Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah

Jember, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Nuris Student Exchange Programme (NSEP) atau pertukaran pelajar Nuris dengan lembaga di luar negeri tahun ini terus berlanjut. Setelah memberangkatkan 19 santri ke Malaysia, Thailand, dan Singapura akhir bulan lalu, kini 5 santri Nuris bersiap-siap untuk belajar dan mengajar di negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir.

Kelima orang tersebut berasal dari MA Unggulan Nuris. Mereka adalah Ahmad Fauzan, M. Kavin Robbani (kelas XI PK A)? Abdul Aziz (kelas XI PK B),? Ihza Wahyu F. (kelas XI IPA)? dan M. Hasan Ulil Absor (kelas X PK A). Mereka terpilih sebagai peserta NSEP melalui seleksi internal yang sangat ketat.? Selain cerdas dan cakap, mereka juga harus mengikuti seleksi khusus.

Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Mesir dan Arab Saudi, Santri Nuris Perkuat Bahasa Amiyah

“Yang pasti, mereka harus fasih berbahasa Arab dan Inggris. Itu wajib. Bahkan calon peserta masih harus mengikuti pembinaan? bahasa Arab logat Mesir atau yang dikenal dengan istilah bahasa ‘amiyah,” ucap Kepala Humas Yayasan Nurul Islam (Nuris) Jember, Gus Abdurrahman Fathoni di Nuris kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal, Kamis (9/2).

Pembinaan bahasa Arab khas Mesir dilakukan 3 kali dalam seminggu di bawah bimbingan Kiai Ahmad Fauzan, seorang kiai yang cukup lama bermukim di Mesir. Menurut Gus Abdurrahman, sebelum berangkat ke Arab Saudi dan Mesir, kelima sanrri tersebut terus diberi pembekalan, khusunya di sisi logat bahasa dan adat? istiadat Meser.

Dikatakannya, cukup sulit belajar bahasa Arab ‘amiyah. Sebab, bahasa tersebut tak seperti bahasa Arab yang standar. Banyak huruf yang berubah seperti kata ‘tsalatsa’ dalam bahasa Arab standar menjadi ‘talata’ dalam bahasa Mesir. ”Akhirnya mereka didorong untuk terus mencari tahu dan mendengarkan logat bahasa Arab? khas Mesir,” lanjutnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Abdul Aziz, mengaku gembira terpilih sebagai peserta NSEP. Menurutnya, hal terebut sangat berguna tidak saja bagi peningkaran wawasan keilmuan yang langsung dari pusat peradaban Islam, tapi juga berguna untuk memahami tipologi politik rakyat kedua negara tersebut.

“Kalau Arab Saudi relatif aman. Tapi Mesir dan negara sekitarnya, sangat rawan terjadi konflik horisontal, itu kenapa? Padahal muslimnya mayoritas. Syukurlah Indonesia aman meskipun terdapat beragam agama, suku dan budaya,” ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)?

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Ulama, Khutbah Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Diklatama, Pelajar NU Probolinggo Tanamkan Rasa Kepedulian

Probolinggo, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo terus berupaya untuk mengenalkan IPNU-IPPNU kepada segenap pelajar NU di Kabupaten Probolinggo. 

Diklatama, Pelajar NU Probolinggo Tanamkan Rasa Kepedulian (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatama, Pelajar NU Probolinggo Tanamkan Rasa Kepedulian (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatama, Pelajar NU Probolinggo Tanamkan Rasa Kepedulian

Salah satunya melalui kegiatan Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP) di SMK NU Bantaran, Jum’at hingga Ahad (8-10/9) sore.

Selain mengenalkan IPNU-IPPNU kepada pelajar NU, dalam kegiatan Diklatama ini IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo juga memberikan pembinaan sebagai upaya untuk membentuk watak dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat.

Diklatama CBP dan KPP ini diikuti oleh 60 orang pelajar NU dari unsur Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU dan lembaga pendidikan se-Kabupaten Probolinggo. Selama 3 (tiga) hari, para pelajar NU ini mendapatkan beberapa materi meliputi Aswaja ke-NU-an, ke-IPNU-an dan ke-IPPNU-an, ke-CBP-an dan ke-KPP-an, PBB (Pelatihan Baris Berbaris), SAR, Leadership, PPGD, komunikasi dan team work dan mitigasi bencana. 

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Materi tersebut disampaikan oleh narasumber yang berasal dari unsur DKW CBP-KPP Provinsi Jawa Timur, PCNU Kabupaten Probolinggo, PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo, Satkorcab Banser Kabupaten Probolinggo, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo dan alumni.

Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati mengungkapkan kegiatan ini memiliki sasaran untuk memperkenalkan IPNU-IPPNU secara umum dan CBP-KPP pada khususnya kepada para anggota baru CBP-KPP. Sekaligus membangun komitmen dan watak kader dalam kebersamaan membangun bangsa.

“Dimana tujuannya adalah membangun watak dengan mengembangkan nilai-nilai pengabdian pada kegiatan sosial kemanusiaan, menambah wacana tentang wawasan kebangsaan, memahami ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, memahami eksisitensi IPNU-IPPNU serta memiliki rasa kepedulian dan kepekaan sosial yang tinggi,” katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut Isma, CBP dan KPP sendiri merupakan lembaga semi otonom IPNU dan IPPNU yang bergerak dalam pengkaderan, kepanduan, kedisiplinan serta penguatan wawasan kebangsaan dalam membela negara.

“Melalui kegiatan ini harapannya nanti mampu membentuk kader-kader IPNU-IPPNU yang mampu ikhlas membesarkan organisasi. Serta memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap sesama, terutama yang sedang membutuhkan,” tegasnya.

Sementara Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Babus Salam menyampaikan Diklatama ini merupakan bagian paling penting dalam pembangunan karakter pelajar NU agar mengenal lebih jauh organisasi IPNU-IPPNU itu sendiri. Pasalnya kegiatan ini merupakan salah satu pintu pengkaderan IPNU-IPPNU.

“Mudah-mudahan kegiatan ini mampu mencetak kader-kader yang punya kredibilitas dan loyalitas tinggi terhadap organisasi. Serta menjadi pelopor pembangunan kepemudaan yang peduli terhadap lingkungannya,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Anti Hoax, Fragmen Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

NTB, Salah Satu Poros Pengembangan Aswaja di Indonesia Timur

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah banyak melahirkan ulama-ulama besar dalam sejarah peradaban Islam di Nusantara. Bahkan, ulama-ulama NTB juga memiliki peran yang besar dalam berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Salah satunya adalah Tuan Guru Zainuddin Sumbawi. Beliau menjadi simpul utama ulama di Nusantara bagian timur, meneruskan gurunya, Syekh Abdul Ghani Bima yang juga menjadi gurunya para kiai dari Jawa,” kata Cak Imin saat memberikan pidato kunci dalam acara seminar nasional Mahaguru Ulama Nusantara : Zona Nusa Tenggara Barat Jejaring Ulama Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Muhammad Zainuddin Sumbawa, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid Pancor Lombok di Masjid Istiqlal Jakarta, Rabu, (22/11).

Beberapa ulama Jawa yang pernah belajar kepada Tuan Guru Zainuddin Sumbawi adalah Syekh Mukhtar bin Atarid Bogor, Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Abdul Hamid Kudus, dan Syekh Mahfudz Tremas.

NTB, Salah Satu Poros Pengembangan Aswaja di Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
NTB, Salah Satu Poros Pengembangan Aswaja di Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

NTB, Salah Satu Poros Pengembangan Aswaja di Indonesia Timur

Cak Imin menegaskan, NTB juga menjadi salah satu poros pengembangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia Timur.? ?

Sementara, Din Syamsuddin mengatakan, dulu ulama Nusantara menjadi mahaguru Islam dunia. Banyak ulama dari luar yang belajar kepada ulama Nusantara, termasuk ke Sumbawa.?

“Sekarang harus kita tarik kembali,” ucapnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dulu Kesultanan Bima dan Sumbawa mengirim ulama-ulamanya untuk belajar ke Mekah secara sistematis dan strategis untuk pengembangan keilmuan.?

“Ini kebijakan luar biasa dari Kesultanan, Ini poin pentingnya," ujarnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia berharap, para peneliti bisa mengkaji dan meneliti warisan ulama Nusantara masa lalu yang belum belum dikenal publik namun memiliki peran yang besar di dalam masyarakatnya. Termasuk ulama-ulama yang berasal dari Sumbawa.?

"Untuk teman-teman Islam Nusantara Center tolong diangkat digali lebih dalam," tandasnya.

Menurut Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Syaban? seminar nasional ini adalah salah satu program rutin daripada INC yang akan diselenggarakan juga di daerah-daerah lain. Hal itu dimaksudkan untuk menggali dan mengangkat warisan ulama Nusantara di daerah bersangkutan.

Hadir juga dalam acara itu Abdul Ghani Abdullah, Wildan, Sultan Muhammad Kaharuddin IV, Zainul Milal Bizawie (Sejarawan dan penulis buku Masterpiece Islam Nusantara), dan A Ginanjar Sya’ban (Filolog dan Direktur Islam INC).

Seminar ini diselenggarakan INC dalam rangka menyambut Msyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2017 di NTB tanggal 23-25 November. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Kenapa Islam Nusantara Inspirasi Peradaban Dunia?

Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyelenggarakan konferensi internasional bernama International Summit of The Moderat Islamic Leaders (ISOMIL), Senin-Rabu (9-11/5) di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta. Pertemuan para pemimpin negara dan organisasi Islam moderat dari seluruh dunia ini mengambil tema besar Islam Nusantara: Inspirasi Peradaban Dunia. 

Saat Kedung Sukun Adiwerna Tegal meminta keterangan tema besar tersebut kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, ia menjelaskan bahwa Islam Nusantara telah terbukti memberikan citra Islam yang moderat, ramah, dan toloeran.

Kenapa Islam Nusantara Inspirasi Peradaban Dunia? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Islam Nusantara Inspirasi Peradaban Dunia? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Islam Nusantara Inspirasi Peradaban Dunia?

“Islam Nusantara tidak anti-budaya dan tradisi, ia juga mampu menyatukan antara pemahaman Islam dan nasionalisme. Hal ini dicetuskan oleh Mbah Hasyim Asy’ari, hubbul wathoni minal iman, ulama di dunia tidak ada yang mencetuskan hal tersebut,” tegas Guru Besar Ilmu Tasawuf ini, Sabtu (7/5) di Kantornya Gedung PBNU lantai 3 Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Sebab itu, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini, Islam Nusantara patut menjadi inspirasi peradaban dunia yang saat ini tengah dilanda konflik berkepanjangan berupa perang dan paham radikalisme yang tumbuh menjadi tindakan terorisme.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

“Yang namanya peradaban itu bagaimana menjadikan dunia ini maju dengan kondisi damai dan tenteram bagi semua di tengah perbedaan keyakinan. Itulah prinsip Islam Nusantara,” tutur Kiai asal Kempek Cirebon, Jawa Barat ini.

Jadi, tuturnya, kalau sudah tahu dan paham bahwa Islam itu hendaknya membawa perdamaian dan rahmat bagi seluruh alam tetapi masih saling membunuh, perang dengan mengorbankan rakyat sipil, dan berbuat anarkis, pemahaman agama seperti ini harus ditangkal.

“Di sinilah motivasi NU untuk menggelar kegiatan ISOMIL dengan menghadirkan tokoh-tokoh dunia Islam dengan harapan kita bekerja keras saling membantu untuk mewujudkan dunia yang damai bagi kita semua,” tandasnya. (Fathoni)

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Warta Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Karya-karya Hadratusy Syaikh

Sebagai seorang ulama panutan, Hadratusy Syaikh KH M. Hasyim Asyari tidak hanya pandai berbicara di dalam mushola, kelas, atau mimbar-mimbar pengajian umum, tapi juga memiliki tradisi kepenulisan yang kuat. Sejumlah disiplin keislaman di bidang akidah, akhlah, hingga ilmu fiqih ia tulis dengan serius.

Berikut ini sejumlah karya Kiai Hasyim Asy’ari yang masih menjadi kitab  wajib untuk dipelajari di pesantren-pesantren Nusantara. Catatan karya Mbah Hasyim diambil dari website Pesantren Tebuireng (tebuireng.net):

Karya-karya Hadratusy Syaikh (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya-karya Hadratusy Syaikh (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya-karya Hadratusy Syaikh

1. Adabul Alim Wal Mutaallim adalah sebuah kitab yang mengupas tentang pentingnya menuntut dan menghormati ilmu serta guru. Dalam kitab ini KH. M. Hasyim Asyari menjelaskan kepada kita tentang cara bagaimana agar ilmu itu mudah dan cepat dipahami dengan baik. Kitab yang terdiri dari beberapa bab ini, memberikan pula kepada kita pencerahan tentang mencari dan menjadikan ilmu benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat. Salah satu contoh yang diberikan oleh KH. M. Hasyim Asyari kepada kita adalah bahwa ilmu akan lebih mudah diserap dan diterima apabila kita dalam keadaan suci atau berwudhu terlebih dahulu sebelum mencari ilmu. Banyak hal yang bisa kita petik dalam rangka mencari ilmu ketika kita membaca kitab ini.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

2. Risalah Ahlis Sunnah Wal Jamaah merupakan pedoman bagi warga NU dalam mempelajari tentang apa yang disebut ahlus sunnah wal jamaah atau sering disingkat dengan ASWAJA. Dalam kitab ini, Hadratus Syaikh juga mengulas tentang beberapa persoalan yang berkembangan dimasyarakat semisal, apa yang disebut dengan bidah? Menerangkan pula tentang tanda-tanda kiamat yang terjadi pada masa sekarang ini. Banyak golongan yang mengaku bahwa mereka juga merupakan golongan ahlus sunnah wal jamaah. Akan tetapi dalam ibadah, amal perbuatannya banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW. Dalam kitab ini diuraikan dengan jelas tentang bagaimana sebenarnya ahlus sunnah wal jamaah tersebut.

3. At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqothoatil Arham Wal Aqorib Wal Ikhwan merupakan kumpulan beberapa pikiran khususnya yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Dalam kitab ini, ditekankan pentingnya menjalin silaturrohim dengan sesama serta bahayanya memutus tali sillaturohim. Didalam kitab ini pula, termuat Qunun Asas atau udang-undang dasar berdirinya Nadhatul Ulama (NU) serta 40 hadits nabi yang berhubungan dengan pendirian Nahdlatul Ulama. Dalam kitab ini, dikisahkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asyari pernah mendatangi seorang kyai yang ahli ibadah karena kyai tersebut tidak mau menyambung silaturrohim dengan masyarakat sekitar sehingga sempat terjadi perdebatan antara keduanya.

4. An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin merupakan karya KH. Muhammad Hasyim Asyari yang menjelaskan tentang rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW. Dalam kitab tersebut, dijelaskan pula tentang sifat-sifat terpuji nabi Muhammad SAW yang bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua. Dijelaskan pula tentang kewajiban kita taat, menghormati kepada perintah Allah SWT yang telah disampaikan melalui nabi Muhammad SAW baik melalui al-qur an atau hadits. Silsilah keluarga nabi Muhammad SAW, tidak luput dari pembahasan. Singkat kata, dalam kitab ini, kita mendapatkan sejarah yang relatif lengkap dan menarik untuk dikaji serta dijadikan tauladan menuju insan kamil.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

5. Ziyadatut Taliqot merupakan kitab yang berisi tentang polemik beliau dengan KH. Abdullah Bin Yasin Pasuruan tentang beberapa hal yang berkembang pada masa itu. Perdebatan terjadi pada beberapa masalah yang tidak sesuai antara pandangan Nahdlatul Ulama dengan KH. Abdullah Bin Yasin Pasuruan. Banyak sekali permasalahan yang diperdebatkan sehingga kitab ini begitu tebal dan permasalahan yang diperdebatkan masih terjadi dimasyarakat.

6. At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna Al-Maulid Bil Munkaroti adalah sebuah kitab tentang pandangan KH. Muhammad Hasyim Asyari tantang peringatan maulid nabi Muhammad SAW yang disertai dengan perbuatan maksiat atau munkar. Dalam kitab tersebut, diceritakan bahwa pada jaman dulu, disekitar Madiun, setelah pembacaan shalawat nabi, para pemuda segera menuju arena untuk mengadu keahlian dalam hal bela diri silat atau pencak. Acara itu, masih dalam rangkaian peringatan maulid serta dihadiri oleh gadis-gadis yang saling berdesakan dengan para pemuda. Mereka saling berteriak kegirangan hingga lupa bahwa saat itu, mereka sedang memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Hal tersebut menimbulkan keprihatinan KH. Muhammad Hasyim Asyari sehingga beliau mengarang kitab ini.

7. Dhouul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah berisi pikiran ataupun pandangan KH. Muhammad Hasyim Asyari tentang lembaga perkawinan. Dalam kitab tersebut, beliau menangkap betapa pada saat itu, banyak pemuda yang ingin menikah, akan tetapi tidak mengtahui syarat dan rukunnya nikah. Tidak tahu pula tentang tata cara / sopan santun dalam pernikahan sehingga dalam mereka menjadi bingung karenanya. Dalam kitab tersebut, terkandung beberapa nasehat yang penting agar lembaga perkawinan betul-betul bisa menjadi sebuah keluarga yang Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah sesuai tuntunan agama.

Selain menulis kitab, Kiai Hasyim juga rajin menyebarkan ilmu dan penapatnya di sejumlah media yang beredar secara nasional pada waktu itu, di antaranya, majalah Soeara Moeslimin Indonesia (majalah milik Masyumi), Berita NO, Soeloeh NO, Swara NO, dan sebagainya. 

Tema yang beliau tulis tidak sebatas bidang ilmu keagamaan, tapi juga meliputi pertanahan dan pertanian, politik internasional, kolonialisme, dan macam-macam lagi. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Tegal, Nahdlatul Ulama Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api

Tulungagung, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) DR KH Hasyim Muzadi mengemukakan, moral politik bangsa Indonesia saat ini masih sebatas sebuah angan-angan yang belum diaktualisasikan secara riil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Political morality kita masih jauh panggang daripada api, masih sebatas angan-angan. Kita nggak tahu sampai kapan political morality kita bisa seperti yang ada di negara-negara lain," tegas Hasyim Muzadi saat meresmikan kantor PCNU Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (5/1).

KH Hasyim Muzadi mengemukakan penilaiannya itu setelah sebelumnya membandingkannya dengan moral politik yang dimiliki Bangsa Iran. Diakui Hasyim, dirinya sangat kagum ketika Ahmadinejad bisa terpilih menjadi presiden Iran. Padahal, rival dalam pemilihan presiden itu seorang mantan ketua parlemen yang juga kaya raya.

Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api

Suatu ketika, kekagumannya itu pernah ditanyakan kepada koleganya, seorang syeikh terkenal di Iran. "Saya tanyakan kepada syeikh itu, kenapa Ahmadinejad bisa terpilih menjadi presiden. Ternyata, jawabannya, Ahmadinejad terpilih menjadi presiden, karena dia miskin. Saya langsung kaget. Kok beda ya dengan yang terjadi di negara kita. Ini artinya, political morality kita masih jauh panggang daripada api," kata Hasyim Muzadi.

Di hadapan warga nahdliyin, KH Hasyim juga mengingatkan posisi NU yang sebenarnya nasabnya bagus, tapi nasibnya selalu jelek. "Kita memang kuat di bidang ubudiyah. Tapi, kita lemah di bidang nidzamiyah. NU itu selalu terlibat dalam setiap perjuangan, tapi selalu kocar-kacir di bidang kenegaraan. Maka, yang diperlukan NU sekarang, selain kekuatan rokhaniyah juga kekuatan nidzamiyah," ujar pengasuh Ponpes Al Hikam Malang ini.

Pada bagian lain, Hasyim Muzadi mengungkapkan keprihatinannya terhadap manajemen kepengurusan NU yang diibaratkan masih seperti mobil taksi. Akibatnya, langkah perjuangan NU menjadi sangat bergantung kepada siapa figur yang mengendalikan kepengurusan organisasi. Jika demikian, tambah dia, NU bisa kehilangan arah perjuangan sebagaimana digelorakan kiai-kiai yang menjadi pendirinya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

"Kepengurusan NU, hari ini seperti taksi.  Jadinya, perjuangan NU tergantung pengurus yang sedang menjadi ‘sopir’ taksi yang bernama NU. Ini terjadi dimana-mana," ujar Hasyim Muzadi mengingatkan kader-kadernya.

Agar tidak seperti taksi, tambah Hasyim, PBNU akan mengadakan musyawarah nasional (Munas ) alim ulama, akhir Desember 2008 ini. "Sesuai amanat Rais Am, Munas alim ulama ini untuk merumuskan ‘rel’ yang bisa dijadikan  lintasan para pengurus NU. Dengan begitu, jika terjadi regenerasi kepengurusan, arah NU tidak ganti-ganti haluan seperti saat ini,"’ ungkap Hasyim.

Selaku Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi juga mengajak warga nahdliyin di semua tingkatan untuk menghidupkan kembali keberadaan jamaah dan pengajian kitab di masjid-masjid. "Ini penting untuk brain storming. Jangan sampai kebiasaan NU seperti itu ditinggalkan. Tradisi NU itu bisa diambil orang lain kalau kita tidak menghidupkannya," terang Hasyim Muzadi.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Sementara itu, peresmian gedung PCNU yang berlokasi di Desa Gedangsewu, Kecamatan  Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, seperti dilaporkan kontributor Kedung Sukun Adiwerna Tegal Muhibuddin dari Tulunggagung, ditandai dengan pemukulan bedug yang dilakukan KH  Hasyim Muzadi.

Ikut menyaksikan pemukulan bedug, Ketua PCNU H. Chamim Badruzzaman, Bupati Ir Heru Tjahjono, MM, Ketua PWNU Jatim, DR Ali Maschan Moesa, anggota FKB DPR RI, Ali Masykur Moesa, Ketua Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa. Acara ini juga dihadiri pengurus cabang NU yang ada di sekitar kota Tulungagung.

Selain itu, dalam peresmian itu, Hasyim Muzadi juga menyerahkan bibit tanaman kepada warga nahdliyin sekaligus untuk mencanangkan gerakan penghijauan. Bibit tanaman penghijauan yang diserahkan, antara lain berupa 30.000 batang bibit tanaman durian dan bibit jati emas sejumlah 10.000 batang. (bin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Fragmen, Warta Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Jelang Konfercab, Pendidikan Kader Penggerak Ditargetkan Rampung

Jepara, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) merupakan ujung tombak eksistensi jamiyyah Nahdlatul Ulama. Atas dasar itu Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara dalam rangka menyongsong Konferensi Cabang (Konfercab) pada medio 2015 mendatang menargetkan akan merampungkan pendidikan kader penggerak ranting.

Jelang Konfercab, Pendidikan Kader Penggerak Ditargetkan Rampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konfercab, Pendidikan Kader Penggerak Ditargetkan Rampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konfercab, Pendidikan Kader Penggerak Ditargetkan Rampung

Hal ini sebagaimana disampaikan Lukman Hakim, ketua panitia pelatihan kader penggerak ranting PCNU Jepara. Menurutnya, kegiatan pengkaderan ini dilakukan lantaran perlunya kesiapan menyongsong kepengurusan baru PCNU.

Melalui kegiatan ini kaderisasi di tingkatan ranting berjalan dengan baik. “Juga dalam rangka ‘menyehatkan’ ranting. Ranting-ranting yang vakum segera eksis kembali,” katanya saat ditemui di Pesantren Jabal Nur Desa Bandengan, Kecamatan Jepara, Jawa Tengah, Ahad (2/11) siang.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Disebutkan, Lukman Ranting di Kabupaten Jepara sejumlah 190an. Menjelang dilaksanakannya Konfercab ia berharap Ranting secara jamaah dan jam’iyyah berjalan dengan baik.

“Dengan kegiatan ini harapan kami meminimalisir ‘suhu panas’ menjelang konfercab,” imbuhnya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Pihaknya, sudah menjadwalkan pendidikan kader dalam lima zona. Zona 1 meliputi kecamatan Kota, Tahunan, Kedung, Karimunjawa. Zona 2 mencakup Kecamatan Mlonggo, Pakis Aji dan Bangsri. Zona 3 Kecamatan Kembang, Keling dan Donorojo.

Zona 4 ada Kecamatan Mayong, Nalumsari dan Welahan serta zona kelima meliputi Kecamatan Batealit, Pecangaan dan Kalinyamatan. Dari kelima zona ini saat ini sudah berjalan pendidikan kader putaran pertama. Yakni yang dilaksanakan MWCNU Kecamatan Kota berlangsung di Pesantren Jabal Nur di bawah asuhan KH Uzair Jum’at-Ahad (31/10-2/11).

Bulan November dan Desember yang sudah menyatakan kesediaannya MWCNU Batealit dan Tahunan. “Harapan kami kegiatan ini sesuai dengan target,” harapnya.

Jika MWCNU mampu melaksanakan sendiri dipersilakan. Jika keberatan kegiatan bisa dilaksanakan sesuai zona yang dijadwalkan panitia. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Nusantara, Kyai, Fragmen Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock