Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami

Hingga kini perkara bid’ah masih saja diperselisihkan. Baik dalam teori maupun praktiknya. Sebagian orang menganggap bid’ah sebagai sesuatu yang salah dan harus diluruskan. Dan sebagian yang lain memposisikan bid’ah sebagai suatu kreatifitas yang dibolehkan selama tidak menerjang rambu-rambu al-Quran dan as-sunnah.

Mengenai perkara bid’ah ini Muallim Syafi’i Hadzami ulama Betawi menerangkan dengan cukup panjang dalam bukunya Taudhihul Adillah juz tiga. Muallim Syafi’i memulai tulisannya dengan menukil perkataan As-Syatibi dalam kitabnya al-I’tisham begini kalimatnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Bidah menurut Muallim Syafii Hadzami

Kata bada’a pada mulanya menunjukkan arti mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Seperti dalam firman Allah ‘? ? ?’ (Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi) maksudnya Dialah Allah yang mengadakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya. Begitu pula firman-Nya dalam ayat ‘? ? ? ? ? ?’(katakanlah Muhammad “bukanlah aku ini Rasul yang diutus mula-mula/pertama kali) maksudnya bahkan sebelumku (Muhammad) telah banyak Rasul yang diutus Allah swt.Ddalam bahasa Arab kata bid’ah juga sering digunakan seperti kalimat ‘ ? ? ?’ (si fulan telah merintis satu jalan yang belum pernah didahului orang lain). Atau juga dalam kalimat ‘? ? ?’ (ini adalah perkara yang indah) yaitu perkara yang indah dan belum pernah ada tandingannya.

Demikian Muallim Syafi’i Hadzami memulai keterangan tentang arti bid’ah dari sisi kebahasaan. Karena kata bid’ah itu berasal dari bahasa Arab maka yang menjadi rujukan juga penggunaan kata tersebut dalam keseharian masyarakat Arab. Selanjutnya dijabarkan bahwa kata bid’ah digunakan untuk menunjuk suatu hasil atu karya.  Sedangkan proses pekerjaannya (berkreasi) dikatkan ibda’.

Dengan demikian bid’ah merupakan hasil pekerjaan yang bisa terkena hukum, bukan hukum itu sendiri. Karena pada hakikatnya hukum syar’i itu cuma lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Tidak ada bid’ah di dalamnya. Jadi sangat tidak tepat jika dikatakan “yang begini atau begitu hukumnya bid’ah”. Intinya keterangan ini menegaskan bahwa bid’ah bukanlah termasuk hukum syar’i.

 Adapun secara istilah Muallim Syafi’i Hadzami memberi pemahaman bid’ah sebagaimana dipergunakan dan difahami kebanyakan orang Indonesia sebagai suatu amalan yang tidak ada dalil syara’nya. Bid’ah biasa dijadikan pembanding dengan sunnah yaitu sesuatu yang ada dalil syar’inya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selanjutnya Muallim Syafi’i Hadzami menjelaskan rincian macam bid’ah dengan diawali pendapat Imam Syafi’i katanya

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bida’ah itu ada dua macam. Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Maka mana-mana yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji, dan mana-mana yang menyalahinya itulah yang tercela

Ini merupakan dalil pertama yang digunakan oleh Muallim Syafi’i Hadzami menunjukkan adanya dua macam bid’ah. Penunjukan dalil ini tidaklah sembarangan, mengingat otoritas Imam Syafi’i sebagai salah satu peletak dasar madzhab syafi’i yang telah diakui secara mufakat hasil ijtihadnya.

Guna menguatkan dan menjelaskan rincian bid’ah ini, Muallim Syafi’i Hadzami mengambil satu pendapat lagi dari Al-Baihaqi sebagaimana tersebut dalam manakibnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Segala yang diadakan itu ada dua macam. Sesuatu yang diadakan padahal menyalahi kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Sedangkan apa-apa yang baik yang  diadakan yang tidak bertentangan dengan tersebut (kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’) maka itulah bid’ah yang tidak tercela.

Sampai di sini semakin jelas bahwa pemahaman tentang bid’ah sebagai sesuatu kreasi baru tidaklah sesederhana pemahaman hitam dan putih. Karena tidak semua yang baru itu dapat dianggap sesat. Mengingat banyak hal-hal baru yang tidak ada di zaman Rasulullah saw juga baik.

Dalam rangka menklasifikasikan bid’ah Muallim Syafi’i Hadzami memperjelas dengan pendapat Al-Hadidi dalam Syarah Nahjul Balaghah menyatakan yang artinya demikian “lafald bid’ah dipakai untuk dua pengertian. Salah satunya yang untuk menunjukkan sesuatu yang melanggar al-Qur’an dan as-sunnah semisal puasa di hari idul adha ataupu pada hari-hari tasyriq. Karena puasa pada hari-hari tersebut dilarang. Pengertian kedua, kata bid’ah digunakan untuk menunjuk sesuatu pekerjaan yang dilakukan tanpa dasar nash, namun syara’ membiakannya. Dan kemudian biasa dilakukan oang-orang Islam setelah wafatnya Rasulullah saw. Adapun hadits yang berbunyi “ ? ? ? ? ? ? ? “ setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan masuk neraka dapat diperuntukkan terhadap makna bid’ah yang pertama. Sedangkan perkataan sayyidina Umar as. Sehubungan dengan shalat tarawih berjama’ah yang berbunyi “ ? ? ? ? ?  “ sesungguhnya yang demikian ini bid’ah dan inilah sebaik-baik bid’ah. Dapat diaterapkan pada pemahaman makna bid’ah yang kedua.

Demikianlah pendapat Muallim Syafi’i Hadzami mengenai arti bid’ah sebagaimana diterbitkan dalam bukunya Taudhihul Adillah jilid ke III. Sesungguhnya pengambilan berbagai rujukan ini merupakan bukti betapa luasnya pengetahuan agama Muallim Syafi’i di satu sisi. Dan pada sisi lain menunjukkan ketawadhu’annya sebagai seorang alim yang tidak mau menunjukkan pendapat sendiri selagi masih ada rujukan para ulama.

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba

Tulungagung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Batangsareng Kecamatan Kauman mengadakan pelatihan relawan antinarkoba pada Ahad, 3 Desember 2017 pukul 08.00 WIB sampai 13.00 WIB. Kegiatan itu dikerjasamakan dengan Badan Narkotika Nasional atau BNN Kabupaten Tulungagung,

Kegiatan berlangsung di balai desa setempat tersebut diikuti 50 peserta dari kalangan pelajar. Bahkan sejumlah tokoh berkenan hadir dan mendampingi peserta hingga kegiatan selesai.

Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Pelajar Desa Ikuti Pelatihan Relawan Antinarkoba

Pelatihan yang difasilitasi Pemuda Mandiri Membangun Desa binaan Kementerian Pemuda dan Olahraga ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah desa setempat. 

"Kegiatan yang diadakan IPNU IPPNU seperti ini sangat penting untuk mengembangkan desa," tutur Ir. Ripangi. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kepala Desa Batangsaren tersebut juga berterimakasih kepada sejumlah peserta yang dengan antusias mengikuti kegiatan. 

Usai pembukaan, dilanjutkan penyampaian materi oleh Tri Arief. Kasi P2M BNN Kabupaten Tulungagung menyampaikan tentang jenis dan dampak penyalahgunaan narkoba, serta kasus narkoba di kawasan tersebut. 

Salah satu kasus yang diceritakan adalah penangkapan pengedar narkoba di kecamatan Ngunut. Melalui cerita tersebut, diharapakan seluruh peserta pelatihan bisa waspada terhadap gerak mencurigakan di lingkungan sekitar.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Saya sangat senang karena materi yang saya dapat di pelatihan ini menyadarkan untuk berperan aktif dalam mencegah penyalahgunaan narkoba," ujar Nimah, salah satu Pengurus Ranting IPPNU Batangsaren yang mengikuti pelatihan.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta dikukuhkan sebagai relawan anti-narkoba. Mereka memiliki tugas menjaga diri dari penyalahgunaan narkoba dan kampanye menolak peredaran bahan berbahaya tersebut di desa dan sekolah. (Puspita Hanum/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Habib Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Menag: IAIN Tak Perlu Ubah Status

Padang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) tidak perlu berubah status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) karena dikhawatirkan dapat menghilangkan eksistensi ilmu keislaman yang telah dikembangkan selama ini.

"Peningkatan kualitas dan pembenahan manajemen menjadi tuntutan, agar selalu maju dan berkembang dengan baik,"  kata Menteri Agama M Maftuh Basyuni menyatakan usai melantikan Rektor IAIN Imam Bonjol (IB) Padang, Prof Dr Sirajuddin Zar MA di Kampus Lubuk Lintah Padang, Kamis (14/6).

Menag menyebutkan, hingga kini hanya tinggal delapan IAIN yang belum beralih status menjadi UIN. Ke depanya diharapkan tetap tidak mengalami perubahan.

Menag: IAIN Tak Perlu Ubah Status (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: IAIN Tak Perlu Ubah Status (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: IAIN Tak Perlu Ubah Status

Dikatakan, masyarakat membutuhkan keberadaan perguruan tinggi Islam. IAIN diharap tidak bercita-cita mengubah status namun memperkuat eksistensi dan meningkatkan kualitas dosen serta memperbaiki manajemen kampus.

Acara pelantikan Rektor baru IAIN IB Padang itu, juga dihadiri Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dan anggota DPD RI asal pemilihan Provinsi Jambi, Nusran Jawaher.

Menurut Menag, IAIN IB Padang sudah tepat sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), tidak perlu menyaingi perguruan tinggi negeri yang ada saat ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

IAIN IB Padang, diharapkan ke depan tetap sebagai PTAI, sehingga mampu melahirkan para ulama dan "Imam Bonjol" baru di Sumbar.

Sementara itu, Rektor IAIN IB Padang Sirajuddin Zar menyatakan, keinginan untuk merubah status IAIN IB menjadi UIN sebenarnya sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu.

Namun dari penegasan Menag itu, kata Sirajuddin, ke depan atau setidaknya selama masa jabatannya, ia akan lebih konsentrasi pada pembenahan manajemen dan memperkuatan eksistensi IAIN IB Padang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kita tidak akan berpikir dan mempersiapan IAIN IB menjadi UIN, namun lebih kepada pemantapan basis ilmu ke Islaman di perguruan tinggi ini," katanya.

Ia mengkhawatirkan, jika IAIN IB berubah status ke UIN bisa saja bidang ilmu ke islaman selama ini dikembangan akan terbagi-bagi dengan ilmu umum.(dpg/han)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, PonPes Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Jombang, Jawa Timur bersama Ikatan Remaja Muslim (Ikram) berkomitmen untuk menguatkan Islam yang menebar kasih sayang kepada semua (rahmatan lil ‘alamin).

Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara Muhasabah Tahun Baru 1438 H dengan tema “Mewujudkan Karakter Remaja Muslim dengan Spirit Islam rahmatan lil Alamin” di Islamic Center Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Ahad pagi (30/10). Kegiatan diiringi dengan iringan shalawat al-Banjari.

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

?

"Acara ini dimaksudkan agar para siswa didampingi pemahaman Islam yang mainstream, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan terlindungi dari sementara kalangan Muslim yang ekstrem," ujar Ketua MGMP PAI Jombang, Shalahuddin.

Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto mengatakan bahwa muhasabah atau introspeksi diri adalah sebuah keniscayaan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kita muhasabah dalam banyak kesempatan antara lain, di Ramadhan, di Syawal, dan di bulan Muharram. Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriah. Momentum Muharram sebagai bulan introspeksi adalah tepat karena bulan ini adalah awal bulan tahun hijriah, dan bulan yang setelah bulan haji di mana banyak berkumpul kaum muslimin dari seluruh dunia untuk ibadah haji," ujarnya di hadapan para siswa, dan guru MGMP PAI se-Jombang.

?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurutnya, tahun baru Islam ini disebut dengan hijriah karena ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Hijrah ini adalah gerakan nyata yang perlu dicatat sejarah. Hijrah Nabi disepakati sebagai penanda penting kalender Islam pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

"Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah beliau membuat Mitsaq Madinah atau Piagam Madinah, dan itu mengikat tidak hanya kepada masyarakat Madinah yang muslim, tapi juga nonmuslim. Inilah penghargaan kemajemukan yang dicontohkan Rasulullah," kata pengurus Dewan Pendidikan Jombang ini.

Yusuf juga mengatakan, NKRI adalah bentuk perjanjian bersama antarmasyarakat Indonesia yang majemuk. “Islam rahmatan lil alamin dalam konteks berbangsa dengan demikian adalah Islam yang merahmati tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat cinta tanah air sudah diajarkan oleh para ulama Nusantara, antara lain oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, dan gubahan lagu Ahlal Wathan pada 1934.

“Karakter Islam Nusantara adalah karakter Islam yang moderat. Mari kita menjadi bagian dari Muslim negeri ini, dengan prinsip Islam yang rahmat, Islam yang lembut pada tempatnya dan tegas pada tempatnya," pungkas dosen Aswaja Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jatim ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Kajian, Kyai Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU

Pringsewu, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Radio Suara Aswaja yang digagas oleh Lajnah Talif wan Nasyr Kabupaten Pringsewu, Lampung, dapat menjadi sarana transformasi informasi warga Pringsewu khususnya warga nahdliyyin.

Mantan Ketua PWNU Lampung KH DR Khairuddin Tahmid mengatakan, kegiatan yang dilakukan NU sebenarnya sangatlah banyak dan besar namun dikarenakan kurangnya publikasi maka masyarakat umum tidak mengetahuinya. 

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU

"Sementara yang lain kegiatan kecil dan cuma beberapa orang karena diekspos di media secara terus-menerus maka terlihat besar dan terkenal," katanya dalam diskusi ke-NU-an yang digelar di Kantor LTN NU Pringsewu, Senin (4/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

KH Khaeruddin Tahmid yang juga dosen di IAIN raden Intan Lampung mengharapkan Radio Suara Aswaja nantinya dapat mengemas acara acara yang informatif dan edukatif. 

Ditambahkan, kemasan program siar Radio Suara Aswaja haruslah memberi penyejukan dan pencerahan kepada masyarakat dan bukan untuk mengkounter ajaran lain apalagi menyalahkan dan memojokkan pemahaman lain seperti yang sudah mulai muncul akhir-akhir ini. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Redaktur     : A. Koirul Anam 

Kontributor : Fara Fatiha

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Pendidikan, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang

Bekasi, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. NU Care-LAZISNU menyerahkan bantuan kaki palsu kepada Teguh Budiono, warga Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (4/10).

Relawan NU Care-LAZISNU Agus Fuat mengatakan sejak lahir Teguh tidak bisa berjalan layaknya anak-anak pada umumnya. Untuk bisa berjalan, ia harus dibantu dengan kaki palsu. 

NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang (Sumber Gambar : Nu Online)
NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang (Sumber Gambar : Nu Online)

NU CARE-LAZISNU Salurkan Kaki Palsu untuk Warga Cikarang

“Satu bulan yang lalu ibunda Teguh, Bu Evi, mengunjungi kantor LAZISNU. Sembari membawa dokumen-dokumen tentang Teguh, ibu berumur 54 tahun itu bercerita apabila kaki palsu anaknya sudah tak layak pakai, sementara kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membeli kaki palsu,” cerita Fuat soal alasan NU Care-LAZISNU menyerahkan bantuan kaki palsu untuk Teguh.

NU Care-LAZSINU lalu berinisiatif melakukan penggalangan diantaranya melalui kitabisa.com untuk pembelian kaki palsu yang baru untuk Teguh. Hasil donasi tersebut digunakan untuk membeli kaki palsu dan juga bantuan untuk pengobatan Bu Evi. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Teguh Budiono menceritakan kaki palsu yang lama sudah pecah pada bagian telapak; dan bagian lutut juga sudah tidak muat. Kaki palsu lama itu ia dapatkan dari program santunan 5 tahun lalu. 

Siang itu Teguh tampak sangat bahagia melihat kaki palsunya diganti dengan yang baru.

“Terima kasih NU Care-LAZISNU yang telah membantu saya dan ibu saya. Semoga NU Care-LAZISNU ke depan semakin maju,” ucap Teguh.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pihak NU Care-LAZISNU yang diwakili oleh relawan juga turut bahagia bisa membantu Teguh dan keluarga

“Ini merupakan wujud bakti NU Care-LAZISNU untuk menolong orang-orang seperti Mas Teguh. Semoga kaki palsu ini bisa bermanfaat untuk Mas Teguh menjalankan aktifitas sehari-hari. Apalagi Mas Teguh punya cita-cita memberangkat haji ibundanya. Semoga cita-cita mulia itu bisa terkabul,” kata Fuat pada kesempatan itu.

(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Halaqoh, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Lulus Suryani Raih Prestasi Lomba Baca Puisi

Majalengka, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sekolah Menengah Atas Islam Al-Mizan Jatiwangi meraih prestasi di perlombaan baca puisi. Siswa kelas XII SMA Al-Mizan Lulus Suryani berhasil merebut juara harapan 3 dalam acara bulan bahasa yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Majalengka (KSM) dengan tema Paseban Sastra di Sanggar Panggehar, Majalengka, pada Sabtu, (31/10).?

Lulus Suryani mengatakan dirinya tidak pernah menyangka akan meraih prestasi baca puisi karena dirinya hanya mempersiapkan sebaik mungkin.

Lulus Suryani Raih Prestasi Lomba Baca Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lulus Suryani Raih Prestasi Lomba Baca Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lulus Suryani Raih Prestasi Lomba Baca Puisi

“Saya tidak menyangka bakalan juara karena pesaingnya cukup bagus. Walaupun mempersiapkan sebaik mungkin dengan meraih hanya juara harapan 3, saya harus tetap bersyukur,” jelas siswa bercita-cita menjadi seorang tentara.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMA Al-Mizan Enur Nuraeni Rimayah mengatakan, kami merasa bangga akan juara siswa kami. Dengan sedikit persiapan yang kami lakukan akhirnya kami bisa meraih prestasi yang di bidang baca puisi.

“Kami hanya mempersiapkan sebaik mungkin walaupun lulus sudah sering mengikuti perlombaan baca puisi akan tetapi dalam lomba kali ini peserta baik dari SMK, SMA maupun MA baik negeri juga swasta yang daftar mewakili sekolah mereka lumayan bagus-bagus,” jelas guru bahasa Indonesia. (Tata Irawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu

Oleh Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Manusia, lagi-lagi manusia itu membuat kekacauan. Kekacauan yang bagaimana? Kekacauan yang meresahkan esetoris kehidupan mereka, bahkan menjamah kepada ruang-ruang alam hayati yang seharusnya terpelihara. Atas dasar kerapuhan konstruksi dalam diri manusia seakan-akan ialah Tuhan. Lalu berhak berbuat segalanya, yang kadang melupakan bahwa keterbatasan-keterbatasan itu diterpa begitu saja. Karena manusia adalah makhluk sempurna dibanding makhluk hidup lainnya, kesempurnaan itu selalu diusahakan.

Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu

Indonesia memiliki keunikan-keunikan yang beragam. Mulai yang berasal dari Yang Maha Pencipta (tanaman, hewan, lautan, hutan, dan sebagainya), sampai yang berasal dari manusia (budaya, kesenian, kesusastraan, teknologi, adat kebiasaan, keberagaman keberagamaan, dan lain sebagainya).

Keunikan tersebut terawat dan tercipta atas dasar kesadaran rohani yang mendorong dan menuntun untuk selalu menenangkan hayati. Di sinilah keaktifan manusia merupakan upaya memelihara Indonesia, bukan sebaliknya menyuguhkan aroma kebisingan yang kacau pada negeri.?

Proses pertaubatan pertama dan utama yang harus dilakukan adalah dari manusia itu sendiri. Sebagai makhluk sempurna, manusia seharusnya memiliki kesempurnaan tarian dalam berkolaborasi dengan siapa saja. Kekacauan terjadi jika manusia tidak lagi sempurna. Ketidaksempurnaan terjadi akibat ketidakseimbangan proses percumbuan dengan Tuhan, dan proses pergandengan tangan dengan manusia lainnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dikenal proses horizontal (hablumminallah), dan secara vertikal (hablumminannas). Jika baik silaturrahim keduanya, baik pula tempat tinggalnya yang terucap sebagai negara. Hingga bersenandunglah laku yang terpuji, ilmu yang terdepan, dan kesyahduan perkencanan dengan Tuhan.

Terpuji dalam laku

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Laku adalah perbuatan manusia. Perbuatan manusia adalah ciri yang membedakan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Laku terpuji tak akan luruh jika disenandungkan selalu. Adakalanya kondisi kekosongan itu menyelubungi manusia ditengah-tengah profannya dunia. Salah seorang manusia yang mampu mengolah keadaan dengan baik pernah bernada;?

Anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli

Uninga sucining gandaning nabi

Sabda Sunan Kalijaga tersebut kurang lebih bermakna bahwa manusia harus memiliki kemampuan menyesuaian diri dengan berkembangnya zaman seperti air yang senantiasa mengalir. Tetapi jangan sampai terhanyut dalam arus. Manusia harus berpegang pada tongkat yang dimiliki. Sebagai makhluk yang beragama, kedua tongkat harus dimanfaatkan sebagai pegangan dalam hidup. Tongkat yang bersenandung hukum alam dan hukum Tuhan.?

Dalam mengikuti arus kehidupan dengan perkembangan zaman yang modern, manusia harus selalu mengingat uninga sucining gandaning nabi, ingat akan aroma keharuman Baginda Nabi Muhammad SAW. Aroma itu berupa keluhuran budi Kanjeng Nabi yang menghargai udara-udara kenikmatan Allah SWT. Memiliki pegangan dalam hidup, serta memiliki figur suri tauladan menuntun terciptanya laku yang baik. Hingga manusia dihiasi dengan laku yang terpuji.

Terdepan dalam ilmu

Laku harus diperbaiki terlebih dahulu, sebelum mengisinya dengan ilmu. Ketika laku terpuji menghiasi manusia, manusia akan mudah menerima ilmu yang luhur. Ilmu yang merasuki manusia kemudian masuk dalam diri bersamaan cahaya dari sang Maha Pengasih. Ilmu ini akan menjadi ilmu saja ketika manusia melahap an sich.?

Tanpa adanya laku yang menghiasinya. Keberhasilan keilmuan nampak pada keberlangsungan hidup yang sejahtera, kerukunan yang damai, tanpa kekacauan yang saling menjatuhkan. Jika ini tercapai maka alam pun akan bersorak ria menyaksikan dirinya yang diilmuni. Bukti dari diilmuninya yaitu keselarasan hayati.?

Sebenarnya konsep “Terpuji dalam Laku, Terdepan dalam Ilmu” saya peroleh dari tempat saya mengais ilmu akibat kelaparan yang saya alami di Yayasan Tarbiyatul Banin yang tegak berdiri di atas pertanahan Bumi Mina Tani (Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Pati) yang selalu saya rindukan. Tempa pendidikan tersebut memiliki visi yang indah “Terdepan dalam Ilmu, Terpuji dalam Laku", terbalik dengan apa yang saya pikirkan. Namun itu tak masalah. Saya harus bersyukur dilahirkan dari lingkungan yang baik.

Hubungan vertikal yang baik, menyuguhkan kondisi yang segar di hadapan Tuhan. Manusia dengan rasa kasih sayang mampu merawat keharmonisan alam hayati dengan segala unsur di dalamnya. Laku baik dan ilmu mumpuni akan membuat hubungan horizontal semakin indah pula. Manusia akan semakin mengilmuni apapun yang dihadapannya, segala sesuatu yang diilmuni melahirkan menanamkan rasa cinta.?

Cinta akan memberikan jalan untuk berkencan dengan Tuhan. Kasih sayang melekat dalam diri manusia menjauhi kekacauan. Alangkah indahnya Indonesia jika terdidik oleh manusia-manusia yang mempu mengolah dirinya sehingga berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Berkencan dengan Tuhan melalui jalan cinta segera diwujudkan.

Jalan Cinta

Cinta, aku memanggilmu cinta sebagai yang patut dicinta

Jalan, aku menyebut kau jalan sebagai tujuan

Cinta, aku mencintai engkau sebagai ungkapan kasih sayang

Jalan, aku membutuhkan jalan sebagai penenang

Cinta, aku memuji engkau sebagai sang Maha Segala

Jalan, aku membuka tabir sebagai pertaubatan

Cinta, aku merindukanmu sebagai keabadian kita

Jalan, aku mencarimu selalu sebagai kenikmatan?

Semarang, Januari 2017

Penulis adalah mahasiswi Jurusan Hukum Pidana dan Politik Islam, UIN Walisongo Semarang. Pegiat Sastra LIKSA (Lingkar Kajian Sastra) LPM Justisia. ? ?





Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Pendidikan, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Khofifah Peringati Sumpah Pemuda di Lokasi Korban Gempa di Pariaman

Padang Pariaman, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Memperingati hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada setiap 28 Oktober, tak harus dengan menggelar upacara di lapangan terbuka. Di lokasi pengungsian korban musibah bencana alam pun jadi.



Khofifah Peringati Sumpah Pemuda di Lokasi Korban Gempa di Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Peringati Sumpah Pemuda di Lokasi Korban Gempa di Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Peringati Sumpah Pemuda di Lokasi Korban Gempa di Pariaman

Begitulah yang dilakukan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, di lokasi pengungsian korban gempa di Korong Ambung Kapur, Nagari Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Rabu (28/10) pagi.

Ia didampingi Ketua PP Muslimat NU, Farida Solahuddin Wahid; Ketua Pengurus Wilayah Muslimat NU Sumbar, Tina Hatta; Ketua Pengurus Cabang Muslimat NU Padang Pariaman, Basnimar; dan Sekretaris Pengurus Wilayah LP Maarif NU Sumbar, Amiruddin Tuanku Majolelo; serta Wali Nagari (kepala desa) setempat, Anasril Nazar. Demikian dilaporkan Kontributor Kedung Sukun Adiwerna Tegal Bagindo Armaidi Tanjung di Padang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di sela-sela kegiatan sosialnya itu, ia meminta warga setempat untuk sejenak mengheningkan cipta dan berdoa bersama. Sebagian besar warga merupakan kaum ibu dan anak-anak. Sebagian yang lain adalah remaja putri guru TK/PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Azzahrah Maarif Muslimat NU se-Kabupaten Padang Pariaman.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Peringatan hari bersejarah yang merupakan tonggak kebangkitan gerakan pemuda pada 1928 silam itu digelar sangat sederhana di sekitar tenda-tenda pengungsian serta rumah-rumah warga yang roboh akibat digoncang gempa pada 30 September lalu.

Khofifah, dalam tausiyah (pidato) singkat usai memimpin doa bersama, mengimbau warga untuk tabah dan sabar menghadapi cobaan bencana. "Bersedih, boleh saja, tapi jangan keterusan. Kita harus tegar menghadapi cobaan ini," ujarnya.

Khusus kepada remaja putri guru TK/PAUD Azzahrah Maarif Muslimat NU, Khofifah mengimbau agar tidak putus asa membantu pendidikan anak-anak setempat, meski masih dalam suasana bersedih atau berduka. "Pendidikan anak-anak ini jangan sampai terlantar. Harus terus berjuang. Muslimat NU akan membantu semampunya," pungkasnya.

Mementum hari Sumpah Pemuda, imbuh Khofifah, harus dijadikan semangat untuk terus berjuang membantu pendidikan anak-anak, terutama yang ada di PAUD Azzahrah.

"Walau pun kondisinya sekarang memang tidak terlalu baik, walau pun masih banyak yang tidur di tenda, walau pun banyak tempat PAUD yang roboh, tetap jangan menyerah," pinta mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.(mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita

Banyuwangi, Kedung Sukun Adiwerna Tegal



PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Banyuwangi menggelar diskusi kajian tentang fiqih perempuan bersama puluhan kader pelajar NU di Aula Kantor PCNU Banyuwangi, Selasa (30/05) malam.

Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita

Gelaran diskusi kajian fiqih perempuan ini dihadiri langsung oleh wakil ketua 3 PAC IPNU Banyuwangi bidang Departemen Dakwah Ahmad Surur dan sekaligus pemantik diskusi kajian ini.

Diawal Surur mengatakan, mempelajari fiqih dan dalil-dalil hukum di dalam agama Islam merupakan perkara yang penting baik untuk kalangan Muslim laki-laki dan perempuan.

"Kita sebagai manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Untuk itu, kita membutuhkan fiqih dalam melaksanakan aktifitas ibadah. Misal, shalat, ? puasa, haji, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya," ungkap ? Surur.

Tak hanya itu lebih spesifik, Surur menilai pentingnya belajar fiqih masalah haid, nifas, wiladah, dan istihadlah mutlak diperlukan, baik di kalangan perempuan maupun laki-laki.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Karena posisi laki-laki suatu saat akan menjadi kepala keluarga dan secara otomatis memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi tentang darah wanita kepada istri dan keturunannya kelak," jelas Surur.

Selain itu, pasalnya kalangan wanita sendiri mengenai darah haidl dengan istihadlah ? masih bingung membedakannya. Mana itu darah haid atau sebaliknya, terang Surur.

"Terkadang seorang wanita telah mengeluarkan darah haidl lebih dari 15 hari masih dianggapnya haidl, padahal itu tidak. Kadang pula masih belum dapat membedakan antara kriteria darah qowi (kuat) dan tidak," tutur Surur.

Apa lagi, kebanyakan dari mereka ? wanita yang masih awam dan baru merasakan haid.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Makanya kita bidik para kader-kader NU khususnya kaum hawa untuk mengikuti kajian ini. Karena sadar, ini adalah syariat utama untuk menjalankan segala ibadah. Bukankah kebersihan sebagian dari iman," tutup Surur. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Lomba, Nahdlatul Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Senam Islam Nusantara Ramaikan Pembukaan Porsema Sumedang

Sumedang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Pembukaan kegiatan Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) tingkat Kabupaten Sumedang secara resmi dibuka pada Kamis (15/12) di GOR Tajimalela, Sumedang, Jawa Barat.

Kegiatan yang digagas pengurus Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang itu diramaikan dengan penampilan marching band dan senam Islam Nusantara.

Senam Islam Nusantara Ramaikan Pembukaan Porsema Sumedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Senam Islam Nusantara Ramaikan Pembukaan Porsema Sumedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Senam Islam Nusantara Ramaikan Pembukaan Porsema Sumedang

Ketua LP Maarif NU Kabupaten Sumedang? Cucu Suhayat mengatakan bahwa penampilan marching band dan senam Islam Nusantara ini sengaja ditampilkan sebagai promosi kepada masyarakat supaya memasukan anak-anaknya ke sekolah yang berada di bawah LP Maarif NU.

Siswa dari MTs Maarif Cikareo dengan bangganya menampilkan marching band di hadapkan ratusan yang hadir dalam pembukaan Porsema. Setelah penampilan marching band selesai dilanjutkan dengan penampilan senam yang diwakili oleh ratusan siswa SMK Maarif 2 Sumedang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Cucu mengatakan bahwa senam Islam Nusantara yang banyak meniru gerakan shalat dan wudhu ini diciptakan oleh kader-kader Nahdlatul Ulama. Porsema diselenggarakan selama tiga hari, 15-17 Desember 2016. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)



Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Doa Selepas Buang Hajat

? ? ? ? ? ? ? ?

Ghufrânakal hamdu lillâhil-ladzî adzhaba ‘annî-l-adzâ wa ‘âfânî

Doa Selepas Buang Hajat (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Selepas Buang Hajat (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Selepas Buang Hajat

“Aku memohon ampunan-Mu. Segala uji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari diriku dan membuatku sehat.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Budaya, Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Ada Jagongan Budaya di Pesantren Pasuruan

 Pasuruan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ada suasana berbeda di Pondok Pesantren Darul Ulum, Karangpandan, Pasuruan. Para santri yang biasa ngaji kitab kuning, malam itu menggelar “Jagongan Budaya”. Bukan sekedar jagongan, justru para santri diajak untuk memaknai kediriannya tentang pendidikan antikorupsi.

Ada Jagongan Budaya di Pesantren Pasuruan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Jagongan Budaya di Pesantren Pasuruan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Jagongan Budaya di Pesantren Pasuruan

Jagongan  Budaya di Pondok Pesantren Darul Ulum tersebut dalam rangka Road Show Puisi Menolak Korupsi ke-26. Sebuah gerakan para penyair seluruh Indonesia yang berusaha memberikan pendidikan nilai antikorupsi kepada siapa saja, baik kepada santri, masyarakat umum, guru, maupun pelajar.

Hadir pada Pasuruan Ahad (2/10) itu para penyair dari Sang Jenderal Gerakan Puisi Menolak Korupsi, Sosiawan Leak (Solo), Roosetindaro Baracinta (Surakarta), Bagun Barlen Aji (Jember), Muhammad Lefand (Sumenep), Dimas Indiana Senja (Brebes), Lukni Maulana (Semarang), Arafat Ahc (Demak), Aloet Pati (Pati), Suryahadi (Riau), Syarifuddin Arifin (Padang), Bambang Eka Prasetya (Magelang), Rizki (Magelang), Agustina Thamrin (Banjarbaru Kalimantan Selatan), Dimas Anggara (Demak), Kidung Purnama (Ciamis).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kemeriahan tampak sekali di pondok pesantren ini. Suguhan pembacaan puisi, teatrikalisasi puisi dan musikalisasi puisi. Road show pembacaan puisi menolak korupsi tidak hanya diikuti oleh para penyair nasional dan santri namun juga diikuti para ustadz pondok dan kiai Pondok Pesantren Darul Ulum Pasuruan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Haedar Hafidz selaku pengasuh pondok pesantren Darul Ulum mengatakan, pihaknya ingin memberikan pentingnya pendidikan anti korupsi kepada para santri.

“Korupsi harus diperangi dan ini merupakan jihad. Dan semoga Pondok Pesantren Darul Ulum Pasuruan menjadi sentral pondok yang memberikan kontribusi Puisi Menolak Korupsi,” tutur Haedar. “Dengan puisi kita lawan korupsi,” tambahnya. (Lukni Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Habib, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ratusan Santri Digembleng Ala Banser

Demak, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Trenggalek kembali menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar). Diklatsar Banser II ini cukup berbeda dari biasanya karena pesertanya sebagian besar dari kalangan pesantren. Tak tanggung-tanggung, hampir 200 santri dari pesantren di Trenggalek ikut dalam agenda tersebut.

Kasatkorcab Banser Trenggalek, H. Fatkhur Rohman mengatakan, kaum santri dan kiai mempunyai sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui laskar Hizbullah dan Sabilillah, mereka angkat senjata menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

"Pangeran Diponegoro dan pengikutnya santri. Arek-arek Surabaya yang berhasil memukul mundur Inggris dalam pertempuran 10 November juga santri. Dan masih banyak tokoh lainnya yang santri. Makanya, santri sekarang perlu dipupuk jiwa nasionalismenya, karena ia adalah benteng aswaja dan NKRI," paparnya.

Ratusan Santri Digembleng Ala Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Digembleng Ala Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Digembleng Ala Banser

Diklatsar II ini berlangsung di Pondok Pesantren Sulaiman Gandusari, (6-8/5). Selama tiga hari, para santri diberi materi keaswajaan, kebangsaan, dan tak lupa, gemblengan kanuragan. Diklatsar ditutup oleh Kasatkorcab dan pembacaan Rotibul Hadad yang dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren, KH. Musyaroh Utsman. (Abid Dzulfikar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Internasional, Daerah, IMNU Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat

Sepuluh tahun sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) secara nyata bughot (memberontak) terhadap pemerintah RI, mereka ikut menjadi kontestan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1955 yang melibatkan 13 partai lain termasuk Partai Nahdlatul Ulama (NU).

Pemilu pertama dalam sejarah Indonesia ini disebut-sebut berjalan demokratis. Namun demikian, PKI memunculkan kegaduhan dengan menyalahi ketetapatan Menteri Dalam Negeri Mr. R. Sunaryo perihal lambang partai. Semua partai menyepakati ketetapan Mendagri, kecuali PKI.

Tanda gambar PKI berupa palu arit dibubuhi tulisan “PKI dan orang-orang tak berpartai” diprotes oleh NU namun PKI tetap bertahan. Terjadi silang pendapat di antara NU dan PKI yang berujung pada Mr. R. Sunaryo untuk memanggil perwakilan dari kedua partai.

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika PKI Mengelabui Mata Rakyat

Dilakukanlah musyawarah yang menghadirkan wakil-wakil NU dan PKI disaksikan Mendagri dan Ketua Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) S. Hadikusumo. Partai NU mengutus Idham Chalid dan Munir Abisudjak, sedangkan PKI mengirim DN. Aidit dan Sudisman. Terjadilah perdebatan sengit di antara mereka seperti yang diungkap KH Saifuddin Zuhri dalam memoarnya Berangkat dari Pesantren sebagai berikut:

Mr. R. Sunaryo: Saya persilakan wakil NU untuk mengemukakan keberatan-keberatannya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Idham Chalid: Menurut NU, tanda gambar atau simbol PKI selama ini cuma palu arit, tak ada embel-embel kalimat, ‘dan orang-orang tak berpartai’.

DN. Aidit: PKI berpendapat bahwa banyak sekali orang-orang tak berpartai tetapi memercayakan perjuangan politiknya kepada PKI.  Karena hasrat yang mulia itu kami tampung.

Idham Chalid: Tetapi tidak semua orang tak berpartai simpati kepada PKI. Dengan menyamaratakan semua orang tak berpartai seolah-olah simpati PKI jelas bahwa ada niat PKI mencatut nama rakyat bahkan hendak mengelabui mata rakyat.

DN. Aidit: Saya protes saudara menuduh PKI mencatut nama rakyat bahkan mengelabui mata rakyat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Idham Chalid: Protes saudara saya tolak. Saya sekadar menyatakan kenyataan yang saya rasakan.

Sudisman: Dari mana saudara merasakan PKI mengelabui mata rakyat?

Idham Chalid: Dari kenyataan yang ada dalam masyarakat. Di sana banyak orang-orang tak berpartai yang bersimpati kepada NU, kepada Masyumi, kepada PNI dan sebagainya. Kalau terhadap mereka yang pandangan hatinya berbeda-beda lalu dituntut seolah-olah mereka juga ikut PKI semua, apakah ini bukan mencatut nama rakyat dan mengelabui mereka?

Karena situasi musyawarah semakin panas, Mendagri Sunaryo mengambil alih dan menyela perdebatan.

Mr. R. Sunaryo: Saya harap saudara Aidit mengindahkan keberatan pihak lain!

S. Hadikusumo: Saya kira PKI tidak boleh mengikuti kehendak sendiri. Semua tanda gambar dalam pemilu harus diputuskan melalui kebulatan bersama.

DN. Aidit: Kalau begitu saya usulkan agar NU juga menambah kalimat, ‘NU dan semua orang Islam’ di bawah tanda gambarnya.

Idham Chalid: Tidak bisa! Bagaimana saya harus melakukan hal-hal yang saya sendiri memprotesnya? Orang-orang Islam yang tidak berpartai itu hati kecilnya mempunyai simpati kepada partai tertentu. Ada yang bersimpati pada Masyumi, PSII, Perti, dan ada yang kepada PNI maupun IPKI dan sebagainya. Saya tidak ingin NU mencatut nama orang-orang tak berpartai seolah-olah pro NU semua.

DN. Aidit dan Sudisman akhirnya tidak mempunyai argumen-argumen lain untuk membantah Idham Chalid. Pada kesempatan ini, akhirnya Mendagri Mr. R. Sunaryo dan Ketua PPI S. Hadikusumo memutuskan bahwa PKI dilarang menyematkan kalimat ‘orang-orang tak berpartai’, kecuali tanda gambar palu arit. 

Setelah pertarungan dalam pemilu usai, berikut perolehan suara partai-partai dalam pemilu 1955 tersebut: PNI (57 suara), Masyumi (57 suara), NU (45 suara), PKI (39 suara), PSII (8 suara), Parkindo (8 suara), Partai Katolik (6 suara), PSI (5 suara), Perti (4 suara), IPKI (4 suara), Murba (2 suara), Partai Buruh (2 suara), dan Gerakan Pembela Pancasila (2 suara). (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Santri, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. KH Salahuddin Wahid yang lazim disapa Gus Solah mengatakan KH MA Sahal Mahfudh atau Mbah Sahal merupakan sosok yang menjaga NU dari infiltrasi politik. Sikapnya yang demikian sejalur dengan posisinya sebagai Rais Aam PBNU.

“Kiai Sahal merupakan ulama besar yang dimiliki NU. Kondisi itu semakin klop dengan posisinya sebagai Rais Aam PBNU,” terang Gus Solah yang kini mengasuh pesantren Tebuireng Jombang, Jumat (24/1).

Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis

Karenanya, fikih sosial dan petuah kiai asal Jawa Tengah ini selalu ditunggu umat. Yang lebih mengesankan lagi, menurut Gus Solah, selama ini Mbah Sahal merupakan ulama yang sangat kukuh menjaga NU dalam trek Khittah NU 1926.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Mbah Sahal tidak ingin NU terseret ke wilayah politik praktis. Hal itu pula yang terus dijaga Kiai Sahal hingga akhir hayat, kata Gus Solah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kendati demikian, Mbah Sahal pernah kecolongan di tahun-tahun silam saat ia memegang amanah sebagai Rais Aam PBNU. Pada tahun itu NU secara tidak langsung terseret ke wilayah politik praktis. Bahkan Kiai Hasyim Mudzadi sebagai Ketua Umum PBNU maju sebagai cawapres mendampingi Megawati Soekarno Putri.

Meskipun tidak berkenan, Mbah Sahal waktu itu kurang bisa mencegah langkah Pak Hasyim. “Makanya ke depan hal-hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi," kenang Gus Solah. ? (Saiful/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Bahtsul Masail, Nahdlatul Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Rais Syuriyah PBNU: Negara Aman, Iman Jadi Kuat

Pacitan, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Rais Syuriah PBNU KH Mustofa Aqil Siroj mengatakan keamanan suatu negara dapat menguatkan rasa keimanan seseorang. Sebab, kata Pengasuh Pesantren Kempek Cirebon ini, bila negara aman dan damai maka dalam beribadah pun seseorang akan menjadi lebih tenang.

"Al-Aman qoblal iman, Aman dulu baru iman," katanya saat memberikan ceramah di hadapan ribuan nahdliyin dalam acara Pengajian peringatan HUT kemerdekaan RI Ke-70 yang diadakan oleh PAC GP Ansor NU Ngadirojo Pacitan, Ahad (30/8) malam.

Rais Syuriyah PBNU: Negara Aman, Iman Jadi Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU: Negara Aman, Iman Jadi Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU: Negara Aman, Iman Jadi Kuat

Kiai Mustofa menjelaskan, negara-negara di jazirah arab yang identik disebut dengan negara Islam memiliki ulama yang hebat-hebat tapi negaranya terus dilanda konflik dan peperangan. Para ulama di sana tidak mampu meredam konflik yang berkepanjangan. Sementara di Indonesia yang memiliki bermacam-macam agama dan suku dapat hidup dengan aman dan damai.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kenapa aman? Karena di Indonesia lebih mementingkan semangat kebangsaan dan rasa mecintai tanah air," jelasnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dia juga menerangkan, bahwa datangnya Islam di nusantara yang dibawa oleh para Walisongo tidak pernah mengubah atau meminggirkan budaya asli nusantara sehingga Islam dapat diterima dengan mudah tanpa adanya konflik dan pertumpahan darah.

"Islam Nusantara itu bukan madzhab, bukan aliran. Islam Nusantara adalah ciri kenusantaraan. Islam yang mementingkan negara dan tidak bertentangan dengan syariah," tandas adik kandung Ketum PBNU itu.

Pengajian peringatan HUT Kemerdekaan RI dihadiri beberapa kiai seperti Mustasyar PCNU Pacitan, KH Umar Tumbu, Katib Syuriah PBNU, KH Luqman Harits, KH Imam Faqih dan dimeriahkan dengan penampilan seribu rebana dari para santri se-Pacitan. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Humor Islam, Daerah, Nahdlatul Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dunia internasional kembali mengakui kiprah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atas konsistensinya menjaga kerukunan beragama di Indonesia dan luar negeri.

PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Terima Penghargaan Perdamaian Dunia di Paraguay

Sebagai apresiasi, sebuah organisasi pemerhati perdamaian dunia, Global Peace Foundation, memberi anugerah Global Peace Interfaith Leadership Award 2014 kepada PBNU.

 

Penyerahan award dilakukan dalam acara Global Peace Convention yang diselenggarakan di Asuncion, Paraguay, Amerika Selatan, Sabtu (22/11) malam waktu setempat.

 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Konvensi Perdamaian Dunia-nya dimulai sejak tanggal 19 (November) dan ditutup kemarin, dan puncaknya hari ini untuk penyerahan award. Alhamdulillah, PBNU tahun ini adalah penerima award perdamaian global," kata Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud yang menjadi wakil PBNU dalam menerima award tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

 

Marsudi menjelaskan, Global Peace Foundation menetapkan beberapa kriteria penilaian untuk award perdamaian yang tahun ini mengambil tema "One Family under God"  tersebut, antara lain inovator terkemuka, baik pemerintahan, lembaga atau organisasi kemasyarakatan, masyarakat sipil, akademisi, dan masyarakat lintas agama, yang telah bekerja dan memberikan teladan dalam substansi meningkatkan kehidupan orang atau kelompok lain, serta nyata berkontribusi untuk perdamaian.

 

Pemenang penghargaan, kata Marsudi, juga dinilai telah menunjukkan integritas kehidupan pribadi atau kelompok dan layanan, dan memberikan contoh pengakuan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat.

 

"PBNU dinilai telah menunjukkan usaha yang luar biasa dalam memajukan kerjasama lintas agama, kemanusian, serta layanan dan perdamaian. Award ini tentu wajib disyukuri, karena di sini PBNU adalah wakil Indonesia," jelas Marsudi.

 

Sementara dalam konvensi perdamaian yang menjadi rangkaian acara sebelumnya, Marsudi menyampaikan pidato dengan tema "Leadership in the Promotion of Liberty, Prosperity and Integrity".

"Pidato ini menyampaikan betapa pentingnya kepemimpinan moral. Ini merupakan topik penting, tidak hanya untuk negara-negara Muslim di Asia, akan tetapi juga negara-negara lain di dunia," tegasnya.

 

Marsudi memaparkan, dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari kepemimpinan moral untuk mendukung kebebasan, kemakmuran, dan integritas, karena itu adalah bagian dari martabat dan sistem bangsa Indonesia yang telah sukses membangun peradaban.

 

"Ibaratnya, saat akan pergi ke tujuan, yaitu titik keberhasilan di dunia dan akhirat, saadah fiddunya wal akhirat, cara dan jalur untuk mencapainya adalah dengan menggunakan kebebasan, kemakmuran, dan integritas yang dilaksanakan oleh para pemimpin yang dikontrol oleh sistem moral," pungkas Marsudi. (Red: Mahbib Khoiron)

 

Foto: Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud (dua dari kanan) menjadi salah satu narasumber dalam Global Peace Convention 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Halaqoh Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Perkuat Kader Putri, PMII Jombang Datangkan Ketua PB Kopri

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang bertekad untuk membentuk badan semi otonom dalam kepengurusan selanjutnya, yaitu Korps PMII Putri (Kopri). Untuk memperdalam pengetahuan tentang Kopri, mereka mendatangkan Ai Rahmayanti, Ketua PB Kopri PMII ke Sekretariatnya, Jumat (10/10).

Perkuat Kader Putri, PMII Jombang Datangkan Ketua PB Kopri (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Kader Putri, PMII Jombang Datangkan Ketua PB Kopri (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Kader Putri, PMII Jombang Datangkan Ketua PB Kopri

Didampingi Ayu Rahmawati, Ketua Bidang Kaderisasi PB Kopri, perempuan yang akrab disapa Teh Ai ini berharap keberadaan kader putri di Jombang bisa lebih maju. Baik dalam penguatan pengetahuan tentang keperempuanan maupun gerakan aktualisasi melalui wadah Kopri. “Selain bisa lebih fokus dalam berproses sesama kader putri, nanti juga bisa lebih intens mengawal isu-isu perempuan yang ada di masyarakat,” Jelas aktivis perempuan kelahiran Garut Jawa Barat ini.

Mantan Ketua Kopri Jawa Barat ini menambahkan bahwa keberadaan Kopri merupakan ruang untuk mempelajari dan menegakkan kedaulatan perempuan. Peran perempuan tidak harus selalu berada di bawah komando kaum Adam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Jatim memiliki banyak tokoh perempuan Nasional, ini menjadi landasan bahwa kaum wanita juga mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin,” imbuhnya di depan pengurus cabang dan kader putri Jombang.

“Untuk mekanisme pembentukannya, sudah diatur dalam konstitusi PMII,” imbuh perempuan keturunan Sunda ini. “Sedangkan teknis pemilihan ketua Kopri, mau pemilihan langsung atau melalui formatur tergantung kebijakan panitia pengarah konferensi cabang nanti,” tambahnya. Sementara di daerah-daerah saat ini masih beragam pelaksanaannya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebelumnya, PMII Jombang belum mempunyai Kopri yang merupakan wadah untuk mengembangkan bakat dan minat kader putri. Hanya bidang keputrian untuk menampung kebutuhan tersebut. Tapi masih terbatas kepengurusan dan pendampingannya. Sementara pengembangan gerakan kader putri juga masih lemah. “Kuantitas kader putri sudah banyak, inilah salah satu faktor yang membuat kami optimis untuk membentuk dan memperkuat Kopri,” Kata Ali Makhrus Ketua Bidang Kaderisasi PMII Jombang.

Selain itu, menurut Makhrus, pembentukan Kopri juga menjadi kewajiban pengurus sesuai mandat kongres XVIII PMII di Jambi Juni lalu yang tertera dalam AD/ART. “Kami akan usahakan dalam Konfercab yang akan dilaksanakan akhir bulan depan, Kopri bisa terbentuk sesuai amanah Kongres PMII kemarin,” ungkapnya.

Kader putri PMII Jombang menyambut gembira silaturrahim Ai Rahma. Walaupun sempat protes karena mendapat informasi mendadak, mereka tetap senang bisa bertemu, mendapat ilmu dan berbagi pengalaman dengan ibu pergerakan di PMII ini. Hanya dari komisariat Darul Ulum diantara enam komisariat yang tidak terlihat kader putrinya berkumpul di Aula Cabang. Karena mereka masih melaksanakan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Daerah, Kajian Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 30 November 2017

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Abu al-Farj Ibnu Jauzi (510-597 H) mengisahkan penolakan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahu Allah untuk menjawab pertanyaan seputar wara’. Diceritakan:

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?! ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? ?.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Diriwayatkan dari Ahmad bin Abdullah bin Khalid, dia berkata: “Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang masalah wara’.”

Ia menjawab: “Aku memohon ampun kepada Allah. Tidak halal bagiku untuk berbicara tentang masalah wara’, karena aku memakan hasil bumi Baghdad. Tapi, jika kau hendak mengetahuinya, Bisyr bin Harits adalah orang yang pantas menjawab pertanyaanmu. Dia tidak memakan hasil bumi Baghdad dan tidak memakan makanan yang tidak jelas. Dia pantas untuk berbicara tentang masalah wara’.” (Jamaluddin Abu al-Farj bin Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Darul Kutub al-‘Arabi, 2012,hlm 429).

****

Ulama-ulama kita di zaman dulu sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan. Mereka tidak akan menjawab pertanyaan dengan sembarangan. Apalagi jika pertanyaannya seputar praktik ibadah seperti zuhud, wara, tawakkal dan lain sebagainya. Imam Ahman bin Hanbal, dalam kisah di atas, merasa tidak memiliki kualifikasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan alasan, ia masih memakan hasil panen Baghdad, yang cara pengolahan, pendistribusian dan penjualannya tidak diketahui secara jelas:  apakah dalam salah satu prosesnya terdapat perbuatan yang dilarang atau tidak.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Satu-satunya orang yang ia yakini kewaraannya adalah Bisyri bin Harits al-Hafi (767-850 M). Disebut al-Hafi karena Imam Bisyri tidak pernah mengenakan sandal, selalu bertelanjang kaki kemana pun ia pergi.Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah melihat Imam Bisyri memakan makanan yang tidak jelas asal-usulnya. Hidupnya dipasrahkan semuanya kepada Allah dan melayani orang-orang di sekitarnya.Ia hanya makan untuk memenuhi hak tubuh atas dirinya. Sekali waktu Imam Bisyri pernah mengatakan:

? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya lapar itu dapat menjernihkan hati dan mendatangkan pengetahuan yang halus.” (Jamaluddin Abu al-Farj ibnu Jauzi, 2012, hlm 429).

(Baca juga: Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal)

Untuk memahami perkataan Imam Bisyri di atas, kita harus menggunakan sudut pandang pengetahuan. Lapar akan dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tapi, yang paling berpengaruh dalam pemaknaannya adalah latar belakang pengetahuannya. Orang yang berilmu dapat menjadikan lapar sebagai motivasi untuk sukses. Orang yang tidak berilmukurang mampu mendapatkan manfaat dari kelaparannya, bahkan tidak sedikit yang memilih mencuri untuk mengatasi kelaparannya.

Lain lagi dengan orang berilmu yang terus-menerus melatih hatinya agar bersih dari cela, seperti Imam Bisyri al-Hafi. Setiap kali lapar, ia mendapatkan pengetahuan baru. Bagi Imam Bisyri, kelaparan adalah guru. Darinya, ia belajar bersabar, bertawakkal, bersyukur dan lain sebagainya. Gambarannya seperti ini,tanpa lapar, mampukah kita merasakan kenikmatan kenyang; tanpa lapar, akankah kesabaran kita terlatih secara alami, dan seterusnya. Orang yang mampu bertafakkur di saat lapar, dan mengambil hikmah darinya, tentulah bukan orang sembarangan.

Imam Ahmad bin Hanbal tahu betul akan kewaraan Imam Bisyri. Karena itu,Ia berpendapatorang yang pantas berbicara tentang wara’ adalah Bisyri al-Hafi, bukan dirinya. Hal ini yang telah hilang dalam kultur beragama kita. Sekarang ini, semua orang berusaha menjawab pertanyaan, tanpa memandang kelayakan diri. Akibatnya, banyak fatwa keagamaan yang tidak sesuai dengan hukum aslinya.Hal ini diperparah oleh penggunaan fatwa-fatwa itu untuk mengadili pendapat lainnya, yang bisa jadi pendapat lain itu lebih benar. Melihat fenomena ini, kita harus kembali pada jalan yang dilalui ulama-ulama kita di masa lalu, “falyaqul khairan aw li yasmut—ucapankanlah kebaikan, jika tidak lebih baik diam.”

Tindakan menarik juga pernah dilakukan Imam Hasan al-Bashri (642-728 M). Suatu ketika sekelompok budak di Kufah menghampirinya dan meminta Imam Hasan al-Bashri untuk memberi khutbah tentang keutamaan membebaskan budak.Imam Hasan al-Bashri mengiyakan dan berjanji akan menyampaikannya di depan jamaah. Di Jum’at pertama, para budak menunggu di masjid untuk mendengarkan khutbah Imam Hasan al-Bashri, tapi dia tidak mengucapkan sedikit pun tentang keutamaan membebaskan budak.

“Mungkin Imam Hasan lupa,” kata budak itu satu sama lainnya.

Di Jum’at kedua, Imam Hasan al-Bashri tetap tidak mengungkit tentang keutamaan membebaskan budak. Begitu seterusnya hingga Jum’at keempat. Para budak sangat kecewa dengan Hasan al-Bashri. Mereka memandang Imam Hasan sebagai pembohong dan orang yang tidak menepati janji. Di Jum’at kelima, Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa salah satu misi Islam adalah membebaskan perbudakan, baik yang berasal dari tawanan perang maupun dari hasil jual beli. Orang-orang yang mendengar khutbahnya, ketika selesai shalat Jum’at, mereka berlomba-lomba membebaskan budaknya. Hari itu bisa dikatakan sebagai pembebasan budak masal di Kufah.

Para budak yang telah kecewa, terkejut dengan khutbah Imam Hasan al-Bashri. Mereka berduyun-duyun mendatangi Imam Hasan al-Bashri dan bertanya,“kenapa baru sekarang, tidak dari awal saja?” Imam Hasan al-Bashri menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ketika kalian mengatakannya padaku (aku telah setuju), tapi aku tidak memiliki budak. Aku tidak ingin memerintahkan kebaikan pada masyarakatatas sesuatu yang belum aku lakukan. Karena aku miskin, aku harus mengumpulkan harta untuk membeli budak. Lalu kubiarkan dia melayaniku beberapa hari untuk merasakan sejauh mana kebutuhanku padanya (memiliki budak). Ketika aku yakin dalam hatiku betapa besar aku membutuhkannya, aku membebaskannya dan menyampaikan khutbah ini.” (Ahmad Muhammad ‘Athiyat, al-Iqna’, ‘Amman: Amwaj, 2012, hlm 22).

Fatwa atau nasihat agama tentu akan diterima dengan berbeda oleh pendengarnya jika yang memberi fatwa dan nasihat benar-benar telah melakukannya, seperti kasus Imam Hasan al-Bashri di atas. Setelah mendengar ceramahnya, orang-orang berlomba-lomba untuk membebaskan budak.Itulah cara ulama kita di masa lalu. Mereka sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa keagamaan, meskipun pengetahuan agama mereka sangat tinggi dan diakui oleh banyak ulama yang semasa atau setelahnya. 

Semoga kita bisa melestarikan tradisi mereka dan terlepas dari berbagai fitnah zaman. Allahumma sallimna min fitnah hadzihiz zaman. Amin.

Muhammad Afiq Zahara, pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sejarah, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock