Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Dunia masa kini yang dipenuhi dengan tuntutan kesempurnaan dan persaingan sengit diantara berbagai fihak telah menimbulkan tekanan-tekanan mental bagi sebagian anggota masyarakat. Sentuhan rohani yang diberikan oleh tasawwuf ternyata mampu memberi keseimbangan jiwa dan ketenangan batin.



Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Demikian dikatakan oleh Khatib Aam PBNU KH Nasaruddin Umar dalam pembukaan Munas Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (28/6).

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Departemen Agama ini menuturkan, tantangan-tantangan baru yang dihadapi masyarakat seringkali melampaui kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hal ini bukan hanya dialami oleh kelompok masyarakat bawah, tetapi juga kelompok atas.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia mencontohkan munculnya persaingan dalam dunia politik seperti dalam perebutan jabatan melalui Pilkada serta upaya untuk tetap bisa bertahan dalam kesulitan ekonomi yang terus menekan.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Disinilah peran penting institusi tarekat, untuk menuangkan aspek batiniah agama dan pedalaman makna agama serta mencegah adanya praktek tidak terpuji yang keluar dari koridor akhlak Islam,” tuturnya.

Munas ini diikuti oleh sekitar 500 orang dari berbagai jamaah tarekat yang tergabung dalam Jatman. Munas merupakan forum tertinggi setelah muktamar yang bertujuan untuk mengevaluasi berbagai program yang sudah dirancang sebelumnya.

Suasana penuh ketenganan dan keteduhan hati sangat tampak dalam forum ini. Para peserta yang sebagian besar memakai baju koko warna putih, dengan tekun mengikuti rangkaian acara. Mereka adalah para kiai dan guru tarekat yang memiliki ribuan jamaah di daerahnya masing-masing.

Zikir-zikir panjang dan istighotsah selalu menjadi bagian rutin dalam sholat berjamaah yang diselenggarakan di masjid asrama haji.

Sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Nasaruddin Umar, salah seorang guru tarekat dari Jawa Timur yang ditemui Kedung Sukun Adiwerna Tegal menuturkan, tarekat saat ini semakin diterima oleh masyarakat. Jika dulu hanya komunitas santri saja yang akrab dengan tarekat, kini para birokrat, pengusaha, intelektual, termasuk dari kalangan militer secara intens mendalami tarekat. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam, Kajian Islam, Budaya Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial

Jakarta,Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Para Gusdurian mengadakan tahlilan 40 hari wafatnya Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh, Jumat (7/3) malam. Acara yang diniatkan meneladani Rais Aam tiga periode ini dilaksanakan di aula lantai 8 gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 64 Jakarta Pusat.

Para anak muda dari berbagai organisasi tumplek blek memenuhi aula lantai 8 hingga meluber keluar. Acara yang diinisiasi Jaringan Gusdurian ini dimulai dengan tahlil yang dipimpin Abdul Moqsith Ghozali.

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial

Para hadirin tampak khidmat mengikuti tahlil yang di-ruusi dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut. Acara kemudian dilanjutkan diskusi “Fiqih Sosial” yang dimoderatori Ulil Abshar Hadrawi. Diskusi yang dinamakan Forum Jumat Pertama Gusdurian ini menghadirkan dua narasumber, yakni KH Husein Muhammad dan Dr Saiful Umam.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dalam pemaparannya, Kiai Husein menjelaskan bahwa Mbah Sahal merupakan sosok yang resah terhadap stagnasi Fiqih. Oleh karenanya, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini mencoba melakukan kontekstualisasi Fiqih. “Kiai Sahal menempatkan Fiqih sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum negara,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Sahal, lanjut kakak kandung Dr Ahsin Sakho Muhammad ini, memiliki genuinitas fiqih. Dalam Bahtsul Masail, misalnya, ketika menukil ta’bir atau istinbath (penggalian) hukum dari kitab-kitab kuning tidak serta-merta menolak pendapat yang diambil dari ulama semisal Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

“Selama ini kan pendapat dua tokoh tersebut selalu ditolak. Namun, Kiai Sahal berpendapat lain. Beliau meminta untuk tidak menggeneralisir semua pendapat kedua tokoh itu layak ditolak. Bisa jadi, pendapat mereka berdua dapat dijadikan pembanding atau memiliki sudut pandang lain,” terangnya.

Kiai yang aktif di Yayasan Puan Amal Hayati ini menambahkan, Kiai Sahal jelas berpikir tepat sekali lantaran mengamalkan pepatah Arab: “Undzur maa qaala, wa laa tandzur man qaala.” (Perhatikan apa yang dikatakan, jangan siapa yang bicara).

Menurut Koordinator Seknas Gusdurian Indonesia Alissa Wahid, acara ini merupakan pertemuan bulanan pekan pertama civitas Gusdurian. “Diskusi bulanan tadi sebetulnya baru pemanasan. Jadi, mestinya ditindaklanjuti pada pertemuan berikutnya,” ujarnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Banyaknya persoalan yang mendera bangsa Indonesia mulai dari korupsi, suap, asusila, kekerasan rumah tangga, dan segudang persoalan lainnya, menuntut warga Indonesia yang mayoritas beragama untuk mengintrospeksi diri. Mereka perlu mempertanyakan kembali sejauh mana makna keberagamaan itu sendiri.

Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani ketika ditanya Kedung Sukun Adiwerna Tegal perihal semangat harlah 91 tahun NU, Senin (19/5) malam.

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Kiai Malik menilai perhatian umat beragama terfokus pada kesalehan ritual. “Umat beragama di Indonesia tampak hanya mengejar peribadatan formal. Mereka sudah merasa cukup beragama hanya dengan melakukan rutinitas ibadah formal.”

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Padahal, tujuan puncak dari agama ialah kesalehan moral baik secara individu maupun sosial. Tujuan pengutusan Nabi Muhammad Saw dimaksudkan untuk membenahi moral masyarakat yang bobrok.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Selain ‘makarimal akhlaq’, riwayat Ahmad menyatakan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan shalihal akhlaq, kesalehan moral. Karena ritual itu wasilah, bukan tujuan,” terang Kiai Malik.

Kalau pengamalan beragama berhenti pada kesalehan ritual, maka tidak heran banyak orang yang tampak rajin ibadah tetapi terjerumus dalam kejahatan sosial seperti korupsi atau melakukan praktik suap.

Mereka yang tidak pernah absen dalam ibadah formal, justru di lain pihak melakukan kejahatan-kejahatan, penipuan, dan kekerasan, kata Kiai Malik memberi contoh. Ia mengajak segenap warga Indonesia yang terkenal sebagai umat beragama untuk menyoal keberagamaannya.

“Introspeksi ini bukan hanya ditujukan kepada para politikus dan pengusaha, tetapi juga masyarakat secara umum,” tandas Kiai Malik. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo menegaskan bahwa pencegahan dan penanggulangan terorisme tidak hanya dilakukan oleh aparat TNI, Polri, dan masyarakat, tetapi juga media dan para jurnalis melalui tulisan dan peliputannya.

Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Para Jurnalis, Ini 13 Poin Pedoman Peliputan Terorisme

Demikian disampaikan oleh pria yang akrab disapa Stanley ini dalam kegiatan bertajuk Diseminasi Pedoman Peliputan dan Peningkatan Profesionalisme Media Masa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta dan BNPT, Kamis (7/4) di Gedung Hall of Blessing ITC Cempaka Mas, Jakarta Pusat.

“Sebab itu, wartawan harus mengacu pada pedoman yang telah dikeluarkan oleh Dewan Pers dalam meliput kasus-kasus terorisme,” ujar Stanley kepada sekitar 180 wartawan dari media online, cetak, dan televisi yang hadir di acara tersebut.?

Berikut adalah pedoman peliputan terorisme yang diterbitkan oleh Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015 tentang Pedoman Peliputan Terorisme:

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

1. Wartawan selalu menempatkan keselamatan jiwa sebagai prioritas di atas kepentingan berita. Saat meliput sebuah peristiwa terkait aksi terorisme yang dapat mengancam jiwa dan raga, wartawan harus membekali diri dengan peralatan untuk melindungi jiwanya.

2. Wartawan selalu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan jurnalistik. Wartawan yang mengetahui dan menduga sebuah rencana tindak terorisme wajib melaporkan kepada aparat dan tidak bolehmenyembunyikan informasi itu dengan alasan untuk mendapatkan liputan eksklusif. ? Wartawan bekerja untuk kepentingan publik sehingga keselamatan nyawa warga masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan berita.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

3. Wartawan harus menghindari pemberitaan yang berpotensi mempromosikan dan memberikan legitimasi maupun glorifikasi terhadap tindakan terorisme maupun pelaku terorisme. Terorisme adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) terhadap kemanusiaan.

4. Wartawan dan media penyiaran dalam membuat siaran langsung (live) tidak melaporkan secara terinci/ detail peristiwa pengepungan dan upaya aparat dalam melumpuhkan para tersangka terorisme. Siaran secara langsung dapat memberikan informasi kepada para terduga teroris mengenai posisi dan lokasi aparat keamanan secara real time dan hal ini bisa membahayakan keselamatan anggota aparat yang sedang berupaya melumpuhkan para teroris.

5. Wartawan dalam menulis atau menyiarkan berita terorisme harus berhati-hati agar tidak memberikan atribusi, gambaran, atau stigma yang tidak relevan, misalnya dengan menyebut agama yang dianut atau kelompok etnis si pelaku. Kejahatan terorime adalah kejahatan individu atau kelompok yang tidak terkait dengan agama ataupun etnis.

6. Wartawan harus selalu menyebutkan kata ”terduga” terhadap orang yang ditangkap oleh aparat keamanan karena tidak semua orang yang ditangkap oleh aparat secara otomatis adalah pelaku tindak terorisme. Untuk menjunjung asas praduga tidak bersalah (presumption of innocense) dan menghindari pengadilan oleh pers (trial by the press) wartawan perlu mempertimbangkan penggunaan istilah “terperiksa” untuk mereka yang sedang diselidiki atau disidik oleh polisi, “terdakwa” untuk mereka yang sedang diadili, dan istilah “terpidana” untuk orang yang perkaranya telah diputus oleh pengadilan.

7. Wartawan wajib menghindari mengungkap rincian modus operandi tindak pidana terorisme seperti cara merakit bom, komposisi bahan bom, atau teknik memilih sasaran dan lokasi yang dapat memberi inspirasi dan memberi pengetahuan bagi para pelaku baru tindak terorisme.

8. Wartawan tidak menyiarkan foto atau adegan korban terorisme yang berpotensi menimbulkan kengerian dan pengalaman traumatik. Pemuatan foto atau adegan hanya diperbolehkan bila bertujuan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan bahwa terorisme selalu menyasar sasaran umum dan menelan korban jiwa.

9. Wartawan wajib menghindari peliputan keluarga terduga teroris untuk mencegah diskriminasi dan pengucilan oleh masyarakat, kecuali dimaksudkan untuk menghentikan tindakan diskriminasi yang ada dan mendorong agar ada perhatian khusus misalnya terhadap penelantaran anak-anak terduga teroris yang bila dibiarkan akan berpotensi tumbuh menjadi teroris baru.

10. Terkait dengan kasus-kasus yang dapat menimbulkan rasa duka dan kejutan yang menimpa seseorang, pertanyaan dan pendekatan yang dilakukan untuk merekonstruksi kejadian dengan menemui korban keluarga korban maupun keluarga pelaku harus dilakukan secara simpatik dan bijak.

11. Wartawan dalam memilih pengamat sebagai narasumber wajib selalu memperhatikan kredibilitas, kapabilitas dan kompetensi terkait latar belakang, pengetahuan, dan pengalaman narasumber yang relevan dengan halhal yang akan memperjelas dan memberikan gambaran yang utuh terhadap fakta yang diberitakan.

12. Dalam hal wartawan menerima undangan meliput sebuah tindakan aksi terorisme, wartawan perlu memikirkan ulang untuk melakukannya. Kalau undangan terkait dengan rencana aksi pengeboman atau aksi bom bunuh diri sebaiknya wartawan tak perlu memenuhinya, karena hal itu dapat dipandang sebagai cara memperkuat pesan teroris dan mengindikasikan ada kerja sama dalam sebuah tindakan kejahatan. Wartawan menyampaikan rencana tindak/aksi terorisme kepada aparat hukum.

13. Wartawan wajib selalu melakukan check dan rechek terhadap semua berita tentang rencana maupun tindakan dan aksi terorisme ataupun penanganan aparat hukum terhadap jaringan terorisme untuk mengetahui apakah berita yang ada hanya sebuah isu atau hanya sebuah balon isu (hoax) yang sengaja dibuat untuk menciptakan kecemasan dan kepanikan. Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Peliputan terorisme ini diselesaikan oleh Dewan Pers.

Hadir juga sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, yaitu Direktur Deradikalisasi BNPT Brigjen Pol Hamidin, mantan panglima Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas, jurnalis Tempo Sunu, dan Fahruddin sebagai moderator. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Kyai, Syariah, Meme Islam Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama

Tasikmalaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pelantikan Pimpinan Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (29/6) kemarin diisi dengan Deklarasi Kebangsaan. Pagar Nusa akan menindak tegas segala bentuk rongrongan dan kekerasan atas nama agama.

“Jika kita menemukan kekerasan atas nama agama di Kabupaten Tasikmalaya seperti beberapa hari yang lalu, kita langsung akan bertindak tanpa melakukan koordinasi dulu dengan aparat,” kata Ajengan Mimih Haeruman, yang berkesempatan memimpin deklarasi yang diikuti oleh Banom-banom NU, OKP-OKP dan partai politik se Kabupaten Tasikmalaya ini. 

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Akan Tindak Tegas Kekerasan Atas Nama Agama

Hal ini dilakukan, sambung pimpinan Padepokan Santri Manuk Heulang ini, karena dia menilai selama ini aparat dan pemerintahan di Kabupaten Tasikmalaya selalu kurang responsif terhadap aksi-aksi mereka yang selalu mengatasnamakan agama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Naskah Deklarasi Kebangsaa ini berbunyi: Kami Anak Bangsa Indonesia Menyatakan: 1. Mengajak seluruh komponen bangsa untuk memperkuat persatuan dan kesatuan demi kokohnya NKRI dalam bingkai Kebhineka Tunggal Ika-an. 2. Menolak dan melawan segala bentuk radikalisme yang mengatasnamakan suku bangsa, agama dan golongan. 

Deklarasi ini ditandatangani , Ketua PC PS NU Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, Ketua PC NU Kabupaten Tasikmalaya, Asda II Kabupaten Tasikmalaya mewakili Bupati yang berhalangan hadir, Kapolres Tasikmalaya, perwakilan Dandin 0612 Tasikmalaya, Kemenag Kabupaten Tasikmalaya, seluruh Banom NU Kabupaten Tasikmalaya, DPD JAI Kabupaten Tasikmalaya serta PD IJABI Tasikmalaya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari partai politik perwakilan dari DPC Partai Kebangkitan Bangsa, DPD Partai Gerindra dan DPD Partai Demokrat. Sementara dari unsur OKP, turut membubuhkan tandangannya antara lain, Banser, Gibas, KMRT, Pemuda JAI dan lain-lain. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Asep Sufian Sya’roni

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal PonPes, Meme Islam, Tegal Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali menyebutkan sedikitnya tiga hal  yang menjad alasan mengapa NU layak dipromosikan ke tingkat dunia melalui muktamar ke-33 NU di Jombang yang mengangkat tema besar “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”.

Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hal Mengapa NU Layak Dipromosikan ke Dunia

Pertama, menurut As’ad, secara politik NU telah menyelesaikan konsep kenegaraan di tengah penduduk yang mayoritas Muslim namun terdiri dari banyak agama, suku, dan adat istiadat, serta tinggal di banyak pulau. Pada Muktamar di Banjarmasin Kalimantan Selatan pada 1936,  beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka, NU telah merumuskan konsep negara Islam yang khas dengan menggabungkan antara Islam dan nasionalisme, yang sering dikenal dengan istilah darus salam.

“Di beberapa negara Islam atau yang mayoritas penduduknya Muslim, persoalan Islam dan nasionalisme ini belum selesai sampai sekarang,” katanya kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Jakarta, Selasa (8/7).

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pada satu sisi, menurut As’ad, mereka menyatakan Islam, tapi kesukuan mereka sangat kuat. Negara-negara yang ada dikuasai oleh satu suku tertentu. Fanatisme terhadap kelompok atau aliran juga sangat kuat dan selalu menimbulkan konflik berdarah yang berkepanjangan dan turun-menurun.

Kedua, NU layak dipromosikan ke tingkat dunia karena prinsip sosial dan kemasyarakatannya sudah mapan dan bisa menjadi model. Melalui organisasi atau jam’iyah NU, para ulama dan umat berkumpul untuk membahas dan menyelesaikan masalah bersama.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Secara sosial, ormas NU bisa jadi model. Konsep keumatan kita sudah aplikatif. Di Mesir, misalnya, ada organisasi ulama saja, umatnya tidak ikut. Kita melalui NU ini, para ulama dan jamaah tidak terputus,” katanya.

Salah satu peran ormas yang paling penting adalah ketika terjadi benturan atau konflik kepentingan antar masyarakat, atau antara masyarakat dengan negara. NU bisa mengambil peran sehingga segala sesuatu tidak harus diselesaikan melalui pendekatan politik, atau bahkan militer.

“Di negara-negara Timur Tengah, ormas semacam NU ini tidak ada sehingga tidak ada yang menjadi penengah. Dan yang lebih penting lagi, ormas model NU ini bisa diterima oleh non muslim,” kata As’ad yang belasan tahun bertugas di Timur Tengah ini.

Ketiga, menurutnya, NU layak dipromosikan ke dunia karena kesiapannya untuk menerima berbagai perbedaan pendapat. NU mengakui empat madzab di bidang fiqih, dan mengizinkan umat mengikuti salah satu dari empat madzab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

“Di Saudi hanya memakai madzab Hambali. Di Irak dulu ada namanya Madrasah Mustansiriyah. Madrasah ini menyiapkan tempat beda-beda tempat untuk madzab-madzab. Kalau kita ini berbeda-beda mazhab di satu tempat dan saling menghargai,” katanya.

Kesiapan NU untuk menerima perbedaan pendapat itu, menurut As’ad, itulah kunci kekuatan NU bisa menjadi penengah dan penyeimbang di tengah masyarakat yang berbeda-beda. “NU bisa jadi pemersatu semua,” ujarnya.

Terkait penerimaan oleh dunia Muslim, menurut As’ad, NU patut berbangga karena para ulama dan cendekiawan muslim dari beberapa provinsi di Afganistan telah mempelajari NU mendirikan Nahdlatul Ulama Afganistan (NUA) yang secara keorganisasian persis dengan NU yang ada di Indonesia. “Muslim India juga akan mendirikan NU,” tambahnya. (A. Khoirul Anam)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Ubudiyah, Meme Islam, Pahlawan Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK

Bogor, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mendirikan PAUD/TK NU Al-Asy’ari 01 untuk masyarakat di Desa Cimande, Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Peluncuran lembaga pendidikan tersebut berlangsung, Ahad (21/8), di desa setempat. Pendirian PAUD/TK NU ini diprakarsai oleh mahasiswa STAINU Jakarta yang menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cimande.

Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabdi Masyarakat, Mahasiswa STAINU Jakarta Dirikan PAUD/TK

Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam STAINU Jakarta Dede Setiawan menekankan, mahasiswa peserta KKN harus mampu melahirkan karya nyata di tengah-tengah masyarakat yang menjadi mitra KKN. “Saya apresiasi lahirnya lembaga pendidikan ini,” ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sekretaris PCNU Kabupaten Bogor Kiai Abbas Ma’ruf juga menyampaikan, kehadiran mahasiswa KKN di Desa Cimande sangat penting artinya dalam memperkuat peran Nahdlatul Ulama bagi masyarakat Desa Cimande. “Bahkan saya berharap, melalui pendirian PAUD/TKNU ini, bisa kita jadikan pintu masuk untuk mendirikan lembaga pendidikan formal tingkat dasar dan menengah atas nama NU di Desa Cimande ke depannya,” pesan Kiai Abbas.

Bayangkan saja, lanjut Kiai Abbas, seluruh masyarakat Cimande ini amaliahnya Nahdlatul Ulama. Tapi sampai sejauh ini belum ada MI/SD, MTs/SMP, atau SMA/MA/SMK bernama Nahdlatul Ulama. “Sekali lagi, atas peran adik-adik mahasiswa, kami menjadi sadar bahwa pendirian pendidikan formal tingkat dasar dan menengah di Cimande sangat mungkin diwujudkan,” pungkas Kiai Abbas.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ketua Muslimat Kabupaten Bogor yang bertanggung jawab dalam pembinaan lembaga PAUD/TK Nahdlatul Ulama di wilayah Kabupaten Bogor juga memuji karya mahasiswa KKN ini sebagai wujud konkret kepedulian mereka terhadap pendidikan anak sejak dini.

“Saya berharap, pendirian lembaga PAUD/TKNU Al-Asy’ari 01 ini akan menjadi amal jariyah dan wasilah bagi mahasiswa dan masyarakat Cimande nanti di akhirat,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat STAINU Jakarta Fatkhu Yasik menilai, pendirian lembaga pendidikan tingkat PAUD/TK merupakan langkah strategis dan cerdas dari mahasiswa peserta KKN. “Mahasiswa melihat lembaga PAUD/TK memiliki peran fundamental dalam pembangunan karakter generasi bangsa yang akan datang,” ujarnya.

Prosesi peluncuran PAUD/TK NU ini dihadiri oleh beberapa komponen Nahdlatul Ulama di Kabupaten Bogor, di antaranya pengurus Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU), pengurus Lembaga Amil Zakat Nahdlatul Ulama (LAZISNU), dan Muslimat NU. Di samping juga aparat desa dan tokoh masyarakat Cimande. Ketua MUI Caringin KH Abdul Latif beserta jajarannya juga turut serta menyaksikan lembaga pendidikan yang didirikan oleh mahasiswa STAINU Jakarta tersebut. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Meme Islam, Bahtsul Masail Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock