh agama. Karena penyuluh ini kan memiliki basis umat yang kuat,” katanya dalam membukan acara Outbond Kerukunan Umat Beragama (KUB) para Penyuluh Agama Honorer (PAH) di Komplek Kraton Ratu Boko, Minggu (23/8) kemarin lusa.

Perbedaan Bukan untuk Diperdebatkan, Tapi Dibagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbedaan Bukan untuk Diperdebatkan, Tapi Dibagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbedaan Bukan untuk Diperdebatkan, Tapi Dibagi

Outbond dinilai efektif dalam menjalin kerukunan karena sudah menyatu dalam kontek berbangsa dan bernegara. “Kegiatan serupa hatus dikembangkan dan terus digalakkan,” ajak pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Guru Besar Bidang Hadtis ini menambahkan, PAH harus memberikan penyuluhan agama dengan ramah dengan bingkai keragaman. Perbedaan itu untuk dinikmati keindahannya. Jika ada orang yang melanggar koridor-koridor agama, maka orangnya yang bermasalah bukan agamanya. Oknum itulah yang bermasalah, karena agama tidak mengajarkan kerukunan dan perdamaian.

Dengan kegiatan outbond KUB ini diharapkan terjalin kerja sama dan keharmonisan antara penganut agama. Untuk membangun sebuah bangunan yang kokoh diperlukan kebersamaan, toleransi, tim work, persaudaraan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Outbond KUB PAH lintas agama ini diikuti sekitar 50 orang. Mereka ada yang dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu. Sebelumnya Kanwil Kemenag DIY mengadakan Outbond KUB dari mulai pelajar lintas agama, pemuka lintas agama, penyuluh lintas agama, dan selanjutnya guru lintas agama.(suhendra/abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Nasional, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri

Bekasi, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kerjasama antara pemerintah dengan dunia industri dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di dunia industri. Termasuk industri-indutri terkait teknis pengelasan yang masih membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.



Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri

"Peluang kerja di bidang teknik pengelasan masih terbuka luas. Para tenaga kerja di bidang ini dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan di dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong ketersediaan tenaga kerja bidang pengelasan yang terampil dan kompeten yang siap memasuki dunia kerja," kata Kepala Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, Helmiyati Basri di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (24/8).



Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hal tersebut diungkapkan Helmiyati saat memberikan sambutan pada pembukaan Iwatani-API/IWS Welding Contest in Indonesia 2017 Perlombaan teknik pengelasan tingkat nasional ini diselenggarakan Asosiasi Pengelasan Indonesia (API) atau Indonesian Welding Society (IWS),  Iwatani Coorporation dan Iwatani Industrial Gas Indonesia (IIG) dengan peserta yang berasal dari para pekerja dari berbagai perusahaan Jepang dan perusahaan lainnya di area Jabodetabek.



Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kegiatan ini merupakan ajang untuk menunjukkan kemampuan para tenaga kerja Indonesia di bidang pengelasan. Kontes yang diselenggarakan di BBPLK Bekasi ini adalah penyelenggaraan kedua kalinya, setelah sebelumnya diselenggarakan pada tahun 2016.



Helmiaty mengatakan sinergi antara program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah dengan dunia industri sangat penting. Hal ini dibutuhkan agar link and match antar keduanya dapat tercapai. Sehingga, kebutuhan akan tenaga kerja kompeten dapat tercapai dengan maksimal.



"Keterlibatan swasta dalam mendukung program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah sangat penting untuk mengurangi kesenjangan pekerja terampil yang dialami Indonesia dewasa ini,”



"Kita berharap para tenaga kerja di bidang teknik pengelasan ini kian mampu bersaing di perusahaan-perusahaan nasional dan internasional dengan kemampuan dan keahlian mumpuni yang tidak diragukan lagi kualitasnya," paparnya.



Ditambahkan Helmiaty dengan ditunjuknya BBPLK Bekasi sebagai tuan rumah kompetisi ini diharapkan kedepannya pihak Iwatani juga dapat mensinergikan dengan program BBPLK Bekasi yang lainnya. Saat ini, BBPLK Bekasi sendiri fokus pada 2 (dua) kejuruan, yaitu elektronika dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).



Helmiyati juga menambahkan, keterlibatan BBPLK Bekasi dalam penyelenggaraan Iwatani-API/IWS Welding Contest In Indonesia 2017 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan kompetensi anak bangsa.



"Indonesia saat ini kekurangan tenaga kerja terampil. Pada tahun 2030 Indonesia diprediksi akan menempati posisi ke-7 negara ekonomi terbesar di dunia dengan kebutuhan tenaga kerja terampil berkisar 113 juta. Sedangkan pada tahun 2016 Indonesia baru memiliki sekitar 57 juta tenaga kerja terampil. Hal ini berarti Indonesia harus menciptakan 4 juta tenaga kerja terampil setiap tahunnya." kata Helmiyati mengutip arahan Presiden Jokowi.



Untuk mempercepat peningkatan kompetensi pekerja, Kemnaker melakukan terobosan melalui program 3R BLK (Revitalisasi, Reorientasi, dan Rebranding) di  Balai Latihan Kerja. Saat ini terdapat 301 BLK di seluruh Indonesia dimana 17 diantaranya milik pemerintah pusat, dan sisanya milik pemerintah daerah tingkat provinsi, Kabupaten/Kota.



Ketiga Balai Latihan Kerja yaitu BBPLK Bekasi, BBPLK Serang, dan BBPLK Bandung Bekasi, dipilih sebagai pusat pengembangan program tahap pertama. BBPLK Bekasi akan dijadikan sebagai pusat pengembangan kejuruan elektronika dan teknologi informasi. BBPLK Serang ditunjuk sebagai pusat pengembangan kejuruan las dan listrik. Sementara BBPLK Bandung sebagai pusat pengembangan kejuruan manufaktur dan otomotif. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 15 Januari 2018

CSR Perlu Diatur sehingga Tidak Sekedar Bantuan Sosial

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) dirasa perlu ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, sehingga perusahaan pelaksana CSR memiliki pegangan dalam melaksanakan CSR yang tepat sasaran. Pelaksanaan CSR perlu diatur sehingga tidak hanya sekedar bantuan sosial, tapi mampu memandirikan masyakarat. Demikian disampaikan sejumlah akademisi, dan pelaku CSR dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komite III DPD RI di Komplek Parlemen, Rabu, (10/2).

CSR Perlu Diatur sehingga Tidak Sekedar Bantuan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
CSR Perlu Diatur sehingga Tidak Sekedar Bantuan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

CSR Perlu Diatur sehingga Tidak Sekedar Bantuan Sosial

?

Dalam RDP terssebut, Dosen Pascasarjana Magister Manajemen-CSR Universitas Trisakti, Juniati Gunawan mengatakan Indonesia sebaiknya punya definisi CSR sendiri menyesuaikan dengan konteks permasalahan di Indonesia. Sejauh ini, CSR yang diadopsi perusahaan Indonesia menggunakan Community Involvement and Development yakni kebijakan perusahaan untuk kegiatan sosial.

?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lebih lanjut Juniati mengatakan pemerintah dirasa perlu untuk membuat aturan yang jelas sebagai acuan untuk perusahaan dalam melaksanakan CSR. CSR dilakukan untuk memenuhi biaya pemberdayaan masyarakat, untuk itu diperlukan social mapping yang melibatkan Pemerintah daerah.

?

"CSR itu perlu aturan yang jelas, dibuat road map (program ini dibuat untuk menjawab kebutuhan masyarakat). Dan harus ada laporan. Dan terakhir buat payung program yang memayungi program-program CSR, sehingga semua program CSR menjadi terarah. Selain itu, juga harus memakai data kemiskinan," tambahnya.

?

Indra Budianto (Ketua Asosisasi Arta Graha) mengatakan CSR sudah dijalankan Arta Graha dengan menjalankan 5 pilar yakni, mengkait antar satu dengan lainnya, mengutamakan pelestarian lingkungan, mengutamakan CSR dalam sifatnya tanggap darurat terhadap manusia dalam bentuk evakuasi, memberi makanan atau selimut. Kondisi ini ada negatifnya, karena bantuan sifatnya sosial dan tidak benar membuat orang menjadi mandiri.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

"Pengentasan orang miskin salah, karena orang miskin dibantu menjadi tidak mandiri. Yang cocok pengentasan pengangguran. Contoh CSR kami adakan kegiatan di Lombok, CSR ada di sana, tetapi setelah acara berakhir, berakhirlah semua. Apakah CSR yang seremonial yang Indonesia inginkan. Tanam pohon, tidak diurus akhirnya mati," ujar Indra.

?

Sementara itu Konsultan CSR dan Comdev, Budi R Minulyo mengatakan pelaksanaan CSR di Indonesia masih berbeda-beda mulai dari definisi, tanggung jawab dan tujuannya. Saat itu terdapat sekitar 35 PP di daerah yang mengatur tentang CSR dan lingkungan, sayangnya tidak selalu meningkatkan efektifitas CSR. Ia menilai seharusnya program CSR tidak hanya memberikan manfaat kepada masyarakat tetapi juga kepada perusahaan pelaksana CSR itu.

?

"Banyak perushaan yang sudah melaksanakan CSR, tetapi hubungan kami dengan stake holder atau komunitas tidak ada perubahan bahkan ada konflik," ujarnya.

?

Lebih lanjut Budi menambahkan tantangan CSR saat ini adalah belum adanya peran dan fungsi CSR di lapangan. Selain itu, antar kementerian juga memiliki pandangan yang berbeda terkait CSR. Beberapa isu kritis yang disampaikan Budi adalah bentuk jelas dari CSR antara lain yang berkaitan dengan sasaran program CSR, pihak yang disebut masyarakat dinilai hanya berdasarkan letak geografis dan CSR seharusnya mampu mendorong pembangunan yang tidak tumpang tindih dan CSR tidak memberi beban baru kepada perusahaan.

?

Sementara itu, anggota Komite III DPD RI, Ahman Jazuli mempertanyakan respon dari perusahaan terkait rencana pemerintah untuk menerbitkan UU CSR. "Dari pemerintah mau ada UU CSR, bagi perusahaan tidak terlalu dibutuhkan CSR karena setiap waktu dilaksanakan CSR," ujar senator asal Lampung itu.

?

Senator Abdul Aziz ? dari Sumatera Selatan melihat sejumlah perusahaan di daerah yang program CSRnya tidak terkoordinasi dengan baik, hal ini karena aturan yang kurang mengikat. Selain itu, Ia menilai program CSR perusahaan yang sudah berjalan sejauh ini tidak membangun kualitas SDMnya, sehingga masyarakat tetap sulit mempertahankan kehidupannya.

?

Sedangkan Marvin Kober melihat adanya kejanggalan dalam pelaksanaan CSR dilakukan di luar wilayah perusahaan berada. "Ada perusahaan di tempat lain, CSR nya di tempat lain, etiskan seperti ini. Contoh PT Freeport, ada di Papua CSRnya di luar Papua," jelasnya.

?

Sementara itu, anggota Komite III DPD RI asal Bali Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna berharap agar pelaksanaan program CSR tidak bertentangan dengan keinginan ? masyarakat, melainkan dapat meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Pahlawan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Ini adalah halaman muka dari naskah kitab Hasyiah Tasywiqul Khallan ‘ala Syarhil Ajurumiyyah karangan KH Muhammad Ma’shum ibn Salim al-Safuthani al-Samarani, seorang ulama Nusantara asal Seputon, Semarang (Jawa Tengah). Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh ‘Isa al-Babi al-Halabi di Mesir pada tahun 1303 H (1886 M). Naskah ini menjadi koleksi Robarts Library, University of Toronto, Kanada.



“Tasywiqul Khallan” merupakan hasyiah (komentar panjang) atas syarh (penjelasan) “Mukhtashar Jiddan” (karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, w. 1866 M) atas matan (teks) al-Ajurumiyyah, kitab monumental gramatika Arab (nahw) karangan Muhammad ibn Jurum al-Shanhaji, w. 1323 M.

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Kiai Ma’shum Semarang Ini Dicetak di Mesir, Dikoleksi di Kanada

Halaman muka kitab mengisyaratkan jika KH. Muhammad Ma’shum mengarang hasyiah ini saat ia masih berusia muda. Tertulis di sana: “Ta’lif al-syab an-najib wal-fadhil al-labib” (karangan seorang pemuda cendikia, pemilik keutamaan yang cerdas).

Dalam kata pengantarnya, KH. Muhammad Ma’shum mengatakan jika ia mengarang kitab ini karena permintaan beberapa koleganya yang hendak memahami kitab al-Ajurumiyyah dan syarh-nya, Mukhtashar Jiddan, secara lebih mendalam. Para kolega itu meminta KH Muhammad Ma’shum untuk menuliskan komentar dan penjelasan panjang atas dua kitab (matan dan syarh) tersebut, agar lebih mudah difahami.

KH Muhammad Ma’shum mulai menulis hasyiah ini di Mekkah saat ia pergi haji dan merampungkanya di Semarang. Dalam menulis hasyiah ini, KH. Muhammad Ma’shum merujuk pada beberapa referensi utama, yaitu (1) Hasyiah al-Sanwani ‘ala Syarh al-Syaikh Khalid al-Azhari ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, (2) Syarh al-Astarabadi ‘ala Kafiyah Ibn al-Hajib, dan (3) Mughni al-Labib karangan Ibn Hisyam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sayangnya, belum banyak informasi lebih terkait biografi KH. Muhammad Ma’shum beserta karya-karyanya. Dalam kata pengantarnya, beliau menyebutkan jika Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah “syaikh syaikhi” (guru dari guruku).

Menimbang tahun kepengarangan kitab tersebut (1303 H/ 1886 M), maka bisa diperkirakan jika KH. Muhammad Ma’shum ini satu generasi dengan santri-santri Jawi yang belajar di Mekkah pada masa itu, seperti KH. Hasyim Asyari Jombang (w. 1366 H), KH. Mukhtar Atharid Betawi (w. 1349 H), KH. Abdul Karim ibn Ahmad Khatib Minang (w. 1357 H), KH. Abdul Rasyid Bugis (w. 1361 H), KH. Wahyuddin Abdul Ghani Palembang (w. 1360 H), KH. Jamaluddin Khaliq Patani (w. 1355 H), dan lain-lain.

Meski demikian, kitab Hasyiah Tasywiqul Khullan banyak dicetak ulang dan diterbitkan kembali oleh banyak penerbit, baik di Arab atau pun Nusantara, seperti Dar al-Kutub al-‘Arabiyyah al-Kubra (Kairo, 1326 H/ 1908 M), al-Maktabah al-‘Ilmiyyah (Kairo, 1358 H/ 1940 M), Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah (Beirut, 2003), dan Maktabah al-Hidayah (Surabaya).

Matn al-Ajurumiyyah terhitung sebagai kitab pegangan wajib bagi pelajaran gramatika Arab (nahw) tingkatan pemula di pesantren-pesantren tradisional (NU) di Indonesia. Matn (teks) tersebut sangat popuker dan banyak yang menulis pejelasan (syarh) atasnya, diantaranya adalah syarh yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarromah sekaligus mahaguru bagi para santri dan ulama asal Nusantara di akhir abad ke-19 M. Maka tidaklah mengherankan jika kitab-kitab karangan beliau banyak diaji dan dikaji di dunia pesantren hingga sekarang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan sezaman dan sejawat dengan Syaikh Nawawi Banten, yang juga mahaguru para santri dan ulama Nusantara di Makkah. Jika Syaikh Zaini Dahlan menulis Syarh Mukhtashar Jiddan atas teks al-Ajurumiyyah, maka Syaikh Nawawi menulis Kasyf al-Maruthiyyah yang merupakan syarh atas teks yang sama.

Pada bulan Ramadhan tahun 1999 dulu, saya khatam mengaji kitab Syarh Mukhtashar Jiddan karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan ini di pesantren HM Putra Lirboyo Kediri (Jawa Timur) dari bacaan (qira’ah) KH. Imam Yahya Mahrus. Di akhir pengajian, KH. Imam Yahya memberikan sanad (mata rantai keilmuan) kitab tersebut yang menyambung sampai pengarangnya: KH. Imam Yahya Mahrus, dari KH. Mahrus Ali, dari KH. Abdul Karim, dari KH. Kholil Bangkalan, dari Syaikh Nawawi al-Bantani, dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Kajian Sunnah, Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengingatkan kepada para pengurus di lingkungan Nahdlatul Ulama tentang dua aspek organisasi, yakni pemikiran (fikrah nahdliyah) dan gerakan (harakah nahdliyah). Menurutnya, keduanya menjadi garis atau pegangan yang harus dipedomani warga NU.

Pada aspek pemikiran, menurut Kiai Ma’ruf, NU memegang apa yang ia sebut dengan tawassuthiyah (moderasi), tathawwuriyah (dinamisasi), dan manhajiyah (metodologi). “Moderat artinya tidak terlalu tekstual, juga tidak terlalu liberal,” katanya saat membuka Rapat Kerja Nasional II yang diikuti seluruh pengurus harian lembaga dan badan otonom NU di auditorium gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (19/11).

Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Ingatkan Seluruh Pengurus tentang Garis NU

Ia mencontohkan pemikiran para pengusung khilafah sebagai cara pandang tekstual yang menganggap seolah tak ada perubahan dalam sejarah kehidupan ini. Sebaliknya, orang-orang liberal menganggap semua berubah sehingga terkesan menggampangkan agama. “NU tak sepakat dengan pandangan ini. NU meyakini ada yang tsabitat (tetap), ada juga yang mutaghayyirat (berubah),”jelasnya.

Karena itu, NU adalah organisasi yang berpikir dinamis sebagaimana jargon al-muhafadhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Dalam proses dinamisasi tersebut, menurut Kiai Ma’ruf, NU harus berpedoman dengan metodologi atau manhaj.

Gerakan NU

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari sisi gerakan, jelas Kiai Ma’ruf yang juga ketua MUI pusat ini, NU mengedepankan himayah (perlindungan) dan ishlahiyyah (perbaikan). NU harus menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengedepankan sikap-sikap toleran, moderat, dan adil.

Ia juga mendorong NU untuk melakukan perbaikan-perbaikan. “Al-muhafadhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Menurut saya ini kurang inovatif, hanya menjaga dan mengambil,” katanya. Moto ini baginya mesti ditambah dengan al-ishlah ila ma ghairil ashlah (memperbaiki apa yang belum menjadi lebih baik).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Tapi yang lebih baik juga enggak seterusnya baik. Baik hari ini belum tentu baik nanti. Jadi harus ditambahi lagi ‘tsummal ashlah fal ashlah (perbaikan terus menerus),” katanya yang juga mengutip Imam Izzuddin Abdus Salam yang mengatakan bahwa orang yang mengabaikan inovasi berarti tak paham soal keutamaan perbaikan.

Kiai Ma’ruf menyebut garis-garis tersebut dengan sebutan mabadi nadhliyat (dasar-dasar ke-NU-an). Secara teknis dasar-dasar itu juga bisa dilakukan dengan merujuk Qanun Asasi, Khiththah Nahdliyah, dan produk-produk kesepakatan yang dihasilkan forum resmi NU seperti Muktamar dan Munas atau Konbes.?

La yunkaru fi mujma’ ‘alaih, tidak ada pengingkaran pada hal-hal yang sudah disepakati,” tegasnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sholawat, Sunnah, Pondok Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 01 Januari 2018

PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerahkan bantuan alat-alat kesehatan kepada dua rumah sakit yang berdiri di bawah naungan NU. Bantuan alat kesehatan itu bernilai total Rp. 10 miliar. Penyerahan bantuan secara simbolis telah dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada Rumah Sakit Islam (RSI) Pati yang dikelola oleh PC Muslimat NU Kabupaten Pati dan Rumah Sakit NU Demak, Selasa (24/7), di Pati, Jawa Tengah.

PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU

Bantuan untuk RSI Pati diterima oleh Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudh, sementara untuk RS NU Demak diterima oleh perwakilan PCNU Kabupaten Demak. RSI Pati mendapatkan bantuan perlengkapan pengelolaan limbah medis, kamera rontgen, dan kursi roda. Sementara RS NU Demak memperoleh peralatan pendukung laboratorium kesehatan dan seperangkat Ultrasonografi (USG).

"Total semuanya nanti senilai sepuluh miliar, diberikan bertahap. Ini tahap pertama  dan Insya Allah akan segera menyusul bantuan selanjutnya," ungkap Kiai Said.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Said menambahkan, pemberian bantuan alat kesehatan oleh Kristen Mormon disebutnya sebagai perwujudan nyata sebuah toleransi antar umat beragama. Toleransi yang sama diakuinya sudah terjalin sejak zaman khalifah penerus perjuangan Nabi Muhammad SAW.

"Dokternya Muawiyah itu namanya Tarjius, orang Kristen. Dokternya Abu Jafar al Mansur, pendiri Abbasiyyah bernama Jirjis, orang Kristen juga. Di bidang kesehatan Islam dan Kristen sudah lama bekerjasama, meski sebenarnya tidak sedikit ulama Islam yang menguasai ilmu kesehatan," tegas Kiai Said.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Bendahara Umum PBNU H. Bina Suhendra yang ikut hadir dalam seranh terima bantuan mengatakan, PBNU saat ini tengah mempelajari kemungkinan bantuan yang sama disalurkan ke rumah sakit lain. "Salah satunya yang sedang disurvey untuk dibantu RS NU Rembang. Bertahap, jika memang ada kerjasama dengan pihak luar lain akan disalurkan secara merata," ujarnya.

Melalui bantuan tersebut, operasional sejumlah rumah sakit yang dikelola di bawah naungan NU diharapkan bisa semakin meningkat. Sejalan dengan hal tersebut, layanan kesehatan ke masyarakat, khususnya Nahdliyin juga ditekankan harus bisa ditingkatkan.

"Yang bagus dari Kristen Mormon ketika membantu juga menyertainya dengan pelatihan penggunaan peralatan yang diberikan. Mereka juga mensurvey sendiri alat apa yang dibutuhkan, jadi apa yang diberikan diharapkan bisa dimanfaatkan sengan maksimal," tuntas Bina.

Penulis: Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Budaya, Nusantara Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

BPJS dan Gagal Paham Welfare State

Oleh Roziqin

Dunia kesehatan Indonesia akhir tahun 2017 ini dikejutkan dengan laporan defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dewan Pengawas BPJS Kesehatan melaporkan ke Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa defisit telah mencapai Rp9 triliun. Lebih mengejutkan lagi, terdapat wacana dari Menteri Keuangan (Menkeu) untuk menambal defisit dengan cukai rokok, suatu produk yang didengung-dengungkan sebagai perusak kesehatan, dan bertolak belakang dengan visi misi BPJS Kesehatan. Menkeu juga berencana menggandeng Pemda untuk berkontribusi dalam menyelesaikan defisit ini. Hingga tulisan ini dibuat, berbagai opsi tersebut belum diputuskan.

BPJS dan Gagal Paham Welfare State (Sumber Gambar : Nu Online)
BPJS dan Gagal Paham Welfare State (Sumber Gambar : Nu Online)

BPJS dan Gagal Paham Welfare State

Menurut BPJS Kesehatan, defisit muncul akibat timpangnya penerimaan dari iuran peserta dengan beban jaminan kesehatan yang harus ditanggung. Sebagai sebuah program monopoli pemerintah dengan dukungan seperangkat peraturan dan pendanaan, maka defisit ini memprihatinkan.

Defisit pada BPJS Kesehatan bukan cerita baru. Sejak berdirinya, BPJS Kesehatan tercatat terus mengalami defisit. Pada 2014, defisit mencapai Rp3,3 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp5,7 triliun pada 2015 dan Rp9,7 triliun pada 2016. Pemerintah pun akhirnya harus turun tangan. Untuk, tahun 2016, pemerintah harus melakukan penyertaan modal negara sebesar Rp6,8 triliun, dan tahun ini berjanji memberikan subsidi. Tampaknya, ini terjadi karena konsep welfare state (negara kesejahteraan) yang gagal dipahami.

Gagal paham Welfare State

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai sebuah program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan menjadi bukti Indonesia menerapkan konsep welfare state. Program ini lahir melalui UU Nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU Nomor 24/2011 tentang BPJS, yang merupakan amanat perubahan UUD Tahun 1945 dalam rangka memajukan kesejahteraan umum, mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang layak. Semua warga negara Indonesia ditargetkan sudah menjadi peserta BPJS pada 2019, bahkan termasuk warga negara asing yang tinggal lebih dari enam bulan.

Pada negara yang menerapkan konsep welfare state, peranan negara lebih luas dari pada sekedar sebagai “penjaga malam”. Negara, menurut Utrecht (1985), bertugas menjaga keamanan dalam arti kata yang seluas-luasnya, yakni keamanan sosial di segala bidang kemasyarakatan. 

Namun demikian, dalam kasus BPJS, konsep welfare state salah disalahpahami bahwa seolah negara harus terus menerus turun tangan setiap ada masalah, dengan mengabaikan upaya optimal organ negara untuk mengatasi masalah. Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 87/2013 jo PP Nomor 84/2015, suntikan dana bukan satu-satunya cara saat aset Dana Jaminan Sosial (DJS) dari BPJS mengalami defisit. Upaya lain yang bisa dilakukan antara lain: penyesuaian besaran iuran, penyesuaian manfaat, maupun penyesuaian dana operasional. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Salah kelola?

Dengan berulangnya defisit, Pemerintah perlu mewaspadai adanya salah kelola BPJS Kesehatan dan potensi kebocoran anggaran. Saat ini likuiditas DJS seharusnya tidak menjadi masalah. Berdasarkan laporan tahun 2016, angka peserta mandiri bukan penerima upah dan bukan pekerja hanya sebesar 15 persen sehingga tidak mengganggu likuiditas bila ada sebagian dari mereka menunggak. BPJS Kesehatan juga telah memiliki sistem untuk mencegah peserta yang tidak aktif untuk mendapat pelayanan, sehingga tidak memungkinkan terjadi tunggakan.

Bahkan, BPJS Kesehatan seharusnya memanfaatkan dengan baik surplus iuran dari warga kurang mampu (Penerima Bantuan Iuran-PBI) yang ditanggung Pemerintah. Dengan peserta program JKN 183 juta saat ini, angka PBI ternyata mencapai 111 juta orang. Angka ini jauh di atas angka kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang per Maret 2017 “hanya” sebesar 27,77 juta orang.

BPJS Kesehatan sebenarnya juga bisa mendapat tambahan dana dari investasi, serta dari peserta maupun pemberi kerja yang membayar namun tidak memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan. Beberapa peserta tidak memanfaatkan BPJS Kesehatan karena telah menggunakan asuransi swasta yang lebih cepat pelayanannya. Mereka ikut BPJS Kesehatan hanya sekedar melaksanakan kewajiban UU. 

Pemerintah seharusnya menuntut kreativitas direksi dan dewan pengawas BPJS Kesehatan, serta tidak terus memanjakan mereka dengan suntikan dana. Selama ini, berbagai kemewahan telah dinikmati BPJS Kesehatan: gaji dan fasilitas standar BUMN, namun berbentuk badan hukum publik yang bersifat nirlaba, memiliki kewenangan membuat peraturan perundang-undangan yang mengikat publik, tidak perlu menyetor dividen, bertanggung jawab langsung kepada presiden, serta tidak dapat dipailitkan dan dibubarkan.

Bahkan hingga defisit terjadi berulang-ulang, tidak ada yang mempertanyakan tanggung jawab direksi atas atas kesalahan pengelolaan DJS sebagaimana diatur UU. Berbagai kemewahan itu berpotensi menjadikan BPJSK menjadi mandul. 

Belajar dari negara lain

Mengelola program sosial harus dilakukan ekstra hati-hati. Bila tidak, bisa membuka celah fraud (kecurangan). Terlebih bila berlindung dalam konsep welfare state. Atas nama welfare state, berbagai bantuan, sumbangan, suntikan dana, subsidi, dan penyertaan modal dari pemerintah meluncur tanpa dicek kebenaran pemanfaatannya.

Sangat disayangkan bila kebaikan negara tidak disambut dengan pengelolaan yang baik. Kita turut menyaksikan berbagai BUMN yang terus merugi, bahkan setelah mendapat penyertaan modal; bantuan sosial yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi maupun golongan tertentu, serta subdisi yang tidak tepat sasaran. 

Bila ini terus terjadi, maka anggaran negara akan terbuang percuma. Kegagalan mengelola welfare state menurut Palmer (2012) menyebabkan krisis keuangan di dunia sehingga pertumbuhan ekonomi bergerak lamban, atau bahkan negatif, serta menyebaban krisis utang sebagaimana yang terjadi di Eropa, Amerika Serikat, dan negara lain.

Kita sepatatutnya belajar dari kegagalan negara lain. Pemerintah juga perlu meminta tanggung jawab Dewan Jaminan Sosial Nasional dan menagih peran mereka dalam mengatasi masalah BPJS Kesehatan. Semoga defisit BPJS Kesehatan bisa segera terlesaikan dengan baik, agar rakyat dan pejabat semakin sehat.

Penulis adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, penggiat LBH Pengurus Pusat GP Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Perketat UU Miras, Turki Tak Ingin Generasi Pemabuk

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Baru-baru ini, pemerintahan Turki melalui parlemen (DPR)-nya mengeluarkan undang-undang baru yang memperketat regulasi perdagangan minuman keras (miras) di negara itu. Demikian sebagaimana dilansir kantor berita Turki Cihan (24/5).

Undang-undang tersebut melarang dijualnya miras di malam hari, di tempat sembarangan yang terbuka, menanyangkan iklan dan adegan-adegan meminum miras pada jam-jam di mana anak-anak melihat televisi, juga melarang penjualan miras di dekat masjid, tempat ibadah dan institusi pendidikan.

Perketat UU Miras, Turki Tak Ingin Generasi Pemabuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Perketat UU Miras, Turki Tak Ingin Generasi Pemabuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Perketat UU Miras, Turki Tak Ingin Generasi Pemabuk

Terkait undang-undang tersebut, Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, UU tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah Turki yang lebih tinggi terhadap masa depan dan generasi muda yang lebih baik di negara pewaris kekhalifahan Ottoman itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kami menginginkan generasi masa depan yang terpelajar dan sadar, bukan generasi pemabuk dan lalai di siang dan malam," tegas Erdogan.

Wacana UU yang memperketat peraturan miras tersebut sempat menuai kontroversi di Turki. Beberapa anggota parlemen dari CHP, partai berhaluan ultra-sekuler, menyatakan menolak disahkannya UU tersebut dengan alasan pembatasan kebebasan dan HAM.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Erdogan balik mengkritik sikap CHP tersebut. Dikatakan Erdogan, bahwa sebenarnya pihaknya tidak hendak melarang jenis minuman tertentu di negaranya. Namun, terkait miras ini, pemerintahan Turki lebih kepada meninjau ulang regulasi minuman tersebut, volume miras yang beredar dan menempatkannya sesuai dengan tempatnya.

"Saya heran, kenapa CHP justru mempertahankan tradisi buruk di kalangan anak muda. Tidakkah mereka juga berpikir untuk menciptakan generasi masa depan Turki yang lebih terdidik dan beretika, generasi masa depan yang tidak lalai dan linglung akibat kebanyakan mabuk siang malam?" tegas Erdogan.

Siapa saja yang melanggar UU baru ini, maka ia akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar 5000 TL sampai 200 ribu TL, atau setara dengan 2700 USD-108,2 ribu USD.

Penulis: Ahmad Syifa

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Cerita Kedung Sukun Adiwerna Tegal

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas

Mempawah, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat M. Zeet Hamdy Assovie menyampaikan, salah seorang ulama dunia Syekh Chatib Sambas adalah guru dari para ulama Nusantara dan pendiri NU. Sambas adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Barat.

“Karenanya sudah menjadi keharusan bahwa NU harus besar di bumi Kalimantan Barat ini,” kata M. Zeet Hamdy Assovie dalam pembukaan Pendidikan Kader Penggerak NU Angkatan VI di Bakau Besar Sungai Pinyuh Mempawah, Jum’at (26/2).

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas

Ia menyebutkan, KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan banyak kiai besar lainnya adalah murid dari Syekh Chatib Sambas ketika sama-sama bermukim di Makkah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Melalui proses kaderisasi yang terencana, ia berharap NU di Kalimantan Barat akan semakin aktif di wilayah ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pendidikan Kader Penggerak atau PKPNU diselenggarakan selama tiga hari, 26-28 Februari yang diikuti sebanyak 35 peserta pilihan dari seluruh cabang di lingkungan PWNU Kalimantan Barat. PKPNU kali ini mengambil tema “Kaderisasi Dalam Rangka Memperkokoh Kemandirian Ekonomi”.

Kegiatan dilaksanakan di di Laboratorium Pertanian yang diinisiasi oleh Ketua PWNU Kalimantan Barat sendiri.

“Di tempat ini telah kami siapkan semacam laboratorium pertanian agar bisa menjadi tempat pembelajaran bagi para kader untuk menjadi pengusaha. Ada kebun buah, ternak sapi perah, produksi pupuk dan lain-lain. Silahkan para kader berlatih di sini,” tambahnya.

Di tengah acara Pendidikan Kader Penggerak NU, Sabtu malam dilaksanakan Haul Syekh Yusuf Almansyur, kakek dari Zeet Hamdy yang juga adalah Ketua PWNU pertama di Kalimantan Barat.

Acara PKPNU PWNU Kalimantan Barat ini mengundang beberapa instruktur Nasional PKPNU, antara lain Abdul Munim DZ, Enceng Shobirin Nadj, Adnan Anwar, Amir Ma’ruf dan Bambang Yasmadi. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 05 November 2017

Ketua LP Ma’arif NU Pringsewu Paparkan 3 Prinsip Beragama

Pringsewu, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Islam terlahir bukan hanya mengurusi masalah sholat, zakat dan permasalahan seputar ibadah saja. Namun Islam juga membahas dan membawa misi penting lainnya yaitu muamalah yang berkaitan dengan kemaslahatan hidup bersama orang lain di dunia.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Ahmad Rifai, MPd, Ketua LP Maarif NU Kabupaten Pringsewu yang juga salah satu Anggota Komisi Fatwa MUI Pringsewu pada Dialog Perdana Safari Ramadhan MUI Kabupaten Pringsewu di Kecamatan Pagelaran Utara, Senin (22/06).

Ketua LP Ma’arif NU Pringsewu Paparkan 3 Prinsip Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LP Ma’arif NU Pringsewu Paparkan 3 Prinsip Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LP Ma’arif NU Pringsewu Paparkan 3 Prinsip Beragama

Rifai mengatakan, untuk mewujudkan itu, setiap muslim haruslah memiliki 3 prinsip dalam beragama. Prinsip prinsip tersebut adalah Ruhuddin yaitu semangat beragama, Ruhuddinul adabi wal hadoroh yaitu Semangat membangun agama, adab dan budaya serta Ruhul Wathoniyyah Spirit kecintaan kepada tanah air.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Rifai Islam menyebar ke seluruh dunia untuk menjadi rahmatan lil alamin bagi seluruh manusia tanpa membedakan ras, budaya dan tempat tinggal. "Oleh sebab itu, ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, beliau tidak membentuk Darul Islam atau Negara Islam namun mendirikan Darus Salam atau Negara Kedamaian," terangnya.

Rifai mengatakan, bahwa Islam bukanlah agama pemberontak, agama Teroris dan agama Pembuat masalah. Islam datang dengan kedamaian. Kalaupun ada orang Islam yang melakukan teror dan sebagainya hal tersebut hanyalah kebetulan saja karena oknum tersebut tidak bisa mengartikan makna Jihad.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurutnya, teror bersifat merusak sedangkan jihad bersifat memperbaiki. Oleh karena itu, jika ada yang mengatasnamakan jihad namun merusak dan merugikan orang lain, maka itu dikategorikan sebagai teror. "Kewajiban kita untuk memperbaiki dan membangun negara, bukan malah merusaknya," tegasnya.

Rifai mengingatkan, bahwa Tanah air Indonesia merdeka tidaklah dengan gratis. "Indonesia merdeka dengan menumpahkan darah para pejuang. Indonesia merdeka dengan perjuangan. Adalah kewajiban bagi kita untuk berjihad mempertahankan Negara kita sebagaimana resolusi jihad yang di kumandangkan oleh para Ulama Pejuang pendahulu kita," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 24 Oktober 2017

Rais ‘Aam Jelaskan Gerakan Ulama NU untuk Umat

Mataram, Kedung Sukun Adiwerna Tegal 



Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan, karena NU didirikan para ulama, maka gerakan NU adalah gerakan para ulama yang berusaha menjaga, memperbaiki, memberikan pelayanan kepada umat (masyarakat). 

Kiai Ma’ruf merinci gerakan NU tersebut dengan menyebut NU sebagai gerakan meperkuat dan melindungi akidah warga NU dengan cara dan praktik Ahlussunah wal-Jama’ah. 

Rais ‘Aam Jelaskan Gerakan Ulama NU untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Jelaskan Gerakan Ulama NU untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Jelaskan Gerakan Ulama NU untuk Umat

“Cara berpikir NU adalah dinamisasi agar NU tidak jumud, statis pada teks-teks saja, tidak statis pada ibarat-ibarat saja, tapi berpikir dinamis dan kontekstual, tapi tidak liberal,” jelasnya kepada para peserta Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Islamic Center Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), kota Mataram, Kamis malam, (23/11).

Gerakan yang kedua adalah amaliyah, yaitu menghidupkan amaliyah-amaliyah NU. Amaliyah tersebut adalah praktik yang bersumber dari ajaran Ahlussunah wal-Jama’ah. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“NU juga organiasi, bukan kumpulan kematian. Karena itu ada pedoman-pedoman, tempat rujukan kembali; ada Qanun Asasi, AD/ART, keputusan-keputusan yang harus dilaksanakan,” tambahnya. 

Kepetusan-keputusan itu adalah sesuatu yang telah disepakati. Dengan demikian, apabila sudah ada keputusan di Muktamar dan Munas dan Konbes, seluruh pengurus dan warga NU tak boleh mengingkarinya.

Karena itulah, secara organisasi, NU harus terus dikonsolidasi, dimonitoring, dievaluasi, agar sesuai dengan keputusan yang telah disepakati itu. 

“Mana yang perlu diperbaiki agar standar minimal organisasi itu terwujud. Tidak boleh ada yang tidak bergerak, mabniyun ala sukun la mahalla laha minal i’irab,” tegasnya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut dia, Munas dan Konbes ini akan melahirkan keputusan yang akan diterapkan dan diberlakukan ke dalam NU sendiri, ada juga kepada pihak luar, yaitu rekomendasi kepada pemerintah dan pihak terkait agar ditindaklanjuti.

“NU harus berperan mempengaruhi pihak-pihak agar terjadi perubahan yang lebih baik dalam masyarakat, bernegara, dan berbangsa,” pungkasnya. 

Munas Alim Ulama dan Konbes NU dibuka Presiden Joko Widodo Kamis siang. Hajatan tingkat nasional itu digelar di lima pondok pesantren dan akan berlangsung hingga 26 November. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 18 Oktober 2017

Kader Jakarta Pusat Pimpin IPNU DKI Jakarta

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Konferensi Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi DKI Jakarta berlangsung sukses dengan terpilihnya Muhammad Said menjadi ketua PW IPNU DKI Jakarta periode 2013 – 2016, pada Ahad, (14/4). 

Kader Jakarta Pusat Pimpin IPNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Jakarta Pusat Pimpin IPNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Jakarta Pusat Pimpin IPNU DKI Jakarta

Said terpilih setelah sukses memimpin di cabang IPNU Jakarta Pusat dengan melakukan pengkaderan hingga tingkat pimpinan anak cabang di 8 kecamatan dan 3 komisariat yang ada di Jakarta pusat. 

Pelaksanaan Konferwil, suasana terasa menghangat   menegangkan dengan 2 kandidat Muhammad Said perwakilan dari Jakarta Pusat dan Ahmad Muhajir dari Jakarta Barat dihadiri para peserta dari masing-masing cabang se-DKI Jakarta 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari 6 cabang hanya 5 cabang yang memilih karena 1 cabang tidak punya hak suara karna terganjal dengan kedaluarsanya masa SP (Surat Pengesahan) yang tercantum pada Rancangan Tata Tertib.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Said mengantongi 3 suara sedangkan Muhajir 2 suara dan sidang konferwil di tutup yang terpilih sah rekan Muhammad Said menjadi ketua PW IPNU DKI Jakarta periode 2013-2016.    

Muhamad Said memaparkan visi dan misinya akan memimpin IPNU ke depan dengan mengadakan basecamp dan sekretariat, membuat data base yang selama ini tidak pernah dilakukan, pembutan KTA di setiap cabang, PAC dan komisariat juga akan terus menata komunikasi antar cabang-cabang, keuangan transparansi.

“Dengan semangat ini mari kita bareng-bareng membangun IPNU lebih baik lagi dukungan dan doa dari semua adalah harapan saya semoga ini awal semangat saya dan kita bersama.”

Sebelumnya kader PC IPNU Jakarta Pusat juga pernah memimpin PW IPNU DKI, yaitu Hilman Nawawi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Yudhi Permana 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 27 September 2017

Tak Perlu Habiskan Energi Layani “Serangan” Kelompok Lain

Jember, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Gerakan-gerakan kelompok yang menyudutkan NU dan amaliahnya tak akan pernah berhenti. Namun NU tidak perlu menghabiskan energi untuk melayani “serangan” kelompok kontra NU itu.

Tak Perlu Habiskan Energi Layani “Serangan” Kelompok Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Perlu Habiskan Energi Layani “Serangan” Kelompok Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Perlu Habiskan Energi Layani “Serangan” Kelompok Lain

Demikian dikemukakan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat memberi pengarahan dalam pelantikan MWCNU Ledokombo di lapangan Suren Dampar, Ledokombo, Senin malam (25/3).

Menurut Kiai Muhyiddin, dewasa ini kelompok-kelompok yang secara ideologi berseberangan dengan NU, sudah mulai berani terang-terangan menyerang amaliah NU, dan mereka masuk ke kantong-kantong NU, termasuk di pedesaan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Inilah salah satu tugas pengurus MWCNU, yaitu memperkuat dan memperkokoh keyakinan waga agar tak terpengaruh oleh propaganda mereka,” tukasnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kendati demikian, lanjut Kiai Muhyiddin, para pengurus MWCNU tidak perlu menghabiskan energi untuk mereka. Sebab, masih banyak tugas lain yang harus ditunaikkan olah para kiai dan pengurus MWCNU.

“Kita perlu memakmurkan masjid, melayani kebutuhan umat sekaligus memberikan pencerahan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita berupaya untuk meningkatkan perekonomian warga Nahdliyyin,”  ucapnya.

Pelantikan itu sendiri dilakukan oleh Kiai Muhyiddin di depan sekitar 5000 hadirin yang memaditi lapangan Suren Dampar. Selain Kiai Muhyiddin, hadir juga Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam dan para pengasuh pesantren di Jember bagian timur. Sedangkan Ketua PCNU Jember, KH. Abdullah Syamsul Arifin tidak hadir karena mengisi pengajian di luar kota.

Dalam susunan kepengurusan yang baru dilantik tersebut, Ali Rahmatullah tercatat sebagai ketua, sedangkan posisi sekretaris dan bendahara ditempati oleh Ali Muhsin dan Jaya Wardi. Di jajaran Syuriah, KH. Kholili Abd. Mannan sebagai rais dan Miftahul Arifin Hasan di posisi Katib.

Secara terpisah, Ali Rahmatullah menegaskan bahwa ke depan pihaknya akan berusaha memanfaatkan pertemuan lailatul ijtima’ untuk berbagai agenda. “Termasuk soal ekonomi warga,” tukasnya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Humor Islam, Syariah, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jurnal Khittah Lakpesdam NU Pati Angkat Kewirausahaan

Pati, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU kabupaten Pati kembali terbitkan edisi II Jurnal Khittah, Ahad (13/9). Tim redaksi mengangkat tema kewirausahaan yang tengah aktual di masyarakat Pati.

Jurnal Khittah Lakpesdam NU Pati Angkat Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Khittah Lakpesdam NU Pati Angkat Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Khittah Lakpesdam NU Pati Angkat Kewirausahaan

Penerbitan jurnal ini merupakan program rutin dua kali dalam setahun. Penerbitan edisi dua ini sesuai dengan yang dijadwalkan pengurus Lakpesdam NU.

“Kita mengangkat tema yang sesuai pada kondisi kekinian. Seperti pada edisi kali ini, dengan mengambil tema Wirausaha Kemandirian Nahdlatul Ulama ,” terang Pimred Jurnal Khittah Muhammad Ni’am.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain menerbitkan jurnal, Lakpesdam NU Pati berencana ke depan melakukan riset, yang bertujuan mengetahui potensi di Pati.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Sangat penting diadakan riset untuk mengetahui potensi yang tersimpan di kabupaten Pati,” kata Ratna Andi Irawan selaku Ketua Lakpesdam NU Pati.

Ia berharap terbitnya Jurnal Khittah dan beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan Lakpesdam NU Pati bisa memberikan sumbangsih maupun kontribusi kepada warga NU, agar ke depan Lakpesdam NU Pati bisa terus berkarya serta ? lebih progresif dalam melakukan pendampingan di masyarakat. (Siswanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock