Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Peringatan haul cikal-bakal desa Kaliwungu, Mbah Rogo Moyo kembali diadakan selama lima hari 1 – 5 Nofember mendatang. Pembukaan seluruh rangkaian kegiatan haul ditandai dengan selametan bubur syuro dan dan santunan anak yatim di Masjid jami Al Aziz Prokowinong Kaliwungu Kudus, Ahad malam (2/11)

Dalam acara yang dibuka Camat Kaliwungu Budi Utomo, sebanyak 67 yatim yang berasal dari desa itu menerima santunan masing-masing berupa uang tunai Rp 80.000 per anak dan bingkisan jajan.

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim

Ketua panitia Noor Yadi menjelaskan sosok Mbah Rogo Moyo merupakan tokoh yang menyebarkan dan mengembangkan dakwah agama Islam di dukuh Prokowinong Kaliwungu. Selain itu, Mbah Rogo Moyo adalah seorang ahli pertukangan yang dikenal sebagai penemu rumah adat Kudus.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Beliau juga dikenal sebagai salah satu tukang berpengaruh dalam pendopo-pendopo kabupaten pada era Bupati Kudus ketiga Raden Condronegoro," tuturnya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Yadi menjelaskan peringatan haul mbah Rogo Moyo diadakan berdasarkan tahun Hijriyah tepatnya 13 Muharram. Pada tahun ini, ragam kegiatan telah dipersiapkan diantaranya bersih-bersih makam (1/11), Festival Rebana Klasik (2/11), lomba rebana modern (3/11), khotmul Quran Bin-Nadlor dan bil ghoib (5/11), kirab budaya dan buka luwur dilanjutkan pengajian bersama KH Adnan Kasogi (Kudus).

"Disamping mengenang, meneladai, melestarikan nilai ketokohonya yang sederhana, mendorong dan memupuk semangat gotong-royong dan persatuan kesatuan masyarakat," terangnya.

Hadir dalam acara pembukaan, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kudus Sunardi, Kabid Pariwisata Dwi Sancaka, Camat Kaliwungu Budi Utomo, pengurus NU dan badan otonomnya, tokoh masyarakat setempat dan tamu undangan serta ratusan warga desa Kaliwungu.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Kang Said: Tuhan Tidak "Galak"

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Merosotnya akhlak atau etika masyarakat akhir-akhir ini yang berujung pada intoleransi perlu disikapi oleh para dai. “Kita jangan hanya berbicara akidah saja, tapi juga harus menyampaikan bagaimana akhlak atau etika dalam Islam,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam akun twitternya @saidaqil, 23 Januari 2011.

Kang Said menyatakan bahwa pengajaran tentang akhlak juga tidak kalah penting, yaitu menempatkan manusia sebagai makhluk yang terhormat. “Jangan hanya bicara surga-neraka saja. Kalau hanya bicara itu orang akan takut. Kita harus bicara bagaimana memanusiakan manusia. Kita angkat terlebih dahulu manusia sebagai makhluk yang terhormat, baru bicara yang lain,” lanjut Kang Said.

Kang Said: Tuhan Tidak Galak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Tuhan Tidak Galak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Tuhan Tidak "Galak"

“Setelah itu barulah kita sampaikan, bahwa manusia itu harus begini, tidak boleh begitu, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pria kelahiran Cirebon ini mengingatkan agar para khatib/ dai lebih damai dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. “Dalam berdakwah jangan hanya mengancam orang dengan neraka. Sampaikan dakwah dengan damai. Tuhan itu tidak "galak", yang "galak" itu khatibnya. Tuhan itu maha pemaaf,” tegas Kang Said.

Ia juga mengajak masyarakat agar tidak hitam-putih dalam memahami Islam. Pandangan Islam yang sempit juga lah yang menyebabkan munculnya intoleransi akhir-akhir ini. Islam tidak bisa dipahami dalam waktu singkat atau instan. “Tidak bisa memahami Islam secara instant, butuh waktu yang tidak sebentar,” tambahnya. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan, AlaNu, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Masih Ada Jurang Antara Pengetahuan dan Praktek Pelaksanaan Ibadah Haji

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Isu tentang haji saat ini telah banyak bergeser ke persoalan-persoalan material, seperti fasilitas trasportasi, pemondokan atau hotel, katering, dan fasilitas kesehatan, karena sejumlah Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang telah dibayar jamaah.

Akibatnya persoalan esensi haji, yakni seputar pelayanan ibadah nyaris terabaikan karena tertutup oleh isu-isu material tersebut. Tidak satupun pihak yang pernah mempertanyakan, bagaimana kualitas ibadah haji para jamaah, atau siapa yang bisa menjamin sah atau tidaknya jamaah haji selama Armina?

Masih Ada Jurang Antara Pengetahuan dan Praktek Pelaksanaan Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Masih Ada Jurang Antara Pengetahuan dan Praktek Pelaksanaan Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Masih Ada Jurang Antara Pengetahuan dan Praktek Pelaksanaan Ibadah Haji

Balitbang dan Diklat Kementerian Agama dalam penelitiannya (2013) berusaha melihat Kinerja Kelompok Bimbingan Haji (KBH) dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai mitra pemerintah, fenomena komersialisasi KBH terhadap jemaah, dan tingkat kepatuhan pelayanan dan bimbingan ibadah yang dilakukan KBH dengan peraturan pelayanan dan bimbingan yang telah distandarkan pemerintah.

Termuan yang diperoleh adalah standardisasi KBH menuju manajeman yang lebih baik diperlukan, karena hubungan KBH dengan jamaah sebenarnya berada pada hubungan patron-klien. Ketika terjadi ketidakpuasan jamaah, maka hak-hak jamaah bisa terlindungi sebagai konsumen. Total Performance Management penting diterapkan untuk melakukan sertifikasi KBH untuk dapat menjamin pelayanan prima kepada jamaah. Ini disebabkan, realitas menunjukkan 14,24% KBH masih melanggar ketentuan biaya yang telah ditetapkan maksimal sebesar Rp2.500.000.

Eksplorasi fakta-fakta penelitian secara kuantitatif menghasilkan beberapa temuan yang sangat penting sebagai bahan kajian dalam membuat kebijakan seputar KBH. Berdasarkan pengujian statistik inferensial didapatkan hasil indeks kepatuhan KBH signifikan pada rerata 81% yang berarti sebagian besar KBH sudah patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang ada berkaitan dengan persyaratan pendirian maupun pengelolaan KBH. Akan tetapi masih terdapat 19% KBH lain yang tidak patuh, dimana sebagian besar melanggar ketentuan rasio perbandingan jemaah dengan pembimbing ibadah sebesar 56,96%, dan kepatuhan terhadap penggunaan buku manasik dari pemerintah sebesar 40,19%. Sedangkan kepatuhan terhadap besaran biaya bimbingan KBH mencapai rerata sebesar 83%, artinya masih terdapat 17% KBH yang signifikan secara nasional menarik biaya lebih dari Rp2.500.000,- dengan rerata biaya yang mencapai Rp4.006.100,-.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Penelitian tentang bimbingan ibadah di Arab Saudi menghasilkan antara lain, bahwa manasik yang dilakukan di Indonesia, baik oleh KBH dan KUA masih meninggalkan jurang pengetahuan antara bahan-bahan manasik di Indonesia dengan realitas kondisi yang ada di Arab Saudi. Konsep-konsep tentang tawaf, sai, atau tahalul dimengerti dengan baik, namun tidak selalu dapat dioperasionalkan dalam bentuk praktik ibadah dengan baik ketika di Arab Saudi. Ini artinya masih terjadi kesenjangan antara pengetahuan dengan praktik. Akan tetapi dalam konteks ini jamaah KBH lebih mampu teratasi karena umumnya rasio pembimbing dengan jamaah lebih kecil dibanding jamaah non-KBH. Bahkan pemaknaan serangkaian ibadah haji tidak dipahami benar, kecuali gerakan-gerakan fisik seperti dalam tawaf, sa’i, lempar jumrah, dan sebagainya.?

Dalam persoalan pelayanan bimbingan ibadah, secara kualitatif KBH memiliki keunggulan dibanding Tim Pemandu Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), karena selain rasio jamaah dengan pembimbing, umumnya jamaah haji KBH memiliki hubungan patronase dengan beberapa pembimbing KBH. Ini disebabkan hampir semua pembimbing KBH adalah tokoh agama yang telah memiliki ikatan emosional terlebih dahulu dengan calon jamaah haji.?

Meskipun demikian, TPIHI memiliki fungsi yang masih tetap harus diberdayakan, karena (TPIHI) selain merupakan ‘wakil’ pemerintah dalam kloter, juga berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap KBH dan melakukan pembimbingan bagi jamaah non-KBH. Komersialisasi KBH berada dalam beberapa aras, seperti pembayaran dam, badal haji, afdloliyah ibadah dan jasa pelayanan bus untuk ziarah. Ini disebabkan tidak adanya keterbukaan pengelolaan keuangan dan beberapa perbedaan antara KBH yang satu dengan lainnya, terutama soal biaya dam dan badal haji. (Mukafi Niam)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ulama, AlaNu, Nahdlatul Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Hubbul Wathan Minal Iman Urgen Diterapkan dalam Pendidikan

Temanggung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2017, Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabian Masyarakat (LP3M) STAINU Temanggung, Jawa Tengah menggelar Seminar Ilmiah bertajuk Pendidikan Karakter Bangsa di aula STAINU Temanggung, Sabtu (21/10) yang ditujukan untuk menguatkan SDM dan juga memantik spirit nasionalisme.

"Konsep Hubbul Wathan Minal Iman, menjadi induk dari nasionalisme yang diterapkan dalam pendidikan Islam di Indonesia. Bahkan, nasionalisme yang dikonsep ulama-ulama NU menjadi acuan ideal untuk membangkitan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan sampai saat ini," beber Hamidulloh Ibda, dosen STAINU Temanggung sebagai pemateri pertama dalam seminar tersebut.

Hubbul Wathan Minal Iman Urgen Diterapkan dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hubbul Wathan Minal Iman Urgen Diterapkan dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hubbul Wathan Minal Iman Urgen Diterapkan dalam Pendidikan

Dalam artikel bertajul Konsep Hubbul Wathan Minal Iman dalam Pendidikan Islam sebagai Marwah Nasionalisme itu, Ibda menegaskan bahwa selama ini banyak orang salah kaprah tentang konsep Hubbul Wathan.

"Ada yang mengatakan ini ayat Alquran, padahal ini rumusan kiai NU untuk membangkitkan spirit nasionalisme dalam melawan penjajah. Dalam artikel ini, saya membaginya ada tiga fase. Mulai sebelum, sesudah kemerdekaan dan era sekarang," beber dia.

Ia juga membeberkan, bahwa urgensei penerapan Hubbul Wathan dalam pendidikan Islam adalah seratus persen.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Pertentangan antara nasionalisme dan spirit keagamaan makin kacau karena ditunggangi kepentingan politik. Ditambah benturan suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu. Adanya kelompok pengusung spirit negara Islam justru memperkeruh kondisi bangsa. Padahal memegang nasionalisme dan Pancasila sudah sangat islami dan bukan pula melenceng dari substansi Islam itu sendiri," beber mantan Ketua IPNU tersebut.

Adanya kelompok radikal, lanjut dia, konservatif, kaku, yang ingin menegakkan khilafah, negara Islam dan sistem syariah. "Kita juga harus melihat, bahwa Indonesia dengan Arab, Mesir, Yaman beda.  Di Nusantara ini, tidak ada yang urgen untuk mendirikan negara Islam, daulah islamiyah, Islamic state atau pun khilafah. Sebab, hukum Islam tidak bergantung pada adanya suatu negara, melainkan masyarakat dapat memberlakukan hukum agama dalam sebuah negara berbentuk apa saja. Dan Islam tidak harus menjadi sebuah negara, karena yang harus ditonjolkan seharusnya adalah nilai-nilainya, spirit dan substansinya," beber dia.

Dalam sejarah Islam, menurut dia, nasionalisme tidak bisa lepas dari lahirnya Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) yang oleh para pakar politik Islam sekaliber Montgomery Watt pada 1988 dan Bernard Lewis pada 1994 yang dianggap sebagai embrio lahirnya negara nasional atau nation state dan menempatkan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin negara dan tidak sekadar menjadi pemimpin agama. "Pembentukan Piagam Madinah itu, tidak hanya dinikmati umat Islam, namun juga dari kaum Yahudi, Nasrani dan umat yang masih menyembah berhala. Jadi, faham nasionalisme itu sudah lahir sejak zaman nabi," jelasnya.

Ia juga menyinggung sejarah lahirnya nasionalisme di Indonesia. "Dari artikel saya, ada tiga jenis nasionalisme, yaitu nasionalisme Islam, kebudayaan dan nasionalisme radikal. Salah satu pelopor nasionalisme kebudayaan adalah Budi Utomo (BU). Sementara organisasi yang mengusung nasionalisme berbasis pemurnian Islam, yaitu Syarikat Islam (SI) dulu bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Kemudian pada 4 Juli 1927 Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang merupakan wadah nasionalisme modern yang radikal. Ideologi partai tersebut nasional radikal, yang dalam pandangan Bung Karno dianggap kekuatan bangsa Indonesia terletak pada Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme (NASAKOM). 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Setelah itu, diikuti kelahiran banyak organisasi, baik yang bercorak keagamaan, politik maupun kepemudaan, seperti Muhammadiyyah (18 November 1912), Nahdlatul Ulama (31 Januari 1926), Christelijke Ethische Partij (1916), Indiche Katholieke Partij (1918), Jong Java (1915), Jong Sumatera Bond (1917), dan lainnya. Lahirnya beraneka ragam organisasi itu dapat dikatakan nasionalisme sudah mulai tumbuh karena senasib sependeritaan, yang menginginkan bebas dari penjajahan Belanda, dan ingin mewujudkan cita-cita yaitu masa depan lebih baik, yang oleh Anderson disebut Imagined Political Community. Nasionalisme mencapai puncaknya saat dibentuknya BPUPKI pada 1 Maret 1945," ujar dia.

Menurutnya, gagasan cinta tanah air, nasionalisme, yang dikemas dengan idiom Hubbul Wathan Minal Iman tidak pernah lepas dari peran ulama dan kiai Nusantara khususnya NU. "Secara bahasa, hub artinya cinta, wathan berarti tanah air (bangsa), minal iman berarti dari atau sebagian dari iman.

Konsep Hubbul Wathan Minal Iman yang digagas tahun 1934 oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah yang kemudian diabadikan dalam lagu Syubbanul Wathan adalah yang paling ideal dan justru menjadi induk nasionalisme. "Sebab, Hubbul Wathan Minal Iman itu lengkap, memuat unsur Islam, kebudayaan dan kebangsaan. Namun, mengapa kok pakai Bahasa Arab? Kalau versi Kiai Said, karena untuk mengecoh Belanda agar tidak tahu artinya saat penjajahan dulu," ujar dia.

Selain itu, dalam artikelnya itu, ada beberapa peran NU dalam mengawal nasionalisme. Sebab, tanggal 22 Oktober 1945 yang diperingati sebagai Hari Santri Nasional, delapan minggu setelah Indonesia merdeka, terjadi perang di Surabaya. Untuk memobilisasi dukungan umat Islam, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa untuk tetap mempertahankan NKRI. 

"Pertama, Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong.  Ketiga, musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan Sekutu (Inggris) pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia.  Keempat, umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutu yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kelima, kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal di radius 94 kilometer," beber dia.

Tidak hanya dalam bentuk lagu, KH. Abdul Wahab Chasbullah juga mendirikan sekolah Islam bernama Nahdlatul Wathan untuk membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam. Nahdlatul Wathan menjadi kawah candradimuka yang menggembleng pemuda Islam untuk belajar dan menggelorakan cinta tanah air dalam melawan penjajah. 

"Gagasan Hubbul Wathan Minal Iman tidak bisa terlepas dari peran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Chasbullah yang dikonsep dari spirit Islam dan kebangsaan. Dirumuskan dengan Bahasa Arab, tujuannya agar Belanda tidak mengetahui maknanya. Sebab, jika tahu maknanya, maka Belanda akan melawan kaum pesantren saat itu," lanjut dia.

Untuk menggerakan spirit nasionalisme, kata dia, Syubbanul Wathan sebagai sayap Nahdlatul Wathan mendirikan sayap di sejumlah daerah. Seperti Madrasah Akhul Wathan (saudara setanah air) di Semarang, Farul Wathan (cabang tanah air) di Gresik dan Malang, Hidayatul Wathan (petunjuk tanah air) di Jombang dan Jagalan, Ahlul Wathan (warga tanah air) di Wonokromo dan Khitabul Wathan di Pacarkeling.

Ia juga menjelaskan penerapan Hubbul Wathan Minal Iman dalam pendidikan Islam yang bisa diterapkan melalui Pancasila, mapel Kewarganegaraan, PKn dan semua materi. "Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), ada 17 karakter yang dikuatkan. Nah, ada dua karakter yang senafas dengan Hubbul Wathan Minal Iman, yaitu semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Di sinilah yang harus dipahami bersama untuk mengimplementasikan Hubbul Wathan Minal Iman secara sederhana," papar dia.

Karakter nasionalisme dan Hubbul Wathan Minal Iman yang didesain melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), lanjut dia, harus dimaksimalkan lembaga pendidikan Islam untuk mencetak generasi yang setia kepada Indonesia. "Hal itu menjadi cara strategis untuk menghalau lahirnya generasi antinasionalisme, faham dan aliran radikal yang mengancam keutuhan Indonesia. Nasionalisme memang bukan segalanya, namun keutuhan negara yang di dalamnya ada suku, bahasa, budaya dan agama berawal dari sana. Tanpa nasionalisme, Indonesia akan mudah dijajah dan dihancurkan," tutur dia.

Sementara itu, Rhindra Puspitasari pemateri kedua yang juga dosen PIAUD STAINU Temanggung, membeberkan bahwa urgensi menerapkan Pancasila dalam PAUD atau TK sangat mendesak. Sebab, saat ini banyak pengaruh negatif, degradasi nilai dan moral anak, penyalahgunaan narkoba seks bebas dan lainnya.

"Di dalam Pancasila itu banyak karakter kebangsaan. Maka kita harus #MENEMPATKAN Pancasila sebagai dasar negara, menjadikan  bangsa Indonesia sudah menetapkan fondasi bagi setiap konten aspek kehidupan berbangsa dan bernegara," beber dia yang membawakan materi dengan artikel bertajuk "Eksistensi Pancasila dalam Pendidikan Karakter Kebangsaan Melalui  Good Citizen Diary Activity Anak Salih (GCDA2S) Untuk Anak Usia Dini".

Dari desain penelitian yang ia gagasa itu, ada beberapa hal yang dikonsep. Pertama adalah pembentukan karakter kebangsaan sebagai perwujudan dari eksistensi Pancasila melalui good citizen daity activity anak salih.

"Kedua, nilai-nilai Pancasila mampu menjadi jangkar transedental dalam pembentukan karakter kebangsaan, sedangkan good citizen dairy acivity anak salih dapat menjadi salah satu media pembiasaan anak usia dini dalam melakukan pembiasaan disiplin sholat dan pembiasaan lain yang positif," beber dia. 

Dan ketiga, lanjut dia, salah satu kunci dari keberhasilan membentuk karakter kebangsaan pada anak usia dini adalah konsistensi, keteladanan dan ketelatenan orang tua maupun pendidik dalam menerapkan pembiasaan disiplin sholat pada anak dan pembiasaan lain yang positif.

"Itu semua harus dilaksanakan melalui penerapan dan penguatan nilai-nilai Pancasila di dalam pendidikan, khususnya PAUD atau TK," papar dia dalam seminar yang dihadiri pejabat dan semua dosen STAINU Temanggung itu. (Dloli/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sejumlah pendekar putra dan putri berbaris di arena bebas, tepat di hadapan Ketua Umum PBNU, Ketua Umum Pencak Silat Pagar Nusa, para tokoh masyarakat, polisi, tentara dan para pejabat yang hadir. Dipimpin seorang pelatih mereka mulai mengucapkan salam ala pendekar, lalu mereka memasang kuda-kuda.

Diiringi suara gamelan dan kendang, satu persatu mereka mulai beraksi. Ada yang memperagakan jurus-jurus tangan kosong yang indah, bahkan mereka seperti menari. Mereka memukul, menendang, melompat dan bersalto. Ada yang beraksi dengan senjata. Lalu mereka saling serang dan bertarung. Suara gamelan dan kendang bertalu-talu.

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Seragam Hitam Kami Bukan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Seragam Hitam Kami Bukan ISIS

Adegan itu sekaligus menandai dimulainya pembkaan resmi Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat NU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Az Zuhri Semarang, Jum’at (27/3) siang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Para pimpinan Pencak Silat Pagar Nusa dari seluruh Indonesia duduk berjajar memutari gelanggang. Sementara ratusan pendekar berseragam hitam putra dan putri duduk bersila di barisan bagian belakang.

“Seragam kami memang hitam. Tapi hitam kami berbeda dengan yang ada di televisi itu,” kata Pengasuh Pesantren Az Zuhri yang juga Pengurus Pusat Pagar Nusa KH Lukman Hakim saat menyampaikan kata sambutan di hadapan para pejabat Polres dan Kodim.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kami berpakaian hitam. Tapi hitam kami tidak memakai penutup. Kami ini memang ISIS tetapi ISIS kami adalah istri sholihah idaman suami,” katanya disambut tawa hadirin. “Kami berjenggot, tapi jenggot kami berbeda,” kata Kiai berambut gondrong itu.

Rapimnas Pencak Silat NU Pagar Nusa dilaksanakan sejak Kamis (26/3) kemarin yang diisi dengan halaqah-halaqah, pertemuan majelis pendekar, dan pelatihan pasukan inti. Rapimnas akan ditutup dengan Apel Kesetiaan pada Pancasila dan NKRI di lapangan Simpang Lima Semarang, Ahad (29/3) pagi, yang akan diikuti sekitar lima ribu pendekar Pagar Nusa. (A. Khoirul Anam)

?

Ilustrasi: Para pendekar Pagar Nusa beraksi di Gelora Senayan Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Sunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidup dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ?. ? ? ? ? ? ?..? ?

?

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)
Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu? menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Abdul Wahhab As-Sya’roni menjabarkan berbagai tingkatan taubat. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan bertobat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini aalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Dan puncak taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya waluapun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Demikianlah tiga tingkatan taubat yang dijabarkan oleh As-Sya’roni. Selanjutnya tinggal kita meraba diri masing-masing dimanakan posisi kita berada dalam tiga tingkatan taubat tersebut. Andaikata kita masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah kita pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila kita telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 112

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.

? ? ? ? ? ?

Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. ?

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah

Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia

Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.

Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Jama’ah Jum’ah yang Mulia

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

(Pen/Red Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Pondok Pesantren, Hadits Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU

Pringsewu, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Radio Suara Aswaja yang digagas oleh Lajnah Talif wan Nasyr Kabupaten Pringsewu, Lampung, dapat menjadi sarana transformasi informasi warga Pringsewu khususnya warga nahdliyyin.

Mantan Ketua PWNU Lampung KH DR Khairuddin Tahmid mengatakan, kegiatan yang dilakukan NU sebenarnya sangatlah banyak dan besar namun dikarenakan kurangnya publikasi maka masyarakat umum tidak mengetahuinya. 

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Suara Aswaja Jadi Sarana Publikasi NU

"Sementara yang lain kegiatan kecil dan cuma beberapa orang karena diekspos di media secara terus-menerus maka terlihat besar dan terkenal," katanya dalam diskusi ke-NU-an yang digelar di Kantor LTN NU Pringsewu, Senin (4/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

KH Khaeruddin Tahmid yang juga dosen di IAIN raden Intan Lampung mengharapkan Radio Suara Aswaja nantinya dapat mengemas acara acara yang informatif dan edukatif. 

Ditambahkan, kemasan program siar Radio Suara Aswaja haruslah memberi penyejukan dan pencerahan kepada masyarakat dan bukan untuk mengkounter ajaran lain apalagi menyalahkan dan memojokkan pemahaman lain seperti yang sudah mulai muncul akhir-akhir ini. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Redaktur     : A. Koirul Anam 

Kontributor : Fara Fatiha

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Pendidikan, Daerah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang

Semarang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebanyak 160 pesantren yang memiliki sekolah menengah kejuruan (SMK) dilibatkan dalam program penanaman padi dengan metode modern berpola agrobisnis yang dicanangkan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan? (IKIP) Veteran atau biasa disingkat Ivet Semarang.

Menurut Rektor Ivet Semarang Dr Bambang Triono, program penanaman padi yang dikerjakan bersama para santri tersebut merupakan perwujudan identitas Ivet Semarang sebagai Teacerpreneur Campus.

160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

160 SMK Pesantren Aktif Program Agrobisnis Ivet Semarang

"Pesantren itu pasti membekali santrinya dengan jiwa wirausaha. Ini kami jodohkan dengan tagline kami sebagai Teacerpreneur Campus. Maka kami gandeng SMK berbasis pesantren dalam program agrobisnis ini," terangnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Bambang mengungkapkan hal itu dalam acara Seminar Entrepreneur dan Soft? Launching Dies Natalis Ivet Semarang di auditorium? kampus setempat di Jalan Pawiyatan Luhur Semarang, Jawa Tengah, Selasa (23/2/2016).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Entrepreneur College Jakarta Drs A Khairussalim lkhs selaku pemimpin program agrobisnis tersebut melanjutkan, saat ini telah dilakukan penanaman padi metode modern agrobisnis di lahan seluas 7 hektare. Semua tanah itu dipinjam atau disewa dari pesantren atau pengasuhnya.

Ia menyebutkan, bagus sekali respon para kiai maupun lembaga pondok pesantren atas programnya tersebut. Kesamaan tekad membangun kemandirian dan mendidik mental wirausaha, membuat pihaknya banyak ditawari lahan pertanian untuk diikutkan dalam program penanaman modern tersebut.

"Program agrobisnis kami ini, menanam dengan pola modern, nantinya hasil panennya bisa lima kali lipat daripada model lama, dan kami ingin menguasai bisnis beras organik setidaknya di Jawa Tengah. Prospeknya sangat bagus," bebernya. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Tegal, Hikmah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto menyatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah aliran atau mazhab baru. Ia mengatkaan hal itu pada “Ngaji Sejarah” sesi tiga pdaa peringatan Harlah NU ke-91 di gedung PBNU, Selasa (31/1).

Kiai Agus mengatakan hal itu karena ada beberapa kalangan beranggapan bahwa Islam Nusantara merupakan ikon Islam-nya NU dan orang Jawa.?

Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Tak Hanya Milik NU dan Jawa

"Tidak benar jika Islam Nusantara hanya milik NU dan Jawa. NU adalah kelanjutan Wali Songo. Tokoh-tokoh Wali Songo banyak yang berasal dari Pasai, Aceh. Sosok Wali Songo mewakili Nusantara karena berasal dari berbagai daerah. Sunan Ampel dari Champa, Vietnam. Hanya saja, beliau dimakamkan di Jawa. Cuma yang memperkuat tradisi Wali Songo ya di Jawa," jelasnya.

Islam Nusantara, lanjutnya, sebagai pembendung arus globalisasi yang mengalir deras. Salah satunya dengan memperkokoh tradisi Nusantara seperti kenduri, slametan dan lain-lain.

“Globalisasi telah menggerus budaya, etnis dan agama,” kata penulis “Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mencontohkan saat ini nama anak-anak desa berubah dari generasi sebelum. Har ini mereka menggunakan nama tidak dari kebudayaannya sendiri, tap dari luar. Orang Jawa misalnya, tidak lagi mencerminkan kejawaannya.?

“Di sinilah, Islam Nusantara diposisikan ? sebagai proyek bersama untuk menghadapi dunia global,” pungkasnya. (Nor Elysa Rahmawati/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Makam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Asrul Sani Pelopor Seni Budaya Nasional

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pergolakan seni dan budaya kental dengan kehidupan Asrul Sani. Lekra yang bertendensi pada realisme sosial dan Manikebo yang cenderung pada humanisme liberal membuat Asrul Sani gelisah akan seni dan budaya negerinya sendiri. Dia memandang bahwa seni budaya nasional Indonesia bernilai jauh lebih tinggi dibanding dengan dua paradigma Barat tersebut.

Demikian ditegaskan sejarawan Agus Sunyoto di Kantor Redaksi Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kamis, (27/3) di sela-sela persiapan penobatannya sebagai penulis kreatif pada anugerah Hadiah Asrul Sani (HAS).

Asrul Sani Pelopor Seni Budaya Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Asrul Sani Pelopor Seni Budaya Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Asrul Sani Pelopor Seni Budaya Nasional

“Karena itu, Asrul Sani bersama Jamaludin Malik dan Usmar Ismail mendirikan Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia) agar seni dan budaya nasional lebih terangkat,” jelas Penulis buku Atlas Wali Songo ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lebih jauh, dia menuturkan bahwa di tahun 1950 an seni dalam aspek perfilman dikuasai oleh film Amerika saat itu, nyaris tidak ada film nasional. Setelah Asrul Sani dan kawan-kawan muncul dan merespon, munculah film-film nasional yang menggusur dominasi film Amerika.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Film nasional menjadi primadona saat itu,” kata Agus. Dia juga menjelaskan bahwa kegigihan Asrul Sani dalam membendung arus kesenian Lekra dan kesenian sastra Manikebo yang jauh dari rasa nasionalisme harus dapat diteladani dan dibedah lebih jauh.

“Sebetulnya ini tugas Lesbumi agar sosok dan karakter seni serta budaya dari seorang Asrul Sani lebih dikenal lagi oleh generasi sekarang,” tegasnya.

“Dia tidak terpengaruh oleh budaya orang-orang di sekelilingnya yang lebih cenderung sosialis dan liberalis, berangkat dari nasionalismenya itulah lahir Lesbumi,” pungkasnya.

Bersama Usep Romli HM, Tatiek Maliyati, H Chisni, dan H Muammar ZA, Agus Sunyoto akan menerima anugerah Hadiah Asrul Sani (HAS) dalam gelaran Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari, Jumat (28/3), di Aula PBNU Jakarta pukul 19.30. (Fathoni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Khutbah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Para Kiai itu Baca Puisi

Yogyakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Para kiai membaca puisi pada “bedah buku dan pentas seni dan budaya” PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta di aula PWNU Jl. MT Haryono, Selasa malam (14/05). Para kiai itu adalah Mustasyar PWNU KH Munawwir AF dan Wakil Sekretaris PWNU DIY H. Masyhuri.

Para Kiai itu Baca Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai itu Baca Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai itu Baca Puisi

KH Munawwir AF membacakan puisi berjudul Laporanku kepada Mbah Hasyim. Puisi tersebut menceritakan? amanah yang diemban sebagai penerus perjuangan Hadrotuys Syekh KH Hasyim Asyari, pendiri NU; juga kepada ajaran Ahlussunah wal-Jamaah (Aswaja). H. Masyhuri membacakan puisi berjudul Kita adalah Satu.

Aula PWNU riuh rendah dengan pembacaan puisi-puisi. Para peserta antusias mendengarkannya, lantaran puisi tersebut bukanlah sembarang puisi, karena didedikasikan kepada sang maha guru, KH Hasyim Asy’ari. Seorang ulama pendiri NU, sekaligus pahlawan kemerdekaan Negara Indonesia.

?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kemudian puisi berjudul Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana dibacakan Taufiqurrahman, salah satu perawakilan dari PCNU DIY:

“Ku pergi tahlil kau bilang amalan jahil

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Aku baca shalawat burdah kau bilang itu bid’ah

Lalu aku harus bagaimana?......

Aku bertawasul dengan baik kau bilang aku musyrik

Aku ikut majlis dzikir kau bilang aku kafir

Lalu aku harus bagaimana?....

Aku shalat pakai niat kau bilang aku sesat

Aku mengadakan maulid kau bilang gak ada dalil yang valid

Lalu aku harus bagaimana?....”

Selain Taufiqurrahman, para anak muda NU juga tak mau kalah. Mereka ikut membaca puisi, yakni Sundari, aktivis Mata Pena. Juga Ahmad Muhlis Amrin, sastrawan muda NU berbakat.

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Nahdlatul Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

LFNU Jombang Cetak Kader Falakiyah di Setiap Kecamatan

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Pengurus Cabang (PC) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jombang kembali gelar pelatihan kaderisasi hisab dan rukyat, Ahad (19/11) di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang digelar sebelumnya pada periode I tahap I.

Ketua LFNU Jombang Mujazun mengatakan, ia dan segenap pengurus harian LFNU Jombang yang lain berkomitmen mencetak kader-kader falakiyah secara merata. Ini dapat dilihat dari delegasi peserta kegiatan yang berasal dari lintas pengurus NU, mulai dari tingkat IPNU-IPPNU, santri dan perwakilan dari MWCNU se-Jombang.

LFNU Jombang Cetak Kader Falakiyah di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Jombang Cetak Kader Falakiyah di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Jombang Cetak Kader Falakiyah di Setiap Kecamatan

"Dalam kegiatan kaderisasi hisab dan rukyat di Pesantren Mambaul Maarif Denanyar diikuti kurang lebih 80 peserta. Mereka terdiri atas IPNU-IPPNU, para santri dan perwakilan MWCNU se-Kabupaten Jombang," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam pelatihan yang bekerja sama dengan pihak Pesantren Mambaul Maarif ini, Mujazun mengatakan bahwa para peserta disuguhi beberapa materi, yaitu hisab awal waktu shalat, hisab awal bulan hijriyah dengan sistem ephemeris, praktik ngukur arah kiblat dan teknik rukyatul hilal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Materi-materi tersebut akan mendorong mereka dalam mencetak kader falakiyah ke depan," kata Mujazun.

Tak hanya itu, setelah pelatihan selesai, acara dilanjutkan dengan rukyatul hilal tanggal 1 Rabiul Awwal 1439 di Markaz Rukyah Lantai III Masjid Jami Denanyar Jombang. Para peserta tampak semangat dalam kegiatan praktik ini.

"Semangat para peserta dalam mengikuti kegiatan ini sangat kami apresiasi meskipun mulai pagi hingga petang hari para peserta tetap semangat dalam mengikuti tahapan-tahapan kaderisasi priode I tahap dua ini," tuturnya.

Mujazun mengatakan, kegiatan serupa sebagai tindak lanjut dari pelatihan kaderisasi priode I tahap dua ini akan kembali digelar pada Desember 2017 mendatang. Rencananya LFNU akan bekerja sama dengan pengurus MWCNU Kecamatan Ploso, Jombang.

"Mohon dukungannya, semoga misi kita membentuk dan menyiapkan kader falakiyah, khususnya di tingkat MWCNU bisa berjalan dengan baik dan bisa istiqamah," ucapanya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Lomba, Syariah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Kang Said: Harus Berkorban Untuk Islam-Negara

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj berpesan agar masyarakat siap berkorban untuk keluhuran Islam dan Negara. “Makna Idul Adha adalah siap berkorban untuk izzil Islam wal wathan  yaitukeluhuran Islam dan Negara,” tegas Kang Said pada Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Selasa, 16 November 2010.

Berkorban untuk Islam adalah dengan memlihara dan menyampaikan Islam dengan moderat dan toleran. “Para wali sudah menyontohkan kesantunan dalam dakwah dan itulah yang mestinya kita jaga bersama,”katanya.

Kang Said: Harus Berkorban Untuk Islam-Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Harus Berkorban Untuk Islam-Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Harus Berkorban Untuk Islam-Negara

Sedangkan perjuangan atau berkorban untuk Negara adalah bagian penting dari makna Idul Adha. “Tentunya kita ingat bagaimana para pendahulu NU berjuang untuk Negara. Sehingga Mbah Hasyim saat itu mengeluarkan Resolusi Jihad. Nah sekarang kita harus melanjutkannya dengan menjaga Pancasila dan NKRI. Itu merupakan makna lain dari Idul Adha kali ini,”tambah Kang Said.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saat ini banyak bencana yang masih melanda Indonesia, seperti banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, dan letusan Gunung Merapi. Kang Said berpesan agar masyarakat tetap tenang dan sabar dalam menyikapi situasi saat ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Pada hari raya kurban ini saya berpesan agar masyarakat tenang dan sabar dalam menghadapi segala kondisi. Kita ini bangsa yang kuat. Kalau ada saudara kita yang sedang tertimpa musibah, kita harus bahu-membahu membantu mereka,” papar Kang Said.

Mengenai perbedaan hari raya Idul Adha yang terjadi pada tahun ini, Kang Said berpesan agar masalah ini tidak perlu diperdebatkan. “Kita (NU, red) berpedoman pada hadis. Dalam hadis itu sudah jelas disampaikan bahwa rukyah dasar untuk menentukan awal bulan Hijriah. Jika ada perbedaan, mari kita hormati perbedaan itu,” ajak Kang Said. (bil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi

Solo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor Solo mengikuti acara pendidikan etika demokrasi yang diadakan Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Provinsi Jawa Tengah, Selasa (29/1) malam, di Hotel Dana Surakarta.?

GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Solo Ikuti Pendidikan Demokrasi

Kegiatan tersebut juga diikuti bersama sejumlah mahasiswa di Solo dan dari komunitas FORPLAS (Forum Pemuda Lintas Agama Surakarta).

Kegiatan yang mengambil tema “Tantangan Membangun Etika Politik Dan Budaya Demokrasi Di Tahun 2013” tersebut menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya adalah Joko J. Prihatmoko dan Teguh Yuwono. Keduanya merupakan akademisi dari Semarang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Joko mengatakan perlunya etika dalam politik dan berdemokrasi, “Yunani merupakan asalnya demokrasi. Di sana demokrasi telah membudaya, tetapi karena tak didukung akhlak tetap saja akhirnya negara mengalami krisis. Jadi berdemokrasi saja tak cukup,” kata dosen Universitas Wahid Hasyim Tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Untuk itu peran negara (kebijakan) sangat diperlukan dalam pembentukan etika ini. Negara mesti hadir pada saat dibutuhkan,” lanjutnya.

Sedangkan pembicara lain, Teguh Yuwono, Dosen UNDIP Semarang mengatakan, “etika politik merupakan cerminan dari etika masyarakat,”

“Etika bukan benar atau salah, tetapi baik atau buruk. Ini yang harus dibangun dalam sistem sosial,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ansor Solo juga menggunakannya untuk mengadakan konsolidasi program bersama FORPLAS.

“Rencananya kita akan melakukan reorganisasi pada tubuh FORPLAS,” kata Muhammad Anwar, Ketua Ansor Solo.

Keikutan Ansor Solo bersama dengan FORPLAS merupakan salah satu wujud komitmen Ansor dalam menjaga kebhinekaan, khususnya untuk kalangan pemuda di Solo.

?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Perundingan Penjajakan MILF diadakan di Malaysia

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan pemerintah Filipina akan mengadakan perundingan penjajakan pada hari Jumat besok (9/5) bertempat di Malaysia. Perundingan ini merupakan perundingan kedua yang diadakan di sana pada tahun 2001. Diharapkan perundingan ini dapat menumbuhkan kepercayaan antar kedua belah pihak.

"Pada akhirnya, satu perjanjian menyeluruh dapat ditandatangani antara kedua pihak," kata kata Menteri Pertahahan Malaysia Najib Tun Abdul Razak, Minggu.
kepada wartawan di Kota Kinibalu sehingga dapat diciptakan perdamaian yang abadi antar kedua belah pihak.

Namun demikian, ditengah upaya perundingan ini, pasukan Filipina melakukan serbuan ke markas gerilyawan setelah kelompok ini melakukan serangan yang mengakibatkan 25 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

MILF yang berkekuatan 12.500 orang merupakan kelompok gerilyawan Muslim terbesar yang berjuang di Filipina Selatan. Mereka melancarkan serangan ke Siocon, Minggu, menyandera sejumlah anggota militer dan 15 warga sipil sebagai "Tameng hidup", termasuk istri dan putra walikota Siacon.

Pihak gerilyawan  akhirnya membebaskan sandera setelah mereka melarikan diri. Juru bicara MILF, Eid Kabalu, Senin, mengatakan bahwa serangan itu dirancang untuk melumpuhkan markas besar militer di wilayah itu dan tidak untuk melukai warga sipil.

"Terdapat korban warga sipil karena pertempuran meluas ke wilayah lainnya di kota itu," katanya melalui telapon kepada AFP dari kediamannya di Filipina selatan.

Serangan pada hari Minggu itu juga merupakan aksi balas dendam atas suatu serangan militer pada Februari lalu yang menyebabkan hancurnya suatu kamp penting MILF di komplek Buliok di Filipina(kcm/rep/md/mkf).


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ulama, PonPes, AlaNu Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Perundingan Penjajakan MILF diadakan di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Perundingan Penjajakan MILF diadakan di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Perundingan Penjajakan MILF diadakan di Malaysia

Selasa, 12 Desember 2017

Ribuan Pelayat Antarkan Kiai Ali As’ad ke Peristirahatan Terakhir

Yogyakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sejak Kiai Ali As’ad dikabarkan wafat pada hari Rabu (03/02) sekitar pukul 14.30 WIB, kediamannya tidak pernah sepi dari para peziarah. Mereka berduyun-duyun datang memberikan penghormatan terakhir terhadap kiai yang dikenal sebagai santri kesayangannya Kiai Ali Maksum tersebut. Hingga hari pemakamannya, pada Kamis (04/02), para peziarah seolah tak ada habisnya, ribuan pelayat datang, mulai dari para kiai, santri, pejabat dan masyarakat berbaur menjadi satu di halaman Pesantren Nailul Ula yang ia dirikan.

Ribuan Pelayat Antarkan Kiai Ali As’ad ke Peristirahatan Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Pelayat Antarkan Kiai Ali As’ad ke Peristirahatan Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Pelayat Antarkan Kiai Ali As’ad ke Peristirahatan Terakhir

Hadir dalam acara pemakaman tersebut, Rais Syuriyah PWNU DIY KH Asy’ari Abta, Katib Syuriah PWNU DIY KH. Hasan Abdullah, Mustasyar PWNU DIY Prof. Asif Hadi Pranata, Rais Syuriah PCNU Sleman KH. Mas’ud Masduqi, Pengasuh Pesantren al-Munawwir Krapyak KH Najib Abdul Qadir, Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat KH Abdul Muhaimin, Ketua MUI DIY KH Thoha Abdurrahman, Katib Aam PBNU Periode 2010-2015 KH Malik Madani, ? Bupati Sleman Sri Purnomo dan beberapa pengurus wilayah NU DIY lainnya.?

Sebagai wakil keluarga sekaligus teman seperjuangan ketika nyantri di Pesantren Krapyak, KH Abdul Muhaimin dalam sambutannya mengatakan bahwa Kiai Ali adalah kiai yang alim dan perjuangannya untuk umat tak diragukan lagi,

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Sejak nderek Kiai Ali Maksum hingga saat ini, perjuangan Kiai Ali As’ad tidak diragukan lagi. Beliau selalu menjadi rujukan umat,” ujar KH. Muhaimin di hadapan ribuan pelayat.?

Dalam kesempatan tersebut, KH Muhaimin juga menyampaikan wasiat KH Ali As’ad.

“Sebelum wafat, KH Ali As’ad berwasiat agar para putra-putri beliau melanjutkan perjuangannya, merawat Pondok Pesantren Nailul Ula dan meneruskan majelis-majelis taklim yang sudah berjalan,” tandasnya.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Rais Syuriyah PWNU DIY KH Asy’ari Abta ketika menyampaikan mauidhoh hasanahnya mengungkapkan bahwa meninggalnya KH Ali As’ad merupakan peristiwa besar.

“Meninggalnya orang satu kampung itu ringan dibandingkan dengan meninggalnya orang alim satu, seperti KH Ali As’ad ini,” tegasnya.?

KH Ali As’ad wafat dalam usia 64 tahun. Ia meninggalkan seorang istri (RR Nuroniah), empat orang putra (Chalwa Anjumi Tanawwar, Miqdam Raidal Haq, Rajif Dienal Maula, Amyaz bil Aufaq) dan 3 orang cucu. Semasa hidupnya ia banyak menerjemahkan beberapa kitab. Ia juga salah satu kiai yang merintis berdirinya Majalah Bangkit PWNU DIY dan menjadi pimpinan redaksi yang pertama kali di bawah bimbingan langsung KH Ali Maksum. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Humor Islam, Pemurnian Aqidah, AlaNu Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Ketua Baru Tegaskan Nilai Aswaja PMII Solo

Solo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Peserta Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXXVIII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Surakarta mempercayai kandidat yang diusung Komisariat Kentingan UNS, Ahmad Rodif Hafidz sebagai ketua.

Ketua Baru Tegaskan Nilai Aswaja PMII Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru Tegaskan Nilai Aswaja PMII Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru Tegaskan Nilai Aswaja PMII Solo

Ketua terpilih pada Konfercab yang berlangsung Gedung NU Center Boyolali Sabtu-Senin (13-15/9) menyatakan vis dan misinya.

Menurut dia, kepemimpinannya akan melakukan penguatan kaderisasi dan penyeimbangan spiritualitas, gerak, dan wacana untuk mendorong PMII Cabang Kota Surakarta sebagai pilar teladan bagi organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan di lingkup kota dalam nilai serta dinamika bernapaskan Aswaja.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lewat visi yang diterjemahkan ke dalam 10 misinya itu, Rodif menegaskan agar ke depan PMII Kota Solo harus kembali mengedepankan nilai-nilai keaswajaan yang menjadi ciri dari PMII.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Belakangan PMII sering disebut sebagai anak haramnya NU, kelompok liberal, dan lupa dengan tradisi keislaman Nusantara. Sekarang harus ditunjukkan kembali bahwa PMII adalah ujung tombak dakwah Aswaja di kampus dan kaum muda,” ujarnya.

Ketua demisioner, Zainal Airifin menitipkan kepada ketua umum terpilih agar bisa membawa perubahan bagi PMII Kota Solo menjadi lebih baik.

Konfercab tersebut diikuti peserta dari tiga komisariat, yakni Komisariat Dr Wahidin UNU, Kentingan UNS, dan Pabelan UMS. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kyai, AlaNu Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 29 November 2017

Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Akhiri Tadarus Bersama Para Muallaf

Jember, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Suara nyaring pembacaan surat-surat ? terakhir Al-Qur;an, terdengar dari Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Jember, Selasa (20/6) malam. Bacaannnya memang tiak merdu terdengar datar dan tidak ada cengkok ? lagu tadarus sama sekali. Bahkan sesekali lidah si pembaca terdengar keseleo dan macet sebentar lalu diteruskan lagi hingga selasai surat itu dibaca.?

Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Akhiri Tadarus Bersama Para Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Akhiri Tadarus Bersama Para Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Akhiri Tadarus Bersama Para Muallaf

Itulah suasana khataman Al-Qur’an di Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Jember, saat tadarus Al-Qur’an yang dilakukan warga keturunan yang baru masuk Islam (muallaf).

Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Jember selama Ramadhan2017 ? ini memang menggelar tadarus Al-Qur’an dengan peserta sebagian banyak para muallaf. Dan Ramadhan kali ini mereka sudah khatam tiga kali.?

"Mereka ada yang baru satu tahun menjadi muallaf, namun karena rajin belajar, akhirnya bisa membaca Al-Qur’an," beber pembina keagamaan Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Jember, H Muhammad Muslim, kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Muslim, kegiatan di masjid yang diketuai (takmir) H Muhammad Law Shong Tjai, itu cukup hidup, baik di luar bulan Ramadan, lebih-lebih saat bulan Ramadan.?

Selain tadarus, selama Ramadan, Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Jember ? menyelenggarakan shalat taraweh 20 rakaat, peringatan ? Nuzulul Quran dan memberikan ? santunan terhadap 450 anak yatim dan warga kurang mampu.

” Semua pendanaan kegiatan di masjid yang terletak di Jalan Hayam ? Wuruk itu diperoleh dari iuran para simpatisan dan anggota PITI Jember,”tandasnya. ? (Aryudi A. Razaq / Muslim Abdurrahman).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, AlaNu Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 27 November 2017

Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam

Selain menunaikan rukun, seorang jamaah haji perlu memerhatikan juga tentang Wajib Haji. Dalam masalah haji, penting untuk membedakan istilah rukun dan wajib haji. Keduanya adalah perkara yang harus dilaksanakan, tetapi ada perbedaan di antara keduanya.

Pada rukun haji, ketika seseorang tidak melaksanakannya, maka hajinya batal dan harus diulang. Sedangkan pada wajib haji, orang yang tidak melaksanakannya bisa menggantinya dengan membayar dam.

Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam

Berdasarkan kitab Al-Fiqhul Manhaji lil Imam As-Syafi’i, wajib haji mencakup lima hal berikut.

1. Memulai Ihram dari Miqat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Seseorang yang memulai haji akan melaksanakan ihram, dengan berniat, lalu mengenakan pakaian ihram. Amaliyah ihram ini harus dilakukan di miqat yang telah ditetapkan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Miqat dibagi menjadi dua, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani ini adalah waktu bagi seorang jamaah haji untuk memulai ihram, mulai bulan Syawwal sampai bulan Dzulhijjah. Kemudian, selain memerhatikan waktunya, penting diketahui untuk miqat makani adalah lokasi tempat dimulainya ihram. Lokasi miqat makani ini berbeda-beda berdasarkan daerah masing-masing, dan disebutkan tiap-tiap patokannya dalam berbagai kitab fikih.

2. Menginap (Mabit) di Muzdalifah

Kegiatan ini dilakukan seusai ritual wukuf di Arafah, tepatnya saat terbenamnya matahari. Muzdalifah ini adalah lokasi di antara Arafah dan Mina. Hendaknya menginap di sana sekiranya sebagian malam saja, tidak wajib sampai Subuh esok hari tiba.

3. Melempar Jumrah

Setelah menginap di Muzdalifah seorang jamaah haji menuju tempat-tempat jumrah, dan melempar masing-masing tujuh kerikil. Waktunya merentang sejak tengah malam Idul Adha sampai waktu maghrib. Jumrah sendiri ada tiga macam: Jumrah ula, jumrah wustha dan jumrah aqabah.

4. Menginap di Mina pada dua malam hari Tasyriq

Setelah ritual melempar jumrah, jamaah haji menuju Mina dan menginap di sana pada hari Tasyriq. Menginap ini diartikan untuk bermalam pada sebagian besar waktu pada dua hari Tasyriq di Mina itu.

5. Thawaf wada’

Thawaf ini dilakukan setelah menunaikan semua amalan haji, dan hendak keluar dari Mekkah.

Jika wajib haji itu tidak dilaksanakan, maka orang tersebut wajib membayar dam. Dam dalam kitab Matan Taqrib karya Syekh Abu Syuja’ terbagi atas beberapa kriteria, sesuai dengan larangan haji yang dilaksanakan atau kewajiban haji yang ditinggalkan. Kriteria dam untuk orang yang meninggalkan wajib haji dalam Matan Taqrib adalah sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dam wajib disebabkan meninggalkan ibadah (dalam hal ini wajib haji) dipilih secara berurutan (sesuai kondisi). Yang pertama, dengan seekor kambing. Jika tidak ada kambing, maka ditunaikan dengan berpuasa sepuluh hari. Tiga hari ketika berada di Mekkah, dan tujuh hari ketika kembali ke kampung halaman.”

Dengan demikian, wajib haji kiranya perlu diperhatikan agar ibadah haji menjadi lebih sempurna dilaksanakan. Semoga jamaah haji sekalian menjadi haji yang mabrur dan diterima Allah. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 21 November 2017

Sugianto Terpilih Pimpin GP Ansor Prajekan

Bondowoso, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda(GP) Ansor Prajekan menggelar Konferensi Pimpinan Anak Cabang (Konferencab) di Musholla Nurut Taqwa Jl. Jembatan Merah Krajan Tiga Desa Cangkring Kecamatan Prajekan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, pada Jumat (18/9).

Kegiatan yang dibuka Kepala Desa Cangring, Artawi tersebut diikuti sembilan Ranting, yaitu dari Desa Taman Arum, Kedawung, Sempol,Tarum, Prajekan Lor, Prajekan Kidul, Walidono, dan Cangkring.

Sugianto Terpilih Pimpin GP Ansor Prajekan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sugianto Terpilih Pimpin GP Ansor Prajekan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sugianto Terpilih Pimpin GP Ansor Prajekan

Ketua PAC GP Ansor demisioner, Ernanto menjelaskan, selama kepengurusannya, ia telah berupaya mengaktifkan pertemuan tiap minggu yang dikemas dalam rutinan Shalawat Nariyah. Serta mengadopsi kegiatan-kegiatan di Pimpinan Cabang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk bergerak lebih jauh, ia mengaku terkendala dalam ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Namun demikian, bersama pengurus-pengurus lain, ia sudah berusaha semaksimal untuk memajukan Ansor.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Muzammil dalam sambutanya berpesan supaya kader Ansor terus berkarya, berkhidmat kepada NU supaya perjuangan bisa dinikmati, dimanfaatkan oleh warga nahdiyin.

Pada pemilihan ketua, peserta Konferencab kader dari Desa Prajekan, Sugianto dipilih 7 suara, Ernanto 1 suara, dan Sugeng 1 suara.

Sugianto berharap selama dua tahun ke depan untuk bersama-sama membuat program dan melaksanakan secara bersama-sama pula. “Nanti saya tidak akan banyak membuat program. Karena terlalu banyak, nantinya tidak berjalan," katanya.

Kepada ketua terpilih, Ernanto berpesan supaya program-program di masa kepemimpinannya diteruskan. Ia berharap generasi Ansor makin semangat agar ke depan lebih baik. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Ahlussunnah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock