Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Hijrah: Sebuah Renungan

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Imam al-Ghazali (1058-1111 M) dalam pendahuluan Tahâfut al-Falâsifah(Inkoherensi Para Filosof) mengutip perkataan Aristoteles (384-322 SM): “Aflathon shadîq wa al-haq shadîq, wa lakin al-haq ashdaqu minhu—Plato sangat berharga, kebenaran pun sangat berharga, tapi kebenaran jauh lebih berharga dari Plato.” (Abû Hâmid al-Ghazali, Tahâful al-Falâsifah, Kairo: Darul Ma’arif, 1972, hlm 76).

Sepanjang tahun pernahkan kita mengingat dosa-dosa kita, menyesalinya dan bersungguh-sungguh memohon ampunanNya? Sepanjang tahun pernahkan kita menyadari kenikmatan hidup kita, mensyukurinya dan berserah diri kepadaNya? Kita perlu melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kehadiran Sang Nabi yang membawa cahaya—min al-dhulumât ilâ al-nûr—benar-benar telah merubah diri kita yang dipenuhi kegelapan menjadi bercahaya. Jika belum, inilah saatnya, hijrah.

Hijrah: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hijrah: Sebuah Renungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hijrah: Sebuah Renungan

Dalam Islam, ada dua jenis hijrah: pertama, hijrah zahir (fisik), yaitu berpindah tempat tinggal, dan kedua, hijrah jiwa (spiritual), yaitu berpindahnya keadaan jiwa ke arah yang lebih baik. Mengenai hijrah jiwa (spiritual) yang menuju pada perbaikan diri, Rasulullah bersabda (H.R. Imam Bukhari): “Al-Muhâjir man hajara mâ naha Allahu ‘anhu—muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala laranganNya.”

Dari sudut pandang fisik, hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw adalah sebuah transisi di antara dua situasi, dari keadaan yang tidak aman dan lemah (Mekkah) menuju keadaan yang aman dan kuat (Madinah). Sedangkan dari sudut pandang spiritual, hijrah dipahami sebagai transisi dari keadaan lemah manusia atas dosa menjadi keadaan yang kuat dan terus berjuang untuk menghindarinya. Keadaan yang penuh dengan kelalaian menuju kesadaran spiritual yang sehat.

Proses pengembangan jiwa pun terus berlangsung, tidak berhenti sampai di situ. Sebagaimana kata Aristoteles di atas, meski Plato sangat berharga baginya, Ia tidak berhenti dan terus melakukan pencarian kebenaran. Katanya:“Kebenaran jauh lebih berharga dari Plato.” Bukan berarti Aristoteles tidak menghormati Plato, tapi baginya kebenaran masih terlampau luas untuk digali, dan Plato belum menggali semua kebenaran itu, sekedar buih dalam lautan jika dibandingkan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Tidak berbeda dengan keadaan jiwa (state of soul). Dalam literatur tasawuf, ada istilah yang disebut dzunûb al-ahwâl (dosa keadaan jiwa). Menurut Syeikh Musthafa al-‘Arûsi (1798-1876 M) penyebab dosa keadaan jiwa adalah sifat-sifat buruk (madzmûm al-shifât) yang menyamarkan manusia dalam kebaikan, yaitu al-wuqûf ma’a istihsânihâ—berpuas diri dengan anggapan bahwa dirinya berada dalam kebaikan (Musthafa al-‘Arusi, Natâ’ij al-Afkar, Beirut: Darul Kutub, al-Ilmiyyah, 1971, juz 2, hlm 169). 

Dengan kata lain, mencukupkan diri dengan tidak melakukan observasi terhadap jiwanya, karena telah meyakini bahwa dirinya berada dalam kebenaran. Anggapan baik inilah yang membuat manusia berhenti untuk memperbaiki kualitas ibadahnya.

Maka dari itu,setiap hari atau minimal satu tahun sekali, kita harus memeriksa diri kita, melakukan observasi dan analisis diri, ‘Apakah kita masih sering lalai? Seberapa banyak dosa kecil yang kita perbuat? Sudahkah kita bersyukur atas nikmat Tuhan? Seberapa banyak amal ibadah kita? Kenapa kita berhenti pada pencitraan baik ibadah kita? Kenapa kita tidak meningkatkan kualitasnya? Kenapa kita merasa cukup dengan kebaikan kita? Padahal, kebaikan tidak akan pernah habis diamalkan dan direnungkan.’

Benar, kita harus terus berproses menuju pada kebaikan, kapanpun waktunya dan dimanapun tempatnya. Kita tidak boleh puas dengan ibadah kita. Kita harus selalu meningkatkannya; dari menyembah karena takut siksaNya berubah menjadi cinta akan ridlaNya; dari menyembah karena mengharapkan pahalaNya berubah menjadi cinta akan diriNya.Wajar saja, apabila para ulama kita terdahulu karena keinginannya untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya, berdoa dengan cara yang unik. Imam Hârits bin Asad al-Muhâsibi (781-857 M) berkata:

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ?, ? ? ? ?, ? ?: ? ? ?

“Tidak pernah aku mengatakan: “Ya Allah aku memohon taubat kepada-Mu,” sebaliknya aku mengatakan: “(Ya Allah) aku memohon syahwat taubat kepada-Mu.” (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risâlah al-Qusyairiyyah, hlm 183).

Dengan memohon syahwat dalam doanya, Ia tidak akan berhenti mengaktualisasikan dirinya. Taubatnya adalah perjalanan panjang laiknya hijrah yang dilakukan Nabi Saw dan para sahabatnya. Perjalanan menuju ke arah yang lebih baik setiap waktunya. Syahwat itulah yang membuat Imam Hârits al-Muhâsibi terus bernafsu mencintaiNya dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Shalatnya sekarang, berbeda pengalaman spiritualnya dengan shalatnya kemarin. Zikirnya besok, berbeda rasa spiritualnya dengan zikirnya sekarang.

Bagaimana dengan kita? Telah berapa kali kita mendengar adzan? Telah berapa kali kita bertemu dengan tahun baru Hijriah? Apakah kita pernah merenungkannya sejenak? Mengambil maknanya yang luhur? Dan, memperbaiki diri setiap kali melaluinya?

Ibadah kita masih sekedar takut akan siksaNya dan menginginkan surgaNya. Karenanya, kita disibukkan dengan meningkatkan kuantitasnya, bukan kualitasnya. Shalat yang seharusnya tanhâ ‘an al-fakhsya’ wa al-munkar (mencegah perbuatan keji dan munkar) tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Banyak orang shalat, tapi masih berbuat jahat; korupsi, menggunjing, menghina, memfitnah dan seterusnya. Ibadah kita seakan pakaian baru di hari raya, tapi tidak membarukan jiwa kita.

Ketika melaksanakan shalat, kita tidak merasa bahwa kita sedang menyembahNya. Kita terjebak pada lingkaran rutinitas, aktifitas sehari-hari. Shalat telah menjadi kebiasaan hidup yang kering spiritualitas.Kita lalai untuk siapa shalat kita, hidup kita, mati kita dan ibadah kita.Kita perlu melihat kepada diri kita dan berhijrah dari kekeringan spiritual menuju kesuburan spiritual. Bukan berarti ibadah kita tidak ada nilai pahalanya, tidak. Namun, alangkah baiknya jika pahala itu bersanding lurus dengan perubahan diri yang baik.

Kita selalu menuntut Tuhan ketika semuanya tidak berjalan dengan baik. Kita merasa telah melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Lalu, ‘kenapa Tuhan tidak menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan kita?’ Kita, dengan tanpa sadar, menggunakan persepsi bahwa ibadah seperti tabungan di bank, bisa diambil ketika kita membutuhkan. Karena itu, setiap kali ada masalah, kita akan menuntut Tuhan: “aku telah menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu, kenapa Kau mengujiku dengan masalah seperti ini?”

Kita menggunakan teori kausalitas (sebab-akibat) dalam hubungan kita dengan Tuhan, take and give, harus saling menguntungkan. Kita tidak sadar bahwa Tuhan tidak butuh keuntungan dari kita. Segala perintah dan laranganNya adalah untuk kebaikan kita sendiri, bukan kebaikan Tuhan. Tuhan tidak akan rugi jika semua manusia tidak menyembahNya.

Karena itu, dalam momen penuh berkah ini, tahun baru Hijriah 1439, kita harus merenung dalam diam, menerawang ke dalam diri, membiaskan hikmah agungnya, kemudian melakukan intropeksi diri (muhâsabah). Kita pun harus melakukan penataan ulang kualitas-substantif ibadah-ibadah kita. Soren Kierkegaard (1813-1855 M) mengatakan: “Prayer does not change God, but it changes him who prays—ibadah tidak merubah Tuhan, tapi merubah manusia yang melakukannya.”

? ? ? ? ? * ? ? ? ?

“Tujuanku bukan surga yang dipenuhi kenikmatan.Sungguh, aku menginginkannya, bukan karena nikmat surgawinya, tetapi karena aku ingin berjumpa denganMu”

(Sa’id Harun ‘Asyur, Jawâhir al-Tashawwuf li al-‘Arif bi Allah al-Zâbid al-Wâ’idh Yahya bin Mu’âdz al-Razi, Iskandariyyah: Maktabah al-Adab, 2002, hlm 31)

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Puluhan pelajar tingkat SMP dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia mengadu kepintaran untuk merebut tropi dari Menteri Pendidikan dan Gubernur Jawa Timur. Para pelajar kelas 9 ini selama 4 hari mengikuti Olimpiade Sains dan Sosial (SSO) yang digelar SMA Darul Ulum 2 BPPT, Pesantren Rejoso Peterongan Kabupaten Jombang Jawa Timur.

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Djihan Islahiyah dan dua rekannya peserta asal SMP Islam Al Azhar, Pontianak? misalnya mengaku sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tingkat Nasional ini. Sebagai wakil dari luar Jawa, Djihan sangat berharap bisa memenangi olimpiade Sains dan Sosial. "Kita dating bertiga, dan sekolah kita memang jauh hari telah mempersiapkan muridnya untuk mengikuti lomba ini," katanya ditemui usai mengikuti lomba.

Dengan menggunakan seragam, khas pelajar berjilbab ini mengatakan bahwa sekolah yang diwakilinya pernah mendapatkan medali perak dari lomba sains tingkat provinsi. "Dengan materi yang dilombakan, kita optimis bisa menjadi Juara," tambahnya seraya mengatakan dirinya sudah berulang kali mengikuti ajang lomba serupa di daerah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Berbeda dengan peserta asal Pontianak,? Padil pelajar SMP Negeri Palu Sulawesi Selatan, meski bisa menjawab soal-soal yang dilombakan, namun pihaknya mengaku pesimis. Pasalnya dirinya hanya datang bersama dua rekannya. "Kita datang cuman dua orang, karena yang satu sakit saat akan berangkat ke sini, jadi ada satu materi yang kurang kayaknya," ungkapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Untuk menghadi olimpiade ini, Saifullah Kamil menceritakan,? sekolah memberikan materi tambahan khusus bagi pelajar yang ditunjuk untuk mengikuti lomba. "Latihan latihan itu diwajibkan 2 kali setiap minggu. Dan ini adalah lomba yang pertama kita ikuti," ungkapnya dengan logat khas Palu.

Ahmad Kaseri Kepala SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT mengatakan, olimpiade Sains dan Sosial kali ini diikuti sebanyak 1. 629 peserta. Terdiri dari 68 Tim peserta Sains dan 51 Tim peserta Sosial yang datang dari berbagai daerah dan provinsi.

"Antusias peserta cukp tinggi, disamping hadiah uang pembinaan, mereka yang juara berhak mendapatkan tropi bergilir dari Menteri Pendidikan dan Tropy dari Gubernur Jatim," jelasnya seraya mengatakan untuk pemenang olimpiade, Kusairi menyebutkan, jika masuk SMA DU 2 ini, akan mendapatkan tambahan biasiswa selama 1 tahun. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Pertandingan, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah

Bogor, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor KH Romdhon angkat bicara menyikapi fenomena perkembangan penyebaran paham salafi-wahabi, dengan banyaknya yayasan, komunitas hingga media yang mereka kelola.

"Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan kelompok Wahabi dan paham-paham radikal sejenis di wilayah Kabupaten Bogor semakin massif dan menguat," kata Romdhon.

Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Radikalisme, PCNU Bogor Perkuat Jaringan Jamiyah Nahdliyah

Ia mengatakan, pihaknya tengah memperkuat konsolidasi jamiyah dan mengefektifkan kerja lembaga hingga struktur terbawah di tingkat ranting dan anak ranting untuk membentengi warga NU dari serbuan paham salafi-wahabi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Saat menyampaikan sambutan pada kegiatan istigotsah syukuran Kemerdekaan yang digagas Majelis Sholawat Darul Fatih di Pesantren Yasina, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Sabtu (26/8) Romdhon mengingatkan para pemuka NU agar lebih waspada terhadap penetrasi kelompok radikal.

Ia berharap para ulama sepuh, kiai, kiai muda hingga muallim di kampung-kampung baik struktural maupun kultural agar terlibat lebih aktif dalam membentengi nahdliyin dari pengaruh salafi-wahabi dan paham radikal lainnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"NU lahir sebagai jangkar utama dan benteng NKRI. Paham apapun yang merongrong kelangsungan NKRI akan berhadapan dengan NU," tegas pria yang akrab disapa Kang Doni.

Kegiatan istigotsah yang diprakarsai Majelis Shalawat Darul Fatih dan PCNU Kabupaten Bogor sebagai syukuran kemerdekaan Ke-72 RI ini dihadiri 300 orang jamaah. Tampak hadir Komandan Kodim 0621 Kabupaten Bogor Letkol Inf Muhammad Fransisco.

Fransisco mengatakan, para ulama dan santri memiliki andil besar dalam mempelopori perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, ia mengajak para ulama dan kaum santri untuk terus menjaga, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia secara berkelanjutan.

"Cara mengisi kemerdekaan dapat dilakukan dengan berbuat baik dengan profesi dan tugas masing-masing," terangnya.

Ia yakin bila semua pihak telah mengerjakan tugas profesi masing-masing dengan baik, masalah yang dihadapi Indonesia dewasa ini, yaitu radikalisasi, terorisme, dan intoleransi, dapat diatasi.

"Teroris itu orang yang membajak agama untuk memenuhi kepentingan politiknya," ungkapnya.

Ia mengajak semua pihak memerangi teroris secara intensif hingga akar-akarnya, demi menjamin kelangsungan NKRI.

"Jangan menunggu negeri kita seperti Suriah yang hancur, baru melakukan aksi penyelamatan. Penyesalan selalu datang belakangan," kata Muhammad Fransisco.

Sebagaimana diketahui pada 17 Agustus tepat pada puncak perayaan HUT kemerdekaan Ke-72 RI sebuah pesantren yang dikelola oleh kelompok salafi-wahabi di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, didemo ribuan masyarakat setempat akibat membakar bendera merah putih. (Ahmad Fahir/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi

Sidoarjo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Cabang Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (PC JQH NU) Sidoarjo akan mengadakan Festival Santri Berprestasi (Fantasi) pada Februari mendatang. Festival itu rencananya diselenggarakan di masjid Agung Sidoarjo.

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Festival, JQH NU Sidoarjo Jaring Santri Berprestasi

"Pada hasil rapat koordinasi pengurus JQH NU Sidoarjo yang diadakan di rumah salah satu anggota JQH NU di Desa Lajuk Porong Sidoarjo, Rabu 6 Januari 2016 (malam), kami berencana akan mengadakan acara Fantasi," ujar Ketua JQH NU Sidoarjo H Imam Mukozali, Kamis (7/1).

Menurutnya, festival itu bertujuan untuk menggali potensi dari anak-anak atau santri mulai dari TPQ, Madin, SD/MI se-Kabupaten Sidoarjo yang berprestasi dan selama ini tidak tercover pada MTQ. Festival itu sendiri boleh diikuti oleh siswa atau santri yang berusia maksimal 12 tahun.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Ini khusus untuk anak-anak yang berprestasi dalam bidang tahfidz, tilawah, pildacil dan Al-Banjari. Dengan kegiatan itu, saya berharap akan muncul santri-santri berprestasi," kata H Imam penuh dengan harap.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada para pengurus JQH NU Sidoarjo karena telah menyelenggarakan acara rapat kerja (raker) JQH NU ke-II dengan sukses.

Rapat koordinasi ini dihadiri beberapa unsur di antaranya unsur majelis ilmi, unsur pimpinan cabang, PAC dan komisariat.

Di tempat terpisah, Ketua JQH NU Jawa Timur H Zainul Arifin mengapresiasi atas terselenggaranya program yang telah dijalankan oleh JQH NU Sidoarjo. "Selamat dan sukses JQH NU Sidoarjo. Semoga program-programnya diberi kemudahan dan keberhasilan," ucap H Zainul. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, News, Pertandingan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten

Klaten, Kedung Sukun Adiwerna Tegal - Peringatan haul ke-8 (sewindu) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kabupaten Klaten bakal dimeriahkan dengan berbagai kegiatan antara lain Jambore Kebersamaan Lintas Iman. Acara tersebut akan dipusatkan di Kampung Gemblegan, Jumat-Sabtu (15-16/12).

Salah satu pihak yang ikut memprakarsai kegiatan ini adalah KH Jazuli Kasmani. Ia menjelaskan, selain kegiatan Jambore Kebersamaan Lintas Iman, juga ada deklarasi dan peresmian Kampung Damai, Pameran Alat Liturgi Lintas Iman (PALLI) dan pameran UKM Wahid Foundation.

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Jambore Lintas Iman Bakal Meriahkan Haul Gus Dur di Klaten

“Penyelenggarannya Komunitas Kebersamaan Muda Lintas Iman/Budaya (KKMLIB), acara insya Allah akan dimulai pada Jumat (15/12) mendatang, dengan kegiatan pendirian tenda dan persiapan pameran, di Lokasi Camp Hutan Jati RPTRA dan Lapangan Gemblegan,” terang pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muttaqin Pancasila Sakti itu.

Ditambahkan Gus Jazuli, acara ini akan menghadirkan sejumlah tokoh seperti Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation), Hj Sri Mulyani (Bupati Klaten), dan lain sebagainya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada hari kedua, lanjut dia, juga akan ada peresmian Kampung Damai Wisata Damai Terpadu Gemblegan dan penebaran benih ikan di Sendang Kamulyan dan di Kolam Pemancingan Umbul China Gemblegan.

Pihaknya berharap melalui kegiatan ini, para peserta dapat mewarisi semangat dan ajaran kebersamaan dari Gus Dur, serta memupuk persaudaraan antar anak bangsa. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, Pertandingan, Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka

? ? ? ? ? ? ? ?

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, sedangkan ibu-ibu mereka melahirkan mereka sebagai orang-orang merdeka.”

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayyidina Umar soal Hakikat Manusia yang Merdeka

[Umar ibn Khatthab]

Dari kitab al-Wilâyah ‘alal Buldân fî ‘Ashril Khulafâ’ ar-Râsyidîn

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, RMI NU, Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo

Gorontalo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sebanyak 300 ulama tasawuf se-Asia Tenggara berkumpul di Kota Gorontalo 14-16 November 2017. Berkumpulkan para ulama tauhid tasawuf se-Asia Tenggara di Kota Gorontalo, mendapat sambutan positif dari masyarakat termasuk Pemerintah Kota Gorontalo dan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Para ulama tersebut datang ke Gorontalo untuk menghadiri Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf Asia Tenggara I. Pembukaan Muzakarah berlangsung di Masjid Baiturrahim, Gorontalo, Selasa (14/11), oleh Wagub Gorontalo Idris Rahim. 

Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo

Hadir dalam pembukaan ini antara lain Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf AsiaTenggara Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi; Wakil Gubernur Provinsi Gorontalo Idris Rahim; Walikota Gorontalo Marten Taha; para ulama, pimpinan pondok pesantren, tokoh masyarakat, pejabat Pemprov Gorontalo serta Pemkot Gorontalo.

 

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim menyatakan, tauhid tasawuf merupakan ilmu warisan Rasulullah yang sangat diperlukan oleh masyarakat.

“Tauhid tasawuf merupakan ilmu yang sangat penting dalam membina akhlak, karena itu saya harap bisa membangun akhlak masyarakat yang mulia,” tegasnya. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Lebih lanjut, penyelanggaran Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf sejalan dengan dengan 8 program unggulan Pemerintah Provinsi Gorontalo, yang salah satunya fokus pada kegiatan keagamaan dan budaya yang lebih semarak.

"Gorontalo itu dikenal dengan daerah Serambi Madinah, yang memiliki filosofi adat bersendikan sara dan sara bersendikan kitabullah," imbuh Wagub.

Wagub sangat mendukung setiap kegiatan keagamaan yang tujuannya untuk meningkatkan keimanan dan membangun silaturrahim antara sesama umat demi kemaslahatan daerah, bangsa dan negara.

Sementara itu, Walikota Gorontalo menyatakan sangat senang dengan kedatangan para ulama tasawuf dari berbagai negara, terutama ulama kharismatik asal Aceh Abuya Syekh Amran Waly Al-Khalidi yang menjadi pimpinan MPTT.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Gorontalo dan Aceh merupakan dua kota istimewa, Aceh memiliki julukan Kota Serambi Mekah, dan Gorontalo memiliki julukan Kota Serambi Madinah,” ujarnya. 

Dalam tausiyahnya Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi menyatakan, tujuan belajar tasawuf agar kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, senantiasa merasakan kehadiran Allah di manapun kita berada.

Abuya berharap kepada para pakar tauhid tasawuf sebagai ulama pewaris para nabi, agar kehadirannya membawa rahmat untuk sekalian alam. 

Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Huda, Gorontalo.  Dalam Muzakarah ini hadir para ulama tasawuf antara lain Muhammad Dhiauddin Kuswandi (Pimpinan Keluarga Besar Wali Songo), Syekh Rohimuddin Al-Bantany (Pimpinan Kerukunan Ulama Nusantara), KH Zein Djarnuzi (Pimpinan Pondok Pesantren Raudhoh Al-Hikam, Indonesia, Syekh Thoriqoh Qodiriyah Wanaqsabandiyah/TQN), KH Ahmad (Cirebon), Abi Razali (Malaysia) dan sejumlah ulama dari Thailand dan Filipina. (Firmansyah Rohim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pertandingan, Berita, AlaSantri Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock