Jakarta, Kedung Sukun Adiwerna Tegal. Kasus kekerasan dan tindakan intoleransi bermotif suku, agama, ras dan antara golongan atau SARA di Yogyakarta adalah sebuah kemunduran yang luar biasa. Bagaimanapun Yogyakarta adalah kawasan yang bisa disebut melting pot yang mewadahi realitas kemajemukan Indonesia.
“Karena itu eksklusivisme tidak boleh dibiarkan berkembang di kota kebudayaan dan kota pendidikan seperti Yogyakarta,” kata Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf kepada Kedung Sukun Adiwerna Tegal di Jakarta Rabu (4/5) menanggapi rentetan tindak kekerasan bermotif agama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
| Intoleransi di Yogyakarta adalah Kemunduran Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online) |
Intoleransi di Yogyakarta adalah Kemunduran Luar Biasa
Khusus menanggapi tingkah kelompok berjubah di kawasan tersebut, Ketua MUI Bidang Hubungan Antar Agama itu itu mengingatkan adanya prinsip tasamuh atau toleransi Islam. Islam sama sekali tidak membolehkan gangguan terhadap mereka yang tengah beribadah apapun keyakinan agamanya.Kedung Sukun Adiwerna Tegal
“Pengembangan Islam yang intoleran bertentangan dengan Islam itu sendiri. Karena itu umat Islam sendiri harus menolak merebaknya kelompok yng selalu merasa benar sendiri di tengah umat dan bangsa yang heterogen ini,” tambahnya.Slamet Effendy mengharapkan agar aparat negara bertindak tegas menindak mereka yg melanggar hukum dalam peristiwa ini. Ia mengharapkan FKUB dapat ikut berperan untuk memperbaiki kondisi ini agar Yogyakarta kembali menjadi miniatur Indonesia yang harmonis dan damai. (A. Khoirul Anam)
Kedung Sukun Adiwerna Tegal
Dari Nu Online: nu.or.idKedung Sukun Adiwerna Tegal Pemurnian Aqidah, Kajian, Santri Kedung Sukun Adiwerna Tegal
