Senin, 18 Desember 2017

Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral

Surabaya, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Seorang aktivis sastra pesantren asal Sumenep, Madura, Jatim mengemukakan bahwa pengembangan sastra di komunitas santri akan maksimal jika ada figur sentral yang memberikan teladan dalam dunia kepenulisan.

"Pengalaman saya selama bertahun-tahun membina santri menunjukkan seperti itu. Figur sentral itu yang bisa menggerakkan dan memotivasi santri untuk terus menulis," kata penggerak sastra dari Pesantren An Nuqoyah, Guluk-guluk, Sumenep, M Faizi Kaelan dalam temu sanggar sastra se Jatim di Surabaya, Senin.

Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral

Pada diskusi dan peluncuran buku antologi puisi penyair muda Jatim yang diselenggarakan oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) itu juga menghadirkan pembicara, dosen Unair Dr Putera Maunaba, Helmy Prasetya dari Bangkalan dan Alang Khoirudin dari Lamongan.

Menurut Faizi, pola pengembangan sastra di pesantren dengan mengedepankan figur sentral itu tergolong khas karena kemungkinan di komunitas lain tidak terjadi hal seperti itu. Figur sentral bisa befungsi sebagai pemancing ide yang bisa dikembangkan oleh santri asuhannya.

"Misalnya suatu ketika saya memberikan tantangan kepada siswa MTs atau setingkat SMP untuk menulis buku. Mereka tidak ada yang berani. Setelah saya sodorkan kerangkanya baru mereka mau tapi dikerjakan dua orang. Maka jadilah sebuah buku," kata pengajar bahasa di pesantren tersebut.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Ia bercerita, suatu ketika, dirinya juga memberikan tantangan kepada siswa MA atau setingkat SMA untuk menulis novel dan ternyata tantangan itu dijawab oleh siswa dengan menghasilkan dua novel.

"Konsekuensinya, figur sentral itu harus juga menulis sehingga kata-katanya ditiru oleh santri. Kalau figur sentral itu menyuruh santri menulis, tapi dia sendiri tidak pernah menulis, maka tidak akan diikuti," katanya.

Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Menurut dia, kegiatan sastra di Pesantren An Nuqoyah temasuk semarak bahkan di lingkungan pendidikan tradisional dengan jumlah santri hingga 6.000 orang itu sudah memiliki banyak sanggar yang satu dengan lainnya saling berkompetisi secara positif.

"Antara sanggar satu dengan lainnya juga berlomba menerbitkan antologi sastra yang kemudian dibahas atau ada semacam pengadilan sastra setiap minggunya. Pengadilan sastra itu juga memacu para santri untuk terus menulis," katanya.

Dikatakannya, saat ini di pesantren itu juga sering menerbitkan karya-karya sastra yang kadang diketik secara manual kemudian diberi sampul yang disablon dengan biaya sendiri. Karena saat ini sudah ada komputer, maka proses pencetakannya sudah lebih baik dari sebelumnya.

"Untuk merangsang santri lain berkarya, kami sekarang menerbtkan indeks yang berisi profil para santri senior dan alumni yang menjadi penulis sastra. Dengan membaca indeks ini diharapkan santri-santri muda juga terpancing untuk berkarya," ujarnya.

Namun demikian, bukan berarti, perkembangan sastra di An Nuqoyah tidak mengalami hambatan. Libur panjang selama satu bulan lebih saat bulan Ramadlan menjadi kendala tersendiri, karena biasanya kekosongan selama libur itu juga ikut memacetkan karya mereka. "Setelah masuk kembali ke pesantren, kami harus memacu mereka kembali," katanya.

Sementara Putera Manuaba mengaku terkejut dengan potensi sastra di lingkungan pesantren maupun sanggar-sangar sastra di Jatim. Menurutnya, kekayaan sanggar itu adalah potensi yang membuat Jatim tidak akan kalah dengan daerah lainnya. (ant/san)



Dari Nu Online: nu.or.id

Kedung Sukun Adiwerna Tegal Pondok Pesantren, Aswaja Kedung Sukun Adiwerna Tegal

Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Pengembangan Sastra Pesantren Butuh Figur Sentral di Kedung Sukun Adiwerna Tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kedung Sukun Adiwerna Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kedung Sukun Adiwerna Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock