Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Festival Tongtek yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor-Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah. Kegiatan yang baru dihelat kali pertama ini diikuti 33 kontingen dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Kudus.

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriahnya Festival Tongtek, dari Kentongan sampai Kaleng Biskuit

Di sepanjang jalan dari start Lapangan Kongsi Desa Loram hingga Masjid Wali, mereka Sabtu (25/6) malam itu memainkan musik kentongan yang dipadukan alat-alat seadanya lainya seperti galon, kaleng biskuit, tong, dan lainnya. Dengan berjalan kaki, tetabuhan musik kentongan ini mengiringi lagu-lagu religi yang mereka nyanyikan.

Festival yang dimulai selepas tarawih ini mendapat sambutan warga dan tokoh masyarakat desa setempat. Ratusan masyarakat berjajar di pinggir jalan menanti kontingen tongtek melewati jalan raya Desa Loram.

Ketua panitia Syaifuddin Najib mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya melestarikan musik kentongan yang belakangan ini hampir punah. Musik kentongan, katanya, memiliki manfaat sebagai perangkat untuk kepentingan patroli (ronda) malam menjaga keamanan desa.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

"Ansor ingin mencoba menumbuhkan kembali melalui lomba tongtek sehingga musik tradisional tetap lestari. Apalagi selama Ramadhan seringkali dimanfaatkan untuk membangunkan orang sahur puasa," katanya.

?

Melihat antusiasme warga dan peserta, kata dia, kegiatan festival tongtek menunjukkan adanya respon positif. Karenanya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan budaya yang diagendakan rutin setiap tahun.? "Kita akan melanjutkan festival tongtek ini sebagai kegiatan rutin setiap tahun di Kecamatan Jati," tutur Najib.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

Pembina Banser Kudus H.Akhwan Sukandar mengapresiasi kegiatan bernuansa seni tradisional ini. Menurutnya, kesenian tongtek sudah berlangsung lama muncul di lingkungan masyarakat pedesaan sebagai musik ronda. Namun belakangan musik seperti ini hampir hilang.

?

"Kegiatan festival tongktek patut didukung sehingga musik tradisional ini tetap lestari," ujar Akhwan yang juga mantan Komandan Satkorcab Banser Kudus ini.

?

Pernyataan senada juga disampaikan Kapolsek Jati yang hadir mulai awal hingga selesainya acara pukul 24.00 WIB. Dikatakan, sejarah musik tongtek berawal dari cerita adanya orang bermain judi gaple. Karena judi mengganggu masyarakat, akhirnya para pemainnya diusir oleh para pemain tongtek.

"Oleh karena itu saya sangat berharap kegiatan tongtek tetap dilaksanakan dengan kemeriahan," katanya seraya meminta masyarakat menjaga lingkungan sekitarnya.

Festival tongtek ini diikuti 33 kontingen yang berasal dari 6 kecamatan yakni Gebog, Jati, Bae, Kaliwungu, Mejobo dan Undaan. Dari hasil penilaian juri terpilih kontingen terbaik masing-masing juara 1 grup dari Kaliwungu, Juara 2 (Jepang Pakis, Jati), Juara 3 (Payaman, Mejobo), Juara harapan 1 dan 2 adalah Loram Wetan dan Undaan Lor. Masing-masing juara mendapat penghargaan piala dan uang pembinaan yang nilainya beragam. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Quote Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Banyak yang terperangah dengan tampilnya sejumlah penceramah di televisi namun yang bersangkutan tidak menguasai agama dengan benar. Yang terbaru, seorang ustadzah melakukan kesalahan dalam menulis Surat Al-Ankabut ayat 45 dan Surat Al-Ahzab ayat 21.

Terjadinya peristiwa ini tentunya diawali dengan sebab. "Mengapa mereka yang tidak kompeten ternyata mendapatkan tempat di media, termasuk di media sosial? Karena mereka lebih progresif dan bergerak maju," kata KH Agus Ali Masyhuri, Selasa (5/12) petang.

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ali Bicara Soal Kompetensi Dai dan Daiyah di Televisi

Gus Ali ditemui media ini usai mengikuti rapat harian PWNU Jatim di lantai dua Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya.

"Maaf, kita harus jujur dengan sumber daya manusia sendiri. Banyak kader kita yang memiliki potensi, tetapi tidak didukung dengan kemampuan lain," kata Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Apa faktornya sehingga banyak tenaga potensial yang dimiliki kalangan pesantren dan NU ternyata tidak muncul di ranah publik? "Mungkin karena tidak ada yang bisa menyalurkan, atau memang tidak memiliki keinginan untuk maju," urainya.

Wakil Rais PWNU Jatim ini juga menduga karena sang kiai atau ustadz telah merasa puas dengan yang dicapai saat ini. Mereka merasa puas di kampungnya, dengan keadaannya saat ini. "Padahal mereka keliru dalam menerjemahkan qanaah," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai solusi, Gus Ali mengajak kalangan pesantren dan warga NU untuk berdakwah di media, termasuk di dalamnya media sosial. "Padahal barangsiapa yang menguasai media, maka memiliki separuh kemenangan dalam pembentukan opini publik. Jadi opini di masyarakat itu bisa dibentuk," terangnya.

Berlimpahnya sumber daya manusia khususnya yang memiliki komptenesi dalam menyeru agama di kalangan nahdliyin hendaknya dapat dioptimalkan. "Bahwa SDM yang kita miliki sebenarnya cukup dan memadai untuk melakukan hal yang lebih baik dari mereka," ujarnya.

Ia mengajak semua pihak berbenah diri dan melakukan konsolidasi secara terukur dan terarah. Jangan sampai para kader pendakwah gagap teknologi atau gaptek, tidak mengerti aplikasi, juga media sosial, "Karenanya, hendaklah ada di antara kita yang berdakwah di sejumlah media," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Makam, Internasional, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut

Karanganyar, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Sedikitnya 100 orang terdiri atas perwakilan Muslimat NU se-Kabupaten Karanganyar mendapatkan pelatihan kewirausahaan dan keterampilan merajut di kediaman Ketua Muslimat NU Perum Josroyo Indah Jaten Karanganyar, Senin (2/1). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan PT MAS Surakarta.

Dalam pelatihan ini para anggota Muslimat NU dibekali dengan keterampilan agar bisa berwirausaha sehingga mampu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Selama pelatihan mereka diajari cara merangkai benang sehingga menjadi rajutan.

Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Wirausaha, Muslimat NU Karanganyar Berlatih Merajut

Ketua Muslimat NU Karanganyar Hj Suliyastuti mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan tersebut untuk melatih dan mengolah keterampilan dan menambah pendapatan pengurus Muslimat NU.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Jika ibu-ibu terampil dalam membangun ekonomi, maka akan tercapai keluarga yang sakinah dan pasti akan mengantarkan negara baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur," kata Sulis.

Dengan dilatih merajut setidaknya para anggota Muslimat NU bisa berwirausaha dan menciptakan sebuah usaha produktif yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya, pungkas Sulis. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Fragmen, Lomba Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M. Hanif Dhakiri unjuk kebolehan membaca puisi saat menghadiri agenda Hari Puisi Indonesia Tahun 2017 di Graha Bhakti Kebudayaan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (3/10) malam.

Bagi Menteri Hanif, puisi merupakan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari realita kehidupan manusia. Oleh karena iu, Hanif mendukung agar proses berpuisi terus dikembangkan dan dilestarikan. 

"Karena disana mengalir realita yang metaforik. Kemudian metafora yang realistik. Kemudian di sana ada etika dan juga estetika," kata Menaker.

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Bacakan Puisi Karya Soekarno

Pada kesempatan tersebut, Menaker pun turut membacakan puisi "Berpedomanlah Pada Cita-cita" karya Ir. Soekarno.

Melalui puisi karya Soekarno ini, Menaker mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk optimis menghadapi tantangan-tantangan masa depan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Saatnya kita sebagai bangsa melihat ke depan, penuh optimisme, bekerja keras," ujarnya.

Berikut adalah sepenggal puisi karya presiden pertama Indonesia tersebut:

 

Berpedomanlah Pada Cita-cita

Ir. Soekarno

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan

kehidupan manusia sekarang digerogoti

dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan

Ketakutan akan hari depan

ketakutan akan bom hidrogen

ketakutan akan ideologi-ideologi

Mungkin rasa takut itu

pada hakekatnya merupakan bahaya yang

lebih besar daripada bahaya itu sendiri

Sebab rasa takutlah yang

mendorong orang berbuat tolol

berbuat tanpa berpikir

berbuat hal yang membahayakan

Dalam permusyawaratan Tuan-tuan

saya minta, jangan kiranya Tuan-tuan

terpengaruh oleh ketakutan itu

Sebab ketakutan adalah zat asam

yang mencapkan perbuatan manusia

menjadi pola yang aneh-aneh

Berpedomanlah pada harapan

dan ketetapan hati

berpedomanlah pada cita-cita

berpedomanlah pada impian dan angan-angan

(Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nahdlatul Ulama, Anti Hoax, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian

Brebes, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Keberadaan Gerakan Pemuda Ansor diharapkan dapat membawa maslahat bagi lingkungan sekitarnya. Setiap kader GP Ansor harus mampu menyentuh persoalan lokalitas yang berkembang sekarang.

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Diharap Sentuh Persoalan Kekinian

Harapan itu disampaikan Wasekjen Pimpinan Pusat GP Ansor Rizqon Halal Syah saat menghadiri Rakercab Pengurus Cabang (PC) Ansor Kabupaten Brebes di Pondok Pesantren Al-Falah Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (11/9).

"Ansor saat ini perlu penguatan kader sebagai bekal untuk menjawab persoalan kekinian dan kedisinian. Ansor harus menyentuh persoalan yang ada," kata Rizqon Syah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rizqon juga berharap program kerja yang dirumuskan pada Rakercab tersebut bisa menjadi wadah yang berguna dalam mencetak kader andal di masa mendatang.? Sebab, masa depan NU dan bangsa juga tidak lepas dari proses kaderisasi saat ini. Sehingga identitas kultural Jamiah Nahdlatul Ulama harus diperkokoh untuk memperkuat ukhuwah islamiyah dan ukhuwah Nahdliyah.

Ketua PC Ansor Brebes, Ahmad Munsip menjelaskan, sejumlah program yang telah dirancang berbagai bidang kerja yang meliputi arah maslahat untuk internal seperti penguatan kelembagaan maupun kemandirian. Di samping itu juga program yang bersifat eksternal baik yang bersinggungan dengan peran serta dalam pembangunan daerah, penyiapan SDM serta aksi sosial kemasyarakatan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. Pihaknya mengaku akan fokus lebih dulu pada penataan kelambagaan, pemberdayaan kader dan penguatan identitas kultural Aswaja.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Program kerja ke depan arahnya revitalisasi gerakan menuju optimalisasi kader dan kemandirian organisasi secara internal. Insya Allah periode kali ini akan dibentuk LPK (lembaga pendidikan dan keterampilan) sebagai wadah pembinaan di bidang keterampilan anggota “ terang Munsip

? ? ? ?

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Ansor Jawa Tengah, Solahudin, pengurus lembaga pendidikan dan kederisasi, keanggotaan dan organisasi, IPTEK Pers dan Kajian Strategis, dakwah dan pengembangan pesantren, lingkungan hidup dan perdagangan, advokasi dan perlindungan HAM, seni budaya dan lahraga serta lembaga perekonomian dan? ketenagakerjaan.

Rakercab juga akan diisi dengan Ansor Bershalawat di lapangan Jatirokeh yang akan diisi dengan majelis dzikir dan sholawat rijalul ansor bersama sejumlah ulama. Di antaranya, Habib Umar Muthohar dari Semarang dan Habib Masoleh Bin Yahya dari Cirebon. Kegiatan Ansor Bersholawat juga akan dipandu oleh group Qosidah Akhbabul Mustofa asuhan Habib Lutfi Bin Yahya dari Kota Pekalongan. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Nusantara, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja

Sukoharjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal -

Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, mengadakan kegiatan kelas akhir tahun 2016 dengan membedah buku “Khazanah Aswaja” yang diterbitkan Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.

Kegiatan bedah buku tersebut dilaksanakan, Sabtu-Ahad (24-25/12), di Aula Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah

Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Muayyad Windan Bedah Khazanah Aswaja

Selama dua hari itu para peserta yang terdiri dari santri dan masyarakat umum, mengaji buku yang menjelaskan secara lengkap ajaran Aswaja mulai dari mmafahim Aswaja, aqidah Aswaja, fikih Aswaja, tasawuf Aswaja, dan kelompok aliran dalam sejarah umat Islam ini, dengan dipandu berbagai narasumber.

Pengasuh Pesantren Windan, KH M Dian Nafi’, kegiatan mengkaji buku ini sangat penting untuk bekal para santri dan generasi muda Nahdliyin. “Santri perlu terus menambah pengetahuan dan wawasan tentang Nahdlatul Ulama,” terang Kiai ‘Dian, Jumat (23/12).?

Menurutnya, NU memiliki sanad ilmu yang jelas, yang sangat penting bagi para pencari ilmu. “Sehingga orang muda akan sangat beruntung jika belajar agama islam dengan mengikuti Nahdlatul Ulama,” terang Wakil Rais Syuriah PWNU Jateng itu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Dian menambahkan, kajian ini menjadi kegiatan rutin yang selalu digelar menjelang akhir tahun. “Setiap akhir tahun kita membahas satu buku atau pemikiran para tokoh ulama Islam,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal PonPes, Lomba, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Sukoharjo,? Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, memiliki cara unik untuk memperingati momentum pergantian tahun. Mereka menggelar kegiatan “Dupa Nuswantara”.

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)
Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Kegiatan yang rutin digelar saban tahun tersebut bertema “Dupa Nuswantara: dari Pagar Nusa Kartasura untuk Masyarakat Indonesia”, digelar di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Ahad (1/1).

Kepada? Kedung Sukun Adiwerna Tegal, salah satu panitia kegiatan Dupa Nuswantara, Hamid Baedhowi, menuturkan ini merupakan acara Dupa Nuswantara yang diadakan untuk ketiga kalinya. Sebelumnya, kegiatan serupa hanya dilaksanakan di daerah sekitar Kartasura.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Para peserta yang ikut tidak hanya dari Kartasura, tapi juga dari berbagai daerah seperti Boyolali, Sragen, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo bahkan dari Ponorogo pun ada yang berpartisipasi dalam acara tersebut,” terang Hamid.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di sana, para pendekar Pagar Nusa menuju ke lokasi dengan berjalan kaki. Sesampainya di sebuah Langgar yang bertepat di Desa Kalipang mereka berkumpul dan melantunkan dzikir, tahlil dan doa bersama untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

“Doa kita panjatkan agar bangsa ini dibebaskan dari bencana yang tidak kita inginkan, maka dari itulah acara ini disebut dengan nama Dupa Nuswantara,” tutur Baedhowi.

Acara juga dimeriahkan dengan penerbangan lentera harapan. “Semoga tahun 2017 ini kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata dia.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan, Internasional, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond

Bondowoso, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur bersama Jamiyah Sholawat Bondowoso (Jams Bond) menyelenggarakan mejelis shalawat bertema “Lembur dalam Cinta al-Musthafa SAW”.

NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tamanan Peringati Harlah Ke-4 Jams Bond

Acara yang diikuti masyarakat secara umum ini digelar dalam rangka memperingati hari lahir Jams Bond. Majelis shalawat berlangsung di alun-alun Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Rabu (12/10).

Ketua MWCNU Kecamatan Tamanan KH Masrur Husnan mengatakan, perhelatan tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari agenda rutin. Hanya saja, kali ini bertepatan dengan hari jadi ke-4? Jams Bond.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Alhamdulillah jam’iyah ini anggotanya sudah di luar dari Tamanan, juga ada dari Kecamatan Tlogosari, Maesan, dan Jambesari, yang aslinya jam’iyah shalawat Tamanan menjadi jamiyah sholawat Bondowoso," katanya di lokasi.

Ia juga menyampaikan rentetan acara yang meliputi khataman Al-Qur’an, paragliding (para layang), atau paramotor sekaligus menyebarkan brosur dan haul akbar. "Ini adalah wujud kecintaan kita terhadap shalawat," ungkapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Acara tabligh akbar tersebut akan dihadiri oleh Habib Hasyim bin Abdullah Assegef dari Banyuwangi dan KH Sholeh Ahmad, dai shalawat dari Sumber Wringin. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, AlaSantri, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Jokowi Ikut Tahlilan Haul Gus Dur di Ciganjur

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Presiden Joko Widodo menghadiri acara puncak Haul Ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jalan Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (23/12) malam ini.

Dengan pengawalan ketat aparat keamanan, Jokowi tiba di lokasi acara disambut Nyai Shinta Nuriyah Rahman Wahid dan keluarga. Bersama ribuan hadirin, Jokowi tampak khusyuk mengikuti sesi menyanyikan Indonesia Raya dan syair karya KH Wahab Chasbullah, Mars Syubbanul Wathan, serta pembacaan tahlil.

Tahlil dipimpin KH Azis Masyhuri, mantan ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU). Hadir dalam acara yang mengusung tema "Ngaji Gus Dur: Menebar Damai, Menuai Rahmat" ini Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mantan wakil presiden Boediono, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Habib Umar Muthohar, Habib Jafar Alkaff, para kiai dan tokoh-tokoh lainnya.

Jokowi Ikut Tahlilan Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi Ikut Tahlilan Haul Gus Dur di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi Ikut Tahlilan Haul Gus Dur di Ciganjur

Ribuan pengunjung memadati kompleks Yayasan KH Abdul Wahid Hasyim sejak sore. Mereka yang berasal dari Jabodetabek ini datang dengan bus rombongan, angkot, sepeda motor, mobil pribadi, hingga jalan kaki. Membludaknya peserta sempat membuat Jalan Warung Silah Ciganjur.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebelumnya telah digelar khataman Al-Quran oleh para hafidz dari Jamiyyatul Qurra wal Huffadh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Depok sejak pagi hingga sore. Malam ini selain taushiyah dan testimoni? acara juga akan diisi dengan deklarasi damai dan pembacaan puisi oleh para seniman. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ulama, Internasional, Humor Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Bulan Rajab dan Landasan Kebenaran Tawasul

Bulan ini, mengingatkan saya pada dialog antara Nabi Besar Muhammad SAW yang masih hidup dengan Nabi Musa AS yang sudah wafat pada peristiwa Isra’ Mi’raj. Bahkan dialog ini sangat intensif dan serius. Betapa Shalat yang diwajibkan untuk yang pertama sekali adalah 50 kali dalam sehari, tapi berkat kekhawatiran Nabi Musa AS kepada umat Nabi Muhammad SAW atas ketidakmampuan mereka akan tanggung jawab itu, beliau menyarankan kepada Nabi Besar Muhammad SAW untuk memohon kepada Allah SWT guna memberikan “diskon”.

Allah SWT pun memberikan keringanan. Tidak serta merta langsung memberikannya dari 50 ke 5 waktu, tetapi dengan sedikit demi sedikit, dari dikurangi 5 waktu sampai akhirnya menjadi jumlah akhir 5 waktu. Semua itu adalah berkat kegigihan Nabi Musa AS memberikan masukan positif kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Bulan Rajab dan Landasan Kebenaran Tawasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Rajab dan Landasan Kebenaran Tawasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Rajab dan Landasan Kebenaran Tawasul

Dari kisah sahih di atas dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang sudah wafat ratusan tahun itu masih bisa berbicara, berdialog aktif dengan orang yang masih hidup. Artinya, apabila kita berziarah kepada Nabi, wali dan ulama kemudian kita bertawasul kepada mereka, tentu mereka mendengar dan akan mendoakan kepada Sang Khaliq yang Maha Mendengar dan Maha Kuasa.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tentang fakta bahwa orang mati bisa berdialog dengan yang orang masih hidup, bisa disimak dari hadits berikut:

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 2/218 ? ? 2041 ? ? : 5/245 ? ? 10050

Rasulullah SAW berdsabda,“Tidak ada salah seorang yang memberikan salam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruhku, sehingga aku menjawab salam.” (HR Imam Dawud dan Baihaqi)

Dan hadits:

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Nabi SAW bersabda, “Tidak ada salah seorang muslim yang lewat kuburan seseorang yang ia kenal di dunia, kemudian ia memberikan salam kepadanya, kecuali Allah mengembalikan ruhnya, sehingga ia menjawab salam.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menanggapi hadits di atas (Majmu’ Fatawa: XXVII/395) mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jika menjawab salam ada pada orang-orang mukmin awam, maka tentu itu lebih utama terhadap lebih utama-utamanya makhluq.”

Bagi yang ingin lebih detail mengetahui bahwa orang yang sudah meninggal dunia masih dapat mendengar, silakan membaca kitab Majmu’ Fatawa-nya Syaikh Ibnu Taimiyah atau Syaikh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah.

Dari semua itu tidak ada salahnya kita bertawassul kepada orang yang sudah berada di dalam kubur, apalagi mereka itu orang-orang pilihan Allah SWT, kekasih Allah SWT, bahkan pilihan-Nya yang terkasih junjungan Nabi Agung Muhammad SAW.

Oleh KH Muhammad Hanif Muslih, Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

NU Dungkek Bentuk Tim 9 Lakukan Sosialisasi NUsantara Mart

Sumenep, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dalam mendongkrak perekonomian warga nahdliyin, MWCNU Dungkek, Sumenep membentuk Tim 9. Tugasnya, memperkenalkan NUsantara Mart hingga ke masyarakat bawah.

Tim 9 terdiri dari Katib, Pengurus Tanfidhiyah, PAC Ansor, ISNU, Banser, dan Ranting Ansor. 

NU Dungkek Bentuk Tim 9 Lakukan Sosialisasi NUsantara Mart (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Dungkek Bentuk Tim 9 Lakukan Sosialisasi NUsantara Mart (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Dungkek Bentuk Tim 9 Lakukan Sosialisasi NUsantara Mart

Sasaran sosialisasi Tim 9 tersebut meliputi Kecamatan Dungkek dan sekitarnya. Itu masih terlihat hingga Sabtu (13/1) kemarin. Setelah itu, bakal merambah daerah lainnya.

Menurut Darsono, Sekretaris MWCNU Dungkek, Tim 9 hanya bertanggung jawab dan bertugas untuk mengawal terlaksananya NUsantara Mart, terkait dengan modal dan sebagainya itu bersumber dari jamaah. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tim 9 menyediakan 5.000 saham yang harus dibeli oleh paling sedikit 3000 orang bagi seluruh warga nahdliyin di Kecamatan Dungkek dan sekitarnya, 

"Mengenai penjualan saham, satu lembar seharga 100 ribu, satu orang maksimal bisa membeli 10 saham. Tapi diperioritaskan satu orang satu lembar saham. Sampai saat ini, baru 791 saham yang terjual. Jika memang ada warga nahdliyin di berbagai daerah yang berkenan untuk membeli saham, dengan senang hati kami akan melayani," tuturnya.

NUsantara Mart merupakan usaha mandiri berbasis jamaah (oleh jamaah dan untuk jamaah NU), yang bergerak di bidang penjualan grosir, retail atau mini market. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Inisiatif tersebut sebenarnya muncul dari alumni Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU atau biasa disebut dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL) PKPNU yang diadakan oleh Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. 

Di wilayah Jawa Timur nampaknya sudah banyak yang menerapkan usaha NUsantara Mart ini salah satunya adalah Tulungangung.

Majelis MWCNU Dungkek juga sudah mendaftar ke Pengurus Wilayah NU untuk memperoleh izin membangun NUsantara Mart di Kecamatan Dungkek. NUsantara Mart di Dungek ini langsung ditangani oleh Tim 9.

 "Kami rutin sosialisasi, setiap ada acara NU ataupun acara Banom NU kami sempatkan untuk sosialisasi, selain itu kami juga menyebarkan di medsos," ungkap Yondriani Akbar, salah satu pengurus Tim 9. 

Dia menambahkan, Tim 9 menargetkan pada pertengahan tahun 2018, NUsantara Mart Dungkek sudah mulai beroperasi. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Peringatan Harlah di Jepara Berlangsung Sederhana

Jepara, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Suasana kesederhanaan. Itulah yang tampak dalam peringatan hari lahir (Harlah) ke-90 NU di Pendopo Kabupaten Jepara, Ahad (26/5). 

Kegiatan yang dihadiri ratusan orang itu terdiri dari pengurus, Banom, Lajnah, MWC dan penerbang telon dari kecamatan Bangsri. Kegiatan malam itu diisi dengan istighotsah, shalawatan dan tausiyah dari KH Kamil Ahmad. 

Peringatan Harlah di Jepara Berlangsung Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Harlah di Jepara Berlangsung Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Harlah di Jepara Berlangsung Sederhana

Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi selaku penggagas mengatakan kegiatan terinspirasi dari rutinitas yang dilaksanakan Perguruan Islam Mathaliul Falah Pati. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Setiap 16 Rajab di Kajen para santri memperingati Harlah NU. Inspirasi itu kemudian saya sampaikan kepada pak Asyhari dan Alhamdulillah kegiatan bisa terlaksana,” katanya. 

Sementara itu, Ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Syamsuri dalam sambutannya mengungkapkan usia NU kini semakin tua. Karena itu NU harus bisa menyesuaikan dengan jamaah maupun jamiyyah. Disamping itu kiai Asyhari menghimbau agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dengan menjaga kekompakan, kepala SMKN 3 Jepara itu menyebut gerakan Islam radikal yang akan mendangkalkan eksistensi NU Semisal yang mengatakan membaca shalawat tidak ada gunanya sambungnya merasa kewalahan. Karena itu warga NU lanjutnya harus merapatkan barisan agar upaya busuk mereka tidak terwujud. 

Dengan cara itu, masih menurutnya NU bukan hanya organisasi yang bisa dihitung namun juga diperhitungkan. 

 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Budaya, Internasional, Nahdlatul Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Ratusan Santri Digembleng Ala Banser

Demak, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Trenggalek kembali menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar). Diklatsar Banser II ini cukup berbeda dari biasanya karena pesertanya sebagian besar dari kalangan pesantren. Tak tanggung-tanggung, hampir 200 santri dari pesantren di Trenggalek ikut dalam agenda tersebut.

Kasatkorcab Banser Trenggalek, H. Fatkhur Rohman mengatakan, kaum santri dan kiai mempunyai sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui laskar Hizbullah dan Sabilillah, mereka angkat senjata menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

"Pangeran Diponegoro dan pengikutnya santri. Arek-arek Surabaya yang berhasil memukul mundur Inggris dalam pertempuran 10 November juga santri. Dan masih banyak tokoh lainnya yang santri. Makanya, santri sekarang perlu dipupuk jiwa nasionalismenya, karena ia adalah benteng aswaja dan NKRI," paparnya.

Ratusan Santri Digembleng Ala Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Digembleng Ala Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Digembleng Ala Banser

Diklatsar II ini berlangsung di Pondok Pesantren Sulaiman Gandusari, (6-8/5). Selama tiga hari, para santri diberi materi keaswajaan, kebangsaan, dan tak lupa, gemblengan kanuragan. Diklatsar ditutup oleh Kasatkorcab dan pembacaan Rotibul Hadad yang dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren, KH. Musyaroh Utsman. (Abid Dzulfikar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Daerah, IMNU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Petani Lawan Monsanto (1)

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Minggu-minggu ini, media Amerika sedang hangat memberitakan sengketa seorang Petani Indiana versus Monsanto.Co, perusahaan raksasa multinasional yang berbasis St. Louis, Missouri, Amerika Serikat. 

Petani Lawan Monsanto (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Petani Lawan Monsanto (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Petani Lawan Monsanto (1)

Mahkamah Agung AS akan mendengarkan argumentasi dari kedua belah pihak dalam pemeriksanaan lanjutan yang digelar setiap selasa. Jika akhirnya keputusan MA memenangkan sang petani dipastikan implikasinya sangat luas terhadap dalam industri perangkat lunak nanoteknologi dan juga ketahanan pangan dunia.

Petani itu bernama Vernon H. Bowman. Monsanto menggugat Pak Bowman karena ia menanam kedelai yang berasal dari tanaman yang ditanam oleh petani lain yang menggunakan benih yang dipatenkan Monsanto. Mahkamah Agung akan mendengar argumen Monsanto atas tuduhan bahwa petani itu telah mencuri hak patennya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Monsanto mengklaim bahwa perlindungan hak paten harus diberikan melampaui generasi pertama benih tersebut. Sebaliknya, Pak Bowman berpendapat hak paten perusahaan sudah habis masa berlakunya saat ia membeli bibit generasi berikutnya dari gudang gandum lokal. 

Pengadilan federal yang lebih rendah telah memenangkan gugatan perusahaan kimia dan monopoli benih melalui hak patennya ini. Namun kasusnya sekarang dibawa ke Mahkamah Agung. Hari-hari ke depan Mahkamah Agung AS akan menentukan apakah petani Indiana itu sudah tepat ketika ia mengklaim bahwa benih yang ditanam tidak mesti dikontrol oleh Monsanto. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Beberapa pihak menyebut sengketa ini seperti pertarungan antara David vs Goliath. Tapi Pak Bowman, petani barat laut Indiana itu, bilang pada The Guardian (9/2/2013) bahwa kasus ini adalah soal benar dan salah, bukan antara si raksasa vs si kerdil. Maka ia pun berani melawan perusahaan tersebut dan berbagai bagian dari kekuasaan yang menyerang balik ke arahnya. 

Dukungan mengalir untuk Pak Bowman. Kelompok pendukung yang menamakan diri Pusat Ketahanan Pangan (the Center for Food Safety) dan Selamatkan Benih Kami (Save Our Seeds -SOS) ini akan merilis laporan pemeriksaan terhada industry benih modern. 

Debbie Barker, Direktor Program SOS mengatakan, kemenangan Pak Bowman di Mahkamah Agung akan mendorong indsutri agar terbuka dan memperlakukan benih sebagai sumberdaya bersama dan bukan ladang komersial yang diperebutkan. SOS juga menyakini bahwa Monsanto dan perusahaan lainnya hanya peduli terhadap model bisnis yang menguntungkan ketimbang minat melakukan penelitian. Di atas semuanya, hanya 3 perusahaan sekarang yang mengontrol lebih dari 50% pasar benih global. 

Sementara itu pihak Monsanto kini mendapatkan dukungan dari perusahaan raksasa lain yang mewakili industri software seperti Microsoft Corp dan Apple Inc. Grup-grup bisnis ini mengatakan, keputusan yang melawan pencipta benih itu dapat juga berpotensi menghapus perlindungan hak paten perusahaan-perusahaan teknologi (The Wall Street Journal, 15/2/2013)

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Mh Nurul Huda

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Gus Mus: Umat Lebih Butuh Dokter Kemasyarakatan

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Banyak orang tua yang menitipkan pendidikan anaknya ke sekolah kedokteran agar mampu mengobati raga yang sakit. Tapi sungguh jarang sekali mereka yang menitipkannya ke sekolah akhlak dan kemasyarakatan, supaya sanggup menyembuhkan akhlak umat dan menata sistem kemasyarakatannya.

Demikian dinyatakan KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus saat mendaras kitab “Idhatun Nasyiin” bersama santri dan masyarakat umum di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, sebagaimana disiarkan langsung oleh Radio NU, Senin (22/6).

Gus Mus: Umat Lebih Butuh Dokter Kemasyarakatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Umat Lebih Butuh Dokter Kemasyarakatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Umat Lebih Butuh Dokter Kemasyarakatan

Mengutip kandungan kitab, Gus Mus mengatakan, kenyataan tersebut terjadi lantaran adanya kerusakan jiwa yang mengunggulkan hal-hal yang bersifat material daripada yang moral. “Di sini sekolah akhlak ya pesantren,” jelas Pejabat Rais Aam PBNU ini.

Umat, kata Gus Mus, memang membutuhkan para lulusan sekolah kedokteran dan sekolah akhlak. Namun, para dokter kemasyarakatan (athibba’ul ijtima’) dan ahli budi pekerti lebih diperlukan ketimbang orang-orang yang sekadar bisa mengobati penyakit jasmani.

Menurutnya, masyarakat kini telah dilenakan oleh berbagai godaan yang serbaduniawi. Mereka banyak yang terjerat oleh budaya konsumsi. Gus Mus juga menyinggung soal media dan pers yang ditunggangi kepentingan tertentu, rendahnya budaya baca, dan maraknya politik uang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk memperbaiki masyarakat yang “sakit” ini, para reformis mesti melakukan usaha yang tertata dan terkondisikan. Mereka harus mampu membangun kesadaran di masyarakat karena sesakit apapun mereka pasti memiliki nilai-nilai baik yang terpendam. “Ini (kebaikan yang terpendam) harus ada yang membangkitkan. Ya dokter masyarakat tadi,” tuturnya.

Dalam pembahasan “Ats-Tsaurah al-Adabiyah” (revolusi akhlak) itu, Gus Mus mengingatkan, umat tidak akan bangkit kecuali dengan pendidikan budi luhur, menjebol akhlak yang rusak, dan menata sistem kemasyarkaatan.

“Entah namanya revolusi mental, revolusi moral, atau apapun, yang jelas kelakukuan-kelakuan buruk itu harus dikikis secara serentak dengan gerakan yang massal,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada Ramadhan tahun ini pengajian online bersama Gus Mus disiarkan rutin oleh Radio NU selepas shalat tarawih atau sekitar pukul 20.00 WIB. Pendengar bisa menyimak dari mana saja yang terkoneksi dengan internet.

Pengajian bersama Gus Mus berlangsung dalam suasana santai dan akrab dengan bahasa campuran antara Jawa dan Indonesia. Kitab “Idhatun Nasyiin” merupakan karya Syekh Musthofa al-Ghulaini.

Radio NU juga menyiarkan langsung pengajian bersama Katib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur; dan Gus Yusuf Chudlori dari Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Doa, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 27 November 2017

Bentengi Wahabi, Santri Astanajapura Bangkitkan Forum Al-Musyawirin

Cirebon, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Fenomena merebaknya paham Wahabi di tengah masyarakat Indonesia mendorong puluhan alumni pesantren se kecamatan Astanajapura kabupaten Cirebon berkumpul dan memunculkan inisiatif untuk kembali menghidupkan forum Al-Musyawirin yang pernah ramai pada tahun 90-an.

Bentengi Wahabi, Santri Astanajapura Bangkitkan Forum Al-Musyawirin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Wahabi, Santri Astanajapura Bangkitkan Forum Al-Musyawirin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Wahabi, Santri Astanajapura Bangkitkan Forum Al-Musyawirin

Usaha tersebut diawali dengan digelarnya sebuah halaqah keaswajaan dan halal bi halal di Musala Nuruzzaman Desa Japura Kidul kecamatan Astanajapura kabupaten Cirebon, Senin (12/8).

Adi Rosyadi, dalam sambutannya sebagai ketua panitia mengungkapkan bahwa menghidupkan kembali forum keaswajaan seperti ini menjadi semakin penting, hal tersebut dilandaskan pada beberapa tujuan, antara lain memperkuat tali silaturrahmi antara alumni pesantren dan masyarakat, menjaga dan membentengi masyarakat dari pengaruh paham yang dapat mengancam persatuan bangsa, serta mempertegas peran santri dalam syiar agama Islam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Meskipun di wilayah kecamatan Astanajapura ini tidak begitu marak pengaruh mereka (Wahabi, red), namun forum semacam ini tetap penting untuk dihadirkan kembali guna menjaga masyarakat dari pengaruh-pengaruh paham yang dapat mengancam kesatuan bangsa,” ungkap Rosyadi. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hal senada juga diungkapkan oleh Ahmad Zuhri, alumni pesantren Lirboyo Jawa Timur yang pernah aktif di Forum Al-Musyawirin ini menuturkan bahwa penguatan Aswaja di tengah masyarakat bukan sekedar kewajiban sebagai generasi muda NU, namun juga harus dijadikan sebagai sebuah kebutuhan bagi para alumni pesantren.

“Jika bukan alumni pesantren maka siapa lagi yang akan peduli dengan masyarakat dari ancaman Wahabi. Kita bisa melakukan pengarus-utamaan aswaja ini melalui berbagai kegiatan seperti bahtsul masa’il ataupun halaqah yang dapat menjawab beberapa kebutuhan masyarakat baik di bidang agama maupun kebangsaan,” tutur Zuhri.

Selebihnya Ahmad Zuhri menceritakan bahwa forum yang diberi nama Ikatan Santri (Insan) Al-Musyawirin ini dibentuk tahun 1996, pada masanya forum ini menjadi tempat strategis untuk menghangatkan hubungan alumni pesantren dengan masyarakat.

Halaqah dengan tajuk mempertegas peran santri dalam mengawal Aswaja di tengah meluasnya paham Wahabi ini menghadirkan pembicara KH Tubagus Rifqi Khowas dari Pesantren Buntet Cirebon. Dalam paparannya, dia mengungkapkan akan selalu mendukung santri yang menjaga paham Aswaja di tengah masyarakat, karena menurutnya, ancaman paham Wahabi yang penuh dengan tradisi pengkafiran tersebut merupakan ancaman kebangsaan, sebuah ideologi yang dapat memecah belah kesatuan.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Internasional, Jadwal Kajian Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 20 November 2017

Gus Dur Ajarkan Lima Pemikiran Penting kepada SBY

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku mempelajari setidaknya lima pemikiran penting dari KH Abdurraman Wahid (Gus Dur), baik saat menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi maupun Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan pada era kepresidenan Gus Dur.

Yudhoyono mengatakan hal ini ketika menyampaikan kenangan dan kesaksian pribadi tentang sosok Gus Dur pada peringatan haul keempat Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (3/1) malam.

Gus Dur Ajarkan Lima Pemikiran Penting kepada SBY (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Ajarkan Lima Pemikiran Penting kepada SBY (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Ajarkan Lima Pemikiran Penting kepada SBY

“Hampir semua masih relevan. Hampir semua masih menjadi agenda dalam perjalanan bangsa ini,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pertama, menurut Yudhoyono, Gus Dur menginginkan hadirnya masyarakat majemuk yang rukun. Gus Dur tidak mengharapkan ada benturan dan konflik antargolongan karena alasan perbedaan yang membua pecah bangsa di sejumlah negara di dunia. “Dan ini amanah dan agenda sepanjang masa,” ujarnya.

Kedua, Gus Dur dinilai sangat gigih menghilangkan diskriminasi dengan alasan apapun, baik dalam hal politik maupun budaya. “Pokok pikiran Gus Dur tersebut harus tetap kita lanjutkan,” ujar presiden yang mengenakan pakaian serba putih.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Yudhoyono melanjutkan, pokok pikiran Gus Dur yang ketiga adalah tidak ingin negara terlalu dominan, sebaliknya mantan Ketua Umum PBNU itu ingin peran rakyat diperbesar dalam setiap kebijakan. Gus Dur menolak otoritarianisme dan menghendaki keseimbangan politik yang demokratis dan berkualitas.

“Pemikiran ini mendahului zamannya. Memang Indonesia sudah masuk negara demokratis, namun kita masih sering menemui pola pikir? otoritarian. Makanya peran negara dan rakyat harus dibikin seimbang,” katanya menambahkan.

Keempat, lanjutnya lagi, negara tidak berhak untuk mengontrol pikiran warganya bagi masyarakat yang sudah matang dan mengerti ukuran-ukuran semestinya. Karenanya, kebebasan pers, berserikat, dan berekspresi harus mendapat ruang yang layak.

Yudhoyono kemudian memaparkan pemikiran Gus Dur yang kelima yang ingin hubungan antara sipil dan militer berlangsung sehat. “Banyak negara kekuatan militernya terlalu dominan, akhirnya demokrasi tidak hidup. Sebaliknya, ketika militer ditinggalkan, maka politik akan gaduh. Maka hubungan keduanya harus serasi. Masing-masing mengerti di mana domainnya,” pungkasnya.

Dalam acara puncak haul tersebut, Yudhoyono merupakan orang terakhir yang memberikan sambutan. Sebelumnya, sambutan disampaikan Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mewakili keluarga. Kemudian KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah mewakili Pesanten Tebuireng, serta mauidhah hasanah oleh Dr KH Mustain Syafi’i sebagai ganti Habib Luthfi yang berhalangan .

Jumlah pengunjung pada perhelatan kali ini mencapai 20 ribu orang lebih. Selain berada di dalam lokasi pondok, mereka juga berderet di depan pesantren atau di Jalan Irian Jaya sepanjang lebih dari dua kilometer. Juga ada pengunjung yang haus rela mengikuti acara di gerbang makam karena area ditutup selama Yudhoyono datang. (Syaifullah/Mahbib)

?

?

foto: antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 12 November 2017

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini

Lampung Tengah, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai salah satu kabupaten yang cukup luas di provinsi Lampung, yang terdiri dari 28 kecamatan, potensi pelajar Nahdliyin di Kabupaten Lampung Tengah harus diberdayakan secara maksimal, yakni dengan mengenalkan organisasi Nahdlatul Ulama sejak dini ketika mencari ilmu di madrasah atau sekolah.

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lampung Tengah Kenalkan NU Sejak Dini

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdaltul Ulama (IPNU) Kabupaten Lampung Tengah Andi Sobihin, di sela-sela menyampaikan materi ke-IPNU-an dalam agenda Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) tahun pelajaran 2017/2018 di Lembaga Pendidikan Ma’arif? Nahdlatul Ulama Madrasah Aliyah 14 Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah, Rabu, (19/7).

“Jajaran pengurus IPNU dan IPPNU Kabupaten Lampung Tengah mengawal MOPDB ini di beberapa komisariat, dengan menjadi pemateri khususnya tentang ke-IPNU-an dan ke-IPPNU-an, seperti di Kecamatan Seputih Banyak, Bumi Nabung, Kotagajah, Punggur, Seputih Raman, Bangunrejo, Rumbia, Seputih Surabaya dan lain-lain,” imbuh alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jurai Siwo Kota Metro ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Shinta Nur Baitu selaku Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Lampung Tengah menegaskan, agenda MOPDB ini sangat penting bagi kader-kader pelajar Nahdliyin yang baru saja duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs) atau sederajat, khususnya yang ada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif? Nahdlatul Ulama Kabupaten Lampung Tengah.

“Dan yang tak kalah penting adalah pelajar NU harus menjadi contoh bagi pelajar-pelajar yang lain, melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah di lingkungannya, sekaligus jangan gampang tergoda dengan fasilitas teknologi informasi, zaman globalisasi saat ini harus sangat hati-hati,” imbuh mahasiswi Institut Agama Islam Ma’arif? Nahdlatul Ulama (IAIM NU)? Kota Metro ini. ?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU MTs Ma’arif 02 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah, mengawali agenda MOPDB, Rabu (19/7)? dengan menonton film “Sang Kiai” di Aula madrasah setempat yang diikuti oleh 209 siswa/siswi.

Anirotul Hikmah selaku Ketua PK IPPNU MTs Ma’arif 02 Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah mengatakan, dengan menonton film “Sang Kiai” harapan kami adik-adik/kader-kader pelajar NU yang masih duduk di kelas I atau VII mengerti dan memahami sejarah perjuangan dan pengorbanan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam menghadapi para penjajah sekaligus membesarkan jama’ah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 04 November 2017

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.?

***

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan ? putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.?

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.?

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip Kedung Sukun Adiwerna Tegal. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir Kedung Sukun Adiwerna Tegal. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak ? menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***

Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan.?

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Kader Muda NU dan Kontributor Kedung Sukun Adiwerna Tegal asal Purworejo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Sunnah, Pondok Pesantren, Internasional Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sekitar 120 peserta mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) yang digelar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) UIN Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang diselenggarakan di kantor PCNU Mojokerto pada Jumat-Ahad, (8-10/11) dibuka Ketua IPNU Sunan Ampel 2013-2014 M. Ishomuddin selaku, tepat pukul 21.00 WIB Jumat (8/11) .

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

“Peserta aslinya ada 170 lebih karena banyak calon kader yang ikut UKM dan IPNU ini adalah organisasi Ekstra maka mereka lebih memilih mengikuti pelatihan UKM yang berlangsung bareng dengan LAKMUD 2013 ini,” kata Ketua Panitia Lakmud, Taufiq.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Taufiq, kegiatan Lakmud ini berbarengan dengan pengkaderan 4 organisasi intra kampus. Salah satunya adalah UKM IQMA. UKM ini sudah dianggap saudara sendiri oleh IPNU-IPPNU karena rutinitasnya dan kegiatan-kegiatannya adalah amaliyah warga Nahdliyin. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah diba’iyah, berzanji, rebana, sholawatan, istighosah.

Taufiq menambahkan, pada kegiatan tersebut peserta mendapat materi Keaswajaan, Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, Managemen Organisasi dan Analisis Wacana. Selain itu, ada beberapa kegiatan berupa pengayaan seperti tes, nightmare, diskusi panel, RTL dan juga debat Ilmiah. Untuk meningkatkan semangat para peserta diadakan juga outbond dan lomba-lomba kecil. (Ali Ibrohim/Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pahlawan, Internasional, RMI NU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock