Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Peringatan haul cikal-bakal desa Kaliwungu, Mbah Rogo Moyo kembali diadakan selama lima hari 1 – 5 Nofember mendatang. Pembukaan seluruh rangkaian kegiatan haul ditandai dengan selametan bubur syuro dan dan santunan anak yatim di Masjid jami Al Aziz Prokowinong Kaliwungu Kudus, Ahad malam (2/11)

Dalam acara yang dibuka Camat Kaliwungu Budi Utomo, sebanyak 67 yatim yang berasal dari desa itu menerima santunan masing-masing berupa uang tunai Rp 80.000 per anak dan bingkisan jajan.

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Rogo Moyo Diawali Santunan 67 Yatim

Ketua panitia Noor Yadi menjelaskan sosok Mbah Rogo Moyo merupakan tokoh yang menyebarkan dan mengembangkan dakwah agama Islam di dukuh Prokowinong Kaliwungu. Selain itu, Mbah Rogo Moyo adalah seorang ahli pertukangan yang dikenal sebagai penemu rumah adat Kudus.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Beliau juga dikenal sebagai salah satu tukang berpengaruh dalam pendopo-pendopo kabupaten pada era Bupati Kudus ketiga Raden Condronegoro," tuturnya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Yadi menjelaskan peringatan haul mbah Rogo Moyo diadakan berdasarkan tahun Hijriyah tepatnya 13 Muharram. Pada tahun ini, ragam kegiatan telah dipersiapkan diantaranya bersih-bersih makam (1/11), Festival Rebana Klasik (2/11), lomba rebana modern (3/11), khotmul Quran Bin-Nadlor dan bil ghoib (5/11), kirab budaya dan buka luwur dilanjutkan pengajian bersama KH Adnan Kasogi (Kudus).

"Disamping mengenang, meneladai, melestarikan nilai ketokohonya yang sederhana, mendorong dan memupuk semangat gotong-royong dan persatuan kesatuan masyarakat," terangnya.

Hadir dalam acara pembukaan, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kudus Sunardi, Kabid Pariwisata Dwi Sancaka, Camat Kaliwungu Budi Utomo, pengurus NU dan badan otonomnya, tokoh masyarakat setempat dan tamu undangan serta ratusan warga desa Kaliwungu.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaNu, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Kang Said: Tuhan Tidak "Galak"

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Merosotnya akhlak atau etika masyarakat akhir-akhir ini yang berujung pada intoleransi perlu disikapi oleh para dai. “Kita jangan hanya berbicara akidah saja, tapi juga harus menyampaikan bagaimana akhlak atau etika dalam Islam,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam akun twitternya @saidaqil, 23 Januari 2011.

Kang Said menyatakan bahwa pengajaran tentang akhlak juga tidak kalah penting, yaitu menempatkan manusia sebagai makhluk yang terhormat. “Jangan hanya bicara surga-neraka saja. Kalau hanya bicara itu orang akan takut. Kita harus bicara bagaimana memanusiakan manusia. Kita angkat terlebih dahulu manusia sebagai makhluk yang terhormat, baru bicara yang lain,” lanjut Kang Said.

Kang Said: Tuhan Tidak Galak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Tuhan Tidak Galak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Tuhan Tidak "Galak"

“Setelah itu barulah kita sampaikan, bahwa manusia itu harus begini, tidak boleh begitu, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pria kelahiran Cirebon ini mengingatkan agar para khatib/ dai lebih damai dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. “Dalam berdakwah jangan hanya mengancam orang dengan neraka. Sampaikan dakwah dengan damai. Tuhan itu tidak "galak", yang "galak" itu khatibnya. Tuhan itu maha pemaaf,” tegas Kang Said.

Ia juga mengajak masyarakat agar tidak hitam-putih dalam memahami Islam. Pandangan Islam yang sempit juga lah yang menyebabkan munculnya intoleransi akhir-akhir ini. Islam tidak bisa dipahami dalam waktu singkat atau instan. “Tidak bisa memahami Islam secara instant, butuh waktu yang tidak sebentar,” tambahnya. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan, AlaNu, Sholawat Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria

Pati, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah mengkaji ulang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria di Ujung Lemah Abang Desa Balong, Kecamatan Kembang, Jepara, Jawa Tengah. Pasalnya, lokasi tersebut jaraknya masih berdekatan dengan pemukiman warga di sejumlah kota sekitar.

Kekhawatiran tersebut, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Anas Tahir cukup beralasan. Sebab, pihaknya menilai Indonesia belum siap dengan keberadaan PLTN, utamanya dalam hal sumber daya manusia (SDM).

Pemerintah seharusnya menghentikan rencana itu, karena masyarakat melakukan penolakan. “Kalau pun ingin memaksakan membangun PLTN harus mencari lokasi sejauh mungkin dari pemukiman dan benar-benar terisolir,” jelas Anas kepada wartawan usai membuka Gelar Budaya Rakyat yang diselenggarakan Lembaga Seniman dan Budaya Indonesia (Lesbumi) NU di pelataran Stadion Joyokusumo, Pati, Jawa Tengah, Jumat (13/7) kemarin.

NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Minta Pemerintah Kaji Ulang Pembangunan PLTN Muria

Ia mengatakan, pemerintah harus rasional dalam mempersiapkan tenaga profesional dalam pembangunan PLTN. Karena dia menilai, masyarakat sampai saat ini masih belum bisa menerima dan belum siap atas keberadaan itu.

“Sebaiknya pemerintah tidak terburu-buru membangunnya. Lebih baik dilakukan kajian yang lebih mendalam dan harus jujur pada masyarakat tentang keunggulan dan kekurangan PLTN,” harapnya.

Sejauh ini, informasi yang diterima pihaknya, kajian PLTN Muria masih dalam proses dan belum selesai. Sehingga, aksi penolakan dari masyarakat, baginya, adalah sikap yang semestinya sebelum terlanjur dibangun.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, berkaitan dengan gencarnya aksi penolakan yang dilakukan masyarakat di semenanjung Muria, pihaknya bakal mengikuti. “Kalau keinginan sebagian besar masyarakat menolak, ya kami juga akan menyatakan sikap menolak. Toh, sebagian besar masyarakat tersebut warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU),” tandasnya. (man/gpa)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kajian Islam, Hadits, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

IPNU dan IPPNU Jombang Pernah Miliki 3 Cabang

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Jombang dikenal memiliki tokoh NU yang mumpuni. Sejumlah nama besar lahir dari kota santri ini. Gejolak juga kerap mengiringi Jombang, termasuk dalam dinamika NU.

IPNU dan IPPNU Jombang Pernah Miliki 3 Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU dan IPPNU Jombang Pernah Miliki 3 Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU dan IPPNU Jombang Pernah Miliki 3 Cabang

Cerita ini disampaikan Nyai Hj Mundjidah Wahab saat silaturahim dan halal bihalal PC IPNU dan IPPNU Jombang yang juga diikuti sejumlah alumni lintas generasi di Mojokrapak, Tembelang Jombang, Jumat (14/8).

"Dulu IPNU dan IPPNU Jombang pernah pecah menjadi tiga cabang," kata Nyai Hj Mundjidah. Saat Mundjidah Wahab muda menjadi Ketua PC IPPNU, ia "hanya" mendapatkan wilayah kota yang meliputi Denanyar dan Tambakberas. Karena untuk Jombang Timur berada di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan. "Sedangkan untuk Jombang Selatan berpusat di Seblak," kenangnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Hal ini sebagai imbas dari saling bersikukuhnya para fungsionaris PC IPNU kala itu. "Kepengurusan IPNU Selatan dipimpin oleh Hamid Baidlawi," kata Wakil Bupati Jombang ini. Upaya mediasi pernah dilakukan dengan mendatangkan sejumlah kiai, namun gagal. "Kalau gak geger, bukan Jombang namanya," seloroh Bu Mundjidah.

Namun "aneh"nya, meskipun terpecah menjadi tiga, setiap kepengurusan memiliki hak yang sama saat Kongres. "Masing-masing diakui dan mendapatkan kesempatan yang sama ketika Kongres IPNU dan IPPNU," kata Ketua PC Muslimat NU Jombang ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kendati demikian, Bu Mundjidah mengemukakan bahwa ketiga kepengurusan IPNU dan IPPNU tersebut sama-sama aktif. "Bahkan saat saya menjadi Ketua IPPNU Jombang ? tahun 1967-1968 telah memiliki grup drum band sendiri," bangganya. Dan grup drum band ini menjadi andalan NU saat ada kegiatan karnaval dan sejenisnya, lanjutnya.

Kepengurusan PC IPNU dan IPPNU Jombang akhirnya kembali menjadi satu setelah para aktifis di tiga kepengurusan tersebut pulang kampung. "Karena para penggeraknya saat itu masih mondok dan tidak dapat didamaikan, maka tetap terjadi tiga kepengurusan," ungkapnya. Namun saat mereka kembali ke tanah kelahiran masing-masing, perpecahan itu akhirnya reda dengan sendirinya.

Pertemuan alumni IPNU dan IPPNU ini rutin dilaksanakan setiap Jumat terakhir di bulan Syawal. Dan untuk tahun depan, kegiatan akan dilangsungkan di rumah dinas Wakil Bupati Jombang. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Hadits, Nasional, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Kudus, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) diminta berhati-hati mengeluarkan pernyataan politik. Hal ini untuk menjaga kondusivitas dan menghindari perpecahan di kalangan warga.

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilpres, Tokoh NU Diminta Hati-hati Keluarkan Statemen Politik

Pernyataan ini disampaikan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh saat dihubungi Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Rabu (14/5). Dikatakan, tokoh NU harus selalu menekankan seruan moral tanpa dilatarbelakangi kepentingan partai politik maupun calon presiden tertentu.

"Jangan terlalu berlebihan larut dalam persoalan politik. Kembalilah pada isu kesejahteraan dan moral umat," tegas kiai yang sering disapa Gus Ubaid ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mengingatkan terjadinya perpecahan (firqah) dalam agama berbarengan dengan peristiwa politik. "Makanya kiai-kiai NU harus hati-hati. Termasuk santri juga jangan mengompori dan memanipulasi pernyataan dan sikap kiai," tandasnya.

Kepada pendukung capres, Gus Ubaid mengharapkan supaya menarik simpati sesuai etika politik tanpa menjelek-jelekkan lawannya. Begitu pula, para wartawan harus berimbang dalam menyampaikan informasi. "Tidaklah elok bila harus menjelek-jelekkan lawan politik," tegasnya lagi singkat.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ditanya tentang sikap politik PWNU Jateng, Gus Ubaid menyatakan secara lembaga tetap bersikap netral dan tidak memberi dukungan kepada salah satu kandidat capres. "Meskipun begitu, NU tetap membimbing," ujarnya tanpa merinci penjelasannya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pendidikan, Pesantren, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna

Bandung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pelantikan Pimpinan Anak Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung, Jawa Barat diisi dengan pelatihan Kurikulum 2013 di MTs Miftahul Hidayah Desa Cibeet, Ibun, Bandung, Kamis (10/11).?

Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Berupaya Hasilkan SDM Bersaing dan Berdaya Guna

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris PW Pergunu Jawa Barat H. Saepuloh, Ketua PCNU Kabupaten Bandung KH Asep Jamaluddin, Sekretaris DPC PKB Kabupaten Bandung H Tarya, Ketua PC Pergunu Kabupaten Bandung Akbar Hadiansyah beserta jajaran Pengurus Cabang Pergunu Kabupaten Bandung.

Saepuloh berharap agar pengurus Pergunu Kecamatan Ibun bisa bersinergi dengan instansi terkait dalam melaksanakan program kegiatan dalam upaya peningkatan kompetensi dan kualitas guru-guru NU yang diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang bisa bersaing dan berdayaguna di masa yang akan datang.

“Buatlah program kerja untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas guru-guru NU, serta jangan lupa tanamkan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah kepada peserta didik dalam setiap proses pembelajaran,” tutur Saepuloh.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, Ketua PCNU Kab. Bandung KH Asep Jamaluddin berharap Pergunu bisa tampil untuk memperbaiki kualitas pendidikan NU, khussusnya lembaga pendidikan dibawah naungan NU.?

“Kami berharap Pergunu bisa tampil untuk meningkatkan kualitas pendidikan NU sehingga bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya,” tutur Kiai Asep. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kiai, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat

Malang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Malang berkomitmen mencanangkan gerakan masyarakat sadar zakat dengan menerbitkan Buku Panduan Zakat yang akan didistribusikan kepada para masyarakat, utamanya mereka yang tergolong ekonomi mampu.

Dalam buku itu akan dijelaskan tentang segala yang berkaitan dengan zakat, seperti cara perhitungan, nishab dan ketentuan lain dalam ibadah zakat. 

LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Malang Canangkan Masyarakat Sadar Zakat

Program semacam ini merupakan langkah awal yang akan dilaksanakan LAZISNU Kabupaten Malang untuk memberikan pemahaman pada masyarakat kabupaten malang mengenai zakat dan yang sejenisnya. Ini adalah bentuk komitmen LAZISNU Kabupaten Malang, karena ditengarai bahwa pemahaman masyarakat akan masalah zakat masih sangat rendah. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Kami sadar masyarakat kita masih kurang paham masalah zakat. Mereka masih bingung dan kurang mengerti apa itu zakat maal, dan apa perbedaannya dengan Infaq dan Shadaqah,” tutur Rohmat Daroini ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Malang, Selasa (21/5) kemarin.

Rencana ini awal mulanya berasal dari usulan Rahmat sendiri dengan kedudukannya sebagai bendahara LAZISNU, kemudian mendapatkan sambutan positif dari ketua LAZISNU Gus Syamsul.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam rangka untuk memuluskan jalan bagi program itu, juga sebagai bentuk pembinaan kepada masyarakat, LAZISNU Kabupaten Malang dalam waktu dekat berencana untuk menyelenggrakan Pendidikan dan Pelatihan (diklat) bagi petugas yang akan diterjunkan sebagai penarik zakat, infaq dan shadaqah.

Langkah ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan jumlah pengurus sendiri, dibandingkan dengan tugas untuk menangani daerah Kabupaten Malang yang sangat luas.

“Kami juga menyadari Kabupaten Malang sangat luas, sedangkan petugas LAZISNU hanya sekitar 11 orang, adalah hal yang mustahil mampu menangani 33 kecamatan di kabupaten Malang,” kata ustadz Unisma ini.

Selain itu, para pengurus menyadari bahwa pandangan masyarakat terhadap hal yang berbau penarikan dana masih sangat rendah.

“Tantangan pertama yang besar kemungkinan akan dihadapi kita adalah pandangan masyarakat yang selama ini sangat rendah melihat orang yang menarik dana keliling dari rumah ke rumah. Akan tetapi tidak apa-apa, karena secara pelan mereka memang akan kami sadarkan bahwa semua ini adalah keharusan,” kata Rohmat.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Ahmad Nur Kholis

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Tegal, Budaya, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo beserta para jajaran Forpimda Jatim menghadiri grand launching sukses muktamar ke-33 Nahdatul Ulama, Sabtu malam (14/3) lalu. Terlihat ada di belakang Pakde Karwo, Anas Yusuf (Kapolda Jatim) Eko Wiratmoko (Pangdam Brawijaya V), H Abdul Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim) dan beberapa Bupati se-Jatim.

Dalam sambutannya ia menceritakan saat PWNU Jatim meminta izin akan mengadakan muktamar di Jawa Timur dan meminta Wakil Gubernur menjadi ketua Panitia Daerah, tanpa berpikir panjang Pakde Karwo langsung mengiyakan. "Iya, gus saya setuju," jelas Pakde Karwo kepada Gus Ipul waktu itu.

Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Jatim Dukung Muktamar NU di Jombang

Pakde juga mengapresiasi langkah NU yang mengambil tema Islam Nusantara, menurut pakde, dalam hidup itu harus diimbangi dengan spiritual dan kultural. Kalau ada orang Islam yang menentang, diislamkan kembali Prof Kiai Said," kata Pakde kepada Ketum PBNU.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

NU sungguh luar biasa dalam mengambil keputusan terkait kepentingan umat. NU selalu bermusyawarah dan tidak mengenal votting. Itulah yang dilakukan NU lewat bahtsul masailnya. Banyak keputusan NU yang sangat membantu pemerintah, kata gubernur dua periode itu. (Rofi’i Boenawi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag

Bogor, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Siapa bilang santri tidak bisa menulis karya ilmiah? Kesepuluh santri dari berbagai pesantren terpilih dalam lomba karya tulis ilmiah yang diinisiasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puspenda) Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Kamis (20/11), di Bogor, Jawa Barat.

Dalam laporannya, Pjs Kepala Puspenda Dr Rudi Subiantoro mengatakan, seminar ini sebenarnya kegiatan yang seharusnya dilakukan tiap tahun. “Sejak awal ada 50 peserta, lalu tersisa 10 santri. Sejak penyaringan sehingga diperoleh 10 besar pemenang melalui beberapa tahap yang ketat. Tidak ada kolusi apalagi nepotisme,” tegasnya.

Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag

Tujuan kegiatan ini, lanjut Rudi, adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis santri agar menghasilkan karya ilmiah. Nantinya, karya ilmiah yang dihasilkan akan dibukukan atau menjadi kumpulan tulisan yang menarik.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Husen Hasan Basri, salah satu peneliti yang menginisiasi acara tersebut, kegiatan ini bukan merupakan lomba, tetapi lebih pada pendampingan bagi para santri untuk melahirkan karya tulis ilmiah. “Jadi, para santri selain dilatih menulis ilmiah juga didorong untuk menjadi peneliti,” ujar Husein.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senada dengan Husein, Ta’rif, peneliti lainnya juga mengatakan bahwa para santri tersebut dipersiapkan menjadi peneliti di masa depan. “Masing-masing mendapat? uang pembinaan sebesar Rp 10 juta untuk bekal penelitian,” ujar Ta’rif.

Kesepuluh santri tersebut adalah: 1) Idris Ahmad Rifai (PP LSQ Ar-Rahman Yogyakarta), 2) Rinaldiyanti Rukman, dkk (PP Tebuireng Jombang), 3) Wildan Imaduddin Muhammad (PP LSQ Ar Rahma Yogyakarta), 4) Nur Imam Saifulloh (PP Al-Hidayah Karangsuci Purwokerto), 5) Sulfa Fariana (PP Krapyak Ali Maksum Yogyakarta).

Kemudian, 6) M Taufiq Maulana (Ma’had Aly PP Salafiyah Syafi”iyah Situbondo), 7) Syamsuar Hamka (PP Ar Rohman, Bogor), 8) Afifur Rohman, dkk (PP LSQ Ar-Rahman Yogyakarta), 9) Siti Afifah (PP Ibnul Qoyyim Putri Yogyakarta), 10) Miftahul Alimin (Ma’had Aly PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo).

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas’ud dalam pengarahannya mendorong kepedulian dan meningkatnya wawasan para santri terhadap dunia tulis-menulis. Menurutnya, perlu diupayakan sebuah kegiatan pengembangan karya ilmiah bagi para santri.

“Kegiatan tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi menulis di pesantren, membangun motivasi kaum santri untuk leluasa berkreasi, berprestasi, dan berimajinasi melalui tulisan-tulisannya,” ujar Mas’ud.

Para santri, lanjut Mas’ud, harus meneladani para ulama masa lalu. Ketika itu, karya-karya tulis para ulama banyak diterbitkan di Saudi dan Turki, selain di Indonesia sendiri. Karya yang monumental tersebut antara lain Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil atau Tafsir Marah Labid (Syekh Nawawi al-Bantani) dan Manhaj Zhawi an Nazhar (Syekh Mahfudz al-Tirmasi), sebuah tafsir atas Manzhumat ‘Ilm al Atsar karya Abdurrahman al-Suyuthi.

Mas’ud menambahkan, sekarang ini belum ada lagi penulis produktif dari kalangan ulama setelah Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh. “Yang menarik, adalah kitab Thariqatul Hushul ala Ghayatil Wushul karya Kiai Sahal Mahfudh, sebuah penjelasan dari kitab Ghoyatul Wushul karya Syekh Abu Zakariya al-Anshori,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ubudiyah, Amalan, Jadwal Kajian Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Sukoharjo,? Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, memiliki cara unik untuk memperingati momentum pergantian tahun. Mereka menggelar kegiatan “Dupa Nuswantara”.

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)
Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)

Dupa Nuswantara, Simbol Harapan Pendekar Pagar Nusa Kartasura

Kegiatan yang rutin digelar saban tahun tersebut bertema “Dupa Nuswantara: dari Pagar Nusa Kartasura untuk Masyarakat Indonesia”, digelar di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Ahad (1/1).

Kepada? Kedung Sukun Adiwerna Tegal, salah satu panitia kegiatan Dupa Nuswantara, Hamid Baedhowi, menuturkan ini merupakan acara Dupa Nuswantara yang diadakan untuk ketiga kalinya. Sebelumnya, kegiatan serupa hanya dilaksanakan di daerah sekitar Kartasura.?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Para peserta yang ikut tidak hanya dari Kartasura, tapi juga dari berbagai daerah seperti Boyolali, Sragen, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo bahkan dari Ponorogo pun ada yang berpartisipasi dalam acara tersebut,” terang Hamid.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Di sana, para pendekar Pagar Nusa menuju ke lokasi dengan berjalan kaki. Sesampainya di sebuah Langgar yang bertepat di Desa Kalipang mereka berkumpul dan melantunkan dzikir, tahlil dan doa bersama untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

“Doa kita panjatkan agar bangsa ini dibebaskan dari bencana yang tidak kita inginkan, maka dari itulah acara ini disebut dengan nama Dupa Nuswantara,” tutur Baedhowi.

Acara juga dimeriahkan dengan penerbangan lentera harapan. “Semoga tahun 2017 ini kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata dia.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan, Internasional, Pesantren Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

BPJS dan Gagal Paham Welfare State

Oleh Roziqin

Dunia kesehatan Indonesia akhir tahun 2017 ini dikejutkan dengan laporan defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dewan Pengawas BPJS Kesehatan melaporkan ke Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa defisit telah mencapai Rp9 triliun. Lebih mengejutkan lagi, terdapat wacana dari Menteri Keuangan (Menkeu) untuk menambal defisit dengan cukai rokok, suatu produk yang didengung-dengungkan sebagai perusak kesehatan, dan bertolak belakang dengan visi misi BPJS Kesehatan. Menkeu juga berencana menggandeng Pemda untuk berkontribusi dalam menyelesaikan defisit ini. Hingga tulisan ini dibuat, berbagai opsi tersebut belum diputuskan.

BPJS dan Gagal Paham Welfare State (Sumber Gambar : Nu Online)
BPJS dan Gagal Paham Welfare State (Sumber Gambar : Nu Online)

BPJS dan Gagal Paham Welfare State

Menurut BPJS Kesehatan, defisit muncul akibat timpangnya penerimaan dari iuran peserta dengan beban jaminan kesehatan yang harus ditanggung. Sebagai sebuah program monopoli pemerintah dengan dukungan seperangkat peraturan dan pendanaan, maka defisit ini memprihatinkan.

Defisit pada BPJS Kesehatan bukan cerita baru. Sejak berdirinya, BPJS Kesehatan tercatat terus mengalami defisit. Pada 2014, defisit mencapai Rp3,3 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp5,7 triliun pada 2015 dan Rp9,7 triliun pada 2016. Pemerintah pun akhirnya harus turun tangan. Untuk, tahun 2016, pemerintah harus melakukan penyertaan modal negara sebesar Rp6,8 triliun, dan tahun ini berjanji memberikan subsidi. Tampaknya, ini terjadi karena konsep welfare state (negara kesejahteraan) yang gagal dipahami.

Gagal paham Welfare State

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai sebuah program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan menjadi bukti Indonesia menerapkan konsep welfare state. Program ini lahir melalui UU Nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU Nomor 24/2011 tentang BPJS, yang merupakan amanat perubahan UUD Tahun 1945 dalam rangka memajukan kesejahteraan umum, mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang layak. Semua warga negara Indonesia ditargetkan sudah menjadi peserta BPJS pada 2019, bahkan termasuk warga negara asing yang tinggal lebih dari enam bulan.

Pada negara yang menerapkan konsep welfare state, peranan negara lebih luas dari pada sekedar sebagai “penjaga malam”. Negara, menurut Utrecht (1985), bertugas menjaga keamanan dalam arti kata yang seluas-luasnya, yakni keamanan sosial di segala bidang kemasyarakatan. 

Namun demikian, dalam kasus BPJS, konsep welfare state salah disalahpahami bahwa seolah negara harus terus menerus turun tangan setiap ada masalah, dengan mengabaikan upaya optimal organ negara untuk mengatasi masalah. Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 87/2013 jo PP Nomor 84/2015, suntikan dana bukan satu-satunya cara saat aset Dana Jaminan Sosial (DJS) dari BPJS mengalami defisit. Upaya lain yang bisa dilakukan antara lain: penyesuaian besaran iuran, penyesuaian manfaat, maupun penyesuaian dana operasional. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Salah kelola?

Dengan berulangnya defisit, Pemerintah perlu mewaspadai adanya salah kelola BPJS Kesehatan dan potensi kebocoran anggaran. Saat ini likuiditas DJS seharusnya tidak menjadi masalah. Berdasarkan laporan tahun 2016, angka peserta mandiri bukan penerima upah dan bukan pekerja hanya sebesar 15 persen sehingga tidak mengganggu likuiditas bila ada sebagian dari mereka menunggak. BPJS Kesehatan juga telah memiliki sistem untuk mencegah peserta yang tidak aktif untuk mendapat pelayanan, sehingga tidak memungkinkan terjadi tunggakan.

Bahkan, BPJS Kesehatan seharusnya memanfaatkan dengan baik surplus iuran dari warga kurang mampu (Penerima Bantuan Iuran-PBI) yang ditanggung Pemerintah. Dengan peserta program JKN 183 juta saat ini, angka PBI ternyata mencapai 111 juta orang. Angka ini jauh di atas angka kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang per Maret 2017 “hanya” sebesar 27,77 juta orang.

BPJS Kesehatan sebenarnya juga bisa mendapat tambahan dana dari investasi, serta dari peserta maupun pemberi kerja yang membayar namun tidak memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan. Beberapa peserta tidak memanfaatkan BPJS Kesehatan karena telah menggunakan asuransi swasta yang lebih cepat pelayanannya. Mereka ikut BPJS Kesehatan hanya sekedar melaksanakan kewajiban UU. 

Pemerintah seharusnya menuntut kreativitas direksi dan dewan pengawas BPJS Kesehatan, serta tidak terus memanjakan mereka dengan suntikan dana. Selama ini, berbagai kemewahan telah dinikmati BPJS Kesehatan: gaji dan fasilitas standar BUMN, namun berbentuk badan hukum publik yang bersifat nirlaba, memiliki kewenangan membuat peraturan perundang-undangan yang mengikat publik, tidak perlu menyetor dividen, bertanggung jawab langsung kepada presiden, serta tidak dapat dipailitkan dan dibubarkan.

Bahkan hingga defisit terjadi berulang-ulang, tidak ada yang mempertanyakan tanggung jawab direksi atas atas kesalahan pengelolaan DJS sebagaimana diatur UU. Berbagai kemewahan itu berpotensi menjadikan BPJSK menjadi mandul. 

Belajar dari negara lain

Mengelola program sosial harus dilakukan ekstra hati-hati. Bila tidak, bisa membuka celah fraud (kecurangan). Terlebih bila berlindung dalam konsep welfare state. Atas nama welfare state, berbagai bantuan, sumbangan, suntikan dana, subsidi, dan penyertaan modal dari pemerintah meluncur tanpa dicek kebenaran pemanfaatannya.

Sangat disayangkan bila kebaikan negara tidak disambut dengan pengelolaan yang baik. Kita turut menyaksikan berbagai BUMN yang terus merugi, bahkan setelah mendapat penyertaan modal; bantuan sosial yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi maupun golongan tertentu, serta subdisi yang tidak tepat sasaran. 

Bila ini terus terjadi, maka anggaran negara akan terbuang percuma. Kegagalan mengelola welfare state menurut Palmer (2012) menyebabkan krisis keuangan di dunia sehingga pertumbuhan ekonomi bergerak lamban, atau bahkan negatif, serta menyebaban krisis utang sebagaimana yang terjadi di Eropa, Amerika Serikat, dan negara lain.

Kita sepatatutnya belajar dari kegagalan negara lain. Pemerintah juga perlu meminta tanggung jawab Dewan Jaminan Sosial Nasional dan menagih peran mereka dalam mengatasi masalah BPJS Kesehatan. Semoga defisit BPJS Kesehatan bisa segera terlesaikan dengan baik, agar rakyat dan pejabat semakin sehat.

Penulis adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, penggiat LBH Pengurus Pusat GP Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas

Mempawah, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat M. Zeet Hamdy Assovie menyampaikan, salah seorang ulama dunia Syekh Chatib Sambas adalah guru dari para ulama Nusantara dan pendiri NU. Sambas adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Barat.

“Karenanya sudah menjadi keharusan bahwa NU harus besar di bumi Kalimantan Barat ini,” kata M. Zeet Hamdy Assovie dalam pembukaan Pendidikan Kader Penggerak NU Angkatan VI di Bakau Besar Sungai Pinyuh Mempawah, Jum’at (26/2).

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Harus Besar di Bumi Syekh Chatib Sambas

Ia menyebutkan, KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan banyak kiai besar lainnya adalah murid dari Syekh Chatib Sambas ketika sama-sama bermukim di Makkah.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Melalui proses kaderisasi yang terencana, ia berharap NU di Kalimantan Barat akan semakin aktif di wilayah ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pendidikan Kader Penggerak atau PKPNU diselenggarakan selama tiga hari, 26-28 Februari yang diikuti sebanyak 35 peserta pilihan dari seluruh cabang di lingkungan PWNU Kalimantan Barat. PKPNU kali ini mengambil tema “Kaderisasi Dalam Rangka Memperkokoh Kemandirian Ekonomi”.

Kegiatan dilaksanakan di di Laboratorium Pertanian yang diinisiasi oleh Ketua PWNU Kalimantan Barat sendiri.

“Di tempat ini telah kami siapkan semacam laboratorium pertanian agar bisa menjadi tempat pembelajaran bagi para kader untuk menjadi pengusaha. Ada kebun buah, ternak sapi perah, produksi pupuk dan lain-lain. Silahkan para kader berlatih di sini,” tambahnya.

Di tengah acara Pendidikan Kader Penggerak NU, Sabtu malam dilaksanakan Haul Syekh Yusuf Almansyur, kakek dari Zeet Hamdy yang juga adalah Ketua PWNU pertama di Kalimantan Barat.

Acara PKPNU PWNU Kalimantan Barat ini mengundang beberapa instruktur Nasional PKPNU, antara lain Abdul Munim DZ, Enceng Shobirin Nadj, Adnan Anwar, Amir Ma’ruf dan Bambang Yasmadi. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Sunnah, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Anggota MPR RI Rapat Dengar Pendapat dengan Pesantren Az Zahra

Jepara, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Rapat Dengar Pendapat (RDP) MPR RI berlangsung di Pesantren Az Zahra Sekuro Mlonggo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. RDP MPR RI dihadiri ratusan dewan asatid, guru SMP–SMK, santri, serta anggota dewan.

Ketua panitia, Hasan Khaeroni mengatakan kegiatan pada Ahad (14/12) siang tersebut adalah silaturahmi dalam rangka menyampaikan aspirasi kepada anggota parlemen.

Anggota MPR RI Rapat Dengar Pendapat dengan Pesantren Az Zahra (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota MPR RI Rapat Dengar Pendapat dengan Pesantren Az Zahra (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota MPR RI Rapat Dengar Pendapat dengan Pesantren Az Zahra

“Selain sebagai wahana silaturrahim kegiatan juga momen untuk menyampaikan aspirasi kepada wakil rakyat. Semoga aspirasi bisa didipenuhi,” harap kepala SMK Az Zahra.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

H Mukhlisin, anggota Komisi 6 DPR RI mengungkapkan pihaknya siap menampung aspirasi masyarakat. Utamanya aspirasi yang berkenaan dengan komisinya bidang koperasi.

“InsyaAllah aspirasi panjenengan akan kami tindak lanjuti, utamanya yang berkaitan dengan urusan ekonomi,” terang Mukhlisin.(Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal AlaSantri, News, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Pemenang Olimpiade Nahwu-Shorof Se-Jawa-Bali Diumumkan

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Olimpiade Nahwu-Shorof dan Baca Kitab se-Jawa dan Bali yang diadakan Madrasah Muallimin Mu’allimat Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, berlangsung selama dua hari, Kamis-Jumat, (20-21/11). Di akhir perlombaan, panitia pelaksana menetapkan nama-nama santri sebagai pemenang.

Untuk Olimpiade Nahwu-Shorof, juara pertama diraih Muhammad Nizar utusan MTs Darul Lughah wad Dakwah Bangil Pasuruan dengan nilai 172,5. Juara kedua, Ali Muchtar Fauzi, dari pesantren Tamrinatul Wildan Banyuwangi dengan nilai 122,5. Sedangkan juara ketiga disabet Syubanul Arif delegasi Idad Muallimin Irsyad Semarang dengan perolehan nilai 62,5.

Pemenang Olimpiade Nahwu-Shorof Se-Jawa-Bali Diumumkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemenang Olimpiade Nahwu-Shorof Se-Jawa-Bali Diumumkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemenang Olimpiade Nahwu-Shorof Se-Jawa-Bali Diumumkan

Sementara juara pertama lomba Baca Kitab adalah Habibi Husein Al-Haddad utusan MA Darul Lughah wad Dakwah Bangil Pasuruan dengan perolehan nilai 472. Juara kedua, Ali Ahmad Al-Biqi delegasi Al-Maktubah Manba’ul Ulum dengan perolehan nilai 466. Juara ketiga, M Shofwan Yakin dari pesantren Manba’us Sholihin Gresik dengan perolehan nilai 446.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Sempat ada persaingan ketat antar peserta dalam lomba baca kitab. Perolehan nilainya sama, tapi dewan juri melihat lebih objektif dari penggunaan nahwu-shorof,” kata Musyaffa setelah mengumumkan para pemenang lomba.

Kepala MMM Bahrul Ulum H Abdur Rohim berharap acara serupa bisa diadakan pondok-pondok yang lain di Indonesia.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Ternyata kami melihat masih banyak para calon-calon kiai, ilmuan, dan akademisi di negeri ini yang akan melanjutkan generasi sebelumnya, tinggal pengembangan dan pemberdayaannya,” ungkap Rohim. (Romza/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Olahraga, Cerita, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar?

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya seorang wali bagi anak perempuan saya yang masih gadis. Saya mau bertanya tentang mahar, apakah dalam soal mahar. Apakah seorang wali bagi anak gadisnya boleh menentukan besaran maharnya? Atas penjelesannya saya ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Hasan/Lombok)

?

---

Waalaikum salam wr. wb.

Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkah Seorang Wali Menentukan Besaran Mahar?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mayoritas para fuqaha` berpendapat mahar atau mas kawin bukan termasuk rukun atau syarat dalam akad nikah. Tetapi mahar merupakan konsekwensi logis yang ditimbulkan dari akad nikah tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Menurut mayoritas fuqaha` mahar bukanlah salah satu syarat dalam akad nikah, bukan juga salah satu rukunnya. Tetapi mahar hanyalah merupakan salah satu konsekwensi logis yang timbul karena akad nikah tersebut. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, cet ke-2, Kuwait-Dar as-Salasil, 1404 H-1427 H, juz, 24, h. 24)

Jika mahar merupakan konsekwensi logis yang timbul karena adanya akad nikah, lantas hak siapakah mahar itu? Allah swt berfirman dalam al-Quran;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Berikanlah mahar kepada wanita sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (Q.S. An-Nisa`: 4)

Pembicaraan dalam ayat ini menurut Ibnu Abbas, Qatadah, Ibnu Zaid, dan Ibnu Juraij ditujukan kepada para suami. Allah swt memerintahkan kepada mereka untuk ber-tabarru` (berderma) kepada isteri-isteri mereka dengan memberikan mahar dengan penuh kerelaan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh al-Qurthubi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Pembicaan dalam ayat ini itu ditujukan kepada para suami sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, Ibnu Zaid, dan Ibnu Juraij. Allah swt memerintahkan kepada mereka untuk berderma kepada isteri-isteri mereka dengan memberikan mahar dengan penuh kerelaan” (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Riyadl-Daru ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M, juz, 5, h. 33)

Perintah untuk memberikan mahar kepada perempuan yang dinikahi secara kasat mata menunjukkan bahwa mahar itu menjadi hak perempunan, bukan walinya. Jika, mahar merupakan hak dari pihak perempuan, maka wali secara otomatis tidak memiliki kewenangan untuk menentukan besaran mahar. Dengan bahasa lain, wali tidak boleh melakukan intervensi dalam menentukan berapa mahar yang harus diserahkan mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan.

Namun persoalannya akan menjadi lain, apabila pihak perempuan meminta pertimbangan kepada walinya dalam hal menentukan besar mahar yang pantas ia minta. Sebab, wali diminta oleh pihak perempuan untuk urun rembug dalam soal menentukan besaran mahar. Begitu juga ketika pihak perempuan mewakilkan kepada walinya untuk menentukan besaran maharnya.

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban yang dapat kami kemukakan adalah sebagai berikut;

Pertama, mahar adalah hak bagi perempuan, karena itu wali tidak boleh mengintervensi atau menentukan besaran mahar. Kedua, apabila pihak perempuan mewakilkan atau menyerahkan urusan penentuan besaran mahar kepada walinya, maka dalam hal ini wali boleh menentukan berapa besaran maharnya.

Ketiga, jika ternyata pihak perempuan meminta pertimbangan kepada walinya mengenai berapa jumlah mahar yang pantas untuk dirinya maka dalam hal ini boleh saja wali urun rembug dalam menentukan besaran maharnya dengan persetujuan pihak perempuan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dimengerti dan dipahami dengan baik. Saran kami, sebaiknya dalam soal penentuan mahar, pihak perempuan bermusyawarah dengan bapaknya (wali) atau keluarganya. Disamping itu dalam menentukan besaran mahar sebaiknya melihat kondisi kemampuan pihak mempelai laki-laki. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ulama, Santri, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Pandangan PW Pergunu Jakarta Terhadap Kebijakan UN Saat Ini

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ujian Nasional (UN) bukan penentu kelulusan menurut kami memang seharusnya demikian, karena kita menerapkan kurikulum KTSP, atau kurikulum 2013 yang bermuatan KTSP. KTSP memberikan ruang kepada satuan pendidikan untuk menentukan mata pelajaran tertentu secara mandiri, dan tentu satuan pendidikan lebih paham terkait capaian kompetensi peserta didik. 

Demikian disampaikan Ketua PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta, Aris Adi Leksono, MMPd melalui rilis yang diterima Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Senin (20/4) dalam rangka menyikapi UN SMA/MA/SMK 13-15 April 2015 lalu dan menjelang UN SMP/MTs, 4-7 Mei 2015 mendatang.

Pandangan PW Pergunu Jakarta Terhadap Kebijakan UN Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan PW Pergunu Jakarta Terhadap Kebijakan UN Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan PW Pergunu Jakarta Terhadap Kebijakan UN Saat Ini

“Di sinilah penilaian terkait kelulusan dapat berjalan secara adil, transparan, dan akuntabel. Seluruh stakeholder madrasah bisa menentukan Standar Kelulusan Minimal (SKM) secara mandiri,” ujar guru tetap di MTsN 34 Jakarta ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Terkait sistem ujian online atau yang disebut Computer Based Test (CBT), pihaknya pada prinsipnya sangat setuju, karena sangat menunjang efektifitas dan efesiensi pelaksanaan UN. “Tetapi ada hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah yaitu dukungan sarana pra-sarana yang harus memadai, sosialisasi harus dimaksimalkan, dan yang terpenting membangun SDM berbasis IT kepada penyelenggara, pelaksana dan peserta Ujian,” papar pria asal Lamongan ini.

Terlebih dari itu, tambahnya, perlu kajian mendalam terkait kebijakan ujian online ini, jika ingin diberlakukan secara Nasional, jangan sampai gagal ditengah jalan, atau memunculkan kontroversi dikemudian hari. Kita tidak mau nasib UN online seperti Kurikulum 2013 yang harus diuji ulang di tengah perjalanannya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Terkait nilai UN yang dijadikan syarat standar masuk ke perguruan tinggi, imbuhnya, menurutnya kebijakan ini masih sangat prematur, perlu kajian lebih mendalam. “Pemerintah harus terlebih dahulu menetapkan stadar nilai minimal untuk setiap perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, sehingga peserta didik mendapatkan gambaran lebih awal terkait nilai yang harus dicapai untuk masuk perguruan tinggi tertentu,” urainya.

Terlebih terkait hal teknis tersebut, lanjutnya, pemerintah juga perlu memperhatikan prinsip keadilan masyarakat, jangan sampai timbul dikotomi ‘Perguruan Tinggi si Pintar atau ‘Perguruan Tinggi si Bodoh’. “Sementara prinsip pendidikan adalah untuk semua, tidak ada perbedaan perlakuan antarsesama warga Negara Indonesia,” ucap sarjana pendidikan lulusan STAINU Jakarta ini.

Pergunu, tambahnya, sebagai wadah tenaga pendidik nusantara yang sangat terbuka untuk semua kalangan, menyadari bahwa Guru adalah pemegang amanat tertinggi dalam penyelenggaraan pendidikan, sehingga meningkatkan kompetensi dan profesionalime guru adalah wajib hukumnya. 

“Di pundak guru terdapat tanggung jawab karakter anak bangsa, maka kapasitas kompetensi guru akan menjadi perhatian Pergunu, begitu pula pemerintah yang harus memeperhatikan nasib guru. Pergunu akan terus memberikan advokasi atau pendampingan terhadap kesejahteraan guru, sehingga tugas berat guru juga harus dihargai oleh pemerintah,” tandas lulusan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal News, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 26 November 2017

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ya’qub Husein (YH) STIT al-Urwatul Wutsqo Jombang, Jawa Timur berkomitmen membangun kesolidan antarpengurus komisariat dan pengurus rayon (PR) sebagai prioritas utama dalam menjalankan mandat organisasi selama satu periode.

Kesolidan terus berupaya dibangun di tengah dominasi pengurus komisariat yang berasal dari suku atau daerah-daerah tertentu, yaitu Madura. Hal itu dimungkinkan akan menimbulkan pandangan yang miring kepada pengurus yang lain, di samping itu juga sangat berhubungan dengan intensitas pengurus untuk merealisasikan program-programnya.

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII YH Komit Bangun Kesolidan di Tengah Perbedaan Kultur

Iis Sholihah, Ketua Komisariat Ya’qub Husein mengatakan akan berupaya mengubah pola pikir pengurus yang masih normatif dan cenderung membeda-bedakan kultur, suku, ras dalam dunia pergerakan. Sebab demikian itu akan menimbulkan keharmonisan, persaudaraan atau solidaritas warga PMII. Bahkan tak ada aturan di PMII untuk membeda-bedakan asal-usul pengurus.?

“Kita sedang membangun pola untuk mematuhi pada AD/ART PMII dengan baik, semua gerakan kita tetap mengacu pada AD/ART. Di sana tidak ada pembedaan-pembedaan atau bahkan diskriminasi. Semua wewenang, hak dan garis koordinasi masing-masing pengurus sudah diatur jelas,” katanya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Selasa (15/3).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Namun demikian, Iis sapaan akrabnya mengemukakan bahwa perbedaan pada aspek kultur dan budaya dari masing-masing pengurus akan menciptakan pondasi yang sangat kuat di tubuh organisasi tatkala sudah bisa bersinergi dengan baik.?

“Malah sebenarnya perbedaan kultur itu sangat mendukung terciptanya pondasi yang kokoh,” ujarnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 20 November 2017

Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam

Bantul, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kesebelasan Pondok Pesantren Al-Asyariyah berhasil menundukkan kesebelasan Pondok Pesantren Darussalam pada Liga Santri Nusantara 2016 dalam pertandingan sepakbola 8 besar seri nasional, Jumat (28/10) malam. Gol diciptakan M Raply pada menit ke-62.

Sampai peluit panjang ditiup wasit Haryadi, kedudukan tetap 1-0 atas keunggulan Al-Asyariyah dalam pertandingan berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta itu.

Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam

Sejak awal pertandingan, dua kesebelasan bermain cepat dan keras. Beberapa kartu kuning terpaksa dikeluarkan wasit untuk pemain yang melakukan pelanggaran keras. Affan nomor punggung 9 dari Darussalam mendapat kartu kuning pertama pada menit ke-9.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara dari Al-Asyariyah mendapat kartu kuning pada menit ke-8 atas nama Al-Hamra H. Menit ke-40, M Raply mendapat hal serupa. Lalu pada menit ke-68 Al-Hamra kembali diganjar kartu kuning sehingga ia harus keluar lapangan karena akumulasi kartu.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dengan demikian, Al-Asyariyah maju ke babak selanjutnnya, semifinal esok hari di stadion yang sama, siang hari Sabtu (29/10). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan, Kajian, Olahraga Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 19 November 2017

BMTNU Jombang Sambungkan Nahdliyin

Jombang, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Sebagai upaya untuk menyambungkan warga NU yang memiliki dana dengan warga NU yang membutuhkan dana untuk berbagai keperluan, NU Jombang mendirikan Baitul Mal wa Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU).

BMTNU Jombang Sambungkan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
BMTNU Jombang Sambungkan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

BMTNU Jombang Sambungkan Nahdliyin

Demikian disampaikan H Khoirul Anam, Direktur BMTNU Jombang, pada Sabtu (27/07), dalam kegiatan Safari Ramadhan Pengurus Cabang NU Jombang di MWC Jogoroto yang bertempat di Masjid Baiturrahman Gendingan, Sawiji, Jogoroto. Pendirian BMT ini merupakan salah satu amanah Musyawarah Kerja Cabang (muskercab) NU Jombang.

Dalam kegiatan yang diikuti seluruh Pengurus Ranting se-MWCNU Jogoroto dan masyarakat sekitar masjid tersebut, H Khoirul Anam lebih lanjut menyampaikan, 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Daripada dana kita disimpan di bank-bank lain, yang keuntungannya tidak ke kita, lebih baik dana kita simpan di bank kita sendiri,” lanjut alumni Pondok Tagfidzul Quran Tebuireng tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“BMT yang kita dirikan 5 bulan yang lalu, saat ini baru memiliki aset 250 juta, tetapi saya yakin dalam satu tahun ini akan bisa berkembang, dan akan lebih banyak warga NU yang terbantu oleh dana kredit dengan berbagai produk yang ada,” katanya.

Pada malam Safari Ramadhan itu, disamping penyampaian materi dari unsur tanfidziyah PCNU Jombang, juga ada penyampaian materi aswaja dari unsur syuriyah yang dilakukan oleh KH Mujib Adnan, wakil rais syuriyah PCNU Jombang.

Kiai Mujib, dalam menyampaikan materi aswaja menganjurkan agar semua warga NU harus melakukan ikhtiar atau berusaha. 

“Allah akan memberikan jalan bagi orang-orang yang melakukan usaha,” katanya sambil mengutip salah satu ayat Al-Qur’an.

“Salah satu ikhtiar bersama kita untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita dan agar Allah SWT selalu memberikan jalan adalah melalui BMTNU ini,” tambah kiai Mujib.

Disamping menganjurkan untuk bersama-sama membesarkan BMTNU, Kiai Mujib juga berpesan agar selalu menjaga amaliyah-amaliyah aswaja Nahdlatul Ulama. 

“Semua amaliah yang kita jalankan sehari-sehari yang disampaikan oleh para kiai kita memiliki dalil dan dasar yang kuat, maka dari itu, kita harus terus menjaganya dan mengamalkannya,” pungkasnya. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Merevolusi Cara Pandang Beribadah

"Bagaimana cara kita menghadirkan Allah dalam tiap ibadah kita sehingga kita semakin dekat dengan-Nya?" Demikian pertanyaan salah seorang peserta pengajian kitab Al-Hikam yang digelar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) di Masjid An-Nahdlah, Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (13/1).

"Kita perlu merevolusi cara pandang kita dalam beribadah," jawab sang pengasuh, KH Luqman Hakim. "Kita seringkali kebolak-balik dalam memandang sesuatu."

Merevolusi Cara Pandang Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Merevolusi Cara Pandang Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Merevolusi Cara Pandang Beribadah

Menurut Kiai Luqman, Allah sesungguhnya sudah lebih dulu hadir sejak kita terbesit untuk beribadah kepada-Nya. Allah menggandeng hamba-Nya untuk berbuat baik, sehingga tergeraklah ia berbuat demikian. Tanpa kuasa-Nya manusia tak sanggup melakukan apa-apa, bahkan untuk sekadar berniat sekalipun. Orang-orang yang tergerak beribadah atau berbuat baik adalah orang-orang terpilih, yang menerima panggilan suci dari Sang Mabûd, Allah subhânahu wataala.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Logika bahwa manusia beribadah atau berbuat baik untuk tujuan mendekatkan diri (taqarrub) adalah pandangan yang membalik kenyataan tersebut. Anggapan itu menampilkan seolah hamba berjalan sendiri dan akan menuju Tuhannya. Padahal, titik berangkat justru dari Allah (mina-Llâh), dan seyogianya berbuat dengan kesadaran bahwa ia selalu bersama Allah (bi-Llâh), dan seluruh aktivitas hanya untuk satu tujuan, yakni Allah (li-Llâh).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Luqman menyampaikan hal itu pada sesi tanya-jawab dalam pengajian perdana yang membahas aforisme Al-Hikam pertama tentang ketergantungan hamba terhadap amal kebaikan (al-itimâd alal amal).

Lantas mengapa seseorang beribadah tapi sering tidak menemukan kekhusukan?

"Kita pernah kan pulang kerja malam-malam, belum shalat isya, lalu rasanya berat sekali mau menunaikan sembahyang? Begitu kita sudah shalat, beres, rasanya plong banget," ujanrnya.

Bagi Kiai Luqman, rasa "plong" itu justru mengindikasikan ada problem dalam ibadah kita. Karena kelegaan itu jelas berangkat dari menganggap shalat sebagai sebuah beban. Ketika beban terselelesaikan maka ringanlah sudah urusan. Ini bagian dari kinerja nafsu. Karena seyogianya ketenangan terjadi bukan setelah seseorang rampung shalat tapi saat berada dalam shalat. Lagi pula ketenangan sebetulnya bukan tujuan itu sendiri, karena tujuan yang sejati adalah Allah (li-Llâh).

Hal ini juga kerap terjadi pada dzikir dan ibadah-ibadah lainnya. "Ketika kita berdzikir lalu kemudian merasakan nikmat sekali, segera sadarkan diri kita bahwa kenikmatan itu hanyalah hikmah (efek samping, red), bukan tujuan," lanjutnya.

Begitulah, rangkaian kesadaran mina-Llâh, bi-Llâh, dan li-Lâh mesti berjalin seiring untuk menepis seorang hamba terjerat dalam sikap mengandalkan amal kebaikannya (al-itimâd alal amal). Kata Kiai Luqman, makluk pertama yang terjangkit penyakit al-itimâd alal amal adalah iblis. Karena telah beribadah dan tak pernah maksiat kepada Allah selama 80 ribu tahun, ia merasa perlu menolak perintah Allah untuk sujud hormat kepada Nabi Adam alaihis salam.

Pengajian kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah ini bersifat terbuka untuk umum. LDNU selaku penyelenggara menjadwalkan ngaji tasawuf ini tiap Rabu kedua saban bulan, tepat usai sembahyang Dhuhur secara berjamaah di masjid setempat. Pengaian Al-Hikam ini menjadi bagian dari pengajian mingguan tiap Rabu, yang digelar dengan materi dan narasumber yang beragam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal IMNU, Nahdlatul, Amalan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock