Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Hijrah: Sebuah Renungan

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Imam al-Ghazali (1058-1111 M) dalam pendahuluan Tahâfut al-Falâsifah(Inkoherensi Para Filosof) mengutip perkataan Aristoteles (384-322 SM): “Aflathon shadîq wa al-haq shadîq, wa lakin al-haq ashdaqu minhu—Plato sangat berharga, kebenaran pun sangat berharga, tapi kebenaran jauh lebih berharga dari Plato.” (Abû Hâmid al-Ghazali, Tahâful al-Falâsifah, Kairo: Darul Ma’arif, 1972, hlm 76).

Sepanjang tahun pernahkan kita mengingat dosa-dosa kita, menyesalinya dan bersungguh-sungguh memohon ampunanNya? Sepanjang tahun pernahkan kita menyadari kenikmatan hidup kita, mensyukurinya dan berserah diri kepadaNya? Kita perlu melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kehadiran Sang Nabi yang membawa cahaya—min al-dhulumât ilâ al-nûr—benar-benar telah merubah diri kita yang dipenuhi kegelapan menjadi bercahaya. Jika belum, inilah saatnya, hijrah.

Hijrah: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hijrah: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hijrah: Sebuah Renungan

Dalam Islam, ada dua jenis hijrah: pertama, hijrah zahir (fisik), yaitu berpindah tempat tinggal, dan kedua, hijrah jiwa (spiritual), yaitu berpindahnya keadaan jiwa ke arah yang lebih baik. Mengenai hijrah jiwa (spiritual) yang menuju pada perbaikan diri, Rasulullah bersabda (H.R. Imam Bukhari): “Al-Muhâjir man hajara mâ naha Allahu ‘anhu—muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala laranganNya.”

Dari sudut pandang fisik, hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw adalah sebuah transisi di antara dua situasi, dari keadaan yang tidak aman dan lemah (Mekkah) menuju keadaan yang aman dan kuat (Madinah). Sedangkan dari sudut pandang spiritual, hijrah dipahami sebagai transisi dari keadaan lemah manusia atas dosa menjadi keadaan yang kuat dan terus berjuang untuk menghindarinya. Keadaan yang penuh dengan kelalaian menuju kesadaran spiritual yang sehat.

Proses pengembangan jiwa pun terus berlangsung, tidak berhenti sampai di situ. Sebagaimana kata Aristoteles di atas, meski Plato sangat berharga baginya, Ia tidak berhenti dan terus melakukan pencarian kebenaran. Katanya:“Kebenaran jauh lebih berharga dari Plato.” Bukan berarti Aristoteles tidak menghormati Plato, tapi baginya kebenaran masih terlampau luas untuk digali, dan Plato belum menggali semua kebenaran itu, sekedar buih dalam lautan jika dibandingkan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tidak berbeda dengan keadaan jiwa (state of soul). Dalam literatur tasawuf, ada istilah yang disebut dzunûb al-ahwâl (dosa keadaan jiwa). Menurut Syeikh Musthafa al-‘Arûsi (1798-1876 M) penyebab dosa keadaan jiwa adalah sifat-sifat buruk (madzmûm al-shifât) yang menyamarkan manusia dalam kebaikan, yaitu al-wuqûf ma’a istihsânihâ—berpuas diri dengan anggapan bahwa dirinya berada dalam kebaikan (Musthafa al-‘Arusi, Natâ’ij al-Afkar, Beirut: Darul Kutub, al-Ilmiyyah, 1971, juz 2, hlm 169). 

Dengan kata lain, mencukupkan diri dengan tidak melakukan observasi terhadap jiwanya, karena telah meyakini bahwa dirinya berada dalam kebenaran. Anggapan baik inilah yang membuat manusia berhenti untuk memperbaiki kualitas ibadahnya.

Maka dari itu,setiap hari atau minimal satu tahun sekali, kita harus memeriksa diri kita, melakukan observasi dan analisis diri, ‘Apakah kita masih sering lalai? Seberapa banyak dosa kecil yang kita perbuat? Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Tuhan? Seberapa banyak amal ibadah kita? Kenapa kita berhenti pada pencitraan baik ibadah kita? Kenapa kita tidak meningkatkan kualitasnya? Kenapa kita merasa cukup dengan kebaikan kita? Padahal, kebaikan tidak akan pernah habis diamalkan dan direnungkan.’

Benar, kita harus terus berproses menuju pada kebaikan, kapanpun waktunya dan dimanapun tempatnya. Kita tidak boleh puas dengan ibadah kita. Kita harus selalu meningkatkannya; dari menyembah karena takut siksaNya berubah menjadi cinta akan ridlaNya; dari menyembah karena mengharapkan pahalaNya berubah menjadi cinta akan diriNya.Wajar saja, apabila para ulama kita terdahulu karena keinginannya untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya, berdoa dengan cara yang unik. Imam Hârits bin Asad al-Muhâsibi (781-857 M) berkata:

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ?, ? ? ? ?, ? ?: ? ? ?

“Tidak pernah aku mengatakan: “Ya Allah aku memohon taubat kepada-Mu,” sebaliknya aku mengatakan: “(Ya Allah) aku memohon syahwat taubat kepada-Mu.” (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risâlah al-Qusyairiyyah, hlm 183).

Dengan memohon syahwat dalam doanya, Ia tidak akan berhenti mengaktualisasikan dirinya. Taubatnya adalah perjalanan panjang laiknya hijrah yang dilakukan Nabi Saw dan para sahabatnya. Perjalanan menuju ke arah yang lebih baik setiap waktunya. Syahwat itulah yang membuat Imam Hârits al-Muhâsibi terus bernafsu mencintaiNya dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Shalatnya sekarang, berbeda pengalaman spiritualnya dengan shalatnya kemarin. Zikirnya besok, berbeda rasa spiritualnya dengan zikirnya sekarang.

Bagaimana dengan kita? Telah berapa kali kita mendengar adzan? Telah berapa kali kita bertemu dengan tahun baru Hijriah? Apakah kita pernah merenungkannya sejenak? Mengambil maknanya yang luhur? Dan, memperbaiki diri setiap kali melaluinya?

Ibadah kita masih sekedar takut akan siksaNya dan menginginkan surgaNya. Karenanya, kita disibukkan dengan meningkatkan kuantitasnya, bukan kualitasnya. Shalat yang seharusnya tanhâ ‘an al-fakhsya’ wa al-munkar (mencegah perbuatan keji dan munkar) tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Banyak orang shalat, tapi masih berbuat jahat; korupsi, menggunjing, menghina, memfitnah dan seterusnya. Ibadah kita seakan pakaian baru di hari raya, tapi tidak membarukan jiwa kita.

Ketika melaksanakan shalat, kita tidak merasa bahwa kita sedang menyembahNya. Kita terjebak pada lingkaran rutinitas, aktifitas sehari-hari. Shalat telah menjadi kebiasaan hidup yang kering spiritualitas.Kita lalai untuk siapa shalat kita, hidup kita, mati kita dan ibadah kita.Kita perlu melihat kepada diri kita dan berhijrah dari kekeringan spiritual menuju kesuburan spiritual. Bukan berarti ibadah kita tidak ada nilai pahalanya, tidak. Namun, alangkah baiknya jika pahala itu bersanding lurus dengan perubahan diri yang baik.

Kita selalu menuntut Tuhan ketika semuanya tidak berjalan dengan baik. Kita merasa telah melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Lalu, ‘kenapa Tuhan tidak menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan kita?’ Kita, dengan tanpa sadar, menggunakan persepsi bahwa ibadah seperti tabungan di bank, bisa diambil ketika kita membutuhkan. Karena itu, setiap kali ada masalah, kita akan menuntut Tuhan: “aku telah menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu, kenapa Kau mengujiku dengan masalah seperti ini?”

Kita menggunakan teori kausalitas (sebab-akibat) dalam hubungan kita dengan Tuhan, take and give, harus saling menguntungkan. Kita tidak sadar bahwa Tuhan tidak butuh keuntungan dari kita. Segala perintah dan laranganNya adalah untuk kebaikan kita sendiri, bukan kebaikan Tuhan. Tuhan tidak akan rugi jika semua manusia tidak menyembahNya.

Karena itu, dalam momen penuh berkah ini, tahun baru Hijriah 1439, kita harus merenung dalam diam, menerawang ke dalam diri, membiaskan hikmah agungnya, kemudian melakukan intropeksi diri (muhâsabah). Kita pun harus melakukan penataan ulang kualitas-substantif ibadah-ibadah kita. Soren Kierkegaard (1813-1855 M) mengatakan: “Prayer does not change God, but it changes him who prays—ibadah tidak merubah Tuhan, tapi merubah manusia yang melakukannya.”

? ? ? ? ? * ? ? ? ?

“Tujuanku bukan surga yang dipenuhi kenikmatan.Sungguh, aku menginginkannya, bukan karena nikmat surgawinya, tetapi karena aku ingin berjumpa denganMu”

(Sa’id Harun ‘Asyur, Jawâhir al-Tashawwuf li al-‘Arif bi Allah al-Zâbid al-Wâ’idh Yahya bin Mu’âdz al-Razi, Iskandariyyah: Maktabah al-Adab, 2002, hlm 31)

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Puluhan pelajar tingkat SMP dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia mengadu kepintaran untuk merebut tropi dari Menteri Pendidikan dan Gubernur Jawa Timur. Para pelajar kelas 9 ini selama 4 hari mengikuti Olimpiade Sains dan Sosial (SSO) yang digelar SMA Darul Ulum 2 BPPT, Pesantren Rejoso Peterongan Kabupaten Jombang Jawa Timur.

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Djihan Islahiyah dan dua rekannya peserta asal SMP Islam Al Azhar, Pontianak? misalnya mengaku sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tingkat Nasional ini. Sebagai wakil dari luar Jawa, Djihan sangat berharap bisa memenangi olimpiade Sains dan Sosial. "Kita dating bertiga, dan sekolah kita memang jauh hari telah mempersiapkan muridnya untuk mengikuti lomba ini," katanya ditemui usai mengikuti lomba.

Dengan menggunakan seragam, khas pelajar berjilbab ini mengatakan bahwa sekolah yang diwakilinya pernah mendapatkan medali perak dari lomba sains tingkat provinsi. "Dengan materi yang dilombakan, kita optimis bisa menjadi Juara," tambahnya seraya mengatakan dirinya sudah berulang kali mengikuti ajang lomba serupa di daerah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Berbeda dengan peserta asal Pontianak,? Padil pelajar SMP Negeri Palu Sulawesi Selatan, meski bisa menjawab soal-soal yang dilombakan, namun pihaknya mengaku pesimis. Pasalnya dirinya hanya datang bersama dua rekannya. "Kita datang cuman dua orang, karena yang satu sakit saat akan berangkat ke sini, jadi ada satu materi yang kurang kayaknya," ungkapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk menghadi olimpiade ini, Saifullah Kamil menceritakan,? sekolah memberikan materi tambahan khusus bagi pelajar yang ditunjuk untuk mengikuti lomba. "Latihan latihan itu diwajibkan 2 kali setiap minggu. Dan ini adalah lomba yang pertama kita ikuti," ungkapnya dengan logat khas Palu.

Ahmad Kaseri Kepala SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT mengatakan, olimpiade Sains dan Sosial kali ini diikuti sebanyak 1. 629 peserta. Terdiri dari 68 Tim peserta Sains dan 51 Tim peserta Sosial yang datang dari berbagai daerah dan provinsi.

"Antusias peserta cukp tinggi, disamping hadiah uang pembinaan, mereka yang juara berhak mendapatkan tropi bergilir dari Menteri Pendidikan dan Tropy dari Gubernur Jatim," jelasnya seraya mengatakan untuk pemenang olimpiade, Kusairi menyebutkan, jika masuk SMA DU 2 ini, akan mendapatkan tambahan biasiswa selama 1 tahun. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Pertandingan, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah

Bogor, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor KH Romdhon angkat bicara menyikapi fenomena perkembangan penyebaran paham salafi-wahabi, dengan banyaknya yayasan, komunitas hingga media yang mereka kelola.

"Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan kelompok Wahabi dan paham-paham radikal sejenis di wilayah Kabupaten Bogor semakin massif dan menguat," kata Romdhon.

Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah

Ia mengatakan, pihaknya tengah memperkuat konsolidasi jamiyah dan mengefektifkan kerja lembaga hingga struktur terbawah di tingkat ranting dan anak ranting untuk membentengi warga NU dari serbuan paham salafi-wahabi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saat menyampaikan sambutan pada kegiatan istigotsah syukuran Kemerdekaan yang digagas Majelis Sholawat Darul Fatih di Pesantren Yasina, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Sabtu (26/8) Romdhon mengingatkan para pemuka NU agar lebih waspada terhadap penetrasi kelompok radikal.

Ia berharap para ulama sepuh, kiai, kiai muda hingga muallim di kampung-kampung baik struktural maupun kultural agar terlibat lebih aktif dalam membentengi nahdliyin dari pengaruh salafi-wahabi dan paham radikal lainnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"NU lahir sebagai jangkar utama dan benteng NKRI. Paham apapun yang merongrong kelangsungan NKRI akan berhadapan dengan NU," tegas pria yang akrab disapa Kang Doni.

Kegiatan istigotsah yang diprakarsai Majelis Shalawat Darul Fatih dan PCNU Kabupaten Bogor sebagai syukuran kemerdekaan Ke-72 RI ini dihadiri 300 orang jamaah. Tampak hadir Komandan Kodim 0621 Kabupaten Bogor Letkol Inf Muhammad Fransisco.

Fransisco mengatakan, para ulama dan santri memiliki andil besar dalam mempelopori perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, ia mengajak para ulama dan kaum santri untuk terus menjaga, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia secara berkelanjutan.

"Cara mengisi kemerdekaan dapat dilakukan dengan berbuat baik dengan profesi dan tugas masing-masing," terangnya.

Ia yakin bila semua pihak telah mengerjakan tugas profesi masing-masing dengan baik, masalah yang dihadapi Indonesia dewasa ini, yaitu radikalisasi, terorisme, dan intoleransi, dapat diatasi.

"Teroris itu orang yang membajak agama untuk memenuhi kepentingan politiknya," ungkapnya.

Ia mengajak semua pihak memerangi teroris secara intensif hingga akar-akarnya, demi menjamin kelangsungan NKRI.

"Jangan menunggu negeri kita seperti Suriah yang hancur, baru melakukan aksi penyelamatan. Penyesalan selalu datang belakangan," kata Muhammad Fransisco.

Sebagaimana diketahui pada 17 Agustus tepat pada puncak perayaan HUT kemerdekaan Ke-72 RI sebuah pesantren yang dikelola oleh kelompok salafi-wahabi di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, didemo ribuan masyarakat setempat akibat membakar bendera merah putih. (Ahmad Fahir/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi

Sidoarjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Cabang Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PC JQH NU) Sidoarjo akan mengadakan Festival Santri Berprestasi (Fantasi) pada Februari mendatang. Festival itu rencananya diselenggarakan di masjid Agung Sidoarjo.

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi

"Pada hasil rapat koordinasi pengurus JQH NU Sidoarjo yang diadakan di rumah salah satu anggota JQH NU di Desa Lajuk Porong Sidoarjo, Rabu 6 Januari 2016 (malam), kami berencana akan mengadakan acara Fantasi," ujar Ketua JQH NU Sidoarjo H Imam Mukozali, Kamis (7/1).

Menurutnya, festival itu bertujuan untuk menggali potensi dari anak-anak atau santri mulai dari TPQ, Madin, SD/MI se-Kabupaten Sidoarjo yang berprestasi dan selama ini tidak tercover pada MTQ. Festival itu sendiri boleh diikuti oleh siswa atau santri yang berusia maksimal 12 tahun.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Ini khusus untuk anak-anak yang berprestasi dalam bidang tahfidz, tilawah, pildacil dan Al-Banjari. Dengan kegiatan itu, saya berharap akan muncul santri-santri berprestasi," kata H Imam penuh dengan harap.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada para pengurus JQH NU Sidoarjo karena telah menyelenggarakan acara rapat kerja (raker) JQH NU ke-II dengan sukses.

Rapat koordinasi ini dihadiri beberapa unsur di antaranya unsur majelis ilmi, unsur pimpinan cabang, PAC dan komisariat.

Di tempat terpisah, Ketua JQH NU Jawa Timur H Zainul Arifin mengapresiasi atas terselenggaranya program yang telah dijalankan oleh JQH NU Sidoarjo. "Selamat dan sukses JQH NU Sidoarjo. Semoga program-programnya diberi kemudahan dan keberhasilan," ucap H Zainul. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, News, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten

Klaten, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Peringatan haul ke-8 (sewindu) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kabupaten Klaten bakal dimeriahkan dengan berbagai kegiatan antara lain Jambore Kebersamaan Lintas Iman. Acara tersebut akan dipusatkan di Kampung Gemblegan, Jumat-Sabtu (15-16/12).

Salah satu pihak yang ikut memprakarsai kegiatan ini adalah KH Jazuli Kasmani. Ia menjelaskan, selain kegiatan Jambore Kebersamaan Lintas Iman, juga ada deklarasi dan peresmian Kampung Damai, Pameran Alat Liturgi Lintas Iman (PALLI) dan pameran UKM Wahid Foundation.

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten

“Penyelenggarannya Komunitas Kebersamaan Muda Lintas Iman/Budaya (KKMLIB), acara insya Allah akan dimulai pada Jumat (15/12) mendatang, dengan kegiatan pendirian tenda dan persiapan pameran, di Lokasi Camp Hutan Jati RPTRA dan Lapangan Gemblegan,” terang pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muttaqin Pancasila Sakti itu.

Ditambahkan Gus Jazuli, acara ini akan menghadirkan sejumlah tokoh seperti Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation), Hj Sri Mulyani (Bupati Klaten), dan lain sebagainya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada hari kedua, lanjut dia, juga akan ada peresmian Kampung Damai Wisata Damai Terpadu Gemblegan dan penebaran benih ikan di Sendang Kamulyan dan di Kolam Pemancingan Umbul China Gemblegan.

Pihaknya berharap melalui kegiatan ini, para peserta dapat mewarisi semangat dan ajaran kebersamaan dari Gus Dur, serta memupuk persaudaraan antar anak bangsa. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, Pertandingan, Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka

? ? ? ? ? ? ? ?

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, sedangkan ibu-ibu mereka melahirkan mereka sebagai orang-orang merdeka.”

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka

[Umar ibn Khatthab]

Dari kitab al-Wilâyah ‘alal Buldân fî ‘Ashril Khulafâ’ ar-Râsyidîn

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, RMI NU, Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo

Gorontalo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sebanyak 300 ulama tasawuf se-Asia Tenggara berkumpul di Kota Gorontalo 14-16 November 2017. Berkumpulkan para ulama tauhid tasawuf se-Asia Tenggara di Kota Gorontalo, mendapat sambutan positif dari masyarakat termasuk Pemerintah Kota Gorontalo dan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Para ulama tersebut datang ke Gorontalo untuk menghadiri Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf Asia Tenggara I. Pembukaan Muzakarah berlangsung di Masjid Baiturrahim, Gorontalo, Selasa (14/11), oleh Wagub Gorontalo Idris Rahim. 

Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo

Hadir dalam pembukaan ini antara lain Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf AsiaTenggara Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi; Wakil Gubernur Provinsi Gorontalo Idris Rahim; Walikota Gorontalo Marten Taha; para ulama, pimpinan pondok pesantren, tokoh masyarakat, pejabat Pemprov Gorontalo serta Pemkot Gorontalo.

 

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim menyatakan, tauhid tasawuf merupakan ilmu warisan Rasulullah yang sangat diperlukan oleh masyarakat.

“Tauhid tasawuf merupakan ilmu yang sangat penting dalam membina akhlak, karena itu saya harap bisa membangun akhlak masyarakat yang mulia,” tegasnya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lebih lanjut, penyelanggaran Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf sejalan dengan dengan 8 program unggulan Pemerintah Provinsi Gorontalo, yang salah satunya fokus pada kegiatan keagamaan dan budaya yang lebih semarak.

"Gorontalo itu dikenal dengan daerah Serambi Madinah, yang memiliki filosofi adat bersendikan sara dan sara bersendikan kitabullah," imbuh Wagub.

Wagub sangat mendukung setiap kegiatan keagamaan yang tujuannya untuk meningkatkan keimanan dan membangun silaturrahim antara sesama umat demi kemaslahatan daerah, bangsa dan negara.

Sementara itu, Walikota Gorontalo menyatakan sangat senang dengan kedatangan para ulama tasawuf dari berbagai negara, terutama ulama kharismatik asal Aceh Abuya Syekh Amran Waly Al-Khalidi yang menjadi pimpinan MPTT.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Gorontalo dan Aceh merupakan dua kota istimewa, Aceh memiliki julukan Kota Serambi Mekah, dan Gorontalo memiliki julukan Kota Serambi Madinah,” ujarnya. 

Dalam tausiyahnya Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi menyatakan, tujuan belajar tasawuf agar kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, senantiasa merasakan kehadiran Allah di manapun kita berada.

Abuya berharap kepada para pakar tauhid tasawuf sebagai ulama pewaris para nabi, agar kehadirannya membawa rahmat untuk sekalian alam. 

Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Huda, Gorontalo.  Dalam Muzakarah ini hadir para ulama tasawuf antara lain Muhammad Dhiauddin Kuswandi (Pimpinan Keluarga Besar Wali Songo), Syekh Rohimuddin Al-Bantany (Pimpinan Kerukunan Ulama Nusantara), KH Zein Djarnuzi (Pimpinan Pondok Pesantren Raudhoh Al-Hikam, Indonesia, Syekh Thoriqoh Qodiriyah Wanaqsabandiyah/TQN), KH Ahmad (Cirebon), Abi Razali (Malaysia) dan sejumlah ulama dari Thailand dan Filipina. (Firmansyah Rohim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, Berita, AlaSantri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap

Kudus,Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Biasanya, sulap hanyalah permainan yang sekadar menjadi hiburan semata. Namun, sebetulnya sulap bisa sebagai media dakwah. Pandangan demikian disampaikan seorang kader Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU Kudus Ahmad Minan yang mahir bermain sulap.

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap

Menurut Minan, beberapa jenis sulap banyak terdapat nilai-nilai filosofis ajaran agama. ? Ia mencontohkan permainan teh botol berubah menjadi air putih memiliki makna mensucikan hati seseorang dengan ke-tawadlu-an.

"Artinya, setiap hati seseorang orang tentu ada dosa yang diwarnai pikiran kotor sehingga dengan keyakinan dan ketawadlu-an yang sungguh-sungguh bisa berubah suci dan bersih kembali," ujarnya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Kantor IPNU Kudus, Sabtu (14/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ditanya awal mula tertarik dunia sulap, pria asal Desa Hadipolo, Jekulo, Kudus ini mengaku mendapat inspirasi dari seorang teman sekolah dari Jepara yang ingin belajar permainan ini. Usai tamat sekolah di Madrasah Aliyah, Minan belajar bersama tetangganya Mbah Mahmud yang kebetulan pintar ilmu sulap.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kemudian saya kembangkan sendiri dengan berlatih otodidak selama tiga tahun. Alhamdulillah, sekarang ini sudah mengusai tidak kurang dari puluhan jenis permainan mulai sulap classic, mentalis, tradisional, dan fakir (seperti Limbat)," tuturnya.

Selama ini, Minan yang juga santri Pondok Pesantren al-Hanafiyah Jekulo ini sering mendapat undangan manggung untuk mengisi kegiatan sekolah, organisasi ataupun even di Kota Kudus dan luar kota seperti Jepara.?

Untuk menguji kemahirannya, ia juga pernah mencari keberuntungan mendaftar dalam acara The Master di sebuah stasiun televisi swasta.

"Meskipun gagal seleksi di program The Master, saya tetap semangat mengembangkan ketrampilan sulap. Karena keterampilan ini juga bisa untuk kepentingan dakwah," tandasnya. (Qomarul Adib/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Majalah Risalah NU terbaru Edisi 58 tahun 2016 membahas peran NU selama ini dalam menangkal dan memerangi radikalisme dan terorisme. Selain kasus teror nasional, majalah dibawah naungan LTN PBNU ini juga mengupas berbagai aksi terorisme internasional.

“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

“Risalah” Edisi Terbaru Bahas Peran NU Tangkal Radikalisme

Pemimpin Redaksi Majalah Risalah NU, Musthafa Helmy dalam pengantar redaksinya mengatakan, pergeseran masyarakat Indonesia berubah tajam dalam menyikapi aksi teror dewasa ini.

Dia menjelaskan, kasus teror di Paris membuat semua warga Prancis dan Eropa pada umumnya ketakutan. Mereka berlari, menutup toko, dan lain-lain. Sedangkan untuk kasus teror bom di Jl Thamrin Jakarta Pusat, masyarakat justru mendekat ketika terjadi dentuman bom dan baku tembak.

“Kejadian ini seperti semacam syuting sinteron aja. Polisi langsung olah TKP. Besoknya, aktivitas kembali normal seperti biasa. Bahkan masyarakat Indonesia membuat gerakan tidak takut pada teroris. Kondisi ini tidak disadari para teroris yang menginginkan Jakarta kelabu,” tulis Helmy.

Selain topik utama tentang gerakan radikal dan terorisme, majalah ini juga seperti biasa menyuguhkan tulisan dan informasi yang layak dibaca oleh publik. Seperti tulisan Gus Dur tentang terorisme dna ulasan tentang perilaku jahat (teror) dalam perspektif Psikologi Islam yang rutin diasuh oleh Guru Besar Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Mubarok.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain itu, pengajian Kiai Said, Ketum PBNU juga siap menambah wawasan pembaca dengan membahas persoalan maulid secara mendalam. Dalam rubrik Fikrah, tulisan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi juga layak disimak dengan mengulas seputar ibadah haji dengan berbagai problematikanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selain tulisan-tulisan di atas, Kajian Tafsir yang diasuh oleh Mudir Madrasatul Qur’an Pesantren Tebuireng Jombang KH Mustain Syafi’i juga perlu disimak mengenai kisah Ashabul Kahfi yang terkurung di dalam gua selama 309 tahun. Kemudian, resensi tentang buku ‘Sejarah Islam Nusantara’ karya Michael Laffan yang ditulis Munawir Aziz juga penting untuk dibaca karena menyoroti peran Snouck Hurgronje dalam lipatan Islam Nusantara.

Di bagian akhir, ulasan tentang profil Ketua LTN PBNU, H Juri Ardiantoro akan menemani pembaca untuk memahami peran media di era digital seperti sekarang. Di dalam ulasan tersebut, Juri pria kelahiran Brebes, 6 April 1973 itu mendorong media untuk bahu-membahu menangkal gerakan radikalisme di dunia maya. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Aswaja, Berita, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal -?

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, di Jakarta, Rabu (30/11) menginstruksikan seluruh kader pemuda Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia untuk memperbanyak membaca istighfar demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Langkah tersebut, ujar pria karib dipanggil Gus Yaqut itu, diambil karena ada permintaan khusus para kiai setelah mencermati kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini.

GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor: Perbanyak Istighfar Demi Keutuhan NKRI

"Seluruh kader dari pusat hingga ranting harus meningkatkan siaturahim dengan para ulama dan kader serta memperbanyak bacaan istigfar minimal seratus kali sehari dengan niat memohon kepada Allah SWT agar NKRI tetap utuh dan selamat," tegasnya.?

Terpisah, Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni menginstruksikan seluruh jajaran Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) hingga Satuan Koordinasi Kelompok (Satkorkel) untuk tetap satu komando di bawah Kasatkornas selaku penanggungjawab operasional dan Ketua Umum PP GP Ansor sebagai pemegang komando tertinggi Banser.

Kasatkornas Banser itu juga meminta seluruh kader inti Pemuda Ansor untuk tidak terlibat dalam atau memobilisasi aksi massa yang diselenggarakan oleh pihak atau kelompok manapun.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Seluruh anggota Banser memperbanyak wirid dan memohon ampun kepada Allah SWT demi utuhnya NKRI dan tegaknya Pancasila," kata dia. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Bahtsul Masail, Santri, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid menilai, sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dan masyarakat luas. Hal itu diungkapkan Gus Sholah saat meresmikan berdirinya Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), di Tebuireng, Sabtu (18/3).

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Tanpa Kiai dan Pesantren, Indonesia Hancur Berantakan

Yayasan yang didirikan oleh belasan tokoh pesantren lintas ormas, cendekiawan lintas kampus, dan beberapa pengusaha muslim tersebut dimaksudkan untuk menguatkan peran pesantren dalam tiga ranah. Yaitu, pesantren sebagai benteng pembangunan karakter, pembangunan ekonomi umat, dan salah satu pilar kekuatan kepemimpinan bangsa.

Dalam sambutannya, Gus Sholah yang ditunjuk menjadi Ketua Dewan Pembina YP3I mengulas peran pesantren dan ulama dalam sejarah perjalanan bangsa. "Kalau tidak ada kiai dan pesantren, maka patriotisme warga Nusantara --yang kemudian menjadi bangsa Indonesia-- akan hancur berantakan," ungkap Gus Sholah mengutip catatan Douwes Dekker.

Menurut Gus Sholah, harus diakui bahwa kalangan di luar pesantren adalah kelompok yang mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dalam Kongres Pemuda II pada 1928. "(Tapi) nasionalisme yang mereka usung adalah nasionalisme yang tidak memberi tempat memadai bagi sesuatu yang berbau keislaman," ujarnya di hadapan ratusan kiai yang memenuhi Aula H. Bachir Pesantren Tebuireng.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini kemudian mengulas upaya-upaya peminggiran Islam dalam catatan sejarah. "Dalam buku berjudul The Idea of Indonesia, A History karya RE Elson, tidak ada tempat bagi Islam. Nama KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan dan H Agus Salim tidak tertulis dalam buku itu. Buku karya Ricklefs juga bernada sama. Yang tertulis hanya nama HOS Tjokroaminoto," tandasnya

Pada saat itu, imbuh Gus Sholah, pandangan kalangan luar terhadap pesantren dapat disimpulkan dari pidato Bung Karno saat mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari IAIN Ciputat pada 1964. Dalam pidato tanpa teks, Bung Karno mengkritik pesantren dengan menyebutnya sebagai gudang besar yang tidak punya pintu dan jendela, sehingga terasa pengap dan apek.

Terhadap penilaian tersebut, Gus Sholah lalu mengutip pendapat Menteri Agama saat itu. "Menurut KH Saifuddin Zuhri (Menag saat itu), yang menganggap bahwa pesantren tidak punya jendela dan pintu adalah mereka yang tidak tahu di mana letak pintu dan jendela (pesantren) itu," tegasnya, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Terkait tantangan ke depan, Gus Sholah melihat bahwa potensi pesantren dalam pendidikan amat besar, tetapi belum termanfaatkan dengan baik. "Ada potensi lain yang bisa dimanfaatkan tapi hampir belum tersentuh, yaitu dalam aspek ekonomi. Inilah salah satu potensi yang akan menjadi bidang garapan dari YP3I dan pihak lain," tandas lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Potensi lain yang dimiliki pesantren adalah ajaran wasatiyah (moderatisme) yang diajarkan sejak awal penyebaran Islam di wilayah nusantara. "Islam rahmatan lil alamin yang membuat Islam dan paham kebangsaan (Indonesia) bisa terpadu dan tidak memicu konflik, seperti di banyak negara Timur Tengah," tandasnya.

Di akhir pidatonya, Gus Sholah menyoroti hubungan Islam dan negara yang mulai terganggu sejak 2016. Baik karena kasus Al-Maidah maupun adanya anggapan bahwa pemerintah memberi angin kepada keluarga PKI dan yang dianggap. "Muncul anggapan, kalau tidak memilih kepala daerah (dan mungkin kepala negara) nonmuslim, maka keindonesiaan, kebinekaan dan kepancasilaan kita diragukan," pungkasnya.

Selain diisi orasi Gus Sholah, deklarasi YP3I juga dimeriahkan dengan seminar yang dihadiri oleh Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Haddad dan Sekjen Kementerian Agama Nur Syam. Juga pameran produk unggulan dari berbagai pesantren di Indonesia.

Beberapa kiai dan cendekiawan terkemuka yang tampak hadir antara lain Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Sholeh Qosim, Imam Besar Masjid Al-Akbar KH Ahmad Zahro, pengurus Masjid Istiqlal KH Muzammil Basuni, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta Shofwan Manaf dan Rektor Universitas Darussalam Gontor KH Fathullah Amal Zarkasyi. Juga, Ketua Umum YP3I Marzuki Alie dan Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Heppy Trenggono. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Berita, Kiai, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

PBNU Imbau Warga Shalat Ghaib untuk KH Idris Marzuki

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyatakan ungkapan belasungkawa atas wafatnya pengasuh pesantren Lirboyo Kediri KH Idris Marzuki yang lazim disapa Mbah Idris pada hari ini, Senin (9/6). Kiai Malik meminta segenap warga NU untuk melangsungkan sembahyang ghoib dan mengirimkan surah Al-Fatihah untuk Mbah Idris.

“Mbah Idris ialah salah seorang Mustasyar PBNU. Kemarin kita kehilangan KH Chotib Umar, Jember. Beliau juga Mustasyar. Kita warga NU kehilangan besar atas wafatnya dua kiai ini,” kata Kiai Malik kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal per telepon, Senin (9/6) siang.

PBNU Imbau Warga Shalat Ghaib untuk KH Idris Marzuki (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Warga Shalat Ghaib untuk KH Idris Marzuki (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Imbau Warga Shalat Ghaib untuk KH Idris Marzuki

Warga NU di masing-masing tempat selayaknya melakukan sembahyang ghoib, membaca surah Al-Fatihah, dan permohonan magfiroh untuk Kiai Chotib, Mbah Idris, dan Ibu Hj Asmah Sjachruni, imbau Kiai Malik yang pamit menuju tempat duka, Kediri.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Warga NU harus mengambil pelajaran dari kehilangan ini. “Karenanya, regenerasi dan kaderisasi menjadi niscaya. Mari kita bacakan surah Al-Fatihah,” pungkas Kiai Malik. (Alhafiz K)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ubudiyah, Pendidikan, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Islam Nusantara Bukan Teori Receptie

Oleh: Achmad Faiz MN Abdalla

Dalam sebuah perkuliahan, sang dosen menjelaskan beberapa teori berlakunya hukum Islam di Indonesia. Teori-teori tersebut disampaikan sebagai bagian dari materi mata kuliah Peradilan Agama. 

Secara sosiologis, peradilan agama telah ada di Indonesia seiring berkembangnya Islam di nusantara. Peradilan agama pun pada perkembangannya ditingkatkan menjadi pengadilan negara. Sampai sekarang. Karena itu, peradilan agama menjadi salah satu mata kuliah penting di fakultas hukum dan syariah di Indonesia.

Islam Nusantara Bukan Teori Receptie (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Bukan Teori Receptie (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Bukan Teori Receptie

Sang dosen memulainya dengan menjelaskan sejarah peradilan agama di Indonesia. Disampaikannya, peradilan agama sudah dikenal sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Seiring berkuasanya kerajaan-kerajaan Islam, peradilan agama mendapatkan kedudukan yang sempurna dalam sistem ketatanegaraan kerajaan-kerajaan Islam. 

Masing-masing daerah pun memiliki penyebutan yang beragam, seperti pengadilan serambi, kerapatan qadhi,

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

pengadilan penghulu dan lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa peradilan agama memiliki akar historis-sosiologis di berbagai belahan nusantara.

Pada masa itu, semua perkara menjadi kompetensi peradilan agama. Baik perkara perdata maupun publik. Keadaan tersebut berubah seiring berkuasanya Belanda di Indonesia. Dimulai kedatangan VOC pada tahun 1602. Belanda menjajah Indonesia dengan membawa segala pengaruhnya, termasuk di bidang hukum dan peradilan. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mula-mula sikap politik Belanda terhadap peradilan agama adalah princepeel gebrekkig mar fietelijk onmisbar. Yakni, peradilan agama tidak diperlukan tetapi kenyataannya harus ada. Belanda tidak memerlukan hukum Islam dan peradilan agama. Tetapi karena diperlukan rakyat jajahan, maka harus diadakan agar tidak mendapat perlawanan.

Politik hukum itu didasarkan pada teori receptio in complexu yang berintikan bahwa hukum mengikuti agama yang dianut seseorang. Jika memeluk Islam, maka hukum Islam yang berlaku baginya. Karena itu, hukum yang berlaku di Jawa adalah hukum Islam. Teori ini dipelopori van Den Berg dan diterapkan ke dalam sistem ketatanegaraan melalui peraturan perundang-undangan Hindia Belanda. 

Selanjutnya, teori itu menjadi dasar dilahirkannya Stbl 1882 No. 152 yang mengangkat peradilan agama menjadi pengadilan negara Pemerintah Hindia Belanda (Mukti Arto, 2012: 88). Meski diakui, kompetensi peradilan agama bersifat terbatas.

Dalam perkembangannya, politik hukum Hindia Belanda mengalami perubahan. Snouck Hurgronje menentang teori receptio in complexu dengan mengemukakan teori baru, yaitu teori receptie yang menyatakan, hukum yang berlaku di Indonesia sesungguhnya bukan hukum Islam, melainkan hukum adat. Hukum Islam dapat berlaku sepanjang tidak bertentangan dan sudah diresepsi menjadi hukum adat. 

Teori receptie kemudian diterapkan melalui penggantian UU Dasar Hindia Belanda, yaitu dari Regeringsreglement (RR) menjadi Indischestaatsregeling (IS). Perubahan tersebut terjadi karena perubahan politik hukum yang sangat mendasar, bahwa teori receptio in complexu ternyata tidak menguntungkan kepentingan politik Pemerintah Belanda. 

Diterangkan sang dosen, teori receptie tersebut masih mempengaruhi perkembangan hukum dan peradilan di Indonesia setelah merdeka. Menurutnya, seharusnya pengaturan hukum dan peradilan setelah merdeka dibersihkan dari teori receptie, mengingat teori tersebut merupakan bagian dari politik hukum kolonial. 

Dengan begitu, peradilan agama memiliki peran yang lebih kuat dalam dunia peradilan di Indonesia. Selama dijajah Belanda, terutama sejak berlakunya teori receptie, peran peradilan agama serta hukum Islam sengaja direduksi.

Di tengah penjelasan sang dosen itu, salah seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan, “Pak, bila pengakuan negara terhadap peradilan agama sangat erat kaitannya dengan sejarah panjang peradilan agama di nusantara, apakah hal itu membenarkan Islam Nusantara?”

Menjawab pertanyaan itu, sang dosen membenarkan bahwa keberadaan peradilan agama dalam hukum positif didasarkan pada praktik peradilan agama yang hidup berabad-abad di tengah masyarakat nusantara. Namun ia tidak sependapat dengan gagasan Islam Nusantara.

Menurutnya, Islam Nusantara justru memiliki semangat yang sama dengan teori receptie yang membatasi Islam dengan budaya. Ia melanjutkan, Islam bukanlah agama yang anti budaya. Namun, antara agama dan budaya haruslah dipisahkan, tidak dicampur, apalagi budaya sampai mereduksi atau meresepsi ajaran Islam.

Jawaban tersebut, menurut penulis, menunjukkan kekurangmengertian sang dosen terhadap gagasan Islam Nusantara. Dari jawaban itu, dapat disimpulkan, bahwa seperti halnya teori receptie, Islam Nusantara adalah budaya yang meresepsi ajaran Islam. Artinya, ajaran Islam berlaku bukan sebagai wajah Islam sendiri, tapi ia lebih dulu harus diresepsi oleh budaya.

Itu jelas pemahaman yang keliru tentang Islam Nusantara. 

Islam Nusantara sendiri, menurut Oman Fathurrohman (2015), bukanlah Islam yang normatif, tapi Islam empirik sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, penerjemahan, vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial dan budaya di Indonesia.

Sedangkan menurut Kiai Afifudin Muhajir (2015), Islam Nusantara adalah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat. 

Pengertian terakhir bernuasan fiqih. Namun dapat disimpulkan, kedua pengertian di atas memiliki inti yang sama, yakni interaksi dan dialektika antara unsur normatif dan empiris.

Lebih khusus lagi, Kiai Afifudin juga menyebut istilah Fiqih Nusantara. Ia adalah paham dan perspektif keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika teks-teks syariat dan budaya, juga realitas di (daerah) setempat. 

Dijelaskan oleh Kiai Afifudin, bahwa Islam bukanlah budaya karena yang pertama bersifat ilahiyah sementara yang kedua adalah insaniyah. Akan tetapi, berhubung Islam juga dipraktikkan oleh manusia, maka pada satu dimensi ia bersifat insaniyah dan karenanya tidak mengancam eksistensi kebudayaan.

Karena itu, selain memiliki landasan nash-nash syariat (Al-Quran dan Sunah), Islam juga memiliki acuan maqasidus syariah (tujuan syariat). Nash-nash syariat yang dipahami dengan memperhatikan maqasidus syari?ah akan melahirkan hukum yang tidak selalu tekstual, tetapi juga kontekstual.

Maka, menurut Kiai Afifudin, penting adanya pemahaman kontekstual terhadap teks suci dengan mempertimbangkan adat lokal (urf) demi kemaslahatan. Dari sinilah, meminjam istilah Kiai Said Aqil Siradj, Islam Nusantara adalah perspektif yang membangun Islam di atas infrastruktur budaya.

Dari penjelasan itu, sekali lagi, dapat ditarik pola hubungan Islam dan Nusantara dalam gagasan Islam Nusantara, yakni interaksi dan dialektika unsur normatif dan empiris yang bersifat konstruktif dan komplementer. 

Itu tentu berbeda dengan pengertian teori receptie. Teori itu dibangun dari persepsi, bahwa Islam dan adat adalah dua unsur yang saling bertentangan. Itu dapat dipahami, karena Belanda membangun teori konflik dalam melihat hubungan dua sistem berbeda tersebut.

Maka, sikap Belanda terhadap kedua sistem itu dapat diumpamakan seperti sikap orang membelah bambu, mengangkat belahan yang satu dan menekan belahan yang lain (Mohammad Daud Ali, 2014:224). Dalam teori receptie, adat yang diangkat, sedangkan Islam yang ditekan.

Nah, yang perlu dicatat, praktik hubungan Islam dengan adat nusantara sejak semula sesungguhnya sangat akrab. Misal, di dalam masyarakat Minangkabau, tercermin dari pepatah: adat dan syara sanda menyanda, syara’ mengato adat memakai. 

Menurut Hamka (1970), makna pepatah itu adalah hubungan adat dengan hukum Islam (syara) erat sekali, saling topang-menopang, karena sesungguhnya yang dinamakan adat benar-benar adat adalah syara itu sendiri. Praktik semacam itu tidak hanya di Minangkabau, tapi hampir menyeluruh di belahan nusantara. 

Maka menurut Sajuti Thalib (1980), sesungguhnya yang berlaku adalah teori receptio a contrario, yakni hukum adat baru berlaku kalau tidak bertentangan dengan hukum Islam. Yang dipergunakan tentu bukan sembarang adat, melainkan terbatas pada yang serasi dengan asas-asas hukum Islam.

Sebaliknya, teori receptie dibangun tidak lebih hanya ambisi Belanda untuk menjauhkan  pengaruh hukum Islam dari pemeluknya demi kepentingan kolonialnya.

Oleh karena itu, dalam melihat hubungan Islam dan adat, khususnya dalam konteks hukum, menurut Hasbi Ash-Shiddieqy (1975), di dalam kitab-kitab fiqih Islam banyak sekali garis-garis hukum yang dibina atas dasar urf atau adat karena para ahli hukum telah menjadikan urf sebagai salah satu sarana untuk pembentukan hukum Islam.

Dapat disimpulkan, sesungguhnya Islam Nusantara adalah penegasan dari praktik yang telah hidup berabad-abad. Islam Nusantara bukanlah hal yang baru. Ia ada seiring berkembangnya Islam di nusantara. Yang selanjutnya oleh NU, digali, dirumuskan dan dikembangkan lagi, untuk menjawab tantangan Islam dan kebangsaan di masa yang akan datang.





(Penulis adalah pelajar NU di Gresik, Jawa Timur)





Baca tulisan opini lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Sarbumusi Ungkap Empat Pilar Ekonomi China

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Kunjungan Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) bersama 15 federasi pekerja selama lima hari (26-30 Nopember) ke China dan Hongkong ternyata tidak pulang dengan tangan hampa. Setidaknya, ada banyak wawasan dan ilmu yang sangat berharga yang bisa dibawa pulang dari negeri Tiongkok tersebut.

Ketua Umum Sarbumusi H Junaidi Ali SH mengungkapkan, sedikitnya ada empat faktor yang menjadi pilar perekonomian di negara berhaluan komunis tersebut. Pertama, katanya, adalah sistem politik. Sistem politik tertutup, otoritarian dan totalitarian—sebagaimana menjadi ciri khas negara komunis/sosialis lainnya—sangat mendukung iklim investasi.

“Sistem politik di sana (China-Red) menganut sistem satu partai, Partai Komunis China. Begitu juga sistem perburuhannya, yakni cuma ada satu serikat buruh yang langsung berada di bawah partai komunis itu,“ terang Junaidi, begitu panggilan akrab pemimpin tertinggi organisasi buruh di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) itu kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegaldi Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (4/12).

Sarbumusi Ungkap Empat Pilar Ekonomi China (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Ungkap Empat Pilar Ekonomi China (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Ungkap Empat Pilar Ekonomi China

Konsekuensi dari sistem politik tersebut, kata Junaidi, adalah negara yang begitu kuatnya dengan sangat leluasa bisa mengatur sistem ekonomi yang aman untuk investasi dan aktivitas ekonomi lainnya. “Gejolak politik yang bisa mengganggu iklim investasi di sana, bisa diatasi dan hampir tidak ada,“ tandasnya.

Hal itu, tambahnya, berbeda dengan di Indonesia. Salah satu faktor mengapa investor enggan, bahkan takut untuk menanamkan modalnya, karena kondisi politik di negeri ini tidak stabil. “Sedikit-sedikit demo. Sedikit-sedikit mogok, rusuh. Belum lagi korupsi yang merajalela,“ pungkasnya

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Faktor kedua, lanjut Junaidi, yang menunjang perekonomian negeri Tirai Bambu itu  adalah kemudahan dalam hal pajak. “Di sana, 0-2 tahun, sebuah perusahaan bebas pajak. 2-5 tahun dikenakan pajak 50 persen. Lebih dari 5 tahun ada peraturan tersendiri,“ jelasnya.

Ditambahkan Junaidi, faktor ketiga adalah penguasaan negara terhadap tanah. Sebagaimana juga di negara komunis/sosialis lainnya, menurutnya, tanah dimiliki dan dikuasai oleh negara. Tak ada seorang pun yang memiliki hak pribadi atas tanah di negeri pimpinan Presiden Hu Jintao itu.

Diceritakannya, lima kota (Beijing, Shanghai, Suzhou, Guangzhou dan Shenzen) di China plus Hongkong, umumnya terdapat perumahan yang khusus untuk para buruh pabrik. Letak perumahan tersebut tak terlalu jauh dengan kawasan pabrik, sehingga memudahkan buruh untuk menuju tempat kerjanya.

Faktor keempat, kata Junaidi, adalah prosedur. Di negeri yang terkenal dengan Tembok China-nya itu, terutama untuk mendirikan usaha sangat mudah prosedurnya. “Jadi, kalau mau mendirikan usaha, prosesnya cuma butuh 3 hari. Kalau di sini (Indonesia) kan bisa 3 bulan. Itu pun belum karuan (tentu-Red) selesai,“ ungkapnya.

Satu hal lagi, imbuh Junaidi, yang juga turut mendukung kemajuan ekonomi China, terutama di sektor industri adalah tidak adanya status buruh tetap, semuanya buruh kontrak. Status itulah, katanya, cukup efektif untuk meningkatkan produktifitas kerja buruh, apalagi dengan besarnya jumlah penduduk China yang mencapai 1,3 milyar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Bagi seorang buruh di mana pun, yang penting kerja. Biar kontrak yang penting jelas bekerja. Dari pada status tetap seperti PNS (Pegawai Negeri Sipil seperti di Indonesia-Red) tapi gaji nggak jelas,” terang Junaidi. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, Syariah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dan Pengurus Besar Persatuan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). MoU ini terkait pelatihan pencak silat Pagar Nusa sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah.

MoU ditandatangani ketua Umum PP Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman, Ketua PP LP Ma’arif Arifin Junaidi dan Ketua Umum PB PGRI Sulistyo yang disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, di lokasi Rapimnas Pagar Nusa di Pesantren Az Zuhri Semarang, Jum’at (27/3).

Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Tandatangani MoU dengan LP Ma’arif dan PGRI

Ketua PP LP Ma’arif Arifin Junaidi mengatakan, MoU ini merupakan formalisasi dari apa yang ditelah dijalankan selama ini. Sebelumnya, sudah ada kegiatan ekstrakurikuler pencak silat Pagar Nusa di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan LP Ma’arif.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ada 13 ribu sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif. Berarti Pagar Nusa harus menyiapkan 13 ribu pelatih,” katanya yang disambut “siap...” oleh ratusan para pemimpin Pagar Nusa dan ratusan pendekar yang hadir.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Arifin, selain mengajarkan pencak silat, diharapkan Pagar Nusa dapat menanamkan jiwa kesatria, daya juang dan semangat yang positif.

Ketua PB PGRI Sulistyo mengatakan, pihaknya menyambut baik tawaran Pagar Nusa untuk mengadakan kegiatan pelatihan Pagar Nusa di sekolah-sekolah. “Semoga penandatanganan MoU ini tidak sekedar formalitas, dan bisa kita tindaklanjuti secara serius,” katanya.

Sebelumya Ketua Umum Pagar Nusa Aizuddin Abdurrahman berpesan kepada pimpinan Pagar Nusa untuk mensosialisasikan kerjasama dengan LP Ma’arai dan PGRI ke daerah-daerah.

“Hasil Rapimnas ini saya harapkan dilaksanakan sampai ke bawah. MoU ini kita sosialisasikan di tingkat wilayah, cabang, sampai ke tingkat ranting,” katanya.

Rapimnas Pencak Silat NU Pagar Nusa dilaksanakan di Pondok Pesantren Azzuhri Ketileng Semarang, sejak Kamis (26/3). Rapimnas akan ditutup dengan Apel Kesetiaan pada Pancasila dan NKRI di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3) pagi, yang akan diikuti sekitar lima ribu pendekar Pagar Nusa. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Cerita, Syariah, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya

Purwakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Akhlak menjadi hal paling pokok dalam kehidupan manusia. Ia menjadi parameter bagi keunggulan kualitas kepribadiannya. Atas dasar ini pula Allah memosisikan Rasulullah SAW pada derajat paling tinggi.

”Allah memuji Nabi Muhammad karena akhlaknya, bukan karena ilmunya,” Katib Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil Siroj dalam ceramah peringatan Isra’ dan Mi’raj di Purwakarta, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhammad Dipuji Allah karena Akhlaknya

Menurut Kiai Musthofa, berbekal kemuliaan moral, Rasulullah sukses menyebarkan kebenaran Islam dalam waktu kurang dari 23 tahun. Rasulullah merupakan rujukan ajaran dan pusat teladan bagi setiap makhluk di semesta alam ini.

Nahdlatul Ulama, lanjutnya, berusaha mengikuti jejak ini dengan terus mengedepankan akhlak dalam sikap dakwah dan perjuangannya. Ormasi Islam terbesar ini juga tak ingin gegabah menghujat atau memvonis sesat kelompok lain.

Peringatan Isra’ dan Mi’raj digelar bersamaan dengan acara pembukaan Konferenci Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Purwakarta. Perayaan rutin bulan Rajab ini antara lain diisi tahlil, hadlarah, dan tausiyah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, Anti Hoax Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 22 November 2017

Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi

Rembang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Kaliori, Rembang, Jateng.

Penghargaan tersebut diterima atas dasar tiga prestasi, yakni PAC GP Ansor paling aktif di cabang Rembang, PAC yang mampu mengaktifkan 23 Ranting dari total jumlah Desa yang ada sebagaimana terlihat pada kepengurusan periode 2011-2015, dan merupakan satu-satunya PAC yang menggelar upacara bendera tiap 17 Agustus dan konsisten dari tahun 2011 hingga saat ini.

Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jateng Apresiasi Anak Cabang Kaliori untuk 3 Prestasi

"Tentu dengan ini saya harus mengatakan bangga dengan Abdul Rosyid (Ketua PAC GP Ansor Kaliori) dan kawan-kawan yang sudah memperjuangkan Ansor. Tentu hal ini tidak mudah bagi sahabat semua dalam mengibarkan bendera Ansor di Kaliori,” kata Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Jawa Tengah H Sumarsono Sugeng pada Konferensi Anak Cabang GP Ansor Kaliori, Ahad (23/8).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sumarsono berharap hal itu masih bisa terjadi pada periode kepengurusan periode 2015-2018.Jika tidak mampu berbuat lebih, katanya, kepengurusan mendatang setidaknya sanggup menjaga konsistensi prestasi kepengurusan sebelumnya.

"Saya sangat berharap pengurus yang akan datang melebihi kepengurusan yang kemarin. Karena PAC Kaliori sangat solid dan bersama dengan Banser di setiap event Ansor, dan giat dalam mengadakan proses pengkaderan mulai dari PKD hingga PKL,” tuturnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam kesempatan itu, Sumarsono juga didaulat untuk membuka Konferancab ke-18 GP Ansor Kaliori. Ia berpesan, agar GP Ansor Kaliori mempersipakan kader terbaiknya untuk memimpin lima tahun ke depan. Jika gagal maka tidak ada toleransi untuk melakukan perbaikan. Sumarsono juga menyinggung, Ansor Kaliori merupakan PAC yang mempunyai tim sepak bola yang solid. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal RMI NU, Anti Hoax, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

PMII Cianjur Tegaskan Makna Seorang Kader

Cianjur, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Cianjur lahirkan kader mujahid seusai menggelar Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang dilaksanakan selama 4 hari di gedung SMK Tunas Harapan Bangsa, Warung Kondang, Cianjur, Jawa Barat, Kamis-Ahad (1-4/12).

Ketua PC PMII Cianjur Tedy Sopyan menjelaskan, momentum PKD ini harus dijadikan ajang perubahan bagi seluruh peserta. Sebab kini peserta PKD telah mengalami perubahan makna dari anggota menjadi kader. Tentunya antara kader dan anggota mempunya segmentasi yang berbeda dan tugas serta fungsi yang berbeda pula.

PMII Cianjur Tegaskan Makna Seorang Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cianjur Tegaskan Makna Seorang Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cianjur Tegaskan Makna Seorang Kader

"Pasca mengikuti kegiatan, para alumni PKD tidak hanya meyakini bahwa organisasi PMII adalah wadah yang benar untuk berproses, namun seorang kader juga harus benar-benar siap memperjuangkan cita-cita, menjaga marwah dan mengharumkan nama baik PMII," ungkap Tedi dalam sambutannya saat penutupan Pelatihan Kader Dasar, Ahad (4/12).

Tedi menambahkan, setelah mengikuti kegiatan, diharapkan para alumni PKD mampu mewarnai dan menjalankan kaderisasi di masing-masing kampus serta menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan organisasi, agama, bangsa dan negara.

"Kami berharap alumni PKD bisa memberikan warna dan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan cita-cita organisasi, agama dan negara," harapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, salah seorang peserta PKD Wida asal Komisariat STISNU Cianjur berjanji akan lebih serius mengikuti setiap jenjang kaderisasi yang dilaksanakan oleh PMII di setiap levelnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Setelah mengikuti PKD ini saya tersadarkan bahwa selama ini belum maksimal, kedepannya saya berjanji akan memaksimalkan berproses di PMII," pungkasnya. (Muhammad Sopwan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tokoh, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 10 November 2017

PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak Tentara Nasional Indonesia (TNI) agar memecat anggota Korps Marinir TNI AL yang menembak warga Pasuruan dari dinas militer dan membawanya ke meja pengadilan.



PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum

"Pihak aparat bersenjata, dalam hal ini oknum marinir, harus dicopot dari dinas dan dihukum," kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Kamis (31/5).

Hasyim mengemukakan hal itu menanggapi peristiwa bentrok antara warga Grati, Pasuruan, Jawa Timur dengan anggota marinir yang menyebabkan empat warga tewas diterjang peluru, Rabu (30/5).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Berkali-kali rakyat menjadi korban dari peluru yang dibeli dengan uang rakyat," kata mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu dengan nada prihatin.

Seperti dilaporkan kantor berita Antara, terkait pernyataan Komandan Korps Marinir (Dankormar), Mayjen (Mar) Syafzen Noerdin bahwa penembakan yang dilakukan anggotanya dalam rangka membela diri, Hasyim menyatakan sulit menerima.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Alasan masyarakat menyerang dulu rasanya sulit diterima. Bagaimana mungkin rakyat menyerang pasukan bersenjata?" kata pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, tersebut.

Menurut Hasyim, dengan kasus Pasuruan itu, sekali lagi TNI mencoreng mukanya sendiri. Hasyim juga mendesak TNI AL menyantuni keluarga korban dan anak-anak yang menjadi yatim.

Sebelumnya, kepada wartawan di markas Pasukan Marinir (Pasmar) I Surabaya, Rabu sore, Dankormas menjelaskan, anggotanya terpaksa melakukan penembakan karena terdesak oleh warga yang menyerang dengan senjata tajam.

"Waktu itu anggota kami betul-betul terdesak, sedangkan warga mengejar anggota marinir menggunakan celurit dan lemparan batu. Tembakan itu dilakukan, karena betul-betul membahayakan," katanya.

Namun demikian, Safzen menyatakan sangat menyesalkan kejadian itu.

"Saya sangat menyesal atas kejadian ini, karena selama ini marinir selalu dekat dengan rakyat. Dekat dan selalu membela rakyat. Itu merupakan visi dari prajurit marinir," katanya.

Bentrokan antara warga dengan anggota marinir di Grati, Pasuruan, mengakibatkan empat warga tewas dan enam orang luka-luka yang dirawat di RS Bangil dan RSSA Malang.

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang memiliki basis massa terbesar di Jawa Timur, melalui Ketua Umum Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengecam peristiwa itu dan akan menuntut pelaku secara hukum. PKB juga akan membentuk tim advokasi bagi warga. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 06 November 2017

Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah

Ciputat, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences Ciputat kembali kedatangan ulama besar asal Lebanon, Dr Amin Salim al-Kurdi. Kedatangan Dr Amin Salim ini bertujuan untuk mengajarkan kitab hadits as-Syamail al-Muhammadiyah karangan Imam at-Tirmidzi.

Agenda pengajaran yang berlangsung pada hari Kamis-Jumat (12-13/5) ini sebenarnya merupakan salah satu keinginan KH Ali Mustafa Yaqub, sebelum wafat. Dr Amin Salim al-Kurdi adalah sahabat baik almarhum bahkan ia pernah berjanji untuk mengundang kiai Ali ke Libanon untuk mengisi khutbah di masjid al-Amin Lebanon.?

Pengajian yang berlangsung mulai pukul 15.30 sampai pukul 20.00 Wib itu juga diselingi dengan jamaah shalat maghrib dan isya’ yang diimami langsung oleh Dr Amin Salim al-Kurdi. Seluruh mahasantri Darus Sunnah begitu antusias untuk mengikuti pengajian. Terlebih, agenda ini merupakan salah satu keinginan kiai Ali saat masih hidup.?

Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah (Sumber Gambar : Nu Online)
Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah (Sumber Gambar : Nu Online)

Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah

Sistem pengajaran yang digunakan Dr Amin Salim al-Kurdi adalah dengan membaca satu-persatu hadits di kitab al-Syamail al-Muhammadiyah, kemudian menjelaskan kalimat-kalimat gharib (samar) dalam hadits tersebut. Jika terdapat kalimat yang dianggap samar dan membutuhkan contoh, ia tak segan untuk beranjak dari tempat duduknya dan mencontohkan dengan gerakan secara langsung. Selain itu Dr Amin Salim juga memberi kesempatan kepada asatidz Darus Sunnah untuk membaca hadits secara bergantian dan memberikan kesempatan bertanya.

Salah satu pesan yang ia tekankan kepada umat Islam adalah untuk menghidupkan sunah Nabi Muhammad SAW dengan catatan harus memahami dengan baik dan benar serta mengamalkan dengan cara-cara yang baik. ?

Hal sederhana yang ia contohkan adalah ketika orang menggunakan siwak. Menurutnya masih banyak orang yang mengamalkan sunah siwak tapi serampangan. Misalkan, siwaknya kotor, terlalu diperlihatkan kepada orang lain sehingga menjadikan orang lain yang melihat malah jijik. Inilah yang ia sebut mengamalkan sunah tapi dengan cara yang tidak baik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Semua penjelasan yang ia sampaikan kepada para peserta daurah adalah dengan bahasa Arab tanpa diterjemahkan mengingat Darus Sunnah adalah pesantren yang menggunakan dua bahasa ? dalam proses belajar mengajarnya.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada akhir pengajaran, rencananya Dr Amin Salim akan memberikan sanad kepada seluruh peserta. Untuk itu ia meminta setiap peserta agar tidak melewatkan satu hadits pun yang dibaca agar nantinya ijazah yang diberikan benar-benar sempurna. (M Alvin Nur Choironi/ Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, Cerita, Quote Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock